Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Semakin berjalannya waktu persaingan antara perusahaan kecil sampai perusahaan besar
terus meningkat. Banyak sekali perusahaan yang memenangkan persaingan dengan cara
memanfaatkan peluang bisnis yang ada dan berusaha menerapkan strategi pemasaran yang
tepat untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggan agar tetap setia terhadap produk
perusahaan. Banyak pengusaha kuliner baik dari pengusaha katering, restoran, maupun roti
sangat bersaing ketat. Peluang bisnis makanan atau kuliner sekarang ini sangat menjanjikan
dimana kebutuhan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Menurut Kotler (2015),
banyak orang menganggap produk adalah suatu penawaran nyata, tetapi produk bisa lebih dari
itu. Secara luas produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk
memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara,
orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide.
Perkembangan usaha jasa boga di Indonesia cukup berkembang dengan pesat. Kondisi ini
ditunjangn dengan pergeseran pola hidup yang menyukai kepraktisan termasuk dalam hal
makanan. Terutama bagi orang yang sibuk bekerja tidak memiliki banyak waktu untuk mengolah
dan menyiapkan makanan sendiri sehingga mereka mulai beralih dengan memanfaatkan jasa
penyajian makan siap saji yang disebut juga pelayanan jasa boga.
Jasa boga adalah suatu pengelolaan makanan baik yang ditangani perorangan maupun
perusahaan yang menyediakan makanan di suatu tempat guna memenuhi berbagai kebutuhan
penyedianya atas dasar pemesanan. Katering atau commercial catering merupakan salah satu
jenis jasa boga yang maksud dan tujuannya adalah untuk mendapatkan profit melalui jasa
layanan termasuk dalam industri katering yang bertujuan memuaskan kebutuhan konsumen
melalui produk atau jasa yang disediakan. Kepuasan merupakan unsur intangible dari produk
katering yang ditawarkan dan kualitas makanan yang diproduksi serta pelayanannya termasuk
unsur tangible (Kardigantara, 2016).
Kualitas produk adalah keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan
berkaitan dengan apa ynag diharapkan oleh pelanggan. Kualitas adalah totalitas fitur dan
karakteristik yang memampukan produk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun tidak
dinyatakan (Kotler, 2015). Kualitas produk diartikan pula sebagai keseluruhan gabungan
karakteristik produk yang dihasilkan dari pemasaran, rekayasa, produksi, dan pemeliharaan yang
membuat produk tersebut dapat digunakan memenuhi harapan pelanggan atau konsumen

1
(Wijaya, 2011). Oleh sebab itu, perusahaan harus memiliki kualitas produk yang baik agar dapat
memberikan kepuasan kepada konsumen.
Peran dari kualitas produk yang di hasilkan dan pelayanan dari perusahaan terhadap
konsumen juga dapat berpengaruhi terhadap kelangsungan hidup suatu perusahaan.
Perusahaan yang ingin berkembang dan ingin lebih maju harus dapat memberikan kualitas
produk yang dapat memberikan rasa puas terhadap konsumennya. Perusahaan harus bisa
mempertahaankan pelanggan yang tetap setia terhadap produknya. Komsumen merupakan
bagian yang sangat penting bagi perusahaan agar perusahaan berjalan dengan baik dan maju.
Selain itu banyak perusahaan yang bersaingan agar dapat menciptakan produk yang baik dan
dapat memberikan rasa puas terhadap konsumennya.
Konsumen adalah sebagai pengguna produk dan jasa dimana sangat memerlukan informasi
dalam menentukan keputusan dalam pembelian suatu produk. Konsumen dapat memilih saluran
yang mereka sukai berdasarkan sejumlah faktor harga, pilihan produk, dan kenyamanan pilihan
saluran, dan juga tujuan belanja mereka (ekonomi, social, atau eksperimental ). Seperti layaknya
produk, adanya segmentasi, dan pemasaran yang menerapkan berbagai jenis saluran, harus
disadari juga bahwa konsumen yang berbeda memiliki kebutuhan berbeda selama proses
pembelian (Kotler, 2015).
Loyalitas dapat diartikan kesetiaan. Loyalitas konsumen sangat berperan penting dalam
kehidupan suatu perusahaan untuk meningkatkan keuntungan bagi suatu perusahaan. Loyalitas
pelanggan menurut Dick dan Basu (dalam Fandi, 2010) didefinisikan sebagai komitmen
pelanggan terhadap suatu merek dan pemasok, berdasarkan sikap yang sangat positif dan
tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten. Definisi ini mencakup dua hal penting, yaitu
loyalitas sebagai perilaku dan loyalitas sebagai sikap (Husein Umar, 2013).
Menurut Adisaputro (2010), kepuasan adalah perasaan seseorang untuk menjadi senang
atau kecewa sebagai hasil dari perbandingan antara kinerja produk yang dipersepsikan (hasil
atau outcome) yang dihubungkan dengan harapannya. Sedangkan menurut Irawan (2013),
kepuasan pelanggan adalah hasil akumulasi dari konsumen atau pelanggan dalam menggunakan
produk dan jasa. Untuk menentukan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang
biasanya sangat dipengaruhi oleh tingkat kepuasan konsumen. Karena dengan kepuasan tinggi
atau kesenangan yang tinggi menciptakan kelekatan emosional terhadap merek tertentu, bukan
hanya kesukaan atau preferensi rasional. Dan akan menghasilkan kesetiaan pelanggan yang
tinggi (Kotler, 2015). Untuk itu perusahaan harus bersaing dengan perusahaan sejenis dengan
penampilan produk yang berbeda atau lebih spesifik, bahkan harus mempunyai karakteristik
tersendiri yang mampu memuaskan konsumen sasaran

