Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

METODE KUANTITATIF AGRIBISNIS

“CPM/PERT”

1. Ibnu Muchtar Rosyidi ( S641708007)


2. Raya Ilham S Majid ( S641708009)
3. Yan Eka Dharmawan ( S641708011)
4. Rahma Putri Utami ( S641708015)

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesalahan seorang manajer program dalam perencanaan penjadwalan kegiatan dan


aktivitas proyek akan mengakibatkan proyek berjalan molor dan secara tidak langsung
mengakibatkan penambahan biaya. Sedangkan kesepakatan di awal terjadi karena adanya
ketetapan tentang batasan yang harus dipenuhi baik dari sisi biaya, waktu maupun ruang
lingkup pekerjaan. Terdapat banyak tools dan aplikasi pendukung yang bisa digunakan
dalam perencanaan dan penjadwalan aktivitas-aktivitas sebuah proyek yang kesemuanya
bertujuan untuk optimalisasi pekerjaan sebuah proyek sehingga akan ada efisiensi dari sisi
biaya maupun waktu pelaksanaan, diantaranya adalah CPM dan PERT (Sahid, 2012).
Di pelayananan kesehatan, metode CPM dan PERT dapat diaplikasikan tidak hanya
pada program besar, namun dapat digunakan untuk melakukan perencanaan dan
penjadwalan pada program yang lebih sederhana, seperti program imunisasi, eradikasi
polio, dan akreditasi, karena akan sangat berguna dalam melakukan perencanaan dan
penjadwalan program yang efisien dan efektif. Oleh karena itu, kelompok akan membahas
kedua metode tersebut di dalam makalah ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PERT DAN CPM


CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program Evaluation and Review Technique)
merupakan alat analisis proyek yang sudah banyak dikenal di bidang manajemen. Proyek
terdiri atas serangkaian kegiatan dan beberapa diantara kegiatan tersebut saling terkait.
Suatu kegiatan hanya dapat dilakukan setelah kegiatan sebelumnya selesai dilakukan.
Serangkaian kegiatan tersebut dapat digambarkan dalam sebuah diagram.
CPM merupakan sebuah model ilmu manajemen untuk perencanaan dan pengendalian
sebuah proyek, yang dikembangkan sejak tahun 1957 oleh perusahaan Du Pont untuk
membangun suatu pabrik kimia dengan tujuan untuk menentukan jadwal kegiatan beserta
anggaran biayanya dengan maksud pekerjaan-pekerjaan yang telah dijadwalkan itu dapat
diselesaikan secara tepat waktu serta tepat biaya (Siswanto, 2007). Secara terpisah, pada
tahun 1958, Booz, Allen, dan Hamilton menemukan sebuah metode penjadwalan yang
diberi nama diagram PERT, merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review
Technique. Diagram PERT dapat digunakan untuk mempermudah proses perencanaan dan
penjadwalan untuk proyek dengan kapasitas besar dan kompleks karena mampu mengatasi
ketidakpastian dalam proyek tanpa perlu tahu durasi dari setiap aktifitas.
Ringkasnya, CPM adalah suatu teknik analisis untuk perencanaan, penjadwalan, dan
pengendalian proyek dengan metode jalur kritis dengan taksiran tunggal untuk lama satu
aktivitas. Arah perhitungan CPM ialah perhitungan maju dan perhitungan mundur.
Sedangkan PERT adalah suatu teknik analisis untuk mengasumsikan ketidakpastian lama
waktu aktivitas yang digambarkan dengan probabilitas tertentu dan memerlukan tiga waktu
taksiran untuk satu aktivitas. PERT juga memperkenalkan parameter lain yang mencoba
mengukur ketidakpastian tersebut secara kuantitatif seperti standar deviasi dan varians
(Imam, 1999).
Critical Path Method (CPM) dan Project Evaluation Review Technic (PERT)
merupakan dua metode penjadwalan proyek yang menggunakan pendekatan berbeda dalam
pengerjaanya. Dimana metode CPM menggunakan pendekatan deterministik sedangkan
metode PERT menggunakan pendekatan probabilistik.
2.1.1 Definisi CPM
Menurut Levin dan Kirkpatrick (1972), metode Jalur Kritis (Critical Path
Method) yakni metode untuk merencanakan dan mengawasi proyek. CPM merupakan
sistem yang paling banyak dipergunakan diantara semua sistem lain yang memakai
prinsip pembentukan jaringan. Di dalam CPM, jumlah waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan berbagai tahap suatu proyek dianggap diketahui dengan pasti,
demikian pula hubungan antara sumber yang digunakan dan waktu yang diperlukan
untuk menyelesaikan proyek.
Menurut Jesse dan Desirae (2009) Critical Path Method adalah salah satu
metode analisis yang berbasis algoritma yang digunakan untuk penjadwalan
serangkaian proses kegiatan. Hal ini penting karena CPM merupakan alat penting
untuk manajemen proyek yang efektif.
Critical Path Method (CPM) merupakan metode untuk mentranlasikan atau
menerjemahkan kebutuhan proyek ke dalam system matematik dengan
memperhatikan tahapan umum yang rutin diaplikasikan antara lain : perencanaan,
penjadwalan, dan pengendalian/monitoring.
Jalur Metode Kritis (CPM) adalah teknik untuk menganalisis proyek dengan
menentukan urutan terpanjang tugas atau urutan tugas sesuai dengan tingkat
kekenduran melalui jaringan proyek (Newbold, 1998).
Jadi CPM merupakan analisa jaringan kerja yang berusaha mengoptimalkan
biaya total proyek melalui pengurangan waktu penyelesaian total proyek yang
bersangkutan.
Pada tahap penjadwalan, CPM menyediakan metode yang realistis dalam
menentukan bagaimana mencapai tujuan dari proyek dan untuk mengkomunikasikan
serta mendokumentasikan rencana proyek secara jelas dan ringkas. Tahap monitoring
membantu manajemen untuk fokus terhadap apa yang paling dibutuhkan (Anderson,
1986)
Dalam pekerjaan proyek terdapat hubungan ketergantungan antara aktivitas
satu dan lainnya dengan cara digambarkan dalam diagram network, hal ini disebut
jaringan kerja (network planning). Begitupun dengan PERT yang juga menggunakan
jaringan kerja.
2.1.2 Definisi PERT
PERT, Project Evaluation and Review Technique, adalah suatu alat bantu
untuk melakukan perencanaan dan penjadwalan pada banyak tugas yang saling terkait
dalam suatu proyek yang besar dan kompleks. PERT dibuat selama pembuatan kapal
selam Polaris di USA pada tahun 1950, yang merupakan salah satu proyek
terkompleks pada saat itu. Saat ini, teknik PERT digunakan secara rutin pada setiap
proyek besar seperti pembangunan software, konstruksi gedung dan sebagainya
(Chinneck, 2016).
Penundaan sebuah proyek dan gangguan produksi akan dapat diantisipasi dan
dikurangi dengan metode PERT. Metode tersebut juga dapat mengkoordinasikan
berbagai bagian pekerjaan secara menyeluruh dan mempercepat selesainya proyek
(Dannyanti,2010). Selain itu PERT dapat membantu menentukan jadwal suatu proyek
beserta anggaran biayanya sehingga dapat diselesaikan secara tepat waktu dan tepat
biaya (Syahrizal, 2016).
Di dalam buku Construction Project Scheduling and Control-2nd ed, Saleh
