Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN LENGKAP PRAKTEK LAPANG PENGANTAR OSEANOGRAFI

DI PERAIRAN PANTAI DESA TANJUNG TIRAM

OLEH :

DANDI
I1A1 17032

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan


Pada Mata Kuliah Pengantar Oseanografi

JURUSAN MENEJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Laporan Lengkap Praktek Lapang Pengantar Oseanogarfi

Laporan Lengkap : Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan pada Mata Kuliah
Pengantar Oseanografi

Nama : DANDI

NIM : I1A117032

Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan

Laporan Lengkap ini


Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh :

Koordinator Asisten praktek AsistenPraktek

Ahmad Mustafa,S.Pi.,M.P La ode M. Arsal S.Pi.

Mengetahui
Koordinator Mata kuliah

Ahmad Mustafa S. Pi, M.P


NIP. 19731106 200312 1 001

Kendari, Mei 2018


Tanggal Pengesahan
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala limpahan

rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan lengkap

praktikum Lapang Pengantar Oseanografi ini untuk memenuhi salah satu persyaratan

kelulusan pada mata kuliah Pengantar Oseanografi didalam jurusan Manajemen

Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo.

Dalam pembuatan laporan ini berkat bantuan, Allah SWT dan dosen

pembimbing mata kuliah Pengantar Oseanografi serta asisten yang telah mendampingi

Penulis pada saat praktikum.Tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam

kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan laporan ini.

Saya menyadari bahwa dalam proses pembuatan laporan ini masih jauh dari

kesempurnaan baik materi maupun cara pembuatannya. Namun demikian, penulis telah

berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki sehingga

dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan terbuka menerima

masukan,saran dan kritik penyempurnaan laporan ini. Dan penulis berharap semoga laporan

ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Kendari, Juni 2018

Penulis
RIWAYAT HIDUP

DANDI, saya dilahirkan di kawitewite, 8 Agustus dari pasangan

Hamid. dan Merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Penulis mengenyam pendidikan dasar pada tahun 2005 – 2006

sebagai siswa SD Negeri 4 Kabawo. Lulus pada tahun 2011.

Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMP

Negeri Satap Satu Kabawo dan lulus pada tahun 2014. Kemudian penulis melanjutkan

pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Kabawo dan lulus pada tahun 2017. Pada

tahun yang sama pula penulis diterima sebagai mahasiswa Universitas Halu Oleo,

Kendari Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Jurusan Manajemen Sumberdaya

Perairan melalui jalur SMPTN.


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Oseanografi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang lautan. Ilmu ini

merupakan perpaduan dari berbagai ilmu yang berkaitan dengan proses yang terjadi

dalam suatu perairan laut. Ilmu dari perpaduan itu seperti ilmu tanah, geografi, ilmu

fisika, ilmu kimia, geologi, ilmu biologi dan ilmu iklim. Ilmu oseanografi terdiri dari

berbagai cabang ilmu yaitu fisika oseanografi, kimia oseanografi, biologi oseanografi

dan geologi.

Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Laut

adalah kumpulan air asin yang sangat banyak dan luas di permukaan bumi yang

memisahkan atau menghubungkan suatu benua dengan benua lainnya dan suatu pulau

dengan pulau lainnya.

Bumi kita dikelilingi oleh dua lautan yang sangat luas yaitu lautan udara dan lautan

air. Keduanya berada dalam keadaan bergerak (dynamic condition), dibangkitkan oleh

energi dari matahari dan gaya gravitasi bumi. Gerakan-gerakan mereka saling

berhubungan : angin memberikan energinya ke permukaan laut sehingga menghasilkan

arus laut, dan arus laut membawa energi panas dari satu lokasi ke lokasi lainnya,

mengubah pola temperatur permukaan bumi dan juga mengubah sifat-sifat fisis udara di

atasnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Furqon (2006), Selain di dalam bumi itu

sendiri, bumi kita jugaberinteraksi dengan planet, bulan dan bintang di luar angkasa

yang salah satunya menghasilkan pasang surut laut di bumi.

