Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS TULANGAN OPTIMUM UNTUK MENDAPATKAN EFISIENSI

BIAYA MAKSIMUM TERHADAP PEKERJAAAN BALOK LANTAI


(FLOOR BEAM) GEDUNG STRUKTUR BETON
BERTULANG
Oleh
Rony Ardiansyah
Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Islam Riau
Yuliastuti,ST
Mahaiswa Magister Teknik Sipil UIR

Abstract:
Manajemen pemkaian tulangan baja adalah salah satu aspek yang sangat
penting untuk menentukan besarnya efisiensi biaya balok beton bertulang. Sehingga
diperlukan penelitian menganalisis luas tulangan optimum untuk mendapatkan efisiensi
biaya maksimum terhadap pekerjaan balok lantai, namun tetap aman. Metode Cross
digunakan untuk menganalisis gaya dalam yang dipikul balok. Dari Gaya dalam dapat
ditentukan luas tulangan yang diperlukan. Berdasarkan tulangan yang digunakan,
biaya dapat dihitung. Metode Regresi dan Korelasi, digunakan untuk memprediksi
pengaruh dimensi terhadap efisiensi biaya struktur balok. Efisiensi biaya optimum pada
balok dengan momen yang berbeda untuk AS A dan B pada pemakaian dimensi 30/50
sebesar 26,851%. Untuk As 1 dan 3 eisisnsi optimum terjadi pada dimensi 30/50
sebesar 16,409%, sedangkan untuk AS 2, efisiensi sebebesar 8,404% terjaadi pada
dimensi 30/70. Efisiensi biaya balok dengan momen yang sama untuk AS A dan B
teerjadi pada 20/50 sebesar 22,671%, untuk AS 1 dan 3 tidak terjadi efisiensi biaya dan
biaya terkecil terdapat pada dimensi 30/50.

Kata Kunci: Efisiensi, Biaya, Luas, tulangan, Dimensi, Balok

1. PENDAHULUAN
Kemajuan dibidang pembangunan dapat dilihat majunya teknologi dan
pengetahuan dalam mendesain struktur untuk mendapatkan bangunan diperlukan desain
struktur yang baik. Desain struktur merupakan salah satu bagian dari seluruh proses
perencanaan pembangunan. Proses desain sendiri dapat di artikan sebagai gabungan
antara unsur seni dan ilmu pengetahuan yang membutuhkan keterampilan dan
pengetahuan dalam mengolahnya (Wahyudi dan Rahim, 1999:2). Adapun tujuan utama
dari desain struktur adalah untuk mendapatkan struktur yang aman terhadap beban atau
efek beban yang bekerja selama masa penggunaan bangunan. Pada intinya sasaran
desain struktur meliputi daya layan, kekuatan yang cukup, fungsi, estetika, dan ekonomi
(Wahyudi dan Rahim, 1999:3)
Tidak dipungkiri bahwa sebagian bangunan di Indonesia didesain dan dibangun
dengan campuran beton yang pada umumnya dipadu dengan baja. Kombinasi tersebut
biasa disebut beton betulang. Beton kuat tehadap tekan dan lemah terhadap tarik, kira-
kira 10-15% dari kekuatan tariknya. Oleh karena itu perlu tulangan untuk menahan gaya
tarik untuk memikul beban-beban yang bekerja pada beton. Sistem-sistem beton
tersebut dibentuk dari berbagai elemen struktur beton yang bila dipadukan
menghasilkan suatu sistem menyeluruh. Salah satunya adalah balok. Balok adalah
komponen struktur yang menyalurkan beban-beban tributary dari slab lantai ke kolom
lantai yang vertikal.
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas dapat
dirumuskan beberapa permasalahan, antara lain sebagai berikut. Bagaimana pengaruh
luas tulangan baja terhadap dimensi yang berbeda dan momen yang digunakan juga
berbeda ? Bagaimana pengaruh luas tulangan baja terhadap dimensi yang digunakan
berbeda, tetapi momen yang digunakan sama ? Seberapa besar efisiensi yang diperoleh
dari biaya balok yang menggunakan dimensi dan momen yang berbeda ? Seberapa besar
efisiensi yang diperoleh dari biaya balok yang menggunakan dimensi yang berbeda
tetapi momen yang digunakan sama ? Bagaimana pengaruh dimensi terhadap efisiensi
biaya?

