Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

Penentuan Farmakokinetika Asam Mefenamat

Melalui Uji Disolusi Secara Spektrofotometri

Asisten: M.M. Farida Lanawati Darsono, S.Si., M.Sc.

Disusun Oleh:

Golongan/Kelompok: P/C

1. Malik Faisal 2443013205

2. Novilia Christine L 2443013218

3. Merlyn Xumara 2443014021

4. Helen Lumban R 2443014132

5. Ridha Gusty S 2443014200

Laboratorium Bioanalisis

Fakultas Farmasi

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

2017
I. Tujuan Praktikum
Untuk menentukan parameter farmakokinetika disolusi Asam Mefenamat.

II. Dasar Teori

Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan padat ke
dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya bagi ketersediaan suatu obat
sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum
diabsorbsi ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau
semi padat, seperti kapsul, tablet atau salep. (Ansel, 1985).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada
tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet
atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu
tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari
apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam
lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1985).
Asam mefenamat merupakan analgetik non steroid yang dapat digunakan sebagai
analgesik dan antiinflamasi, Asam Mefenamat kurang efektif dibandingkan Aspirin karena
Asam Mefenamat terikat sangat kuat dengan protein plasma. Asam Mefenamat bekerja dengan
cara menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi
prostaglandin terganggu. Asam mefenamat merupakan analgetik yang praktis tidak larut dalam
air dan termasuk BCS II (BioPharmaceutical Classification System) dengan kelarutan rendah
dan permeabilitas tinggi sehingga mempengaruhi bioavailabilitas obat, sehingga disolusi
menjadi tahap penentuan kecepatan absorbsi obat dan mempengaruhi bioavailabilitas dalam
darah. Dispersi padat merupakan salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan
kecepatan disolusi dan absorbsi obat yang tidak mudah larut dalam air.
Farmakokinetika Asam Mefenamat diabsorbsi di saluran pencernaan. Kadar tertinggi
dicapai dalam waktu 2 jam. Asam Mefenamat terikat sangat kuat pada protein plasma, dengan
demikian interaksi obat dengan antikoagulan perlu diperhatikan. Dosis Asam Mefenamat
adalah 2-3 kali 250 mg-500 mg sehari. 50% dari dosis obat yang diberikan diekskresi melalui
urine dalam bentuk metabolit yang terkonjugasi. Asam Mefenamat diabsorbsi dalam usus
descending pH basa 7,5-8,8. Waktu paruh Asam Mefenamat berkisar 2-4 jam (Md 36th, p. 80).
Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul, misalnya dispepsia, diare, sampai
diare berdarah dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
III. Alat dan Bahan
Alat
- Spektrofotometer
- Alat Uji Disolusi
- Spuit & Selang
- Vortex
- Timbangan Analitik
- Membran Filter Holder
- Pipet 200 l - 1000 l
- Vial

Bahan

- Asam Mefenamat (p.a)


- Kaplet Asam Mefenamat FCT 500 mg
- Buffer PO4 pH 7,4
- Etanol 96%
- Aquadest

Asam Mefenamat (FI V hal. 156)

TL : 230C

BM : 241,29

Pka : 4,2

Asam Mefenamat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0%, dihitung
terhadap zat yang telah dikeringkan.

Tablet Asam Mefenamat mengandung tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%
dari jumlah yang tertera pada etiket. (British Pharmacopenia, 1993).
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih, melebur pada suhu lebih kurang 230
disertai peruraian.

Kelarutan : Larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar larut dalam kloroform, sukar larut
dalam etanol dan dalam metanol, praktis tidak larut dalam air.

Farmakologi : Untuk mengurangi inflamasi, nyeri, demam dengan cara menghambat aktivitas
COX dan sintesa prostaglandin.