Parameter oseanografi menjadi salah satu sarana untuk mempelajari berbagai

fenomena dilautan.Beberapa parameter oseanografi yang penting, diantaranya suhu,


salinitas, arus, pasang surut dan gelombang.. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dwi

Siswanto (2014), bahwa Ada beberapa factor yang menjadi pembangkit beberapa

parameter oseanografi tersebut, diantaranya adalah angin. Pola interaksi atmosfer

diduga berpengaruh terhadap dinamika dipermukaan laut.Arus, pasang surut dan

gelombang diduga berpengaruh terhadap sebaran dan distribusi material

tersuspensi.Sirkulasi air sangat dipengaruhi oleh pasang surut, sehingga memungkinkan

sedimen teraduk akibat adanya kombinasi pengaruh arus yang terbentuk karena pasang

surut maupun arus kompleks lainnya. Kondisi ini akan mempengaruhi fluktuasi

fluktuasi konsentrasi.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka perlunya dilaksanakan praktikum ini

untuk mengetahui lebih spesifikasi lagi tentang faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi parameter di perairan pantai Tanjung Tiram.

B. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dari praktek lapang pengantar oseanografi yang dilakukan di pantai

perairan desa tajung tiram ini adalah ;

1. Untuk mengetahui fluktuasi suhu perairan, salinitas, Ph, dan tingkat kecerahan di

perairan pantai Desa Tanjung Tiram serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Untuk mengetahui tipe pasang surut dan beda pasang surut di perairan pantai Desa

Tanjung Tiram, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

3. Untuk mengetahui kecepatan dan arah arus di perairan pantai Desa Tanjung Tiram,

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

4. Untuk mengetahui karakteristik gelombang di perairan pantai Desa Tanjung Tiram,

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.


5. Untuk mengetahui bentuk topografi serta hubungnnya dengan sedimen di perairan

pantai Desa Tanjung Tiram, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Manfaat dari praktek lapang pengantar oseanografi yang dilakukan di perairan

pantai desa tajung tiram adalah :

1. Mengetahi perubahan suhu perairan, salinitas, pH dan tingkat kecerahan di

perairan pantai DesaTanjung Tiram serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Mengetahui tipe pasang surut dan beda pasang surut di perairan pantai Desa

Tanjung Tiram, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

3. Mengetahui kecepatan dan arah arus di perairan pantai Desa Tanjung Tiram,

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

4. Mengetahui karakteristik gelombang di perairan pantai Desa Tanjung Tiram,

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

5. Mengetahui bentuk topografi serta hubungnnya dengan sedimen di perairan

pantai Tanjung Tiram, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Parameter Suhu, Salinitas, Ph ,Kecerahan,Pasut,Arus,Gelombang,Topografi

Dan Sedimen

1. Suhu

Suhu merupakan parameter yang sangat penting dalam lingkungan laut dan

berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan laut. Suhu

merupakan parameter oseanografi yang paling mudah untuk dipelajari. Beberapa hasil

penelitian menujukkan bahwa ikan sangat peka terhadap perubahan suhu, walaupun

nilainya sangat kecil (0,1°C), sebagai contoh ikan telestoi melakukan respon dengan

perubahan suhu sebesar 0,03°C Suhu permukaan di perairan Indonesia berkisar antara

26°C–30°C. Suhu maksimum terjadi pada musim pancaroba I (sekitar April - Mei) dan

musim pancaroba II (sekitar November) (Rasyid, 2010).

Sebaran suhu air laut disuatu perairan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain

radiasi sinar matahari, letak geografis perairan, sirkulasi arus, kedalaman laut, angin dan

musim, pergerakan massa air tawar dari aliran sungai-sungai yang dengan mudah masuk

ke perairan dekat pantai. Gerakan massa air ini yang dapat me-nimbulkan panas, akibat

terjadi gesekan antara molekul air, sehingga suhu air laut di perairan dekat pantai lebih

hangat dibanding dengan massa air di perairan lepas pantai (Simon,2013).

