Anda di halaman 1dari 15

HEMODIALISIS

a. Pengertian
Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pasien dalam
keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialysis jangka pendek (beberapa
hari hingga beberapa minggu) atau pasien dengan penyakir ginjal stadium
terminal yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen. Pada
penderita gagal ginjal kronis, hemodialisis akan mencegah kematian namun,
tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu
mengimbangi hilangnya aktivitis metabolic atau endokrin yang dilaksanakan
ginjal.
Menurut istilah hemodialisis dari hem dan dialisis. Hem adalah darah
sedangkan dialisis adalah difusi partikel larut dari satu kompartemen cairan ke
kompartemen lain melewati membran semipermeabel. Sehingga, hemodialisis
adalah suatu proses pemisahan zat-zat sisa metabolisme dalam darah melalui
membran semipermeabel.
Di Indonesia hemodialisis dilakukan 2 kali seminggu dengan setiap
hemodialisis dilakukan selama 5 jam. Di senter dialisis lain ada juga yang
dilakukan 3 kali seminggu dengan lama 4 jam.

b. Tujuan
Untuk mengambil zat-zat nitrogen toksik dari dalam darah dan mengeluarkan
air yang berlebihan.

c. Indikasi
- Pasien gagal ginjal akut dan kronis untuk sementara sampai fungsi
ginjalnya pulih. Khususnya untuk gagal ginjal kronis bila laju filtrasi
glomeulus sudah kurang mL/menit
- Keadaan buruk dan gejala klinis nyata
- BUN > 100 mg/dl, atau uremia > 200 mg/dl
- Hiperkalemia > 7 meq/liter
- Asidosis metabolik dengan PH darah <7,2
- Anuria berkepanjangan (> 5 hari)
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
- Fluid overloaded

d. Komplikasi
- Hipotensi
- Emboli udara
- Nyeri dada
- Pruritus
- Disequilibrium syndrom
- Kram otot
- Mual dan muntah
- Aritmia
- Kejang
- Perdarahan intrakranial

e. Prosedur hemodialisis
Dalam pelaksanaan hemodialisis, sebelumnya melakukan pengkajian
pradialisis diantaranya: diagnosa, tahap penyakit, masalah-masalah kesehatan
lain, keseimbangan cairan dan elektolit, nilai-nilai laboratorium, respon
terhadap tindakan hemodialisi sebelumnya, status emosional. Setelah itu
memeriksa kemanan peralatan.
Prosedurnya adalah akses ke sistem sirkulasi dicapai melalui salah satu
dari beberapa pilihan: fistula atau tandur arteriovenisa (AV), atau kateter
hemodialisis dua lumen. Dua jarum berlubang besar (diameter 15 atau 16)
dibutuhkan untuk mengkanulasifistula atau tandur AV. Kateter dua lumen,
yang dipasang baik pada subklavikula, jugularis interna, atau femoralis.
Jika akses vaskuler telah ditetapkan, darah mulai mngalir, dibantu oleh
pompa darah. Bagian dari sirluit disposibel sebelum dialiser diperuntukan
sebagai aliran arterial, keduanya untuk membedakan darah masuk kedalamnya
sebagai darah yang belum mencapai dialiser dan acuan untuk meletakkan
jarum: jarum arterial diletakkan paling dekat dengan anastomosis AV pada
fistula atau tandur untuk memaksimalkan aliran darah. Pada kejadian
hipotensi darah yang mengalir dari pasien dapat diklem dibuka dan
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
memungkinkan dengan cepat menginfus untuk memperbaiiki tekanan darah.
Tranfusi darah dan plasma ekspander juga dapat disambungkan ke sirkuit
pada kedaan ini dan dibiarkan menetes, dibantu dengan pompa darah,
tergantung peralatan yang digunakan.
Dialiser adalah komponen selanjutnya dari sirkuit. Darah mengalir ke
dalam kompartemen darah dari dialiser, tempat terjadinya pertukaran cairan
dan zat sisa. Darah yang meninggalkan dialiser melewati detector udara dan
foam yang mengklem dan menghentikan pompa darah bila terdeteksi adanya
udara. Pada konsisi ini, seperti obat-obat yang diberikan pada dialysis
diberikan melalui port obat-obatan.
Darah yang telah melewati dialisis kembali ke pasien venosa atau selang
posdialiser. Setelah waktu tindakan yang diresepkan, dialysis diakhiri dengan
mengklem darah dari pasien, membuka cairan normal salin, dan membilas
sirkuit untuk megembalikan darah pasien. Selang dan dialiser dibuang
kedalam perangkat akut.

