Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

KONSEP DASAR MEDIK

A. Pengertian
Abses paru adalah lesi nekrotikan setempat pada parenkim paru
yang mengandung bahan purulen lesi mengalami kolaps dan membentuk
ruang. Kebanyakan abses paru terjadi karena bahan teraspirasi dari hidung
atau mulut. Abses juga terjadi sekunder terhadap obstruksi mekanik atau
fungsional bronki, termasuk tumor, benda asing, atau stenosis bronkial.
Atau terjadi akibat nekrotiasis pneumonia, tuberkulosis, embolisme paru,
atau trauma dada. Pasien yang mengalami kerusakan refleks batuk dan tidak
mampu untuk menutup glotis, atau mereka yang mengalami kesulitan
mengunyah, beresiko terhadap respirasi benda asing dan mengalami abses
paru. Pasien beresiko lainnya termasuk mereka yang mengalami perubahan
status kesadaran akibat anestesia. (Ayumuliadewi ,2013)
Abses paru didefinisikan sebagai nekrosis jaringan paru dan
pembentukan rongga yang berisi puing – puing nekrotik atau cairan
disebabkan oleh infeksi mikroba.(Ahmad setyo N A ,2013)
Abses paru suatu kativitas dalam jaringan paru yang berisi material
purulen berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh
proses infeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak
dinamakan necrotising pneumonia.(yoedhas,2012)

B. Proses Terjadinya Masalah


a. Presipitasi dan Predisposisi
1) Presipitasi
Abses paru dapat terjadi akibat hal – hal sebagai berikut:
a) Bakteri an aerob → Bahan teraspirasi dari hidung atau
mulut
b) Obstruksi bronkus oleh benda asing, tumor, secret/ mucus
c) Nekrotisasi pneumonia, tuberkulosis, embolisme paru, atau
trauma dada
2) Predisposisi
Kondisi-kondisi yang memudahkan terjadinya aspirasi
a) Gangguan kesadaran: alkoholisme, epilepsi/kejang sebab
lain, gangguan serebrovaskuler, anestesi umum,
penyalahgunaan obat intravena, koma, trauma, sepsis.
b) Gangguan esofagus dan saluran cerna lainnya: gangguan
motilitas
c) Fistula trakeoesofageal
3) Sebab-sebab iatrogenik
4) Penyakit-penyakit periodontal
5) Kebersihan mulut yang buruk
6) Pencabutan gigi
7) Pneumonia akut
8) Immunosupresi
9) Bronkiektasi
10) Kanker paru
11) Infeksi saluran napas atas dan bawah yang belum teratasi. Pasien
HIV yang terkena abses paru pada umumnya mempunyai status
immunocompromised yang sangat jelek (kadar CD4 <50/mm3),
dan kebanyakan didahului oleh infeksi terutama infeksi paru.