Suhu air mempunyai pengaruh yang nyata terhadap proses pertukaran atau

metabolisme makhluk hidup. Selain mempengaruhi proses pertukaran zat, suhu juga

berpengaruh terhadap kadar oksigen yang terlarut adalam air, juga berpengaruh

terhadap pertumbuhan dan nafsu makan ikan. Dalam berbagai hal suhu berfungsi

sebagai syarat rangsangan alam yang menentukan beberapa proses seperti migrasi,
bertelur, metabolisme, dan lain sebagainya. Diperairan lokasi budidaya ikan sistem

karamba mempunyai kisaran suhu antara 27 - 30°C. Ikan dapat tumbuh dengan baik

pada kisaran suhu 25- 32°C, tetapi dengan perubahan suhu yang mendadak dapat

membuat ikan stress (Pujiastuti,2013).

2. Salinitas

Menurut Wibisono (2005) dalam Dahuri, Salinitas adalah jumlah total (gr) dari

material padat termasuk garam NaCl yang terkandung dalam air laut sebanyak 1kg

dimana bromine dan iodin diganti dengan klorin dan bahan organik seluruhnya telah

dibakar habis. Salinitas secara umum dapat disebut sebagai jumlah kendungan garam

dari suatu perairan, yang dinyatakan dalam permil. Kisaran salinitas air laut berada

antara 0‰ – 40‰, yang berarti kandungan garam berkisar antara 0 – 40 g/kg air laut.

Secara umum, salinitas permukaan perairan Indonesia rata-rata berkisar antara 32–34‰

(Dahuri,1996).

Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi salinitas di perairan ini adalah

penyerapan panas (heat flux), curah hujan (presipitation), aliran sungai (flux) dan pola

sirkulasi arus. Perubahan salinitas akan menaikkan atau mengurangi densitas air laut di

lapisan permukaan sehingga memicu terjadinya konveksi ke lapisan bawah (Kusumah,

2008).

3. pH (Derajat Keasaman)

Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hydrogen dalam

perairan.Derajat keasaman menunjukkan suasana air tersebut apakah masih asam

ataukah basa.Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman

atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7adalah netral, pH < 7

dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan
bersifat basa (Effendi, 2003). Adanya karbonat, bikarbonat dan hidroksida akan

menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam

karbonat menaikkan keasaman suatu perairan. Sejalan dengan pernyataan tersebut

Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah buangan industry dan rumah tangga dapat

mempengaruhi nilai pH perairan (Pujiastuti,2013).

Derajat keasaman mempunyai pengaruh yang besar terhadap tumbuh tumbuhan dan

hewan air, sehingga sering dipergunakan sebagai petunjuk untuk untuk menyatakan

baik buruknya keadaan air sebagai lingkungan hidup biota air (Pujiastuti,2013).

4. Kecerahan

Kecerahan merupakan ukurantransparansi perairan yang ditentukan secaravisual

dengan menggunakan secchi disk.Kecerahan perairansangat dipengaruhi oleh

keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikelpartikeldan warna air.Pengaruh

kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai dapat mengakibatkan tingkat

kecerahan air waduk menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas

perairan. Parameter kecerahan dapat untuk mengetahui sampai dimana proses asimilasi

dapat berlangsung di dalam air. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak terlampau

jernih baik untuk kehidupan ikan. Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang

disebabkan oleh jasad renik atau plankton (Pujiastuti,2013).

5. Parameter Pasang Surut

Pasang surut ialah proses naik turunnya muka laut yang hamperteratur,dibangkitkan

terutama oleh gaya tarik bulan dan matahari. Karena posisi bulan dan matahari terhadap

bumi selalu berubah secara hamper teratur,maka besarnya kisaran pasut juga berubah

mengikuti perubahan posisi-posisi tersebut. Selain itu, pasut terdiri dari berbagai

komponen yang dapat dikelompokkan menurut siklusnya, seperti komponen pasut


harian (diurnal), tengah-harian (semi-diurnal), atau komponen perempat harian

(quarternal).Komponen-komponen pasut tersebut menentukan tipe pasut di suatu

perairan.Jika perairan tersebut mengalami satu kali pasang dan surut per hari, maka

kawasan tersebut dikatakan bertipe pasut tunggal. Jika terjadi dua kali pasang dan dua

kali surut dalam satu hari, maka pasutnya dikatakan bertipe pasut ganda.Tipe pasut

lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda, dan dikenal sebagai pasut

campuran (Pariwono,1999).

