Anda di halaman 1dari 4

Sebanyak 41,1% (30 orang) dari 73 sampel menyatakan bahwa hal yang mendorong

seseorang melakukan seks bebas adalah faktor kepuasan/kesenangan. Sementara jawaban


terbanyak kedua sebesar 23,3% (17 orang) adalah karena rasa ingin tahu dan faktor ketiga
adalah alasan suka sama suka dengan jawaban sebesar 21,9% (16 orang). Sementara sisanya
menjawab karena pengaruh teman, rasa cinta, awalnya keterpaksaan, dan ada juga yang
menjawab bahwa semua faktor yang disebutkan di atas bisa menjadi alasan orang melakukan
seks bebas.

Berdasarkan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa 61,1% dari 73 sampel mengatakan
bahwa seseorang memperoleh informasi tentang perilaku seks bebas berasal dari media
elektronik. Sebanyak 31,9% menjawab dari teman sebaya. Sisanya menjawab berasal dari
media cetak dan bisa juga dari dua-duanya baik media cetak maupun elektronik. Media
elektronik masih menjadi saluran terbesar untuk mendapatkan informasi tentang perilaku seks
bebas.
Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa dari 73 sampel, sebanyak 45 responden (61,6%)
mengatakan bahwa kesadaran seseorang untuk menjauhi perilaku seks bebas bisa dibilang
cukup, tidak rendah tidak juga tinggi, tapi berada di tengah-tengah, artinya orang yang sadar
untuk menjauhi perilaku seks bebas terkadang mereka juga mendekati hal-hal yang bisa
menjerumuskan ke dalam perilaku seks bebas yang lebih jauh. Sementara 13 orang (17,8%)
menjawab sudah tinggi, 11 orang (15,1%) menjawab rendah, 2 orang (2,7%) menjawab
sangat tinggi, dan 2 orang lainnya (2,7%) menjawab masih sangat rendah.

Berdasarkan diagram di atas sebesar 53,4% (39 orang) dari 73 sampel mengatakan bahwa di
lingkungan sekitar responden ada persoalan/permasalah seks bebas. Sementara sisanya
menjawab tidak. Artinya persoalan seks bebas ternyata banyak terjadi di lingkungan kita.

Dari jumlah 73 sampel, didapatkan sebanyak 53 orang (72,6%) menjawab bahwa usia paling
banyak berpotensi melakukan seks bebas berapa pada rentan usia 17-24 tahun, sementara
yang kedua berada di usia kurang dari 17 tahun dengan jumlah responden 18 orang (24,7%),
dan sisanya menjawab pada rentan usia 24-29 tahun.
Berdasarkan grafik diatas dapat simpulkan dari 73 sampel, sebanyak 29 orang (39,7%)
menjawab bahwa kepedulian masyarakat di sekitar responden terhadap perilaku seks bebas
sudah cukup. Sebanyak 28 orang (38,4%) menjawab sudah tinggi, 8 orang (11%) menjawab
sangat tinggi, 7 orang (9,6%) menjawab rendah, dan sisanya menjawab masih sangat rendah.

Hasil angket di atas menunjukkan bahwa dari 73 sampel, sebanyak 51,4% responden
mengatakan bahwa komunitas masyarakat bisa menjauhkan seseorang dari perilaku seks
bebas, sementara sisanya menjawab komunitas masyarakat tidak dapat menjauhkan seseorang
dari perilaku seks bebas.

Dari hasil kuesioner di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 91,8% (67 orang) dari 73 sampel
menjawab bahwa warga atau teman di sekitar responden sudah mengingatkan responden
untuk menjauhi perilaku seks bebas, artinya kepedulian satu warga terhadap warga yang
lainnya masih tinggi. Sementara sebesar 8,2% (6 orang) menjawab tidak peduli.
Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa dari 73 sampel, sebanyak 25 orang (34,2%)
menjawab faktor penyebab terbesar seseorang terjerumus ke dalam berbagai persoalan seks
dikarenakan kurangnya pemahaman agama, 24 orang (32,9%) menjawab karena pengaruh
lingkungan pergaulan, 8 orang (11%) menjawab karena kurangnya kepedulian terhadap diri
sendiri, 8 orang (11%) menjawab karena minimnya pengetahuan tentang bahaya seks bebas,
dan sisanya menjawab karena kurangnya kepekaan masyarakat terhadap persoalan seks,
broken home, dan semua faktor yang disebutkan bisa menjadi faktor seseorang terjerumus ke
dalam berbagai persoalan seks.

Berdasarkan hasil kuesioner di atas, dari 73 sampel, 59 orang diantaranya mengatakan bahwa
dengan taat beribadah dapat menghindarkan seseorang dari perilaku seks bebas sementara
sisanya mengatakan bahwa taat beribadah tidak dapat menghindarkan seseorang dari perilaku
seks bebas.