Profil Asam Mefenamat

Merk : Ponstan FCT 500 mg

Dosis : 500 mg

Bentuk : Kaplet Salut Selaput

Indikasi : NSAID

Parameter Farmakokinetika In Vitro

Parameter Uji Ketentuan


𝑡 1⁄2 𝑑𝑖𝑠𝑜𝑙𝑢𝑠𝑖 3 jam

k disolusi 0,0011/menit
% ED 75%
% Wt 85%
C45 menit

Parameter Disolusi

Parameter Uji Nilai


t50 (menit) >60
% terdisolusi 10 menit 10,63
DE 30% 19,6
K’ (mm-1) 0,0072
Kondisi Uji Disolusi

1. Bentuk Sampel Asam Mefenamat Kaplet FCT 500 mg


2. Nama Alat Disolusi Erweka DT70
3. Tipe Alat Disolusi Official
4. Aparatus II
5. Pengaduk Disolusi Paddle
6. Suhu 37,5C0,5C
7. Kecepatan 50-100 rpm
8. Internal Cuplikan Sampel (menit) 2,4,6,8,10,12,14,16,18,20,30,40,50,60,75
9. Media Disolusi Dapar Phospat pH 7,4
10. Volume Media Disolusi 900 ml
11. Nama Alat Spektrofometer Hitachi
12.  Max Teoritis 283 dan 348
13. 𝐴1%
1𝑐𝑚 346 dan 249
14. Solvent Etanol 96%
15. Linieritas ppm dan Konsentrasi 5,78 ppm-43,35 ppm

Perhitungan Sink Condition (𝒄⁄𝒄𝒔 𝟏𝟎%)

Dosis : 500 mg

Vol Media : 900 ml

Kelarutan Teoritis dalam NaOH (1:30)

500𝑚𝑔/900𝑚𝑙
Sink Condition : 900 ml = 𝑥100% = 32,93%
500𝑚𝑔/30𝑚𝑙

IV. Tahapan Kerja

Penyiapan media disolusi dapar phospat (FI V p. 1749-1750)


- Pembuatan larutan KH2PO4 0,2 M
Timbang KH2PO4 27,22 gram

Larutkan dengan 1000 ml aquadest

- Dapar Phospat pH 7,4


Ukur 50 ml KH2PO4 dengan gelas ukur

Masukkan ke dalam labu takar 200 ml

Tambahkan NaOH 0,2 M sebanyak 39,1 ml

Tambah dengan aquadest sampai tanda

Penyiapan Kurva Baku Asam Mefenamat

Rentang Konsentrasi 0,2-1,5

0,2 1,5
Cmin = 346 𝑥10000 = 5,78 𝑝𝑝𝑚 Cmax = 346 𝑥10000 = 43,35 𝑝𝑝𝑚

Pembuatan Kurva Baku Asam Mefenamat

50 𝑚𝑔
Csampel = 𝑥1000 = 1000 𝑝𝑝𝑚
50 𝑚𝑙

0,08
C1 = 𝑥1000 = 8 𝑝𝑝𝑚
10

0,1
C2 = 𝑥1000 = 10 𝑝𝑝𝑚
10

0,12
C3 = 𝑥1000 = 12 𝑝𝑝𝑚
10

0,14
C3 = 𝑥1000 = 14 𝑝𝑝𝑚
10

0,16
C4 = 𝑥1000 = 16 𝑝𝑝𝑚
10

0,18
C5 = 𝑥1000 = 18 𝑝𝑝𝑚
10

0,2
C6 = 𝑥1000 = 20 𝑝𝑝𝑚
10

Timbang 50 mg Asam Mefenamat p.a dengan botol timbang

Larutkan dengan media disolusi+ etanol 96%


Tambah sampai volume 50 ml di labu takar

Pipet 0,08 ml lalu tambahkan media disolusi sampai 10 ml, pindahkan ke vial baru kering dan
bersih

Tambahkan 4 ml etanol 96%

Vortex selama 10 detik

Amati dengan spektrofotometer pada  283 nm

Penetapan Kadar Asam Mefenamat Dalam Cuplikan

Masukkan 900 ml media disolusi ke bejana disolusi

Atur suhu 37C

Pasang paddle tepat di tengah, atur kecepatan 50-100 rpm

Siapkan spuit, selang dan stopwatch

Masukkan tablet ke bejana disolusi

Ambil 3 ml cuplikan pada menit 2,4,6,8,10,12,14,18,20,30,40,50,60,75

Tambahkan 3 ml media disolusi saat mengambil cuplikan

Filtrasi dengan filter holder (buang 2-3 tetes), tampung pada vial kering dan bersih

