Anda di halaman 1dari 24

Etika Profesi Kedokteran

Putu Yoana Alvitasari 10.2008.061


Mahasiswi semester VII
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510 (www.ukrida.ac.id)
JAKARTA 2012

ABSTRAK
Secara umum, seseorang dianggap remaja antara 10-19 tahun, sehingga
kesehatan reproduksi remaja memperhatikan kebutuhan fisik, sosial, dan emosional.
Belakangan ini, banyak terjadi kasus-kasus seks bebas di kalangan remaja. Hal ini
terjadi karena kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap anaknya dan kurangnya
edukasi mengenai seks pada usia dini dan tentang kesehatan reproduksi. Sehingga, pada
kasus seks bebas dikalangan remaja banyak memilih alternatif menggunakan alat
kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Remaja memiliki masalah yang berbeda dari
orang dewasa, sehingga program kesehatan seksual dan keluarga berencana yang
ditujukan kepada kaum muda harus dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan
mereka, dan bukan diadaptasi dari program yang sudah ada yang ditujukan kepada
orang dewasa. Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alat kontrasepsi, tetapi pada
beberapa kasus dimana terjadi remaja telah seksual aktif , maka diperlukan konseling
tentang kontrasepsi secara dini pada remaja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan pada remaja. Jika mendapatkan kasus seperti itu, sebagai seorang dokter
yang baik harus sesuai dengan prinsip-prinsip etika kedokteran dan peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas, kewajiban dan tata cara dalam
melaksanakan profesi kedokteran.

Kata kunci : remaja, seks, kontrasepsi, etika kedokteran

Putu Yoana Alvitasari / 10.2008.061 / A-5 / putu.yoana@gmail.com


1
PENDAHULUAN

Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat
luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent,
wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek
kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh
karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya
norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika. 1
Dengan menyandang Profesi Kedokteran, segala tindakan yang dilakukan dokter
didasari oleh Etika dan Moral profesi kedokteran. Sebagai dokter, kita harus tahu apa saja
hak-hak pasien yang tidak bisa kita langgar. Tindakan kita pun untuk menangani segala
pasien tidak boleh merugikan pasien atau mengambil keuntungan dari pasien. Apabila
dokter melanggar etika dan moral tersebut ada aspek hukum yang berlaku sesuai dengan
tindakan yang dilakukannya.
Untuk itu sebagai dokter penting mengetahui prinsip-prinsip etika kedokteran,
hubungan dokter-pasien. Sebagai seorang dokter harus bisa tulus menjalani tugasnya.
Dalam hatinya selalu menanamkan prinsip untuk memberi tanpa mengaharapkan pamrih.
Untuk itu rangkuman ini dibuat agar kita pembaca dapat mengerti etika dan moral profesi
di dunia kedokteran.
Didalam makalah ini akan membahas tentang etika kedokteran, hukum-hukum
tentang kedokteran, informed consent, edukasi, pengertian mengenai IUD yang mengenai
kasus seorang wanita muda umur 16 tahun ingin memasang IUD ke tempat praktek
dokter.

ISI
Kasus
Seorang perempuan muda berusia 16 tahun datang ke tempat praktek dokter. Ia
berterus terang bahwa ia telah memiliki pacar yang merupakan kakak kelasnya dan
hubungannya telah ”jauh” hingga ketingkat persetubuhan. Kedua orang tua mereka tidak
mengetahui hubungan mereka karena mereka lakukan pada jam-jam sekolah. Sang
perempuan takut kalau nantinya menjadi hamil, tapi ia juga takut untuk memutuskan

2
hubungannya dengan sang pacar. Ia meminta dokter untuk dapat memasang IUD pada
rahimnya agar ia tidak hamil. Sang dokter kebingungan dalam keadaan ini, ia berpikir
tentang baik-buruknya ia memasang IUD pada sang perempuan.
Pengembangan kasus kelompok A-5
Ada seorang wanita berumur 16 tahun datang ke dokter untuk memasang IUD.
Menurut pengakuannya dia melakukan antara suka dengan suka bersama pacarnya yang
merupakan kakak kelasnya, namun dokter yang diminta untuk memasang IUD (alat
kontrasepsi) itu menolaknya karena dianggap masih terlalu kecil dan perlu konfirmasi
dari orang tuanya sehingga anak tersebut menjadi sangat marah terhadap dokter tersebut.
Dan mengancam untuk menuntut dokter tersebut karena telah melanggar hak dari pasien.

