Anda di halaman 1dari 22

METEDOLOGI PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN

A. Bahasa Penelitian
Tiap-tiap disiplin ilmiah merupakan bahasa khusus guna melukiskan dan
menerangkan pengamatan-pengamatan dibidang itu. Para ilmuan memerlukan istilah-
istilah tingkat empiris guna melukiskan pengamatan tertentu.
Istilah-istilah yang dipakai para ilmuan pada tingkat deskriptif maupun tingkat teoritis
diberi nama konsep atau pengertian (concept) dan bangunan-pengertian (construct).
Para ilmuan melakukan penelitian berdasarkan pengalaman (terutama yg diperoleh
dari penemuan, percobaan, maupun pengamatan yg telah dilakukan)
sehingga dalam pengalamannya tersebut dapat menghasilkan suatu konsep dasar yang
menjadi sasaran studi.
B. Pengertian (Concept) dan Bangunan-Pengertian (Construct)
Pengertian atau konsep adalah suatu abstraksi dari kejadian-kejadian yang diamati.
Maksud suatu konsep atau pengertian adalah untuk menyederhanakan pemikiran dengan
jalan memasukkan sejumlah kejadian dalam suatu nama yang umum. Beberapa
pengertian sangat dekat dengan kejadian yang diwakilinya. Misalnya, arti pengertian
pohon dapat dengan mudah digambarkan dengan menunjuk pada pohon tertentu.
Pengertian tersebut adalah abstraksi dari ciri-ciri yang dipunyai oleh semua pohon, yakni
ciri-ciri yang dapat diamati secara langsung. Akan tetapi, istilah-istilah seperti motivasi,
keadilan dan kemampuan memecahkan masalah tidak dapat dengan mudah digambarkan
dengan menunjuk kepada suatu objek atau kejadian.
Bangunan pengertian dibentuk untuk meringkas pengamatan dan memberikan
penjelasan. Bangunan pengertian akan ditinggalkan bila ada cara lain yang lebih baik
untuk menerangkan dan merangkum pengamatan.
Pengertian/konsep artinya sesuatu yang ingin dipahami. Pengertian/Konsep juga
merupakan serangkaian pernyataan yang saling berhubungan yang menjelaskan
mengenai suatu objek atau sekelompok kejadian/peristiwa dan merupakan suatu dasar
atau petunjuk didalam melakukan suatu penelitian, dimana teori dan konsep tersebut
dapat memberikan gambaran secara sistematis dari suatu fenomena. Sedangkan
bangunan pengertian merupakan penjelasan yang lebih rinci mengenai suatu pengertian
atau konsep dari suatu objek atau kejadian.
C. Spesifikasi Arti
Pengertian harus dirumuskan, baik secara abstrak, yang memberikan arti umum yang
dianggap dimilikinya, maupun secara operasional, yaitu berdasarkan tindakan yang akan
dilakukan untuk mengukur pengertian tersebut dalam suatu penyelidikan.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


1
Pengertian didefinisikan sebagai suatu arti yang mewakili sejumlah objek yang
mempunyai ciri-ciri yang sama dapat juga diartikan sebagai suatu abstraksi dari ciri-ciri
sesuatu yang mempermudah komunikasi antar manusia dan memungkinkan manusia
untuk berpikir.
D. Batasan Konstitutif
Batasan Konstitutif ialah jenis batasan yang lebih formal, dimana suatu istilah diberi
batasan dengan menggunakan istilah-istilah lain. Misalnya, kecerdasan diberi batasan
sebagai kemampuan berfikir secara abstrak. Batasan semacam ini dapat menunjukkan
sifat-sifat umum gejala yang menjadi perhatian penyelidik. Disamping itu, batasan ini
juga menunjukkan hubungannya dengan teori dan dengan studi-studi yang
menggunakan pengertian yang sama.
Batasan konstitutif menjelaskan suatu istilah dan mungkin dapat memberikan
wawasan (insight) tentang gejala yang dilukiskan oleh istilah tersebut. Akan tetapi,
apabila dilakukan penelitian, kita harus menerjermahkan pengertian-pengertian
kedalam bentuk kejadian-kejadian yang dapat diamati secara langsung.
Batasan konstitutif merupakan suatu konsep yang didefinisikan dengan referensi
konsep yang lain. Batasan konstitutif juga merupakan pernyataan yang mengartikan
atau memberi makna suatu konsep atau istilah tertentu dan merupakan penggambaran
secara umum dan menyeluruh yang menyiratkan maksud dari konsep atau istilah
tersebut. Batasan konstitutif diperlukan untuk pengukuran variabel yang abstrak atau
yang tidak mudah terhubung dengan fakta.
E. Batasan Operasional
Batasan Operasional adalah batasan yang memberikan arti kepada suatu pengertian
atau bangunan-pengertian dengan jalan menetapkan tindakan (operasi) yang akan
dilakukan untuk mengukur pengertian tersebut. Batasan semacam ini penting sekali
dalam penelitian, karena data harus dikumpulkan dalam bentuk kejadian yang dapat
diamati. Pada bangunan pengertian seperti: belajar, motivasi,kecemasan, atau hasil
belajar (achievement). Sebagai contoh, penelitian tentang hubungan antara banguna-
pengetian kretativitas dengan bangunan-pengertian kecerdasan pada prakteknya akan
menghubungkan skor tes kecerdasan dengan skor ukuran kreativitas.
Batasan operasional menjelaskan prosedur yang memungkinkan seseorang mengalami
atau mengukur suatu konsep. Suatu batasan operasional menjelaskan dengan tepat
bagaimana suatu konsep akan diukur, dan bagaimana pekerjaan penelitian harus
dilakukan. Batasan operasional bisa didefinisikan sebagai serangkaian langkah-langkah
prosedural dan sistematis yang menggambarkan kegiatan demi mendapatkan eksistensi
empiris dari suatu konsep

