Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

APRIL 2018

TRAUMA MAKSILOFASIAL

Oleh :
Dwi Pascawitasari, S.Ked (K1A1 12 105)
Helmianti Busri, S.Ked (K1 A1 12 114)

Pembimbing :
dr. Nancy Sendra, M.Kes, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER
RUMAH SAKIT BAHTERAMAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa :


Nama : Enno Elfandari, S.ked
NIM : K1A1 11 036
Judul Referat : TRAUMA MAKSILOFASIAL
Telah menyelesaikan referat dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian
Ilmu Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, Fakultas Kedokteran, Universitas
Halu Oleo.

Kendari, Juli 2017


Mengetahui,
Pembimbing

dr. Ied Rakhma, M.Kes, Sp.THT-KL

2
TRAUMA MAKSILOFASIAL
Dwi Pascawitasari,Helmianti Busri, Nancy Sendra

A. Pendahuluan
Trauma maksilofasial terjadi sekitar 6% dari seluruh trauma. Penyebab

trauma maksilofasial bervariasi, seperti kecelakaan lalu lintas, kekerasan

fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas

adalah penyebab utama trauma maksilofasial yang dapat membawa kematian

dan kecacatan. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi

masalah karena harus dirawat di rumah sakit dengan cacat permanen yang

dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang

dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak

disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. 1,2,3

Trauma maksilofasial mencakup cedera pada jaringan lunak dan tulang-

tulang yang membentuk struktur maksilofasial. Tulang-tulang tersebut antara

lain tulang nasoorbitoetmoid, tulang zigomatikomaksila, tulang nasal, tulang

maksila, tulang mandibula. Tidak mengejutkan bahwa pada pasien dengan

trauma maksilofasial sering menyebabkan terjadinya lesi intrakranial akut

karena dekatnya struktur anatomi maksilofasial dengan tengkorak. Sekitar

20% pasien dengan trauma maksilofasial memiliki lesi intrakranial akut yang

berhubungan. Sedangkan sebanyak 84,6 % pasien trauma maksilofasial tidak

memiliki hubungan dengan terjadinya cedera kepala dan lesi intrakranial

akut.1,2,4

3
Pasien dengan trauma maksilofasial tidak jarang disertai dengan masalah

gangguan pada jalan nafas dan hemodinamik, ini dapat meningkatkan risiko

terjadinya lesi intrakranial akut yang mengakibatkan prognosis yang buruk

dan meningkatkan risiko kematian. Komorbiditas seperti usia dan gangguan

faal hemostasis pada penderita trauma maksilofasial juga mempunyai peran

meningkatkan peluang terjadinya lesi intrakranial akut.1,2,3,4

B. Anatomi Maksilofasial

Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua

setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia 4-5

tahun, besar kranium sudah mencapai 90% kranium dewasa. Maksilofasial

tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara baik dalam membentuk

wajah manusia.5

Gambar 1. Anatomi Tulang Maksilofasial (Dikutip dari kepustakaan 5)

4
Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari tengkorak

otak. Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga

mulut (cavum oris), dan rongga hidung (cavum nasi) dan rongga mata (orbita).

Tengkorak wajah dibagi atas dua bagian:4,5

1. Bagian hidung terdiri atas:

Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal

hidung di sudut mata. Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk batang

hidung sebelah atas. Dan Os Konka nasal (tulang karang hidung), letaknya

di dalam rongga hidung dan bentuknya berlipat-lipat. Septum nasi (sekat

rongga hidung) adalah sambungan dari tulang tapis yang tegak. 4,5

2. Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :

Os Maksilaris (tulang rahang atas), Os Zigomaticum, tulang pipi yang

terdiri dari dua tulang kiri dan kanan. Os Palatum atau tulang langit-langit,

terdiri dari dua buah tulang kiri dan kanan. Os Mandibularis atau tulang

rahang bawah, terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan yang

kemudian bersatu di pertengahan dagu. Dibagian depan dari mandibula

terdapat processus coracoid tempat melekatnya otot.4,5

C. Definsi

Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan

jaringan sekitarnya. Trauma pada jaringan maksilofasial dapat mengenai

jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak

wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah.4,6

5
Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang wajah

yang terdiri dari tulang hidung, tulang arkus zigomatikus, tulang mandibula,

tulang maksila, tulang rongga mata, gigi dan tulang alveolus.4,5,6

D. Insidensi

Di Inggris kecelakaan lalu lintas dan alkohol merupakan penyebab

terbanyak terjadinya kasus trauma maksilofasial. Laki-laki dewasa muda

denganrentang usia 18 sampai 25 tahun, merupakan kelompok paling sering

terkena trauma. Penelitian disana menunjukkan bahwa, komsumsi alcohol

dikaitkan dengan 90% trauma wajah yang terjadi di bar, 45% kecelakaan lalu

lintas, dan 25% trauma wajah di rumah. Hampir 25% dari semua cedera

wajah di semua kelompok umur, mengkomsusmsi alcohol 4 jam sebelum

trauma terjadi.7

E. Etiologi

Penyebab trauma maksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu

lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api.

Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma maksilofasial yang

dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa. 2,6,8

Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah

karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat

mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72

% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan kecelakaan

lalu lintas (automobile).2,6,8

6
F. Klasifikasi

Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu

trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma

jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca

pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian.4,

1. Trauma Jaringan Lunak Wajah

Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh

karena trauma dari luar.4

Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan:

a) Berdasarkan jenis luka dan penyebab

1) Ekskoriasi

2) Luka sayat, luka robek , luka bacok.

3) Luka bakar

4) Luka tembak

b) Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan

c) Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis

Langer.

d) Berdasarkan Derajat Kontaminasi

1) Luka Bersih.

a. Luka sayat elektif.

b. Steril potensial terinfeksi.

7
c. Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius,

traktur elementarius, dan traktur genitourinarius.

2) Luka Bersih Tercemar.

a. Luka sayat elektif.

b. Potensial terinfeksi: Spillage minimal, Flora normal.

c. Kontak dengan orofaring, traktus respiratorius, traktus

elementarius, dan traktur digestifus.

d. Proses penyembuhan lebih lama.

3) Luka Tercemar.

a. Potensi terinfeksi Spillage traktus elementarius.

b. Luka trauma baru: laserasi, fraktur terbuka dan luka penetrasi.

4) Luka Kotor.

a. Akibat pembedahan yang sangat terkontaminasi.

b. Perforasi viscera, abses dan trauma lama.

e) Klasifikasi Lain.

1) Luka dengan pergeseran flap pedicle (trapp door).

2) Luka Tusukan (puncture).

3) Luka pada kulit yang berhubungan dengan mukosa secara

langsung.

2. Trauma Jaringan Keras Wajah

Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur

tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yang definitif.

8
Secara umum dilihat dari terminologinya trauma pada jaringan keras

wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan:

a) Tipe Fraktur. 4,9,10

1) Fraktur simple

a. Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya

pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak

bergigi.

b. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut.

Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang,

terutama pada anak dan jarang terjadi.

2) Fraktur kompoun

a. Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan

jaringan lunak

b. Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung

gigi, dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari

membran periodontal ke rongga mulut, bahkan beberapa luka

yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit.

3) Fraktur komunis

a. Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang

tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi

bagian bagian yang kecil atau remuk.

b. Bisa terbatas atau meluas, jadi sifatnya juga seperti fraktur

kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak.

9
4) Fraktur patologis

a. keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit

penyakit tulang, seperti Osteomyelitis, tumor ganas, kista yang

besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat

menyebabkan fraktur spontan.