Pembahasan
Dalam profesi kedokteran, segala tindakan yang dilakukan dokter didasari oleh
etika dan moral profesi kedokteran. Untuk itu sebagai dokter penting mengetahui prinsip-
prinsip etika kedokteran dalam hubungan dokter-pasien. Di dalam pembahasan ini akan
memuat kasus yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip kaidah dasar tersebut, seperti
beneficence (mengutamakan kebaikan pasien), non-maleficence (tidak merugikan),
atonomy (menghormati hak pasien) dan justice (meniadakan diskriminasi).1
Anamnesis dan Pemeriksaan
Sebelumnya, saat pasien datang tentunya dokter harus melakukan anamnesis dan
pemeriksaan terlebih dahulu. Hal ini wajib dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam
melakukan tindakan yang nantinya akan merugikan pasien tersebut (sesuai dengan kaidah
dasar beneficence dan non-maleficence). Pada anamnesis dalam kasus ini yang perlu
ditanyakan :
 Identitas pasien, seperti nama pasien, nama keluarga terdekat, alamat, umur, agama,
tanggal lahir dan tempat lahir, status perkawinan, pendidikan terakhir dan suku
bangsa dan juga tanyakan keluhan / kepentingan pasien tersebut datang.
 Riwayat sosial meliputi hubungan pasien, aktivitas sehari-hari, apakah mengambil
obat-obatan.
 Riwayat penyakit dahulu yaitu apakah pernah alami penyakit kandungan dan penyakit
kelamin.

3
 Riwayat persetubuhan meliputi pernah bersetubuh atau tidak, persetubuhan yang
terakhir dan apakah menggunakan kondom.
 Riwayat ginekologi, seperti siklus haid, ditanyakan kapan menarche dan hari pertama
haid terakhir, apakah haid teratur, berapa lama kitar haid, berapa banyak perdarahan
haid, apakah nyeri haid.
 Riwayat obstetric; pernah hamil atau tidak, pernah alami keguguran atau tidak,
pemakaian alat kontrasepsi.2
Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien dalam kasus ini yaitu pemeriksaan
keadaan umum pasien dan pemeriksaan khusus untuk mengetahui apakah dapat
dilakukan pemasangan IUD (sesuai dengan ketentuan siapa yang boleh atau siapa yang
tidak boleh menggunakan IUD), yaitu: pemeriksaan perkembangan pubertas pasien,
pemeriksaan ginekologi, dan tes kehamilan yang sering digunakan memakai test kit.
Informed concent
Setelah anamnesis dan pemeriksaan, sebelum melakukan tindakan dokter juga
harus melakukan informed concent. Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008
dan UU no 29 th 2004 Pasal 45 ayat 1 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran
KKI tahun 2008, Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang
diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara
lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Tujuan Informed Consent adalah memberikan perlindungan kepada pasien serta memberi
perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif.1
Pada informed concent, dokter harus dapat menjelaskan: diagnosis dan tata cara
tindakan medis (pasien tidak boleh dalam keadaan hamil), tujuan pemasangan IUD,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dari pemasangan IUD, alternatif tindakan
lain dan risikonya (akibat pemasangan IUD dan risiko lain yang tidak dapat
diperkirakan), prognosis terhadap pemasangan IUD, dan yang terutama pada kasus ini
yaitu alasan penolakan pemasangan IUD agar pasien yang memberikan ancaman kepada
dokter diharapkan dapat mengerti.
Dalam kasus ini dokter harus menginformasikan aspek baik dan buruk pada
pemasangan IUD, legalitas sang perempuan, kemungkinan jalan lain selain pemasangan
IUD contohnya musyawarah pasangan tersebut kepada kedua orang tua nya kecuali jika

