Anda di halaman 1dari 36

PENTINGNYA PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN

TENTANG HALUSINASI PADA KELUARGA PASIEN


DI RUANG IRAWAN (8) RSJD DR. AMINO
GONDOHUTOMO
SEMARANG

Disusun Sebagai Syarat Penggunaan Gelar Pegawai Negeri Sipil

Oleh :

NAMA : EKO PURNOMO


NIP : 19770511 1998031 004

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH


2018

i
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
limpahan rahmat serta karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah untuk uji penggunaan gelar ini yang berjudul : “PENTINGNYA
PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HALUSINASI DI
RUANG IRAWAN (8) RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG”.
Terselesaikannya Makalah ini tidak lepas dari peran banyak pihak yang
banyak membantu. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang membentu penulis dalam penyusunan
makalah ini.
Selanjutnya penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan maupun
kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu penulis bersedia menerima
kritik dan saran yang membangun demi kebaikan dalam penyusunan Makalah ini.
Penulis juga meminta maaf atas segala kekurangan dalam penulisan Makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya, maupun bagi pembaca pada umumnya.

Semarang, 21 Mei 2018

Penulis

Eko Purnomo

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Tujuan ...................................................................................... 3
BAB II PERMASALAHAN ................................................................... 4
BAB III PEMBAHASAN ......................................................................... 5
A. Tinjauan Teori ......................................................................... 6
B. Hasil ........................................................................................ 19
BAB IV PENUTUP ...................................................................................... 21
A. Kesimpulan ............................................................................. 21
B. Saran ......................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 22


LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Halusinasi merupakan salah satu tanda gejala dari skizofrenia yang


sangat penting untuk menegakkan diagnostik karena sering muncul secara
berlebihan dimana 70% pasien skizofrenia mengalami halusinasi (Upoyo,
2008). Pasien mengalami distorsi persepsi yaitu perbedaan kenyataan
pengalaman indrawi dengan stimulasi dari lingkungan. Pasien juga
menyebutkan bahwa mereka merasa kesulitan dalam memahami kondisiyang
terjadi disekitar mereka sehingga hal ini menjadi masalah yang menakutkan
bagi pasien (Yosep, 2010).
Halusinasi merupakan masalah yang paling banyak dialami oleh pasien
yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa DR. Amino
Gondohutomo Semarang. Gejala khas halusinasi yang nampak ialah pasien
kerap bicara sendiri, merasa melihat bayangan, mendengar bisikan atau
mencium bau atau merasakan sesuatu tanpa adanya stimulant nyata yang
dirasakan oleh orang lain.
Rumah Sakit Jiwa DR. Amino Gondohutomo merupakan salah satu unit
pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan khusus terhadap
penanganan dan penanggulanangan masalah kesehatan jiwa termasuk pasien
halusinasi yang jumlahnya mendominasi sebagai masalah utama. Semua jenis
upaya penanganan seperti psikofarmakologi, psikoterapi, terapi psikososial,
terapi psikoreligi dan terapi rehabilitasi diberikan pada klien secara
komprehensif.
Berdasarkan data rekam medis RSJD DR. Amino Gondohutomo jumlah
pasien halusinasi mencapai hampir sepertiga dari jumlah total pasien dengan
gangguan jiwa yang dirawat. Pada periode Januari-Maret 2018 jumlah pasien
halusinasi mencapai 454 pasien dari total 1224 pasien dengan gangguan jiwa.
Artinya jumlah pasien dengan masalah halusinasi memiliki prosentase
sebesar 38,56% dan ini menjadi angka yang dominan dibanding masalah lain

1
seperti perilaku amuk, isolasi sosial, risiko bunuh diri atau masalah
keperawatan lainnya.
Ruang Irawan (8) merupakan salah satu bagian dari instalasi Rawat Inap
RSJd Dr. Amino Gondohutomo Semarang yang memberikan perawatan
kepada pasien dengan gangguan jiwa non akut pasca perawatan di ruang akut
Srikandi sampai keluarga menjemput pulang ke rumah. Ruang Irawan
melakukan perawatan serupa dengan ruang Endro Tenoyo (5) dan Ruang
Gatot Kaca (6). Keadaan pasien di ruang Irawan secara umum lebih stabil
karena sudah melewati fase akut pasca perawatan sekitar 1minggu di Ruang
Srikandi. Keluarga pasien sudah lebih sering berkunjung menjenguk pasien.
Interaksi antara pasien dan keluarga juga sudah lebih meningkat. Gejala
halusinasi yang khas sudah mulai berkurang, kontak pasien lebih koheren.
Namun kadang banyak keluarga yang masih ragu dan takut serta tidak
mengetahui bagaimana cara perawatan pasien dengan gangguan halusinasi
nantinya.
Upaya pemberian pendidikan kesehatan dilakukan petugas ruang Irawan
sebagai bentuk pemberian asuhan yang komprehensif dan holistik pada klien
dan keluarga. Namun dalam pelaksanaanya kadang masih kurang optimal.
Alasan klasik yang paling kerap terdengar adalah petugas sibuk dengan tugas
asuhan keperawatan ke pasien lain dan julah tenaga petugas keperawatan
yang terbatas. Namun tentu pemberian pendidikan kesehatan tentang
halusinasi tetap diberikan,karena merupakan hal penting yang menjadi
determinan penentu utama masalah kekambuhan pasien dan perawatan pasien
kembali (Kandar, 2013).
Pengamatan khusus yang penulis lakukan selama 2 hari pada tanggal 21
& 22 Maret 2018,menunjukan dari total 11 keluarga pasien yang berkunjung
hanya ada 2 orang anggota keluarga pasien yang mengatakan bahwa dirinya
pernah mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat pasien
halusinasi. 1 orang anggota keluarga mengatakan mendapat pendidikan
petugas dari perawat wanita yang ramah dan terlihat menarik saat ia pertama
kali menenguk anggota keluarganya yang dirawat pada minggu lalu. Sedang

