Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Suatu zat cair ketika dipanaskan dalam wadah yang tertutup akan lebih
cepat mendidih dibanding dengan zat cair yang dipanaskan di wadah terbuka. Hal
itu terjadi karena adanya pengaruh tekanan uap cairan, ketika tekana uap cairan
sama dengan tekanan uap luar saat itulah dikatakan mendidih.

Pernyataan masalah dalam percobaan kesetimbangan uap-cair ini tidak


terlepas dari perancangan dan pengoperasian kolom destilasi dimana sangat
dibutuhkannya data kesetimbangan uap-cair untuk mengetahui hubungan antara
komposisi uap dan komposisi cairan dengan suhu dan tekanan pada saat
kesetimbangan terjadi, maka dari itu diperlukannya data kesetimbangan etanol-air
membuat kurva kesetimbangan uap-cair.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Merancang dan menjalankan eksperimen
2. Membuat dan menganalisis kurva kesetimbangan uap-cair
3. Berperan serta dalam suatu tim

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesetimbangan
Kesetimbangan merupakan suatu keadaan dimana tidak terjadi perubahan
sifat makroskopis dari sistem terhadap waktu. Untuk material dalam jumlah
tertentu, hal tersebut dapat diartikan tidak ada perubahan sifat material tersebut
terhadap waktu. Keadaan setimbang yang sebenarnya barangkali tidak pernah
tercapai. Suatu proses berlangsung karena adanya penggerak dan selalu menuju ke
titik kesetimbangan. Gaya ini merupakan selisih antara potensi pada keadaan
seketika dan keadaan setimbang semakin dekat keadaan sistem dengan titik
kesetimbangan, semakin kecil gaya penggerak proses semakin kecil pula laju
proses dan akhirnya sama dengan nol bila titik kesetimbangan sudah tercapai.
Titik kesetimbangan hanya bisa tercapai secara teoritis dalam waktu yang
tak terhingga. Pada prakteknya di dalam pekerjaan ilmiah suatu kesetimbangan
dianggap tercapai bila tidak ada lagi perubahan sifat atau keadaan seperti yang
ditunjukkan oleh alat pengukur yang digunakan. Didalam masalah rekayasa
kesetimbangan dianggap ada, jika sifat yang ditunjukkan oleh praktikan sama
dengan sifat yang dihtung berdasarkan metoda yang menggunakan anggapan
kesetimbangan. Sebagai contoh perbandingan komposisi pelat distilasi dengan
pelat teoritis.
Perubahan suhu (T), tekanan (P), konsentrasi (C), dan entalpi (H) selama
proses pemisahan dapat dianalisa berdasarkan konsep kesetimbangan
termodinamika. Persamaan ini sesuai dengan kaidah fase Gibbs:
F = C – P + 2..................................................... (2.1)
Dimana:
F = Variabel intensif/bebas
C = spesies atau komponen dalam sistem
P = Jumlah fase dalam system

2
2.2 Kriteria Kesetimbangan
Kriteria kesetimbangan bukan hanya pada suhu dan mekanikal, melainkan
pembatasan-pembatasan termodinamika pada sistem dengan fasa banyak dan
komponen banyak yang mengalami kesetimbangan. Meskipun terjadinya
kesetimbangan suhu dan mekanikal dalam sistem, masih dimungkinkan terjadinya
perpindahan massa antar fasa. Sehingga kriteria kesetimbangan dalam hal ini juga
mengamati kesetimbangan antar fasa dengan meninjau dari segi kemungkinan
perppindahan antar fasa tersebut. Kriteria ini pertama kali dikemukaan oleh
Gibbs.
Suatu sistem multi komponen yang tertutup terdiri dari sejumlah fasa
mempunyai temperatur dan tekanan yang sama, tetapi pada keadaan awal sistem
ini tidak setimbang jika ditinjau dari segi perpindahan massa. Setiap perubahan
yang terjadi harusnya bersifat irreversible, yang mendekatkan sistem pada
keadaan setimbang. Dalam hal ini, sistem dimisalkan dalam keadaan setimbang
secara suhu dan mekanikal (meskipun perubahan terjadi dalam sistem). Karena
pertukaran panas dan pemuaian kerja antar sistem dan sekelilingnya terjadi,
sehingga untuk keadaan perubahan entropi dari sekeliling sistem mengikuti
persamaan:

dQsur
dS sur 
Tsur ........................................................... (2.2)

Ditinjau dari sistem panas yang berpindah adalah –dQ yang mempunyai

harga numerik mutlak sama dengan dQsur. Selanjutnya Tsur = T dari sistem

mempunyai harga setimbang secara termal. Maka:


dQsur  dQ
dS sur  
Tsur T ................................................ (2.3)