f. Prinsip – prinsip yang mendasari hemodialisis


Dalam hemodialisis ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis,
yaitu: difusi (toksin dan zat limbah di dalam darah dikeluarkan melalui proses
difusi dengan cara bergerak dari darah yang memiliki konsentrasi tinggi ke
cairan dialist dengan konsentrasi rendah), osmosis (air yang berlebihan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat
dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan atau air bergerak daerah
dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ke tekanan lebih rendah
(cairan dialist), ultrafitrasi (gradien pada osmosis tersebut ditingkatkan
melalui penambahan tekanan negative yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada
mesin dialisis yang perlukan sebagai pengeluaran cairan hingga tercapai
isovolemi)
g. Intrepretasi hasil
Hasil tindakan dialysis harus diinterpretasikan dengan mengkaji jumlah cairan
yang dibuang, koreksi gangguan elektrolit dan asam basa. Darah yang diambil
segera setelah menunjukkan kadar elektrolit, nitrogen uera, dan kreatinin

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
rendah palsu. Proses penyeimbangan berlangsung terus menerus setelah
dialysis, sejalan zat dari dalam sel ke plasma.

h. Asuhan keperawatan pada pasien yang menjalani hemodialisis


1. Pengkajian
2. Diagnosa keperawatan yang muncul
- Kekurangan volume cairan berhubungan dengan efek ultrafiltrasi
selama dialisis
- Kurang pengetahuan berhubungan dengan penyakit dan kebutuhan
untuk dialisis
- Ketidakberdayaan berhubungan dengan kurang control,
ketergantungan pada dialysis, sifat kronis penyakit
- Risiko tinggi untuk cedera berhubungan dengan akses vascular dan
komplikasi terhadap penusukan dan pemeliharaan vascular
- Risiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan kehilangan
darah atau heparinisasi yang tidak tepat selama dialisis

BAB I
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
HEMODIALISA

A. Identitas Klien
a. Biodata Klien
Nama Klien : Ny. W.
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
Umur : 46 tahun
Agama : Islam
Alamat : Sidodadi, Kemiri
Pekerjaan : ex. buruh tani
Jenis Kelamin : Perempuan
Reg/ RM : 626669/ 26927
Tanggal Pengkajian : 05 April 2010
Tanggal Pemeriksaan HD : 05 April 2010
Hemodialisis Ke : 357

B. Fase Pre Hemodialisis


1. Riwayat Penyakit:
Keluhan Utama
Kaki kanan-kiri udem, terasa keju-keju
Riwayat Kesehatan Lalu
Pasien pernah dirawat di Rumah Sakit pada tahun 2003 dengan Gagal
Ginjal, sering bolak-balik masuk rumah sakit dan koma selama 17 hari di RSUP
Dr. Sardjito.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan bahwa pada tahun 1996 klien di diagnosa Diabetes
Mellitus (DM) dengan GDS>300 mg%, kemudian pada tahun 2003 klien
mengalami gagal ginjal dan sering bolak-balik masuk rumah sakit. Kemudian
pada tahun 2003 juga, klien mengalami koma selama 17 di RSUP Dr. Sardjito.
Kemudian mulai tanggal 11 Maret 2004 klien memulai program Haemodialisa
(cuci darah) di RSUP Dr. Sardjito. Setelah itu, pada tahun 2006 klien memulai
Haemodialisa di RSUD Saras Husada Purworejo sampai sekarang.
Riawayat Kesehatan Keluarga
Penyakit DM, Hipertensi, dan Jantung disangkal