4
terdapat daya paksa seperti diancam akan dibunuh, sesuai dengan pasal 48 KUHP
dokter / tenaga medis tidak dipidana.
Berdasarkan etika profesi kedokteran dan moral dan aspek hukum serta dampak
dari pemasangan IUD pada pasien yang masih di bawah umur dan belum menikah (sesuai
dengan kaidah beneficence yaitu mengutamakan kebaikan pasien), disini dokter menolak
untuk melakukan pemasangan IUD.
Peran Dokter dan Aspek Hukum
Edukasi
Sebagai seorang dokter jika ada pasien perempuan muda berumur 16 datang ke
dokter dan ingin memasang IUD, karena takut hamil tanpa ada orang tua atau walinya
dan belum menikah dokter menolak untuk memasang IUD. Kemudian dokter tersebut
sebaiknya memberikan nasihat-nasihat kepada perempuan muda tersebut atau
memberikan edukasi sebagai berikut:
 Memberikan pengertian tentang akibat hubungan persetubuhan diluar nikah baik
dibidang kesehatan.
 Memberi tahu penyakit-penyakit yang dapat menular akibat hubungan seksual.
 Menasihati bahwa hubungan seksual diluar pernikahan dilarang agama.
 Memberitahu, kepada pasien untuk jangan takut untuk menolak persetubuhan jika
sang kekasih ingin berhubungan, demi kesehatan anak perempuan tersebut. Karena
takutnya sang pacar menderita penyakit hubungan seksual.
Jika, seorang dokter telah memberikan edukasi kepada pasien tersebut, dokter
juga tidak boleh memaksakan kehendaknya. Karena semua keputusan itu kembali kepada
pasien. Pasien mau menerima edukasi dari dokter atau tidak. Sebagai dokter kita hanya
bisa menyarankan atau memberikan edukasi yang terbaik buat pasien. Hal ini sesuai
dengan kaidah autonomy yaitu menghormati hak pasien.
Disini dokter diminta untuk tidak menghakimi dan menekan jiwa pasien. Namun
dokter harus dapat memberikan solusi dan jalan penengah kepada pasien sehingga pasien
dapat menerima keputusan dokter.
Aspek hukum yang terkait dengan dokter dalam kasus ini, yaitu: pasal 1 sampai
dengan pasal 6 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989 berkaitan dengan persetujuan
tindakan medik atas dasar penjelasan sebelumnya, pasal 8 dan pasal 10 Permenkes No

5
585/MenKes/Per/IX/1989 berkaitan dengan siapa yang berhak memberikan persetujuan
seperti di dalam kasus jika pasien dibawah umur 21 tahun maka yang memberi
persetujuan harus walinya (orang tuanya), pasal 12 dan pasal 13 Permenkes No
585/MenKes/Per/IX/1989 berkaitan dengan tanggung jawab dokter atas persetujuan
tindakan medik tersebut dan sanksinya bila melanggar.3
Aspek hukum lain yang juga terkait dalam kasus ini adalah pasal 53 UU
Kesehatan, yang isinya yaitu bahwa tenaga kesehatan dalam kasus ini dokter berhak
memperoleh perlindungan hukum apabila melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai
dengan standar profesinya.3
Jadi dalam kasus ini meskipun dokter menolak melakukan pemsangan IUD
dimana hal ini bertentangan dengan kaidah autonomy yang berkaitan dengan hak pasien
dalam menentukan pilihan tetapi karena alasan dokter yang sesuai dengan kaidah
beneficence yaitu pasien yang belum cukup umur dan belum pernah hamil tidak sesuai
dengan standar profesi pemasangan IUD, dimana mengutamakan kebakan pasien maka
dapat diberlakukan pasal 53 UU Kesehatan tersebut.
Peran Orang Tua dan Aspek Hukum
Peran orang tua/wali sangat penting dalam perkembangan anak dan
pertumbuhannya. Orang tua dapat mengarahkan perkembangan anak, sehingga anak
tersebut dapat tumbuh dengan baik. Misalnya orang tua sejak usia dini, menanamkan rasa
berharganya diri anak, mengajarkan rasa kasih sayang terhadap diri sendiri dan
lingkungan, dan menanamkan pentingnya kehidupan beragama.
Peran orang tua dalam perkembangan psikologi anak juga sangat berperan.
Perkembangan psikologi yang positif penting dalam perkembangannya. Perkembangan
psikologi yang baik dapat diamati dalam pemikiran mental yang sehat, pengukuhan
egoisme, harga diri yang tinggi, kepekaan terhadap kebebasan dalam mengadaptasikan
diri dengan lingkungannya.
Perkembangan psikologi yang kurang baik dapat diamati pada harga diri yang
rendah dan juga pada kemunculan pelbagai masalah tingkah laku dan mental. Pentingnya
perkembangan psikologi ini jelas karena perngaruh yang sangat besar bagi keberhasilan,
hubungan sosial, dan kesejahteraan seseorang individu pada masa depannya. Contoh
peran orang tua adalah dalam kesehatan emosi, kepercayaan diri, perilaku positif,