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


2
F. Variabel
Variabel adalah suatu atribut yang dianggap mencerminkan atau mengungkapkan
pengertian atau banguna-pengertian. Variabel mempunyai nilai yang berbeda-beda.
Tinggi badan adalah satu contoh dari variabel; variabel ini dapat berbeda-beda pada
seorang individu dari masa kemasa, antara beberapa individu pada saat yang sama, antara
rata-rata dari suatu kelompok, dan seteusnya. Dalam suatu studi tentang hubungan
banyaknya kosakata dengan hasil belajar IPA dikalangan murid kelas VIII SMP, variabel
yang menjadi perhatian adalah ukuran kosakata dan ukuran hasil belajar IPA. Konsep
tingkatan kelas, meskipun menurut batasan adalah juga sebuah variabel, dalam penelitian
ini tidak dijadikan variabel, karena semua subjek adalah murid kelas VIII SMP. Jadi,
konsep-konsep yang menjadi pusat perhatian dalam suatu penelitian itulah yang menjadi
variabel pelitian itu.
Variable diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan
penelitian. Sering pula dinyatakan variabel penelitian itu sebagai faktor-faktor yang
berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti.

G. Macam-macam variabel
Variabel adalah karakteristik yang bisa diduplikasikan ke dalam sekurang-kurangnya
dua klasifikasi atau indikator.
1) Dilihat dari klasifikasi pengukurannya ada dua jenis variable:
a. Variabel kuantitatif, yaitu variable yang keadaannya dapat dinyatakan secara
numeric.
b. Variabel kualitatif, yaitu variable yang keadaannya tidak dapat dinyatakan
secara numeric
2) Dilihat dari peran dan posisinya, ada tiga:
a. Variabel bebas (independen variable) atau disebut juga antecedent variable,
adalah variable penjelas, variable predictor/variable penentu/variable penduga.
b. Variabel terikat (dependent variable), adalah variable konsekuensi atau akibat
c. Variable intervening adalah variable penghubung

Berdasarkan jenis variabel diatas, dapat disimpulkan variabel memiliki peranan


sangat penting dalam suatu penelitian pendidikan. Dimana variabel merupakan
segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan dalam penelitian yang menjadi
titik perhatian.

H. Sejarah Penelitian Pendidikan


Penelitian pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu masih termasuk agak muda. Usianya
masih kurang dari 80 tahun. Keterlambatan munculnya pendidikan sebagai ilmu ini

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


3
disebabkan bukan saja oleh peliknya gejala yang diselidiki, melainkan juga oleh
lambatnya kemajuan pengembangan alat-alat pengamatan dan pengukurannya. Boleh
dikatakan bahwa pengukuran merupakan landasan bagi gerakan penelitian.
I. Awal pengukuran
Benih gerakan penelitian, disemaikan pada tahun1879, ketika Wilhelm Wundth
mendirikan laboratorium psikologi-eksperimental yang pertama di Leipzig, Jerman.
Studi-studi yang pertama itu terutama dipusatkan disekitar ketajaman pancaindera, waktu
reaksi dan keterampilan gerak (motor skill).
Perkembangan penelitian pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh Sir Francis Galton
(1822-1911), yang menyelidiki perbedaan-perbedaan individual dikalangan masyarakat.
Galton mempelopori penggunaan metode korelasi.
Di Amerika Serikat, James Mc Keen Cattell, yang pernah belajar di Jerman kepada
Wundt dan yang juga terpengaruh oleh Galton, memulai suatu penyelidikan sistematis
tentang perbedaan waktu reaksi individual pada fungsi penggerak indera (sensori-motor)
yang dihubungkan dengan kecerdasan manusia.

J. Awal Penelitian Pendidikan


Joseph M. Rice pada umunya dikenal sebagai perintis dalam gerakan penelitian
pendidikan. Ditahun 1897, ia menerbitkan dua artikel yang melaporkan hasil
penyelidikannya tentang hasil belajar mengeja (spelling) anak-anak sekolah di AS. Karya
ini pada umumnya dianggap sebagai awal mula gerakan modern penyelidikan objektif
terhadap masalah-masalah pendidikan. Pertumbuhan penelitian pendidikan ini dapat
dibagi menjadi tiga periode.
1) Periode Perintisan
Para ahli telah sepakat menetapkan tahun 1900 sebagai saat dimulainya era
ilmiah dibidang pendidikan. Periode dari tahun 1900-1920 adalah masa eksplorasi
dan pengembangan alat pengukur yang diperlukan peneliti. Di tahun 1905, Alfred
Binet menerbitkan skala kecerdasan praktis yang pertama, sesuatu yang yang sangat
dibutuhkan di negerinya pada waktu itu.
Edward L. Thorndike menjadi tokoh yang berpengaru kuat dalam penyebaran
dan pengembangan tes pendidikan baku (standar). Tes kecerdasan kelompok dimulai
pada waktu perang dunia I, yang sebagian besar disebabkan oleh karya Otis, dan
selanjutnya menjadi alat pengukur yang banyak dipakai dalam penelitian
pendidikan. Pada tahun 1920 telah dapat diperoleh tes-tes individu maupun
kelompok untuk mengukur kecerdasan verbal maupun non vebbral.
2) Periode Perluasan: 1920-1945
Periode antara tahun 1920-1945 adalah masa perkembangan yang besar bagi
penelitian pendidikan. Jumlah alat pengukur yang tersedia bagi para peneliti
Dasar-Dasar Metedologi Penelitian
4
bertambah dengan pesat pada masa ini. Para penerbit komersial mulai menerbitkan
tes-tes. Banyak jurnal yang dirancang untuk menyebarkan hasil-hasil penelitian
pendidikan mulai terbit pada masa ini.

