Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sebuah keluarga adalah sebuah sistem sosial yang alami, dimana
seseorang menyusun aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi,
cara mendiskusikan pemecahan masalah sehingga dapat melaksanakan
berbagai kegiatan dengan lebih efektif. Dalam penjelasan yang lain dikatakan
bahwa keluarga adalah suatu unit yang berfungsi sesuai atau tidak sesuai
menurut tingkat persepsi peran dan interaksi di antara kinerja peran dari
macam-macam anggota keluarga
Masalah gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan yang
seringkali memberikan dampak tidak hanya kepada keluarga tapi juga bagi
masyarakat. Permasalahan ini disebabkan oleh masalah social ekonomi,
ketatnya persaingan hidup dan masalah psikologis yang berasal dari keluarga.
Keluarga merupakan sumber utama konsep sehat sakit dan perilaku sehat dan
berpengaruh besar terhadap kesehatan fisik maupun mental anggotanya. Selain
itu keluarga cenderung terlibat dalam pengambilan keputusan dan proses
terapi pada setiap tahap sehat dan sakit anggota keluarga dari keadaan
sejahtera hingga tahap diagnosis, terapi dan tahap pemulihan (Campbell,
2000). Ungkapan lain juga dikemukakan oleh Friedmen (2010) bahwa
kesehatan keluarga baik fisik maupun mental saling ketergantungan dan
saling mempengaruhi, kesehatan fisik maupun kesehatan mental anggota
keluarga dapat dipengaruhi oleh kesehatan yang ada dalam anggota.
Sebuah keluarga adalah sebuah sistem sosial yang alami, dimana
seseorang menyusun aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi,
cara mendiskusikan pemecahan masalah sehingga dapat melaksanakan
berbagai kegiatan dengan lebih efektif. Dalam penjelasan yang lain dikatakan
bahwa keluarga adalah suatu unit yang berfungsi sesuai atau tidak sesuai
menurut tingkat persepsi peran dan interaksi di antara kinerja peran dari
macam-macam anggota keluarga
Penyakit fisik dapat menimbulkan masalah psikososial yang terjadi baik
pada pasien sendiri maupun pada keluarga. Masalah psikososial yang sering
dialami oleh klien di rumah sakit umum adalah Ansietas dimana ansietas

1
merupakan perasaan was-was, khawatir, dan tidak nyaman seakan-akan terjadi
sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman. (Keliat, 2011). Ketika mengalami
ansietas individu biasanya menggunakan berbagai mekanisme koping untuk
menyelesaikan masalahnya akan tetapi jika tidak dapat mengatasi ansietasnya
secara sehat, dapat menyebabkan prilaku maladaptif.
Kesehatan fisik dan mental tidak dapat dipisahkan karena saling
mempengaruhi. Kesehatan mental, keluarga, merupakan sebuah interaksi yang
menunjukkan keadaan dimana terjadi proses internal atau dinamika, seperti
hubungan interpersonal keluarga yang berfokus pada sub sistem keluarga dan
hubungan antar keluarga (Friedmen, 1998 dalam Kelliat, 2011).
Masalah kesehatan mental mendapat perhatian dari WHO karena menjadi
beban keluarga. Masalah kesehatan mental dapat muncul karena adanya
masalah kesehatan fisik yang di derita selama bertahun-tahun. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa gangguan mental di akibatkan dari besarnya beban yang
di tanggung keluarga saat merawat anggota keluarga sakit. Beban tersebut
melebihi beban yang di akibatkan oleh penyakit tuberkulosis dan kanker.
Pengenalan dini dan kecepatan dalam melakukan penanganan bagi pasien
gangguan jiwa dapat dilakukan oleh keluarga. Salah satu cara penanganan
masalah tersebut dengan memberikan terapi keluarga.
Pengenalan dini dan kecepatan dalam melakukan penanganan bagi pasien
gangguan jiwa dapat dilakukan oleh keluarga. Salah satu cara penanganan
masalah tersebut dengan memberikan terapi keluarga,
Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan
seseorang, memahami perilaku, perkembangan simptom dan cara
pemecahannya. Model terapi yang diterapkan dalam keluarga antara lain
Experiential/Humanistic, Bowenian, Psikodinamika dan Behavioral. Terapi
keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan
orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat
menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda.
Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan diharapkan mampu
memberikan perawatan atau terapi spesialis sebagi seorang perawat spesialis
jiwa pada klien yang mangalami ansietas ataupun pada keluarga yang
mengalami ansietas karena kondisi atau masalah fisik pada anggota
keluarganya. Pemberian terapi spesialis pada klien ataupun anggota keluarga

2
memberikan dampak yang sangat besar bagi kesembuhan klien terhadap
penyakit fisiknya. Terapi yang diberikan adalah Psikoedukasi keluarga salah
satu elemen program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara
pemberian informasi, edukasi melalui komunikasi yang terapeutik.
Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan
pragmatik (Stuart and Laraia, 2005 ). Terapi keluarga ini dapat memberikan
support kepada anggota keluarga. Keluarga dapat mengekspresikan beban
yang dirasakan seperti masalah keuangan, sosial dan psikologis dalam
memberikan perawatan yang lama untuk anggota keluarganya. Teori-teori
keperawatan sangat menjanjikan apabila diterapkan dalam keluarga. Teori
yang dapat mendasari tentang terapi keluarga adalah teori dari Friedman,
Duval, dan Maglaya.
1.2. Tujuan
1) Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menganalisa konsep dan teori terapi keluarga
dengan menggunakan terapi spesialis keluarga.
2) Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menggunakan konsep keluarga.
b. Mahasiswa mampu memahami jenis terapi keluarga yang dapat
digunakan
c. Mahasiswa menggunakan terapi tersebut melibatkan keluarga dalam
mengatasi masalah klien dengan resiko dan gangguan jiwa.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1. Teori dan Model Keperawatan yang Berhubungan dengan Terapi