6
kenakalan, perilaku seksual, kehamilan remaja putri, penggunaan rokok, dan penggunaan
obat terlarang. Dalam kasus ini berkaitan dengan perilaku seksual.
Selain itu peran orang tua dalam kehidupan rohani anak juga sangat besar
perannya. Dengan kehidupan rohani yang baik, maka seorang anak akan lebih kuat dalam
menjalani pergaulan sehari-hari. Misalnya tidak tergoda untuk merokok, memakai obat
terlarang, dan melakukan seks diluar nikah. Dalam kasus ini berkaitan dengan perilaku
seksual.
Pendidikan seksual juga sangat penting dalam perkembangan anak menjelang
remaja. Orang tua seharusnya memberikan pelajaran seks kepada anak, misalnya
memberi tahu kepada anak daerah-daerah yang sensitif sehingga tidak ada orang yang
boleh menyentuhnya. Dengan pendidikan seks yang diberikan orang tua kepada anaknya,
maka anak menjadi lebih memahami dan mengerti, sehingga tidak mudah jatuh kedalam
kehamilan diluar pernikahan.4
Aspek hukum yang terkait dengan orang tua dalam kasus ini apabila diketahui
orang tua dengan sengaja memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya yaitu
pasal 295 KUHP.3
Aspek Hukum terhadap pacar
Dalam kasus ini pacar dari pasien tersebut dapat dikenakan pasal 287 KUHP
karena melakukan persetubuhan di luar perkawinan dengan anak dibawah umur atau
belum pantas dikawin.3

Kesimpulan
Pada kasus, dikatakan seorang perempuan berumur 16 tahun datang meminta
dipasangkan IUD , takut hamil akibat persetubuhan dengan pacarnya. Sebelumnya harus
dilakukan pemeriksaan medis dan laboratorium pada perempuan tersebut, untuk
mengetahui tidak ditemukannya tanda-tanda kehamilan pada dirinya.
Dokter juga menerapkan prinsip-prinsip Etika Kedokteran untuk melakukan
Informed Consent sebelum melakukan tindakan, dokter memikirkan keputusannya untuk
memasang alat IUD itu dengan memperhatikan banyaknya keuntungan dalam pemakaian
alat IUD itu daripada kerugian yang akan ditimbulkan. Ini berdasarkan oleh prinsip moral

7
beneficence, dimana dokter harus memikirkan yang terbaik untuk kesehatan pasiennya.
Dengan mempertimbangkan keadaan pasien sesuai kasus yaitu berumur 16 tahun.
Dokter juga harus menjelaskan kepada pasien keuntungan dan kerugian dari
tindakan medis yang akan dilakukan itu kepada pasiennya dan memberikan kesempatan
kepada pasien untuk mengambil keputusan berdasarkan pemikiran si pasien sendiri. Hal
ini berdasarkan kepada prinsip moral autonomy dimana pasien boleh mengambil
keputusannya sendiri. Namun semua keputusan dokter dan pasien harus juga didasarkan
terhadap hukum yang berlaku, harus dipertimbangkan apakah keputusan itu melanggar
hukum yang ada atau tidak karena akan memperberat keadaan buruk jika sudah terjadi
lebih jauh.
Perempuan muda yang berusia 16 tahun yang telah melakukan persetubuhan dan
ingin memakai IUD kepada dokter supaya tidak hamil. Tetapi sebagai dokter kita wajib
menolak karena pasien tersebut masih dibawah umur dan pergi ke dokter tanpa orang tua
atau walinya dan belum menikah. Jika dokter tersebut memasang IUD berarti dokter telah
melanggar hukum yang diberlakukan kepada dokter mengenai prosedur tindakan medis.
Dokter tidak boleh memasang IUD kepada anak perempuan tersebut tanpa
dilakukannya Informed Consent dan dokter harus memberikan edukasi kepada pasien
mengenai pendidikan seks sesuai usianya dan juga memberikan pandangan baik
buruknya persetubuhan diluar pernikahan dibidang kesehatan berkaitan dengan kesehatan
reproduksi. Tetapi dokter tersebut tidak boleh memaksa dan hanya bisa memberi edukasi
semuanya itu tergantung kepada pasien tersebut mau mengikuti edukasi dokter atau tidak.
Berdasarkan hal tersebut dokter tidak melakukan pemasangan IUD.

