Anda di halaman 1dari 9

12

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan mulai bulan April sampai September 2013 di lahan
percobaan pada tiga kabupaten yang berbeda karakteristik lingkungannya, yaitu
Ds. Sukoharjo, Kec. Wilangan, Kab. Nganjuk, KP Ngale, Kab. Ngawi dan KP
Genteng, Kab. Banyuwangi.

3.1.1 Lokasi Percobaan


Pengujian dilaksanakan pada tiga lokasi di Jawa Timur, yaitu:
a. Lokasi Ds. Sukoharjo, Kec. Wilangan, Kabupaten Nganjuk.
Tinggi tempat : 96 meter dpl
Jenis / gol. tanah : Andosol
Pola tanam setahun : Padi, Kedelai
Sistem pengairan : Irigasi
Tanaman sebelumnya : Kedelai

b. Lokasi KP Ngale, Kabupaten Ngawi.


Tinggi tempat : 70 meter dpl
Jenis / gol. tanah : Vertisol
Pola tanam setahun : Padi
Sistem pengairan : Irigasi
Tanaman sebelumnya : Kedelai
Tanaman sekitar : Kedelai
Tanaman sekitar : Kedelai, bawang merah

c. Lokasi KP Genteng, Kabupaten Banyuwangi.


Tinggi tempat : 168 meter dpl
Jenis / gol. tanah : Regosol
Pola tanam setahun : Padi
Sistem pengairan : Irigasi
13

Tanaman sebelumnya : Padi


Tanaman sekitar : Padi

3.1.2 Waktu pengujian


Pengujian dilaksanakan pada musim kering tahun 2013, dengan waktu
sebagai berikut:
a. Lokasi Ds. Sukoharjo, Kec. Wilangan, Kabupaten Nganjuk.
Tgl. Pengolahan lahan : 14 April 2013
Tanggal plotting : 18 April 2013
Tanggal tanam : 26 Mei 2013
Tanggal panen : 26 September 2013

b. Lokasi KP Ngale, Kabupaten Ngawi.


Tgl. Pengolahan lahan : 28 Maret 2013
Tanggal plotting : 2 April 2013
Tanggal tanam : 4 April 2013
Tanggal panen : 4 Juli 2013

c. Lokasi KP Genteng, Kabupaten Banyuwangi.


Tgl. Pengolahan lahan : 9 April 2013
Tanggal plotting : 14 April 2013
Tanggal tanam : 18 April dan tanam ulang 4 Mei 2013
Tanggal panen : 4 September 2013

3.2 Alat dan Bahan Penelitian


Alat yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini meliputi roll meter, ajir,
cangkul, sabit, knapsack, gunting pangkas, meteran kain, alat tulis, spidol marker,
gunting, tugal, timbangan analitik, moisture tester dan tampi/tampah
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini meliputi amplop
kertas, benih kedelai genotip Wilis, Malabar, Ringgit, GHJ1, GHJ2, GHJ3, GHJ4,
GHJ5, GHJ6 dan NSP. Pupuk meliputi: Petrogenik, ZA/urea, KCl, SP-36,
14

Phonska. Insektisida (Decis dan Marshal), Fungisida (Dithane), Furadan 3G/abu


dapur, Kapur pertanian dan pupuk daun(Gandasil D).

3.3 MetodePenelitian
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial
dengan sepuluh genotipe kedelai sebagai perlakuan yang masing-masing terdiri
atas 3 ulangan dengan 10 sampel perletak percobaan.
Model matematis Rancangan Acak Kelompok (RAK) menurut Sudjana
dalam Widowati (2006) adalah sebagai berikut:
Yij = µ + i +αj + €ij

dimana:
Yijk : respon atau nilai pengamatan dari blok ke-i dan genotipe ke-j
µ : nilai tengah umum

i : pengaruh blok ke-i

αj : pengaruh genotipe ke-j


€ij : pengaruh galat percobaan dari blok ke-i dan genotipe ke-j
Dari hasil perhitungan tersebut, jika terdapat beda nyata maka diuji lanjut dengan
DMRT 5%.