Menurut hukum ke-dua termodinamika bahwa:

dS t  dS sur  0
........................................................... (2.4)
Dimana St merupakan entropi total dari sistem. Sehingga jika digabungkan antara
persamaan (1.2) dengan persamaan (1.3) menjadi:

3
dS t 
dQ
0 dQ  TdS t ......................... (2.5)
T atau
Menurut hukum pertama termodinamika:
dU t  dQ  dW  dQ  PdV t

dQ  dU t  PdV t

Jadi dU t  PdV  TdS t

Atau dU t  PdV t  TdS t  0

dS  t
U t ,V t 0
.............................................................. (2.6)
Suatu sistem yang terisolasi memiliki syarat bahwa energi internal dan
volume adalah tetap. Maka untuk sistem yang terisolasi tersebut berlaku hukum
ke-dua termodinamika. Dari persamaan dUt + PdVt – TdSt ≤ 0 berlaku untuk T
dan P yang tetap. Persamaan tersebut dapat ditulis secara metematis sebagai
berikut:
dU t T , P  dPV t  T ,P 
 dTS t T ,P 0

Atau

d U t  PV  TS t 
T ,P 0
............................................ (2.7)
Keadaan setimbang dari sistem tertutup adalah keadaan yang energi bebas
Gibbs totalnya adalah minimum jika ditinjau dari perubahan T dan P pada saat
tertentu. Pada keadaan setimbang, variasi dalam kadar differensial dapat terjadi
didalam sistem pada T dan P yang tetap, tanpa mengakibatkan perubahan Gt,
sehingga:
dG  t
T ,P 0
............................................................... (2.8)
Untuk penerapan kriteria ini terhadap kesetimbangan fasa, sebaiknya
ditinjau kembali untuk sistem tertutup yang terdiri dari dua fasa, A dan B. Setiap
fasa dapat dianggap sebagai ststem terbuka yang memungkinkan terjadinya
perpindahan massa dari fasa satu ke fasa yang lain. Untuk masing-masing fasa
berlaku persamaan:
nG   nS  dT  nV  dP   i dni ............... (2.9a)
nG   nS  dT  nV  dP   i  dni   .............. (2.9b)

4
Karena T dan P tetap maka penjumlahan ke dua persamaan menghasilkan:
nG  t
T ,P 
  i dni   i dni
 
   
 ........................ (2.10)
Didalam sistem tertutup berlaku persamaan:
 
dni  dni .............................................................. (2.11)

Jadi,

  
  
i  i dni  0
................................................ (2.12)
Karena dniα sembarang dan bebas maka penyelesaian untuk mendapatkan
persamaan akhir sama dengan 0 adalah:
i  i  .................................................................... (2.13)

Adapun persamaan untuk sistem multi komponen sebagai berikut:


i  i   ...  i i  1,2,3...N  .............................. (2.14)

bahwa:
6
di  RTd ln f i (T tetap)

Atau
^
i  RT ln fi  
Dengan Θ merupakan tetapan integrasi harganya hanya tergantung pada T. Karena
kesetimbangan fasa pada umumnya berada pada T yang sama, maka syarat diatas
dapat diganti dengan persamaan:
^ ^ ^
  
fi  fi  ...  fi .................................................... (2.15)

2.3 Konsep Kesetimbangan


Konsep kesetimbangan uap dan cair dapat ditinjau dari sistem kontak uap
dan cair campuran Adan B, sebagai berikut:

Gambar 2.1 sistem kontak uap dna cair campuran A dan B

5
Keterangan gambar:
x = fraksi mol pada fasa cair.
y = fraksi mol pada fasa uap.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, pada keadaan seimbang tidak ada perubahan
temperatur, tekanan dan fraksi-fraksi dalam sistem, dan akan tercapai:
1. Kesetimbangan Termal : perpindahan panas netto = 0, atau tidak ada
perpindahan panas (∆ T=0), maka: T V = T L, dengan Tv = suhu uap, TL =
suhu cairan.
2. Kesetimbangan mekanis = kesetimbangan semua gaya=gaya: Pv = PL.
3. Kesetimbangan potensi kimia: ( µ i)V = ( µ i)L

2.4 Kesetimbangan Uap Cair


Jumlah derajat kebebasan pada kesetimbangan merupakan perbedaan antara
jumlah variabel yang diperlukan untuk karakterisasi keadaan intensif sistem
dengan jumlah persamaan bebas yang menyatakan hubungan variabel-variabel
tersebut. Didalam Kesetimbangan Uap Cair dengan jumlah komponen n dan
jumlah fasa 2 terdapat variabel T, P, N-1 fraksi mol dalam cairan dan N-1 fraksi
mol dalam uap, jadi jumlah variabel adalah 2N. Persamaan Gibbs-Duhem secara
sistematis dapat ditulis sebagai berikut:

𝒇̂𝑽𝒊 = 𝒇̂𝑳𝒊 ( i = 1, 2, ..., N) ............................................ (2.16)


Dimana N merupakan persamaan bebas sehingga jumlah variabel yang
harus ditetapkan untuk fixing sistem adalah N, y.i, T atau P dan N-1 fraksi mol
cairan dan N-1 fraksi mol uap. Untuk nilai N variabel yang lain dapat dihitung,
digunakan persamaan:
f i v   iv y i P 𝒇̂𝑽𝒊 = 𝜣
̂ 𝑽𝒊 𝒚𝒊 𝑷 .......................................... (2.17)

Dan
f i v   iv xi P ......................................................... (2.18)
Gabungan persamaan (1.14), (1.15) dan (1.17):

 iL xi   iv y i
......................................................... (2.19)

6
Persamaan terakhir xi dan yi tidak bernilai explisit mengingat baik  iL

maupun  iv adalah fungsi dari T, P dan komposisi. Hubungan tersebut merupakan

hubungan yang kompleks. Menyatakan hubungan antara  i dengan T, P dan


komposisi memerlukan persamaan keadaan yang menggambarkan secara teliti
keadaan masing-masing campuran uap dan cairan. Beberapa kesukaran yang
dihadapi dalam kaitan ini:
1. Data biasanya tersedia untuk zat murni dan tidak ada aturan-aturan yang
berlaku secara umum untuk campuran.
2. Tidak ada persamaan keadaan yang secara umum berlaku untuk fasa cairan.

Hasil yang paling sederhana diperoleh jika diasumsikan fasa uap bersifat gas
ideal dan fasa cairan merupakan larutan ideal, maka:
1. Bila fasa uap bersifat gas ideal:
̂ 𝑽𝒊 = 𝟏  iv  1
𝜣 ......................................................... (2.20)
2. Bila fasa cairan merupakan larutan ideal:
f i L xi f i L fL
 iL    i
xi P xi P P ........................................... (2.21)

3. Bila fugasitas cairan tidak peka terhadap tekanan:

𝒇̂𝑳𝒊 = 𝒇𝒔𝒂𝒕
𝒊 f i L  f i sat ................................................... (2.22)

Jika ; f i L  f i sat

𝒇̂𝑳𝒊 = 𝒇𝒔𝒂𝒕
𝒊 f i L  f i sat

P sat
  L
i
P
Hasil secara keseluruhan:
P sat
xi  yi
P ......................................................... (2.23)
Pi = yi P = xiPsat ......................................................... (2.24)

7
Persamaan terakhir merupakan rumus hukum Raoult. Persamaan tidak
realistik, disebabkan karena asumsi kedua yang biasanya tidak berlaku, kecuali
sistemnya terdiri dari komponen yang serupa secara kimiawi dan dalam ukuran
molekul. Tahap penyelesaian untuk persamaan akhir dikenal dengan bilangan
koefisien aktifitas. Berikut ini diturunkan persamaan yang umum:
f i v  y i Vi P untuk fasa uap dan

f i L  xi  i f i o untuk fasa cair


Maka:
xi  i f i o  Vi y i P
........................................................ (2.25)

Dengan persamaan terakhir penyelesaian Kesetimbangan Uap Cair


dilaksanakan melalui beberapa pendekatan antara lain:
1. Untuk fasa uap digunakan konsep koefisien fugasitas yang dihitung dengan
menggunakan PVT data.
Vi  ( P, T , y i ,....., y N 1 )
......................................... (2.26)
2. Untuk fasa cair menggunakan konsep koefisien aktifitas. Konsep ini
menggantikan konsep koefisien fugasitas yang tidak bisa diterapkan karena
tidak ada persamaan keadaan yang berlaku secara untuk cairan.
 i   ( P, T , xi , x2 ,...., x N 1 ) ....................................... (2.27)

Ke-dua konsep tersebut terpisah satu sama lain. Dalam arti kata  Vi tidak
dipengaruhi oleh komposisi cairan dan sebaliknya 𝜸𝒊 tidak dipengaruhi oleh
komposisi uap.
Telah diuraikan bahwa untuk sistem N merupakan komponen dan pada dua
fasa ada bilangan N merupakan derajat kebebasan, artinya N variabel dapat
ditentukan secara bebas sedang N variabel yang lain merupakan variabel tidak
bebas dan dapat dihitung. Beberapa bentuk persoalan dalam Kesetimbangan Uap-
Cair:
1. Menghitung T dan yi pada titik gelembung, bila ditentukan P dan xi(i =
1,2,...N-1).