Tinjauan Pustaka
Kewajiban Moral dan Etika Profesi Kedokteran
Etika profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam
bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh
penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu
dalam bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling
banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM.
Sumpah tersebut berisikan kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap,
8
atau semacam code of conduct bagi dokter.World Medical Association dalam Deklarasi
Geneva pada tahun 1968 menelorkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran
Internasional.
Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum,
kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri
sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada
Kode Etik Kedokteran Internasional. Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran
juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang
dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-
buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi
moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat
keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di
bidang medis.
Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran, keputusan
hendaknya mempertimbangkan Etika Profesi Kedokteran. Etika adalah disiplin ilmu yang
mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang
individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk, benar-salah dari sisi
moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya.
Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan
teleologi. Deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat
dari perbuatannya itu sendiri sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk
tindakan dengan melihat hasil atau akibatnya. Deontologi lebih mendasarkan kepada
ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teologi lebih kearah penalaran (reasoning)
dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat.1
Beauchamp and Childress menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan
etik diperlukan 4 kaidah dasar moral. Keempat kaidah dasar moral itu adalah:
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak
otonom pasien. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed
consent.

9
2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan
ke kebaikan pasien. Dalam hal ini tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja,
melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi
buruknya.
3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien.
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya.1
Pembuatan keputusan etik terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan
dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen,
Siegler, dan Winslade mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang
esensial dalam pelayanan klinik, yaitu:
1. Medical indication. Pada topic ini dimasukkan semua prosedur diagnostic dan
terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian
aspek indikasi medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kadiah
beneficence dan non-maleficence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa
dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada informed
consent.
2. Patient preferences. Pada topic ini kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien
tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah
autonomy. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat
volunteer sikap dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat
keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien, dan
lain-lain.
3. Quality of life. Topic ini merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran,
yaitu, memperbaiki, menjaga, atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa,
dan bagaiman melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar
prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, non-maleficence, dan autonomy.
4. Contextual features. Dalam topic ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non
medis yang mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama,
budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya, dan faktor hukum.1

10
Selain 4 prinsip atau kaidah dasar moral tersebut, dikenal prinsip "turunan"nya
dengan nilai-nilai seperti :
 Berani berkata benar/kejujuran (veracity) : truth telling
 Kesetiaan (fidelity) : keep promise
 Privacy (dari otonomi dan beneficence)
 Konfidensialitas.
 Menghormati kontrak (perjanjian)
 Ketulusan (honesty) : tidak menyesatkan informasi kepada pasien atau pihak ketiga
seperti perusahaan asuransi, pemerintah, dll.1
Kesadaran moral dan tanggungjawab
Kesadaran moral atau kesadaran akan kewajiban mutlak dan tanpa syarat adalah
suara hati (insan kamil) yang muncul/tampak atau menyatakan diri secara unik/khas
dokter sebagai orang per orang. Melalui "jembatan" rasionalitas (kemasuk-akalan), suara
hati dokter dapat berubah menjadi tanggungjawab.
Unsur kesadaran moral dokter adalah sebagai berikut :
 Kewajiban mutlak yang membebani dokter
 Pelaksanaan kewajiban mengikat setiap dokter
 Kewajiban tersebut masuk akal dan layak disetujui
 Mengambil keputusan melaksanakan kewajiban tadi atau tidak adalah tanggung
jawab dokter tersebut
 Dokter tadi sekaligus kemudian menentukan nilai dirinya sendiri
Struktur kesadaran moral dokter ialah :
 Kewajiban moral bersifat mutlak
 Rasionalitas
 Tanggungjawab subyektif dokter tersebut
Dengan demikian, ketika suara hati dokter mempertimbangkan suatu pernyataan
moral (atas dasar kenyataan obyektif yang disuarakan dalam hati/internalisasi sebagai
omongan "saya" atau "orang pertama") tertentu dengan memutuskan secara benar
(=bertindak etis) atau keliru (=ada kemungkinan bertindak tidak etis, tergantung
situasinya), disitu otomatis melekat tanggung jawab dari dokter tersebut. Demikian pula