3.3.1 Uji Homogenitas Ragam Acak (Uji Bartlett)


Varians gabungan:

Σ(ni-1)Si2
2
S =
Σ(ni-1)

Harga satuan B :
B= (logS2) Σ(ni-1)
Uji Bartlet :
X2= (2,3026){B- Σ(n-1)logSi2}
Jika X2 hitungan lebih kecil dari X2 tabel 5% maka data tersebut menunjukkan
homogen.
15

3.3.2 Analisis Gabungan


Percobaan RAK yang diulang pada beberapa lokasi, maka model matematisnya
menurut Gaspersz dalam Widowati (2006) adalah sebagai berikut:
Yijk = u + Li + ik + Gj + (LG) ij + ij

Dalam hal ini:


Yijk : nilai pengamatan dari genotipe ke-j dalam kelompok ke-k yang
dilaksanakan dilokasi ke-i
u : nilai rata-rata yang sesungguhnya
Li : Pengaruh adiatif dari lokasi ke-i
ik : pengaruh galat dari kelompok ke-k dilokasi ke-i

Gj : Pengaruh adiatif dari genotip ke-j


(LG) ij : Pengaruh adiatif dari genotip ke-j dilokasi ke-i
ij : pengaruh galat dari genotip ke-j dalam kelompok ke-k yang dilaksanakan
di lokasi ke-i

Tabel 3.1. Model Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok Gabungan


SK Db JK KT E(KT)

2
+1 + rg
Lokasi (l-1) JKL KTL

2
+1 + gl
Ulng/Lok (r-1) JKU KTU

2
+1 + rl
Genotipe (g-1) JKG KTG

2
+1
Lx G (1-1)(g-1) JK(LxG) KT(LxG)

2
Galat 1(r-1)(g-1) JKE KTE
Total 1rg-1
16

3.3.3 Pendugaan Heritabilitas


Heritabilitas yang diduga pada penelitian ini adalah Heritabilitas dalam arti
luas. Menurut Syukur, dkk (2012) heritabilitas dalam arti luas adalah sebagai
berikut:
2

g
h2 = x 100%

h2 : nilai heritabilitas
2
: nilai ragam genotip
g
2
f : nilai ragam fenotip
Nilai ragam fenotipe dan ragam lingkungan dapat ditentukan dengan rumus sebagai
berikut :

= KTg - KTe
r
Dalam hal ini:

= +
KTg = kuadrat tengah genotipe
Kte = kuadrat tengah galat

3.3.4 Menentukan Genotipe terbaik


Untuk menentukan genotipe terbaik menggunakan Uji Wilayah Berganda
Duncan, menurut Gaspersz dalam Widowati (2006) menggunakan rumus:
SD = (s2/r)1/2 = (KTG/r)1/2
LSR = SD x SSR
Dimana S2 adalah nilai kuadrat tengah galat dan r adalah jumlah ulangan.

3.3.5 Pendugaan Nilai Koefisiensi Regresi dan Simpangan Regresi


Berdasarkan pendugaan koefisiensi regresi adalah:
17

bi =

Ij = -

Dalah hal ini:


v = jumlah varietas yang diuji
bi = koefisiensi regresi
Ij = indek lingkungan
L = lokasi
Yij = rata-rata hasil verietas ke-i pada lokasi ke-j (rata-rata tol)
Yj = rata-rata hasil per lokasi ke-j
Besarnya pendugaan simpangan regresi adalah:

Sd2 = /(n-2)-S r

=[ - Y /n] – [[ I ]2 /

S /r = pendugaan dari galat gabungan

3.3.6 Metode Finlay dan Wilkinson


Log Yij = ai + bi log (Mj) + dij

Log Yij = logaritma nilai hasil masing-masing varietas yang diuji


log (Mj) = rataan logaritma dari nilai hasil seluruh varietas pada lokasi ke-j
ai = rataan hasil varietas ke-i untuk seluruh lokasi
bi = koefisien regresi hasil varietas ke-i terhadap nilai rataan hasil
seluruh varietas
18