2. Pemeriksaan Fisik
 Tingkat kesadaran : Composmentis KU : Lemah, nampak sakit, tampak sangat
kurus
 Vital Sign : TD : 110/60 mmHg N : 84 x/mnt
RR : 28 x/mnt S : 36.5oC
BB : tidak ditimbang
 Kepala :
Bentuk : Normochepal
Rambut : Tipis dan agak botak, sebagian sudah beruban
Keluhan yang berhubungan : -
 Mata :
Kesimetrisan : simetris antara kanan-kiri
Bentuk bola mata : bulat, agak cekung
Konjungtiva anemis : +/+
Alat Bantu penglihatan : tidak ada
Riwayat Operasi : tidak ada

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
 Mulut tenggorokan :
Bibir : agak kering
Pipi : kempot
Gigi : putih
Gusi : pucat
Tonsil : tidak terjadi pembesaran
Bau mulut : seperti amoniak

 Pernafasan :
Respiratori Rate : 28 x/mnt, nafas pursed-lip
Batuk : --
Sputum : -- Darah : --
Komplikasi saat pernafasan : nafas ternengah-engah apabila mengalami
perubahan posisi, dari tidur kemudian duduk, ataupun karena perubahan
posisi
Alat bantu pernafasan : O2 2L/menit

 Dada :
Inspeksi : dada simetris, tidak ada ketinggalan gerak (-), retraksi (+)
Palpasi : vokal fremitus melemah, nyeri tekan (-)
Perkusi : redup
Auskultasi : suara dasar : bronkovesikuler, vesikuler, bronkhial
suara tambahan : wheezing (-), ronkhi basah basal (+)

 Abdomen :
Inspeksi : tidak ada jejas
Auskultasi : peristaltik 5x/menit (+)
Palpasi : tympani
Perpusi : supel (+), VU tidak teraba

 Ekstrimitas :
Atas : Gerakannya sangat lemah dan sakit apabila digerakkan, bagian
bahu juga terasa sakit, CRT > 2 detik
Bawah : Udema (+/+), gerakan kaki sangat lemah, CRT > 2 detik

 Kulit :
Warna : pucat
Integritas : kering dan bersisik
Turgor : < 2 detik
3. Pemeriksaan Penunjang :

No Jenis Pemeriksaan Nilai Normal Hasil


1 Haemoglobin 11-16.5 g/dL 8.8 g/dL
2 Kalium 3.4-5.4 mmol/L 9.1 mmol/L
3 GDS 98 – 110 mg/dL 193 mg/dL
4 Ureum 10-50 mg/dL 74 mg/dL

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
5 Creatinin 0.5-0.9 mg/dL 3.37 mg/dL
6 Natrium 135-155 mmol/L 147 mmol/L
7 Chlorida 95-108 mmol/L 86 mmol/L

4. Terapi
Terapi Supportif
 Infus NacL 0,9%
 Injeksi Heparin:
Dosis awal: 1500 unit
Dosit lanjutan: 1000 unit
 Injeksi Hemapoe

5. Pola Kebutuhan Gordon


1. Pola Eliminasi
 Pagi sebelum berangkat HD pasien belum BAB
 Klien sudah tidak BAK lagi
2. Pola aktivitas dan latihan
Klien melakukan aktivitas sehari-hari diatas tempat tidur, semua
aktivitasnya dibantu oleh suaminya, seperti mau duduk, memakai pakaian,
dll. Klien sudah tidak bekerja lagi sebagai buruh tani sejak menjalani
Haemodialisa.
3. Pola istirahat dan tidur
Klien mengatakan tidak mengalami gangguan tidur selama dirawat di
Rumah, klien biasanya di rumah tidur mulai pukul 21.00 dan bangun pukul
04.00
4. Pola perceptual
Klien memiliki penglihatan dan pendengaran yang sedikit berkurang,
kemudian untuk pengecapan juga sudah berkurang, karena klien
mengatakan semua makanan berasa hambar
5. Pola nutrisi/metabolisme
Makan:
 Nafsu makan klien menurun, klien sering malas untuk makan, makanan
yang kita anggap enak dan lezat belum tentu cocok dengan selera klien.
Masakan yang biasa dimakan yaitu sayur bening/jesin dengan lauknya
tahu/tempe dan buah mentimun.\
 Pagi sebelum HD kklien makan dengan nasi pelas dan tahu
Minum:
 Biasanya di rumah klien minum kira-kira 2 gelas/ harinya
 Selama HD klien menghabiskan minuman manis sebotol kecil

