Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS MASALAH

A. Identifikasi Masalah
Program peningkatan dan perbaikan gizi masyarakat merupakan salah satu
program prioritas pembangunan kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu dalam RPJM
2010-2014. Berdasarkan indikator-indikator pembangunan bidang kesehatan di
Kabupaten Indragiri Hulu, dan untuk mendukung tercapainya pembangunan
kesehatan masyarakat, maka program peningkatan dan perbaikan gizi mempunyai 8
Indikator Kinerja yang mengacu pada tujuan MDG’s. Dalam mengidentifikasi
masalah di Seksi Gizi dan Peran Serta Masyarakat pada Bidang Promosi Kesehatan
dan Kesehatan Keluarga, maka program peningkatan dan perbaikan gizi dengan 8
Indikator Kinerja dijadikan acuan.
Tabel 1
Indikator Kinerja dan Pencapaian Program Gizi
Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2011

Kegiatan/indikator Target Capaian


keluaran 2011 2011
(%) (%)
A. Penyuluhan Gizi/
Pemberdayaan Masy
1. Cakupan Penimbangan 70 57,7
(D/S)
2. CakupanAsi Ekslusif 67 61,0
B. Suplementasi Gizi
Mikro
1. Cakupan.Kapsul 78 85
Vitamin A
2. Cakupan Fe Bumil 86 89.8
3. Cakupan.Garam
Beryodium 77 *
C. Penanggulangan Gizi
Buruk/kurang
1. Perawatan.Gizi Buruk 100 100
2. Penyediaan Buffer Stok
MP.ASI 100 100
D. Kabupaten menyelenggarakan 100 100
garakan surveilans
(*) : Tidak dilakukan karena Indragiri Hulu bukan daerah endemik
Berdasarkan data dan brain storming yang dilakukan dengan Bidang
Pelayanan Kesehatan dan Kesga khususnya Seksi Gizi dan Peran Serta Masyarakat
Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu, maka identifikasi masalah yang didapat
adalah :
1. Bayi yang mendapat ASI eksklusif masih dibawah target yaitu sebesar 61
%, sedangkan target indikator kinerja yang ditetapkan adalah 67 %.
2. Cakupan D/S (cakupan penimbangan balita) tahun 2011 yaitu sebesar
57,7 %, dimana angka ini masih dibawah target indikator kinerja tahun
2011 yang ditetapkan yaitu 70 %.

