Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai
tujuan pembangunan kesehatan. Sumber daya manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk
dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat. Teciptanya SDM yang berkualitas ditentukan
oleh berbagai factor, diantaranya adalah sector kesehatan, pendidikan dan ekonomi (Ernawati,
2009).
Gizi merupakan bagian dari sektor kesehatan yang penting dan mendapat perhatian serius
dari pemerintah. Gizi yang baik merupakan pondasi bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh
masalah gizi terhadap pertumbuhan, perkembangan, intelektual dan produktivitas menunjukkan
besarnya peranan gizi bagi kehidupan manusia. Jika terjadi gangguan gizi, baik gizi kurang
maupun gizi lebih, pertumbuhan tidak akan berlangsung optimal. Kekurangan zat gizi
menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi dan jatuh sakit, sedangkan kelebihan zat gizi akan
meningkaykan resiko penyakit degeneratif dimasa yang akan dating (Ramadani, 2005).
Remaja adalah sumber daya manusia yang paling potensial dalam sebuah Negara karena
merupakan generasi penerus bangsa, remaja akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas
jika sejak dini terpenuhi kebutuhan gizinya (Ramadani, 2005). Menurut World Health
Organization (WHO), remaja adalah anak yang mencapai umur 10-19 tahun. Data WHO tahun
1995 menunjukkan bahwa seperlima dari penduduk dunia adalah remaja. Dan sekitar 900 juta
berada di Negara berkembang (Republika, 1010). Di Indonesia berdasarkan sensus penduduk
tahun 2000 jumlah remaja (Usia 15-24 tahun) adalah 40.407.628 atau 20,08 % dari jumlah
penduduk Indonesia. Berarti sekitar seperlima penduduk Indonesia adalah remaja berusia 15-24
tahun (Hidayat, 2005). Kemenetrian tahun 2006 melansir bahwa jumlah remaja umur 10-19 tahun
sekitar 43 juta atau 19,61% jumlah penduduk. Sedangkan data 2008 menyebutkan, jumlah remaja
sekitar 62 juta (Republika,1010).
Remaja rentan mengalami masalah gizi karena merupakan masa peralihan dari masa anak-
anak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, fisiologis dan psikososial.
Disamping itu kelompok ini berda pada fase pertumbuhan yang sangat pesat (Growth Spurt)
sehingga dibutuhkan zat gizi yang relative lebih besar jumlahnya (Aritonang, I.dkk,2009).
Perubahan gaya hidup dan kebiasaan dan kebiasaan makan menurut penyesuaian asupan energy

1
dan zat gizi pada remaja. Aktivitas fisik yang tinggi juga meningkatkan kebutuhan energy dan zat
gizi. Selain itu tidak sedikit remaja yang makan berlebihan dan akhirnya mengalami obesitas atau
sebaliknya remaja yang membatasi makan karena kecemasan akan bentuk tubuh sehingga
mengalami kekurangan gizi (Badriah, 2010).
Kebutuhan gizi pada pria lebih besar dibandingkan wanita sehingga porsi tiap kali makan
lebih banya. Pada wanita konsep citra tubuh sangat penting sehingga banyak dari mereka yang
menunda makan bahkan mengurangi porsi makannya dari yang dianjurkan agar tampak sempurna
postur tubuhnya. Namun hal tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi remaja pada
umumnya (Barker, 2002).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari gizi ?
2. Bagaimana karakteristik remaja ?
3. Bagaimana karakteristik makan remaja ?
4. Bagaimana angka kecukupan gizi pada remaja ?
5. Apa saja masalah kebiasaan makanan pada remaja ?
6. Apa faktor penyebab masalah gizi pada remaja ?
7. Apa saja akibat masalah gizi pada remaja ?
8. Bagaimana pengembangan perilaku makan sehat untuk remaja ?
9. Bagiamana pendidikan kesehatan tentang gizi ?
10. Bagaimana pedoman gizi sehat untuk remaja ?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Diketahuinya kebutuhan gizi pada remaja serta masalah kebiasaan makanan pada remaja.
2. Tujuan Khusus
a) Diketahuinya pengertian dari Gizi.
b) Diketahuinya karakteristik remaja.
c) Diketahuinya karakteristik makan remaja.
d) Diketahuinya angka kecukupan gizi pada remaja.
e) Diketahuinya masalah kebiasaan makanan pada remaja.
f) Diketahuinya masalah gizi pada remaja.

2
g) Diketahuinya akibat yang timbul dari masalah gizi pada remaja.
h) Diketahuinya pengembangan perilaku makan sehat untuk remaja.
i) Diketahuinya kesehatan tentang gizi.
j) Diketahuinya pedoman gizi sehat untuk remaja.

3
BAB II
PEMBAHASAAN

A. PENGERTIAN GIZI

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal
melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-
zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal
dan organ-organ, serta menghasilkan energi

Tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat
seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif.Oleh karena itu, setiap orang perlu
mengkonsumsi aneka ragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi
Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang
penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat.

Makan makanan yang beraneka ragam sangat bermanfaat bagi kesehatan.Makanan yang
beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh
baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan
yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi
kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan
dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka
ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat
pengatur.

Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat
menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.

Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-
kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging,
susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan
dan perkembangan kecerdasan seseorang.
4
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan.Makanan ini
mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi
organ-organ tubuh.

B. KARAKTERISTIK REMAJA
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow
maturity ( Golinko, 1984 dalam Rice, 1990)
Remaja adalah anak yang berusia 10-19 tahun. Who mendefinisikan remaja sebagai suatu
masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tamda eksual
sekundernya (pubertas) sampai saat ia mencapai kematangan seksualnya. Pada masa ini individu
mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa. Selain
itu, terjadi peralihan dari ketergantungan social dan ekonomi yang penuh kepada orang tua
menuju keadaan yang relative lebih mandiri.
Menurut Sarwono (2008), remaja atau adolescence adalah tumbuh kearah kematangan fisik,
social maupun psikologis, periode perkembangan selama individu mengalami perubahan dari
masa kanan-kanan menuju dewasa.
Sedangkan menurut Hurlock (1999) remaja adalah usia dimana individu berintergrasi
dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-otang
yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam
masalah hak, integrasi dala masyarakat, mempunyai banyak efektif, kurang lebih berhubungan
dengan masa puber.
Penggolongan remaja menurut Thornburg (1982) dalam buku Daryono, 2011. Terbagi 3
tahapan remaja yaitu :
1. Remaja Awal (usia 13-14 tahun)
Ciri fisik :
a. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat,
b. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering kali kurang seimbang.
c. Munculnya cirri-ciri sekunder (tumbuh bulu pada public region, otot mengembang
pada bagian-bagian tertentu). Disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin
(menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki).
2. Remaja tenggah (usia 15-17 tahun).
Ciri fisik :
a. Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri.
5
b. Adanya keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan jenis.
c. Timbul perasaan cinta yang mendalam.
d. Mampu berfikir abstrak (berhayal) makin berkembang berhayal mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan seksual.
3. Remaja akhir (usia 17-20 tahun).
Ciri fisik :
a. Menampakan pengungkapan kebebasan diri.
b. Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.
c. Memiliki citra (gambaran, keadaan,peranan) dirinya.
d. Dapat mewujudkan perasaan cinta.
e. Memiliki kemampuan berfikir khayal atau abstrak.

C. KARAKTERISTIK MAKAN REMAJA


Masa remaja adalah masa mencari identitas diri, adanya keinginan untuk dapat diterima
oleh teman sebaya dan mulai tertarik oleh lawan jenis menyebabkan remaja sangat menjaga
penampilan.Semua itu sangat mempengaruhi pola makan remaja, termasuk pemilihan bahan
makanan dan frekuensi makan.Remaja merasa takut gemuk sehingga remaja menghindari sarapan
dan makan siang atau hanya makan sekali sehari. Hal itu menyebabkan pertumbuhan dan
perkembangan tubuh akan terhambat.

Berikut ini karakteristik perilaku makan yang dimiliki remaja :


1. Kebiasaan malas makan pagi dan malas minum air putih .
2. Gadis remaja sering terjebak dengan pola makan tak sehat, menginginkan penurunan
berat badan secara drastis, bahkan sampai gangguan pola makan. Hal ini dikarenakan
remaja memiliki body image (citra diri) yang mengacu pada idola mereka yang biasanya
adalah para artis, peragawati, selebriti yang cenderung memiliki tubuh kurus, tinggi,
semampai.
3. Kebiasaan ngemil yang rendah gizi (kurang kalori, protein, vitamin, dan mineral) seperti
makanan ringan, kerupuk, dan chips.
4. Kebiasaan makan makanan siap saji ( fast food ) yang komposisi gizinya tidak seimbang
yaitu terlalu tinggi kandungan energinya, seperti pasta, fried chicken, dan biasanya juga
disertai dengan mengonsumsi minuman bersoda yang berlebihan.

6
D. ANGKA KECUKUPAN GIZI REMAJA

Pertumbuhan sebagai Dasar untuk Menentukan Kecukupan Gizi

Penetapan angka kecukupan gizi (AKG) energi dan protein untuk usia remaja sukar
dilakukan, karena besarnya variasi pada kecepatan pertumbuhan, aktivitas fisik, laju
metabolisme, keadaan fisiologis, dan kemampuan beradaptasi pada usia remaja. Selain itu
prnrlitian terhadap manusia termasuk remaja sangat mahal dan izin untuk menggunakan mereka
sebagai subjek penelitian juga sulit diperoleh.