3. LANDASAN TEORI

Ekonomi konstruksi (construction economy) adalah upaya-upaya yang dilakukan


dalam proses pra konstruksi maupun masa konstruksi dengan tujuan menekan biaya
konstruksi (cost estimate). Penerapan construction economy ada dua versi, yang
masing-masing mempunyai tujuan sendiri-sendiri, yaitu versi Owner dan versi
kontraktor (Asiyanto, 2003:46). Pemakaian mutu beton dan baja terhadap efisiensi biaya
komponen struktur beton bertulang, dapat dikategorikan dalam versi Owner. Yang
dimaksud dengan versi Owner adalah untuk menekan biaya investasi yaitu dengan
sasaran menurunkan nilai kontrak proyek, agar kondisi proyek menjadi layak atau lebih
layak lagi. Sedangkan versi kontraktor berbeda sekali, yaitu dengan sasaran
mengendalikan pembiayaan, agar dapat memperoleh laba yang direncanakan dan
menghindari resiko kerugian.
Dalam menganalisis efisiensi biaya komponen struktur, mau tak mau harus
melalui tahap analisis struktur. Menyiapkan data-data untuk mendapatkan saran-saran
dalam pemilihan alternatif yang akan ditinjau. Pada tahap ini harus dilakukan
perhitungan secara detail, sehingga akan didapatkan gambaran secara jelas. Perhitungan
teknis dilakukan dengan bantuan soft ware yang dikenal dengan program SAP 2000,
berguna untuk menghitung analisis dari struktur bangunan ruko. Program SAP 2000
versi 7.42 disamping mempunyai kecepatan dan ketelitian kerja yang tinggi, juga sangat
tepat dipakai untuk menganalisis berbagai model struktur, khususnya elemen frame,
baik untuk dua dimensi (2D) maupun tiga dimensi (3D). Menurut (Wigroho, 2001:1),
SAP 2000 merupakan program versi terakhir yang paling lengkap dari seri-seri program
analisis SAP, baik SAP 80 maupun SAP 90. Keunggulan program SAP 2000 antara lain
ditunjukkan dengan adanya fasilitas untuk desain elemen, baik untuk material baja
maupun beton. Di samping itu juga adanya fasilitas disain baja dengan mengoptimalkan
penampang profil yang paling optimal atau ekonomis.
Sebelum menganalisis efisiensi biaya, diperlukan analisis struktur untuk
menghitung gaya-gaya dalam yang terjadi akibat beban yang bekerja. Mekanika adalah
salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan gaya dan gerak
(Schodek, 1999:29). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan ilmu mekanika
dengan metode Cross.
Metode distribusi momen ( metode Cross) pada mulanya dikemukakan oleh
prof. Hardy Cross. Metode ini tetap unggul akan keserhanaannya dan dapat digunakan
untuk goyangan sembarang. Perhitungan cross adalah suatu cara penyelesaian dengan
pendekatan dan melalui proses interaksi dimana ketelitian dapat dipertinggi sekehendak.
Pada cara cross, bentuk akibat gaya-gaya normal dan gaya-gaya melintang diabaikan.
Untuk tiap-tiap dua batang disuatu titik simpul dinggap tidak ada sama sekali atau sudut
diantara dua batang itu dianggap selalu tetap.
Analisis regresi meliputi beberapa pola persamaan regresi dan uraian tentang
regresi linear. Persoalan yang menyangkut dan sekelompok peubah (variabel) seringkali
dijumpai dalam praktek bila diketahui bahwa diantara peubah tersebut terdapat suatu
bangunan alamiah. Hubungan antara variabel-variabel yang dicocokkan pada data
percobaan ditandai dengan persamaan prediksi disebut ”persamaan regresi” (Walpole,
1995:404). Analisis korelasi digunakan untuk mengukur eratnya hubungan antara dua
variabel dengan menggunakan suatu bilangan yang disebut ”koefisien korelasi”
(Wapole, 1995:443). Pada penelitian untuk menyelidiki sejauh mana pengaruh
peningkatan mutu beton terhadap suatu komponen struktur bangunan agar mendapatkan
pemakaian tulangan baja yang seefisien mungkin, mutu beton disebut sebagai variabel
bebas dan efisiensi tulangan baja disebut sebagai variabel tetap.

4. METODE PENELITIAN

4.1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan dua metode yaitu metode random dan non
random dengan uraian sebagai berikut. Pengambilan data mix design dilakukan dengan
secara acak (simple random sampling), yaitu pengambilan dilakukan secara acak tanpa
strata dan memberikan peluang yang sama pada setiap unsur (elemen) populasi. Teknik
ini dipilih berdasarkan asumsi bahwa metode yang dipergunakan pada laborotorium
formal bersifat standar atau homogen. Pemilihan jenis atau tipe struktur ruko yang
dipakai dalam penelitian dilakukan secara non-acak (purvosif sampling), yaitu
pengambilan sampel secara sengaja dalam hal ini harus mengetahui apa kriteria dari
sampel yang dipilih.
Cara mendapatkan data primer dan data sekunder adalah sebagai berikut. Data
primer, diperoleh dengan metode penelitian/pengamatan langsung yaitu langsung survey
ke lapangan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan seperti mengambil
dokumentasi struktur ruko (existing), mengukur dimensi komponen dan tulangan
struktur ruko yang sedang dalam tahap pembangunan. Selain itu juga dilakukan
wawancara kepada pihak terkait sebagai masukan data lanjutan.
Objek penelitian ini adalah salah satu balok lantai (flour beam) pada gedung
dengan bentang 8 m yang akan dikombinasikan dengan berbagai ukuran dimensi balok
untuk mendapatkan luas tulangan optimum dan efisiensi biaya yang maksimum.
Langkah awal dari penelitian ini adalah penentuan apa yang akan menjadi objek dalam
penelitian ini. Pada penelitian ini yang akan diteliti adalah balok lantai (floor beam)
ruko standar berlantai tiga berukuran 8×20 meter. Balok yang diteliti adalah balok lantai
pada lantai dua, dengan panjang bentang 8 meter.
Data analisis struktur gedung berupa luas tulangan untuk berbagai jenis
komponen struktur diperoleh dari hasil analisis momen dengan mempergunakan metode
cross. Analisis optimalisasi untuk mencari hubungan antara penggunaan efisiensi
tulangan baja terhadap dimensi balok lantai beton bertulang, dipergunakan analisis
regresi dan Korelasi. Interprestasi terhadap korelasi secara kasar atau sederhana
dilakukan dengan mempergunakan pedoman pada tabel interpretasi koefisien product
moment.
Adapun langkah-langkah penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.1. berikut ini.
Mulai

Penentuan arah Analisis

Analisi struktur
dengan metode cross

Analisis tulangan
lentur & geser

Daftar luas tulangan


maksimum dan minimum

Analisis efisiensi tiap dimensi balok

Daftar efisiensi biaya


tiap dimensi balok

Analisis tulangan dan


dimensi balok optimal

Analisis pengaruh dimensi terhadap


efisiensi

Kesimpulan dan
saran

Selesai

Gambar 4.1. Langkah-langkah penelitian

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Umum


Deskripsi umum terdiri dari gambaran umum dan defenisi yang berkaitan
dengan objek penelitian.