2
keluarga pasien lainnya mengatakan mendapatkan informasi pendidikan
kesehatan tentang halusinasi pada tahun lalu saat pertama kali anggota
keluarganya di rawat DI RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
Berdasarkan fenomena tersebut maka penulis tertarik melakukan
penyusunan makalah ini yang berjudul “Pentingnya Pemberian Pendidikan
Kesehatan Tentang Halusinasi Pada Keluarga Pasien Di Ruang Irawan (8)
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan menerapkan pemberian pendidikan kesehatan tentang
halusinasi pada keluarga pasien di ruang Irawan (8) RSJD DR. Amino
Gondohutomo Semarang.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui peran petugas dalam memberikan pendidikan kesehatan
tentang halusinasi pada keluarga pasien di ruang Irawan (8) RSJD DR.
Amino Gondohutomo Semarang.
b. Mengetahui materi pemberian pendidikan kesehatan tentang
halusinasi pada keluarga pasien di ruang Irawan (8) RSJD DR. Amino
Gondohutomo Semarang.

3
BAB II

PERMASALAHAN

Rumah Sakit Jiwa DR. Amino Gondohutomo merupakan salah satu unit
pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan khusus terhadap penanganan
dan penanggulanangan masalah kesehatan jiwa termasuk pasien skizofrenia yang
jumlahnya mendominasi sebagai masalah utama. Masalah halusinasi merupakan
salah satu masalah yang paling khas dan kerap dijumpai pada pasien skizofrenia .
Ruang 8 atau yang dikenal sebagai Ruang Irawan merupakan salah satu ruang
non akut yang digunakan dalam merawat pasien skizofrenia yang juga kerap
menunjukkan perilaku kekerasan sebagai gejala penyakitnya. Ruang Irawan
merupakan salah satu dari 3 ruangan (bersama ruang Endro Tenoyo (5) dan Ruang
Gatotkaca (6) yang melanjutkan perawatan pasien dari fase akut setelah mendapat
perawatan di Ruang Srikandi. Keluarga pasien sudah lebih sering berkunjung
menjenguk pasien. Interaksi antara pasien dan keluarga juga sudah lebih
meningkat. Gejala halusinasi yang khas sudah mulai berkurang, kontak pasien
lebih koheren. Namun kadang banyak keluarga yang masih ragu dan takut serta
tidak mengetahui bagaimana cara perawatan pasien dengan gangguan halusinasi
nantinya.
Petugas ruang Irawan (8) memberikan pendidikan kesehatan tentang
halusinasi sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan
keluarga dalam merawat anggota keluarganya dengan masalah halusinasi. Namun
dalam pelaksanaannya, pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga pasien
yang merupakan bagian dalam pembrian asuhan keperawatan dalam peran
perawat sebagai educator memang masih kurang optimal.
Pengalaman penulis yang telah bekerja selama lebih dari 10 tahun melihat
pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga pasien merupakan salah satu
fenomena yang jarang dilaksanakan dan dianggap kurang penting. Padahal banyak
penelitian dan jurnal ilmiah yang mengungkapkan bahwa peran petugas dalam
memaksimalkan peran keluarga dalam perawatan merupakan hal yang amat

4
penting bagi pasien. Kandar (2013) mengungkapkan peran keluarga dalam
merawat pasien di rumah merupakan salah satu determinan penting dalam yang
menentukan kejadian readmisi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mustika
(2013) tentang Pengaruh strategi pelaksaksanaan keluarga tentang cara
mengontrol halusinasi pada kejadian kembuhnya pasien halusinasi menunjukkan
pengaruh yang kuat. Keluarga yang mendapat paparan tentang materi halusinasi
menjadi tahu bagaimana cara merawat dan melakukan strategi pelaksanaan yang
tepat untuk pasien.
Dalam melakukan pendidikan kesehatan petugas biasanya hanya berupa
informasi tentang kondisi perkembangan pasien dan hal-hal teknis tentang
perawatan di ruangan. Pemberian pendidikan kesehatan tentang halusinasi
biasanya lebih sering diberikan oleh praktikan perawat yang melakukan
pendidikan kesehatan sebagai salah satu kompetensi yang harus dicapai. Peran
petugas dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang halusinasi belum
optimal karena keluarga pasien yang cukup banyak dan kadang tidak
memungkinkan untuk dapat diberikan pendidikan kesehatan tentang halusinasi
seutuhnya.
Berdasarkan fenomena di atas maka, rumusan masalah yang ada adalah
sebagai berikut:
1. Kurang optimalnya pemberian pendidikan kesehatan tentang halusinasi
pada keluarga pasien.
2. Masih kurangnya kesadaran petugas akan pentingnya pemberian
pemberian pendidikan kesehatan tentang halusinasi pada keluarga pasien.

Dengan disusunnya makalah ini juga sebagai bentuk upaya meningkatkan


pemberian pemberian pendidikan kesehatan tentang halusinasi pada keluarga
pasien di Ruang Irawan RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Untuk itulah
penulis tertarik untuk mengatahui “Pengaruh Pemberian Terapi Restrain Pada
Pasien dengan Perilaku Kekerasan di Ruang Irawan RSJD Dr. Amino
Gondohutomo Semarang”.