Keluarga
Teori adalah suatu sel interaksi kontruksi (konsep), definisi dan proposisi
yang menghasilkan suatu pandangan sistemik dan fenomena dan pengkhususan

3
hubungan antara variable dengan tujuan yang menjelaskan dan memprediksikan
fenomena. Sedangkan model keperawatan adalah jenis model konseptual yang
menerapkan kerangka kerja konseptual terhadap pemahaman keperawatan dan
bimbingan praktik keperawatan (Basford, 2006).
Terapi Keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang,
memahami perilaku, perkembangan symptom dan cara pemecahannya. Terapi
keluarga dapat dilakukan sesame anggota keluarga dan tidak memerlukan
oranglain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan,
terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda (Almasitoh,
2012).
Sedangkan Imbercoopersmith (dalam Hasnidah, 2002) mengatakan bahwa
Family Conselor/Therapist harus memliki kemampuan menganalisa bagaimana
pola triadic di dalam keluarga, melakukan intervensi yang efektif bagi pola
triadic dengan memberikan tugas-tugas, dan menghindari hubungan yang kurang
baik antara hubungan triadic para anggota keluarga dengan professional. Namun
Hasnidah (2002) berpendapat bahwa terapi keluarga sebagai suatu proses
interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan
homeositas, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman
(comfortable).
Tujuan konseling keluarga terutama adalah untuk mengerti keluarga penderita
gangguan skizofrenia, konseling keluarga dianggap cara baru untuk mengerti
dan menangani penderita gangguan mental. Kemudian konseling keluarga tidak
hanya berguna untuk menangani individu dalam konteks keluarga, tetapi juga
keluarga yang tidak berfungsi baik.

Beberapa teori yang mendasari terapi keluarga menurut Farland dkk


(1987):
1) Psychodinamik Family Therapy
Safir mengatakan bahwa ada hubungan antara psikopatologi
individual dengan dinamika keluarga. Contoh :seseorang yang
mempunyai harga diri rendah akan menampilkan suatu " False Self "
yang ditampilkan pada saat yang sama dia juga takut kecewa dan sulit
mempercayai orang lain termasuk pasangan hidupnya. Hal ini
menyebabkan kesulitan yang serius dalam perkawinannya. Tujuan dari

4
terapi keluarga yang berorientasi psikodinamika yaitu untuk menolong
anggota keluarga mencapai suatu pengertian tentang dirinya dan
caranya beraksi satu sama lain di dalam keluarga.Disini anggota
keluarga didorong kearah asosiasi bebas dengan membiarkan pikiran
mereka berjalan bebas tanpa sensor alam sadar dan memverbalisasilan
pikirannya. Terapist hendaknya dapat secara aktif melakukan
intervensi juga menghindari memberi saran dan memanipulasi
keluarga.
2) Behavioral Family Therapy
Terapi perilaku dalam keluarga diawali dengan mempelajari pola
perilaku keluarganya untuk menentukan keadaan yang menimbulkan
masalah perilaku itu. Berdasarkan analisis ini, terapist membuat
rencana untuk merubah keadaan tersebut dengan cara intervensi
langsung dalam keluarga. Tujuan utamanya adalah meningkatkan
perilaku yang positif yang diinginkan dan menghilangkan perilaku
negatif. Hal ini dilakukan dengan mengatur keluarga sehingga perilaku
yang diinginkan diperkuat dengan memberi reward.
3) Teori Komunikasi
Terapi keluarga menggunakan teori komunikasi proses komunikasi
yang terjadi didalam keluarga dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Komunikasi dan Kognisi
Terapist dari kelompok ini menaruh perhatian untuk menolong
keluarga dan menjelaskan arti komunikasi yang terjadi diantara
mereka. Terapist menyuruh anggota keluarga meneliti apa yang
dimaksud oleh anggota keluarga yang lain saat menyatakan
sesuatu. Terapist juga memperhatikan punktuasi dari proses
komunikasi yang terjadi pada keluarga dengan tujuan memperjelas
kesalah pengertian, juga diperhatikan bahwa non verbal yang
digunakan.
b. Komunikasi dan Kekuatan
Haley mengatakan bahwa bila seseorang
mengkomunikasikan pesan pada orang lain berati dia sedang
membuat siasat untuk menentukan hubungan. Contoh : orang tua
bertanggung jawab terhadap anak – anak dan dia punya hak untuk
membatasi perilaku anak jika anak sudah besar, dia punya hak