5.1.1 Gambaran Umum


Dalam penelitian ini, penelitian difokuskan pada menganalisa luas tulangan
optimum untuk mendapatkan efisensi biaya maksimum terhadap pekerjaan balok lantai
(flour beam) beton bertulang. Disini peneliti akan menggunakan beberapa variasi
ukuran dimensi balok, yaitu 35/75, 30/70, 30/60, 30/55, 30/50. Dimana balok tersebut
dianalisis dengan menggunakan momen yeng berbeda.Disini juga dianalisis dimensi
25/50, 25/45, 20/50 dengan momen yang digunakan sama.
Pemilihan objek yang dipakai dalam penelitian dilakukan dengan cara non acak
meliputi panjang bentang balok serta mutu material yang digunakan seperti data teknis
berikut ini. Penulangan komponen struktur bangunan yang dianalisis pada penelitan ini
adalah balok dengan panjang bentang 8 meter. Mutu komponen struktur seperti mutu
beton yang digunakan adalah K-225, sedangkan untuk mutu baja digunakan U-32.

5.1.2 Identifikasi Harga Satuan Material Komponen Struktur Balok


Analisis dilakukan dengan menggunakan harga satuan bahan dan upah periode
tahun anggaran 2006 untuk kota Pekanbaru yang diterbitkan oleh Departemen
Pekerjaan Umum. Hasil analisis harga satuan bahan dan upah untuk tulngan beton dapat
dilihat pada lampiran A. Daftar harga satuan hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5.1
berikut.

Tabel 5.1 Daftar Harga Satuan Komponen Beton Bertulang


No Material + Upah Harga Satuan (Rp) Satuan
1 Baja tulangan U-32 19.300,75 Per 1 kg
Tabel Lanjutan
2 Begisting beton 839.500 Per 1 m3
Beton
3. 768.000 Per 1 m3

Tabel 5.2 Pembebanan yang Dipikul Balok


No Pembebanan Beban Satuan
1 Beban Mati 382,5
Kg/m2
2 Beban Hidup 250
3 Beban Akibat Balok
a. Dim 630
ensi 35/75 504
b. Dim 432
ensi 30/70 396
Kg/m
c. Dim 360
ensi 30/60
d. Dim
ensi 30/55
e. Dimensi 30/50
4. Beban Akibat 1000 Kg/m
Dinding

Selanjutnya akan dilakukan perhitungan beban ekivalen terhadap beban mati


dan beban hidup untuk mendapatkan beban merata.

B
Balok anak
antara as A
dan B
Balok anak 8m
antara As 1 Balok
dan 2 induk As 3
Balok anak
antara As2
dan 3

A 1 4m 2 4m 3

Gambar 5.1 Skema Pembebanan


2 4 6

P P 4m

A B C

5m

1 3 5

1 2 3
4m 4m

(a)
2 4 2 4
P1 P2
4m 4m

A B A B

5m 5m

1 3 1 3

A B A B

8m 8m
(b) (c)
Gambar 5.2 (a). Portal As A dan B; (b). Portal As 1 dan 3; (c). Portal As 2
5.2 Gaya-gaya Dalam
Gaya dalam pada balok dianalisis dengan menggunakan metode cross. dapat
terlihat pada Tabel 5.3 berikut ini.

Tabel 5.3 Momen Lentur pada Balok


Tumpuan Kiri Tumpuan Kanan
No As Dimensi Lapangan (KgM)
(KgM) (KgM)
A dan B -6534,37 4041,03 1116,37
1 dan 3 35/75 -10543,5 20922,1 10543,5
2 -15358,4 34555,3 15358,4
A dan B -6096,965 3822,3 1387,45
1 dan 3 30/70 -11746,4 18509,6 11746,4
2 -17345,7 28727,9 17345,7
A dan B -5706,15 3626,9 1822,42
1 dan 3 30/60 -13160,3 16404,5 13160,3
2 -19594,8 25787,6 19594,8
A dan B -5496,89 3522,3 2068,14
1 dan 3 30/55 -13813,7 15405,5 13813,7
2 -20655,6 24355,6 20655,6
A dan B -5261,57 3404,61 2366,01
1 dan 3 30/50 -14507,8 13965,8 14507,8
2 -21788,2 22903 21788,2
Dari tabel diatas terlihat bahwa pada As 1,2,3 semakin kecil dimensi balok yang
digunakan, maka semakin besar momen yang dihasilkan. Untuk As A dan B, semakin
kecil dimensi yang digunakan, momen yang dihasikan semakin kecil. Hasil analisa
gaya-gaya lintang terlihat pada Tabel 5.4 dan analisis gaya lintang terlihat pada
Lampiran C.

Tabel 5.4 Daftar Gaya Lintang


Tumpuan Kanan
No As Dimensi Lapangan (Kg) Tumpuan Kiri (Kg)
(Kg)
A dan B 7673,2 1354,5 4964,2
1 dan 3 35/75 13066,9 0 13066,9
2 18189,8 0 18189,8
A dan B 7194,25 1177,35 4839,55
1 dan 3 30/70 12462,1 0 12462,1
2 17705 0 17705
A dan B 6814,43 970,9 4872,57
1 dan 3 30/60 12116,5 0 12116,5
2 17359,4 0 17359,4

A dan B 6614,29 857,2 4899,91


1 dan 3 30/55 11943,7 0 11943,7
2 17186,6 0 17178,6

A dan B 6394,59 723,89 4946,81


1 dan 3 30/50 11570,9 0 11570,9
2 17013,8 0 17013,8
5.3 Kebutuhan Tulangan pada komponen Struktur Balok
Berdasarkan gaya-gaya dalam yang diperoleh dari analisis struktur dapat dicari
perhitungan tulangan pada komponen struktur balok. Perhitungan tulangan pada
komponen struktur balok tersebut adalah sebagai berikut.
a. Kebutuhan tulangan lentur
Kebutuhan lentur pada analisis ini terdiri dari 2 bagian yaitu kebutuhan tulangan
lentur balok dengan menggunakan dimensi dan momen yang berbeda dan kebutuhan
tulangan lentur untuk dimensi berbeda tetapi momen yang digunakan sama, dalam hal
ini momen yan digunakan adalah momen dimensi 30/50.