5
BAB III
TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori
1. Halusinasi
a. Pengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu
yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; halusinasi
merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, penciuman,
perabaan atau penghidungan. Klien merasakan stimulus yang
sebenarnya tidak ada (Keliat, 2010).
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam
membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal
(dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan
tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata (Farida, 2010).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud halusinasi adalah persepsi salah satu gangguan jiwa pada
individu yang ditandai dengan perubahan persepsi sensori seseorang
yang hanya mengalami rangsang internal (pikiran) tanpa disertai
adanya rangsang eksternal (dunia luar) yang sesuai.
b. Jenis-Jenis Halusinasi
1) Halusinasi Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang
jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan
lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang
terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh
untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.

6
2) Halusinasi Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,
gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks.Bayangan bisa
yang menyenangkan atau menakutkan.
3) Halusinasi Penciuman
Membau bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses,
parfum atau bau yang lain. Ini sering terjadi pada seseorang pasca
serangan stroke, kejang atau dimensia.
4) Halusinasi pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5) Halusinasi Perabaan
Merasa mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus
yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda
mati atau orang lain.
6) Halusinasi Kinestetik
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
7) Halusinasi Chenesthetik
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri,
pencernaan makan atau pembentukan urine (Keliat, 2010).
c. Tahapan Halusinasi
1) Tahap Comforting
Memberi rasa nyaman, tingkat ansietas sedang, secara umum
halusinasi merupakan suatu kesenangan dengan karakteristik :
a) Klien mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan
ketakutan.
b) Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan
ansietas.
c) Pikiran dan pengalaman masih dalam kontrol kesadaran.
Perilaku klien :
a) Tersenyum atau tertawa sendiri.
b) Menggerakkan bibir tanpa suara.

7
c) Pergerakan mata yang cepat.
d) Respon verbal yang lambat.
e) Diam dan berkonsentrasi.
2) Tahap Condemning
Menyalahkan, tingkat kecemasan berat, secara umum halusinasi
menyebabkan rasa antipasti dengan karakteristik :
a) Pengalaman sensori menakutkan.
b) Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut.
c) Mulai merasa kehilangan kontrol.
d) Menarik diri dari orang lain.
Perilaku klien :
a) Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan
darah.
b) Perhatian dengan lingkungan berkurang.
c) Konsentrasi terhadap pengalaman sensorinya.
d) Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan
realitas.
3) Tahap Controling
Mengontrol, tingkat kecemasan berat, pengalaman halusinasi tidak
dapat ditolak lagi dengan karakteristik :
a) Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya
(halusinasi).
b) Isi halusinasi menjadi atraktif.
c) Kesepian bila pengalaman sensori berakhir.
Perilakuklien :
a) Perintah halusinasi ditaati.
b) Sulit berhubungan dengan orang lain.
c) Perhatian terhadap lingkungan berkurang, hanya beberapa
detik.
4) Tahap Conquering

8
Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi, klien tampak
panik. Karakteristiknya yaitu suara atau ide yang datang
mengancam apabila tidak diikuti.
Perilaku klien :
a) Perilaku panik.
b) Resiko tinggi mencederai.
c) Agitasi atau kataton.
d) Tidak mampu berespon terhadap lingkungan (Darmawan,
2013).
d. Etiologi Halusinasi
Etiologi halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi, yaitu :
1) Dimensi fisik
Halusinasi dapat meliputi kelima indera, tetapi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi pendengar, halusinasi dapat
ditimbulkan dari beberapa kondisi seperti kelelahan yang luar
biasa. Pengguna obat-obatan, demam tinggi hingga terjadi delirium
intoksikasi, alkohol dan kesulitan-kesulitan untuk tidur dan dalam
jangka waktu yang lama.
2) Dimensi emosional
Terjadinya halusinasi karena ada perasaan cemas yang berlebih
yang tidak dapat diatasi. Isi halusinasi berupa perintah memaksa
dan menakutkan yang tidak dapat dikontrol dan menentang,
sehingga menyebabkan klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan
tersebut.
3) Dimensi intelektual
Penunjukkan penurunan fungsi ego. Awalnya halusinasi
merupakan usaha ego sendiri melawan implus yang menekan dan
menimbulkan kewaspadaan mengontrol perilaku dan mengambil
seluruh perhatian klien.
4) Dimensi sosial

9
Halusinasi dapat disebabkan oleh hubungan interpersonal yang
tidak memuaskan sehingga koping yang digunakan untuk
menurunkan kecemasan akibat hilangnya kontrol terhadap diri,
harga diri, maupun interaksi sosial dalam dunia nyata sehingga
klien cenderung menyendiri dan hanya bertuju pada diri sendiri.
5) Dimensi spiritual
Klien yang mengalami halusinasi yang merupakan makhluk sosial,
mengalami ketidakharmonisan berinteraksi. Penurunan
kemampuan untuk menghadapi stress dan kecemasan serta
menurunnya kualitas untuk menilai keadaan sekitarnya. Akibat saat
halusinasi menguasai dirinya, klien akan kehilangan kontrol
terhadap kehidupanya (Darmawan, 2013)
Ada beberapa teori tentang penyebab halusinasi, yakni :
1) Teori psikoanalisa
Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangsangan
dari luar yang mengancam, ditekan untuk muncul akan sabar.
2) Teori biokimia
Halusinasi terjadi karena respon metabolisme terhadap stress yang
mengakibatkan dan melepaskan zat halusinogenik neurokimia
seperti bufotamin dan dimetyltransferase.
3) Terapi psikofisiologi
Terjadi akibat ada fungsi kognitik yang menurun karena
terganggunya fungsi luhur otak, oleh karena kelelahan, karacunan
dan penyakit.
4) Terapi psikodinamik
Terjadi karena ada isi alam sadar dan akan tidak sadar yang masuk
dalam alamtak sadar merupakan sesuatu atau respon terhadap
konflik psikologi dan kebutuhan yang tidak terpenuhi sehingga
halusinasi adalah gambaran atau proyeksi dari rangsangan
keinginan dan kebutuhan yang dialami oleh klien.
5) Teori interpersonal