8
2. Menghitung P dan yi pada titik gelembung, bila ditentukan T dan xi( i =
1,2,...N-1).
3. Menghitung T dan xi pada titik embun, bila ditentukan P dan yi
( i = 1,2,...N-1)
4. Menghitung P dan xi pada titik embun, bila ditentukan T dan yi
( i = 1,2,...N-1)

Untuk menentukan tekanan uap murni komponen dapat didekati dengan


persamaan Antoine yaitu:
𝐁
𝐥𝐧 𝐏 𝐬𝐚𝐭 = 𝐀 − 𝐓+𝐂 ...................................................... (2.28)

Untuk memprediksikan tekanan uap etanol:


3803.98
InP sat  18.9119 
T  41.68 .................................... (2.28a)
Untuk memprediksikan tekanan uap air:
3816.44
InP sat  18.3036  .................................... (2.28b)
T  46.13

Psat dan T pada persamaan (1.28a) dan (1.28b) dalam satuan mmHg dan
derajat kelvin. Konstanta kesetimbangan uap cair dapat ditentukan dari persamaan
Hukum Raoult:
Pi sat yi
K 
P xi ......................................................... (2.29)

Dalam sebuah campuran dua fasa uap-cair pada kesetimbangan, suatu


komponen dalam fasa berada dalam kesetimbangan dengan komponen yang sama
dalam fasa lain. Hubungan kesetimbangan tergantung kepada suhu, tekanan, dan
komposisi campuran tersebut.
2.5 Fugasitas di Fasa Uap
Fugasitas di fasa uap dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa uap dan tekanan
parsial komponen. Berdasarkan definisi ni, hubungan antara fugasitas dan
koefisien fugasitas di fasa uap dinyatakan sebagai:

9
fi V = θiV .yiP ............................................................. (2.30)
dimana θ adalah koefisien fugasitas, y adalah fraksi mol komponen di fasa uap
dan P adalah tekanan total.
Koefisien fugasitas dihitung berdasarkan data volumetrik dengan cara
sebagai berikut:

1  V RT 
P

RT 0  ni T , P ,ni


ln  i     dP
P 
  ......................... (2.31)
atau

1  V RT 
P

RT 0  ni T , P ,ni


ln  i     dV  ln z
P 
  ................ (2.32)
dimana T adalah temperatur, v adalah volume parsial, n adalah jumlah mol, z
adalah faktor pemampatan (compressibility factor) dan R adalah konstanta gas.
Kedua persamaan di atas menunjukkan bahwa koefisien fugasitas dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan keadaan, persamaan yang
menghubungkan tekanan, temperatur, volume dan/atau komposisi. Persamaan
dengan fungsi dP dipakai apabila persamaan keadaan yang ada berupa fungsi
eksplisit dalam volume, temperatur, dan komposisi. Sedangkan persamaan dengan
fungsi dv dipakai bila persamaan keadaan yangada berupa fungsi eksplisit dalam
tekanan, temperatur, dan komposisi.
2.6 Fugasitas di Fasa Cair
Fugasitas di fasa cair umumnya dinyatakan dalam bentuk koefisien aktifitas
yang didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa cair dan hasil kali
antara fraksi mol komponen di fasa cair dan fugasitas komponen pada keadaan
standar dalam perhitungan-perhitungan koefisien aktifitas adalah kondisi cairan
murni.
a. Jika keadaan cairan murni dipakai sebagai keadaan standar, koefisien
aktifitas dinyatakan sebagai: fi L
= γi xifi OL
dimana γ adalah koefisien
aktifitas, x adalah fraksi mol komponen di fasa cair, fOL adalah fugasitas
cairan murni.
b. Koefisien fugasitas dapat dihitung berdasarkan data energi bebas Gibs
berlebih (excess Gibbs energy). Persamaan-persamaan untuk menghitung

10
koefisien aktivitas anatara lain Persamaan Van Laar, persamaan Margules,
persamaan Wilson, dan sebagainya. Koefisien aktivitas juga dapat dihitung
dengan menggunakan metoda kelompok (group method).

Suku eksponen dalam persamaan di atas dinamakan faktor koreksi Poynting


(Poynting correction). Jika cairan bersifat tidak termampatkan dan uap komponen
pada keadaan jenuhnya dapat dianggap sebagai gas ideal, persamaan di atas dapat
disederhanakan menjadi:
 Pi V OL ( P  P S ) 
 i 
 V
(T , P )  Pi exp
OL S i
fi
RT 
 Pi  .................... (2.33)
Jika faktor koreksi Poynting mendekati 1, maka :

 i
OL SV S
fi (T , P ) Pi ...................................................... (2.34)

Fugasitas di fasa cair juga sering dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas.
Dalam hal ini fugasitas dinyatakan sebagai :

 i xi P ........................................................... (2.35)
L SV
fi

Cara di atas memungkinkan masalah kesetimbangan uap-cair dapat


diselesaikan dengan menggunakan sebuah persamaan keadaan.