1. Kebutuhan Tulangan Lentur Untuk Momen yang Berbeda.


Pemakaian jumlah tulangan lentur dan besarnya momen nominal terlihat pada
Tabel 5.5.

Tabel 5.5 Kebutuhan Tulangan Lentur


Tumpuan Kiri dan Kanan (mm2) Lapangan (mm2)
No As Dimensi
Tarik Tekan AS (mm2) Tarik Tekan AS (mm2)

A dan B 4 D 19 2 D 19 1041,25 4 D 19 2 D 19 1041,25


1 dan 3 35/75 4 D 19 2 D 19 1041,25 5 D 19 2 D 19 1261,4
2 4 D 19 2 D 19 1041,25 7 D 19 3 D 19 1975,4

A dan B 4 D 19 2 D 19 853,125 4 D 19 2 D 19 853,125


1 dan 3 30/70 4 D 19 2 D 19 853,125 5 D 19 2 D 19 1170
2 4 D 19 2 D 19 1092 7 D 19 3 D 19 1891,5

A dan B 3 D 19 2 D 19 721,875 3 D 19 2 D 19 721,875


1 dan 3 30/60 4 D 19 2 D 19 1005,3 5 D 19 2 D 19 1254
2 6 D 19 3 D 19 1518 8 D 19 4 D 19 2062,5
A dan B 3 D 19 2 D 19 656,25 3 D 19 2 D 19 656,25
1 dan 3 30/55 5 D 19 2 D 19 1155 5 D 19 2 D 19 1305
2 7 D 19 3 D 19 1815 8 D 19 4 D 19 2205
A dan B 3 D 19 2 D 19 590,625 3 D 19 2 D 19 590,625
1 dan 3 30/50 5 D 19 2 D 19 1390,5 5 D 19 2 D 19 1296
2 8 D 19 4 D 19 2227,5 9 D 19 4 D 19 2362,5

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa terjadi penambahan jumlah tulangan


untuk setiap dimensi. Peningkatan jumlah tulangan antara dimensi 30/55 dan 30/50
terjadi pada As 2 untuk masing-masing variasi terlihat lebih kecil. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa dimensi cukup optimal di 30/55.
2. Kebutuhan Tulangan Lentur Untuk Momen yang Digunakan Sama.
Pada bagian ini akan dianalisis kebutuhan tulangan lentur dengan menggunakan
momen yang sama yaitu momen pada dimensi 30/50, sedangkan dimensi yang
digunakan adalah dimensi 25/50, 25/45, 20/50. Hasil dari analisis dapat terlihat pada
Tabel 5.6 berikut.

Tabel 5.6 Kebutuhan Tulangan Lentur dengan Menggunakan Momen Dimensi 30/50

Tumpuan Kiri dan Kanan (mm2) Lapangan (mm2)


No As Dimensi
Tarik Tekan AS (mm2) Tarik Tekan AS (mm2)
A dan B 2 D 19 2 D 19 492,188 2 D 19 2 D 19 492,188
25/50
1 dan 3 6 D 19 3 D 19 1428,75 5 D 19 2 D 19 1361,25

A dan B 2 D 19 2 D 19 437,5 2 D 19 2 D 19 437,5


25/45
1 dan 3 6 D 19 3 D 19 1670 6 D 19 3 D 19 1590
A dan B 2 D 19 2 D 19 393,75 2 D 19 2 D 19 393,75
20/50
1 dan 3 5 D 19 2 D 19 1440 5 D 19 2 D 19 1413

Dari tabel terlihat luas tulangan terbesar pada As A dan B terjadi pada dimensi
25/50, dan pada As 1 dan 3 terjadi pada dimensi 25/45.
b. Kebutuhan Tulangan Geser
Kebutuhan geser pada analisis ini terdiri dari 2 bagian yaitu kebutuhan tulangan
geser balok dengan menggunakan dimensi dan momen yang berbeda dan kebutuhan
tulangan geser untuk dimensi berbeda tetapi momen yang digunakan sama, dalam hal
ini momen yang digunakan adalah momen dimensi 30/50.

1. Kebutuhan Tulangan Geser untuk Momen yang Berbeda.


Kebutuhan tulangan geser terlihat pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7 Kebutuhan Tulangan Geser


No As Dimensi Tumpuan Kiri (mm) Lapangan (mm) Tumpuan Kanan(mm)
A dan B
1 dan 3 35/75 D10 – 340 D10 – 340 D10 – 340
2
A dan B
1 dan 3 30/70 D10 – 305 D10 – 305 D10 – 305
2

A dan B
1 dan 3 30/60 D10 - 275 D10 – 275 D10 – 275
2
A dan B
1 dan 3 30/55 D10 – 250 D10 – 250 D10 – 250
2
A dan B
1 dan 3 30/50 D10 – 225 D10 – 225 D10 – 225
2

2. Kebutuhan Tulangan Geser untuk Momen yang Sama.


Dengan menggunakan gaya lintang pada dimensi 30/50, dianalisis kebutuhan
tulangan geser pada dimensi 25/50, 25/45, 20/50. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel
5.8 berikut.