Untuk alasan praktis, angka kecukupan gizi remaja dikategorikan berdasarkan usia kronologis
dan bukan berdasarkan perkembangan kematangannya. Dengan demikian para praktisi
hendaknya berhati-hati dalam menggunakan AKG, terutama dalam penelitian perorangan. Untuk
kelompok remaja, AKG dapat digunakan sebagai pedoman umum dalam menilai penduduk yang
beresiko kurang mengonsumsi makanan. Akan tetapi dalm membandingkn asupan perorangan,
perlu diingat bahwa AKG sudah mempertimbangkan faktor keamanan; jadi asupan perorangan
dibawah AKG tidak secara otomatis berarti asupan gizinya kurang atau tidak mencukupi
kebutuhannya. Status gizi remaja harus dinilai secara perorangan dengan menggunakan informasi
hasil penilaian klinik, biokimia, antropometri, serta konsumsi makanan dan aspek psikososial.
Angka kecukupan gizi usia remaja (2004) dapat dilihat tabel 7.1.

Energi

Angka kecukupan energi remaja di Indonesia didasarkan pada hasil studi Institute of
Medicine (IOM), tahun 2002 (Hardinsyah, WNPG, 2004). Seperti halnya zat gizi lain, angka
kecukupan energi tidak mempertimbangkan faktor keamanan untuk peningkatan kebutuhan
waktu sakit, trauma, dan stres karena hanya merupakan kebutuhan rata-rata. Kebutuhan energi
remaja bervariasi tergantung aktivitas fisik dan tingkat kematangannya. Angka kecukupan energi
untuk remaja laki-laki usia 0-12 tahun adalah 2050 kkal, untuk usia 13-15 tahun 2400 kkal, dan
untuk usia 16-18 tahun sebanyak 2600 kkal. Untuk remaja perempuan pada kelompok usia sama,
angka kecukupan energinya secara berturut-turut adalah 2050 kkal, 2350 kkal, dan 2200 kkal
(lihat tabel 7.1).

7
Tabel 7.1 Angka Kecukupan Gizi Usia Remaja

Laki-laki Perempuan
Zat Gizi 10-12 13-15 16-18 10-12 13-15 16-18
tahun tahun tahun tahun tahun tahun
Energi (kkal) 2050 2400 2600 2050 2350 2200
Protein (g) 50 60 65 50 57 55
Vitamin A (RE) 600 600 600 600 600 600
Vitamin D (µg) 5 5 5 5 5 5
Vitamin E (mg) 11 15 15 11 15 15
Vitamin K (µg) 35 55 55 35 55 55
Tiamin (mg) 1,0 1,3 1,3 1,0 1,1 1,1
Riboflavin (mg) 1,0 1,3 1,3 1,0 1,0 1,0
Niasin (mg) 12 16 16 12 13 14
Asam Folat (µg) 300 400 400 300 400 400
Piridoksin (mg) 1,3 1,3 1,3 1,2 1,2 1,2
Vitamin B12 (µg) 1,8 2,4 2,4 1,8 2,4 2,4
Vitamin C (mg) 50 75 90 50 65 75
Kalsium (mg) 1000 1000 1000 1000 1000 1000
Fosfor (mg) 1000 1000 1000 1000 1000 1000
Magnesium (mg) 170 220 270 180 230 240
Besi (mg) 13 19 15 20 26 26
Yodium (µg) 120 150 150 120 150 150
Seng (mg) 14,0 17,4 17,0 12,6 15,4 14,0
Selenium (µg) 20 30 30 20 30 30
Mangan (mg) 1,9 2,2 2,3 1,6 1,6 1,6
Flour (mg) 1,7 2,3 2,7 1,8 2,4 2,5
Sumber: Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004.

Penelitian untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan dan asupan energi tidak banyak
dilakukan. Dari beberapa penelitian di Amerika Serikat, diketahui bahwa rata-rata asupan energi
8
anak laki-laki cenderung meningkat tajam hingga kira-kira 3470 kkal/hari pada usia 16 tahun.
Dari usia 16-19 tahun, asupan energi menurun hingga 2900 kkal/hari. Pada anak peremuan,
asupan energi meningkat sampai usia 12 tahun yaitu 2250 kkal/hari, kemudian menurun sampai
usia 18 tahun yaitu 2200 kkal/hari. Asupan energi anak perempuan pada tiga tahap
perkembangan (pra-pubertas, tumbuh cepat, dan pasca-pubertas) berhubungan dengan tingat
perkembangan fisiologis, bukan dengan usia.

Protein

Seperti halnya kebutuhan energi, kebutuhan protein remaja berkolerasi lebiih dekat dengan
pola pertumbuhan dibandingkan dengan usia kronologis. Angka kecukupan protein dalam
hubungannya dengan tinggi badan merupakan cara paling tepat untuk memperkirakan kebutuhan
protein remaja. Angka kecukupan protein remaja berkisar antara 0,29-1,32 g/cm tinggi badan
untuk laki-laki, dan 0,27-0,29 g/cm tinggi badan untuk perempuan. Apabila asupan energi kurang
karena berbagai hal, asupan protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, sehingga
mungkin protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, sehingga mungkin protein
tidak cukup tersedia untuk pembentukan jaringan baru atau untuk memperbaiki jaringan yang
rusak. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan laju pertumbuhan dan penurunan massa otot
tubuh. Pola diet remaja perempuan yang ingin membatasi asupan energi dapat menyebabkan hal
tersebut. Metabolisme protein sangat sensitif terhadap pembatasan energi, khususnya pada remaja
yang masih tumbuh cepat.

Angka kecukupan protein didasarkan pada hasil meta-analisis penelitian Institute of


Medecine (IOM) 2002, yang dilakukan terhadap kelompok usia remaja 9-19 tahun. Angka
kecukupan protein dihitung per kg/berat badan/hari, yaitu 0,66 g/kg berat badan/hari dikalikan
faktor koreksi mutu protein yaitu 1,2. Angka kecukupan protein/orang/hari remaja laki-laki usia
10-12 tahun adalah 50 g, untuk usia 13-15 tahun 60 g, dan usia 16-18 tahun sebesar 65 g. Angka
kecukupan protein/orang/hari untuk remaja perempuan dengan sekelompok usia sama, secara
berturut-turut adalah 50 g, 57 g, 55 g (lihat tabel 7.1).

Mineral

Kebutuhan semua mineral selama masa remaja menibgkat. Remaja yang berada dlam
masa puncak pertumbuhan membutuhkan zat gizi dalam jumlah besar. Pada tahun-tahun masa
pertumbuhan cepat, remaja membutuhkan mineral kalsium, besi, seng, magnesium, dan nitrigen
9
dua kali lebih besar dibandingkan tahun yang lain. Survei makanan yang dilakukan secara
konsisten pada remaja di Amerika Serikat menunjukkan konsumsi kalsium dan besi rendah. Hal
ini disebabkan antara lain karena pemilihan konsumsi makanan yang popular seperti junk food
dan camilan yang kaya gula dan lemak. Riskesdas 2007 (Depkes RI, 2008) melakukan penelitian
tentang pola konsumsi makanan berisiko. Penduduk yang sering mengonsumsi makanan manis,
asin, berlemak, makanan diawetkan, minuman berkafein, dan bumbu penydap dianggap
berprilaku mengkonsumsi makanan beresiko. Konsumsi dikategorikan sering apanila penduduk
mengkonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih dalam satu hari. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan makanan beresiko yang dikonsumsi anak usia 10-14 tahun adalah 63,1% berupa
makanan manis, 24,4% makanan asisn, 13,5% makanan berlemak, 16,3% minuman berkafein,
dan 75,7% bumbu penyedap. Pada kelompok usia 15-24 tahun, makanan berisiko yang
dikonsumsi adalah 65,1% makanan manis, 24,4% makanan asin, 13,4% makanan berlemak,
28,6% minuman berkafein, dan 77,2% berbumbu penyedap. Pada riset tersebut tidak dilakukan
penilaian secara terperinci mengenai nilai gizi makanan yang dikonsumsi tiap kelompok usia
tersebut.

Kalsium

Kebutuhan kalsium usia remaja lebih banyak dibandingkan dengan usia anak dan usia dewasa
karena peningkatan perkembangan otot, kerangka tubuh dan kelenjar endokrin. Pada puncak
pertumbuhan cepat, penyimpanan kalsium harian dapat mencapai dua kali lipat dari rata-rata
penyimpanan selama periode remaja usia 10 hingga 20 tahun. Massa kerangka tubuh bertambah
45% selama masa remaja.

Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan pengurangan massa dan
kekerasan tulang yang sedang dibentuk. Sedangkan kelebihan kalsium dapat berpengaruh negatif
terhadap penyerapan seng, besi dan mangan. Kebutuhan kalsium dipengaruhi oleh ketersediaan
biologis, aktivitas fisik, dan keberadaan zat gizi lain. Angka kecukupan kalsium usia remaja
adalah 1000 mg/hari, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Nasional Institute if Health (Worthington dan Williams, 2000) dalam konferensinya


menyatakan asupan kalsium optimal dianjurkan sebanyak 1200-1500 mg/hari untuk remaja usia
11-24 tahun. Komite tersebut juga menyatakan harus ada ambang batas asupan kalsium dari
makanan untuk menjamin pertumbuhan remaja mencapai puncak massa tulang. Hasil survei

10
makanan oleh institute tersebut menunjukan bahawa remaja perempuan mempunyai risiko
terbesar kekurangan asupan kalsium yang cenderung menurun pada usia 10-17 tahun. Banyaknya
konsumsi minuman ringan berkarbonat merupakan salah satu faktor menurunnya asupan kalsium,
karena anak usia remaja sering meminummnya sebagai pengganti susu yang kaya akan kalsium.
Selain itu minuman ringan berkarbonat umumnya mengandung kafein, yang dapat meningkatkan
pengeluaran kalsium melalui urin.