Mubarak (2010) mengemukakan bahwa PERT is an event-oriented network analysis
technique used to estimate project duration when individual activity duration
estimates are highly uncertain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode yang dapat
membantu dalam melakukan penjadwalan dan penganggaran suatu proyek adalah
PERT, dengan mempertimbangkan banyaknya aktivitas proyek yang saling terkait
namun memiliki ketidakpastian waktu penyelesaian yang cukup tinggi.
2.2 Sejarah CPM dan PERT
CPM dan PERT merupakan Metode Jalur Kritis, yang disebut sebagai Critical Path
Analysis (CPA) yang dikembangkan di tahun 1950 oleh DuPont Perusahaan dan
Remington Rand Corporation. Ini secara khusus dikembangkan untuk mengelola proyek
pembangkit listrik pemeliharaan. Mereka ingin mengembangkan alat manajemen yang
akan membantu dalam penjadwalan kimia tanaman menutup down untuk pemeliharaan
dan kemudian restart mereka sekali pemeliharaan selesai. Metode CPM menyelamatkan
satu perusahaan juta dolar pada tahun pertama penggunaan.
Secara terpisah, pada pertengahan tahun 1950-an oleh Angkatan Laut Amerika
Serikat. Pemerintah AS ditemukan Rusia sedang mengembangkan teknologi rudal mereka
sendiri, dan karena keamanan nasional yang dipertaruhkan Angkatan Laut segera
meluncurkan program mereka sendiri untuk menutup kesenjangan rudal. Proyek ini sangat
besar, dan jadi penting untuk Angkatan Laut untuk melakukan penelitian tentang
perencanaan dan pengendalian rumit proyek. Penelitian ini disebut sebagai Evaluasi
Program Penelitian Tugas (kode-nama PERT). Pada bulan Februari tahun 1958, Dr C.E.
Clark, dari tim PERT, memperkenalkan Diagram panah pertama. PERT, kemudian disebut
sebagai Evaluasi Program dan Ulasan Teknik, diaplikasikan pada Program Rudal Balistik.
Armada akhir tahun itu. Dengan lebih dari 3.000 kontraktor, vendor, dan lainnya tim yang
terlibat, itu penting strategis untuk menyelesaikan proyek dengan cepat dan efisien. PERT
membuktikan nilainya, dan diberikan kredit untuk mengambil dua tahun dari perkiraan
waktu yang diperlukan untuk mengembangkan rudal Polaris, dan masih standar untuk
semua proyek Angkatan Laut saat ini. PERT dikembangkan oleh perusahaan konsultan
Booz-Allen and Hamilton pada tahun 1958-1959 ketika mereka diminta oleh Lockheed
Aircraft Corporation untuk menyusun model perencanaan dan pengendalian proyek
Polaris Weapon System, yaitu proyek khusus dari US Navy. Kehandalan model PERT
sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pengendalian operasi diuji pada proyek tersebut,
dan ternyata sukses luar biasa. PERT, dalam proyek Polaris, berhasil mengkoordinasi
kegiatan-kegiatan yang melibatkan 250 kontraktor utama, lebih dari 9000 subkontraktor,
sejumlah agen, dan ribuan individu sehingga proyek tersebut bisa diselesaikan enam belas
bulan lebih cepat dari taksiran semula. Sebagai dampak dari keberhasilan itu, pemerintah
Amerika kemudian menerapkan PERT pada proyek-proyek berikutnya seperti proyek
angkatan udara, yaitu: Minuteman, Skybolt, dan Dyna-Soar serta proyek angkatan laut
yang lain yaitu Nike-Zeus. Sejak saat itu, PERT menyebar dengan pesat pada industri
pertahanan dan ruang angkasa. Kehandalan PERT sebagai alat perencanaan yang efektif
tercermin pula pada keputusan pemerintah Amerika (1962) yang menghendaki
penggunaan PERT pada kontrak-kontrak pembangunan dan proyek-proyek penelitian
yang disponsori oleh pemerintah (Siswanto, 2007).
2.3 Tujuan CPM dan PERT
Berdasarkan definisi CPM dan PERT yang telah dipaparkan, tujuan dari kedua
metode tersebut adalah untuk merencanakan dan menjadwalkan suatu proyek serta untuk
mengawasi dan mengevaluasi. Sehingga dapat mengurangi penundaan pekerjaan,
mengurangi gangguan, dan mengurangi konflik produksi pada sebuah proyek (Dwinovi,
2012).
2.4 Manfaat CPM dan PERT
CPM dan PERT akan menghasilkan sebuah diagram yang menunjukan rangkaian
berbagai aktivitas dalam pengerjaan suatu proyek termasuk jalur kritis. Diagram tersebut
mempermudah proses perencanaan dan penjadwalan untuk proyek dengan kapasitas besar
dan kompleks karena mampu mengatasi ketidakpastian dalam proyek tanpa perlu tahu
durasi dari setiap aktifitas (Syahrizal, 2016). Namun, tidak hanya berlaku pada proyek
besar, CPM dan PERT dapat diaplikasikan di setiap proyek karena bermanfaat untuk
(Purnomo, 2004):
1. Perencanaan suatu proyek yang kompleks.
2. Penjadwalan-penjadwalan pekerjaan dalam urutan yang praktis dan efisien.
3. Mengadakan pembagian kerja dari tetangga kerja dan sumber dana yang tersedia.
4. Menentukan antara waktu dan biaya.
2.5 Elemen CPM dan PERT
CPM dan PERT menggunakan sebuah sistem jaringan untuk menangkap prioritas atau
hubungan paralel diantara banyak tugas dalam sebuah proyek. Sebagai contoh dari
prioritas yang dimaksud adalah pembuatan kerangka pada sebuah rumah sebelum
membuat atap. Di sisi lain, beberapa kegiatan dapat terjadi secara paralel, seperti sistem
listrik yang dapat dinstall oleh satu kru di waktu yang bersamaan dengan pemasangan
sistem pipa saluran air oleh kru lainnya (Chinneck, 2016). Terdapat beberapa elemen
penyusun jaringan pada CPM dan PERT yang diperlihatkan di tabel 2.1.
Tabel 2.1 Elemen Jaringan CPM dan PERT