11
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan
a. Etanol 96%
b. Aquadest

3.2 Alat
a. Corong h. Labu ukur 10 mL
b. Gelas ukur 100 ml i. Labu ukur 100 mL
c. Gelas ukur 10 ml j. Pengambil sampel uap
d. Hand Refractometer terkondensasi
e. Ketel Pemanas k. Pipet tetes
f. Kondensor l. Termometer
g. Labu didih dasar bulat

3.3 Prosedur Percobaan


3.3.1 Pengukuran Hubungan Konsentrasi Etanol dengan ˚Brix
a. Larutan etanol 10% dibuat dengan memasukkan etanol 96% sebanyak 1.04
mL kedalam labu ukur 10 mL.
b. Kemudian ditambahkan aquades hingga batas labu ukur.
c. Beberapa tetes larutan yang telah dibuat diletakkan pada wadah sampel di
hand refractometer dan diamati besar ˚Brix.
d. Hasil pengamatan dicatat.
e. Langkah-langkah diatas diulangi untuk etanol 20%, 30%, 40%, 50% dan
60%.

3.3.1 Kesetimbangan Uap Cair


a. Rangkaian alat kesetimbangan uap cair dipasang.
b. Larutan etanol 10% dibuat dengan memasukkan etanol sebanyak 10.41 mL
ke dalam labu ukur 100 mL.
c. Sebanyak 60 mL larutan yang terbentuk, dimasukkan ke dalam labu didih.
d. Heater dihidupkan, dan kenaikan suhu diamati hingga sampai pada
temperatur tetap dan tidak mengalami kenaikan lagi.

12
e. Sejumlah sampel cair diambil dari labu didih, didinginkan sesaat.
f. Beberapa tetes sampel cair diletakkan pada hand refractometer dan
diamati besar ˚Brix kemudian dicatat.
g. Sampel uap diambil dan diletakkan pada hand refractometer dan diamati
nilai ˚Brix kemudian dicatat.
h. Hal yang sama dilakukan untuk etanol 20%, 30%, 40%, 50% dan 60%.

3.4 Rangkaian Alat Percobaan

Kondensor

Thermometer

Labu
Didih

Heater

Pemanas

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Percobaan Kesetimbangan Uap Cair

Gambar 3.2 Alat Hand Refractometer

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kurva Kesetimbangan Etanol – Air


Table dibawah ini adalah hasil pengukuran hubungan komposisi Etanol
dengan oBrix sebelum percobaan kesetimbangan uap cair dimulai atau sebelum
terkondensasi.
Tabel 4.1 Hubungan Komposisi Etanol dengan oBrix
Komposisi
Kosnsentrasi Etanol Awal, Xw (oBrix)
Etanol, Xf (%)
20 6
30 9,5
40 12,5
50 14
60 15
70 16

18
y = 19.429x + 3.4238
16
R² = 0.926
14
12
ºBrix (Xw)

10
8
6
4
2
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Komposisi Etanol (Xf)

Gambar 4.1 Kurva Standarisasi Komposisi Etanol Xf dan XW

Pada kurva hubungan oBrix dengan komposisi Etanol di peroleh persamaan:


y = 19,429x + 3,4238, sehingga nilai fraksi massa etanol fasa cair (xw) dan uap
(yd) dapat dicari. Dari kurva juga diperoleh nilai R2 = 0.926. Nilai R2 merupakan
gradien atau garis lurus yang menyatakan tingkat ketelitian dari data yang

14
diperoleh. Untuk standar penelitian biasanya nilai R2 berkisar antara 0.98 hingga
1,00. Namun dalam percobaan didapat nilai R2 hanya sebesar 0.926, jauh dari
nilai standar. Kesalahan ini disebabkan karena ketidaktelitian dalam pembacaan
skala 0Brix pada alat hand refractometer, sehingga secara tidak langsung
mempengaruhi nilai R2.
Dapat dilihat dari Gambar 4.1, semakin besar komposisi etanol (Xf) maka
semakin besar pula Xw. Hal ini disebabkan karena Xw itu sendiri merupakan
satuan untuk mengukur konsentrasi etanol dalam campuran etanol air. Jadi apabila
Xf besar maka Xw juga semakin besar.

4.2. Komposisi Uap (YD) dan cair (XD) Etanol Dalam Cairan dan Dalam
Kondensat Serta Etanol dan Air Pada Kesetimbangan.
Tabel 4.2 Komposisi etanol (oBrix) dan temperatur pada kesetimbangan.
Komposisi Temperatur (oC) Fraksi Berat Fraksi Berat
umpan, Xf (%) Cair (XD) Uap (YD)
25 94,8 0.211 0.390
35 88 0.344 0.496
45 84,5 0.424 0.535
55 81 0.444 0.490
65 79 0.486 0.506

Tabel 4.2 di atas adalah data pengamatan percobaan kesetimbangan uap


cair (KUC) setelah etanol dalam fasa cair terkondensasi. Dapat dilihat bahwa
semakin besar komposisi umpan etanol (Xf) maka temperatur kesetimbangannya
semakin menurun. Hal ini disebabkan karena titik didih etanol lebih kecil
dibandingkan air, sehingga semakin banyak konsentrasi etanol dalam campuran
maka titik didih campuran akan turun dan temperatur kesetimbangan campuran
juga akan semakin turun.