10
Teori ini menyatakan seseorang yang mengalami kecemasan berat
dalam situasi yang penuh dengan stress akan berusaha untuk
menurunkan kecemasan dengan menggunakan koping yang biasa
digunakan (Darmawan, 2013).

e. Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif

1. Pikiran logis 1. Pikiran kadang 1. Gangguan pikiran


2. Persepsi akurat menyimpang waham
3. Emosi konsisten 2. Ilusi 2. Halusinasi
dengan 3. Reaksi emosional 3. Kesulitan mengontrol
pengalaman berlebih atau halusinasi
4. Perilaku sesuai kurang 4. Ketidakaturan
5. Hubungan sosial 4. Perilaku aneh atau perilaku
tidak lazim 5. Isolasi sosial
5. Menarik diri
Gambar 2.1 Rentang respon neurobiologist(14)

Keterangan rentang respon tersebut, yakni :


1) Pikiran logis yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren.
2) Persepsi akurat yaitu proses diterimanya rangsangan melalui
panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga
individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar
dirinya.
3) Emosi konsisten adalah manifestasi perasaan yang konsisten atau
efek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya
berlangsung tidak lama.
4) Perilaku sesuai yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata
dalam menyelesaikan masalah masih dapat diterima oleh norma-
norma sosial dan budaya umum yang berlaku.

11
5) Hubungan sosial yaitu hubungan yang dinamis menyangkut
antara individu dan individu, individu dan kelompok dalam
bentuk kerja sama.
6) Proses pikiran kadang terganggu (ilusi) yaitu interprestasi yang
salah atau menyimpang tentang penyerapan (persepsi) yang
sebenarnya sungguh–sungguh terjadi karena adanya rangsang
panca indra.
7) Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari dengan orang lain.
8) Emosi berlebihan atau kurang yaitu menifestasi perasaan atau
afek keluar berlebihan atau kurang.
9) Perilaku tidak sesuai atau tidak biasa yaitu perilaku individu
berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak
diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang
berlaku.
10) Waham adalah sesuatu keyakinan yang salah dipertahankan
secara kuat atau terus menerus namun tidak sesuai dengan
kebenaran.
11) Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam
membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan
eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat
tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata.
12) Isolasi sosial yaitu menghindari dan dihindari oleh lingkungan
sosial dan berinteraksi (Stuart, 2006).
f. Mekanisme Koping
Mekanisme koping merupakan perilaku yang mewakili upaya
untuk melindungi klien dari pengalaman yang menakutkan
berhubungan dengan respon neurologis maladaptif meliputi :
1) Regresif berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya
untuk mengatasi ansietas, yang menyisakan sedikit energi untuk
aktivitas hidup sehari –hari

12
2) Proyeksi sebagai upaya untuk menjelaskan karancuan persepsi
3) Menarik diri (Stuart, 2006).
g. Proses Terjadinya Masalah
Halusinasi terjadi karena klien tersebut pada dasarnya
memilikikoping yang tidak efektif terhaap berbagai stresor yang
menimpanya. Kondisi yang timbul karena kondisi di atas adalah klien
cnderung akan menarik diri dari lingkungan dan terjadilah isolasi
sosial. Kesendirian tersebut jika berlangsung lama akan menimbulkan
halusinasi dan semakin lama klien akan semakin menikmati dan asik
dengan halusinasinya itu. Karena adanya hal yang tidak nyata akan
muncul perintah yang bisa menyuruh klien merusak diri sendiri dan
lingkungan di sekitarnya (Keliat, 2010).
h. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan pada gangguan halusinasi, diantaranya
adalah risiko mencederai diri, gangguan sensori atau persepsi, isolasi
sosial: menarik diri, gangguan pemeliharaan kesehatan (Keliat, 2010).
i. Tindakan Keperawatan Pasien Halusinasi
Tindakan keperawatan pada pasien halusinasi terdiri dari tindakan
keperawatan untuk pasien dan tindakan keperawatan untuk keluarga.
1) Tindakan keperawatan untuk pasien meliputi:
a) Tujuan tindakan meliputi pasien mampu mengenali halusinasi
yang dialaminya, pasien dapat mengontrol halusinasinya,
pasien mengikuti program pengobatan secara optimal.
b) Tindakan keperawatan meliputi:
i. Membantu pasien mengenali halusinasi
Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, dapat
dilakukan dengan cara diskusi dengan pasien tentang isi
halusinasi (apa yang didengar atau dilihat), waktu terjadi
halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang
menyebabkan halusinasimunculdan respon pasien saat
halusinasi muncul.

13
ii. Melatih pasien mengontrol halusinasi
Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol
halusinasi, dapat melatih pasien dalam 4 cara yang dapat
mengendalikan halusinasi, diantaranya adalah :
(1) Menghardik halusinasi
Merupakan upaya mengendalikan diri terhadap
halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang
muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap
halusinasi yang muncul atau tidak memperdulikan
halusinasinya. Jika ini dapat dilakukan, pasien akan
mampu mengendalikan dan tidak mengikuti halusinasi
yang muncul.Kemungkinan halusinasi yang muncul
kembali tetap ada, namun dengan kemampuan ini
pasien tidak akan larut untuk mengikuti apa yang ada
dalam halusinasinya. Tahap tindakan keperawatan
meliputi menjelaskan cara menghardik,memperagakan
cara menghardik, meminta pasien memperagakan ulang,
memamtau penerapan cara ini, menguatkan perilaku
pasien.
(2) Bercakap-cakap dengan orang lain
Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan
bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika pasien
bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi
distraksi. Fokus perhatian pasien akan beralih dari
halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang
lain tersebut, sehingga salah satucara yang efektif untuk
mengontrol halusinasi adalah dengan menganjurkan
pasien untuk bercakap-cakap dengan orang lain.
(3) Melakukan aktivitas yang terjadwal
Dengan beraktivitas secara terjadwal, pasien tidak akan
memiliki bayak waktu luang untu sendiri yang dapat