Besi

Kebutuhan besi selama masa remaja meningkat. Peningkatan tajam terjadi terytama pada
laki-laki, karena diperlukan untuk penambahan volume darah dan kenaikan konsentrasi
hemoglobin, sehubungan dengan terjadinya kematangan seksual. Setelah terjadi laju
pertumbuhan cepat dan tercapai kematangan sekksual, pertumbuhan menurun dengan cepat dan
kebutuha besi menurun. Dengan demikian ada kesempatan untuk memulihkan tubuh dari
kekurangan besi yang mungkin terjadi selama puncak pertumbuhan cepat. Lalu pertumbuhan
pada remaja perempuan tidak secepat laki-laki, tetapihaid biasanya dimulai satu tahun setelah
puncak pertumbuhan. Tambahan besi diperlukan untuk menggantu besi yang hilang bersama
daah waktu haid. Kekurangan asupan besi selama remaja dapat menggannggu pertumbuhan dan
respon kekebalan.

Kebutuhan besi dipengaruhi juga oleh keasaman lambung dan ketersediaan biologis besi
dikonsumsi. Tingkat keasaman lambung meningkatkan daya larut besi, sehingga lebih mudah
diabsorpsi. Ketersediaan biologis besi yang berasal dari makanan nabati lebih rendah daripada
yang berasal dari makanan hewani. Vitamin C dan non-organik lain membantu abssorpsi besi
yang berasal dari makanan nabati.

Angka kecukupan besi remaja laki-laki usia 10-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun secara
berturut-turut adalah 13 mg, 19 mg, dan 15 mg/hari, sedangkan untuk remaja perempuan dengan
kelompok usia yang sama secara berturut-turut adalah 20 mg, 26 mg, dan 26 mg/hari. Angka
kecukupan besi remaja perempuan lebih tinggi daripada laki-laki karena memperhitungkan
kehilangan besi selama haid (lihat tabel 7.1).

11
Seng

Seng berperan dalam sintesis Dioxiribonucleic Acid (DNA) dan Ribonucleic Acid (RNA).
Selain itu seng berperan penting dalam pertumbuhan dan pematangan seksual. Walaupun kadar
plasma seng menurun selama perkembangan pubertas, retensi seng meningkat secara bermakna
selama laju pertumbuhan cepat. Peningkatan utulisasi ini mungkin menyebabkan penggunaan
seng yang berasal dari makananterjadi secara lebih efisien. Asupan makanan mengandung seng
yang terbatas dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan karakteristik seksual
sekunder. Penelitian mengenai seng sangat terbatas, namun ada bukti bahwa remaja dengan kadar
serum seng rendah mungkin mempunyai masalah jerawat yang meningkat.

Angka kecukupan seng remaja laki-laki usia 10-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun
secara berturut-turut adalah 14,0 mg, 17,4 mg, dan 17,0 mg/hari, sedangkan untuk remaja
perempuan dengan kelompok usia yang sama secara berturut-turut adalah 12,6 mg, 15,4 mg, dan
14,0 mg/hari.

Walaupun peranan mineral lain pada remaja belum banyak diteliti, namun peranan penting
magnesium, yodium, fosfor, tembaga, kromium, kobal, dan flour telah diakui. Kemungkinan
adanya interaksi antara mineral-mineral tersebut tidak dapat diabaikan.

Vitamin

Kebutuhan vitamin selama usia remaja meningkat. Karena kebutuhan energi meningkat,
maka kebutuhan tiamin, riboflavin, dan niasin meningkat untuk melepas energi yang berasal dari
metabolisme karbohidrat. Kebutuhan vitamin B6, asam folat, dan vitamin B12 meningkat karena
peningkatan sistesis jaringan. Peningkatan kebutuhan vitamun D terjadi untuk pertumbuhan cepat
kerangka tubuh. Vitamin A, vitamin C, dan vitamin E dibutuhkan untuk pertumbuhan sel-sel
baru.

Seperti halnya dengan kebutuhan zat gizi lain, kebutuhan vitamin terutama berhubungan
dengan tingkat kematangan remaja dibandingkan dengan usia kronologis, karena tuntutan
pertumbuhannya. Pada umumnya kebutuhan vitamin dapat dipenuhi dengan cara memilih
makanan yang baik, tanpa suplemen, kecuali pada remaja yang melakukan diet khusus,
mempunyai gangguan makan atau penyakit kronis, atau kebiasaan memilih makanan yang kurang
baik yang sukar diperbaiki. Angka kecukupan vitamin usia remaja dapat dilihat pada tabel 7.1.

12
Angka kecukupan vitamin A dan vitamin D remaja laki-laki dan remaja perempuan pada
semua kelompok usia sama, secara berturut-turut sebesar 600 RE dan 5 mcg/hari. Angka
kecukupan vitamin E dan vitamin K remaja laki-laki dan perempuan kelompok usia 10-12 tahun,
13-15 tahun, dan 16-18 tahun sama, untuk vitamin E secara berturut sebesar 11 mg, 15 mg, dan
15 mg/hari sedangkan untuk vitamin K adalah 35 mg, 55 mg, dan 55 mg/hari.

Angka kecukupan tiamin (vitamin B1) remaja laki-laki usia 10-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-
18 tahun secara berturut-turut adalah 1,0 mg, 1,2 mg, dan 1,3 mg/hari, sedangkan untuk remaja
perempuan 1,0 mg, 1,1 mg, dan 1,1 mg/hari. Angka kecukupan riboflavin remaja laki-laki usia
10-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun secara berturut-turut adalah 1,0 mg, 1,2 mg, dan 1,3
mg/hari, sedangkan untuk remaja perempuan untuk semua kelompok umur adalah sama yaitu 1,0
mh/hari.

Angka kecukupan niasin untuk remaja laki-laki usia 10-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18
tahun secara berturut-turut adalah 12 mg, 14 mg, dan 16 mg/hari, sedangkan untuk remaja
perempuan 12 mg, 13 mg, dan 14 mg/hari. Angka kecukupan asam folat remaja laki-laki usia 10-
12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun sama dengan remaja perempuan yaitu secara berturut-
turut 300 mcg, 400 mcg, dan 400 mcg/hari. Angka kecukupan piridoksin, untuk remaja laki-laki
adalah sebesar 1,3 mg/hari untuk semua kelompok umur, dan remaja perempuan sebesar 1,2
mg/hari untuk semua kelompok umur. Angka kecukupan vitamin B12 remaja laki-laki usia 10-12
tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun sama dengan remaja perempuan, yaitu secara berturut-turut
1,8 mcg, 2,4 mcg, 2,4 mcg/hari.

Angka kecukuoan vitamin C remaja laki-laki usia 10-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun,
secara berturut-turut adalah 50 mg, 65 mg, dan 75 mg/hari.

Jumlah Bahan Makanan Sehari dan Contoh Menu

Jumlah bahan makanan rata-rata sehari usia remaja berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG)
usia remaja dapat dilihat pada tabel 7.2.

Tabel 7.2 Jumlah Bahan Makanan Rata-rata Sehari Usia Remaja 10-18 tahun *)

Anjuran Laki-laki Perempuan

Makanan 10-12 13-15 16-18 10-12 13-15 tahun 16-18 tahun

13
tahun tahun tahun tahun

Nasi 5,5 p**) 7p 7,5 p 5,5 p 6,5 p 6p

Ikan 1,5 p 2p 3p 1,5 p 3p 2p

Tempe 2p 2p 3p 2p 3p 2p

Sayur 3p 3p 3p 3p 3p 3p

Buah 4p 4p 4p 4p 4p 4p

Susu 1p 1p 1p 1p 1p 1p

Minyak 6p 6p 7p 6p 6p 5p

Gula pasir 3p 2,5 p 3p 3p 3 p 4 p

*) berdasarkan Angka Kecukupan Gizi

**) penukar

Contoh Menu

Pagi Pk. 10.00 Siang Pk. 16.00 Malam

Nasi goreng Pisang goreng Gado-gado Puding cokelat Nasi


komplit (dengan lontong komplit Ayam goreng
telur ceplok dan Jus jeruk Oseng tempe
irisan tomat) dan cabai hijau
susu Cah brokoli dan
jamur
pepaya