3) Periode Penilaian Penilaian Secara Kritis: 1945 sampai sekarang


Sejak 1945 telah dilakukan usaha-usah ntuk mengevaluasi kembali penelitian
pendidikan berdasarkan perbaikan-perbaikan yang diakibatkan oleh penelitian
terhadap proses pendidikan. Adanya penilaian kritis itu sangat memperkuat
kedudukan penelitian dibidang pendidikan. Metode dan prosedur telah diperhalus
dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dapat lebih dipercaya.
Ruang lingkup penelitian pendidikan telah semakin diperluas. Setiap tahun
banyak penyelidikan dilakukan dengan tujuan menetapkan keefektivan semua aspek
kurikulum, metode pengajaran, bimbingan, serta praktek-praktek administratif.
Penelitian pendidikan tidak lagi hanya merupakan usaha pencarian fakta belaka.
Meskipun banyak yang merasa bahwa penelitian pendidikan masih agak kekurangan
dasar teoritis, sekarang telah cukup banyak teori yang dikembangkan untuk
memungkinkan adanya pendekatan mendalam terhadap banyak masalah pendidikan
yang lebih praktis.
Penelitian pendidikan merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan
secara sistematis, logis, dan berencana untuk mengumpulkan, mengolah,
menganalisis dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode tertentu untuk
mencari jawaban atas permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan.
Penelitian pendidikan juga merupakan usaha seseorang yang dilakukan berdasarkan
pada teori yang ada dan diperkuat dengan fakta dan gejala yang ada dengan
menggunakan metode tertentu untuk mencari jawaban atas permasalahan dalam
bidang pendidikan. Sekarang telah cukup banyak teori yang dikembangkan untuk
memungkinkan adanya pendekatan mendalam terhadap banyak masalah pendidikan
yang lebih praktis.

K. Metedologi Penelitian Pendidikan


a) Pengertian Metode Penelitian Pendidikan
Metode penelitian ialah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan
analisis data yang diperlukan, guna menjawab persoalan yang dihadapi. Ini adalah
rencana pemecahan bagi persoalan yang sedang diselidiki.
Metode penelitian atau metode ilmiah adalah prosedur atau lagkah-langkah dalam
mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Jadi metode penelitian adalah cara
sistematis untuk menyususn ilmu pengetahuan. Sedangkan teknik penelitian

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


5
adalah cara untuk melaksanakan metode penelitian. Metode penelitian biasanya
mengacu pada bentuk-bentuk penelitian (Suryana, 2010).
Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain
penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan
penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian
harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian
dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok
(Nazir, 1985) yaitu:
a. Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakansuatu
penelitian?
b. Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam
mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis
data?
c. Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-
urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat
membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta
mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian.
Metode penelitian pendidikan adalah langkah yang dimiliki dan dilakukan oleh
peneliti dalam rangka untuk mengumpulkan informasi atau data serta melakukan
investigasi pada data yang telah didapatkan tersebut untuk mencari jawaban atas
permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan. Metodologi penelitian
pendidikan hendaknya dilaksanakan secara sitematis, logis, dan secara berencana.
Secara sistematis artinya berdasarkan pola dan teknik tertentu serta sesuai dengan
aturan–aturan ilmiah dalam penelitian pada umumnya. Metodologi penelitian
pendidikan dilakukan harus betul- betul direncanakan secara sengaja tentang apa
yang akan diteliti, bagaimana cara meneliti, kapan diadakan penelitian, siapa yang
menelitinya, mengapa hal itu diteliti, dimana tempat atau lokasinya penelitian.

b) Pengelompokan Penelitian
Empat kategori yang biasanya dipakai untuk mengelompokkan penelitian ialah:
1. Eksperimental
Eksperimental adalah suatu penyelidikan ilmiah yang menuntut peneliti
memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel bebas serta mengamati
variabel terikat, untuk melihat perbedaan yang sesuai dengan manipulasi variabel-
variabel bebas tersebut. Tujuan utama eksperimen ialah untuk menetapkan apa
yang mungkin terjadi.
2. Ex past facto
Dasar-Dasar Metedologi Penelitian
6
Ex past facto merupakan penelitian yang serupa dengan penelitian
eksperimental hanya disini peneliti tidak dapat secara langsung memanipulasi
variabel bebas.
3. Deskriptif
Deskriptif adalah penelitian yang melukiskan dan menafsirkan keadaan yang
ada sekarang. Penelitian ini berkenaan dengan kondisi atau hubungan yang ada;
praktek-praktek yang sedang berlaku; keyakinan, sudut pandang atau sikap yang
dimiliki; proses-poses yang sedang berlangsung; pengaruh-pengaruh yang sedang
dirasakan; atau kecenderungan-kecenderungan yang sedang berkembang.
Tujuan utama penelitian deskriptif ialah melukiskan keadaan sesuatu atau yang
sedang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Penelitian deskriptif ini terdiri
atas beberapa sub-kategori:
a) Studi kasus
b) Survei
c) Studi perkembangan
d) Studi tindak lanjut
e) Analisis dokumenter
f) Studi kecenderungan
g) Studi korelasi
4. Historis
Menyangkut suatu prosedur guna melengkapi pengamatan, suatu proses yang
dipakai oleh para ahli sejarah dalam usahanya menguji kebenaran pengamatan-
pengamatan yang dilakukan oran lain. Tujuan utama penelitian historis adalah
untuk menceritakan apa yang terjadi dimasa lalu.
Ada 4 kategori yang yang biasanya dipakai untuk mengelompokkan penelitian,
pengelompokan ini sesuai dengan tujuan penelitian dari masing-masing peneliti.
Penelitian jenis pertama yaitu experimental bertujuan untuk menetapkan apa yang
mungkin terjadi dan menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat tesebut
dengan cara memberikan perlakuan tertentu pada beberapa kelompok
eksperimental dan menyediakan kontrol untuk perbandingan. Penelitian kedua ex
past facto hampir sama dengan experimental yang berbeda adalah pada penelitian
eksperimen peneliti dapat melakukan perlakuan atau intervensi terhadap variabel
bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel terikatnya. Namun, pada
penelitian ex post facto kesimpulan ditarik tanpa adanya intervensi langsung
peneliti terhadap variabel bebas maupun variabel yang menyertainya. Penelitian
ketiga yaitu deskriptif memiliki tujuan utama yaitu melukiskan keadaan sesuatu
atau yang sedang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Peneliti meneliti status
sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