Gambar 2.Types of fractures: A, simplefracture; B, compound fracture; C,


comminutedfracture; D, impacted fracture in right subcondylararea and
pathologic fracture in the left anglearea; E, direct and indirect
fractures.(Dikutip dari kepustakaan 9)

b) Perluasan tulang yang terlibat

1) Komplit, fraktur mencakup seluruh tulang

2) Tidak komplit, seperti pada greenstick, hear line, dan kropresi

(lekuk)

10
c) Konfigurasi (garis fraktur)

1) Tranversal, bias horizontal atau vertical

2) Oblique (miring)

3) Spiral (berputar)

4) Komunisi (remuk)

d) Hubungan antar fragmen

1) Displacement

2) Undisplacement

e) Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan :4,9,10

1) Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita)

2) Fraktur Le Fort I, Le Fort II, dan Le Fort III

3) Fraktur segmental mandibula

G. Gejala Klinis

Pada penderita trauma muka dapat timbul beberapa kelainan seperti

kerusakan jaringan lunak (edema, kontusio, ekskoriasi, laserasi dan avulsi),

emfisema subkutis, rasa nyeri, terdapat deformitas yang dapat dilihat atau

diperiksa dengan cara perabaan, epistaksis, obstruksi hidung yang

disebabkan timbulnya hematom pada septum nasi, fraktur septum atau

dislokasi septum, gangguan pada mata, misalnya gangguan penglihatan,

diplopia, ekimosis pada konjungtiva, abrasi kornea, gangguan saraf sensoris

berupa anestesia atau hipestesia dari ketiga cabang nervus cranialis kelima,

gangguan saraf motorik, trismus, maloklusi, kebocoran cairan

cerebrospinalis, krepitasi tulang hidung, maksila dan mandibula.6

11
1. Fraktur tulang hidung6,9,11

Pada trauma muka paling sering terjadi fraktur hidung. Diagnosis

fraktur hidung dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi dan

pemeriksaan hidung bagian dalam dilakukan dengan rinoskopi anterior,


6,9,11

2. Fraktur tulang zigoma dan arkus zigoma

Tulang zigoma ini dibentuk oleh bagian yang berasal dari tulang

temporal, tulang frontal, tulang sfenoid dan tulang maksila. Gejala

fraktur zigoma antara lain adalah pipi menjadi lebih rata, diplopia,

edema periorbita, perdarahan subkonjungtiva, hipestesia atau anestesia,

emfisema subkutis dan epistaksis karena terjadi pada antrum.

Fraktur arkus zigoma tidak sulit untuk dikenal sebab pada tempat

ini timbulrasa nyeri pada waktu bicara atau mengunyah. Kadang-kadang

timbul trismus. Gejala ini timbul karena terdapatnya perubahan letak

dari arkus zigoma terhadap prosesus koronoid dan otot temporal. Fraktur

arkus zigoma yang tertekan atau terdepresi dapat dengan mudah dikenal

dengan palpasi.6,9,11

3. Fraktur tulang maksila

Jika terjadi fraktur maksila maka harus segera dilakukan tindakan

untuk mendapatkan fungsi normal dan efek kosmetik yang baik. Tujuan

tindakan penanggulangan ini adalah untuk memperoleh fungsi normal

pada waktu menutup mulut atau oklusi gigi dan memperoleh kontur

muka yang baik. Harus diperhatikan juga jalan napas serta profilaksis

12
kemungkinan terjadinya infeksi. Edema faring dapat menimbulkan

gangguan pada jalan napas sehingga mungkin dilakukan tindakan

trakeostomi. Perdarahan hebat yang berasal dari arteri maksilaris interna

atau arteri ethmoidalis anterior sering terdapat fraktur maksila dan harus

segera diatasi. Jika tidak berhasil dilakukan pengikatan arteri maksilaris

interna atau arteri karotis eksterna atau arteri etmoidalis anterior. Jika

kondisi pasien cukup baik sesudah trauma tersebut, reduksi fraktur

maksila biasanya tidak sulit dikerjakan kecuali kerusakan pada tulang

sangat hebat atau terdapatnya infeksi. Reduksi fraktur maksila

mengalami kesulitan jika pasien datang terlambat atau kerusakan sangat

hebat yang disertai dengan fraktur servikal atau terdapatnya kelainan

pada kepala yang tidak terdeteksi. Garis fraktur yang timbul harus

diperiksa dan dilakukan fiksasi.5, 6,9,11

Klasifikasi fraktur maksila

a) Fraktur maksila Le Fort I4,5, 6,9,11

Pada fraktur Le Fort I (fraktur Guerin) meliputi fraktur horizontal

bagianbawah antara maksila dan palatum. Garis fraktur berjalan ke

belakang melalui laminapterigoid. Fraktur ini bisa unilateral atau

bilateral. Kerusakan pada fraktur Le Fortakibat arah trauma dari

anteroposterior bawah dapat mengenai nasomaksila, bagianbawah

lamina pterigoid, anterolateral maksila, palatum durum, dasar

hidung, septum,apertura piriformis. Gerakan tidak normal akibat

fraktur ini dapat dirasakan denganjari pada saat pemeriksaan palpasi.