Terkait dengan penggunaan beberapa elemen tersebut, ada dua pendekatan


menurut Heizer dan Render (2006) untuk menggambarkan jaringan proyek yaitu kegiatan-
pada-titik (activity-on-node atau AON) dan kegiatan-pada-panah (activity-on-arrow atau
AOA). Pada pendekatan AON, titik menunjukkan kegiatan, sedangkan pada AOA, panah
menunjukkan kegiatan. Gambar 2.2 berikut akan mengilustrasikan kedua pendekatan,
AOA dan AON.
(Dannyanti, 2010)
Gambar 2.2 Perbedaan AON dan AOA
Selain menunjukkan perbedaan AON dan AOA, gambar tersebut pun menjelaskan
bagaimana cara membaca jaringan yang terdiri dari node dan anak panah untuk
menunjukkan kegiatan dan peristiwa/event, termasuk menunjukkan aktivitas dummy.
Pada pendekatan AON, lingkaran merepresentasikan hal-hal yang berkaitan di dalam
proyek (Gambar 2.3).
Gambar 2.3 Titik dalam AON
ES (Earliest Start) adalah waktu terdahulu suatu kegiatan dapat dimulai, dengan asumsi
semua pendahulu sudah selesai.
EF (Earliest Finish) adalah waktu terdahulu suatu kegiatan dapat selesai.
LS (Latest Start) adalah waktu terakhir suatu kegiatan dapat dimulai sehingga tidak
menunda waktu penyelesaian keseluruhan proyek
LF (Latest Finish) adalah waktu terakhir suatu kegiatan dapat selesai sehingga tidak
menunda waktu penyelesaian keseluruhan proyek.
2.6 Penjadwalan Proyek
Probabilitan penjadwalan proyek dapat dilakukan dengan metode PERT di saat terdapat
ketidakpastian dalam proyek tanpa perlu tahu durasi dari setiap aktifitas.
Metode PERT memberikan perkiraan waktu dengan menggunakan tiga angka estimasi
untuk menyelesaikan suatu kegiatan yaitu Optimistic Time, Most Likely Time, dan
Pessimistic Time. PERT juga memperkenalkan parameter lain yang mencoba mengukur
ketidakpastian secara kuantitatif seperti deviasi standar dan varians. Dengan demikian
metode PERT bermaksud menampung adanya unsur-unsur yang belum pasti, kemudian
menganalisis kemungkinan sejauh mana proyek menyimpang atau memenuhi (Syahrizal,
2016).
Jelasnya, tujuan dari penggunaan tiga angka estimasi adalah untuk memberikan
rentang waktu yang paling lebar dalam melakukan estimasi rentang waktu kegiatan. Ketiga
estimasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Optimistic Time (a)
Kurun waktu optimistik adalah durasi yang tercepat untuk menyelesaikan suatu kegiatan
jika segala sesuatunya berjalan dengan baik. Durasi yang digunakan hanya sekali
dalam seratus kali kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dengan kondisi yang
hampir sama.
2. Most Likely Time (m)
Kurun waktu paling mungkin atau realistik adalah durasi yang paling sering terjadi
dibanding dengan yang lain bila kegiatan dilakukan berulang-ulang dengan kondisi
yang hampir sama.
3. Pessimistic Time (b)
Kurun waktu pesimistik adalah durasi yang paling lama untuk menyelesaikan
kegiatan, bila segala sesuatunya serba tidak baik. Durasi disini dilampaui hanya sekali
dalam seratus kali, bila kegiatan tersebut dilakukan berulang-ulang dengan kondisi
yang hampir sama
Selanjutnya ketiga perkiraan waktu itu dirumuskan menjadi satu angka yang
disebut (te) atau kurun waktu yang diharapkan (expected duration time). Dalam
menentukan nilai (te) dipakai asumsi bahwa kemungkinan terjadinya peristiwa optimistik
(a) dan pesimistik (b) adalah sama. Sedangkan kemungkinan terjadinya peristiwa paling
mungkin adalah empat kali lebih besar dari kedua peristiwa optimistik dan pesimistik
sehingga apabila dijumlah akan bernilai 6 (enam) sesuai dengan rentang kurva distribusi
peristiwa yang telah di standarkan. Sehingga didapat rumus sebagai berikut:
𝑡=𝑎+4𝑚+𝑏6
Lalu varians waktu penyelesaian kegiatan dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:
𝑣=(𝑏−𝑎6)2