7
suatu kelas peristiwa . Penelitian keempat yaitu historis memiliki tujuan utama
untuk menceritakan apa yang terjadi dimasa lalu dengan menggunakan catatan
observasi atau pengamatan orang lain yang tidak dapat dulang-ulang kembali.

c) Macam- Macam Metedologi Penelitian


Menurut Suryana (2010), Mengacu pada bentuk penelitian, tujuan, sifat
masalah dan pendekatannya ada empat macam metode penelitian :
(1) Metode Eksperimen (Mengujicobakan), adalah penelitian untuk menguji
apakah variabel-variabel eksperimen efektif atau tidak. Untuk menguji efektif
tidaknya harus digunakan variabel kontrol. Penelitian eksperimen adalah
untuk menguji hipotesis yang dirumuskan secara ketat. Penelitian eksperimen
biasanya dilakukan untuk bidang yang bersifat eksak. Sedangkan untuk
bidang sosaial bisanya digunakan metode survey eksplanatory, metode
deskriptif, dan historis.
Metode eksperimental merupakan bentuk percobaan yang berusaha untuk
mengisolasi dan melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan
situasi yang diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek atau pengaruh
ketika kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dalam metode penelitian
eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi 2 kelompok
yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol
yang tidak mendapatkan perlakuan.
(2) Metode Verifikasi (Pengujiaan), yaitu untuk menguji seberapa jauh tujuan
yang sudaah digariskan itu tercapai atau sesuaai atau cocok dengan harapan
atau teori yang sudah baku. Tujuan dari penelitian verifikasi adalah untuk
menguji teori-teori yang sudah ada guna menyusun teori baru dan
menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru. Lebih mutakhirnya, metode
verifikasi berkembang menjadi grounded research, yaitu metode yang
menyajikan suatu pendekatan baru, dengan data sebagai sumber teori (teori
berdasarkan data).
Metode verifikasi dilakukan untuk memeriksa, menguji dan melakukan penilaian
terhadap keabsahan sumber-sumber dan kebenaran laporan suatu peristiwa.
(3) Metode Deskriptif (mendeskripsikan), yaitu metode yang digunakan untuk
mencari unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode ini
dimulai dengan mengumpulkan data, mengaanalisis data dan
menginterprestasikannya. Metode deskriptif dalam pelaksanaannya dilakukan
melalui: teknik survey, studi kasus (bedakan dengan suatu kasus), studi

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


8
komparatif, studi tentang waktu dan gerak, analisis tingkah laku, dan analisis
dokumenter.
Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk
menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau
saat yang lampau.
(4) Metode Historis (merekonstruksi), yaitu suatu metode penelitian yang
meneliti sesuatu yang terjadi di masa lampau. Dalam penerapannya,
metode ini dapat dilakkan dengan suatu bentuk studi yang bersifat
komparatif-historis, yuridis, dan bibliografik. Penelitian historis bertujuan
untuk menemukan generaalisasi dan membuat rekontruksi masa lampau,
dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensintesiskan
bukti-bukti untuk menegakkan fakta-fakta dan bukti-bukti guna memperoleh
kesimpulan yang kuat.
Metode histori merupakan bentuk penelitian yang memiliki tujuan untuk
menggambarkan fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian masa lalu. Metode
yang bertujuan membuat rekunstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif
dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverfikasi, serta mensintesiskan
bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat dan
akurat

Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, Suryabrata (1983), dalam suryana (2010)


mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut:
(1) Penelitian Historis yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau
secara sistematis dan obyektif.
(2) Penelitian Deskriptif yang yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara
sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah
tertentu.
(3) Penelitian Perkembangan yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan urutan
pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.
(4) Penelitian Kasus/Lapangan yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif
latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu obyek
(5) Penelitian Korelasional yang bertujuan untuk mengkaji tingkat keterkaitan antara
variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasarkan koefisien korelasi
(6) Penelitian Eksperimental sungguhan yang bertujuan untuk menyelidiki
kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


9
(7) Penelitian Eksperimental semu yang bertujuan untuk mengkaji kemungkinan
hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada
kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan
pengendalian
(8) Penelitian Kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan
hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen tetapi dilakukan
dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab,
sebagai pembanding.
(9) Penelitian Tindakan yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru
atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya.

McMillan dan Schumacher (2001) dalam dalam suryana (2010), memberikan


pemahaman tentang metode penelitian dengan mengelompokkannya dalam dua tipe
utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing terdiri atas beberapa jenis
metode sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.