14
15
E. MASALAH KEBIASAAN MAKAN REMAJA
Kebiasaan makan merupakan istilah untuk menggambarkan perilaku yang berhubungan
dengan makan dan makanan seperti tata krama, frekuensi makan seseorang, pola makan yang
dimakan, kepercayaan terhadap makanan (suka atau tidak suka), cara pemilihan bahan makanan
yang hendak di makan . Masalah kebiasaan makan pada remaja menurut Bourne menyatakan
remaja mempunyai kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan di luar rumah atau sekolah,
memilih makanan yang dianggap populer dan meningkatkan gengsi, serta mempunyai kebiasaan
makan tidak teratur.
Kebiasaan makan yang kurang baik pada remaja dan keinginan untuk terlihat langsing,
khususnya pada remaja putri seringkali menimbulkan gangguan makan (eating disorder).
Gangguan pola makan yang umum diderita khususnya oleh remaja putri adalah bulimia dan
anorexsia nervosa. Pada masa remaja, khususnya remaja putri, dengan berat badan normal tidak
16
puas dengan bentuk dan berat badannya dan ingin menjadi lebih kurus. Pada remaja putri ini pada
umumnya ingin mempunyai bentuk badan yang lebih langsing, ramping dan menarik.
1. Pola makan khusus
Survei tentang asupan gizi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa remaja cenderung
mendapat asupan vitamin A, tiamin, besi, dan kalsium lebih sedikit dari yang dianjurkan.
Umumnya mereka banyak mengonsumsi junk food sehingga asupan lemak, gula, garam
(Na), dan protein lebih besar daripada yang diperlukan.
Remaja mempunyai kebiasaan makan diantara waktu makan, berupa jajanan baik
disekolah maupun diluar sekolah. Pilihan jenis makanan yang mereka lakukan lebih penting
daripada tempat atau waktu makan.makanan mereka umumnya kaya energi yang berasal
dari karbohidrat dan lemak sehingga orang tua dianjurkan untuk menekankan pentingnya
mengkonsumsi sayuran dan buah segar serta makanan sumber serat lainya. Menurut hasil
riskesdas 2007 (Depkes RI, 2008) sebanyak 93,6% remaja usia 10-14 tahun dan 93,8% usia
15-24 tahun kurang mengkonsumsi dayur dan buah. Menyantap sayur dan buah kurang dari
lima kali sehari termasuk dalam kategori kurang.
2. Makan tidak teratur
Waktu-makan yang dilewatkan dan makan diluar rumah meningkat dari awal hingga
akhir masa remaja. Hal ini merefleksikan peningkatan penggunaan waktu diluar rumah.
Makan malam merupakan waktu makan yang paling teratur dilakukan dalam sehari.
Remaja dan dewasa muda lebih sering mengabaikan dan melewatkan makan pagi,
dibandingkan dengan kelompok usia lain. Pada umumnya remaja perempuan beranggapan
bahwa mereka dapat mengontrol berat badan dengan cara mengabaikan makan pagi atau
makan siang. Oleh sebab itu remaja yang berdiet perlu diberi penjelasan bahwa hal tersebut
justru berakibat sebaliknya. Bila tidak makan pagi, makan pada pertengahan siang atau
siang mereka akan merasa sangat lapar, sehingga makan lebih banyak dibandingkan bila
mereka makan pagi.
3. Gangguan makan
Terdapat dua macam gangguan makan yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa.
Anoreksia dan bulimia adalah ganguan pola makan yang tampak atau sering terjadi pada
remaja dan wanita dewasa, hanya sedikit laki-laki yang menderita gangguan makan ini.
Kedua gangguan ini biasanya terjadi akibat seseorang terobses untuk menjadi langsing.
Keduanya juga mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk menguruskan badan. Gangguan

17
tersebut biasanya muncul ketika seseorang memasuki usia puber. Jarang terjadi pada anak-
anak. Kalaupun ada, mungkin hanya “bibitnya” saja.
a. Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa merupakan suatu ancaman dan dikenal dengan gangguan
“melaparkan diri”. Anoreksia nervosa ialah gangguan makan untuk membuat tubuh
menjadi kurus dengan cara membatasi makan secara sengaja dan mengontrolnya dengan
sangat ketat. Jadi penderita benar-benar menghindari aktivitas makan. Penderita anoreksi
sebenarnya sadar bahwa mereka kelaparan, tetapi karena takut berat badannya
bertambah, mereka tetap memaksakan diri menahan rasa lapar. Selain itu, persepsi
penderi terhadap rasa kenyang mengalami gangguan. Sehingga ketika mereka
mengonsumsi makanan dalam porsi kecil pun mereka akan merasa sangat kenyang
bahkan merasa mual. Kebanyakan ketika meraka terpaksi makan akibat terlalu lapar,
mereka akan merasa sangat bersalah, walaupum yang dimakan hanya sedikit. Kalau
sudah merasa bersalah, walaupun yang dimakan hanya sedikit, kalau sudah merasa
bersalah, mereka memuntahkan kembali makanannya. Oleh karena itu, mereka lebih
mereka lebih memilih untuk melakukan diet ketat demi untuk memiliki tubuh yang
kurus atau langsing. Penderita anoreksia nervosa memiliki rata-rata berat badan 15%
kurang dari berat badan normal meskipun sudah kurus, mereka masih tetao merasa
tubuhnya gemuk.
Tanda –tanda seseorang penderita anoreksia, meliputi :
1) Kontrol asupan atau masukan makanan, biasanya membatasi masukan dengan
makanan rendah kalori,
2) Kehilangan berat badan dratis semenjak penderita tidak mengizinkan dirinya untuk
mengonsumsi makanan berat, jika dia merasa berat badannya naik, dia akan
melakukan olahraga berat dan/ sengaja memuntahkan makanab untuk mengurangi
berat badan
Tanda khas lain adalah tidak mengalami menstruasi minimal 3 bulan. Hal ini
terjadi karena tubuhnya tidak ada nutrisi yang cukup, sehingga aktivitas hormonnya
terganggu.
Perilaku anoreksia ini dapat berdampak fatal, karena menahan laparnya dilakukan
mati-matian hingga kearah bunuh didri. Tanpa izi yang cukup tentu tubuh dan organ-
organ didalamnya tidak mampu bekerja dengan baik.

18
Kelainan ini menyebabkan beberapa perubahan dalam tubuh yaitu :
1) Penurunan berat badan ekstrem.
2) Kelainan hormone.
3) Rambut rontok.
4) Penurunan sistem kekebalan tubuh.
5) Malnutrisi.
6) Kulit kering.
7) Gangguan sistem saraf.
8) Sleeplessness (insomnia).
9) Rasa tertekan dan masalah organ internal lainnya.
10) Kematian pada beberapa kasus.

Komplikasi medis pada penderita anoreksia nervosa adalah


1) Komplikasi metabolisme
a) Kulit berwarna kuning
b) Gangguan indra perasa
c) Hipoglikemia
2) Komplikasi gastrointestinal
a) Perubahan pengosongan lambung
b) Pembekakan kelenjar saliva
c) Dilatasi gaster
d) Konstipasi
3) Komplikasi kardiovaskular
a) Brakikardia
b) Aritmia
c) Efusi pericardia
d) Edema
e) Gagal jantung
4) Komplikasi ginjal
a) Perubahan konsentrasi urine
b) Nefropati

19
5) Komplikasi cairan dan elektrolit
a) Dehidrasi
b) Kelemahan
c) Tetani
6) Komplikasi hematologi
a) Perdarahan
b) Anemia
7) Komplikasi gigi
a) Dekalsifikasi
b) Karies
8) Komplikasi endokrin
a) Amenorrhea
b) Penurunan hasrat seksual
c) Impoten
9) Komplikasi lain
a) Hipotermia
b) Bulimia nervosa

b. Bulimia Nervosa
Bulimia ialah makan berlebihan, sesuka hati dalam periode waktu yang pendek,
diikuti dengan keinginan untuk memuntahkan atau mencuci perut dengan obat pencahar
atau diuretic untuk mengontrol berat badan.
Bulimia berbeda dengan anoreksia. Penderita anoreksia berusaha keras untuk
menahan lapat dan berusaha untuk tidak makan atau hanya makan 2-3 sendok nasi
perhari, penderita bulimia lebih cenderung ke binge atau berlebihan artinya penderita
bulimia makan dalam jumlah banyak atau berlebihan.
Bulimia tampak paa remaja lanjut dan wanita dewasa serta beberapa laki-laki.
Gangguan makan ini merupakan sebuah tekanan dan penderita bisa makan 1.000-10.000
kalori pada 1 tahun. Makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang mudah dimakan,
tinggi lemak dan tinggi karbohidrat. Terutama jika makanan ini merupakan makanan
favorit, bisa sulit dihentikan.

20
Belum tentu penderita bulimia menikmati makanannya. Mereka hanya ingin
mengunyah walaupun tidak lapar ingin binge. Mereka makan berlebihan hanya untuk
memuaskan keinginan. Sebab, makanan yang telah dikonsumsi akan dikeluarkan
kembali, hingga tidak ada yang tersisa. Dalam persepsi mereka, dengan cara seperti ini
mereka bisa tetap kurus, tanpa perlu menahan keinginannya untuk makan.
Untuk mengeluarkan kembali makanan yang sudah masuk, para penderita bulmia
dapat melakukan dengan berbagai cara. Misalnya, memuntahkan makanan yang sudah
ditelan dengan memasukan jari tangan, sedotan, sikat gigi, dan sebagainya. Cara lain
dengan cara berpuasa selama 24 jam tanpa makan dan minum, mengkonsumsi pil
pelangsig. Mereka juga melakukan olahraga berlebihan, melebihi batas normal orang
biasa melakukannya. Kelebihan obat pencahar dapat menyebabkan dehidrasi, malnutrisi,
iritasi esophageal, pengeroposan dan kerusakan gigi, dan gangguan kelenjar dan
metabolic.
Berbeda dengan penderita anoreksia, berat badan penderita bulimia biasanya
normal atau sebelumnya memang obesitas, 40% mereka yang obesitas adalah penganut
gaya makan binge. Ciri utama para pendeita bulimia adalah memiliki kebiasaan binge
dan muntah berkali-kali. Sepertinya halnya dengan anoreksia, para penderita bulimia
juga bisa membahayakan jiwa. Bayangkan jika mereka terus-terusan memuntahkan
makanan yang dimakan tubuh mereka akan menjadi lemas, sulit untuk berpikir dan tidak
ada energy untuk beraktivitas. Apalagi jika mereka memuntahkan makanan dengan
menggunakan alat, resiko pun bertambah. Komplikasi yang terjadi akan bersifat jangka
panjang, seperti kerusakan pada mulut, kerongkongan, tenggorokan, dan esophagus
(saluran dari mulut ke perut). Perwujudan berupa luka dan perdarahan. Selain itu,
kelenjar liur pipinya bisa bengkak akibat tekanan pada perangsangan muntah, gigi dan
gusi rusak akibat asam muntahan, luka dan kapalan pada punggung jari akibat
menusukan ketengorokan. Adapun jika menggunakan pil atau obat, bisa terjadi
kerusakan ginjal akibat penyalahgunaan obat diuretika dan gangguan pencernaaan akibat
obat pencahar.