14
mencetuskan halusinasi. Pasein dapt menyusun jadwal
dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapannya
adalah menjelaskan pentingnya beraktivitas, yang
teratur untuk mengatasi halusinasi. Mendiskusikan
aktivitas yang biasa dilakukan pasien, melatih
melakukan aktivitas, menyusun jadwal aktivitas sehari-
hari, membantu pelaksanaan jadwal kegiatan, member
penguatan pada perilaku yang positif.
(4) Menggunakan obat secara teratur
Untuk menghindari kekambuhan atau muncul kembali
halusinasi, pasien perlu memgkonsumsi obat secara
teratur dengan tindakan menjelaskan manfaat obat,
menjelaskan akibat putus obat, menjelaskan cara
mendapatkan obat atau berobat dan jelaskan cara
menggunakan dengan 5 benar (benar obat, benar pasien,
benar cara, benar waktu, benar dosis).
2) Tindakan keperawatan untuk keluarga meliputi:
Tindakan keperawatan untuk keluarga memiliki tujuan agar
keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di rumah sakit
maupun di rumah serta keluarga dapat menjadi sisitem pendukung
yang efektif untuk pasien.
Tindakan keperawatan keluarga merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan asuhan keperawatan halusinasi.
Dukungan keluarga selama pasien dirawat di rumah sakit sangat
dibutuhkan sehingga pasien termotivasi untuk sembuh. Perawat
memberikan pendidikan kesehatan kepada kelurga agar menjadi
pendukung yang efektif pada pasien (Darmawan, 2013).
j. Evaluasi Tindakan Keperawatan
Evaluasi tindakankeperawatan merupakan suatuproses yang
berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada
klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap

15
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi
menjadi dua yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap
selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan
dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum
yang telah ditentukan.evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan SOAP, sebagai pola pikir:
S = respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang
telahdilaksanakan.
O = respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan
A = analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan
apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data
yang kontradiksi dengan masalah yang ada.
P = perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada
respon klien (Keliat, 2010).

2. Pendidikan Kesehatan
a. Pengertian
Pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk tindakan mandiri
keperawatan untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan
pembelajaran yang didalamnya perawat sebagai perawat pendidik
(Suliha, dkk, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2010) pendidikan kesehatan adalah
upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat
mau melakukan tindakan-tindakan untuk memelihara, dan
meningkatkan taraf kesehatannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa
pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk kegiatan dengan
menyampaikan materi tentang kesehatan yang bertujuan untuk
mengubah perilaku sasaran.
b. Tujuan Pendidikan Kesehatan

16
Menurut Mubarak dan Chayati (2009), tujuan utama pendidikan
kesehatan yaitu :
1) Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri.
2) Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya,
dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah dengan
dukungan dari luar.
3) Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk
meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat
c. Sasaran Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoadmojo (2010) sasaran pendidikan kesehatan
dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu :
1) Sasaran Primer (Primary Target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung
segala upaya pendidikan atau promosi kesehatan. Sesuai dengan
permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat dikelompokkan
menjadi, kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu
hamil dan menyusui untuk masalah KIA (Kesehatan Ibu dan
Anak), anak sekolah untuk kesehatan remaja, dan juga
sebagainya.
2) Sasaran Sekunder (Secondary Target)
Yang termasuk dalam sasaran ini adalah para tokoh
masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya. Disebut
sasaran sekunder, karena dengan memberikan pendidikan
kesehatan kepada kelompok ini diharapkan untuk nantinya
kelompok ini akan memberikan pendidikan kesehatan kepada
masyarakat di sekitarnya.
3) Sasaran Tersier (Tertiary Target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di
tingkat pusat, maupun daerah. Dengan kebijakan-kebijakan atau
keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai

17
dampak langsung terhadap perilaku tokoh masyarakat dan kepada
masyarakat umum.
d. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Menurut Fitriani (2011), ruang lingkup pendidikan kesehatan
dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu;
1) Dimensi sasaran
a) Pendidikan kesehatan individu dengan sasarannya adalah
individu.
b) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasarannya adalah
kelompok masyarakat tertentu.
c) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasarannya adalah
masyarakat luas.
2) Dimensi tempat pelaksanaan
a) Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasarannya
adalah pasien dan keluarga
b) Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasarannya adalah
pelajar.
c) Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan
sasarannya adalah masyarakat atau pekerja.
3) Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
a) Pendidikan kesehatan untuk promosi kesehatan (Health
Promotion), misal: peningkatan gizi, perbaikan sanitasi
lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.
b) Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific
Protection) misal : imunisasi
c) Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan
tepat (Early diagnostic and prompt treatment) misal : dengan
pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari dari
resiko kecacatan.