Dalam sebuah penelitian memang diharuskan untuk menggunakan metode yang


telah ada dan berlaku, terutama dua metode yang sudah dijelaskan yaitu kualitatif dan
kuantitatif dengan pendekatan positivism social science, interpretative social science,
critical social science dan juga Mixed Method Approach agar para peneliti bisa
melakukan riset dengan benar dan tepat serta tidak terjadi perdebatan secara terus
menerus dalam hasil penelitian (Islam Wimeta, 2016).
Dalam metode penelitian kuantitatif memiliki beberapa ciri-ciri 1) pemakaian
istilah “kasus dan konteks”; 2) teori grounded; 3) the context is critical; 4) brikolase;
5) kasus dan proses, serta 5) interpretasi, Penelitian kualitatif juga mempunyai ciri-
cirinya 1) variabel dan hipotesis; 2) kausalitas teori dan hipotesis; 3) aspek penjelasan;
4) kesalahan potensial dalam penjelasan kausalitas (Anwar, 2016,).
Berdasarkan karakteristik penelitian, metode kuantitatif dan kualitatif dapat
dibedakan sebagai mana tabel 1 berikut (Hayati, 2015)
Tabel 1. Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


10
Perbedaan antara metode penelitian kualitatif
dan kuantitatif juga dapat dilihat dari proses
penelitian. Proses dalam metode penelitian
kuantitatif bersifat linier dan kualitatif
bersifat sirkuler.
1) Proses Penelitian Kuantitatif
Seperti telah diketahui bahwa
penelitian itu pada prinsipnya adalah
untuk menjawab masalah. Masalah
merupakan penyimpanan dari apa yang
seharusnya dengan apa yang terjadi
sesungguhnya. Penyimpangan antara
aturan dengan pelaksanaan, teori dengan
praktek, perencanaandengan pelaksanaan
dan sebagainya. Penelitian kuantitatif
bertolak dari studi pendahuluan dari
obyek yang diteliti (preliminary study)
untuk mendapatkan yang betul-betul
masalah. Masalah tidak dapat diperoleh
dari belakang meja, oleh karena itu harus
digali melalui studi pendahuluan melalui
fakta-fakta empiris. Supaya peneliti dapat menggali masalah dengan baik, maka
peneliti harus menguasai teori melalui membaca berbagai referensi. Selanjutnya
supaya masalah dapat dijawab maka dengan baik masalah tersebut dirumuskan
spesifik, dan pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimat tanya
Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis)
maka, pene-liti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan masalah
dan berfikir. Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat
digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara ter-hadap
rumusan masalah penelitian (hipotesis). Jadi kalau jawaban terhadap rumusan
masalah yang baru didasarkan pada teori dan didukung oleh penelitian yang
relevan, tetapi belum ada pembuktian secara empiris (faktual) maka jawaban itu
disebut hipotesis.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


11
Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih
metode/strategi/pendekatan/ desain penelitian yang sesuai. Pertimbbangan ideal
untuk memilih metode itu ada-lah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan
konsisten yang dikehendaki. Sedangkan pertimbangan praktis, adalah tersedianya
dana, waktu, dan kemudahan yang lain. Dalam penelitian kuantitatif metode
penelitian yang dapat digunakan adalah metode survey, ex post facto,
eksperimen, evaluasi, action research, policy research (selain metode naturalistik
dan sejarah).
Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun
instrumen penelitian. Instrument ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang
dapat berbentuk test, angket/kuesioner, untuk pe-doman wawancara atau
observasi. Sebelum instrument digunakan untuk pengumpulan data, maka
instrument penelitian harus ter-lebih dulu diuji validitas dan reliabilitasnya.
Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik yang berbentuk populasi
mau-pun sampel. Bila peneliti ingin membuat generalisasi terhadap temuannya,
maka sampel yang diambil harus representatif (mewakili). Setelah data
terkumpul, maka selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan
menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan
analisis ini apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima atau apakah
penemuan itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tidak. Kesimpulan
adalah langkah terakhir dari suatu periode penelitian yang berupa jawab-an
terhadap rumusan masalah.
Berdasarkan proses penelitian kuantitatif di atas maka tampak bahwa proses
penelitian kuantitatif bersifat linier, dimana langkah-langkahnya jelas, mulai dari
rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan
membuat kesimpulan dan saran. Penggunaan konsep dan teori yang relevan serta
pengkajian terhadap hasil-hasil pene-litian yang mendahului guna menyusun
hipotesis merupakan aspek logika (logico-hypothetico), sedangkan pemilihan
metode penelitian, menyusun instrument, mengum-pulkan data dan analisisnya
adalah merupakan aspek metodologi untuk menverifika-sikan hipotesis yang
diajukan.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


12
2) Proses Penelitian Kualitatif
Rancangan penelitian kualitatif diibaratkan oleh Bogdan, seperti orang ingin
piknik, ia baru tahu tempat yang akan dituju, tetapi tentu belum tahu pasti apa
yang ada di tempat itu. Ia akan tahu setelah memasuki obyek, dengan cara
membaca berbagai in-formasi tertulis, gambar-gambar, berfikir dan melihat
obyek dan aktivitas orang yang ada di sekelilingnya, melakukan wawancara dan
sebagainya. Berdasarkan ilustrasi tersebut di atas, dapat dikemukakan bahwa
walaupun peneliti kua-litatif belum memiliki masalah, atau kei-nginan yang jelas,
tetapi dapat langsung memasuki obyek/lapangan. Pada waktu me-masuki obyek,
peneliti tentu masih merasa asing terhadap obyek tersebut. Setelah me-masuki
obyek, peneliti kualitatif akan me-lihat segala sesuatu yang ada pada tempat itu,
yang masih bersifat umum. Pada tahap ini disebut tahap orientasi atau deskripsi,
dengan grand tour question. Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang
dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Mereka baru mengenal serba sepintas
terha-dap informasi yang diperolehnya.
Tahap deskripsi data yang diperoleh cukup banyak, bervariasi dan belum
tersusun secara jelas. Proses penelitian kualitatif pada tahap ke 2 disebut tahap
reduksi/ fokus. Pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang telah