13
Garis fraktur yang mengarah ke vertikal, yangbiasanya terdapat pada

garis tengah, membagi muka menjadi dua bagian.4,5, 6,9,11

b) Fraktur maksila Le Fort II

Pada fraktur maksila Le Fort II (fraktur piramid) berjalan melalui

tulang hidung dan diteruskan ke tulang lakrimalis, dasar orbita,

pinggir infraorbita dan menyebrang ke bagian atas dari sinus maksila

juga ke arah lamina pterigoid sampai ke fossa pterigopalatina.

Fraktur pada lamina kribriformis dan atap sel etmoid dapat merusak

sistem lakrimalis.4,5, 6,9,11

c) Fraktur maksila Le Fort III

Pada fraktur maksila Le Fort III (craniofacial dysjunction) garis

fraktur berjalan melalui sutura nasofrontal diteruskan sepanjang taut

etmoid melalui fisura orbitalis superior melintang ke arah dinding

lateral ke orbita, sutura zigomatiko frontal dan sutura temporo-

zigomatik. Fraktur Le Fort III ini biasanya bersifat kominutif yang

disebut kelainan dishface. Fraktur maksila Le Fort III ini sering

menimbulkan komplikasi intrakranial seperti timbulnya pengeluaran

cairan otak melalui atap sel etmoid dan lamina kribriformis.4,5, 6,9,11

Gambar 3. Le Fort I, Le Fort II, Le Fort III (Dikutip dari kepustakaan 9)

14
4. Fraktur Tulang Orbita

Fraktur maksila sangat erat hubungannya dengan timbulnya fraktur

orbita terutama pada penderita yang menaiki kendaraan bermotor.

Fraktur ini memberikan gejala-gejala seperti enoftalmus, exoftalmus,

diplopia, asimetri pada muka dan gangguan saraf sensoris.5, 6,9,11

5. Fraktur Tulang Mandibula

Fraktur tulang mandibula adalah kedua terbanyak dari fraktur

wajah. Penderita mengeluh maloklusi dan nyeri pada pergerakkan

rahang. Selain itu terdapat juga gejala pembengkakan atau pun laserasi

pada kulit yang meliputi mandibula, anesthesia dapat terjadi pada satu

sisi bibir bawah, pada gusi atau pada gigi dimana nervus alveolaris

inferior menjadi rusak serta gangguan jalan napas disebabkan kerusakan

hebat pada mandibula seperti terjadinya perubahan posisi, trismus,

hematoma dan edema jaringan lunak.4,5, 6,9,11

H. Diagnosis

1. Anamnesis 1,7, 9, 11

Jika keadaan memungkinkan, riwayat cedera seharusnya sudah

didapatkan sebelum pasien tiba di unit gawat darurat. Pengetahuan

tentang mekanisme trauma memungkinkan dokter untuk mencurigai

cedera yang terkait selain cedera primer. Waktu diantara cedera atau

penemuan korban dan penanganan awal merupakan informasi yang

sangat berharga yang mempengaruhi tindakan selanjutnya. Pada pasien

15
yang masih sadar, mungkin ada beberapa informasi tambahan dapat

ditanyakan. 1,7, 9, 11

2. Pemeriksaan fisik

Gejala dan tanda yang dihasilakan oleh trauma maksilofasial dapat

meliputi :1,7, 9, 11, 12

a) Sumbatan jalan nafas,

b) Rasa sakit atau nyari local,

c) Krepitasi gerakan tulang,

d) Hipestesia atau anesthesia dalam distribusi saraf-sensorik,

e) Kelumpuhan dalam distribusi saraf motorik, mioklusi,

f) Gangguan ketajaman penglihatan,

g) Diplopia (pandangan ganda),

h) Asimetri wajah,

i) Deformitas wajah.