5
sendiri untuk mengambil keputusan. Cara ini sering ditemukan
pada terapi struktural dimana tujuan proses, terapi untuk merubah
posisi dari batasan diatara sub sistem yang berbeda dalam keluarga.
c. Komunikasi dan Perasaan
Virginia safir adalah orang yang banyak memberi
penekanan komunikasi dari perasaan. Dikatakan bahwa pasangan
perkawinan yang mempunyai kebutuhan emosional diharapkan
ditentukan dalam perkawinan jika kita menemukan kebutuhan
emosional hari setiap orang maka komunikasi perasaan ini sangat
penting artinya : Tujuan dari terapi adalah memperbaiki bila
terdapat ketidakpuasan.
4) Structural Family Therapy
Dikembangkan oleh Salvador Minuchin. Perlu dinilai 6 aspek dari
fungsi keluarga. Struktur keluarga yang terdiri dari susunan yang
mengatur transaksi diatara anggota keluarga.Fleksibilitas dari fungsi
keluarga dan kemampuannya untuk berubah."The Family Resonance"
pada anggota keluarga dapat saling terikat atau saling merenggang.
Konteks kehidupan keluarga ini merupakan supra sistem yang teridiri
dari keluarga besar, tetangga lingkungan kerja, lingkungan sekolah dari
anggota keluarga supra sistem bisa merupakan sumber stress atau
sumber support dari lingkungan.

Model keperawatan yang berhubungan dengan keluarga menurut


Basford (2006) yaitu:

1) Model Sistem dari Neuman


Model keperawatan dari Neuman diperluas berhubungan dengan
keluarga sehingga penerima asuhan keperawatan termasuk ke keluarga
(Neuman, 1982). Dalam hal ini diuraikan keluarga sebagai target yang
tepat baik untuk pengkajian dan interventi primer, sekunder maupun
tersier. Proses keperawatan digunakan sebagai penghubung antara teori
keluarga dan praktik.
2) Model Konseptual Perawatan Diri dari Orem
Dalam model keperawatan Orem, keluarga dipandang sebagai
faktor syarat dasar bagi anggota keluarga untuk kembali berfungsi
menjalankan tugasnya. Orem tidak mengungkapkan bagaimana konsep

6
teori keluarga dapat digabungkan dalam model praktek perawatan
tersebut, namun melaksanakan tugas untuk menguraikan bagaimana
struktur, fungsi dan perkembangan keluarga dapat diartkulasikan
dengan model Orem.
3) Model Sistem Terbuka dari King
King memandang keluarga sebagai sistem sosial dan konsep utama
dalam modelnya. King menjelaskan bahwa teori pencapaian tujuan
bermanfaat bagi perawat untuk membantu keluarga dalam memelihara
kesehatan mereka atau mengatasi masalah kesehatannya. Model ini
berorientasi pada sistem dan intervensi kepada keluarga.
4) Model Adaptasi Roy
Roy menjelaskan bahwa keluarga, individu, kelompok, organisasi,
sosial serta komunitas dapat dijadikan fokus dalam praktik
keperawatan. Model ini lebih menekankan promosi kesehatan dan
pentingnya membantu klien dalam memanipulasi lingkungan mereka
dan berfokus kepada keluarga.
5) Model Proses Kehidupan dari Roger
Dalam teori Roger, fokus keperawatan adalah proses kehidupan
umat manusia. Tujuan dari keperawatan adalah untuk meningkatkan
interaksi simfonis antara manusia dan lingkungannya. Roger
menegaskan bahwa model ini dapat diterapkan pada keluarga sama
seperti pada individu. Bagi Roger, keluarga merupakan suatu fokus
studi keperawatan.
Model-model pendekatan-pendekatan baru yang dikembangkan
dalam konseling keluarga yaitu:
1. Multiple Family Therapy
Keluarga-keluarga yang terpilih menemui konselor tiap
minggu, dan pada waktu itu mereka menceritakan problem mereka
masing-masing dan membantu sesama dalam pemecahan persoalan
2. Multiple impact Therapy
Mencakup seluruh keluarga dalam sederetan interaksi yang
berkelanjutan dengan konselorkonselor komunitas yang
multidisipliner mungkin selama dua hari. Terapi ini mencakup
pemberian konseling secara penuh selama dua hari atau lebih
kepada satu keluarga
3. Terapi jaringan (Network Therapy)

7
Berusaha memobilisasi sejumlah orang untuk berkumpul dalam
suatu krisis untuk membentuk suatu kekuatan terapeutik. Tujuan
ini adalah untuk memperkuat kekuatan dari jaringan yang
dikumpulkan untuk memberi kesempatan untuk berubah di dalam
sistem keluarga tersebut.

2.1.1 Cara melakukan Terapi Keluarga


Menurut Almasitoh (2012) terdapat empat langkah dalam proses
terapi keluarga, antara lain :
1) Mengikutsertakan keluarga, pertemuan dilakukan di rumah, sehingga
terapis mendapat informasi nyata tentang kehidupan keluarga dan
dapat merancang strategi yang cocok untuk membantu pemecahan
problem keluarga.
2) Menilai masalah, mencakup pemahaman tentang kebutuhan, harapan,
kekuatan keluarga dan riwayatnya.
3) Strategi-strategi khusus, berfungsi untuk pemberian bantuan dengan
menentukan intervensi yang sesuai dengan tujuan.
4) Follow up, memberikan kesempatan pada keluarga untuk tetap
berhubungan dengan terapis atau konselor secara periodik untuk
melihat perkembangan keluarga dan memberikan support.