Pipet 1 ml + 4 ml etanol 96% pa

Vortex selama 10 detik

Amati dengan spektrofotometer  283 nm

V. Hasil Praktikum

50,3 𝑚𝑔
Csampel = 𝑥1000 = 1006 𝑝𝑝𝑚
50 𝑚𝑙
0,08
C1 = 𝑥1006 = 8,048 𝑝𝑝𝑚
10

0,1
C2 = 𝑥1006 = 10,06 𝑝𝑝𝑚
10

0,12
C3 = 𝑥1006 = 12,072 𝑝𝑝𝑚
10

0,14
C3 = 𝑥1006 = 14,084 𝑝𝑝𝑚
10

0,16
C4 = 𝑥1006 = 16,096 𝑝𝑝𝑚
10

0,18
C5 = 𝑥1006 = 18,108 𝑝𝑝𝑚
10

0,2
C6 = 𝑥1006 = 20,12 𝑝𝑝𝑚
10

Analisis Data
Pengamatan λ maks

λ Absorbansi
273 nm 0,345
275 nm 0,377
277 nm 0,411
279 nm 0,444
281 nm 0,475
283 nm 0,505
285 nm 0,528
287 nm 0,542
289 nm 0,548 λ maks, Abs maks
291 nm 0,546
293 nm 0,539

Baku
Penimbangan asam mefenamat = 50,3 mg

C Abs
6,036 0,251
8,048 0,355
10,06 0,495
12,072 0,548
14,084 0,629
16,096 0,729
20,12 0,916
24,144 1,03

1.2 y = 0,0432x + 0,0215


y = 0.0432x + 0.0215
1 R² = 0.9905 r = 0,9952
0.8 r tabel = 0,798
0.6 (r hitung > r tabel) 
0.4
signifikan

0.2

0
0 5 10 15 20 25 30
Sampel

%Wt
Abs C C' Wt ~ ~
Time Pengenceran F.P. AUC AUC %Wt Wt -Wt ln (Wt -Wt) terhadap dosis-Wt
Sampel (ppm) (ppm) (mg)
dosis
2 1 ad 5 5 0,276 5,89 29,45 29,45 26,50 26,50 12,64 183,16 5,21 5,30 473,49
4 1 ad 5 5 0,321 6,93 34,66 64,11 31,19 57,70 14,88 178,48 5,18 6,24 468,81
6 1 ad 5 5 0,808 18,20 91,02 125,68 81,92 113,11 39,07 127,75 4,85 16,38 418,08
8 1 ad 5 5 0,621 13,88 69,38 160,40 62,44 144,36 29,78 147,23 4,99 12,49 437,56
10 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,451 9,94 99,41 168,79 89,47 151,91 42,67 120,20 4,79 17,89 410,53
12 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,543 12,07 120,70 220,11 108,63 198,10 51,81 101,04 4,62 21,73 391,37
14 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,561 12,49 124,87 245,58 112,38 221,02 53,60 97,29 4,58 22,48 387,62
16 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,697 15,64 156,35 281,22 140,72 253,10 67,11 68,95 4,23 28,14 359,28
18 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,701 15,73 157,28 313,63 141,55 282,26 67,51 68,12 4,22 28,31 358,45
20 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,800 18,02 180,19 337,47 162,17 303,72 77,35 47,50 3,86 32,43 337,83
30 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,701 15,73 157,28 1687,34 141,55 1518,61 67,51 68,12 4,22 28,31 358,45
40 0,5 + 0,5 ad 5 10 1,028 23,30 232,97 1951,22 209,67 1756,10 100,00 0 - 41,93 290,33
50 0,5 + 0,5 ad 5 10 0,933 21,10 210,98 2219,72 189,88 1997,75 90,56 19,79 2,98 37,98 310,12
60 0,5 + 0,5 ad 5 10 1,019 23,09 230,88 2209,31 207,80 1988,38 99,11 1,87 0,63 41,56 292,20
88 0,5 + 0,5 ad 5 10 1,006 22,79 227, 87 2293,79 205,09 2064,42 97,81 4,58 1,52 41,02 294,91
Perhitungan %ED terhadap C’ sampel

Luas area = C’ sampelmaks x tmaks

= 232,97 x 88
= 20501,36
∑ AUC
%ED = x 100%
𝐿.𝑎𝑟𝑒𝑎
12307,82
= x 100%
20501,36

= 60,03%
∑ AUC
%ED dosis = x 100%
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑥 𝑡
12307,82
= x 100%
500 𝑥 88