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


13
diperoleh pada tahap pertama. Pada proses reduksi ini peneliti menyortir data
dengan cara memilih data yang menarik, penting, berguna, dan baru. Data yang
dira-sa tidak dipakai disingkirkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka
data-data ter-sebut selanjutnya dikelompokan menjadi berbagai kategori yang
ditetapkan sebagi fokus penelitian. Proses penelitian kualitatif, pada tahap ke 3,
adalah tahap selection. Pada tahap ini pene-liti menguraikan fokus yang telah
ditetap-kan menjadi lebih rinci. Ibaratnya pohon, kalau fokus itu baru pada aspek
cabang, maka kalau pada tahap seleksi peneliti sudah mengurai sampai ranting,
daun dan buahnya. Pada penelitian tahap ke 3 ini, se-telah peneliti melakukan
analisis yang men-dalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka
peneliti dapat menemukan tema dengan cara mengkontruksikan data yang
diperoleh menjadi sesuatu bangunan pengetahuan, hipotesis atau ilmu yang baru.
Hasil akhir dari penelitian kualitatif, bukan sekedar menghasilkan data atau
informasi yang sulit dicari melalui metode kuantitatif, tetapi juga harus mampu
menghasilkan informasi-informasi yang bermakna, bah-kan hipotesis atau ilmu
baru yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi ma-salah dan
meningkatkan taraf hidup ma-nusia. Data atau informasi yang dipe-roleh dapat
berbentuk informasi yang bersifat deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Informasi
deskriptif adalah gambaran lengkap tentang keadaan obyek yang diteliti.
Informasi komparatif adalah gambaran informasi lengkap tentang perbedaan atau
persamaan gejala pada obyek yang diteliti. Dan informasi asosiatif adalah
gambaran informasi lengkap tentang hubungan antara variabel satu dengan gejala
lainnya.
Setiap proses pengum-pulan data dilakukan melalui lima tahapan. Setelah
peneliti memasuki obyek penelitian atau sering disebut sebagai situasi sosial
(yang terdiri atas tempat, aktor/pelaku/ orang-orang dan aktivitas), peneliti
berfikir apa yang akan ditanyakan (1) Setelah ber-fikir sehingga menemukan apa
yang akan ditanyakan, maka peneliti selanjutnya ber-tanya pada orang-orang
yang dijumpai pada tempat tersebut (2) Setelah pertanyaan diberi jawaban, maka
peneliti selanjutnya akan menganalisis apakah jawaban yang dibe-rikan itu betul
atau tidak (3) Kalau jawaban atas pertanyaan dirasa betul, maka dibuat-lah
kesimpulan (4) Pada tahap ke lima, pe-neliti mencandra (5) kembali terhadap ke-
simpulan yang telah dibuat. Apakah kesim-pulan yang telah dibuat itu kredibel
atau tidak, maka untuk memastikan kesimpulan yang telah dibuat tersebut,

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


14
peneliti masuk lapangan lagi, mengulangi pertanyaan de-ngan cara dan sumber
yang berbeda, tetapi tujuan sama. Kalau kesimpulan telah diya-kini memiliki
kredibilitas yang tinggi, maka pengumpulan data dinyatakan selesai (Sugiyono,
2015)

 Kapan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Digunakan


Antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif tidak perlu dipertentangkan,
karena sa-ling melengkapi dan masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan.
Berikut dikemukakan kapan sebaiknya kedua metode tersebut digunakan (Sugiyono,
2015)
a. Penggunaan Metode Kuantitatif
Sebelumnya telah dikemukakan bahwa, me-tode kuantitatif meliputi metode
survey dan eksperimen. Metode ini digunakan (Sugiyono, 2015):
1) Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah
adalah merupakan penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang
terjadi, antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara
rencana dengan pelak-sanaan. Dalam menyusun proposal penelitian, masalah
ini harus ditunjukkan de-ngan data, baik data hasil penelitian sendiri maupun

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


15
dokumentasi. Misalnya akan meneliti kemiskinan, maka data orang miskin
sebagai masalah harus ditunjukkan.
2) Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi.
Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan informasi
yang luas tetapi tidak mendalam. Bila populasi terlalu luas, maka peneliti
dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.
3) Bila ingin diketahui pengaruh perlakuan/ treatment tertentu terhadap yang
lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen pa-ling cocok digunakan.
Misalnya pengaruh jamu tertentu terhadap derajat kesehatan.
4) Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian
dapat ber-bentuk hipotesis deskriptif, komparatif dan asosiatif.
5) Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena
yang empiris dan dapat diukur. Misalnya ingin menge-tahui IQ anak-anak
dari masyarakat tertentu, maka dilakukan pengukuran dengan tes IQ.
6) Bila ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas
pengetahuan, teori dan produk tertentu.

b. Penggunaan Metode Kualitatif

Metode kualitatif digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila


dibandingkan dengan metode kuantitatif. Berikut ini dikemukakan kapan metode
kualitatif digunakan (Sugiyono, 2015).

1) Bila masalah penelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkin


masih gelap. Kondisi semacam ini cocok diteliti dengan metode kualitatif,
karena peneliti kualitatif akan langsung masuk ke obyek, melakukan
penjelajahan dengan grant tour question, sehingga masalah akan dapat
ditemukan de-ngan jelas. Melalui penelitian model ini, pe-neliti akan
melakukan eksplorasi terhadap suatu obyek. Ibarat orang akan mencari sumber
minyak, tambang emas dan lainnya.
2) Untuk memahami makna di balik data yang tampak. Gejala sosial sering tidak
bisa dipa-hami berdasarkan apa yang diucapkan dan dilakukan orang. Setiap
ucapan dan tin-dakan orang sering mempunyai makna ter-tentu. Sebagai
contoh, orang yang mena-ngis, tertawa, cemberut, mengedipkan mata,
memiliki makna tertentu. Sering terjadi, menurut penelitian kuantitatif benar,
tetapi justru menjadi tanda tanya menurut pe-nelitian kualitatif. Sebagai
contoh ada 99 orang menyatakan A adalah pencuri, se-dangkan satu orang