Penyebab dari kedua gangguan makan anoreksia dan bulimia adalah


1) Body image

21
Dalam pandangan remaja, tubuh harus langsing. Sehingga banyak yang merasa tidak
percaya diri bila tubuhnya tidak langsing. Body image inilah yang menajdi trigger lever
munculnya gangguan makan.
2) Biologis
Sebuah jurnal penelitian menyebutkan 56% anorekasi dan bulimia terjadi karena faktor
genetis. Artinya kalau ibunya menderiya anorekasia atau bulimia, besar kemungkinan
anaknya juga akan mengalami hal yang sama.
3) Psikologis
Fungsi psikologis menyebabkan munculnya anorekasi dan bulimia adalah stress. Jika
sedang stress banyak orang yang doyan makan atau binge, sebaliknya ada juga yang
tidak mau makan sama sekali atau sanggup menahan lapat ketika stress. Kedua hal ini
biasa memicu timbulnya anoreksia atau bulimia.
Fungsi psikologis lain yang memicu timbulnya anoreksia dan bulimia adalah
pengharapan yang tidak realitis. Misalnya, remaja yang ingin tubuhnya tampak bagus,
mseki sudah pernah melahirkan lebih dari sekali karena tidak berhasil dengan cara uang
wajar, akhirnya mereka terjebak dalam anorekasi atau bulimia.
4) Sosial
Secara sosial seorang remaja merasa lebih bisa diterima jika mereka memiliki tubuh
kurus atau langsing. Maka ia akan berusaha untuk menurunkan berat badannya. Apalagi
jika dengan tubuh yang kurus membuat dia jadi popular, dipuji, mudah mencapai
prestasi, mudah mendapat pacar dan keuntungan lainnya. Menurut mereka anorekasia
dan bulimia merupakan cara yang paling tepat untuk mendapatkan tubuh kurus dalam
waktu yang relative cepat.
5) Keluarga
Keluarga yang menerapkan pola asuh over protective bisa mendorong terjadinya
anoreksia atau bulimia pada remaja. Bayangkan jika ada orang tua yang sering
mengkritik cara makan anaknya, lama-kelamaan anak pasti akan takut jika makan
terlalu banyak aturan.
Keluarga yang terlalu membebaskan anak untuk makan juga dapat memicu timbulnya
obsesi untuk jadi kurus. Jadi setiap disuruh makan banyak anak akan menurut, tetapi
setelahnya sang anak akan memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakannya.

22
Orang tua yang punya kebiasaan menahan lapar atau malah meminum obat pencahar
biasanya memicu anak untuk meniru.
6) Media
Media juga berperan dalam menyebabkan timbulnya gangguan anorekasi dan bulimia,
sebab kebanyakan body image yang disukai disebarluaskan melalui media. Hal ini akan
menyebabkan mereka mempunyai pandangan bahwa seorang wanita akan dicintai pria
ketika ia mampu menjaga postur tubuhnya.
7) Budaya
Menjalani kebiasaan gangguan makan bisa dianggap tepat bagi mereka yang memiliki
budaya high achiever, mereka berusaha dengan keras untuk mendapatkan sesuatu.
Untuk mendapatkan tubuh yang langsing mereka rela menahan lapar atau
memuntahkan makanannya. Sebuah prinsip mereka dalah “no pain, no gain”, wajarlah
jika sakit yang dialami demi mendapatkan tubuh yang sesuai dengan keinginan.

F. FAKTOR PENYEBAB MASALAH GIZI REMAJA

Saat seseorang memasuki masa remaja, hal-hal yang berpengaruh terhadap kebiasaan
makan sangat banyak; pembentukan kebiasaan tersebut sangat kompleks meningkatnya
kemandirian, meningkatnya partisipasi dalam kehidupan sosial, dan padatnya jadwal aktivitas
pada umumnya berdampak terhadap apa yang dimakan remaja. Mereka membeli dan menyiapkan
lebih banyak makanan untuk dirinya, serta sering makan cepat-cepat dan makan diluar rumah.

23
Sistem sosial ekonomi politik

Ketersediaan makanan, produksi, dan


sistem distribusi

Faktor-faktor Eksternal
Faktor-faktor Internal
Unit keluarga dan
karakteristik keluarga
Kebiasaan orang tua Kebutuhan dan
Teman sebaya karakteristik fisiologis
Norma dan nilai-nilai Gambaran tubuh
sosial budaya Konsep diri
Media massa Kepercayaan dan nilai-
Fast food nilai pribadi
Kesukaan makanan Kesukaan makan dan arti
Pengetahuan gizi makanan
Pengalaman pribadi Perkembangan psikologis
Kesehatan

Gaya Hidup

Prilaku Makan
Individu

Gambar 7.2 Diagram skematis faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan makan remaja

Sumber: Worhington-Roberts, B.S dan S.R Rodwell Williams. 2000. Nutrision throughout the
Life Cycle, ed. 4, hal 274. McGraw-Hill International Ed., Singapore

1. Kebiasaan Makan yang Buruk

24
Kebiasaan makan yang buruk, berpangkal pada kebiasaan makan keluarga yang tidak baik
sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usia remaja. Mereka makan seadanya
tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya
kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan mereka.
2. Pemahaman Gizi yang Keliru
Tubuh yang langsing sering menjadi idaman bagi para remaja terutama wanita remaja hal
ini sering menjadi penyebab masalah, karena untuk memelihara kelangsingan tubuh mereka
menerapkan pembatasan makanan secara keliru. Sehingga kebutuhan gizi mereka tidak
terpenuhi. Hanya makan sekali sehari atau makan-makanan seadanya, tidak makan nasi
merupakan penerapan prinsip pemeliharaan gizi yang keliru dan mendorong tejadinya
gangguan gizi.
3. Kesukaan yang Berlebihan Terhadap Makanan Tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu saja menyebabkan kebutuhan gizi
tidak terpenuhi. Keadaan seperti ini biasanya terkait dengan “mode” yang tengah marak di
kalangan remaja. Di tahun 1960-an misalnya, remaja Amerika Serikat sangat menggandrungi
makanan berupa hot dog dan minuman Coca Cola. Kebiasaan ini kemudian menjalar ke
remaja di berbagai negara lain, termasuk Indonesia.
4. Promosi yang Berlebihan Melalui Media Massa
Usia remaja merupakan usia dimana mereka sangat mudah tertarik pada sesuatu yang
baru. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pengusaha makanan dengan mempromosikan produk
makanan mereka dengan cara yang sangat memengaruhi para remaja. Apalagi jika promosi
produk ini dilakukan dengan menggunakan bintang film yang menjadi idola mereka.
5. Masuknya Produk-Produk Makanan Baru
Produk makanan baru yang berasal dari Negara lain secara bebas membawa pengaruh
terhadap kebiasaan makan para remaja. Jenis makanan siap santap (fast food) yang berasal
dari negara barat seperti hot dog, pizza, hamburger, fried chicken, dan french fries, berbagai
makanan yang berupa junk food sering dianggap lambang atau gimbal kehidupan moderen
oleh remaja.
Zaman sekarang orang inginnya semua serba cepat, serba praktis. Urusan perut juga
inginnya simple, bisa diterima lidah dan cukup mengenyangkan. Akhirnya makanan cepat
sajilah yang menjadi andalan utama. Sayangnya demi kepraktisan dan kelezatan, nilai gizi
seringkali diabaikan oleh konsumen maupun produsen makanan tersebut. Kebanyakan

25
makanan yang praktis tersebut miskin vitamin dan mineral, tinggi garam, lebih banyak lemak
dan gula. Inilah yang kemudian diberi label junk food karena tidak berguna bagi tubuh.
Terutama bagi remaja yang pertumbuhannya masih berlangsung.
Ternyata junk food dan fast food itu tidak selalu sama. Junk food menurut Merriam
webster’s collegiate dictionary, artinya makan yang tinggi kalori, tetap rendah kandungan
nutrisinya. Sesuatu yang kelihatannya menarik atau menyenangkan, tetapi hanya sedikit atau
tidak memiliki manfaat. Sementara fast food atau hidangan cepat saji adalah makanan yang
siap dihidangkan dan disantap tanpa perlu membuang banyak waktu. Tetapi, fast food tidak
selalu tergolong junk food. Misalnya, salad yang ada di restoran fast food dan penyajiannya
cukup cepat, tetapi makanan ini cukup menyehatkan.
Menurut dr. Rina Agustina, kebanyakan makanan yang tergolong fast food mengandung
banyak lemak, garam, gula dan tinggi kalori sehingga tergolong junk food. Contohnya
permen, gorengan, kue manis, minuman ringan atau soda dan lain-lain. Pengolahannya juga
cenderung menggunakan suhu tinggi dan minyak berulang-ulang.
Makanan yang tergolong junk food mungkin tidak sama di setiap negara dan daerah.
Seperti di Indonesia, kerupuk yang terbuat dari tepung terigu dan digoreng dalam minyak
banyak, sehingga tinggi kalori tetapi minim nutrisi dapat dikategorikan sebagai junk food.
Adapun di Amerika atau Eropa yang dikategorikan sebagai junk food adalah kentang goreng
yang disajikan dengan lumuran keju dan saus mayones.
6. Hipertensi dan Hiperlipidemia
Banyak penelitian epidemiologis pada anak-anak menunjukkan bahwa penyakit-penyakit
kardiovaskular, pembuluh darah-jantung (coronaryartery diase), dan hipertensi esensial,
dimulai sejak masa kanak-kanak (Worhington-Roberts dan Williams, 2000). Faktor-faktor
risiko penyakit kardiovaskular berubah selama priode tumbuh-kembang; ada perbedaan antar
ras dan antar-gender yang berkaitan dengan penyakit jantung pada usia dewasa. Faktor-
faktor risiko ini dapat meramalkan kejadian pada masa dewasa. Obesitas berkaitan dengan
tekanan darah tinggi dan dengan kadar lipoprotein serum tidak normal. Remaja dengan kadar
kolesterol darah tinggi juga cenderung mempunyai kolesterol darah tinggi pada masa
dewasa. Anak-anak dan remaja yang berasal dari keluarga yang menderita peyakit
kardiovaskular atau hipokolesterolemia hendaknya diperiksa, dengan kriteria sebagai berikut:

26
a) Orang tua atau nenek/kakeknya pada usia 55 tahun atau kurang mengalami penyakit
aterosklerosis koroner, kardiovaskular, atau serebrovaskular, atau mati mendadak
karena serangan jangtung;
b) Orang tua dengan kolesterol darah tinggi; dan
c) Remaja beresiko tingi, seperti remaja yang merokok atau yang mengalami obesitas.
Risiko nilai lipida darah tertentu untuk anak-anak usia 2-19 tahun menurut gender
adalah sebagai berikut :

Kolesterol total Risiko Kolesterol-LDL Risiko


mg/dl mg/dl
Laki-laki 175-190 Sedang 110-130 Sedang
>190 Tinggi >130 Tinggi
Perempuan 178-200 Sedang 115-140 Sedang
>200 Tinggi >140 Tinggi

Remaja hendaknya dibantu agar mereka mengerti hubungan antara gaya hidup dan
penyakit-penyakit yang timbul dikemudian hari. Bila seorang remaja menderita tekanan
darah tinggi, atau ada sejarah tekanan darah tinggi didalam keluarga, ia perlu menerapkan
diet yang rendah garam dapur dan energi-total. Remaja hendaknya didorong untuk
menghindari makanan tinggi-lemak, rendah-serat, dan dianjurkan untuk mengkonsumsi
aneka ragam makanan. Disamping itu, mereka hendaknya juga didorong untuk menghindari
merokok dan minum alkohol.

7. Karies gigi serta penyakit gigi dan mulut


a. Karies gigi
Penyebab karies gigi merupakan proses kompleks yang melibatkan interaksi berbagai
faktor. Meneral email gigi berada dalam keseimbangan yang konstan dengan lingkungan
mulut. Oleh karena itu tidak saja kehadiran hidrat arang yang dapat difermentasi yang
perlu dipertimbangkan tetapi juga faktor-faktor kelarutan makanan, komposisi mineral,
dan kapasitas buffer dalam lingkungan mulut. Kencendrungan remaja makan snack kaya
karbohidrat mumi dapat menyebabkan karang gigi. Hasil Riskesdas 2007 (Depkes RI,
2008) menunjukkan prevalensi karies aktif dalam 12 bulan terakhir pada remaja usia 12
tahun, 15 tahun, dan 18 tahun secara berturut-turut adalah sebesar 29,8%, 36,1%, dan
27
41,2%. Sedangkan yang mempunyai pengalaman dalam karies gigi lebih tinggi, yaitu
36,1%, 43,6%, dan 50,8%.
b. Gingivitis (infeksi pada gusi)
Prevalensi gingivitis yang disertai oleh penyakit gigi dan mulut meningkat pada usia
remaja. Peranan gizi pada penyakit gigi dan mulut tidak banyak diketahui, namun
insiden penyakit tersebut banyak dijumpai pada anak-anak gizi-kurang di negara-negara
sedang berkembang.
Hasil Riskesdas 2007 (Depkes RI, 2008) menunjukkan secara umum sebanyak 20,6%
remaja usia 10-14 tahun mengalami masalah gigi dan mulut.
8. Penyalahgunaan bahan berbahaya
Penyalahgunaan bahan berbahaya oleh remaja merupakan masalah kesehatan yang perlu
mendapat perhatian. Bahan-bahan berbahaya yang banyak digunakan adalah sabu-sabu,
marijuana/ganja, kokain, tembakau atau rokok, dan alkohol. Predikator paling kuat
penggunaan obat-obat berbahaya ini oleh remaja adalah kelompok sebaya yang
menggunakan obat-obat tersebut, kurangnya pengawasan dari orang tua, atau orang tua juga
pengguna obat. Remaja yang tinggal sendiri untuk jangka waktu lama cenderung
menggunakan obat-obat terlarang dan memulainya lebih cepat dibandingkan mereka yang
tinggal dengan keluarga atau melakukan aktivitas positif dalam kelompok yang selalu
diawasi.
Konsumsi tembakau atau rokok mempunyai dampak negatif yang bersifat multi-dimensi
mulai terhadap kesehatan, keadan sosial-ekonomi, dan terhadap hak orang lain untuk
menghirup udara bersih. Asap rokok mengandung lebih dari 4000 zat kimia, 43 diantaranya
bersifat karsinogenik. Tidak ada batas aman terhadap paparan asap rokok. Paparan asap
rokok pada ibu hamil merupakan penyebab utama kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR), lahir-mati, dan abortus spontan.
Menurut data Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (2007), prevalensi merokok remaja
meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2001 prevalensi merokok pada usia 15 tahun ke
atas sebesar 31,5%, yang menungkat menjadi 34,4% pada tahun 2004. Perokok perempuan
meningkat secara signifikan dari 1,3% menjadi 4,5% selama periode 2001-2004;
peningkatan tertinggi terjadi pada perempuan kelompok usia 15-19 tahun, yaitu dari 0,2%
menjadi 1,9%. Perokok aktif remaja laki-laki usia 13-15 tahu adalah sebesar 24,5%,
sedangkan remaja usia 15-19 tahun sebesar 33%. Usia mulai merokok menurun namun

28
prevalensi merokok anak usia 5-9 tahun meningkat dari 0,4% pada tahun 2001 menjadi 1,8%
pada tahun 2004, atau lebih dari 4 kali lipat. Prevalensi perokok aktif menurut Riskesdes
2007 (Depkes RI, 2008) pada remaja usia 10-14 tahun sebesar 2% dengan rata-rata 10 batang
rokok sehari, pada usia 15-24 tahun prevalensinya meningkat menjadi 24,6% dengan rata-
rata 12 batang rokok/hari. Sedangkan presentase penduduk yang mulai merokok setiap hari
pada usia 10-14 tahun sebesar 9,6% dan pada usia 15-19 tahun meningkat menjadi 36,3%.
Dampak negatif merokok terhadap kesehatan telah didokumentasikan dalam lebih dari
70.000 artikrl ilmiah; merokok menyebabkan kanker, antara lain pada mulut, rongga mulut,
tenggorokan, rongga hidung, pita suara, kerongkongan, lambung, pankreas, kandung kemih,
dan hati; penyakit jantung dan pembuluh darah, dan penyakit pembuluh otak; bronkitis
kronik, emfisema, asma, pneumonia, dan penyakit saluran napas lainnya.
a. Dampak Bahan Berbahaya terhadap Status Gizi
Pengaruh penyalahgunaan bahan berbahaya terhadap status gizi tergantung pada jenis,
jumlah, lama dan frekuensi penggunaan, status kesehatan dan status gizi sebelumnya,
serta tingkat pertumbuhan fisik dan kecukupan makanan yang dikonsumsi.

G. AKIBAT MASALAH GIZI PADA REMAJA

Timbulnya masalah gizi pada remaja pada dasarnya dikarenakan perilaku gizi yang salah,
yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Bila
konsumsi gizi selalu kurang dari kecukupan maka seorang akan mengalami gizi kurang.
Sebaliknya jika konsumsi melebihi kecukupan akan menderita gizi lebih dan obesitas.

Keadaan gizi atau status gizi merupakan gambaran apa yang dikonsumsi dalam jangka
waktu cukup lama. Keadaan gizi dapat berupa gizi kurang, baik atau normal maupun gizi
lebih.Kekurangan salah satu gizi dapat menimbulkan penyakit berupa penyakit defisiensi.Bila
kekurang batas marginal menimbulkan gangguan yang sifatnya lebih ringan atau menurunnya
kemampuan fungsional.Misalnya kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan badan cepat lelah,
kekurangan zat besi dapat menurunkan prestasi kerja dan prestasi belajar selain turunnya
ketahanan tubuh terdapat penyakit infeksi.

Beberapa masalah yang berkaitan dengan gizi yang ditemukan pada remaja antara lain
adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) kurang dari batas normal (KEK) atau sebaliknya, memiliki

29
IMT yang berlebih (obesitas),dan anemia serta masalah yang berhubungan dengan gangguan
perilaku makan berupa anoreksia nervosa dan bulimia.

1. Kurus
Pada remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis tidak selalu berupa akiba
t terlalubanyak olah raga atau aktivitas fisik. Pada umumnya adalah karena makan terlalu
sedikit.Remaja perempuan yang menurunkan berat badan secara drastis erat hubungannya
dengan faktor emosional seperti takut gemuk seperti ibunya atau dipandang lawan jenis k
urang seksi.
Jika penyebab kurus itu memang hanya karena kekurangn zat gizi semata atau karena
sedang menderita penyakit tertentu tanpa ada faktor psikologis seperti anoreksia dan
bulimia maka penanganan bisa segera dilakukan dengan terapi gizi atau dengan
pengobatan jika menderita sakit dilanjutkan dengan pemulihan gizi.Namun jika
penyebabnya adalah karena anoreksia dan bulimia maka penanganannya perlu dilakukan
terpadu antara dokter (psikiater) dan ahli gizi. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam
anoreksia dan bulimia.