Tabel 5.8 Kebutuhan Tulangan Geser dengan Mengunakan Gaya Lintang Dimensi 30/50.
Tumpuan
No As Dimensi Tumpuan Kiri (mm) Lapangan (mm)
Kanan(mm)
A dan B
25/50 D10 – 225 D10 – 225 D10 – 225
1 dan 3
A dan B 25/45 D10 – 200 D10 – 200 D10 – 200
1 dan 3
A dan B
20/50 D10 - 225 D10 – 225 D10 – 225
1 dan 3
5.4 Analisis Efisiensi Biaya
Dari hasil perhitungan kebutuhan tulangan, dianalisis kebutuhan tulangan yang
akan dipergunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan analisis efisiensi biaya.
Dengan metode komparasi diperoleh pemakaian tulangan komponen-komponen struktur
untuk balok lantai dan analisis kebutuhan tulangan balok untuk satu m 3 beton
bertulang. Analisis kebutuhan tulangan dapat dilihat pada Lampiran F1. Hasil dari
analisis tersebut dapat terlihat pada Tabel 5.9 berikut ini.
Tabel 5.9 Kebutuhan tulangan balok untuk 1m3
N0 Dimensi As Berat tulangan/m3
A dan B 106,430
1 35/75 1 dan 3 100,378
2 118,324
A dan B 132,677
2 30/70 1 dan 3 125,110
2 147,543
A dan B 138,059
3 30/60 1 dan 3 147,469
2 221,422
A dan B 151,456
4 30/55 1 dan 3 170,127
2 250,799
A dan B 167,222
5 30/50 1 dan 3 187,76
2 289,568

Dari tabel terlihat setiap dimensi diperkecil, berat tulanan yan diperoleh semakin
besar. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik berat tulangan pada gambar 5.3
berikut.
Gambar 5.3 Grafik Berat Tulangan
Kebutuhan tulangan untuk 1m3 dengan dimensi yang berbeda dan menggunakan
momen dimensi 30/50, dapat terlihat pada tabel 5.10 berikut.

Tabel 5.10 Kebutuhan tulangan balok dengan menggunakan momen yang sama untuk 1
m3
N0 Dimensi As Berat tulangan/m3
A dan B 172,174
1 25/50
1 dan 3 252,686
A dan B 192,407
2 25/45
1 dan 3 313,084
A dan B 212,04
3 20/50
1 dan 3 369,701
Sama halnya dengan berat tulangan 1m3 dengan menggunakan dimensi dan
momen yang berbeda, berat tulangan 1 m 3 dengan menggunakan dimensi berbeda dan
momen yang sama juga mengalami peningkatan setiap dimensi diperkecil. Untuk
mendapatkan harga satuan per m3 beton bertulang pada balok dilakukan analisis yang
meliputi berbagai faktor yang menentukan harga satuannya. Dalam hal ini dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu analisis harga satuan baja, dan analisis harga satuan
begistingnya. Harga yang digunakan berdasarkan harga satuan bahan dan upah untuk
kota Pekanbaru periode tahun 2006 triwulan kedua yang dikeluarkan oleh Departemen
Pekerjaan Umum Cipta Karya.

5.5. Analisis Efisiensi Biaya 1m3 balok momen yang berbeda.


Analisis harga satuan untuk dimensi dan momen yang berbeda dapat terlihat pada
Lampiran G1. Harga satuan hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 5.11 berikut.

Tabel 5.11 Harga Satuan Beton/m3 Balok


Baja Beton Begisting Harga
Berat/m3 Harga Volume Satuan koef Harga Satuan
Dimensi As
(kg) Satuan/kg (m3) (kg) begisting Satuan/m3 Beton/m3
(Rp) (Rp) (Rp)
A dan B 106,430 19.300,75 1 768.000 1 839.000 3.661.178,82
35/75 1 dan 3 100,378 19.300,75 1 768.000 1 839.000 3.544.370,68
2 118,324 19.300,75 1 768.000 1 839.000 3.890.741,94
Tabel Lanjutan
A dan B 132,677 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.167.765,61
30/70 1 dan 3 125,110 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.021.716,83
2 147,543 19300,75 1 768.000 1 839.000 4.454.690,56
A dan B 138,059 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.271.642,24
30/60 1 dan 3 147,469 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.453.262,30
2 221,422 19.300,75 1 768.000 1 839.000 5.880.610,67
A dan B 151,456 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.530.214,39
30/55 1 dan 3 170,127 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.890.578,69
2 250,799 19.300,75 1 768.000 1 839.000 6.447.608,78
A dan B 167,222 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.834.510,02
30/50 1 dan 3 187,76 19.300,75 1 768.000 1 839.000 5.230.908,69
2 289,568 19.300,75 1 768.000 1 839.000 7.195.879,58

Dari tabel diatas terlihat bahwa semakin kecil dimensi yang digunakan, berat
tulangan yang diperoleh akan semakin besar. Hal ini juga akan menimbulkan semakin
besarnya biaya/m3 yang diperlukan.
Setelah dihitung harga satuan/m3, selanjutnya akan dihitung biaya beton
bertulang dari setiap dimensi. Analisis dapat dipergunakan untuk analisis selanjutnya
yaitu analisis efisiensi biaya. Hasil analisis dapat terlihat pada tabel 5.12 berikut.