18
d) Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation)
misal : dengan memulihkan kondisi cacat melalui latihan-
latihan tertentu.
e. Langkah-langkah dalam Penyuluhan Kesehatan
Menurut Effendy (2008) ada beberapa langkah yang harus
ditempuh dalam melaksanakan penyuluhan kesehatan masyarakat,
yaitu :
1) Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
2) Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
3) Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu untuk ditangani
melalui penyuluhan kesehatan masyarakat
4) Menyusun perencanaan penyuluhan, seperti :
a) Menetapkan tujuan
b) Penentuan sasaran
c) Menyusun materi atau isi penyuluhan
d) Memilih metoda yang tepat
e) Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
5) Pelaksanaan penyuluhan
6) Penilaian hasil penyuluhan
7) Tindak lanjut dari penyuluhan
f. Faktor-Faktor Keberhasilan dalam Penyuluhan
Menurut Notoatmodjo (2010), faktor-faktor yang perlu
diperhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan penyuluhan
kesehatan yaitu :
1) Faktor penyuluh yang meliputi kurangnya persiapan, kurangnya
penguasaan materi yang akan dijelaskan oleh pemberi materi,
penampilam yang kurang meyakinkan sasaran, bahasa yang
digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran, suara pemberi
materi yang terlalu kecil, dan penampilan materi yang monoton
sehingga membosankan.

19
2) Faktor sasaran yang meliputi tingkat pendidikan sasaran yg terlalu
rendah, tingkat sosial ekonomi sasaran yg terlalu rendah,
kepercayaan dan adat istiadat yang telah lama tertanam sehingga
sulit untuk mengubahnya, dan kondisi tempat tinggal sasaran
yang tidak memungkinkan terjadinya perubahan perilaku.
3) Faktor proses penyuluhan yang meliputi waktu penyuluhan tidak
sesuai dengan waktu yang diinginkan sasaran, tempat penyuluhan
yang dilakukan di tempat yang dekat keramaian sehingga
menggangu proses penyuluhan, jumlah sasaran yang terlalu
banyak, alat peraga dalam penyuluhan kesehatan kurang, metode
yang digunakan kurang tepat, dan bahasa yang digunakan sulit
dimengerti oleh sasaran.
g. Metode Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoatmodjo (2010) agar mencapai suatu hasil yang
optimal, materi juga harus disesuaikan dengan sasaran. Demikian juga
alat bantu pendidikan. Untuk sasaran kelompok maka metodenya
harus berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual. Ada tiga
macam metode pendidikan kesehatan, yaitu :
1) Metode Pendidikan Individual (perorangan)
Metode ini digunakan untuk membina perubahan perilaku
baru, atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu
perubahan perilaku. Dasar digunakannya pendekatan individual
ini karena setiap orang mempunyai masalah. atau alasan yang
berbeda-beda sehubungan dengan perilaku tersebut. Bentuk
pendekatan ini, antara lain :
a) Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling)
Dengan cara ini kontak antara klien dan petugas lebih jadi
lebih efektif.
b) Interview (wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan
penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan

20
klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum
menerima perubahan.
2) Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat
besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari
sasaran. Ada beberapa macam metode kelompok tersebut, yaitu:
a) Kelompok besar
Apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang,
antara lain ceramah dan seminar.
(1) Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi
maupun berpendidikan rendah.
(2) Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar
dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah
suatu bentuk penyajian dari satu ahli atau beberapa ahli
tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya
dianggap hangat di masyarakat.
b) Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang
biasanya disebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok
untuk kelompok kecil ini antara lain :
(1) Diskusi Kelompok
Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus
memberikan pancingan-pancingan yang berupa pertanyaan
sehubungan dengan topik yang dibahas. Sehingga
terciptalah diskusi kelompok.
(2) Curah Pendapat (brain stroming)
Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai
dengan memberikan satu masalah, kemudian peserta
memberikan jawaban/tanggapan. Tanggapan/jawaban

21
tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan tulis,
sebelum semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada
komentar dari siapa pun. etelah semuanya mengemukaan
pendapat, baru tiap anggota boleh berkomentar dan
akhirnya terbentuklah diskusi.
(3) Bola Salju (snow balling)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang
2 orang) dan kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau
masalah. Setelah kurang lebih 5 menit maka tiap 2 pasang
bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan
masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian
tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini
bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian
seterusnya sehingga akhimya akan terjadi diskusi dari
seluruh anggota kelompok.
(4) Kelompok-kelompok kecil (buzz group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-
kelompok kecil yang kemudian akan diberi suatu
permasalahan yang sama atau tidak dengan kelompok lain
dan masing-masing kelompok mendiskusikan masalah
tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok
tersebut didiskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.
(5) Memainkan Peran (role play)
Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai
pemegang peran tertentu. Setelah mendapatkan peran
mereka masing-masing, mereka kemudian memainkan
peran tersebut.
(6) Permainan Simulasi (simulation game)
Metode ini merupakan gabungan antara role play
dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan
disajikan dalam bentuk permainan.

22
h. Metode Pendidikan Massa
Metode ini cocok untuk mengkomunikasikan pesan-
pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Berikut ini
ada beberapa contoh metode untuk pendekatan massa, yaitu :
1) Ceramah Umum (public speaking).
2) Pidato-pidato/ diskusi tentang kesehatan dapat dilakukan
melalui media elektronik, baik televisi maupun radio.
3) Simulasi contohnya seperti dialog antara pasien dengan
perawat.
4) Billboard biasanya dipasang di tempat-tempat umum dan
diisi dengan pesan-pesan atau informasi – informasi
kesehatan.
i. Media Pendidikan Kesehatan
Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan
pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan
audien sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar
pada dirinya. Tujuan penggunaan media adalah untuk
mempermudah sasaran memperoleh pengetahuan dan
ketrampilan. Kehadiran media mempunyai arti yang sangat
penting, sebab ketidakjelasan bahan yang akan disampaikan
dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara
(Mubarak, 2007).
Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan
kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu
media cetak, media elektronik, dan media papan (bill board).
1) Media Cetak
a. Booklet : digunakan untuk menyampaikan pesan dalam
bentuk buku, baik tulisan maupun gambar.
b. Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa
gambar/tulisan ataupun keduanya.