2.1.2. Manfaat Terapi Keluarga


Menurut Perez (dalam Hasnidah, 2002) secara khusus Family
Conseling/ terapi bermanfaat untuk :
1) Membuat semua anggota keluarga dapat mentoleransikan cara atau
perilaku yang unik dari setiap anggota keluarga.
2) Menambah toleransi setiap anggota keluarga terhadap frustasi, ketika
terjadi konflik dan kekecewaan, baik yang dialami bersama keluarga atau
tidak bersama keluarga.
3) Meningkatkan motivasi setiap anggota keluarga agar mendukung,
membesarkan hati dan mengembangkan anggota lainnya.
4) Membantu mencapai persepsi parental yang realistis dan sesuai dengan
persepsi anggota keluarga.

2.1.3 Teori Komunikasi


Terapi keluarga menggunakan teori komunikasi proses komunikasi yang
terjadi didalam keluarga dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Komunikasi dan kognisi

8
Terapist dari kelompok ini menaruh perhatian untuk menolong
keluarga dan menjelaskan arti komunikasi yang terjadi diantara mereka.
Terapist menyuruh anggota keluarga meneliti apa yang dimaksud oleh
anggota keluarga yang lain saat menyatakan sesuatu. Terapist juga
memperhatikan punktuasi dari proses komunikasi yang terjadi pada
keluarga dengan tujuan memperjelas kesalah pengertian, juga
diperhatikan bahwa non verbal yang digunakan.

b. Komunikasi dan kekuatan


Haley mengatakan bahwa bila seseorang mengkomunikasikan pesan
pada orang lain berati dia sedang membuat siasat untuk menentukan
hubungan. Contoh : orang tua bertanggung jawab terhadap anak – anak dan
dia punya hak untuk membatasi perilaku anak jika anak sudah besar, dia
punya hak sendiri untuk mengambil keputusan. Cara ini sering ditemukan
pada terapi struktural dimana tujuan proses, terapi untuk merubah posisi dari
batasan diatara sub sistem yang berbeda dalam keluarga.

c. Komunikasi dan Perasaan.


Virginia safir adalah orang yang banyak memberi penekanan
komunikasi dari perasaan. Dikatakan bahwa pasangan perkawinan yang
mempunyai kebutuhan emosional diharapkan ditentukan dalam perkawinan
jika kita menemukan kebutuhan emosional hari setiap orang maka
komunikasi perasaan ini sangat penting artinya : Tujuan dari terapi adalah
memperbaiki bila terdapat ketidakpuasan.

2.2. Family Psycho Education (FPE)


Family Psychoeducation therapy adalah salah satu elemen program
perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi dan
edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi
merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart &
Laraia, 2005). Carson (2000) mengatakan bahwa, psikoedukasi merupakan
alat terapi keluarga yang makin popular sebagai suatu strategi untuk
menurunkan faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan
gejala-gejala perilaku.
Jadi pada prinsipnya psikoedukasi dapat membantu anggota
keluarga dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit melalui

9
pemberian informasi dan edukasi yang dapat mendukung pengobatan dan
rehabilitasi pasien dan meningkatkan dukungan bagi anggota keluarga itu
sendiri.
Psikoedukasi keluarga merupakan sebuah metode yang
berdasarkan pada penemuan klinik untuk pelatihan keluarga yang
bekerjasama dengan tenaga keperawatan jiwa profesional sebagai bagian
dari keseluruhan intervensi klinik untuk anggota keluarga yang mengalami
gangguan.
Terapi ini menunjukkan adanya peningkatan outcomes pada klien
dengan schizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya ( Levine, 2002).
Target dari terapi family psychoeducation adalah mengurangi tanda dan
gejala yang dapat mengancam kesejahteraan keluarga pada keluarga yang
gagal menjalankan fungsinya.

2.2.1. Manfaat Terapi Psikoedukasi Keluarga


Keluarga yang mengalami kegagalan dalam menjalankan
fungsinya akan mengalami beberapa ketidak mampuan untuk mengatasi
masalah atau mendampingi anggota keluarga dalam mengambil keputusan.
Terapi psychoeducation pada keluarga ini bermanfaat untuk mendekatkan
kembali keluarga yang mengalami konflik, membantu keluarga dalam
memecahkan suatu masalah, dan mendampingi keluarga untuk mampu
merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
Mc Farlane, Dixon, Lukens, dan Lucksted (2003) menyatakan
bahwa terapi family psychoeducation menurunkan angka kekambuhan,
meningkatkan pemulihan pasien, dan meningkatkan kesejahteraan
keluarga partisipan. Intervensi program family psychoeducation telah
dikembangkan dengan pendekatan empati, pendidikan, dukungan terus
menerus, sumber-sumber klinik selama masa krisis,peningkatan hubungan
sosial, kemampuan memecahkan masalah, dan membina hubungan sosial.
Manfaaat lain dari terapi psikoedukasi keluarga adalah untuk menangani
pasien dangen bipolar disorder, skizofrenia, gangguan obsesive kompulsif,
dan pasien dengan harga diri rendah.
Levine (2003) mengatakan bahwa jika ada individu yang
mengalami penyakit mental yang serius, dan keluarganya mau
mempelajari lebih dalam tentang penyakit pasien tersebut dan tahu

10
bagaimana mengatasi penyakit tersebut maka terapi psiko edukasi ini
dapat menjadikan perubahan yang positif seperti, menurunnya gejala,
menurunnya konflik karena pengobatan, menurunnya isolasi, kehidupan
keluarga dan aktifitas sosialnya lebih berkembang, punya pilihan pekerjaan
yang lebih baik, dan dapat menurunkan depresi dan kecemasan.