15
96
94
92
90
88
86
84
82
80
78
0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600

Fraksi Berat Cair (Xd) Fraksi Berat Uap (Yd)

Gambar 4.2 Kurva Konsentrasi Etanol Uap (YD) dan Cair (XD) Percobaan
terhadap Temperatur Kesetimbangan
Kurva pada Gambar 4.2 menunjukkan semakin rendah temperature maka
semakin tinggi perolehan konsentrasi etanol fasa uap (YD) dan fasa cair (XD) pada
percobaan. Namun pada komposisi uap (Yd) suhu 81oC mengalami penurunan
dari komposisi uap komposisi uap (Yd) suhu 84.5oC. Dimana seharusnya secara
literature komposisi uap (Yd) suhu 81oC harus lebih besar dari komposisi uap
(Yd) suhu 84,5oC. Hal ini kemungkinan besar disebabkan error pada saat
o
pengukuran Brix menggunakan Hand refraktometer. Error juga dapat
disebabkan penanganan etanol yang kurang baik sebelum dianalisa menggunakan
hand refractometer.

Tabel 4.3 Data P sat Air dan Etanol tiap Temperatur


Xf T (kelvin) Psat air Psat etanol

0.25 367.8 625.870 1,404.650


0.35 361 484.402 1,095.699
0.45 357.5 422.703 960.187
0.55 354 367.723 838.948
0.65 352.5 346.068 791.057

16
Berdasarkan Tabel 4.3 terlihat adanya hubungan terbalik antara komposisi
umpan dengan harga P sat dan komposisi umpan dengan temperatur
kesetimbangan. Semakin besar komposisi umpan, maka harga P sat dan tempature
semakin kecil. Tabel 4.3 juga menyediakan data untuk memudahkan dalam
memperoleh nilai fraksi volum etanol pada cairan dan kondensat yang tidak dicari
dengan alat hand refractometer.

4.3. Perbandingan Antara Fraksi Berat Etanol Dalam Cairan dan Dalam
Kondensat dari Data Percobaan dengan Data Literatur
Hubungan komposisi uap (YD) dan cair (XD) etanol dalam cairan dan
dalam kondensat pada percobaan dan literatur terhadap temperatur kesetimbangan
dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.4 Hubungan Komposisi Uap (YD) dan Cair (XD) Etanol dalam Cair dan
dalam Kondensat terhadap Temperatur Kesetimbangan.

DATA LITERATUR DATA PERCOBAAN

Temperatur Y Temperatur X Y
X Lit
Kesetimbangan(oC) Lit Kesetimbangan(oC) Perc Perc
100 0 0 94.8 0.211 0.390
98.1 0.02 0.192 88 0.344 0.496
95.2 0.05 0.377 84.5 0.424 0.535
91.8 0.1 0.527 81 0.444 0.490
87.3 0.2 0.656 79.5 0.486 0.506
84.7 0.3 0.713
83.2 0.4 0.746
82 0.5 0.771
81 0.6 0.794
80.1 0.7 0.822
79.1 0.8 0.858
78.3 0.9 0.912
78.2 0.94 0.942
78.1 0.96 0.959
78.2 0.98 0.978

17
78.3 1 1

100

95

X percobaan
TEMPERATUR

90
Y percobaan
X literatur
85
Y literatur

80

75
0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200
KONSENTRASI

Gambar 4.3 Kurva Konsentrasi Etanol Uap (Yd) dan Cair (Xd) dari Literatur
dan Percobaan terhadap Temperatur Kesetimbangan.
Berdasarkan Tabel 4.4 dan Gambar 4.3 diperoleh hubungan komposisi uap
(YD) dan cair (XD) etanol pada percobaan dan literatur terhadap temperatur
kesetimbangan. Dari Tabel 4.4 dan Gambar 4.3 di atas menunjukan bahwa pada
kurva komposisi etanol dalam fasa cair dan fraksi etanol pada fasa uap berada di
bawah kurva literatur. Hal ini dikarenakan waktu pengambilan sampel kondensat
dan cair tidak dilakukan secara bersamaan sehingga kondensat kembali bercampur
dengan larutan. Semakin tinggi temperature kesetimbangan maka semakin rendah
perolehan komposisi uap (YD) dan cair (XD) etanol baik dari percobaan maupun
literatur. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi awal etanol yang berbeda. Dimana
semakin tinggi konsentrasi awal etanol maka semakin tinggi pula komposisi uap
(YD) dan cair (XD) etanol.