23
b. Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam
bentuk lipatan.
c. Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan
dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk
buku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar
peragaan dan di baliknya berisi kalimat sebagai
pesan/informasi berkaitan dengan gambar tersebut.
d. Rubrik/tulisan-tulisan : pada surat kabar atau majalah,
mengenai bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-
hal yang berkaitan dengan kesehatan.
e. Poster : merupakan suatu bentuk media cetak berisi
pesan-pesan/informasi kesehatan, yang biasanya
ditempel di tembok-tembok, di tempat-tempat umum,
atau di kendaraan umum.
f. Foto : digunakan untuk mengungkapkan informasi-
informasi kesehatan.
2) Media Elektronik
a. Televisi : dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara,
forum diskusi/tanya jawab,
b. pidato/ceramah, TV, quiz, atau cerdas cermat.
c. Radio : bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab,
ceramah.
d. Video Compact Disc (VCD)
e. Slide : digunakan untuk menyampaikan pesan/
informasi kesehatan.
Film strip : digunakan untuk menyampaikan pesan
kesehatan.

24
3. Keluarga
a. Pengertian
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh
ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan
fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota keluarga (Setiadi,
2008). Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan- pekerjaan atau tugas-
tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga tersebut
(Ali, 2009).
b. Fungsi Keluarga
Menurut Setiadi (2008), secara umum fungsi keluarga adalah
sebagai berikut :
1) Fungsi afektif, adalah fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota
keluarga berhubungan dengan orang lain
2) Fungsi sosialisasi, adalah fungsi mengembangkan dan tempat
melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan
rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah.
3) Fungsi reproduksi, adalah fungsi untuk mempertahankan generasi
dan menjaga kelangsungan keluarga.
4) Fungsi ekonomi, adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
5) Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan, yaitu fungsi untuk
mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap
memiliki produktivitas tinggi. Fungsi perawatan kesehatan
merupakan hal yang penting dalam pengkajian keluarga. Keluarga
memberikan perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan
secara bersama-sama merawat anggota keluarga yang sakit.
Perbaikan dan pemeliharaan kesehatan berlangsung terutama

25
melalui komitmen dan modifikasi lingkungan serta gaya hidup
pribadi, hal ini semakin memperkuat peran pokok keluarga dalam
melaksanakan tanggung jawab terhadap kesehatan para
anggotanya (Ali, 2009).
Menurut BKKBN (2012), fungsi keluarga, meliputi :
1) Fungsi keagamaan
Maksudnya, keluarga merupakan tempat pertama dan utama
dalam menanamkan dan membina kehidupan beragama yang
bertaqwa kepada Tuhan YME.
2) Fungsi sosial budaya
Maksudnya, keluarga merupakan tempat mengenalkan dan
menanamkan nilai-nilai luhur budaya yang beraneka ragam agar
dapat dikembangkan dan dilestarikan.
3) Fungsi cinta kasih
Maksudnya, keluarga menjadi tempat pemenuhan kebutuhan
akan kasih sayang dari orang terdekat sehingga dapat menjadi
landasan yang kuat dalam menjalin hubungan dan menentukan
arah kebijaksanaan antaranggota keluarga.
4) Fungsi melindungi
Maksudnya, keluarga menjadi tempat untuk memperoleh rasa
aman dan ketenangan baik dari gangguan fisik maupun
psikologis.
5) Fungsi reproduksi
Maksudnya, keluarga menjadi sarana untuk melanjutkan
keturunan secara terencana yang diharapkan dapat
mempertahankan kelestarian dan kesejahteraan umat manusia.
6) Fungsi sosialisasi dan pendidikan
Maksudnya, keluarga memiliki peran dalam membentuk dan
membina hubungan serta memberikan pendidikan kepada
keturunanya agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
kehidupan yang lebih luas.

26
7) Fungsi ekonomi
Maksudnya, keluarga memiliki kewajiban menciptakan alat
pertahanan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan secara
mandiri sebagai unsur pendukung dalam pelaksanaan fungsi
lainnya.
8) Fungsi pembinaan lingkungan
Maksudnya, keluarga memiliki peran untuk terlibat secara
aktif dengan lingkungan sekitarnya agar tercipta keserasian dan
keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
c. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan
Menurut Setiadi (2008), tugas keluarga dalam bidang kesehatan
yang harus dilakukan, yaitu :
1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga
secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab
keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera
dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa
besar perubahannya.
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi
keluarga.
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk
mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga,
dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai
kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga
maka segera melakukan tindakan yang tepat agar masalah
kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga
mempunyai keterbatasan seyoganya meminta bantuan orang lain
dilingkungan sekitar keluarga.
3) Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang

27
terlalu muda.
Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga
memiliki kemampuan me1akukan tindakan untuk pertolongan
pertama atau kelayanan kesehatan untuk memperoleh tindakan
lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan (pemanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada)
Keluarga mengetahui apakah keberadaan fasilitas
kesehatan, memahami keuntungan yang diperoleh dari fasilitas
kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas
kesehatan dan fasilitas kesehatan tersebut terjangkau oleh
keluarga. Keluarga dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan
dimana biasa mengunjungi pelayanan kesehatan yang biasa
dikunjungi dan cenderung yang paling dekat misalnya posyandu,
puskesmas maupun rumah sakit. Hal ini dilakukan dengan alasan
lebih efisien waktu dan merasa cocok (Ali, 2009).