Tabel 5.12 Biaya Beton Bertulang


Dimensi As Volume Harga Satuan/m3 (Rp) Biaya Beton Bertulang (Rp)
A dan B 3.661.178,82 7.688.475,52
35/75 1 dan 3 2,1 3.544.370,68 7.443.178,23
2 3.890.741,94 8.170.558,07
A dan B 4.167.765,61 7.001.846,23
30/70 1 dan 3 1,68 4.021.716,83 6.756.484,27
2 4.454.690,56 7.483.880,14
A dan B 4.271.642,24 6.151.164,83
30/60 1 dan 3 1,44 4.453.262,30 6.412.697,71
2 5.880.610,67 8.468.079,37
A dan B 4.530.214,39 5.979.882,99
30/55 1 dan 3 1,32 4.890.578,69 6.455.563,87
2 6.447.760,78 8.510.843,59
A dan B 4.834.510,02 5.801.412,02
30/50 1 dan 3 1,2 5.230.908,69 6.277.090,58
2 7.195.879,58 8.635.055,49

Untuk lebih jelasnya dapat terlihat pada grafik biaya beton bertulang pada
gambar 5.4 berikut.

Gambar 5.4 Grafik Biaya Beton Bertulang


Dari grafik terlihat bahwa untuk As A dan B mengalami penurunan biaya setiap terjadi
pengurangan ukuran dimensi. Hal ini juga terjadi pada As 1 dan 3. Sehingga biaya
terkecil terdapat pada dimensi 30/50, dengan harga Rp.5.801.412,02 untuk As A dan B,
Rp. 6.277.090,58 untuk As 1 dan 3. Sedangkan untuk As 2, biaya mengalami penurunan
pada dimensi 30/70, namun terus mengalami kenaikan pada dimensi 30/60, 30/55,
30/50. Biaya terkecil pada As 2 adalah pada dimensi 30/70 dengan biaya Rp.
7.483.880,14.
Efisiensi Biaya Komponen Struktur (Ek) merupakan perbandingan antara selisih
biaya 1 m3 beton bertulang apabila dimensi yang dipergunakan diperkecil yang
dinyatakan dalam presentase. Sedangkan hasil hitungan selengkapnya dapat diuraikan
pada tabel 5.13 berikut.

Tabel 5.13 Analisis Efisiensi Biaya pada Balok


As A dan B As 1 dan 3 As 2
Dimensi Biaya Balok Efisiensi Biaya Balok Efisiensi Biaya Balok Efisiensi
x1000 (Rp) (%) x1000 (Rp) (%) x1000 (Rp) (%)
35/75 7688,48 7443,18 8170,56
30/70 7001,85 8,931 6756,48 9,226 7483,88 8,404
Tabel lanjutan
30/60 6151,16 21,081 6412,69 14,314 8468,08 -4,747
30/55 5979,88 23,866 6455,56 13,645 8510,84 -5,252
30/50 5801,41 26,851 6277,09 16,409 8635,06 -6,712

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa efisiensi biaya pada umumnya bernilai
positif, kecuali pada As 2. Pada As A dan B, biaya minimum Rp. 5801,41 juta pada
dimensi 30/50. Untuk As 1 dan 3, biaya minimum adalah Rp. 6277,09 juta pada dimensi
30/50. Sedangkan untuk As 2, biaya minimum adalah Rp.7483,88 juta pada dimensi
30/70. Disini terlihat efisiensi terjadi pada dimensi yang berbeda pada setiap As, yaitu :
a. As A dan B terjadi efisiensi biaya sebesar 26,851 %, terjadi pada dimensi 30/50.
b. As 1 dan 3 terjadi efisiensi biaya sebesar 16,409 %, terjadi pada dimensi 30/50.
c. As 2 terjadi efisiensi biaya sebesar 8,404 %, terjadi pada dimensi 30/70.
Seharusnya efisiensi biaya terbesar adalah pada dimensi yang jumlah tulangannya
minimum yaitu pada dimensi 35/75, tetapi karena pengaruh volume balok yang dipakai
pada penelitian ini, maka efisiensi terjadi pada dimensi yang berbeda.

5.6 Analisis Efisiensi Biaya untuk momen yang sama


Biaya untuk balok yang menggunakan momen yang sama dapat dilihat pada tabel 5.14
berikut.
Tabel 5.14 Harga/m3 balok dengan momen yang sama
Baja Beton Begisting Harga
Berat/m 3
Harga Volume Satuan koef Harga Satuan
Dimensi As
(kg) Satuan/kg (m3) (kg) begisting Satuan/m3 Beton/m3
(Rp) (Rp) (Rp)
A dan B 167,222 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.834.510,02
30/50
1 dan 3 187,76 19.300,75 1 768.000 1 839.000 6.277.090,58
A dan B 172,174 19.300,75 1 768.000 1 839.000 4.930.087,33
25/50
1 dan 3 252,686 19.300,75 1 768.000 1 839.000 6.484.029,32
A dan B 192,407 19.300,75 1 768.000 1 839.000 5.320.599,41
25/45
1 dan 3 313,084 19.300,75 1 768.000 1 839.000 7.649.756,01
A dan B 212,04 19.300,75 1 768.000 1 839.000 5.699.531,03
20/50
1 dan 3 369,701 19.300,75 1 768.000 1 839.000 8.742.511,40

Setelah dihitung harga satuan/m3, selanjutnya akan dihitung biaya beton


bertulang dari setiap dimensi. Analisis dapat dipergunakan untuk analisis selanjutnya
yaitu analisis efisiensi biaya. Hasil analisis dapat terlihat pada Tabel 5.15 berikut.

Tabel 5.15 Biaya balok dengan momen yang sama


Dimensi As Volume Harga Satuan/m3 (Rp) Biaya Beton Bertulang (Rp)
A dan B 4.834.510,02 5.801.412,02
30/50 1,2
1 dan 3 5.230.908,82 6.277.090,58
A dan B 4.930.087,33 4.930.087,33
25/50 1
1 dan 3 6.484.029,32 6.484.029,32
A dan B 5.320.599,41 4.788.539,47
25/45 0,9
1 dan 3 7.649.756,01 6.884.780,41
A dan B 5.699.531,03 4.559.624,82
20/50 0,8
1 dan 3 8.742.511,40 6.994.009,12

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik biaya pada gambar 5.5 berikut.