4.4. Perbandingan Konstanta Kesetimbangan Data Percobaan dan


Konstanta Kesetimbangan Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan.
Perbandingan konstanta kesetimbangan data percobaan dan konstanta

18
kesetimbangan literatur terhadap temperatur kesetimbangan dapat dilihat pada
Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Perbandingan Nilai Konstanta (K) Kesetimbangan Berdasarkan
Percobaan dan Literatur.

Temperatur (oC) K
Percobaan Literatur
94.8 1.848 7.062
88 1.442 3.448
84.5 1.263 2.290
81 1.104 1.323
79.5 1.041 1.108

100

94.8
95

90 88
Temperatur

84.5 K percobaan
85
81 K literatur
79.5
80

75
0.000 2.000 4.000 6.000 8.000
K

Gambar 4.4 Perbandingan Nilai Konstanta Kesetimbangan yang didapat Pada


Percobaan dan Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan
Berdasarkan Tabel 4.5 dan Gambar 4.4 semakin rendah temperatur, maka
konstanta kesetimbangan K akan semakin kecil. Dalam percobaan memang sudah
didapatkan hasil sesuai dengan hubungan tersebut. Namun nilai K percobaan
cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan nilai K literatur. Penyimpangan ini
disebabkan karena dalam melalukan praktikum penanganan etanol yang kurang
cepat ketika akan mengukur oBrix nya dengan alat hand refractometer, sementara
etanol memiliki sifat yang mudah menguap.

19
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Semakin besar komposisi etanol dalam campuran, maka semakin besar


pula derajat Brix yang diperoleh, serta semakin menurun temperatur
kesetimbangan dari campuran.
2. Dari kurva komposisi etanol versus Brix di peroleh persamaan y = 19,429x
+ 3,4238 dan R2 = 0,926
3. Konstanta Kesetimbangan (K) semakin besar dengan kenaikan temperatur
kesetimbangan.
5.2 Saran
1. Sebelum praktikum praktikan harus benar-benar memahami metode
pengerjaan praktikum tersebut .
2. Praktikan harus bekerja sama dalam mengolah data hasil praktikum supaya
di hasilkan laporan yang berkualitas.

20
DAFTAR PUSTAKA

Abbott, Michael, M., Van Ness, Hendrick, C. 1989. Schaum’s Outline of Theory
and Problem Thermodynamics, 2nd edition, Mc Graw-Hill Co. Inc.
Anggraini, W., G. 2015. Kesetimbangan Uap Cair Pada Sistem
Binair.http://rega42.wordpress.com, Diakses 1 November 2016.
Geankoplis, C.J., 1997. Transport Processed and Unit Operation, 3th edition.
New York: Prentice-Hall.
Himmelblau, M., David., 1996. Prinsip Dasar dan Kalkulasi dalam Teknik
Kimia,6th edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Prausnitz, J. M. 1991. Molecular Thermodynamics of Liquid-Phase Equilibr. New
Jersey: Prentice-Hall.
Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia 1.
Pekanbaru: Universitas Riau.
Treybal, Robert, E., 1981. Mass-Transfer Operations, 3th edition. Japan: Mc.
Graw-Hill.

21
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

1. Data Percobaan
Konsentrasi Etanol yang digunakan:
a. Percobaan Hubungan Konsentrasi Etanol vs 0Brix
a. 20% d. 50%
V1 x M1 = V2 x M2 V1 x M1 = V2 x M2
10 x 0,2 = V2 x 0.96 10 x 0.5 = V2 x 0.96
V2 = 2.1 ml V2 = 5.2 ml

b. 30% e. 60%
V1 x M1 = V2 x M2 V1 x M1 = V2 x M2
10 x 0.3 = V2 x 0.96 10 x 0.6 = V2 x 0.96
V2 = 3.125 ml V2 = 6.25 ml

c. 40% f. 70%
V1 x M1 = V2 x M2 V1 x M1 = V2 x M2
10 x 0.4 = V2 x 0.96 10 x 0.7 = V2 x 0.96
V2 = 4.16 ml V2 = 7.3 ml

b. Percobaan Kesetimbangan Uap Cair


a. 25%
V1 x M1 = V2 x M2
100 x 0,2 = V2 x 0.96
V2 = 2.1 ml
d. 55%
b. 35% V1 x M1 = V2 x M2
V1 x M1 = V2 x M2 100 x 0.55= V2 x 0.96
100 x 0.3 = V2 x 0.96 V2 = 57.3 ml
V2 = 36.45 ml
e. 65%
c. 45% V1 x M1 = V2 x M2
V1 x M1 = V2 x M2 100 x 0.6 = V2 x 0.96
100 x 0.4 = V2 x 0.96 V2 = 67.7 ml
V2 = 46.9 ml