28
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Gambaran Pemberian Pendidikan Halusinasi Pada keluarga Pasien di


Ruang Irawan (8) RSJDDr. Amino Gondohutomo Semarang
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada 21-24 April 2015
tercatat ada 22 keluarga pasien yang melakukan kunjungan untuk menjenguk
pasien. Data tentang keluarga pasien yang mendapat pendidikan kesehatan
tentang halusinasi dan yang tidak dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.1 Hasil Observasi Pemberian Pendidikan Kesehatan tentang
Halusinasi
NO Mendapat Pendidikan Tidak Mendapat
Responden Kesehatan Tentang Pendidikan
Halusinasi Kesehatan Tentang
Halusinasi
1 √
2 √
3 √
4 √
5 √
6 √
7 √
8 √
9 √
10 √
11 √
12 √
13 √
14 √
15 √
16 √
17 √
18 √
19 √
20 √
21 √
22 √

29
Data menunjukkan bahwa hanya ada 4 keluarga pasien (18%) dari
total 22 jumlah keluarga yang berkunjung selama 5 hari yang mendapat
pendidikan kesehatan tentang halusinasi. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga pasien di ruang Irawan
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang belum optimal.

B. Pentingnya Pemberian Pendidikan Kesehatan Pada Keluarga Pasien di


Ruang Irawan (8) RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
Data menunjukkan bahwa hanya ada 4 keluarga pasien (18%) dari
total 22 jumlah keluarga yang berkunjung selama 5 hari yang mendapat
pendidikan kesehatan tentang halusinasi. Kurang optimalnya pemberian
pendidikan kesehatan menjadi bukti masih kurangnya kesadaran perawat
ruangan dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang halusinasi,meski
hal tersebut merupakan bagian dari asuhan keperawatan. Pemberian informasi
pada keluarga pasien tentang halusinasi juga merupakan bagian dari strategi
pelaksanaan pada keluarga yang harus diberikan selama perawatan pasien.
Pemberian informasi pada keluarga merupakan bentuk layananyang
harus diberikan dan formatnya telah menjadi satu bagian dalam catatan medis
pasien. Memang tidak ada lembar dan aturan khusus yang mengharuskan
perawat untuk memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang
halusinasi. Namun sebagai salah satu masalah yang paling khas dan kerap
dijumpai pada pasien yang dirawat di ruangan, perawat hendaknya dapat
menjadikan materi perawatan halusinasi sebagai alternatif utama dalam
memberikan materi pendidikan kesehatan pada keluarga.
Penelitian yang dilakukan oleh Zaeni (2017) menunjukkan bahwa
pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga pasien tentang halusinasi
terbukti menurunkan masalah kekambuhan berupa perawatan ulang secara
signifikan. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa pemberian pendidikan
kesehatan dapat dengan tepat meningkatkan pemahaman, kesadaran dan
kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan masalah halusinasi.

30
Penelitian tersebut didukung oleh Dewi Ernita (2015) menunjukkan
bahwa pendidikan kesehatan mampu membuat 75% responden meningkat
kesiapan pulangnya. pendidikan kesehatan meningkatkan pemahaman klien
akan pentingnya tindakan pengobatan di rumah, bagaimana melakukan
perawatan pasien dan cara menanggulangi halusinasi saat muncul dengan
berbagai cara.
Keluarga merupakan salah satu elemen penting yang menentukan
derajat kesehatan termasuk pada pasien dengan gangguan jiwa yang memiliki
masalah halusinasi. Sehingga peran keluarga harusnya dapat dioptimalkan
salah satunya dengan pemberian pendidikan kesehatan.Keluarga tentu akan
mampu merawat dengan baik apabila mereka tahu tentang masalah apa yang
dialmi oleh keluarganya dan akan meningkatkan kesadaran dan kapabilitasnya
dalam memberikan perawatan secara tepat pada pasien dengan masalah
halusinasi.

31
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Data menunjukkan bahwa hanya ada 4 keluarga pasien (18%) dari total 22
jumlah keluarga yang berkunjung selama 5 hari yang mendapat pendidikan
kesehatan tentang halusinasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pemberian pendidikan kesehatan tentang halusinasi pada keluarga pasien
masih belum optimal.
2. Masih kurangnya kesadaran perawat ruangan dalam memberikan
pendidikan kesehatan tentang halusinasi pada keluarga pasien.
3. Pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga pasien halusinasi
merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.

B. Saran
1. Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang
baik pada perawat tentang pentingnya pemberian pendidikan kesehatan
tentang halusinasi pada keluarga pasien.
2. Penulisan makalah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran perawat
tentang pentingnya pemberian pendidikan kesehatan tentang halusinasi
pada keluarga pasien.
3. Penulisan makalah ini diharapkan dapat meningkatkan angka pemberian
pendidikan kesehatan tentang halusinasi pada keluarga pasien.

32
DAFTAR PUSTAKA

Upoyo A.S, Suryanto. Effortto Control Hallucination by Group Activity Therapy


of Perception Stimulation in Sakura Ward Banyumas Hospital.
Jurnal Keperawatan Soedirman, vol 3 No. 3 November 2008

Kandar, Pambudi. 2014. Efektifitas Tindakan Restrain Pada Pasien Perilaku


Kekerasan Yang Menjalani Rawat Inap di Unit pelayanan Intensif
Psikiatri RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Fakultas
Keperawatan : Universitas Dipenogoro Semarang.

Keliat, Farida Kusumawat. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : Salemba


Medika. 2010

Stuart dan Laraia, 2005 Principles and Practice of Psychiatric Nursing. USA:
Mosby Company

Stuart, dan Sundeen. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC

Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC.

Yosep. 2010. Keperawatan Jiwa (edisi revisi), cetakan ketiga. Jakarta.


RefikaAditama,

33