2.2.2. Tujuan Terapi Keluarga


Tujuan dari terapi psikoedukasi pada keluarga ini diharapkan
mampu meningkatkan kualitas hidup dari pasien yang mengalami
gangguan jiwa, selain itu juga diharapkan mampu menjadikan individu
dengan gangguan mental, menjadi individu yang kembali siap menghadapi
hidupnya dalam bermasyarakat maupun didunia kerja. Levine (2002),
memaparkan bahwa tujuan psikoedukasi keluarga adalah untuk
mengurangi kekambuhan klien gangguan jiwa, meningkatkan fungsi
klien dan keluarga sehingga mempermudah klien kembali ke lingkungan
keluarga dan masyarakat dengan memberikan penghargaan terhadap
fungsi sosial dan okupasi klien gangguan jiwa.
Ridwan, (2012) memaparkan bahwa tujuan dari psikoedukasi
keluarga ini adalah untuk memberi dukungan terhadap anggota keluarga
yang lain dalam mengurangi beban keluarga terutama beban fisik dan
mental dalam merawat klien gangguan jiwa untuk waktu yang lama.
Indikasi dari terapi psikoedukasi keluarga adalah anggota keluarga
dengan aspek psikososial dan gangguan jiwa. Terapi ini juga dapat
diberikan kepada keluarga yang membutuhkan pembelajaran tentang
mental, keluarga yang mempunyai anggota yang sakit mental/ mengalami
masalah kesehatan dan keluarga yang ingin mempertahankan kesehatan
mentalnya dengan training/ latihan keterampilan.

2.3. Triangle Therapy


2.3.1. Defenisi
Konsep hubungan segitiga merujuk kepada konfigurasi emosional
dari 3 orang anggota keluarga yang menghambat dasar pembentukan
sistem keluarga. Triangles adalah penghalang dasar pembentukkan sistem
emosional. Jika ketegangan emosi pada sistem 2 orang melampaui batas,
segitiga tersebut adalah orang ketiga, yang membiarkan perpindahan

11
ketegangan ke orang ketiga tersebut. Suatu sistem emosional yang disusun
secara seri pada hubungan segitiga akan bertaut satu sama lain. Hubungan
segitiga merupakan hubungan disfungsional yang dipilih oleh keluarga
untuk menurunkan kecemasan melalui pengalihan isu yang berkembang
daripada menyelesaikan konflik/ketegangan. Triangulasi ini dapat terus
berlangsung untuk jangka waktu yang tak terbatas dgn melibatkan orang di
luar keluarga termasuk terapis keluarga yang dianggap sebagai bagian dari
keluarga besar.
Triangle terapi merupakan salah satu terapi yang dapat
mempengaruhi atau memperbaiki respon koping keluarga dalam
pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah yang dirasakan oleh
keluarga. Triangle adalah suatu unit social yang fundamental, dan
triangulasi (keterlibatan pihak ketiga) adalah suatu proses sosial yang bisa
terjadi dimana saja. Terapi keluarga triangles adalah terapi keluarga yang
dilakukan dengan melibatkan keluarga, klien dan petugas kesehatan untuk
menyelesaikan masalah keluarga. Tujuan penelitian: menjelaskan
pengaruh terapi triangles terhadap kemampuan pengetahuan dan
psikomotor keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa .(Shives, 2005)

2.3.2. Tujuan
Tujuan dari pelaksaan terapi triangle ini adalah untuk mencegah
triangulasi dan membantu pasangan atau individu berhubungan dalam
level kognitif, untuk mengehentikan pengulangan pengulangan perilaku
yang menimbulkan konflik pada intergenerasi dalam hubungan keluarga.
Terapi triangle ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu pasangan dan
individu mengantisipasi berbagai cara dalam menyelesaikan masalah
masalah yang timbul ( Kazak, Simms & Rourke, 2002). Tujuan dari terapi
triangle adalah untuk menggali bagaimana peran segitiga ayah, ibu dan
anak agar dapat mencapai keseimbangan dan rasa aman dalam keluarga.

2.3.3. Manfaat
Menurut Kazak, Simms & Rourke (2002), manfaat dari terapi
triangles ini adalah
1) orientasi berfokus pada keluarga bukan pada individu.

12
2) fokus pada pemahaman keluarga terhadap struktur keluarga, peran,
fungsi, sosial dan budaya, yang akan mempengaruhi stabilitas
hubungan keluarga.
3) menjelaskan timbal balik hubungan keluarga sebagai tolok ukur
keberhasilan.
4) membantu keluarga yang mempunyai masalah.

2.3.4. Indikasi
1) Masalah dengan pasangan
2) Perceraian atau putus hubungan dengan pasangan
3) Pasangan dengan perilaku kekerasan
4) Post traumatic stress disorder
5) Masalah perilaku pada anak
6) Masalah yang melibatkan keluarga besar (extended family)

2.3.5. Proses Pelaksanaan Triangle Terapi


Penting untuk dipahami bahwa sebelum melaksanakan terapi yang
harus dilakukan oleh terapis adalah mengidentifikasi keluarga yang
memiliki masalah. Setelah itu keluarga diberi penjelasan tentang terapi ini,
dan jika keluarga setuju buat kontrak dengan keluarga yang meliputi
pertemuan selama 6 sesi dan siapa anggota keluarga yang akan mengikuti
terapi ini adalah orang yang sama. Kemudian terapis mengidentifikasi
masalah klien dan keluarga secara terpisah, hal ini dilakukan untuk
mendapatkan persepsi yang sama. Setelah ditemukan kesamaan dalam
masalah yang dihadapi maka klien dan keluarga dapat dipertemukan dalam
terapi.