Gambar 5.5 Grafik Biaya Balok dengan Menggunakan Momen yang Sama
Dari grafik terlihat bahwa untuk As A dan B mengalami penurunan biaya setiap ukuran
dimensi diperkacil. Berbeda dengan As 1 dan 3 yang mengalami peningkatan biaya
setiap ukuran dimensi diperkecil. Biaya terkecil untuk As A dan B terjadi pada dimensi
20/50 dengan biaya Rp. 4.559.624,82, sedangkan untuk As 1 dan 3 biaya terkecil terjadi
pada dimensi 30/50 dengan biaya sebesar Rp. 6.277.090,58. Dari analisis dapat
dinyatakan bahwa apabila dimensi yang digunakan berbeda ukuran tetapi momen yang
digunakan sama terjadi perilaku yang berbeda pada setiap As. Untuk As A dan B
mengalami penurunan biaya setiap ukuran dimensi diperkecil, sedangkan As 1 dan 3
mengalami peningkatan biaya.. Hasil analisis dapat terlihat padaTabel 5.16 berikut.

Tabel 5.16 Efisiensi Biaya Balok dengan Momen yang Sama.


As A dan B As 1 dan 3
Dimensi Biaya Balok Efisiensi Biaya Balok Efisiensi
x1000 (Rp) (%) x1000 (Rp) (%)
30/50 5801,41 6277,09
25/50 4930,09 15,019 6484,03 -3,297
25/45 4788,54 17,890 6884,78 -9,478
20/50 4599,62 22,671 6994,01 -11,065

Dari tabel terlihat bahwa efisiensi terbesar pada As A dan B terjadi pada dimensi 20/50
yaitu sebesar 22,671 %. Untuk As 1 dan 3 tidak terjadi efisiensi.

5.7 Pengaruh Luas Dimensi Terhadap Efisiensi Biaya


Untuk menganalisis pengaruh dimensi akan digunakan Regresi dan Korelasi
untuk mendapatkan interprestasi hubungan antara luas dimensi dan biaya.

1. Pengaruh Dimensi Balok Terhadap Efisiensi Momen yang Berbeda.


Analisis Regresi dapat dilihat pada lampiran I1. Untuk hasil analisis dapat
terlihat pada grafik pengaruh dimensi pada gambar 5.6 berikut.

Gambar 5.6 Grafik Pengaruh Dimensi Terhadap Efisiensi (Momen Berbeda)


Grafik regresi balok secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran I. Dari grafik-
grafik tersebut diperoleh persamaan linear dan harga “r”, ”r2”. Korelasi hubungan antara
mutu beton dengan persentase efisiensi biaya, dapat dilihat pada Tabel 5.17 berikut.

Tabel 5.19 Korelasi Hubungan Antara Luas Dimensi dan Efisiensi


No As Persamaan Garis r2 r
1 A dan B Y= 64,654 – 250,686 X 0,973 0,987
2 1 dan 3 Y= 38,661 – 144,405 X 0,966 0,983
3 2 Y= 17,401 – 81,364 X 0,345 0,587

Berdasarkan Tabel 5.17 dapat diperoleh beberapa interprestasi hubungan antara luas
tulangan dan efisiensi biaya (%). Nilai ”r” untuk semua As adalah positif, berarti terjadi
hubungan antara luas dimensi dengan efisiensi biaya. Nilai ”r” pada As A dan B bernilai
0,987, ini menunjukkan bahwa hubungan antara luas dimensi pada As A dan B
mempunyai hubungan kuat yang bersifat positif. Korelasi positif disini
menggambarkan, semakin kecil luas dimensi yang digunakan, efisiensi yang dihasilkan
semakin besar. Hal ini juga terjadi pada As 1 dan 3 yang bernilai 0,983 dan bersifat
positif. Berbeda As 2, yang memiliki hubungan cukup kuat dengan ”r” bernilai 0,587.

2. Pengaruh Dimensi Terhadap Efisiensi Untuk Momen yang Sama


Analisis Regresi dapat dilihat pada lampiran I4. Untuk hasil analisis dapat
terlihat pada grafik pengaruh dimensi pada gambar 5.7 berikut.
Gambar 5.7 Grafik Pengaruh Dimensi Terhadap Efisiensi (Momen Sama)
Grafik regresi balok secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran I. Dari grafik-
grafik tersebut diperoleh persamaan linear dan harga “r”, ”r2”. Korelasi hubungan antara
mutu beton dengan persentase efisiensi biaya, dapat dilihat pada Tabel 5.18 berikut.

Tabel 5.18 Korelasi Hubungan Antara Luas Dimensi dan Efisiensi


No As Persamaan Garis r2 r
1 A dan B Y= 68,871 – 451,081 X 0,968 0,984
2 1 dan 3 Y= 34,539 – 234,496 X 0,928 - 0,963

Berdasarkan Tabel 5.20 dapat diperoleh beberapa interprestasi hubungan antara


luas tulangan dan efisiensi biaya (%). Nilai ”r” untuk semua As adalah positif, berarti
terjadi hubungan antara luas dimensi dengan efisiensi biaya. Nilai ”r” pada As A dan B
bernilai 0,984, ini menunjukkan bahwa hubungan antara luas dimensi pada As A dan B
mempunyai hubungan kuat yang bersifat positif. Korelasi positif disini
menggambarkan, semakin kecil luas dimensi yang digunakan, efisiensi yang dihasilkan
semakin besar. Hal ini juga terjadi pada As 1 dan 3 yang bernilai 0,963 dan bersifat
negatif.

6. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Balok dengan momen yang berbeda, luas tulangan yang diperoleh untuk As A dan B
semakin kecil seiring dengan dimensi yang diperkecil. Untuk As 1 dan 3 , luas
tulangan semakin besar seiiring dengan dimensi yang diperkecil. Begitu juga halnya
dengan As 2.
2. Balok dengan momen yang sama, luas tulangan pada As A dan B semakin kecil
seiiring dengan pengurangan ukuran dimensi, sedangkan untuk As 1 dan 3 luas
tulangan terbesar terjadi pada dimensi 25/45.
3. Efisiensi biaya balok yang menggunakan momen yang berbeda untuk As A dan B
bernilai positif. Nilai positif ini menunjukkan bahwa semakin kecil dimensi,
efisiensi yang diperoleh semakin besar. Nilai efisiensi terbesar adalah 26,851 %
terjadi pada dimensi 30/50. Begitu juga halnya dengan As 1 dan 3, nilai efisiensi
terbesar adalah 16,409 % terjadi pada dimensi 30/50. Berbeda dengan As 2 yang
bernilai negatif. Ini menunjukkan bahwa semakin kecil dimensi, biaya semakin
besar. Nilai efisiensi terbesar adalah 8,404 % pada dimensi 30/70.
4. Efisiensi biaya balok yang menggunakan momen yang berbeda untuk As A dan B
bernilai positif. Nilai positif ini menunjukkan bahwa semakin kecil dimensi,
efisiensi yang diperoleh semakin besar. Nilai efisiensi terbesar adalah 22,671 %
terjadi pada dimensi 25/50. Berbeda dengan As 1 dan 3 tidak terjadi efisiensi, karena
balok yang paling efisien terjadi pada dimensi 30/50.
5. Dengan menggunakan regresi linier dan korelasi, diperoleh hubungan yang sangat
kuat antara luas dimensi dengan efisiensi biaya pada As A, B, 1 dan 3. Nilai “r”
yang diperoleh sebesar 0,987 untuk As A dan B, dan 0,983 untuk As 1 dan 3.
Sedangkan untuk As 2 nilai “r” yang diperoleh 0,587, ini menandakan bahwa
hubungan antara luas dimensi dengan efisiensi tidak terlalu kuat.
6. Dengan korelasi product moment diperoleh interprestasi koefisien korelasi antar As.
Antara As A dengan As 1, korelasi yang diperoleh 0,964. Ini menunjukkan ada
hubungan yang sangat kuat antara As A dengan As 1. Untuk As A dengan As 2
korelasi yang diperoleh 0,705, ini menunjukkan ada hubungan yang kuat.
Sedangkan untuk As 1 dengan As 3 hubungan yang terjadi tidak terlalu kuat dengan
nilai korelasi 0,516.

6.2 Saran
1. Perlunya memperhatikan pengaruh efisiensi biaya akibat luas tulangan baja, buat
konsultan perancana agar lebih memperhatikan pemakaian tulangan untuk mencapai
biaya yang optimum. Disamping itu juga harus memperhatikan ukuran dimensi yang
digunakan.
2. Efisiensi biaya balok juga dipengaruhi faktor-faktor lain. Oleh karena itu
diharapkan akan ada lagi penelitian tentang efisiensi biaya dengan faktor yang
berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah. 2004. Pengaruh Pemakaian Mutu Beton dan Baja Terhadap Efisiensi
Biaya Komponen Struktur Beton Bertulang untuk Bangunan Ruko diPekanbaru
dan Sekitarnya. Yogyakarta.
__________. 2005. Spesifikasi Pekerjaan Struktur. Panduan Bimbingan Teknis
Pengawas Lapangan. Pekanbaru.
__________. 2005. Diktat Analisis Struktur III. Universitas Islam Riau. Pekanbaru.
Depertemen Pekerjaan Umum. 1989. Pedoman Beton 1989, SKBI-1.4.53.1988,
UDC:693.5. Draft Konsensus. Jakarta.
Vis, WC. 1993. Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang. Terjemahan oleh S.T.
Utomo. Erlangga. Jakarta.
Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek Dan Konstruksi. Cetakan Ketujuh, Penerbit
Karnisius. Yogyakarta.
__________. 1999. Struktur Beton Bertulang. Cetakan Ketujuh, PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Ervianto,W. 2002. Manajemen Proyek konstruksi. PT. Andi. Jakarta.
Nawy, E.G. 1990. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar. Terjemahan oleh
Bambang Suryoatmono, Cetakan pertama. PT Erisco.
Pangaribuan. 2004. Aplikasi excel untuk rekayasa teknik sipil. PT. Elex Media
Kaputindo. Jakarta.
Pratisto, A. 2005. Cara Mudah mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan
dengan SPSS 12. PT. Elex media Komputindo, Kelompok Gramedia. Jakarta.
Rahmat. 2003. Tinjauan Manajemen Konstruksi Pelaksanaan Pekerjaan pembangunan
Gedung Kantor Camat Mandau. Pekanbaru.
Sarjono Yudi. 2006. Indeks BOW untuk Pekerjaan Beton Bertulang pada Bangunan
Ruko di Pekanbaru.Pekanbaru.
Schodek, D.L. 1991. Struktur. Terjemahan oleh Bambang Suryoatmono, Cetakan
pertama. Erlangga. Bandung.
Soeharto, Iman. 1992. Manajemen Proyek, dari Konseptual Sampai Operasional.
Erlangga. Jakarta.
Terry, G.R. 2000. Prinsip-Prinsip manajemen. Terjemahan oleh J. Smitth D.E.M,
Cetakan keenam. PT. Bumi Aksara Jakarta.
Wahyudi, L dan Syahril A. Rahim. 1997. Struktur Beton Bertulang Standar baru SNI T-
15-1991-03, Cetakan Pertama. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.