Komposisi Etanol, (xf) % Konsentrasi Etanol, ᵒbrix temperatur


(ᵒC)
xw xd
25 8 6 94.8
35 11.5 9.5 88
45 13.5 12 84.5
55 14 13.5 81

22
65 15 14 79.5

Keterangan :
XF = Fraksi Umpan XD = Fasa cair etanol-air
Xw = Etanol-air awal

2. Menghitung Fraksi Volume Etanol dalam Cairan dan Kondensat


Berdasarkan oBrix
Diketahui dari Gambar 4.1 persamaan garisnya y = 19,429x + 3,4238
Untuk mencari fraksi volume etanol pada cairan dan kondensat maka :
(y−3.4238)
x=| |
19.429
Pi sat
Dan Yd dicari dengan: Yd = Ptot

Berikut hasil perhitungan dengan menggunakan Microsoft Excel:


Komsposisi Fraksi Volume Etanol
umpan, Xf Xw Xd Yd
0.25 0.253 0.169 1.848
0.35 0.399 0.315 1.442
0.45 0.482 0.419 1.263
0.55 0.503 0.482 1.104
0.65 0.544 0.503 1.041

3. Mencari Psat Pada Setiap Temperatur


Persamaan Antoine untuk mencari Psat air:
3816,44
P sat = exp (18,3036 − )
T − 46,13
Persamaan Antoine untuk mencari Psat etanol:
3803,98
P sat = exp (18,9119 − )
T − 41,68
Berikut hasil perhitungan dengan menggunakan Microsoft Excel:
Temperatur
Komsposisi Psat air Psat etanol
Kesetimbangan
umpan, Xf (mmHg) (mmHg)
(K)
0.25 367.8 625.870 1,404.650
0.35 361 484.402 1,095.699
0.45 357.5 422.703 960.187

23
0.55 354 367.723 838.948
0.65 352.5 346.068 791.057

4. Menghitung Fraksi Berat Etanol


ρ Etanol = 0,789 gram/ml ρ Air = 0,998 gram/ml
P 1 atm = 760 mmHg
Persamaan yang digunakan:
Volume etanol = Fraksi volume etanol x 60 ml ...........................................(4-1)
Berat Etanol = ρ x V ......................................................................................(4-2)
Volume air = 60 – volume etanol ..........................................………………(4-3)
Berat Air = ρ x V ..........................................................................................(4-4)
berat etanol
Fraksi berat etanol dalam cairan = ..........................(4-5)
berat etanol+berat air
XD .Psat etanol
Fraksi berat etanol dalam kondensat = ...............................(4-6)
P

Hasil Perhitungan dengan Menggunakan Microsoft Excel:

Fraksi berat
Komposisi Volume Volume Berat etanol
Berat etanol
umpan Xf etanol air air Bottom, Top,
Xd Yd
0.25 15.168 11.967 44.833 44.743 0.211 0.390
0.35 23.918 18.871 36.083 36.010 0.344 0.496
0.45 28.918 22.816 31.083 31.020 0.424 0.535
0.55 30.168 23.802 29.833 29.773 0.444 0.490
0.65 32.668 25.775 27.333 27.278 0.486 0.506

5. Fraksi Berat Etanol Dalam Cairan (X) dan Dalam Kondensat (Y) Menurut
Literatur
Tabel 5.1 Fraksi Berat Etanol Dalam Cairan (X) dan Dalam Kondensat (Y)
Menurut Literatur
Literatur Percobaan
Temperatur
X Y X Y
94.8 0.0559 0.3946 0.211 0.390
88 0.184 0.636 0.344 0.496

24
84.5 0.313 0.717 0.424 0.535
81 0.600 0.794 0.444 0.490
79.5 0.750 0.831 0.486 0.506

Sumber: Geankoplis Appendix A.3.23 Equilibrium Data For Ethanol Water


System at 101,325 kPa (1 atm)

6. Menghitung K
Menghitung K Dari Data Praktikum
Y
K=
X
Berikut hasil perhitungan dengan menggunakan Microsoft Excel:
Dimaa X dan Y dalam fraksi berat

Temperatur K
(oC)
Percobaan literatur
94.8 1.848 7.062
88 1.442 3.448
84.5 1.263 2.290
81 1.104 1.323
79.5 1.041 1.108

25
LAMPIRAN B
DOKUMENTASI

Gambar B.1 Rangkaian Peralatan Gambar B.2 Proses Distilasi


KUC

Gambar B.3 Suhu konstan KUC Gambar B.4 Pengamatan


Konsentrasi dengan Alat Hand
Refractometer 26