2.4. Penelitian Terkait Terapi Keluarga

oleh: SAWWA – Volume 8, Nomor 2, April 2013


JUDUL: “PERAN TERAPI KELUARGA EKSPERIENSIAL DALAM
KONSELING ANAK UNTUK MENGELOLA EMOSI”

1. LATAR BELAKANG
Proses konseling anak sangat membutuhkan peran dari anggota
keluarga. Keluarga merupakan hubungan atau interaksi antara dua

13
orang atau lebih dan mempunyai ikatan darah, ikatan karena
perkawinan, kekerabatan yang didalamnya terdapat suatu sistem
saling mengikat satu sama lain seperti adanya aturan-aturan,
perbedaan budaya, dan perbedaan peran setiap anggota.9
Lingkungan keluarga merupakan suatu tempat dimana anak
berinteraksi sosial dengan orang tua yang paling lama.
Perkembangan sistem sosial dikembangkan dalam keluarga untuk
memberikan pengalaman pada anak bagaimana menyesuaikan diri
dengan lingkungan di luar keluarga.
Perilaku anak yang tidak bisa diterima oleh lingkungan akan
berdampak pada anggota keluarga lainnya. Apalagi jika perilaku
tersebut disebabkan oleh gangguan emosional yang tidak
terselesaikan dalam lingkungan keluarga. Hal itu akan berdampak
buruk bagi perkembangan emosi anak selanjutnya. Untuk itu
dibutuhkan interaksi yang intens dalam keluarga untuk menjaga agar
emosi anak tidak terganggu. Jika keluarga tidak mampu mengatasi
masalah anggota keluarga, maka dibutuhkan konselor untuk
membantu menyelesaikan masalah yang menimpa keluarganya.
Peran terapi adalah sebagai katalisator perubahan, dengan
memanfaatkan dampak personal perasaan dengan keluarga. Hal ini
bisa memunculkan transferensi (pemindahan) dan
kontratransferensi. Untuk itu dibutuhkan usaha menyampaikan
perasaan terbuka agar kontratransferensi bisa diminimalisir.

2. TUJUAN
Tujuan terapi ini juga membantu memperjelas komunikasi dalam
keluarga dan menghindarkan adanya keluhan-keluhan, sehingga
ada usaha untuk menemukan solusi. Untuk itu anggota keluarga
ikut aktif terlibat dalam proses konseling dan tetap
mempertahankan harga diri yang positif.

14
Menurut David dan Kathryn Geldard tujuan proses konseling pada
anak memiliki 4 tingkatan, yaitu:
A. Tujuan fundamental bisa diterapkan secara global bagi semua
anak anak dalam terapi, yaitu memberdayakan anak-anak
untuk menghadapi masalah emosional yang menyakitkan,
mencapai tingkatan kongruen yang berkaitan dengan
pemikiran, emosi, dan perilaku, merasa nyaman dengan
dirinya, menerima keterbatasan dan kelebihan dirinya,
mampu merubah sikap yang berdampak negatif, bisa
berfungsi dan beradaptasi dengan lingkungan rumah maupun
di sekolah, serta memaksimalkan peluang bagi anak untuk
mewujudkan target pencapaian.
B. Tujuan orangtua ketika melakukan proses konseling biasanya
didasarkan pada perilaku terakhir anak. Misalnya jika anak
suka melawan pembicaraan orangtua, maka tujuannya adalah
bagaimana anak mampu menjadi pendengar yang baik.
C. Tujuan yang dirancang konselor adalah sebagai konsekuensi
hipotesis yang dimiliki konselor mengenai alasan seorang
anak memiliki sikap tertentu. Misalnya tidak mampu menjadi
pendengar yang baik merupakan akibat dari perubahan atau
keadaan kurang mampu mengelola emosi. Sehingga konselor
memiliki tujuan untuk mengatasi dan menaggulangi sisi
kemampuan pengelolaan emosional pada anak.
D. Tujuan Anak-anak

3. METODE TERAPI
Konselor dalam melakukan proses konseling anak, bisa secara
individu maupun kelompok. Ada anggapan bahwa bekerja dengan
anak-anak sudah cukup membantu mengatasi masalah yang
mengganggu. Ada pula yang melakukan tradisi terapi keluarga dan
meyakini bahwa terapi keluarga saja sudah cukup. Beberapa ahli
terapi keluarga mengatakan bahwa bekerja secara individual

15
dengan anak tidak baik karena anak akan menjadi kambing hitam
dan dianggap sebagai sumber masalah. Beberapa konselor yang
bekerja dengan anak meyakini bahwa terapi keluarga tidak member
kesempatan kepada anak untuk mengatasi masalah yang
mengganggu secara pribadi dan bersifat sensitif. Hal itu perlu
dipahami bahwa pada saat selesai proses konseling dengan anak,
maka selanjutnya anak akan mampu membagi informasi pada
keluarga. Jika terapi keluarga saja yang digunakan, informasi yang
didapat hanya bersifat di permukaan, sehingga masalah anak akan
tetap ada. Jika ingin ada perubahan yang cepat perlu
mengintegrasikan konseling anak secara individu dengan terapi
keluarga.