B. Penetapan Prioritas Masalah


Penentuan prioritas masalah sangat berguna untuk alokasi sumber daya.
Masalah yang mempunyai prioritas tinggi perlu mendapatkan alokasi sumber daya
yang tinggi pula. Inventaris masalah Gizi yang ada, akan dipilih dan dijadikan
prioritas masalah melalui metode Multiple Criteria Utility Assesment (MCUA).
Tata cara penggunaan Matriks MCUA dalam penentuan prioritas masalah,
dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut :
1. Menetapkan kriteria
Yang dimaksud dengan kriteria adalah sesuatu hal yang dianggap sebagai
akibat atau pengaruh yang sangat signifikan dan spesifik dari suatu masalah terhadap
subjek (masyarakat) sehingga dapat membedakan masalah. Kriteria yang digunakan
dalam memilih prioritas masalah gizi diatas meliputi:
1.Urgency (kegawatan), semakin gawat suatu masalah kesehatan maka nilai
bobotnya semakin tinggi. Artinya apabila masalah tersebut tidak segera
ditanggulangi akan semakin gawat. Rendahnya cakupan D/S (cakupan
penimbangan balita ) dipandang lebih gawat dibandingkan dengan rendahnya
cakupan pemberian Asi Ekslusif, karena dapat menyebabkan tidak
terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan balita. Sebagaimana diketahui
tujuan dari pemantauan pertumbuhan balita adalah untuk mencegah
memburuknya keadaan gizi balita yang dapat menyebabkan balita menjadi
kurang gizi. Balita yang kurang gizi akan mengalami kegagalan pertumbuhan
fisik dan terhambatnya perkembangan kecerdasan, menurunkan daya tahan
tubuh sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan angka kesakitan
dan kematian.
2. Seriousness (keseriusan), adalah tingkat keseriusan sebuah masalah, apabila
masalah tidak diselesaikan dengan cepat akan berakibat serius pada masalah
lainnya. Rendahnya cakupan D/S masih merupakan masalah yang paling
serius karena penimbangan balita di posyandu bisa dijadikan entry point
kegiatan pelayanan kesehatan seperti imunisasi, pengobatan diare, kegiatan
deteksi dan stimulasi tumbuh kembang anak dan sebagainya. Bahkan kegiatan
penimbangan di posyandu, bisa dijadikan sarana untuk mendidik ibu balita
tentang gizi-kesehatan, dan sebagai upaya deteksi dan intervensi dini
gangguan pertumbuhan. Kementerian Kesehatan RI memutuskan untuk
menyelenggarakan bulan penimbangan setiap tahunnya pada bulan November,
dimulai bulan November 2012 bertepatan dengan Peringatan Hari Kesehatan
Nasional. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan cakupan dan
keberlangsungan kegiatan pemantauan pertumbuhan di Posyandu.
3. Growth (luasnya), adalah besar atau luasnya masalah berdasarkan
pertumbuhan atau perkembangannya, artinya apabila masalah tersebut tidak
segera diatasi pertumbuhannya akan berjalan terus. Berdasarkan analisis data
SKDN tiga tahun terakhir (2009-2011), rata-rata cakupan D/S pada balita di
wilayah kerja Dinas Kesehatan Indragiri Hulu pada Tahun 2009 sebesar 51%,
Tahun 2010 sebesar 51% dan Tahun 2011 sebesar 57,7%. Meskipun rata-rata
cakupan D/S pada balita di posyandu mengalami peningkatan di bandingkan
tahun sebelumnya, tetapi peningkatan tersebut masih jauh bila dibandingkan
target yang telah ditetapkan yaitu 70 % (Tahun 2011)
1. Melakukan pembobotan kriteria
Merupakan pemberian kisaran bobot (nilai) terhadap masing – masing yang
ada. Kriteria ditentukan berdasarkan pertimbangan data skunder dan brain storming
dengan pemegang program. Nilai (bobot) yang diberikan adalah untuk paling gawat
diberi bobot 4, gawat diberi bobot 3, cukup gawat diberi bobot 2, kurang atau tidak
gawat 1. Diberi empat range atau rentang nilai dengan tujuan agar tidak terjadi
kecenderungan pemilihan angka yang berada di tengah, misalnya kalau rangenya 1
sampai 3, kecenderungan memilih angka 2 dibanding angka 1 atau angka 3.
2. Memberikan skor masing–masing kriteria
Artinya estimasi berapa besarnya pengaruh masalah terhadap masing – masing
kriteria. Pemberian skor bisa secara subjektif, dan jika pengaruh kriteria besar maka
skornya juga diberikan besar, dan jika kriteria kecil maka diberi skor kecil.
3. Mengalikan nilai skor dengan bobot
Masing–masing masalah yang dikalikan dengan bobot untuk tiap–tiap kriteria
kemudian dijumlahkan dengan hasil perkalian tersebut.

Tabel 2
Prioritas Masalah Gizi di Kabupaten Indragiri Hulu

No Kriteria Bobot Skor Masalah Skor Total


ASI D/S ASI D/S
Ekslusif Ekslusif
1 Kegawatan 3 5 6 15 18
2 Keseriusan 2 4 5 8 10
3 Meluas 1 3 4 3 4
Total Skor 29 32

Masalah Cakupan D/S masih dibawah target Indikator Kinerja yang


ditetapkan menjadi prioritas masalah dengan total skor 32.