Palpasi semua permukaan tulang berikut secara teratur, dahi

(forehead), rima orbita, hidung, alis, arkus zigoma, dan perbatasan

mandibular harus dievaluasi. Pemeriksaan menyeluruh daerah intra-oral

harus dilakukan untuk mendeteksi laserasi, gigi lepas. Rahang atas dan

rahang bawah secara hati-hati dilakuakn pemeriksaan visualisasi dan

diraba untuk mendeteksi ketidakteraturan tulang, gigi longgar, laserasi

intraoral, memar, hematoma, pembengkakan, gangguan gerakan atau

membuka mulut (trismus).1,7, 9, ,12

16
Gambar 4.Teknik pemeriksaan palpasi bimanual pada trauma
maksilofasial(Dikutip dari kepustakaan 7)
3. Pemeriksaan penunjang.7.9

Beberapa trauma di wajah tidak memerlukan pencitraan sama

sekali, pada kasus lain memerlukan investigasi gambar pencitraan yang

kompleks. Satu hal yang harus diingatkan bahwa permintaan untuk

mendapatkan gambar pencitraan, akan berakibat pada tertundanya

penanganan pada pasien. Hal ini penting untuk mencapai keseimbangan

antara kebutuhan untuk mengidentifikasi semua lesi yang penting dan

kebutuhan untuk meminimalkan paparan radiasi dan tertundanya waktu

penangan pasien.7.9

a) Plain Radiographs

Plain Radiographsatau foto polos merupakan pencintraan dasar yang

sering dipakai sehari-hari. Dalam beberapa kasus foto polos ini

mungkin perlu dilengkapi dengan modalitas lain seperti tomografi

computer. Permintaan foto polos yang sering dilakukan pada kasus

trauma maksilofasial diantaranya proyeksi Caldwell dan lateral,

17
proyeksi ocipitomental l0 derajat dan 30 derajat, proyeksi

mandibular anterior dan panoramic tomography.9

Gambar 5. Plan radiograph pada trauma maksilofasial(Dikutip dari


kepustakaan 7)

Gambar 6. Tampak fraktur tulang nasal(Dikutip dari kepustakaan 3)

18
b) Tomografi Komputer dan 3 Dimensi

Pemeriksaan tomografi komputer merupakan pemeriksaan pilihan

pada kasus trauma maksirofasial. Pemeriksaan dilakukan dnegan

melihat potongan koronal dan aksial serta melihat gambaran tiga

dimensi tulang-tulangar wajah dan kepala7

Gambar 7. Blow out fracture pada mata kiri(Dikutip dari kepustakaan 7)

Gambar 8. Tomografi Komputer 3-D pada pasien fraktur mandibular(Dikutip


dari kepustakaan 7)

19
Gambar 9. 3D Volume rendered image showing fracture of maxilla,
mandible, inferior wall of right orbit and infero-medial wall of left
orbit(Dikutip dari kepustakaan 13)

Gambar 10. CT Scan 3D tampak fraktur tulang frontal, dinding medial


orbita kiri(Dikutip dari kepustakaan 3)

I. Penatalaksanaan

Waktu adalah penting dalam pengelolaan trauma maksilofasial yang

optimal. Tulang dan jaringan lunak harus dikelola segera setelah keadaan

umum pasien memungkinkan untuk dilakukan tindakan. Penanganan segera

dan tepat sangat signifikan menurunkan cacat wajah yang permanen dan

gangguan fungsional yang serius.1,7

20
Keputusan untuk melakukan rekonstruksi pada trauma maksilofasial

seperti fraktur tulang-tulang wajah, harus dilakukan pada 7 sampai l4 hari

pasca trauma. walaupun ada sebagian literatur mengatakan sampai hari ke-

21 masih dapat dilakukan tindakan. Rentang waktu ini perlu diperhatikan,

karena jika telah melebihi waklu tersebut, dikhawatirkan rekonstruksi tidak

maksimal dilakukan karena sudah terbentuk kalus yang banyak.1,7

Penatalkasanaan awal pada pasien trauma maksilofasial adalah untuk

mengidentifikasi dan menangani masalah yang mengancam kehidupan dengan

tujuan :