2
Perusahaan juga harus memperhatikan pelayanan yang baik dan sopan kepada konsumen.
Pelayanan sangat berarti dalam memberikan kepuasan pada pelanggan sehingga menjadi suatu
hal yang sangat penting dalam usaha guna memberikan kepuasaan kepada para pelanggannya.
Perusahaan harus siap memperkenalkan produk baru atau produk sama namun dengan motif
baru yang di sesuaikan dengan keinginan konsumen agar dapat menarik minat konsumen untuk
membeli makanan yang ditawarkan. Perusahaan juga bukan hanya berkonsentrasi dalam
pembuatan produk baru, namun perusahaan juga berpikir agar inovasi produk dalam
perusahaan tersebut dapat diterima dan dapat menarik minat konsumen khususnya yang
berkaitan langsung dengan gizi dan kesehatan.
Salah satu perusahaan jasa boga yang memproduksi makanan adalah Little Box Baby and Kid
Meals Catering. Little Box Catering merupakan salah satu katering di Kota Malang, yang
beralamat di Jalan Semeru No.60, Oro-oro Dowo, Klojen, Kota Malang dan berdiri pada tahun
2013. Little Box menyediakan berbagai variasi produk makanan sehat bagi anak mulai usia 6, 8,
12, hingga 18 bulan ke atas, dan anak sekolah. Berdasarkan beberapa hal di atas, maka dilakukan
Praktek Kerja Profesi rotasi Manajemen Penyelenggaraan Makanan sub-rotasi Komersial yang
bertempat di Little Box Baby and Kid Meals Catering Malang

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Praktek Kerja Profesi rotasi Manajemen Penyelenggaraan Makanan Sub-rotasi
Komersial yang bertempat di Little Box Baby and Kid Meals Catering Malang diharapkan
dapat menjadi proses pembelajaran dalam menjunjung tinggi nilai profesionalitas dan
mengevaluasi diri sebagai mahasiswa profesi dietisien dan mampu menganalisis seluruh
kegiatan manajemen penyelenggaraan makanan di wahana komersial (katering).
1.2.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Dietisien Rotasi Manajemen
Penyelenggaraan Makanan Sub-rotasi Komersial yang bertempat di Little Box Baby and Kid
Meals Catering Malang ini adalah sebagai pembelajaran mahasiswa agar mampu:
- Menyusun atau memodifikasi kuesioner kepuasan konsumen.
- Mengukur dan menganalisis tingkat kepuasan konsumen.
- Mengukur dan menganalisis sisa makanan konsumen dengan metode visual.
- Melakukan menu engineering.

3
- Membuat proposal program/produk/jasa yang sesuai dengan kebutuhan institusi
penyelenggaraan makanan dan memasarkannya dengan menggunakan media oral,
cetak, visual, elektronik dan massa.
- Melakukan pendidikan dan pelatihan menggunakan media komunikasi yang tepat
berdasarkan modul yang telah dibuat.
- Memnyusun proposal dan membuat produk pangan fungsional dari bahan pangan
lokal yang bersifat komersial untuk mencegah atau mengatasi masalah sindroma
metabolik, termasuk rencana pemasaran dan evaluasi pemasaran.
- Melakukan uji organoleptik pada produk pangan fungsional dari bahan pangan lokal.