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori

kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari,

revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah

kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar.

Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu

perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga

berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).

6.Arus

Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan

vertikal massa air. Secara umum, arus laut yang mempengaruhi karakteristik perairan di

Indonesia adalah arus laut yang dibangkitkan oleh angin dan pasut. Arus-arus laut di

kedalaman laut yang lebih dalam lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan pasang surut

dan sifat-sifat fisik lainnya seperti perbedaan temperatur, salinitas dan tekanan

(Sugianto, 2007).

Arus laut permukaan merupakan pencerminan langsung dari pola angin yang

bertiup pada waktu itu. Jadi arus permukaan ini digerakkan oleh angin. Air dilapisan

bawahnya ikut terbawa, karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya yang
diakibatkan oleh perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan dari

arah angin dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih kekanan lagi dari arah arus

permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi selatan terjadi hal

sebaliknya (Romimahtarto, 2009).

7.Gelombang

Gelombang merupakan pergerakan air yang naik turun dan tidak mengalami

pergerakan baik maju maupun mundur.(Wardani,2008).Apabila suatu deretan

gelombang bergerak menuju pantai, gelombang tersebut akan mengalami perubahan

bentuk yang disebabkan oleh prosese refraksi dan pendangkalan gelombang, difraksi,

refleksi, dan gelombang pecah (Triatmodjo, 1999).

Ada tiga faktor yang menentukan karakteristik gelombang yang dibangkitkan

oleh angin, yaitu: lama angin bertiup atau durasi angin, kecepatan angin. Semakin lama

angin bertiup pada permukaan perairan, maka semakin besar energi yang akan

dihasilkan. Sedangkan fetch merupakan jarak tempuh gelombang dari awal

pembangkitannya. Semakin panjang jarak fetch, maka ketinggian gelombang akan

semakin besar (Samulano, 2012).

Gelombang terjadi karena beberapa sebab, yaitu karena angin, menabrak pantai,

dan gempa bumi. Gerakan permukaan gelombang dapat dikelompokkan dalam gerak

osilasi, gerak translasi dan gerak swash. (Purnomo, 2012). Gelombang laut timbul

akibat adanya gangguan dari luar terhadap sesuatu perairan. Gangguan dari luar tersebut

dapat berasal dari angin, gerakan kapal atau dari gempa dibawah laut. Diantara semua

penyebabnya , angin merupakan faktor terpenting. Selain dapat menimbulkan

gelombang, angin juga menyebabkan gelombang menghempas secara terus-menerus.


Angin dan faktor-faktor lain akan mempengaruhi arah, besar maupun bentuk

gelombang (Rahardjo dan Harpasis, 1983).

8.Topografi dan Sedimen

Topografi ialah bentuk rupa permukaan bumi yang teerbentuk dari berbagai

faktor baik dari tenaga endogen maupun eksogen (Hutabarat, 1985). Salah satu faktor

yang mempengaruhi topografi yaitu adanya pergeseran lempeng, bencana alam, berupa

pengikisan pantai sehingga menimbulkan dasar khususnya daerah pantai menjadi

curam, selain itu faktor lainnya yaitu adanya gelombang yang tiap harinya terus menuju

pantai (Wardani dan Wahyu, 2008).

Sedimen adalah partikel hasil dari pelapukan batuan, material biologi, endapan

kimia, debu, material sisa tumbuhan dan daun (Karleskint, dkk. 2010). Sedimen adalah

salah satu media di alam yang dapat menyimpan material hasil berbagai macam dampak

aktivitas manusia, dan juga merupakan yang berperan penting dalam memberikan

informasi terhadap semua bentuk material yang diakumulasi ( Rifardi dkk., 1998 ).

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sedimen adalah iklim,

topografi, vegetasi, gelombang dan juga susunan yang ada dari batuan. Sedangkan yang

mempengaruhi pengangkutan sedimen adalah air, angin, dan juga gaya grafitasi.