1. Mengidentifikasi dan menangani cedera yang mengancam jiwa.

2. Meresusitasi pasien dan menstabilkan tanda-tanda vital.

3. Mengidentifikasi dan menilai cedera-cedera yang lain.

4. Merencanakan perawatan definitif termasuk mempersiapkan pasien

untuk dirujuk kepusat-pusat pengobatan lain.1

Metodologi umum yang dipakai untuk mengidentifikasi dan

memprioritaskan cedera yang paling serius sampai cedera yang kurang serius

dikenal sebagai ABCDE, yaitu:1

A: airway with cervical spine control

B: breathing and ventilation

C: circulation and hemorrhage control

D: disability due to neurological deficit

E: exposure and environment control

Manajemen jalan nafas pasien adalah hal yang sangat penting. Fraktur

pada tulangwajah yang parah menyebabkan pasien tidak bisa

21
mempertahankan jalan nafas terutama padapasien yang tidak sadar atau dalam

posisi supine. Darah yang keluar di dalam rongga mulutdan berpotensi

menyumbat jalan nafas harus dibersihkan. Protesa dilepas, serpihan

gigidiambil, dan gigi goyang yang dikhawatirkan lepas sebaiknya dicabut.

Kadang kala lidahjatuh ke belakang dan menyebabkan sumbatan jalan nafas.

Menahan mandibula danmemposisikannya lebih ke anterior mungkin bisa

mengurangi sumbatan ini. Bilaobstruksi persisten mungkin perlu dilakukan

intubasi endotrakheal, cricotiroidotomi, bahkanmungkin trakeostomi. Pada

kondisi darurat dimana obstruksi jalan nafaspersisten maka perlu dilakukan

cricitiroidotomi dan trakeostomi. Cricotiroidotomi adalahtindakan membuka

ligamen cricotiroid di atas isthmus tiroid. Trakeostomi adalah tindakaninsisi

di bawah atau melalui isthmus tiroid

Teknik anestesi lokal

Teknik anestesi lokal diperlukan tidak hanya pada penatalaksanaan

trauma maksilofasial akan tetapi pada pemeriksaan tertentu dari trauma

rnaksilofasial itu sendiri kadang-kadang diperlukan teknik anestesi ini.

Anestesi lokal dapat secara efektifdiperoreh dari infiltrasi dan bloksaraf.

Anestesi lokal infiltratif dilakukan untuk injeksi larutan anestesi lokal di

daerah persarafan perifer yang terletak jauh dari lokasi saraf utama.7

Keuntungan anestesi rokal diantaranya tidak begitu memerlukan keahlian

khusus.

22
Gambar 11. Teknik anastesi infiltrasi pada upper lip, lower lip dan region
nasolabial.Secara umum0.2 mL zat anestesi diinjeksikan pada dua
sampai tiga titik(Dikutip dari kepustakaan 7)

Penatalaksanaan pada traumarnaksilofasialmeliputi menjaga jalan

nafas, kontrol perdarahan, penutupan luka pada jaringan lunak, dan

menempatkan segmen tulang yang fraktur sesuai dengan

posisinya.Akses untuk mencapai rangka wajah dilakukan pada tempat-

tempat tertentu dengan pertimbangan nilai estetika selain kemudahan

untuk mencapainya. untuk mencapai maksila anterior dilakukan insisi

intraoral. Daerah zigomatikofrontal dicapai melalui insisi upper

blepharoplasty. Insisi koronal untuk daerah frontal, nasoethmoid, orbita

lateral, arkus zigoma.7

23
Gambar 12. Insisi kulit untuk akses pada open reduction and internal
fixation (ORIF)(Dikutip dari kepustakaan 7)

Klasifikasi fraktur nasoethmoid dapat membantu dalam

menentukan penatalaksanaan yang komrehensif. NOE tipe I, jika

diputuskan pendekatan nonoperativeyang dipilih, maka pasien harus

terus dievaluasi untuk memastikan penyembuhan frakturyang baik.