ANALISIS BATAS SELEKSI UNTUK UJI ADAPTABILITAS


Adaptasi khusus pada
lingkungan baik

>1,0

resi
reg Kurang mampu beradaptasi stabilitas dibawah rata-rata Mampu beradaptasi
ien 1,0 pada semua lingkungan stabilitas diatas rata-rata Pada semua lingkungan
efis
Ko
<1,0 Adaptasi khusus pada
lingkungan jelek

rerata hasil

Gambar 3.1. Penafsiran umum dari pola populasi varietas jika koefisien regresi
digambarkan terhadap hasil rata-rata varietas (Finlay dan Wilkinson
dalam Widowati, 2006)

3.4 Pelaksanaan Penelitian


Pelaksanaan percobaan dimulai dengan pembersihan tanah dari sisa-sisa
tanaman dan gulma, kemudian dilakukan pengolahan tanah yaitu dibajak satu kali,
dicangkul dan diratakan sesuai dengan kebutuhan tumbuh tanaman kedelai.
Dibuat petak-petak percobaan dengan ukuran 2,8 m x 4,5 m, tiap-tiap petak
percobaan dibuat jarak antar petak 40-50 cm dan dengan kedalaman saluran 25-30
cm.
Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dengan kedalaman 2 cm dengan
2-3 benih per lubang dengan tanaman yang dipelihara 2 tanaman sehat dan dengan
jarak tanam 40 cm x 15 cm.
Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur satu minggu dengan dosis
75 kg ZA + 100 kg SP36 + 75 kg KCl per hektar, dimana seluruh dosis diberikan.
Pemupukan dilakukan dengan cara tugal pada jarak 10 cm sepanjang antara
barisan tanaman. Pemupukan lewat pupuk daun dilakukan pada umur 20 hari
setelah tanam dengan pupuk daun Gandasil D dan pada umur 30 hari setelah
tanam dengan Gandasil B.
19

Pengendalian hama menggunakan insektisida Furadan 3G pada saat tanam


benih dan penyemprotan dengan insektisida Decis yang dilakukan setelah terlihat
adanya gejala serangan.
Pemeliharaan tanaman meliputi pengairan dan pengendalian gulma
dilakukan selama fase pertumbuhan tanaman dan perkembangan tanaman (fase
vegetatif) sesuai dengan kondisi tanaman di lapang.

3.4 Parameter Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah obyek pengamatan pada


setiap parameter yang diamati per tanaman meliputi:
a. Tinggi tanaman saat panen (cm)
Tinggi tanaman diukur pada saat tanaman sudah di panen, pengukuran
dengan cara mencabut tanaman kemudian diukur mulai dari pangkal batang
sampai titik tumbuh.
b. Jumlah cabang produktif (buah)
Di hitung pada saat panen dengan cara menghitung jumlah cabang dari
setiap tanaman kedelai.
c. Jumlah polong isi
Di hitung dengan cara mengambil dari setiap polong per tanaman kemudian
dihitung jumlah polong isi.
d. Berat 100 biji (gram)
Dihitung dengan cara menyisihkan benih kedelai sebanyak 100 biji yang
berukuran seragam kemudian di timbang beratnya.
e. Hasil per hektar (kg/Ha)
Di hitung dengan cara akumulasi hasil setiap petak di kali 10.000 m2
[(10.000 m2/luas petak) x hasil per petak].
f. Hasil per plot (petak) (kg)
Di hitung berdasarkan jumlah biji setiap plot tanaman kedelai kemudian di
timbang beratnya.
20

g. Hasil per tanaman (gram)


Di hitung berdasarkan jumlah biji setiap tanaman kemudian di timbang
beratnya.
h. Umur berbunga (hari)
Pengamatan dilakukan secara intensif setiap sampel tanaman kedelai yang
muncul bunga telah membuka pada buku pertama di batang utama.
i. Umur masak (hari)
Pengamatan dilakukan secara intensif setiap sampel tanaman kedelai dengan
kriteria satu polong normal pada batang utama telah matang polongnya dengan
warna kecoklatan.
j. Umur panen (hari)
Pengamatan dilakukan secara intensif setiap sampel tanaman kedelai yang
sudah masak penuh rata-rata 95% dengan warna polongnya kecoklatan.