6. Pola persepsi diri


Klien sudah menjalani rutinitas Haemodialisa dan selalu disiplin untuk
menjalani HD sesuai jadwal yang ditentukan
7. Pola seksualitas dan reproduksi
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
Klien memiliki satu orang suami dengan 2 orang anak. Anak yang pertama
dan kedua hidup, sedangkan yang ketiga dan keempat meniggal dalam
kandungan. Anak pertama berumur 27 tahun, sedangkan yang kedua
berumur 23 tahun.
8. Pola peran dan hubungan
 Peran klien sebagai ibu rumah tangga dan istri sudah tidak seperti yang
dulu lagi, karena kondisi klien yang terbaring lemah di atas tempat tidur
 Klien berhubungan baik dengan suaminya, suaminya selalu setia
mengantar dan mendampingi klien pada saat Haemodialisa.
9. Pola manajemen koping stres
 Klien mengatakan jarang ada masalah/bentrok dengan suaminya bahkan
tidak pernah bentrok
10. Sistem nilai dan kepercayaan
Klien beragama Islam

6. Analisa data Pre Hemodialisis


No Data Masalah Etiologi
1. DS: Pola nafas tidak Udema paru
- Klien mengatakan nafas efektif
terengah-engah apabila
mengalami perubahan posisi,
dari tidur kemudian duduk,
ataupun karena perubahan posisi

DO:
- Klien tampak terengah-engah
- Inspeksi thorax:retraksi dada (+)
- Nafas pursed lips
- RR = 28x/ menit
- Retraksi dada (+/+)
- Perkusi thorax: redup

DS: -------
2. DO: Perfusi Jaringan Penurunan
- Hb = 8.8 mg/dL perifer tidak efektif konsentrasi Hb
- Warna kulit pucat dalam darah
- Capilarry refil > 2 detik
- Conjungtiva anemis (+/+)
- Integritas kulit kering dan
bersisik

DS:
3. - Klien mengatakan kedua kaki Kelebihan volume Mekanisme
cairan pengaturan
udem
melemah
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
- Klien mengatakan sudah tidak
BAK lagi

DO:
- RR= 28 x/ menit, nafas pursed
lips
- Hb = 8.8 mg/dL

4. DS: Ketidakseimbangan Anoreksia


- Klien mengatakan nafsu nutrisi < kebutuhan
makannya menurun, klien sering tubuh
malas untuk makan, makanan
yang kita anggap enak dan lezat
belum tentu cocok dengan selera
klien
- Klien mengatakan semua
makanan berasa hambar

DO:
- Klien tampak sangat kurus
- Pipi klien tampak kempot
- Conjungtiva anemis dan gusi
tampak pucat

DS:
5. - Klien mengatakan bahwa Intoleransi Kelemahan
aktivitas sehari-hari diatas aktivitas secara
tempat tidur, semua aktivitasnya menyeluruh
dibantu oleh suaminya, seperti
mau duduk, memakai pakaian,
dll
- Klien mengatakan bahwa
dirinya mudah sekali lelah

DO: - Klien tampak lemah


- Klien tampak sakit

7. Diagnosa keperawatan sesuai prioritas masalah


1. Pola nafas tidak efektif b/d udema paru
2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dalam
darah
3. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme pengaturan melemah