2. Obesitas
Obesitas adalah keadaan seseorang jika berat badannya lebih dari 30 standar BBI
(Berat Badan Ideal), atau juga keadaan jika seseorang mempunyai berat badan 120% lebih
besar dari berat badan seharusnya pada usianya. Obesitas menjadi masalah di seluruh
dunia karena prevalensinya yang meningkat pada orang dewasa dan anak baik di negara
maju maupun negara sedang berkembang. Jumlah anak usia sekolah dengan overweight
terbanyak berada di kawasan Asia yaitu 60% atau 10,6 juta jiwa. Penderita obesitas lebih
banyak ditemukan pada remaja dan eksekutif muda diperkotaan karena konsumsi
makanan berlebih serta kurang aktivitas fisik dan olahraga. Penelitian menunjukan
obesitas sebagai faktor resiko berbagai penyakit seperti Hipertensi,
Hiperkolesterol,penyakit jantung, ginjal dan diabetes militus selain itu penampilan juga
kurang menarik, tidak lincah dan cenderung lamban.
Obesitas remaja biasanya karena remaja tidak dapat mengontrol makanannya dalam
jumlah berlebih hingga berat badan lebih dari normal. Remaja putri yang melakukan diet
untuk mengurangi berat badan beresiko kegemukan saat dewasa nanti yang akan
menimbulkan terjadinya depresi.

30
Penatalaksanaan : mengembangkan diet yang sehat, olahraga secara bertahap.

3. Anemia
Masalah gizi lain pada remaja khususnya remaja putri adalah kurang zat besi atau
anemia yang merupakan kelanjutan dampak dari kurang zat gizi makro (
karbohidrat,protein,lemak) dan kurang zat mikro (vitamin dan mineral). Berdasar survey
Nasional tahun 1995 prevalensi anemia remaja putri sebesar 57,1% penelitian WHO 2001
didapatkan sekitar 41,4% sampai 66,7% remaja putri Indonesia menderita anemia.
Prevalensi remaja putri lebih beasr dari pada remaja pria, lebih besar dipedesaaan (27%)
dibandingan di perkotaan (22,6%).
Dampak anemia pada remaja putri yaitu pertumbuhan terhambat, mudah terinfeksi
mengakibatkan kebugaran atau kesegaran berkurang, semangat belajar menurun, saat
menjadi calon ibu akan menjadi beresiko tinggi untuk kehamilan dan melahirkan
diantaranya perdarahan pada waktu melahirkan sehingga menyebabkan kematian. Dapat
diatasi dengan suplementasi iron/zink.Sumber hewani seperti daging, prodak laut dan
sumber nabati seperti kacang-kacangan. Suplementasi/zink diharapkan menjadi salah satu
cara meningkatkan status gizi dan kesehatan remaja putri juga diharapkan menjadi cara
untuk meningkatakan kesehatan calon ibu sehingga dapat menurunkan kematian ibu
melahirkan akibat perdarahan dan menurunkan bayi lahir dengan berat badan rendah.

4. Anoreksia dan Bulimia


Anoreksia dan Bulimia merupakan kelainan pola makan yang lebih sering terjadi
pada perempuan. Kelainan ini merupakan gangguan makan yang menyiksa/bentuk
penyiksaan diri sendiri yang dihasilkan ketakutan tubuh akan menjadi gemuk setelah
makan dan ketakutan mental ini terpancar melalui penyiksaan fisik. Angkanya meningkat
selama dekade terakhir, 1 dari 100 remaja perempuan umur antara 16-18 tahun menderita
anoreksia. Perbandingan dengan remaja laki-laki 10 : 1 (sidiartha, Soetijinigsih,2009)
Anoreksia nervosa adalah hilangnya nafsu makan atau terganggunya pusat nafsu
makan disebabkan karena rasa takut yang berlebihan terhadap kegemukan sehingga
melakukan diet sangat ketat sehingga berat badan turun drastis dalam waktu singkat.
Akibatnya fungsi normal tubuh akan terganggu. Pertumbuhan terhambat, rambut rontok,

31
siklus haid terganggu dan mudah terserang penyakit misalnya anemia, kekurang vitamin
dan penyakit infeksi.
Yang paling berbahanya adalah kelainan jantung serta kekurangan cairan dan
elektrolit (natrium, kalium, klarida) jantung menjadi lemah dan memompa sedikit darah
keseluruh tubuh, pada penderita dehidrasi cenderung mengalami pingsan. Darah menjadi
asam dan kadar kalium darah berkurang. Bisa terjadi kematian mendadak karena irama
jantung yang abnormal. Juga terjadi perubahan hormonal yaitu berkurangnya kadar
hormon estrogen dan tiroid serta meningkatnya kadar hormon kortisol.
Penderita Bulimia ciri utamanya makan banyak kemudian dimuntahkan kembali atau
mengkonsumsi obat pencahar dan obat diuretik untuk memuntahkan kembali
makanannya, biasanya mengakibatkan kerusakan email gigi karena terciptanya prodak
asam yang berlebih ketika muntah.
Bulimia dapat diikuti dengan terjadinya anoreksia begitu pula sebaliknya.Penderita
kelainan ini mampu menjaga kekuatan dan kegiatan sehari-hari mendekati normal.
Penyakit ini menyebabkan kematian pada 10% penderitanya.
Penatalaksanaannya umunya terdiri dua tahap yaitu mengembalikan berat badan
normal, serta terapi psikis yang seringkali dibarengi dengan pemberian obat-obatan.
Pengobatan awal biasanya dirumah sakit penderita didorong untuk makan kadang melalui
infus atau selang Nasogastrik.Jika ditemukan depresi diberi anti obat depresi.

H. PENGEMBANGAN PERILAKU MAKAN SEHAT UNTUK REMAJA


Perilaku makan sehat untuk remaja sama penting dengan perubahan fisik selama masa
remaja yang berpengaruh pada gizi yang dibutuhkan remaja. Remaja biasanya memilih makanan
sesuai keinginannya. Cenderung lebih banyak makan diluar rumah juga terpengaruh oleh peer
groupnya lebih suka mengkonsumsi sejenis jungfood (soft drink, fast food, makanan kemasan ).
Remaja biasanya kurang mengkonsumsi serat yang kebutuhan rata-ratanya perhari sebesar 20-35
grm. Penelitian dilakukan oleh Christine Mulyanty S pada tahun 2002 di SMU I Bogor
menunjukan konsumsi serat remaja sebesar 9,3gram, di SMU Leuwiliang sebesar 8,8gram.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam menyiapkan makanan
untuk remaja:
1. Biarkan remaja untuk menemukan sendiri tentang gizi yang diperlukan untuk mereka
dengan menyediakan majalah atau buku remaja yang memuat artikel tentang makanan

32
dan mendorong mereka, mendukungnya agar mereka tertarik dalam kesehatan, masakan
atau gizi yang dibutuhkan mereka.
2. Jika memungkinkan selalu siapkan makanan dirumah
3. Mencoba menu yang “baru” misalnya mencoba menu dari daerah lain
4. Saat ini sudah tersedia snack bergizi. Sesekali sediakan snack ini
5. Hindari menyediakan makanan yang tidak disukai remaja dirumah anda
6. Membuat waktu makan menjadi saat yang menyenangkan untuk berbagi pengalaman
diantara keluarga
7. Mengetahui jadwal kegiatan remaja sehingga waktu makan (bersama) tidak berbenturan
dengan kegiatan (yang menurut mereka sangat penting)
8. Memberikan penekanan tentang manfaat makanan yang baik seperti perbaikan vitalitas
dan peningkatan ketahanan fisik
9. Menyimpan hanya kudapan bergizi dilemari es
10. Melatih tanggung jawab remaja dalam hal perencanaaan makanan, pembelanjaan, dan
pemasakan.

I. PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG GIZI


Konteks pendidikan gizi pada umumnya dapat dipahami melalui pendekatan melalui
pendekatan keluarga.Pentingnya gizi dalam sebagai kebutuhan pokok dalam keluarga, harus
dapat diterapkan secara proporsional.Khususnya sumber daya keluarga serta aktivitas
keluarga.Kedudukan pangan keluarga sebagai salah satu kebutuhan pokok dalam keluarga jangan
sampai dikalahkan oleh gengsi keluarga, misalnya gizi secara umum biasanya dipandang telah
telah dietahui oleh setiap orang.
Berkaitan dengan hal tersebut, pengetahuan umum tentang gizi meliputi : fungsi makanan ,
susunan makanan , kombinasi makanan yang dapat menghindari pemborosan, cara mengelola dan
memilih serta cara menilai kesehatan yang berhubungan dengan faktor gizi, harus benar – benar
diketahui oleh keluarga.
Penyuluhan mencakup tidak hanya menyampaikan pengetahuan tetapi juga konseling
kepada klien untuk membantu menciptakan perubahan dalam perilaku makan.beberapa intervensi
yang memudahkan penyuluhan kepada klien dan keluarga adalah :
1. Dengarkan masalah dan ide klien.
2. Dorong keterlibatan keluarga bila tepat.
33
3. Tekankan pentingnya mendapatkan nutrisi adekuat.
4. Tenangkan klien memilih makanan yang tepat.
5. Bantu klien tentang interaksi obat nutrien.
6. Beritahu klien tentang interaksi obat nutrien.
7. Hindari penggunaan istilah ”diet”.
8. Tekankan hal-hal yang “perlu dilakukan “bukan hal yang“ tidak perlu dilakukan“.
9. Pertahankan pesan yang sederhana.
10. Tinjau ulang material tertulis bersama klien.
11. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang tidak dapat ditoleransi.