b. Patofisiologi
Bermacam-macam faktor yang berinteraksi dalam terjadinya
abses paru seperti daya tahan tubuh dan jenis dari mikroorganisme
patogen yang menjadi penyebab. Terjadinya abses paru biasanya
melalui dua cara yaitu aspirasi dan hematogen. Yang paling sering
dijumpai adalah kelompok abses paru bronkogenik yang termasuk
akibat aspirasi, stasis sekresi, benda asing, tumor dan striktur bronkial.
Kebanyakan abses paru muncul sebagai komplikasi dari pneumonia
aspirasi akibat bakteri anaerob di mulut. Penderita abses paru biasanya
memiliki masalah periodontal (jaringan di sekitar gigi). Sejumlah
bakteri yang berasal dari celah gusi sampai di saluran pernafasan bawah
dan menimbulkan infeksi. Tubuh memiliki sistem pertahanan terhadap
infeksi semacam ini, sehingga infeksi hanya terjadi jika sistem
pertahanan tubuh sedang menurun, seperti yang ditemukan pada
seseorang yang berada dalam keadaan tidak sadar atau sangat
mengantuk karena pengaruh obat penenang, obat bius atau
penyalahgunaan alkohol. Selain itu dapat pula terjadi pada penderita
penyakit sistem saraf.
Jika bakteri tersebut tidak dapat dimusnahkan oleh mekanisme
pertahanan tubuh, maka akan terjadi pneumonia aspirasi dan dalam
waktu 7-14 hari kemudian berkembang menjadi nekrosis yang berakhir
dengan pembentukan abses.
Pada striktur bronkial terjadi obstruksi bronkus dan terbawanya
organisme virulen dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada daerah
distal obstruksi tersebut. Abses jenis ini banyak terjadi pada pasien
bronkitis kronik karena banyaknya mukus pada saluran napas
bawahnya yang merupakan kultur media yang sangat baik bagi
organisme yang teraspirasi. Pada perokok usia lanjut keganasan
bronkogenik bisa merupakan dasar untuk terjadinya abses paru.
Secara hematogen, yang paling sering terjadi adalah akibat
septikemi atau sebagai fenomena septik emboli, sekunder dari fokus
infeksi dari bagian lain tubuhnya seperti tricuspid valve endocarditis.
Penyebaran hematogen ini umumnya akan berbentuk abses multipel
dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus. Penanganan abses multipel
dan kecil lebih sulit dari abses singel walaupun ukurannya besar. Secara
umum diameter abses paru bervariasi dari beberapa milimeter sampai
dengan 5 cm atau lebih.
Disebut abses primer bila infeksi diakibatkan aspirasi atau
pneumonia yang terjadi pada orang normal, sedangkan abses sekunder
bila infeksi terjadi pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai
kondisi seperti obstruksi, bronkiektasis, dan gangguan imunitas.
Selain itu abses paru dapat terjadi akibat necrotizing pneumonia
yang menyebabkan terjadinya nekrosis dan pencairan pada daerah yang
mengalami konsolidasi, dengan organisme yang penyebabnya paling
sering ialah Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia dan grup
Pseudomonas. Abses yang terjadi biasanya multipel dan berukuran
kecil (<2cm). Bulla atau kista yang sudah ada bisa berkembang menjadi
abses paru. Kista bronkogenik yang berisi cairan dan elemen sekresi
epitel merupakan media kultur untuk tumbuhnya mikroorganisme. Bila
kista tersebut mengalami infeksi oleh mikroorganisme yang virulens
maka akan terjadilah abses paru.
Abses hepar bakterial atau amebik bisa mengalami ruptur dan
menembus diafragma yang akan menyebabkan abses paru pada lobus
bawah paru kanan dan rongga pleura. Abses paru biasanya satu (singel),
tapi bisa multipel yang biasanya unilateral pada satu paru, yang terjadi
pada pasien dan keadaan umum yang jelek atau pasien yang mengalami
penyakit menahun seperti malnutrisi, sirosis hati, gangguan imunologis
yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, atau penggunaan
sitostatika. Abses akibat aspirasi paling sering terjadi pada segmen
posterior lobus atas dan segmen apikal lobus bawah dan sering terjadi
pada paru dekstra, karena bronkus utama kanan lebih lurus dibanding
kiri. Abses bisa mengalami ruptur ke dalam bronkus dengan isinya
diekspektorasikan keluar dengan meninggalkan kavitas yang berisi air
dan udara. Kadang-kadang abses ruptur ke rongga pleura sehingga
terjadi empiema yang bisa diikuti dengan terjadinya fistula
bronkopleura.
c. Manifestasi Klinik
Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala
pneumonia pada umumnya yaitu:
a. Panas badan Dijumpai berkisar 70% - 80% penderita abses paru.
Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C.
b. Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan
rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan
bau busuk yang khas (Foetor ex oroe).
c. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai
berkisar 40 – 75% penderita abses paru.
d. Nyeri yang dirasakan di dalam dada.
e. Batuk darah.
f. Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan
berat badan. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses
konsolidasi seperti redup pada perkusi, suara nafas yang
meningkat, sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi.
d. Pemeriksaan Diagnostik
Foto thorax : terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda
konsolidasi disekelilingnya.
a. CT-Scan : gambaran khas abses paru ialah berupa Lesi dens
bundar dengan kavitas berdinding tebal tidak teratur dan terletak di
daerah jaringan paru yang rusak.
b. Bronkoskopi : Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk
melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan
bronkus.
c. Pada pemeriksaan darah rutin.
d. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan
KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan
antibiotik secara tepat.
e. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotika
merupakan cara terbaik dalam menegakkan diagnosa klinis dan
etiologis serta tujuan therapi.
f. Pemeriksaan AGD menunjukkan penurunan angka tekanan O2
dalam darah arteri.

e. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang muncul :
a. Empiema

b. Abses otak
c. Atelektasi Sepsi

Prognosis beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada


abses paru sebagai berikut :

a. Anemia dan hipoalbuminemia


b. Abses
c. Lesi
obstruksi
d. Bakteri aerob
e. Immunocompromised
f. Usia tua
g. Gangguan intelegensia
h. Perawatan yang
terlambat

f. Penatalaksanaan Medis
a. Medikasi mentosa pada era sebelum antibiotika tingkat kematian
mencapai 33%, pada era antibiotika maka tingkat kematian dan
prognosa abses paru menjadi lebih baik. Pilihan pertama
antibiotika adalah golongan penicillin, pada saat ini di jumpai
peningkatan abses paru yang disebabkan oleh anaerobs (lebih dari
35% kuman gram negatif anaerob). Maka bisa di pikirkan untuk
memilih kombinasi antibiotika antara golongan penicillin G
dengan clindamycin atau dengan Metronidazole, atau kombinasi
clindamycin dan cefoxitin. Alternatif lain adalah kombinasi
Imipenem dengan B Lactamase inhibitase pada penderita dengan
pneumonia nosokomial yang berkembang yang menjadi abses
paru. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis
dan respon radiologis penderita. Penderita diberikan terapi 2 -3
minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas, jadi
diberikan antibiotika minimal 2 – 3 minggu.
b. Drainage postural dan fisiotherapi dada 2- 5 kali seminggu selama
15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi abses
paru. Pada penderita abses paru yang tidak berhubungan dengan
bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui
bronkoskopi.
c. Bedah
Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila :
1) Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika.
2) Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi
perfusi
3) Infeksi paru yang berlubang
4) Adanya gangguan drainase karena obstruksi.

C. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret
b. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan fisik
c. Nyeri b.d peradangan paru
d. Kurangnya pengetahuan b.d kurang informasi
D. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Ketidak efektifan Setelah dilakukan tindakan (3350) Monitor Pernafasan
bersihan jalan keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Monitor kecepatan bernafas
nafas b.d klien dapat mempertahakan jalan 2. Monitor suara nafas tambahan 1. Untuk mengetahui
penumpukan nafas paten dengan bunyi nafas seperti ngorok atau mengi tingkat kecepatan
secret bersih/jelas. (3140) Manajemen Jalan Nafas nafas pasien
Kriteria hasil : 1. Instruksikan bagaimana agar 2. Untuk mengetahui
(0510) Status Pernafasan : bisa melakukan batuk efektif apakah ada
Kepatenan jalan nafas 2. Kelola nebulalizer ultrasonik, penyakit lain
1. Frekuensi, irama pernapasan sebagaimana mestinya 3. Agar dapat
dalam batas normal megeluarkan
2. kemampuan untuk sekret yang
mengeluarkan sekret mengganggu
3. Dapat melakukan batuk efektif 4. Untuk
melancarkan
dahak dan
mengurangi sesak

2. Intoleransi Setelah dilakukan tindakan (4310) Terapi Aktivitas 1. Agar dapat


aktifitas b.d keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Monitor respon emosi, fisik,, mengetahui tingkat
kelemahan fisik Klien menunjukkan peningkatan sosial, dan spiritual terhadap aktivitas klien
toleransi terhadap aktivitas dengan aktivitas 2. Agar klien dapat
kriteria hasil : 2. Bantu dengan aktivitas fisik melakukan dengan
(0005) Toleransi Terhadap secara teratur teratur dan baik
Aktivitas
1. TD, frekuensi nadi, frekuensi 3. Berikan kesempatan keluarga 3. Untuk mengetahui
nafas dalam batas normal untuk terlibat dalam aktivitas, tingkat aktivitas
ketika beraktivitas dengan cara yang tepat klien
2. Kemudahan dalam melakukan 4. Dorong aktivitas kreatif yang 4. Agar klien tidak
ADL tepat hanya terfokus pada
(0300) Perawatan Diri : satu latihan
Aktivitas Sehari – hari
3. Mampu berpindah tanpa atau
dengan bantualn
3. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan (1400)
peradangan paru keperawatan selama 3 x 24 jam Manajemen Nyeri
Menyatakan nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Mengetahui tingkat
hilang/terkontrol dengan kriteria secara komprehensif yang keparahan nyeri
hasil : meliputi lokasi, karakteristik, 2. Untuk mengurangi
(1605) Kontrol Nyeri onset/durasi, frekuensi, nyeri dengan cara
1. Mengenali kapan nyeri terjadi kualitas, intensitas, atau istirahat
2. Melaporkan nyeri yang beratnya nyeri dan faktor 3. Mengurangi nyeri
terkontrol pencetus dengan pengalihan
2. Dukung istirahat/tidur yang 4. Mengurangi nyeri
adekuat untuk membantu dengan farmakologis
penurunan nyeri 5. Mengetahui kondisi
3. Ajarkan penggunaan teknik awal pasien
nonfarmakologi
4. Pastikan pemberian analgesik
Monitor TTV
4. Defisiensi Setelah dilakukan tindakan Pengajaran proses penyakit :
pengetahuan b.d keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Kaji tingkat pengetahuan
kurang informasi klien Menyatakan pemahaman pasien terkait dengan proses 1. Untuk mengetahui
kondisi/proses penyakit dan penyakit yang spesifik tingkat pengetahuan
tindakan dengan kriteria hasil 2. Jelaskan tanda dan gejala yang klien
(1803) Pengetahuan : Proses umum dari penyakit 2. Agar klien dapat
Penyakit 3. Edukasi klien mengenai memhami mengenai
1. Klien menyatakan paham tindakan tindakan untuk tanda dan gejala
mengenai proses perjalanan mengontrol tindakan/ awal dari penyakit
penyakit biasanya meminimalkan gejala. 3. Agar tidak dapat
2. Klien menyatakan paham memperparah
tanda dan gejala penyakit (56202) keadaan
4. Beri informasi kepada keluarga 4. Agar keluarga
pasien mengenai mengetahui
perkembangan klien sesuai perkembangan klien
kebutuhan yang sesuai
DAFTAR PUSTAKA

Djojodibroto, R. D. Dr, SpP, FCCP,. 2009. Respirologi, Respiratory Medicine.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Hal.143-144.

Fishman,A.P., dkk. Fishman’s Pulmonary Disease and Disorders 4thEd.


Philadelpia: McGraw-Hill. 1441-1460.6.

Halim, H. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Sudoyo, A. W,. dkk. 2007. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal. 1056.

Rasyid, Ahmad. Abses Paru. 2006. Sudoyo,A.W., dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FK UI. 1052-
1056.5.Fishman,