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


16
menyatakan tidak. Mungkin yang satu ini adalah yang benar. Data untuk
mencari makna dari setiap per-buatan tersebut hanya cocok diteliti dengan
metode kualitatif, dengan teknik wawancara mendalam dan observasi berperan
serta dan dokumentasi.
3) Untuk memahami interaksi sosial. Interaksi sosial yang kompleks hanya dapat
diurai kalau peneliti melakukan penelitian dengan metode kualitatif dengan
cara ikut berperan serta, wawancara mendalam terhadap inter-aksi sosial
tersebut. Dengan demikian akan dapat ditemukan pola-pola hubungan yang
jelas.
4) Memahami perasaan orang. Perasaan orang sulit dimengerti kalau tidak diteliti
dengan metode kualitatif, dengan teknik pengum-pulan data wawancara
mendalam, dan ob-servasi berperan serta untuk ikut merasakan apa yang
dirasakan orang tersebut.
5) Untuk mengembangkan teori. Metode kualitatif cocok digunakan untuk
mengem-bangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh di
lapangan. Teori yang de-mikian dibangun melalui grounded research. Dengan
metode kualitatif peneliti pada tahap awalnya melakukan penje-lajahan,
selanjutnya melakukan pengumpul-an data yang mendalam sehingga dapat
ditemukan hipotesis yang berupa hubungan antar gejala. Hipotesis tersebut
selanjutnya diverifikasi dengan pengumpulan data yang lebih mendalam. Bila
hipotesis terbukti, maka akan menjadi tesis atau teori.
6) Untuk memastikan kebenaran data. Data sosial sering sulit dipastikan
kebenarannya. Dengan metode kualitatif, melalui teknik pengumpulan data
secara trianggulasi/ ga-bungan (karena dengan teknik pengumpul-an data
tertentu belum dapat menemukan apa yang dituju, maka ganti teknik lain),
maka kepastian data akan lebih terjamin. Selain itu dengan metode kualitatif,
data yang diperoleh diuji kredibilitasnya, dan penelitian berakhir setelah data
itu jenuh, maka kepastian data akan dapat diperoleh. Ibarat mencari siapa yang
menjadi pro-vokator, maka sebelum ditemukan siapa provokator yang
dimaksud maka penelitian belum dinyatakan selesai.
7) Meneliti sejarah perkembangan. Sejarah perkembangan kehidupan seseorang
tokoh atau masyarakat akan dapat dilacak melalui metode kualitatif. Dengan
menggunakan data dokumentasi, wawancara mendalam kepada pelaku atau
orang yang dipandang tahu sejarah perkembangan kehidupan se-seorang.
Misalnya akan meneliti sejarah perkembangan kehidupan raja-raja di Jawa,

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


17
sejarah perkembangan masyarakat tertentu sehingga masyarakat tersebut
menjadi mas-yarakat yang etos kerjanya tinggi atau rendah. Penelitian
perkembangan ini juga bisa dilakukan di bidang pertanian, bidang teknik,
seperti meneliti kinerja mobil dan sejenisnya, dengan melakukan pengamatan
secara terus yang dibantu kamera terhadap proses tumbuh dan berkembangnya
bunga tertentu, atau mesin mobil tertentu.

 Perpaduan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Penelitian


Penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif belum
banyak dilakukan. Namun, perkembangan ilmu-ilmu sosial khususnya pendidikan
telah membuka kesempatan untuk memunculkan perrpaduan antara keduanya. Strauss
& Corbin (1990), dalam Hayati (2015) menyatakan bahwa suatu penelitian dapat saja
memakai metodologi yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Salah satu jenis penelitian yang memerlukan penggabungan pendekatan kualitatif dan
kuantitatif adalah penelitian-penelitiankebijakan (Brannen, 1997).
Brannen (1997) mencetuskan tiga acuan pokok dalam memadukan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif. Ketiga acuan itu adalah:
1) Penelitian kuantitatif sebagai fasilisator penelitian kualitatif; maksuddari acuan
ini adalah:
a. Penelitian kuantitatif memberikan data latar belakang yang terukur untuk
mengaitkannya dengan studi-studi skala kecil. Ini seringkali diambil dari data-
data statistik atau sensus.
b. Survei kuantitatif dapat memberikan landasan bagi data kasus dari kelompok-
kelompok tertentu yang akan melandasi studi intensif dalam penelitian
kualitatif.
2) Penelitian kualitatif sebagai fasilitator penelitian kuantitatif; berarti penelitian
kualitatif berperan sebagai penunjang. Penelitian kualitatif mempunyai fungsi
tertentu yaitu: sebagai sumber hipotesis yang akan diuji secara kuantitatif;
sebagai pengembang dan pemandu instrument-instrumen penelitian kuantitatif
seperti kuesioner, skala dan indeks pengukuran; serta sebagai pembanding
temuan-temuan kuantitatif.
3) Penelitian yang mempergunakan kedua pendekatan dengan bobot sama; kedua
pendekatan dilakukan untuk saling mengisi kesenjangan yang muncul pada saat
survei lapangan, analisis, atau pelaporan. Gabungan antara keduanya dapat
berakhir dengan pemisahan penelitian kualitatif dan kuantitatif tetapi tetap
berhubungan.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


18
Dalam penelitian pendidikan sering dijumpai dua pendekatan digunakan bersama-
sama terhadap masalah yang sama. Terkait dengan hal tersebut, Sudjana (2001) dalam
Hayati (2015), berpendapat bahwa pendekatan tersebut sebenarnya bertolak dari
asumsi yang berbeda, sehingga untuk persoalan yang sama sulit menggunakan metode
dengan asumsi yang berbeda. Namun pemecahan masalah melalui studi yang berbeda
cukup bermanfaat dalam memperkaya alternatif pemecahan masalahnya, sehingga
lebih komprehensif sifatnya. Sering ditemukan pemaparan data kualitatif
menggunakan statistik deskriptif serta temuan kualitatif dan kuantitatif disajikan
bersama-sama. Beberapa peneliti kadang-kadang berusaha menggunakan kedua
pendekatan tersebut untuk masalah yang sama, namun seringkali mengalami
kerancuan dalam penarikan kesimpulannya.