11
ketika suara hati dokter tadi menilai perilaku (professional conduct/misconduct) sejawat
lainnya sebagai baik-buruk, jahat-suci, bertanggungjawab-biadab, pantas-layak ditegur,
dll sebagai penilaian moral tertentu, cocok atau tidak dengan nilai-nilai yang dianutnya
(termasuk nilai umum profesi).1
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
Di Indonesia, kode etik kedokteran sewajarnya berlandaskan etik dan norma-
norma yang mengatur hubungan antar manusia, yang asas-asasnya terdapat dalam
falsafah Pancasila, sebagai landasan idiil dan UUD 1945 sebagai landasan strukturil.
Dengan maksud untuk lebih nyata mewujudkan kesungguhan dan keluhuran ilmu
kedokteran, maka para dokter baik yang tergabung dalam perhimpunan profesi Ikatan
Dokter Indonesia (IDI), maupun secara fungsional terikat dalam organisasi pelayanan,
pendidikan dan penelitian telah menerima Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI),
yang dirumuskan dalam pasal-pasal sebagai berikut :
Kewajiban umum
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan
pasien.
Pasal 6

12
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,
dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan
dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien
Pasal 7d
Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk
insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta
berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.
Kewajiban dokter terhadap pasien
Pasal 10

13
Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk
pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
Kewajiban dokter terhadap teman sejawat
Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.
Kewajiban dokter terhadap diri sendiri
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/kesehatan.5

Informed Consent
Di Indonesia informed consent telah memperoleh justifikasi yuridis melalui
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/1989. Persetujuan tindakan medik

14
(informed consent) dalam praktik banyak mengalami kendala, karena faktor bahasa,
faktor campur tangan keluarga atau pihak ketiga dalam hal memberikan persetujuan,
faktor perbedaan kepentingan antara dokter dan pasien, dan faktor lainnya.
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif
antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa
yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed consent dilihat dari aspek hukum
bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan
sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain.
Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasal
45 ayat 1 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008, Informed
Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga
terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan
kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Tujuan Informed Consent
adalah memberikan perlindungan kepada pasien serta memberi perlindungan hukum
kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif. Consent dapat diberikan:
 Dinyatakan (expressed)
- Dinyatakan secara lisan.
- Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan
bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang berisiko
mempengaruhi kesehatan pasien secara bermakna. Permenkes tentang Persetujuan
Tindakan Medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus
memperoleh persetujuan tertulis.
 Tidak dinyatakan (implied)
Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan
tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini
tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam
praktek sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan
mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya.
Informed consent memiliki lingkup terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan
sebelumnya, tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan
dilakukan. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat
darurat dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya.

15
Proxy-consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu
sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi,
dan consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien
apabila ia mampu memberikannya (baik buat pasien, bukan baik buat orang banyak).
Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy-consent adalah suami/isteri, anak,
orang tua, saudara kandung dan lain-lain.
Proxy-consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan
ketat. Suatu kasus telah membuka mata orang Indonesia betapa riskannya proxy-consent
ini, yaitu ketika seorang kakek-kakek menurut dokter yang telah mengoperasinya hanya
berdasarkan persetujuan anaknya, padahal ia tidak pernah dalam keadaan tidak sadar atau
tidak kompeten.1

Aspek Hukum
Pasal 1 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
a. Persetujuan tindakan medik / informed consent adalah persetujuan yang diberikan
oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang
akan dilakukan terhadap pasien tersebut;
b. Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa
diagnostik atau terapeutik;
c. Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mmpengaruhi keutuhan
jaringan tubuh;
d. Dokter adalah dokter umum / dokter spesialis dan dokter gigi / dokter gigi spesialis
yang bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik atau praktek perorangan / bersama.3
Pasal 2 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2) Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan.
3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat
informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta
resiko yang dapat ditimbulkannya.3

16
Pasal 3 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Setiap tindakan medik yang mengandung resiko tinggi harus dengan persetujuan
tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
2) Tindakan medik yang tidak termasuk sebagaimana dimaksud dalam pasal ini tidak
diperlukan persetujuan tertulis, cukup persetujuan lisan.
3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat diberikan secara nyata-nyata atau
secara diam-diam.3
Pasal 4 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada pasien, baik diminta
maupun tidak diminta.
2) Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila dokter
menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau
pasien menolak diberikan informasi.
3) Dalam hal sebagaimana dimaksud ayat(2) dokter dengan persetujuan pasien dapat
memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh
seorang perawat / paramedik lainnya sebagai saksi.3
Pasal 5 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medik
yang akan dilakukan, baik diagnostik maupun terapeutik.
2) Informasi diberikan secara lisan.
3) Informasi harus diberikan secara jujur dan benar kecuali dokter menilai bahwa hal itu
dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien.
4) Dalam hal-hal sebagaimana dimaksud ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien
dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat pasien.3
Pasal 6 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Dalam ha tindakan bedah (operasi) atau tindakan invasif lainnya, informasi harus
diberikan oleh dokter yang akan melakukan operasi itu sendiri.
2) Dalam keadaan tertentu dimana tidak ada dokter sebagaimana dimaksud ayat (1),
informasi harus diberikan oleh dokter lain dengan pengetahuan atau petunjuk dokter
yang bertanggung jawab.3