Sedimen dapat terangkut baik oleh air, angin, dan bahkan salju (Rositasari dan Witasari,

2011).

Seluruh permukaan dasar lautan ditutupi oleh partikel-partikel sedimen yang

telah diendapkan secara perlahan-lahan dalam jangka waktu berjuta-juta tahun. Secara

relatif ketebalan lapisan sedimen yang terdapat dibanyak bagian lautan, mempunyai

variasi kedalaman yang berbeda-beda (Hutabarat, 2008).


Sebaran sedimen terkait dengan jenis endapan yang tersebar di dasar permukaan

laut. Jenis endapan sedimen ini bisa berupa pasir, lumpur, kerikil atau batuan mineral

lainnya (Suhartati dkk. 2010).

III. METODE PRAKTEK

A. Waktu dan tempat

Praktek lapang pengantar oseanografi ini dilaksanakan selama 24 jam mulai

pukul 10.00 WITA pada hari Sabtu, tanggal 21-22 April 2018 sampai pukul 09.00

WITA pada hari Minggu, 22 April 2018. Bertempat di Desa Tanjung Tiram, Kecamatan

Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan propinsi Sulawesi Tengggara. Praktek

kedua Pengantar Oseanografi dilaksanakan pada hari Rabu, 30 April 2018 pukul 01.00-

03.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Universitas Halu Oleo.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum oseanografi, yaitu :

Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan Beserta Kegunaannya :


Alat dan Bahan Satuan Kegunaan
A. Alat
- Stopwatch HP S Untuk menghitung waktu
- Kompas HP - Untuk penunjuk arah
- Meteran Rol m Untuk mengukur panjang
- Secchi Disk % Untuk mengukur kecerahan
- Layangan Arus 𝑚⁄ Untuk mengukur kecepatan arus
𝑠
O
- Thermometer C Untuk mengukur suhu
- Handrefraktometer ppt Untuk mengukur salinitas
- Tiang berskala M Untuk pengukuran pasang surut
gelombang
- Pipa paralon - Untuk mengambil substrat
- Alat tulis - Mencatat data
- Plastik sampel - Tempat menyimpan substrat
- Pipet tetes - Untuk mengambil substrat cair
- Meteran pita Cm Untuk mengukur tinggi gelombang
- Selang bening - Untuk menghitung massa
- Timbangan digital Pasir
- Sieve shaker - Menyaring substrat
B. Bahan
- Tissue - Untuk mengeringkan
- Akuades - Untuk mengkalibrasi refraktometer
- Alat Tulis Menulis - Untuk mencatat data
- Plastik Sampel - Untuk menyimpan substrat
- Kertas indicator - Untuk mengukur Ph

A. Prosedur Pengamatan

Prosedur pengamatan parameter fisika dan kimia pada praktek lapang yang

dilakukan diperairan pantai Desa Tanjung Tiram adalah :

1. Suhu

 Mencelup sebagian batang termometer pada air laut selama ± 5 menit.

 Memperhatikan ukuran termometer (suhu) yang ditunjukkan pada skala dengan

teliti.

 Memperhatikan data pendukung saat melakukan pengukuran suhu.

 Melakukan pengambilan sampel dengan interval waktu 1 jam selama 24 jam.

2. Salinitas

 Mengukur salinitas dengan menggunakan hend refraktometer.

 Membersihkan kaca hend refraktometer dengan aquadest dengan menggunakan

washing bottle.

 Mengambil air sampel kemudian meneteskan 1 tetes pada kaca hand

reftraktometer.

 Mengamati dan mencatat hasil yang ditampilkan pada hand reftraktometer.


3. pH

 Mengukur pH dengan menggunakan pH indikator atau kertas lakmus

 Kertas lakmus di celup pada air laut.

 Melihat perubahan warna pada kertas lakmus.

 Menentukan nilai pH berdasarkan indicator warna.

 Mencatat nilai pH serta data pendukungnya.

4. Kecerahan

 Mengukur kecerahan dengan menggunakan secchi disk.

 Secchi disk ditengelamkan hingga tak nampak lagi warna hitam putih pada

secchi disk.