Pendekatan integratif yang digunakan dalam mengatasi


problematika dalam keluarga perlu ditawarkan dalam proses terapi
yang komprehensif agar hasilnya positif. Jika pendekatan integratif
digunakan dengan tepat dan hatihati, maka anak tidak menjadi
kambing hitam atau dianggap sebagai sumber masalah. Justru
sebaliknya, ketika anak mulai berubah, maka anggota keluarga
lainnya akan menyadari kebutuhan mereka, mengubah pikiran,
perilaku, dan keyakinannya sehingga melakukan tugas sesuai
dengan perannya dalam keluarga.

Pendekatan integratif yang dapat digunakan konselor dalam proses


konseling salah satunya adalah terapi keluarga eksperiensial.
Konselor berpartisipasi penuh dan melibatkan diri ikut dalam
kelompok untuk membentuk tenaga yang handal dalam keluarga.
Tujuannya adalah agar setiap sesi konseling setiap anggota
keluarga berpartisipasi aktif dan peduli terhadap apa dan
bagaimana perilaku yang harus dilakukan terhadap situasi yang ada
sekarang dalam keluarga. Selain itu juga sebagai media interaksi
dengan komunitas secara intens di dalam maupun di luar keluarga

16
untuk mewujudkan tujuan konseling yang hendak dicapai serta
meningkatkan kesejahteraan sosial yang berdampak pada
pandangan anak terhadap dunia kehidupannya di masa mendatang.
Secara tidak langsung hal tersebut berpengaruh juga pada
kemampuan anak dalam mengatasi permasalahan dan tantangan
dalam kehidupan dalam keluarga.

4. PERAN TERAPIS
Keterlibatan konselor dalam terapi keluarga eksperiensial selain
menciptakan hubungan baik, juga mampu mendengarkan suara dan
emosi klien serta anggota keluarga. Konselor bias berpartisipasi
penuh dalam keluarga, menjadi sahabat, orang yang dapat
dipercaya dalam pertemuannya dengan anggota keluarga sehingga
tercapai suasana keakraban yang alami. Keakraban dengan
keluarga digunakan konselor untuk memahami dan merasakan isi
hati mereka. Proses konseling yang jujur akan terjadi jika individu
yang ada dalam anggota keluarga selalu berusaha untuk
menempatkan diri sebagaimana adanya dan memahami orang lain
sebagaimana adanya pula.
Peran keluarga dalam membantu proses konseling anak adalah
membantu konselor membuat keputusan dan memikirkan rencana
tindakan untuk perubahan dan perkembangan emosi anak ke arah
yang positip, menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis anak agar
mudah melakukan komunikasi intepersonal dan intrapersonal,
mampu bekerjasama dengan anggota keluargauntuk membantu
proses konseling, sebagai agen pengubah lingkungan keluarga agar
anak dapat mengelola emosi ke arah yang posistif.
Keluarga dalam melakukan perannya membantu konselor untuk
mengelola emosi anak dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-
beda. Pengaruh budaya, keyakinan keluarga, norma, mitos, nilai,
sikap akan menimbulkan persepsi anak mengenai keluarga tempat
mereka hidup. Cara anak-anak berpikir dan bersikap dalam

17
keluarga berkaitan dengan bagaimana cara anggota keluarga lain
memperlakukan mereka sebagai individu maupun kelompok. Jika
keluarga memahami masalah anak, dan mengenal pola interaksi
yang terjadi dalam keluarga, maka akan sangat berkontribusi
membantu anak dalam mengelola emosi. Sebelum konselor
melakukan proses konseling individual dengan terapi keluarga, di
proses awal harus menemui seluruh anggota keluarga dan
menunjukkan bahwa keluarga telah siap untuk terlibat dalam proses
konseling. Keputusan yang sudah diambil harus ditaati dan
dilaksanakan secara aktif oleh semua anggota keluarga.
Keterlibatan keluarga dalam proses konseling memberikan
kesempatan bagi anggota keluarga untuk menunjukkan perasaan
emosional mereka yang berkaitan dengan proses perubahan yang
terjadi dalam keluarga. Dengan menyadari perubahan yang telah
terjadi diantara sesi konseling, maka perubahan selanjutnya bias
diwujudkan. Akhirnya tujuan dari konseling bisa tercapai yaitu
terentaskannya masalah yang dialami oleh anggota keluarga.
Kerjasama yang dilakukan konselor, orang tua, dan anggota
keluarga dalam proses konseling anak untuk mengelola emosi
adalah untuk menciptakan kestabilan perkembangan emosi anak
dan mampu menghindari suasana yang bisa menumbuhkan
kemarahan anak. Ciptakan suasana lingkungan aman dan nyaman
biar anak selalu dalam kondisi senang dan bahagia. Sebagai contoh
hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dan anggota keluarga
untuk membantu konselor dalam mengelola emosi anak

5. KESIMPULAN
Sikap orang tua dalam merespon perilaku dan sikap anak juga
berbeda dengan kemauan anak, sehingga memunculkan masalah
pada anak. Hal itu merupakan tantangan bagi keluarga bagaimana
menghadapi dan mengelola perkembangan emosional yang terjadi