= 27,97%

Perhitungan %ED terhadap Wt

Luas area = Wtmaks x tmaks

= 209,67 x 88

= 18450,96

∑ AUC
%ED = x 100%
𝐿.𝑎𝑟𝑒𝑎
11077,04
= x 100%
18450,96

= 60,04%
∑ AUC
%ED dosis = x 100%
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑥 𝑡
11077,04
= x 100%
500 𝑥 88

= 25,18%
6.00

5.00

4.00
ln(Wt~-Wt)

3.00
y = -0.0469x + 5.2102
R² = 0.7487
2.00

1.00

0.00
0 5 10 15 20 25 30 35
t

Regresi t vs ln (Wt~-Wt)
y = -0,046x + 5,210
0,693
t ½ dis =
0,046

= 15,06 menit
6.20

6.10

6.00
ln(dosis-Wt)

5.90

5.80

5.70

5.60 y = -0.0058x + 6.0538


R² = 0.7308
5.50
0 20 40 60 80 100
t

Regresi t vs ln(dosis-Wt)
y = -0,005x + 6,053
0,693
t ½ dis =
0,005

= 138,6 menit

140.00
y = 0.9968x + 35.641
120.00 R² = 0.6929
100.00

80.00
%Wt

60.00

40.00

20.00

0.00
0 20 40 60 80 100
t

Regresi t vs %Wt
y = 0,996x + 35,64
y = 0,996 . 45 +35,64
y = 80,46
60.00
y = 0.4181x + 14.944
50.00 R² = 0.693
%Wt terhadap dosis

40.00

30.00

20.00

10.00

0.00
0 20 40 60 80 100
t

Regresi t vs %Wt terhadap dosis


y = 0,418x + 14,94
y = 0,418 . 45 + 14,94
y = 33,75

VI. Pembahasan :

Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan parameter farmakokinetika disolusi


Asam Mefenamat. Asam Mefenamat yang digunakan pada praktikum ini adalah produk paten
yaitu dengan merk dagang Ponstan FCT 500 mg dalam bentuk kaplet yang berarti Kaplet Salut
Selaput dengan kandungan Asam Mefenamat 500 mg sesuai dengan etiket yang tertera. Alasan
Asam Mefenamat dibuat dalam bentuk salut selaput adalah melindungi molekul asam mefenamat
di lambung, karena tujuannya kaplet ini diabsorbsi di usus halus dengan pH 7,4. Asam mefenamat
kelarutannya larut dalam alkali hidroksida dalam 10-30 dan sukar larut dalam etanol dan metanol.
Asam Mefenamat ditujukan untuk diabsorbsi di usus halus karena sifat dari Asam Mefenamat itu
sendiri yaitu asam dan suasana di usus halus adalah basa, sehingga profil farmakokinetika Asam
Mefenamat akan lebih baik bila dilepaskan di usus halus. Untuk mengetahui atau membuktikan
hal tersebut maka dilakukan uji disolusi secara in vitro.
Uji disolusi yang dilakukan menggunakan bejana disolusi Aparatus II dengan 900 ml
media disolusi yang dikondisikan pada suhu 37C, pH 7,4 dan menggunakan pengaduk paddle.
Pada penyiapan kurva baku, didapatkan kurva baku 1 sampai 8 dengan rentang absorbansi 0,251-
1,030. Setelah tablet dimasukkan dalam bejana, tiap cuplikan diambil sebanyak 3 ml pada waktu
yang telah ditentukan. Setelah diambil dari bejana dan dimasukkan ke dalam vial, cuplikan tersebut
harus disaring menggunakan membran filter. Setelah itu, cuplikan yang telah disaring, diencerkan
dengan 1 ml media disolusi dan 4 ml etanol sampai volume 5 ml pada vial baru. Vortex cuplikan
yang telah diencerkan selama 10 detik, amati menggunakan spektrofotometer. Pada cuplikan menit
2,4,6,8 perlakuan pengenceran yang dilakukan sama dengan pengenceran pada kurva baku. Tetapi
pada cuplikan menit 10,12,14,16,18,20,30,40,50,60 dan 88 pengenceran dilakukan dengan
menambahkan lagi 0,5 ml media disolusi dan 0,5 ml etanol sampai volume 5 ml. Hal ini dilakukan
karena pada cuplikan menit ke 8 absorbansi menunjukkan 0,621, sehingga jika dilanjutkan pada
cuplikan selanjutnya maka hasil absorbansinya akan lebih dari rentang absorbansi kurva baku.