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
5. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruh
No. Dx. Kep Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. I Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitor frekuensi,
selama 3x24 jam pola nafas efektif, dengan ritme, kedalaman
kriteria hasil: pernafasan
- RR dbn, 16-24x/menit 2. Catat pergerakan dada,
- Tidak ada retraksi dada
kesimetrisan,
- Tidak ada dispnea
- Tidak ada purse lips penggunaan otot
- Tidak ada suara nafas abnormal tambahan dan retaksi
otot intracostal
3. Monitor pernafasan
hidung
4. Auskultasi suara paru
5. Monitor pola nafas:
bradipnea, takipnea,
hiperventilasi
6. Pemasangan Oksigen
2L/menit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
2. II 1. Pertahankan kepatenan
selama 3x24 jam perfusi jaringan efektif,
dengan kriteria hasil: jalan nafas
- Kulit kemerahan 2. Monitor aliran oksigen
- Tidak ada sianosis 3. Monitor adanya tanda-
- CRT < 2 detik tanda hipoventilasi
- Tidak ada petechie 4. Monitor suhu, warna,
- HGB > atau sama dengan 10 mg/dL dan kelembapan kulit

Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 1. Kaji status


3x24 jam berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan
3. III cairan dengan kriteria hasil:
menimbang BB
- Tidak ada udem
- Keseimbangan antara input dan output perhari, keseimbangan
masukan dan haluaran,
turgor kulit, dan tanda-
tanda vital
2. Batas masukan
cairan
3. Jelaskan pada
pasien dan keluarga
tentang pembatasan

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
cairan
4. Anjurkan
pasien/ ajari pasien
untuk mencatat
penggunaan cairan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam
4. IV 3x24 jam klien dapat mempertahankan terutama pemasukan
masukan nutrisi adekuat dengan kriteria hasil: dan haluaran
- Menunjukkan BB stabil
1. Awasi konsumsi
makanan/ cairan
2. Perhatikan adanya
mual dan muntah
3. Berikan makanan
sedikit tapi sering
4. Tingkatkan kunjungan
oleh orang terdekat
selama makan
5. Berikan perawatan
mulut sering
6. Berikan diet uremi,
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam Rendah garam, DM
5. V 3x24 jam klien dapat meningkatkan aktivitas
yang dapat ditoleransi 1. Pantau pasien untuk
melakukan aktivitas
2. Kaji faktor yang
menyebabkan
keletihan
3. Anjurkan aktivitas
alternatif sambil
istirahat
4. Pertahankan status
nutrisi yang adekuat

7.

C. Fase Intra Operasi


a. Pelaksanan Hemodialisis
1. Persiapan alat :
 Laksanakan persiapan mesin
-
Melakukan setting alat untuk HD
-
Priming: Mengisi AVBL dengan cairan Nacl 0.9%
-
Soaking
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
 Persiapan alat untuk akses vaskuler AV Shunt
-
AV Fistula ukuran 16” (2 buah)
-
Dializer CAHP90 re-use (1 buah)
-
Gelas ukur (1 buah)
-
Spuit 10 cc berisi cairan Nacl 0.9% (1 buah)
-
AVBL yang sudah terisi Nacl 0.9%
-
Kassa steril 100 m2
-
Plester (1 buah)
-
Betadine
-
Heparin
-
Hemapoe

2. Persiapan Petugas :
-
Perawat memakai jas khusus untuk perawat HD
-
Perawat memakai sandal khusus untuk di ruangan HD
-
Perawat memakai APD (sarung tangan dan masker wajah)
-
Melakukan akses vaskuler AV Shunt

3. Persiapan klien :
-
Klien melakukan penimbangan badan sebelum dilakukan akses
vaskuler oleh perawat
-
Klien diukur TTV sesaat setelah proses HD dipasang
-
Klien ditanya kenaikan BB

b. Prosedur Hemodialisis
-
Proses HD dilakukan selama 4 jam
-
Pasien diukur TTV setiap jam
-
Ultrafiltrasi: 3 liter
-
Observasi keluhan pasien selama proses HD berlangsung
-
Berikan injkesi heparin
Dosis awal : 1500 unit (1 jam pertama)
Dosis lanjutan : 1000 unit

