Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


Sub Topik : Pencegahan dan Penanganan ISPA
Tempat : Posyandu Dusun 2 Tanjung Agung
Hari/Tanggal : Kamis/12 Juli 2018
Waktu : 45 Menit
Sasaran : Ibu dan Anak

A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu penyebab
kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang. ISPA menyebabkan
empat dari 15 juta kematian pada anak berusia di bawah lima tahun pada setiap
tahunnya, sebanyak dua per tiga kematian tersebut adalah bayi. Hampir empat juta
orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98% nya disebabkan oleh infeksi saluran
pernafasan bawah. Tingkat mortalitas akibat ISPA pada bayi, anak dan orang lanjut
usia tergolong tinggi terutama di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah
dan menengah. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau
rawat inap di sarana pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak
(WHO, 2007).

Di Indonesia, prevalensi nasional ISPA 25% (16 Provinsi di atas angka


rasional), angka kesakitan (morbiditas) pneumonia pada bayi 2,2%, balita 3%,
sedangkan angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8% dan balita 15,5%. ISPA
hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak di negara
berkembang. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan
terjadi tiga sampai enam kali per tahun. ISPA merupakan salah satu penyebab utama
kunjungan klien di sarana pelayanan kesehatan yaitu sebanyak 40-60% kunjungan
berobat di Puskesmas dan 15-30% kunjungan berobat di rawat jalan dan rawat inap
rumah sakit (Depkes, 2009). Berdasarkan Persentase balita dengan ISPA di wilayah
Puskesmas Indralaya didapatkan hasil rekapitulasi bulan April hingga Juli 2018 secara
berturut-turut adalah 54,65%, 37,11%, 45,23%, dan 28,57%.

Program penanganan dan pencegahan ISPA secara khusus telah dimulai sejak
tahun 1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun kelihatannya
angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi (Rasmaliah, 2004).

B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan ibu dan anak dapat memahami dan menjelaskan
tentang pencegahan dan penanganan pada penyakit ISPA
2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga mampu:
a. Menyebutkan pengertian ISPA
b. Menyebutkan jenis-jenis ISPA
c. Menyebutkan faktor penyebab ISPA
d. Menyebutkan Tanda dan Gejala ISPA
e. Memahami proses penularan ISPA
f. Memahami penatalaksanaan ISPA
g. Menjelaskan pencegahan ISPA

C. Materi (Terlampir)

D. Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Diskusi/Tanya jawab

E. Media
1. Powerpoint (PPT)
2. Leaflet

F. Pengorganisasian
Moderator : Rio Pangestu
Penyaji : 1. Mia Audina
2. Selvia Anggraini
Fasilitator : 1. Pega
2. Zahra Aulia Astrid Herera
Observer : 1. Tri Izah Susanti
2. Uswatun Hasanah
G. Setting Tempat

H. Kegiatan Penyuluhan
No WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA
.

1. 5 menit Pembukaan :

 Membuka kegiatan dengan mengucapkan  Menjawab salam


salam.
 Memperkenalkan diri dan kelompok
 Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari penyuluhan.
 Memperhatikan
 Membuat kontrak waktu dengan sasaran
 Memperhatikan
 Menyebutkan topic materi yang akan
diberikan.
2. 30 menit Pelaksanaan :

 Menjelaskan pengertian ISPA  Memperhatikan


 Menyebutkan jenis-jenis ISPA  Memperhatikan
 Menyebutkan faktor penyebab ISPA  Memperhatikan
 Menyebutkan Tanda dan Gejala ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan proses penularan ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan penatalaksanaan ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan pencegahan ISPA  Memperhatikan
3 8 menit Evaluasi :

 Memberikan kesempatan kepada sasaran  Menjawab pertanyaan


untuk bertanya.
 Menanyakan kepada sasaran tentang
materi yang telah diberikan.
 Memberikan reinforcement positif kepada
sasaran yang dapat menjawab pertanyaan.
4 2 menit Terminasi :

 Mengucapkan terimakasih atas peran serta  Mendengarkan


peserta.
 Mengucapkan salam penutup
 Menjawab salam

I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Mahasiswa berada pada posisi yang sudah direncanakan
b. Mahasiswa dan sasaran menghadiri penyuluhan
2. Evaluasi Proses
a. Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
b. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan
c. Sasaran penyuluhan dan mahasiswa mengikuti kegiatan penyuluhan sampai selesai
d. Sasaran penyuluhan dan mahasiswa berperan aktif selama kegiatan berjalan
3. Evaluasi Hasil
Sasaran mampu :
a. Menyebutkan pengertian ISPA
b. Menyebutkan jenis-jenis ISPA
c. Menyebutkan faktor penyebab ISPA
d. Menyebutkan tanda dan gejala ISPA
e. Memahami proses penularan ISPA
f. Memahami penatalaksanaan ISPA
g. Menjelaskan pencegahan ISPA
Materi (Lampiran)
A. Pengertian
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas
laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan
bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli termasuk
jaringan seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Marni, 2014).

B. Klasifikasi
Menurut Hastuti (2013) Klasifikasi ISPA berdasarkan hasil pemeriksaan
dibedakan menjadi dua golongan yaitu golongan umur dibawah 2 bulan, dan golongan
umur 2 bulan sampai 5 tahun.
1. Golongan umur dibawah 2 bulan
a. Pneumonia
Yang dimaksud pneumonia jika dalam pemeriksaan fisik terdapat adanya
tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau frekuensi napas cepat (frekuensi
pernafasan 60 kali permenit atau lebih).
b. Bukan Pneumonia
Yang dimaksud bukan pneumonia jika ditemukan penyakit batuk pilek biasa,
dan tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau tidak
ditemukan napas cepat (frekuensi pernafasan kurang dari 60 kali permenit).

2. Golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun


a. Pneumonia
Yang dimaksud pneumonia jika dalam pemeriksaan fisik ditemukan nafas
cepat dengan frekuensi pernafasan 50 kali per menit atau lebih (usia 2 – 12
bulan), atau frekuensi pernafasan 40 kali per menit atau lebih (untuk usia 1 – 5
tahun).
b. Pneumonia Berat
Yang dimaksud pneumonia berat jika ditemukan sesak nafas dalam
pemeriksaan fisik dan saat inspirasi adanya tarikan dinding dada bagian bawah.
Namun saat dilakukan pemeriksaan anak harus dalam keadaan tenang, dan tidak
menangis.
c. Bukan Pneumonia
Yang dimaksud bukan pneumonia adalah jika tidak ada napas cepat, dan
tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah, jadi penderita hanya
mengalami batuk pilek biasa.

C. Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus,
Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium. Virus penyebab ISPA
antara lain adalah golongan Miksovirus, Adnovirus, Koronavirus, Pikornavirus,
Mikoplasma, Herpesvirus (Suhandayani, 2007).

D. Tanda dan Gejala


Menurut Muttaqin (2008) tanda dan gejala penyakit ISPA dibedakan menjadi
tiga yaitu:
1. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut :
a. Batuk
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya
pada waktu berbicara atau menangis)
c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37oC

2. Gejala dari ISPA Sedang


Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA
ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu: untuk kelompok umur
kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan kelompok
umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih
untuk umur 2 sampai kurang dari 12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih
pada umur 12 bulan sampai kurang dari 5 tahun.
b. Suhu lebih dari 39 O C (diukur dengan termometer)
c. Tenggorokan berwarna merah
d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)

3. Gejala dari ISPA Berat


Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala ISPA
ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Bibir atau kulit membiru
b. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
c. Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
d. Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas
e. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f. Tenggorokan berwarna merah

E. Proses Penularan
Proses terjadinya ISPA diawali dengan masuknya beberapa bakteri dari
genus streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofillus, bordetella dan
korinebakterium dan virus dari golongan mikrovirus (termasuk didalamnya virus
para influenza dan virus campak), adenoveirus, koronavirus, pikornavirus,
herpesvirus kedalam tubuh manusia melalui partikel udara (droplet infection).
Kuman ini akan melekat pada sel epitel hidung dengan mengikuti proses
pernapasan maka kuman tersebut bisa masuk ke bronkus dan masuk ke saluran
pernapasan, yang mengakibatkan demam, batuk, pilek, sakit kepala dan
sebagainya (Marni, 2014).

F. Penatalaksanaan
Menurut Marni (2014) Penatalaksanaan penyakit ISPA yaitu :
1. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik
parenteral, oksigen dan sebagainya.
2. Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat
antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
3. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan
perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk
tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang
merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila
demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita
dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat
adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah
bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman
streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.

G. Perawatan di rumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi
anaknya yang menderita ISPA menurut Winardi (2015) adalah:
1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun demam diatasi dengan
memberikan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus
segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2
hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya,
kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan
menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan
tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau
madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

3. Pemberian makanan dan minuman


Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi
berulang- ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika
muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan dan
usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih
banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak,
kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
4. Lain-lain
a. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang
terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
b. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
c. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap.
d. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk
maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.
e. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan
diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan
benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan
antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali ke
petugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

H. Pencegahan ISPA
Menurut Marni (2014) Pencegahan ISPA antara lain:
1. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan
mencegah kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara
lain penyakit ISPA.
2. Imunisasi
Pemberian imunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak
maupun orang dewasa. Imunisasi dilakukan untuk menjaga
kekebalan tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai
macam penyakit yang disebabkan oleh virus / bakteri.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik
akan mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam
rumah, sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap
tersebut yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2009). Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta: Usaid

Hastuti, D. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Infeksi Saluran

Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Kecamatan Ngombol. Skripsi. Fakultas Ilmu

Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Marni. (2014). Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit Dengan Gangguan Pernapasan.

Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Muttaqin, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Pernafasan,

Jakarta, Salemba Medika

Rasmaliah. (2004). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Dan Penanggulangannya.

Suhandayani, I. 2007. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita

di Puskesmas Pati I Kabupaten Pati Tahun 2006. Skripsi IKMFIKUNNES.Semarang.

http://digilib.unnes.ac.id

Winardi, W. (2015). Hubungan Antara Kondisi Lingkungan Rumah Dengan Kejadian

Penyakit ISPA Pada Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sario Kecamatan

Sario Kota Manado. Skripsi. Universitas Sam Ratulangi

World Health Organization. (2007). Who Report on the Global tobacco Epidemic. Geneva

World Health Organization. (2007). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran

Pernapasan Akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemic dan pandemik di

fasilitas pelayanan kesehatan. Jakarta: Trust Indonesia.


SATUAN ACARA PENYULUHAN

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

OLEH :

KELOMPOK 4

1. USWATUN HASANAH

2. PEGA

3. RIO PANGESTU

4. ZAHRA AULIA ASTRID HERERA

5.TRI IZAH SUSANTI

6. MIA AUDINA

7.SELVIA ANGGRAINI

ALIH PROGRAM 2016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2018/2019