C. Analisis Penyebab Masalah


Mengingat dampak gizi buruk atau gizi kurang pada balita dapat menurunkan
kualitas sumber daya manusia Indonesia, maka perlu dilakukan pencegahan dan
penanggulangan gizi buruk/kurang pada balita dengan segera. Oleh sebab itu dengan
menerapkan intervensi gizi dari pemerintah memang lebih cepat dilakukan saat
petugas pos pelayanan terpadu (posyandu) dalam menemukan kasus gizi kurang
maupun gizi buruk pada anak balita. Namun, saat ini dari 250.000 posyandu di
Indonesia, hanya 40% yang masih aktif, sehingga hanya sekitar 43% anak balita yang
terpantau status gizinya.
Masalah gizi pada anak balita adalah indikator adanya masalah gizi di
masyarakat setempat. Untuk itu, data status gizi anak balita amat diperlukan untuk
melihat gambaran masalah di tingkat masyarakat. Melalui penimbangan balita di
posyandu, data akan diperoleh bukan hanya hasil penimbangan balita melainkan juga
cakupan ditribusi vitamin A, distribusi tablet tambah darah untuk ibu hamil, dan lain-
lain
Menurut Gesman dkk (2008) menyimpulkan bahwa pemantauan pertumbuhan
balita di posyandu belum dimanfaatkan untuk memonitoring kemungkinan terjadinya
peningkatan gizi buruk. Hal ini berarti bahwa kedatangan ibu yang memiliki balita ke
posyandu sangatlah penting untuk mencegah ketidakmampuan (Disability Limitation)
masyarakat dalam menghadapi gizi buruk di rumah tangga.
Keterbatasan petugas kesehatan yang mempunyai fungsi rangkap dalam
melakukan tugasnya di puskesmas mengakibatkan tidak semuanya pelacakan kasus
gizi buruk dapat di deteksi sedini mungkin, sehingga balita ditemukan sudah dalam
kondisi yang tidak baik. Untuk itu puskesmas sangat memerlukan partisipasi para
kader dalam membantu saat kegiatan posyandu dan juga diluar kegiatan posyandu.
Para kader dapat membantu petugas puskesmas dalam mendeteksi secara dini balita
yang berat badannya tidak naik setiap bulannya dan tidak datang ke posyandu.
Revitalisasi posyandu sedang giat-giatnya dilakukan oleh pemerintah. Hal ini
disebabkan banyak posyandu di Indonesia yang mulai tidak aktif. Ketidakaktifan ini
disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam maupun dari luar posyandu.
Faktor yang berasal dari luar posyandu diantaranya tingkat pendidikan masyarakat
sekitar, keadaan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar serta jumlah balita di daerah
sekitar. Sedangkan faktor yang berasal dari dalam posyandu itu sendiri diantaranya dana,
kader dan sarana prasarana (Suwandono, 2006).
Menurut Dijen Binakesmas Depkes RI (2009) bahwa kinerja posyandu
mengalami penurunan, hal tersebut diketahui dari cakupan balita yang datang ke
posyandu turun dari 60% menjadi 43% sehingga, banyak ditemukan balita yang tidak
ditimbang dan tidak mendapat imunisasi yang mengakibatkan semakin meningkatnya
prevalensi gizi kurang yang dapat berlanjut menjadi gizi buruk.
Rendahnya cakupan D/S posyandu disebabkan oleh beberapa faktor, antara
lain :
1. Posyandu tidak memiliki kader terlatih dan adanya kader posyandu yang tidak
aktif. Berdasarkan penelitian Hadju (2000) tentang peran dan kinerja posyandu di
tiga propinsi yaitu Sumatera Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menemukan
70% posyandu tidak memiliki kader terlatih dalam kegiatan posyandu dan 85%
kader posyandu tidak aktif, kelengkapan alat/sarana yang dibutuhkan posyandu
kurang mencukupi. Selama tiga bulan terakhir lebih 75% ibu-ibu berkunjung ke
posyandu, tetapi cuma 35% yang berkunjung ke posyandu setiap bulannya,
sedangkan kunjungan balita ke posyandu setiap bulannya hanya 40% dari total
kunjungan balita di posyandu.