Keluhan Klien :
-
Klien mengeluh kakinya terasa pegel, keju-keju dan ingin dipijat
-
Klien meminta perawat untuk diukur TD
-
Klien meminta perawat agar UF diturunkan menjadi 2 liter

c. Analisa data Intra Operasi


No Data Masalah Etiologi

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
1. DS: Deficit Volume Kehilangan
-
Klien mengeluh kakinya terasa Cairan volume cairan
pegel, keju-keju dan ingin dipijat aktif
-
Klien meminta kepada perawat untuk
diukur TD
-
Klien mengatakan kepada perawat
agar UF diturunkan menjadi 2 liter
saja karena klien takut drop

DO:
-
TD = 100/60 mmHg
-
N = 100 x/menit
-
RR= 26 x/menit

d. Diagnosa keperawatan sesuai prioritas masalah


-
Deficit volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif

No. Dx. Kep Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1. I Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 1. Monitor status cairan
3x24 jam volume cairan seimbang, dengan intake dan output
kriteria hasil: 2. Pertahankan patensi
-
TD dalam batas normal akses intravena
120/80 mmHg 3. Monitor Hb dan Hct
-
Nadi perifer teraba 4. Monitor tanda vital
5. Monitor respon pasien
terhadap perubahan
cairan
6. Berikan cairan isotonic
/ kristaloid (Na-Cl,
RL, Asering) untuk
rehidrasi eks-traseluler
7. Monitor tempat
tusukan intravena dari
tanda infiltrasi atau
infeksi
8. Anjurkan klien untuk
Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners
Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
menghindari meng-
ubah posisi dengan
cepat, dari tidur ke
duduk atau berdiri
9. Monitor berat badan
secara teratur
10. Pertahankan aliran
infus

1.

IMPLEMENTASI

No Tanggal Implementasi Evaluasi Ttd


1. 05-04-10 S: Klien mengatakan Anggun
keluhannya berkurang Risanti,
setelah UF diturunkan S.Kep
-
08.48 Menyetting UF menjadi 2000 ml (2 L) O:
-
08.50 Memberikan cairan Nacl 0.9% (los
UF= 2000 ml
klem)
- TD= 120/80 mmHg
08.55 Mengukur Tekanan Darah
A: Masalah deficit
volume cairan teratasi
sebagian
P: Lanjutkan intervensi
-
Mengobservasi
keadaan klien
selama proses HD
-
Mengukur TD
setiap jam

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013
D. Fase Post Operasi
a. Pengkajian focus Post Operasi :
Keluhan Klien : Klien mengeluh badannya lemes dan pusing
b. Pemeriksaan fisik klien :
 Tingkat kesadaran : Compos Mentis
 Vital Sign : TD 110/60 mmHg N 90 x/mnt
RR 24 x/mnt S 36.8 oC

c. Analisa data Post Operasi


No Data Masalah Etiologi
1. DS: Fatigue Post HD
 Klien mengatakan badannya lemas dan
pusing
 Klien mengatakan badannya yang
lemas akan membaik baru pada pagi
hari berikutnya
DO:
 Klien tampak lemah
 Klien tampak dibantu untuk bangun
dari tempat tidur
 Klien tampak dibopong oleh suaminya
untuk duduk di kursi roda

d. Diagnosa keperawatan sesuai prioritas masalah


-
Fatigue b/d post HD

No. Dx. Kep Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1. I Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 1. Libatkan keluarga
3x24 jam rasa lelah berkurang atau hilang untuk membantu
aktivitas klien
2. Anjurkan kepada klien
untuk beristirahat

1.

Wiwit Sugiarti, Stikes Muhammadiyah Gombong. Program Profesi Ners


Stase Peminatan/Haemodialisis,2013