2.7 Jalur Kritis (Critical Path)


Jalur kritis adalah sebuah rangkaian aktivitas-aktivitas dari sebuah proyek yang
tidak bisa ditunda waktu pelaksanaannya dan menunjukan hubungan yang saling berkaitan
satu dengan yang lain (Heizer dan Render, 2006). Suatu proyek bisa menghasilkan lebih
dari satu jalur kritis. Semakin banyak jalur kritis dalam suatu proyek, maka akan semakin
banyak aktivitas yang harus diawasi secara intensif. Jalur kritis yang mempunyai
akumulasi durasi waktu yang paling lama akan digunakan sebagai estimasi waktu
penyelesaian proyek secara keseluruhan.
Dannyanti (2010) menjelaskan bahwa dalam dalam melakukan analisis jalur kritis,
digunakan dua proses two-pass, terdiri atas forward pass dan backward pass. ES dan EF
ditentukan selama forward pass, LS dan LF ditentukan selama backward pass. ES (Earliest
Start) adalah waktu terdahulu suatu kegiatan dapat selesai. LS (Latest Start) adalah waktu
terakhir suatu kegiatan dapat dimulai sehingga tidak menunda waktu penyelesaian
keseluruhan proyek. LF (Latest Finish) adalah waktu terakhir suatu kegiatan dapat selesai
sehingga tidak menunda waktu penyelesaian keseluruhan proyek.
Setelah waktu terdahulu dan waktu terakhir dari semua kegiatan dihitung,
kemudian jumlah waktu slack (slack time) dapat ditentukan. Slack adalah waktu yang
dimiliki oleh sebuah kegiatan untuk bisa diundur, tanpa menyebabkan keterlambatan
proyek keseluruhan (Heizer dan Render, 2006).
Slack = LS – ES atau Slack = LF – EF
ES = Max {EF semua pendahulu langsung}
EF = ES + Waktu kegiatan
LF = Min {LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya}
LS = LF – Waktu kegiatan
Dengan menggunakan konsep tersebut, maka jalur kritis dapat diidentifikasi. Pada
jalur kritis berlaku slack = 0 (Soeharto, 1999).

Gambar 2.4 Contoh perhitungan ES dan EF (sumber: Prasetya, 2009)


Penjelasan:
a. ES dari A = 0 diperoleh dari EF sebelumnya (mulai) = 0
b. EF dari A = 2 diperoleh dari ES = 0 + waktu dari A (2)
c. Apabila ada dua jalur untuk ES, pilihlah EF yang paling maksimum
Gambar 2.5 Contoh perhitungan LS dan LF (sumber: Prasetya, 2009)