2. Kejenuhan kader karena kegiatan rutin posyandu dan kurang memahami arti dan
fungsi posyandu. Merdasarkan penelitian Hemas (2005), kenyataan beberapa
tahun terakhir ini, di beberapa daerah kinerja dan partisipasi kader posyandu
dirasakan menurun, hal ini disebabkan antara lain kejenuhan kader karena
kegiatan yang rutin, kurang dihayati sehingga kurang menarik, atau mungkin
jarang dikunjungi petugas. Sedangkan posyandu merupakan institusi strategis,
karena melalui posyandu berbagai permasalahan kesehatan seperti gizi dan KB
dapat diketahui sejak dini, termasuk jika ada anak balita yang mengalami
gangguan tumbuh kembang.
3. Kurangnya insentif kader dan penghargaan. Berdasarkan hasil penelitian Sibuea
(1992), menyatakan bahwa sebagian besar kader memerlukan imbalan
(upah/insentif) dan perlunya penghargaan/reward sehingga kader merasa bangga
dengan adanya pengakuan baik dari kelompok, masyarakat dan pemerintah, dan
adanya upayan untuk melestarikan kader dengan melakukan berbagai bentuk
penghargaan.
4. Tidak memadainya fasilitas dan sarana posyandu. Menurut Basyir, dkk (2008)
bahwa faktor ekstrinsik dalam kegiatan posyandu yang berupa fasilitas posyandu
dan sarana pendukung dapat meningkatkan keaktifan kader dalam melaksanakan
kegiatan posyandu. Pemberdayaan kader melalui pelatihan, penyegaran, dan
cerdas cermat, serta pengadaan alat masak dan kebutuhan operasional, supaya
kader posyandu dapat meningkatkan kinerja dan fungsi sehingga mampu
mengemban tugasnya untuk meningkatkan gizi keluarga
5. Kurangnya pemahaman ibu tentang makna posyandu. Berdasarkan penelitian
Hartaty (2006) bahwa peran serta masyarakat dalam memanfaatkan posyandu
sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap masyarakat. Seorang ibu akan
membawa anaknya dan menimbang di posyandu bila ia mengetahui dan mengerti
manfaat pelayanan yang diberikan posyandu.
Berdasarkan hasil brain storming dengan pemegang program gizi pada Seksi
Gizi dan Peran Serta Masyarakat Bidang Promosi Kesehatan dan Kesga Dinas
Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu didapatkan informasi bahwa masih rendahnya
cakupan D/S disebabkan karena beberapa faktor. Kurangnya jumlah kader aktif,
kurangnya pengetahuan dan keterampilan kader dalam kegiatan pemantauan
pertumbuhan balita di posyandu, kurangnya kemampuan dan kemauan kader dalam
mengajak masyarakat ke posyandu, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang
makna posyandu, anggapan masyarakat bahwa posyandu adalah balai pengobatan,
kurang memadainya peralatan pengukuran yang ada di posyandu, serta masih
banyaknya persepsi masyarakat bahwa posyandu adalah milik orang kesehatan
sehingga bila tida ada petugas kesehatan yang datang pada hari penimbangan di
posyandu maka kegiatan posyandu tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya
merupakan penyebab masalah dari segi input. Sedangkan kurangnya pengetahuan dan
ketrampilan kader dalam hal pencatatan di posyandu serta tidak terisinya format SIP
(Sistim Informasi Posyandu), kurang aktifnya petugas kesehatan dalam melakukan
pembinaan ke posyandu, kurangnya kualitas sweeping ke rumah-rumah oleh kader
pada balita yang tidak datang ke posyandu sehingga tidak semua balita dapat
ditimbang sesuai sasaran merupakan penyebab dari segi proses. Selanjutnya timbul
masalah rendahnya cakupan D/S (kunjungan balita ke posyandu) merupakan output
dari segala permasalahan yang dihadapi Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu.
Untuk lebih jelasnya penyebab rendahnya cakupan D/S posyandu dapat dilihat
diagram fishbone dibawah ini :
Manusia Lingkungan