Tujuan umum pendidikan gizi pada wanita remaja dan dewasa adalah wanita remaja dan
dewasa memahami tentang kebutuhan gizi seimbang sesuai usianya.Sedangkan tujuan khususnya
adalah wanita remaja dan dewasa mampu menguraikan tentang pedoman uum gizi seimbang.

J. PEDOMAN UMUM GIZI SEIMBANG


Salah satu misi pembangunan kesehatan diindonesia menuju Indonesia sehat 2010 adalah
pemeliharan dan peningkatan kesehatan individu.dalam program gizi dikenal dengan istilah
Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).
PUGS itu berupa 13 pesan dasar gizi seimbang seperti yang diuraikan oleh Depkes berikut
ini :
1. Makanlah aneka ragam makanan
Tidak satupun makanan yang mengandung zat gizi , yang mampu membuat seseorang
untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Makan – makanan yang beraneka
ragam sangat berpengaruh bagi kesehatan, seperti makanan yang mengandung unsur –
unsur zat gizi yang diperlukan tubuh, baik kualitas maupun kuantitasnya. Secara populer
disebut Triguna Makanan, yaitu makanan yng mengandung zat kalori, zat pembangun
(protein)dan zat pengatur (vitamin).jadi mengonsumsi makananyang beraneka ragam akan
menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Di anjurkan memenuhi makanan yang cukup kalori (energi) agar dapat hidup dan
beraktivitas sehari – hari seperti bekerja, belajar, berolahraga, berekreasi dan kegiatan
sosial lain. Bila konsumsi kalori / energi melebihi kebutuhan akan ditimbun.

34
Bila keadaan ini berlanjut akan menyebabkan kegemukan yang selanjutnya bisa
berakibat gangguan kesehatan, seperti darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis, dll.
Sebaliknya bila konsumsi energi kurang, maka cadangan energi dalam tubuh yakni dalam
jaringan otot / lemak akan dipakai untuk menutupi kekurangan tersebut.
Kurang energi yang berlangsung lama akan berakibat berat badan menurun dan pada
gilirannya akan mengganggu kesehatan, juga mudah terkena penyakit.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.
Terdapat dua kelompok karbohidrat yaitu yang berbentuk kompleks dan
sederhana.Yang kompleks adalah golongan padi – padian, umbi – umbian dan tepung –
tepungan.Sedangkan gula termasuk bentuk sederhana. Proses pencernaan dan penyerapan
karbohidrat kompleks berlansung lebih lama dari pada yang sederhana.
Hal ini berakibat bila orang mengonsumsi gula akan cepat merasa lapar lagi, hal ini
berbeda jika mengonsumsi karbohidrat kompleks. Konsumsi gula cukup dibatasi sampai
3-4 sendok makan perhari, bila berlebih cenderung berakibat kegemukan.Selain itu gula
juga merusak gigi geligi.Konsumsi karbohidrat kompleks sebaiknya dibatasi 50 % saja
dari kebutuhan energi agar tubuh dapat memenuhi sumber – sumber zat pembangun dan
pengatur.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kecukupan energi
Lemak dan minyak yang terdapat dalam makanan berguna untuk meningkatkan jumlah
energi, membantu penyerapan vitamin ( A, D, E dan K) serta menambah lezatnya
hidangan sehingga menimbulkan rasa kenyang lebih lama. Mengonsumsi lemak dan
minyak secara berlebihan akan mengurangi konsumsi makanan lain yang dapat
mengurangi kebutuhan zat gizi lainnya. Dianjurkan konsumsi lemak dan minyak sehari –
hari ¼ saja dari kebutuhan energi.
5. Gunakan garam beryodium
Sesuai Keppres no.69 tahun 1994, semua garam yang beredar di Indonesia harus
mengandung yodium.
6. Makanlah makanan sumber zat besi
Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah
merah.kekurangan zat besi secara berkelanjutan dapat menimbulkan penyakit anemia gizi
atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah. Anemia gizi besi (AGB)
terutama banyak diderita oleh wanita hamil,wanita menyusui,dan wanita usia subur

35
karena fungsi kodrati adalah haid, hamil, melahirkan,dan menyusui yang menyebabkan
kebutuhan Fe atau zat besi relatif lebih tinggi ketimbang yang lainnya. Kelompok yang
rawan AGB adalah anak balita, anak usia sekolah, dan buruh serta tenaga kerja
berpenghasilan rendah.
7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 4 bulan dan tambahan MP-ASI sesudahnya.
8. Biasakan makan pagi
Bagi remaja dan dewassa makan pagi dapat memelihara ketahanan fisik,
mempertahankan daya tahan saat bekerja danmeningkatkan produktivitas kerja.Bagi anak
sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar menjadi lebih baik.
9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya
Air minum harus bersih dan aman.Aman berarti bersih dan bebas dari kuman.untuk
mendapatkan air minum yang bersih air harus dididihkan terlebih dahulu.
10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
Aktivitas fisik sangat bermanfaat bagi setiap orang karena dapat meningkatkan
kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot
serta memperlambat proses penuaan.
11. Hindari minum – minuman beralkohol
Seseorang yang minum – minuman beralkohol akan sering buang air kecil sehingga
menimbulkan rasa haus. Orang ini akan mengatasi rasa hausnya dengan minum-minuman
alkohol lagi. Alkohol hanya mengandung energi, tetapi tidak mengandung zat gizi lain.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
Selain harus bergizi dan seimbang makanan harus juga layak di konsumsi sehingga
aman bagi kesehatan.Makanan yang aman yaitu yang bebas dari kuman dan bahan kimia
berbahaya serta tidak bertetangan dengan keyakinan masyarakat yang dikenal dengan
istilah halal.Halal dalam arti luas selain bebas alkohol dan bukan daging babi adalah
makanan harus diolah secara higienis, sehingga tidak mengandung cemaran yang dapt
membahayakan kesehatan manusia.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas
Keterangan tentang isi, jenis dan ukuran bahan – bahan yang digunakan ,susunan zat
gizi, tanggal kadaluarsa, dan keterangan penting lainnya.

36
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas kami dapat menyimpulkan bahwa gizi adalah suatu proses organisme
menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi,
transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta
menghasilkan energi. Makanan yang beraneka ragam sangat bermanfaat bagi kesehatan,dalam
ilmu gizi dikenal dengan triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga,
pembangun dan zat pengatur.
Alasan yang mendasari masa remaja membutuhkan banyak zat gizi.
1. Secara fisik terjadi pertumbuhan yang sangat cepat ditandai dengan peningkatan berat
badan dan tinggi badan.
2. Mulai berfungsi dan berkembangnya organ – organ reproduksi.
3. Remaja umumnya melakukan aktivitas fisik lebih tinggi dibanding usia lainnya sehingga
diperlukan zat gizi yang lebih banyak.
4. Penentuan zat gizi remaja sacara umum didasarkan pada angka kecukupan gizi yang
dianjurkan untuk di Indonesia.

Berikut beberapa kebutuhan remaja yaitu energi,protein,lemak,vitamin dan mineral (


Zn,Ca,Fe).
Faktor pemicu permasalahan gizi remaja yaitu :Kebiasaan makan yang buruk, promosi
yang berlebihan di media massa tentang produk makanan, pemahaman gizi yang salah,
berlebihan terhadap suatu jenis kesukaan makanan tertentu, dan maraknya produk makanan
impor.
Beberapa masalah yang berkaitan dengan gizi yang ditemukan pada remaja antara lain:
kurus, anemia, obesitas, anoreksia dan bulimia. Pengembangan perilaku makan sehat untuk
remaja diantaranya : selalu siapkan makanan dirumah,mencoba menu yang “baru” misalnya
mencoba menu dari daerah lain,saat ini sudah tersedia snack bergizi. Sesekali sediakan snack
ini,hindari menyediakan makanan yang tidak disukai remaja dirumah anda, dan membuat waktu
makan menjadi saat yang menyenangkan untuk berbagi pengalaman diantara keluarga.
37
Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) berupa 13 pesan dasar gizi seimbang seperti yang
diuraikan oleh Depkes berikut ini :
1. Makanlah aneka ragam makanan
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kecukupan energi
5. Gunakan garam beryodium
6. Makanlah makanan sumber zat besi
7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 4 bulan dan tambahan MP-ASIsesudahnya.
8. Biasakan makan pagi
9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya
10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
11. Hindari minum – minuman beralkohol
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas

B. SARAN
Dalam makalah ini, penyusun menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang harus
dilengkapi demi perkembangan kemampuan penyusun dan para pembaca. Oleh karena itu, Segala
bentuk masukan atau saran dan usulan yang sifatnya mendukung penyusunan ini, amat sangat
diharapkan bukan semata-mata demi sempurnanya tulisan ini sendiri melainkan juga demi
penghayatan akan dalam kehidupan sehari.

38
DAFTAR PUSTAKA

Indrati, Retno, Murdijati dkk.2014. Pendidikan Konsumsi Pangan. Jakarta:Kencana


Prenadamedia Group.

Ambarwati, Fitri Respati. 2015. Gizi dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Cakrawala Ilmu.

Andriani, Dr. Merryana dan Prof.dr. Bambang Wirjatmadi. 2014. Peranan Gizi dalam Siklus
Kehidupan. Jakarta:Kencana Prenadamedia Group.

Almatsier Sunita, Susirah Soetardjo dkk. 2011. Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ms, Prof. dr. Hardinsyah dan Dewa Nyoman Supariasa, MPS. 2004. Ilmu Gizi Teori dan
Aplikasi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Worhington-Roberts, B.S dan S.R Rodwell Williams. 2000. Nutrision throughout the Life Cycle,
ed. 4, hal 274. McGraw-Hill International Ed., Singapore

39