Penjelasan :
a. LS dan LF dari F diperoleh dari ES = 11 dan EF=17 (contoh dari forward pass)
b. LF dari E = 11 diperoleh dari LS sebelumnya (F) = 11
c. LS dari E = 8 diperoleh dari LF = 11 – waktu dari E (3)
d. Apabila ada dua jalur untuk LF, yang dipilih adalah LS yang paling minimum

Manfaat yang didapat jika mengetahui lintasan kritis adalah sebagai berikut (Dannyanti,
2010):
1. Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis menyebabkan seluruh pekerjaan proyek
tertunda penyelesaiannya.
2. Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya, bila pekerjaan-pekerjaan yang ada pada
lintasan kritis dapat dipercepat.
3. Pengawasan atau kontrol dapat dikontrol melalui penyelesaian jalur kritis yang tepat
dalam penyelesaiannya dan kemungkinan di trade off (pertukaran waktu dengan biaya
yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan waktu yang optimum dipercepat
dengan biaya yang bertambah pula) atau dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya
lembur.
4. Time slack atau kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan yang tidak melalui lintasan
kritis. Ini memungkinkan bagi manajer/pimpro untuk memindahkan tenaga kerja, alat,
dan biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis agar efektif dan efisien.
2.8 Langkah dasar CPM dan PERT
CPM dan PERT memiliki enam langkah dasar yang sama (Gray dan Larson, 2006), yaitu:
1. Mengidentifikasi proyek dan menyiapkan struktur pecahan kerja
2. Membangun hubungan antara kegiatan, memutuskan kegiatan mana yang harus terlebih
dahulu dan mana yang mengikuti yang lain
3. Menggambarkan jaringan yang menghubungkan keseluruhan kegiatan
4. Menetapkan perkiraan waktu dan atau biaya untuk setiap kegiatan
5. Menghitung jalur waktu terpanjang melalui jaringan (jalur kritis)
6. Menggunakan jaringan untuk membantu perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian
proyek.

2.9 Perbedaan CPM dan PERT


Meskipun CPM dan PERT memiliki tujuan, elemen atau komponen jaringan, serta
cara analisis data yang sama, namun terdapat beberapa perbedaan sebagai berikut:
1. PERT merupakan teknik manajemen proyek yang menggunakan tiga perkiraan waktu
untuk tiap kegiatan yaitu waktu tercepat, terlama, serta terlayak. CPM hanya memiliki
satu jenis informasi waktu pengerjaan yaitu waktu yang paling tepat dan layak untuk
menyelesaikan suatu proyek.
2. PERT menekankan tepat waktu, sebab dengan penyingkatan waktu maka biaya proyek
turut mengecil, sedangkan pada CPM menekankan tepat biaya.
3. Dalam PERT anak panah menunjukkan tata urutan (hubungan presidentil), sedangkan
pada CPM tanda panah adalah kegiatan. Meskipun demikian, CPM dan PERT
mempunyai tujuan yang sama dimana analisis yang digunakan adalah sangat mirip
yaitu dengan menggunakan diagram anak panah.
4. PERT memusatkan perhatian pada penemuan waktu penyelesaian kegiatan yang bersifat
probabilistik sehingga waktu penyelesaian proyek bisa dianalisis dengan menggunakan
hukum-hukum statistik. CPM lebih memusatkan perhatiannya pada penemuan waktu
percepatan suatu kegiatan dengan biaya minimum agar proyek bisa selesai dalam waktu
tertentu, contohnya mengerahkan sumberdaya tambahan untuk memperpendek durasi
pekerjaan.
5. PERT digunakan pada proyek yang taksiran waktu kegiatannya tidak bisa dipastikan,
misal kegiatan tersebut belum pernah dilakukan atau memiliki variasi waktu yang besar.
CPM digunakan apabila taksiran waktu pengerjaan setiap kegiatan dapat diketahui
dengan baik, dimana penyimpangannya relatif kecil atau dapat diabaikan.
6. PERT events oriented, menggunakan pendekatan activity on node (AON)
CPM activities oriented, menggunakan pendekatan activity on arrow (AOA).
7. PERT mencurahkan perhatiannya di area penelitian dan pengembangan program. CPM
terutama digunakan untuk program konstruksi.
8. PERT mengasumsikan sebuah distribusi probabilitas untuk waktu di tiap kegiatan
sehingga kelengkapan perkiraan waktu untuk semua kegiatan diperlukan.
2.10 Persamaan CPM dan PERT
1. Menggunakan diagram anak panah untuk menggambarkan kegiatan, perencanaan, dan
pengendalian proyek.
2. Mengenal istilah jalur kritis dan float (slack).
3. Memerlukan prasyarat dalam melaksanakan kegiatan.
4. Mendeskripsikan aktifitas proyek dalam jaringan kerja dan mampu dilakukan berbagai
analisis untuk pengambilan keputusan tentang waktu, biaya serta penggunaan sumber
daya.
BAB III
KESIMPULAN

CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program Evaluation and Review Technique)
merupakan alat analisis proyek yang sudah banyak dikenal di bidang manajemen. Proyek
terdiri atas serangkaian kegiatan dan beberapa diantara kegiatan tersebut saling terkait. Suatu
kegiatan hanya dapat dilakukan setelah kegiatan sebelumnya selesai dilakukan. Serangkaian
kegiatan tersebut dapat digambarkan dalam sebuah diagram.
CPM adalah suatu teknik analisis untuk perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian
proyek dengan metode jalur kritis dengan taksiran tunggal untuk lama satu aktivitas. Arah
perhitungan CPM ialah perhitungan maju dan perhitungan mundur. Sedangkan PERT adalah
suatu teknik analisis untuk mengasumsikan ketidakpastian lama waktu aktivitas yang
digambarkan dengan probabilitas tertentu dan memerlukan tiga waktu taksiran untuk satu
aktivitas. PERT juga memperkenalkan parameter lain yang mencoba mengukur ketidakpastian
tersebut secara kuantitatif seperti standar deviasi dan varians (Imam, 1999).
Critical Path Method (CPM) dan Project Evaluation Review Technic (PERT)
merupakan dua metode penjadwalan proyek yang menggunakan pendekatan berbeda dalam
pengerjaanya. Dimana metode CPM menggunakan pendekatan deterministik sedangkan
metode PERT menggunakan pendekatan probabilistik.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Earl B &R.Stanton Hales. 1986. Critical Path Method Applied to Research Project
Planning. Pacific Southwest Forest and Range Experiment Station. California
Chinneck, John W. 2016. PERT for Project Planning and Schedulling. Practical Optimization: a
Gentle Introduction.
Chinneck, John W. 2016. Practical Optimization : a Gentle Introduction.
http://www.sce.carleton.ca/faculty/chinneck/po.html
Dannyanti, Eka. 2010. Optimalisasi Pelaksanaan Proyek Dengan Metode Pert Dan Cpm. Skripsi.
Universitas Diponegoro
Gray, C.F., Larson, E., W. 2006. Project Management. Mc-Graw Hill Companies Inc.
Heizer, H., Render. 2006. “Operation Management”. Pearson/Prentice Hall.
Ndeo, Joakim. 2013. Analisis Durasi Proyek Jalan Dengan Penggabungan Metode CPM da
PERT. Universitas Terbuka. Jakarta
Nugroho, Aryo Andri. 2007. Optimalisasi Penjadwalan Proyek pada Pembangunan Gedung
Khusus ( Laboratorium) Stasiun karantina Ikan Kelas 1 Tanjung Mas Semaran. Universitas
Negeri semarang. Semarang
Project Management Institute (2013). A Guide to the Project Management Body of Knowledge
(5th ed.). Project Management Institute. ISBN 978-1-935589-67-9.
Sahid, Dadang Syarif. 2012. Implementasi Critical Path Method dan PERT Analysis pada
Proyek Global Technology for Local Community. Jurnal Teknologi Informasi dan
Telematika Vol.5, Desember 2012, 14-22.
Saleh, Mubarak, 2010, Construction Project Scheduling and Control-2nd ed. United States,
Pearson Education, hal 264.
Syahrizal dan Muhammad Rizki R. 2016. Evaluasi Penjadwalan Waktu Dan Biaya Proyek
Dengan Metode PERT Dan CPM. Universitas Sumatera Utara Prasetya, Hary &Lukiastuti,
Fitri. 2009.Manajemen Operasi. Medpress, Jakarta.
Siswanto, 2007, Operations Research, Erlangga, Jakarta.