Jumlah Kurangnya kemampuan Pengetahuan masyarakat


Kader kader dalam sistim pencatatan masih rendah ttg makna posyandu
Masih kurang di posyandu & luar posyandu

Kurangnya Kurangnya penjelasan Jarak jauh dari


Pembinaan dan oleh petugas mengenai posyandu
Pemantauan oleh petugas pentingnya posyandu.
Rendahnya
Cakupan D/S
Posyandu
Alat untuk
Sistim 5 meja tidak pemantauan
berjalan pertumbuhan di pyd
masih kurang

Tempat untuk pelayanan posyandu


Sosialisasi & promosi di
posyandu masih kurang Pelatihan pemantauan kurang memadai
pertumbuhan balita bagi kader
belum pernah.

Metode sarana
D. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan D/S posyandu,
sehingga kompleks pula alternatif pemecahan masalah yang direncanakan. Berikut ini
uraian alternatif pemecahan masalah :

Tabel 3
Alternatif Pemecahan Masalah Rendahnya Cakupan
D/S di Kabupaten Indragiri Hulu

Masalah Penyebab Alternatif Pemecahan


Rendahnya Faktor Manusia
cakupan
A. Kader
D/S
 Kurangnya pengetahuan &  Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan
Posyandu
kemampuan kader dalam Balita bagi kader
melaksanakan kegiatan
pemantauan pertumbuhan
balita di posyandu

 Kurangnya pengetahuan &  Pelatihan SIP (Sistim Informasi


Keterampilan kader dalam Posyandu)
sistim pencatatan &
pelaporan di posyandu

 Kurangnya jumlah kader


 Penambahan jumlah kader aktif
aktif

B. Masyarakat
 Masih rendahnya
 Sosialisasi tentang pentingnya arti &
pengetahuan masyarakat
fungsi posyandu
tentang pentingnya arti
posyandu

C. Tenaga Kesehatan
 Kurang optimalnya tenaga
 Melakukan pembinaan oleh tenaga
kesehatan dalam melakukan
kesehatan tentang kegiatan
pembinaan terhadap kegiatan
pemantauan pertumbuhan balita di
pemantauan pertumbuhan
posyandu secara rutin & terjadwal.
balita yang dilakukan oleh
kader di posyandu
 Kurang optimalnya tenaga  Melakukan monitoring & evaluasi
kesehatan dalam monitoring oleh tenaga kesehatan terhadap
& evaluasi terhadap kegiatan kegiatan posyandu
posyandu

Faktor Lingkungan

 Jarak yang jauh antara rumah  Melakukan sweeping/kunjungan


ibu yang mempunyai balita rumah bagi balita yang tidak datang ke
dengan posyandu posyandu untuk menimbang

Faktor Sarana
 Rekomendasi pengadaan alat ukur
 Masih kurangnya alat ukur
untuk pemantauan pertumbuhan balita
untuk pemantauan
di posyandu (dacin, timbangan bayi,
pertumbuhan balita di
pengukur panjang badan, mikrotoise)
posyandu.

 Penyebaran leaflet dan penempelan


 Masih kurangnya media
poster mengenai himbawan membawa
informasi yang digunakan
balita untuk ditimbang ke posyandu
untuk promosi di posyandu
(leaflet, pamflet dan poster)

 Program “Bapak Angkat” yang


 Masih kurang memadainya
diharapkan akan memberi perhatian
tempat untuk pelayanan
lebih terhadap kelancaran pelaksanaan
posyandu
kegiatan pemantauan pertumbuhan
balita di posyandu (khususnya dana
dan sarana posyandu)

Faktor metode
 Mengoptimalkan penggunaan toa di
 Kurangnya promosi untuk
semua mesjid untuk mengumumkan
membawa balita ditimbang
kepada ibu balita sebelum hari
ke posyandu
penimbangan agar membawa balita ke
posyandu untuk ditimbang
 Kurang optimalnya
 Mengadakan penyuluhan dengan
pelaksanaan penyuluhan gizi
menggunakan lembar balik & food
di posyandu
model untuk menarik minat ibu-ibu
mendengarkan penyuluhan di
posyandu
a. Rencana Kegiatan
Tabel 4
Planning of Action dalam Meningkatkan Cakupan
D/S Posyandu di Kabupaten Indragiri Hulu

No Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu Tempat Dana Pj


1 Melakukan sosialisasi Masyarakat mengetahui Tokoh 1X Kecamatan APBD Pimpinan
dan promosi tentang tentang arti dan fungsi Masyarakat, setahun Puskesmas,
pentingnya arti dan posyandu sehingga tokoh agama, Seksi Gizi
fungsi posyandu masyarakat merasa memiliki Pemuka adat, Puskesn Seksi
dan membantu kelancaran kader dan Gizi Dinas
kegiatan posyandu masyarakat Kabupaten

2 Melakukan Meningkatkan pengetahuan Ibu yang 1X Posyandu APBD Seksi Gizi


penyuluhan satu kali ibu yang mempunyai balita mempunyai sebulan dan
sebulan mengenai tujuan pemantauan balita Puskesmas
pertumbuhan balita (Dokter,
TPG,Bidan)

3 Melaksanakan Meningkatkan pengetahuan Seluruh kader 1X Puskesmas APBD Puskesmas


pelatihan pemantauan dan keterampilan kader posyandu setahun (Dokter,
pertumbuhan balita tentang kegiatan pemantauan (secara TPG,Bidan)
bagi kader pertumbuhan balita di bertahap)
posyandu

Melaksanakan  Meningkatkan pengetahuan Seluruh kader 1x Puskesmas APBD Puskesmas


4
pelatihan tentang dan ketrampilan kader posyandu setahun (Dokter,
pengisian Sistim dalam hal pencatatan dan (secara TPG,Bidan)
Informasi Posyandu pelaporan kegiatan bertahap)
(SIP) bagi kader posyandu secara benar
 Meningkatkan kemampuan
& ketrampilan kader dalam
pengisian SIP

5
Mengaktifkan 5 meja Semua sasaran/balita Dokter 1X Posyandu APBD Puskesmas
posyandu untuk mendapatkan pelayanan yang Puskesmas, sebulan (Dokter,
pelayanan kesehatan maksimal Bidan, TPG TPG,Bidan)
balita

6
Melakukan TPG, bidan pembina wilayah Tenaga 1X Gizi APBD Seksi Gizi
monitoring dan & kader mempunyai motivasi Pelaksana sebulan Puskesmas, Dinas
evaluasi satu kali untuk bekerja lebih baik & Gizi Poskesdes & Kabupaten
sebulan sesuai juklak pemantauan Puskesmas, Posyandu
pertumbuhan balita di Pembina
posyandu sehingga sehingga wilayah &
cakupan kunjungan balita kader
dapat ditingkatkan

7 Melakukan Tercakupnya semua data hasil Dokter anak 1X Poli anak RS, APBD TPG
koordinasi mengenai penimbangan balita di luar RS, Dokter sebulan Praktek Puskesmas
data dengan RS, posyandu sesuai sasaran di Praktek dan Dokter dan Dan Gizi
Praktek Dokter & BPS masing-masing wilayah Bidan Praktek BPS Dinkes
secara terjadwal posyandu Swasta (BPS) Kabupaten
tentang hasil
pencatatan
pertumbuhan balita
yang datang
berkunjung.
8 Rekomendasi Tercukupinya semua Pengambil Isidentil Dinkes APBD Kepala Dinas
pengadaan alat peralatan pemantauan kebijakan Kabupaten dan Seksi
pemantauan pertumbuhan balita berupa (Bupati) Gizi Dinkes
pertumbuhan di tripot, dacin, timbangan bayi Kabupaten
posyandu (tripot, & mikrotoise pada semua
dacin, timbangan bayi posyandu.
& mikrotoise)
9
Melakukan Diharapkan dapat Tokoh Isidenti Kecamatam APBD Kepala Dinas
pendekatan kepada memberikan perhatian lebih Masyarakat, Pimpinan
masyarakat untuk terhadap posyandu khususnya LPM, LSM Puskesmas
mendapatkan “bapak ketersediaan peralatan dan Seksi
angkat” . pemantauan pertumbuhan Gizi Dinkes
balita dan tempat pelaksanaan Kabupaten
kegiatan posyandu yang
memadai