Setelah semua diamati dengan spektrofotometer, pada grafik 1.1 t vs wt menunjukkan


profil disolusi yang cukup baik.

t vs wt
250
200
150
wt

100
t vs wt
50
0
0 20 40 60 80 100
t

(Grafik 1.1)
Dari hasil grafik 1.2 perbandingan wt vs t dengan C’sampel vs t didapatkan hasil seperti grafik di
bawah ini :

Perbandingan Wt dan C'sampel terhadap t


250

200
wt dan C'sampel

150
wt
100
c' sampel
50

0
0 20 40 60 80 100
t

(Grafik 1.2)

Pada grafik 1.2 menunjukkan bahwa grafik wt dan c’ sampel pada cuplikan menit ke-40 hingga
cuplikan pada menit ke-88 tidak saling berhimpit.

%Wt
120

100

80

%Wt 60
%Wt
40

20

0
0 20 40 60 80 100
t

(Grafik 1.3)
Grafik 1.3 menunjukkan hubungan antara %Wt terhadap waktu. Dari hasil grafik ini menunjukkan
adanya penurunan pada cuplikan menit ke-8 , hal ini menunjukkan penurunan grafik dikarenakan
pada waktu pengambilan cuplikan yang kurang tepat yaitu selang kurang masuk ke dalam pada
bejana disolusi sehingga mempengaruhi sampel sehingga grafik tersebut tampak menurun. Pada
menit ke-30 dan menit ke-50 terjadi fluktuasi menuju baseline.

wt~-wt
200
180
160
140
120
wt~-wt

100
80 wt~-wt
y = -7.4438x + 195.85
60 R² = 0.9486 Linear (wt~-wt)
40
20
0
0 5 10 15 20 25
t

(Grafik 1.4)Grafik 1.4 menunjukkan hubungan antara Wt~-Wt terhadap waktu. Data yang
dipakai adalah dari cuplikan menit ke-2 sampai cuplikan menit ke-20, sedangkan data pada menit
ke-30 hingga menit ke-88 dihilangkan karena terjadi fluktuasi menuju baseline sehinggan data
yang dimasukkan dari cuplikan menit ke-2 sampai cuplikan menit ke-20.
ln (Wt~-Wt)
6

4
ln(wt~-wt)

3
ln (Wt~-Wt)
2

0
0 10 20 30 40 50
t

(Grafik 1.5)

Grafik 1.5 menunjukkan hubungan antara ln(Wt~-Wt) terhadap waktu. Data yang dipakai mulai
dari cuplikan menit ke-2 sampai cuplikan menit ke-20.

Pada praktikum di atas , kelompok kami mengalami kenaikan suhu yang seharusnya dijaga
tetap 370 namun suhu naik sampai 440 , dari hal ini suhu juga berpengaruh terhadap pengujian
tersebut. Selain suhu pH juga berpengaruh terhadap kelarutan, sebab kelarutan dari suatu
komponen dipengaruhi oleh suhu, tekanan dan pH pelarut. Salah satu faktor berpengaruh terhadap
kelarutan kebanyakan obat yang mengandung gugus terion yakni pH. Karena pH berpengaruh
terhadap kelarutan senyawa organik yang mengandung gugus yang mudah terionisasi. Senyawa
organik yang bersifat asam lebih mudah larut dalam larutan basa karena terjadi ionisasi. Bentuk
terion lebih mudah berinteraksi dengan molekul air sehingga lebih mudah larut.

Dari semua hasil grafik dan data yang dihasilkan oleh kelompok kami dapat dikatakan
bahwa praktikum kami menunjukkan hasil yang cukup baik, walaupun masih ada kekurangan dari
data dan grafik yang dihasilkan.

VII. Kesimpulan
1. Dari hasil keseluruhan uji parameter disolusi obat asam mefenamat, hasil yang
didapatkan cukup baik hanya saja pada cuplikan/ menit ke-8 diperoleh data grafik
menurun.
2. Dari grafik uji disolusi %WT pada menit ke-8 didapatkan hasil grafik menurun
dikarenakan larutan pada saat diambil tidak pada bagian yang sama dari cairan yaitu
tidak tepat disamping keranjang sampel sehingga mengakibatkan perbedaan kadar
zat aktif pada sampel yang sedang diuji.

Anda mungkin juga menyukai