Pada NOE tipe ll, pendekatan open reduction and internal fixation

(ORIF) lebih banyak dipilih. Pendekatan yang dilakukan dapat melalui

luka yang telah ada saat trauma. Pendekatan extended glabellar,

pendekatan coronal, pendekatan maksila, dan lainnya.7

24
Gambar 13.Pendekatan dengan ORIF pada fraktur NOE tipe II(Dikutip
dari kepustakaan 7)

Gambar 14. Klasifikasi menurut Le Fort pada fraktur midfasial(Dikutip


dari kepustakaan 7)

25
Stabilisasi dan fiksasi menggunakan plat kecil dan sekrup sekarang

ini lebihdisukai. Pada fraktur Le Fort I, plat mini diternpatkan pada tiap

buttress nasomaxillarydan zygomaticomaxillary. Pada Le Fort II, fiksasi

tambahan dapat dilakukan pada nasofrontal junction dan rima orbital.

Pada Le Fort III, plat mini ditempalkan pada articulatiozygomaticofrontal

untuk stabilisasi. PIat mini yang menggunakan sekrup 2 mm atau lebih

kecil disukai karena plat tidak terlihat dan teraba.7

Komplikasi utama dari fraktur Le Fort diantaranya anestesl

wajah,maloklusi, trismus, gangguan visus, ektropion, distorsi rnidfasial

dan sumbatan hidung.7

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Edwin, S. Makalah Seminar Handayani Dentistry : Fraktur Maksila dan

Tulang Wajah sebagai Akibat Trauma Kepala. Kidul : RSGM UMY. 2016.

Hal 2-25

2. Richard R, Nico L, Jan TN. Hubungan Facial Injury Severity Scale dengan

lama rawat inap pasien Trauma Maksilofasial di RSUP Prof. Dr R.D

Kandou Mandado. Ilmu Bedah Universitas Umum Fakultas Kedokteran

Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal Biomedik (JBM). 2017. Hal

535-539

3. Pramesthi E, Yusuf M. Penatalakasanaan Fraktur maksilofasial dengan

Menggunakan Mini Plat. Dep/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Fakultas Kedokteran Universitas

Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hal 1-9

4. Frank EL, Gady H. Ilmu THT Esensial Edisi 5. Jakarta : EGC. 2011. Hal

457-475

5. John V. Basmajian, Charles E.Slonecker. Grant Anatomi Klinik. Tangerang

selatan : BINARUPA AKSARA Pubhlisher. 2015. Hal 528-541, 642-644

6. Lynham A, Tucket J, Warnke. P. Maxillofacial Trauma. Australian : CPD.

2012. Hal 172-180

7. Hafuz A. Update Diagnosis dan Tatalaksana Trauma Maksilofasial. Bagian

Telinga Hidung dan Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran

Universitas Andalas. Padang. 2014. Hal 110-122

27
8. Tanuhendrata A, dkk. Hubungan antara Fraktur Maksilofasial dengan

terjadinya Lesi Intrakranial. Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas

Sam Ratulangi Manado. Journal Biomedik (JBM). 2016. Hal 167-171

9. Miloro, M. dkk. Paterson’s Principle Of Oral and Maxilofacial Surgery

Second Edition. London : BC Decker Inc. 2004. Hal 328-508

10. Sjamsuhidajat, R. Buku Ilmu Bedah. Jakarta : EGC. 2011. Hal 417-423

11. Malik, A.N. Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery Second Edition.

India : Jaypee Brother Medical Publishers. 2008. Hal 315-402

12. Boies R, Adams, Higler P. Trauma Rahang wajah : BOIES Buku Ajar

Penyakit THT Edisi keenam, Boies R, Adams, G,Higler P. editor .EGC.

1997. Hal 509-521

13. Ahmad K, dkk. Multidetector Coputed Tomographic Evaluation of

Maxilofacial Trauma. Departement of Radiodiagnosis Nepal. Asian Journal

of Medical Sciences. 2014. Hal 39-43

28