d) Langkah-langkah Metedologi Penelitian


Menurut DT Kependidikan (2008), terdapat empat langkah pokok metode
ilmiah yang akan mendasari langkah-langkah penelitian yaitu:
1. Merumuskan masalah; mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Tanpa
adanya masalah tidak akan terjadi penelitian, karena penelitian dilakukan untuk
memecahkan masalah. Rumusan masalah penelitian pada umumnya diajukan
dalam bentuk pertanyaan.
2. Mengajukan hipotesis; mengemukakan jawaban sementara (masih bersifat
dugaan) atas pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Hipotesis penelitian dapat
diperoleh dengan mengkaji berbagai teori berkaitan dengan bidang ilmu yang
dijadikan dasar dalam perumusan masalah. Peneliti menelusuri berbagai konsep,
prinsip, generalisasi dari sejumlah literatur, jurnal dan sumber lain berkaitan
dengan masalah yang diteliti. Kajian terhadap teori merupakan dasar dalam
merumuskan kerangka berpikir sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai
alternatif jawaban atas masalah.
3. Verifikasi data; mengumpulkan data secara empiris kemudian mengolah dan
menganalisis data untuk menguji kebenaran hipotesis. Jenis data yang diperlukan
diarahkan oleh makna yang tersirat dalam rumusan hipotesis. Data empiris yang
diperlukan adalah data yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam hal
ini, peneliti harus menentukan jenis data, dari mana data diperoleh, serta teknik
untuk memperoleh data. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan cara-
cara tertentu yang memenuhi kesahihan dan keterandalan sebagai bahan untuk
menguji hipotesis.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


19
4. Menarik kesimpulan; menentukan jawaban-jawaban definitif atas setiap
pertanyaan yang diajukan (menerima atau menolak hipotesis). Hasil uji hipotesis
adalah temuan penelitian atau hasil penelitian. Temuan penelitian dibahas dan
disintesiskan kemudian disimpulkan. Kesimpulan merupakan adalah jawaban atas
rumusan masalah penelitian yang disusun dalam bentuk proposisi atau pernyataan
yang telah teruji kebenarannya. Kesimpulan merupakan jawaban terhadap
pertanyaan ilmiah yang telah dibuat sebelumnya, dengan berdasarkan pada teori
dan data yang telah diperoleh. Sejalan dengan hal tersebut, Nurhayati B (2017)
berpendapat bahwa, kesimpulan merupakan jawaban terhadappertanyaan ilmiah
yang telah dibuat sebelumnya, denganberdasarkan pada teori dan data yang telah
diperoleh.
Menurut Rawan Prasetya (2007), ada tujuh langkah yang terdapat dalam prosedur
penelitian ilmiah yaitu:
(1) Perumusan masalah penelitian, termasuk:
a. Penjelasan (rasional) tentang latar belakang permasalahan
b. Formulasi masalah penelitian, dalam bentuk hipotesis ataupertanyaan;
b. Manfaat penelitian.
(2) Pengkajian kepustakaan (studi literatur);
(3) Perumusan metodologi penelitian, termasuk:
a. perumusan metode penelitian;
b. penjelasan tentang sampel dan prosedur sampling;
c. penjelasan tentang instrumen tentang pengumpulan data;
d. rencana analisis data;
e. definisi operasional variabel.
(4) Pengumpulan data;
(5) Proses dan analisis data;
(6) Pembahasan temuan;
(7) Pengambilan kesimpulan.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


20
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Muhammad Nurul. 2016. Makna Metedeologi Penelitian


http://eprints.umsida.ac.id/1497/1/MAKNA%20METEDEOLOGI
%20PENELITIAN.pdf. diakses pada tanggal 7 Juli 2018
DT KEPENDIDIKAN. 2008. Pendekatan, Jenis, dan Metode. Penelitian Pendidikan
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PENELITIAN%20PENDIDIKAN.pdf.
diakses pada tanggal 7 Juli 2018
Hayati, Naila. 2015. Pemilihan Metode Yang Tepat dalam Penelitian (Metode
Kuantitatif Dan Metode Kualitatif). Jurnal Tarbiyah al-Awlad, Volume IV, Edisi
1, hlm. 345-357. [Online] Tersedia:
https://journal.tarbiyahiainib.ac.id/index.php/awlad/article/viewFile/196/166.
diakses pada tanggal 7 Juli 2018

Nurhayati B, Abdul Hadis, Faisal. 2017. Strategi Meningkatkan Keterampilan Proses


Sains Mahasiswa Sebagai Inovasi Perkuliahan Biologi Dasar. Simposium
Nasional MIPA Universitas Negeri Makassar, 24 Februari 2017. MIPA Open &
Exposition 2017. [Online] Tersedia:
http://eprints.unm.ac.id/3808/1/NURHAYATI_B_2017_08_05_09_00_32_087-
3.pdf . diakses pada tanggal 9 Juli 2018

Rawan, Prasetya. 2007. Pengantar Metode Penelitaian.


http://repository.ut.ac.id/4195/1/MMPI5202-M1.pdf. diakses pada tanggal 7 Juli
2018

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian dan Pengembangan. Alfabeta: Bandung.

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


21
Suryana. 2010. Metodologi penelitiuan.
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/23731890cdc8189968cf
15105c651573.pdf. diakses pada tanggal 7 Juli 2018.

Wimeta. 2016. Metodologi Penelitian. http://eprints.umsida.ac.id/1518/1/MAKNA


%20METODOLOGI%20DALAM%20PENELITIAN%20baru%20bikin.pdf.
diakses pada tanggal 7 Juli 2018

Dasar-Dasar Metedologi Penelitian


22