17
Pasal 8 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Persetujuan diberikan oleh pasien dewasa yang berada dalam keadaan sadar dan sehat
mental.
2) Pasien dewasa sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah yang telah berumur 21 tahun
(dua puluh satu) tahun atau telah menikah.3
Pasal 10 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
Bagi pasien di bawah umur 21 (dua puluh satu) tahun dan tidak mempunyai orang tua /
wali dan atau orang tua / wali berhalangan, perseujuan diberikan oleh keluarga terdekat
atau induk semang (guardian). 3
Pasal 12 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1) Dokter bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan tentang persetujuan tindakan
medik.
2) Pemberian persetujuan tindakan medik yang dilaksanakan di rumah sakit / klinik,
maka rumah sakit / klinik yang bersangkutan ikut bertanggung jawab. 3
Pasal 13 Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien
atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan surat ijin
prakteknya. 3
Pasal 53 UU Kesehatan
1) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya.
2) Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar
profesi dan menghormati pasien.
3) Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medik
terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang
bersangkutan.
4) Ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 3
Pasal 54 UU Kesehatan
1) Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.

18
2) Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaiama dimaksud dalam ayat
(1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.
3) Ketentuan mengenai pembentukan, tugas, fungsi, dan tata kerja MDTK ditetapkan
dengan Kepres. 3
Pasal 287 KUHP
1) 1.Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan,pada hal
diketahui atau sepatutnya harus diduga,bahwa umurnya belum lima belas tahun,atau
kalau umurnya tidak ternyata,bahwa belum mampu dikawin,diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan tahun.
2) 2.Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan,kecuali jika umurnya wanita belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.3
Pasal 295 KUHP
1) Diancam :
1. dengan pidana penjara paling lama 5 tahun, barang siapa dengan sengaja
menghubungkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya,
nak tirinya, anak angkatnya, atau anak dibawah pengawasannya yang belum
cukup umur, atau oleh orang yang belum cukup umur yang pemeliharaannya,
pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya
atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain;
2. dengan pidana penjara paling lama 4 tahun, barang siapa dengan sengaja
menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul kecuali tersebut ke-1 diatas
yang dilakukan oleh orang yang diketahui belum cukup umurnya atau yang
sepatutnya harus diduga demikian, dengan orang lain.
2) Jika yang bersalah, melakukan kejahatan itu sebagai pencaharian atau kebiasaan,
maka pidana dapat ditambah sepertiga. 3

Nice to know
IUD
Intrauterine device (disingkat IUD) adalah alat kecil berbentuk-T terbuat dari
plastik dengan bagian bawah-nya terdapat tali halus yang juga terbuat dari plastik. Sesuai
dengan namanya IUD dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan.

19
Pemasangan bisa dengan rawat jalan dan biasanya akan tetap terus berada dalam rahim
sampai dikeluarkan lagi.
IUD mencegah sperma tidak bertemu dengan sel telur dengan cara merubah
lapisan dalam rahim menjadi sulit ditempuh oleh sperma. Terdapat2 jenis IUD : IUD
dengan tembaga dan IUD dengan hormon (dikenal dengan IUS = Intrauterine System).
IUD tembaga (copper) melepaskan partikel tembaga untuk mencegah kehamilan
sedangkan IUS melepaskan hormon pregestin.6
Cara kerja :
 Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
 Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
 AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR
membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
sperma untuk fertilisasi 6
Keuntungan kontrasepsi IUD :
 Sangat efektif. 0,6 - 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan)
 AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
 Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)
 Tidak mempengaruhi hubungan seksual
 Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A
 Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
 Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
 Dapat digunakan sampai manopouse
 Tidak ada interaksi dengan obat-obat
 Membantu mencegah kehamilan ekktopik 6
Kelemahan kontrasepsi IUD :
 Efek samping umum terjadi: perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak,
perdarahan antar mensturasi, saat haid lebih sakit
 Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan,
perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab
anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)