18
dalam anggota keluarga. Bagi anakanak, banyak hal yang terjadi
dalam keluarga di luar kontrol mereka.
Berbagai macam problematika keluarga ada beberapa masalah yang
mudah bisa diatasi adapula yang membutuhkan bantuan orang lain
untuk menyelesaikan problematika dalam keluarga melalui proses
konseling. Melaksanakan proses konseling anak berbeda dengan
remaja dan orang dewasa. Konselor harus memahami dunia anak
serta mampu berkomunikasi secara verbal maupun non verbal pada
anak. Bekerjasama dengan anggota keluarga agar melaksanakan
perannya dalam proses konseling anak, sehingga proses pencapaian
tujuan dalam proses konseling bisa focus dan maksimal.
Melaksanakan konseling anak tidak mudah, untuk itu dibutuhkan
pendekatan yang tepat dan integratif, salah satunya adalah
menggunakan terapi keluarga eksperiensial. Pendekatan ini
menekankan pada pentingnya pengalaman dan mengekspresikan
emosi here and now dan proses pertumbuhan alamiah dalam
keluarga, meningkatkan rasa memiliki keluarga, dan meningkatkan
kemampuan keluarga untuk memberikan kebebasan sebagai
individu setiap anggotanya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Keluarga merupakan suatu unit terkecil dalam masyarakat yang


memberikan respon terhadap suatu peristiwa baik didalam maupun diluar
keluarga. Kehidupan dalam keluarga tidak dapat dihindarkan dari suatu
stressor, baik stressor itu positive atau stressor negative. Keluarga sebagai
suatu unit yang mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi dapat
bereaksi terhadap kejadian yang penuh stress dan menjelaskan faktor-
faktor yang meningkatkan adaptasi keluarga terhadap peristiwa tersebut.

19
Psikoedukasi keluarga adalah salah satu elemen program
perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi dan
edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi
merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart &
Laraia, 2005). Carson (2000), psikoedukasi merupakan alat terapi keluarga
yang makin popular sebagai suatu strategi untuk menurunkan faktor-faktor
resiko yang berhubungan dengan perkembangan gejala-gejala perilaku.
Jadi pada prinsipnya psikoedukasi dapat membantu anggota keluarga
dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit melalui pemberian
informasi dan edukasi yang dapat mendukung pengobatan dan rehabilitasi
pasien dan meningkatkan dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri.

Selain psikoedukasi, ada juga terapi keluarga lainnya yaitu triangle


terapi. Triangle terapi merupakan salah satu terapi yang dapat
mempengaruhi atau memperbaiki respon koping keluarga dalam
pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah yang dirasakan oleh
keluarga. Triangle adalah suatu unit social yang fundamental, dan
triangulasi (keterlibatan pihak ketiga) adalah suatu proses sosial yang bisa
terjadi dimana saja. Terapi keluarga triangles adalah terapi keluarga yang
dilakukan dengan melibatkan keluarga, klien dan petugas kesehatan untuk
menyelesaikan masalah keluarga. Tujuan penelitian: menjelaskan
pengaruh terapi triangles terhadap kemampuan pengetahuan dan
psikomotor keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa .(Shives, 2005)

3.2 Saran
Diharapkan dari makalah ini perawat spesialis dapat menerapkan
terapi keluarga dan mengaplikasikannya dilingkungan. Di institusi
keperawatan agar dapat memberikan pendidikan yang mendalam
mengenai terapi keluarga untuk mengatasi masalah-masalah yang ada
dilingkungan masyarakat.

20
DAFTAR PUSTAKA

Adams, J. (2005). Reading the Family Dance: Family Systems Therapy and
Literary Study. College Literature.

Almasitoh, U.H. (2012). Model terapi dalam keluarga. Jurnal Magistra No.80,
ISSN 0215-9511

Basford, Lynn dan oliver slevin.(2006). Teori Dan Praktik Keperawatan. EGC:
Jakarta.

Boyd, M.A & Nihart, M.A. (1998). Psychiatric Nursing Contemporary Practice,
Philadelphia : Lippincott

Chavkin, A. & Nancy. F. (2011). A Family Systems Theory Approach to Saul


Bellow’s Herzog. Soul Bellow Journal.

Copel, Linda C. (2007). Kesehatan Jiwa & Psikiatri, Pedoman klinis Perawat

21
(Psychiatric and Mental Health Care : Nurse’s Clinical Giude). Edisi
Bahasa Indonesia (Cetakan Kedua).

Friedman, Marilyn M.(2001). keperawatan keluarga. Edisi 3. EGC. Jakarta.

Hasnida (2002). Family Counseling. Universitas Sumatera Utara. di akses tanggal


03 Mei 2015, dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3633/1/psiko hasnida.pdf

Mc Farland, Gertrude K. and Themas M.D. (1987). Psychiatric Mental Health


Nursing, St. Louis : The CV. Mosby Co.

NANDA (2008), Nursing Diagnoses : Definition & Classification,Philadelphia :


AR

Stuart, G.W and Laraia (2005). Principle and practice of psyhiatric nursing. St.
Louis : Mosby Year B

Workshop Keperawatan Jiwa FIK-UI, (2008). Kumpulan Terapi Individu, Jakarta:


FIK–UI (Tidak dipublikasikan)

Yosep, Iyus.(2009). Keperawatan jiwa edisi revisi. Bandung: PT.Refika Aditama.

SAWWA – Volume 8, Nomor 2, April 2013 “PERAN TERAPI KELUARGA


EKSPERIENSIAL DALAM KONSELING ANAK UNTUK
MENGELOLA EMOSI” Semarang

22