20
 Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
 Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti
pasangan
 Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR,
PRP dapat memicu infertilitas
 Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR
 Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR.
Biasanya menghilang dalam 1 - 2 hari
 Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih yang dapat
melepas
 Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR
dipasang segera setelah melahirkan)
 Tidakmencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah
kehamilan normal
 Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu. 6
Yang boleh menggunakan :
 Usia reproduktif
 Keadaan nulipara
 Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
 Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
 Setelah melahirkan dan tidak menyusui
 Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
 Risiko rendah dari IMS
 Tidak menghendaki metoda hormonal
 Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
 Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 - 5 hari senggama
 Perokok
 Gemuk ataupun kurus 6

Yang Tidak Diperkenankan Menggunakan :


 Sedang hamil

21
 Perdarahan vagina yang tidak diketahui
 Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
 Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik
 Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat
mempengaruhi kavum uteri
 Penyakit trofoblas yang ganas
 Diketahui menderita TBC pelvik
 Kanker alat genital
 Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm 6

Test Kehamilan
Test-pack
Tes kehamilan ini bisa digunakan di rumah biasanya berguna untuk melihat ada
atau tidaknya hormon petunjuk kehamilan yang disebut dengan human
chorionic gonadotropinn (hCG) yang terdapat dalam urine perempuan. Karena pada
prinsipnyaadalah mendeteksi adanya hormon hCG ( human chorionic gonadotropin).
Hormon hCG akan meningkat setelah terjadi kehamilan, khususnya ditandai dengan
terjadinyaimplantasi hasil konsepsi pada dinding rahim. Jika tes dilakukan terlalu awal,
hasilnya bisa menunjukkan suatu false negative, artinya hasil tes sesungguhnya belum
tentunegatif. Bisa saja karena pemeriksaan dilakukan terlalu dini, hormon hCG-nya
belumcukup terdeteksi (tes kehamilan melalui urine baru bisa mendeteksi kadar hCG
minimal20mIU/ml).
Test pack mulai dapat digunakan 14 hari setelah waktu konsepsi. Diperlukanurin
segar pertama di pagi hari agar kadar hCG dalam urin cukup untuk di ukur. Hasil tesdapat
diperoleh kurang dari satu menit. Tetapi waspadai hasil test-pack yang tidak jelasdan
meragukan. Kemungkinan karena perlakuan yang slah terhadap test-pack
ataukemampuan test-pack yang tidak memadai.7

Tes urin di Laboratorium

22
Tes kehamilan ini juga mengecek kadar hCG dalam urin tetapi di lakukan oleh
orangyang professional di laboratorium. Tes ini keakuratannya mendekati 100% dan
tidak harus menggunakan urin pertama yang keluar di pagi hari.Tes ini dapat dilakukan 7
± 14hari setelah konsepsi.7

Penutup
Pada kasus ini, peran dokter sangat penting dalam memberikan pembinaan bagi
remaja yang masih di bawah umur yang bertujuan untuk memberikan informasi dan
pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku hidup sehat bagi remaja dan dampak
dari pemasangan IUD disamping menangani masalah yang ada. Dokter juga harus dapat
menjelaskan alasan penolakan pemasangan IUD pada pasien dikarenakan pasien masih di
bawah umur dan belum menikah.

DAFTAR PUSTAKA

23
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetika dan hukum kedokteran: pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Cetakan ke-2. Jakarta: Pustaka Dwipar, 2007.h.
30-2, 77-85.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Mun’im A, Sidhi, et all.
Pemeriksaan Medik pada Kasus Kejahatan Seksual dalam Ilmu Kedokteran Forensik.
Edisi pertama. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. h.147-164.
3. Staf pengajar bagian kedokteran forensik fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Edisi ke-1. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1994. h.11-25;
h.32-7.
4. Ana Margaret. Peran Orang Tua Dalam Kebahagiaan Hidup Anak. Diunduh dari
www.samarakita.net/2011/03/24/keterlibatan-orang-tua-dan-kebahagiaan-hidup-
anak/. 17 Januari 2012.
5. Kode etik kedokteran indonesia dan pedoman pelaksanaan kode etik kedokteran
indonesia. Diunduh dari http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/sehat/Kode-Etik-
Kedokteran.pdf . 17 Januari 2012.
6. Pemerintah Beri Insentif Pemasangan IUD. 31 Oktober 2011. Diunduh dari
http://www.bkkbn.go.id/siaranpers/Pages/Pemerintah-Beri-Insentif-Pemasangan-
IUD.aspx. 17 Januari 2012.
7. Cunningham FG, et al. Obstetri Willims. Jakarta: EGC;2005.

24