 Mengukur berapa meter kedalaman hingga secchi disk tidak nampak lagi.

 Mencatat hasil pengamatan dan data pendukungnya.

5. Pasang Surut

 Menyiapkan patok berskala untuk melakukan pengukuran pasang surut.

 Menancapkan patok pada dasar perairan masing masing stasiun kelompok di

tanjung tiram.

 Mencatat waktu dan hasil pengukuran tinggi pasang dan surut terendah yang

terjadi.

6. Arus Laut

 Menyiapkan peralatan berupa layangan arus dengan panjang tali 10 m untuk

melakukan pengukuran arus laut.


 Melekatkan layangan arus tersebut diatas permukaan bersamaan dengan

menghidupkan stopwatch.

 Mencatat waktu bila tali sudah dalam keadaan renggang dan arah arusnya.

7.Gelombang Laut.

 Menyiapkan peralatan berupa patok berskala 2 buah dengan ukuran 2 meter

yang telah dilengkapi meteran rol.

 Menancaokan patok tersebut disuatu perairan yang memiliki gelombang.

 Mengukur panjang gelombang dengan cara ; 2 orang memegang tali dengan

panjang tertentu. Yang lain mengukur panjang gelombang dua puncak atau dua

lembah sekaligus mengukur waktunya dengan hitungan stopwatch.

8. Topografi

 Menyiapkan peralatan berupa patok berskala untuk melakukan topografi.

 Menancapkan patok pada ke dalaman 25 cm dan mengukur jaraknya dari garis

pantai.

 Melakukan percobaan di atas dengan interval jarak 25 cm m hingga jarak 150

cm.

 Mencatat jarak masing masing kedalaman.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. hasil pengukuran variasi Suhu di perairan pantai Tanjung Tiram Tanggal

21-22 April 2018

Jam (Wita) Suhu (0C) Jam (Wita) Suhu (0C)


10.00 31 22.00 31
11.00 31 23.00 30
12.00 34 24.00 30
13.00 34 01.00 29
14.00 32 02.00 29
15.00 31 03.00 29
16.00 31 04.00 30
17.00 32 05.00 30
18.00 31 06.00 30
19.00 31 07.00 31
20.00 32 08.00 31
21.00 30 09.00 31

Gambar 2. Grafik variasi suhu di perairan pantai Tajung Tiram selama 24 Jam Tanggal
21-22 April 2018

suhu
31

30

29

28

27 suhu
26

25

24
10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00 22.00 24.00 02.00 04.00 06.00 08.00
B. Salinitas

Tabel 1. Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai Tajung Tiram. Tanggal 21-22
April 2018

Jam (Wita) Salinitas (O/oo) Jam (Wita) Salinitas (O/oo)


10.00 32 22.00 34
11.00 32 23.00 32
12.00 31 24.00 31
13.00 30 01.00 32
14.00 31 02.00 32
15.00 32 03.00 30
16.00 31 04.00 30
17.00 31 05.00 33
18.00 31 06.00 32
19.00 30 07.00 32
20.00 32 08.00 30
21.00 32 09.00 31

Gambar 2. Grafik Variasi Salinitas di Perairan Pantai Tanjung Tiram selama 24 jam.
Tanggal 6-7 Mei 2017

Salinitas
36
35
34
33
32
31
30
29
28
27
08.00
,14.00
10.00
11.00
12.00
13.00

15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
24.00
01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
06.00
07.00

09.00
C. Kecerahan

Tabel 4. Hasil Pengukuran Kecerahan rata-rata Perairan Tanjung Tiram.

Kelompok Kecerahan (m)


I 3,1
II 4,58
III 2,64
IV 6,11
V 6,11
VI 5,2
Rata-rata 4,62

D. Arus

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Pantai


Tanjung Tiram Pukul 14.00 Wita Tanggal 21 April 2018.

Kelompok Kecepatan Arus Arah Arus Arah Angin Dasar


(m/det) Perairan
I 0,0210 Tenggara Barat laut Kiri dermaga
II 0,0395 Tenggara Barat laut Kiri dermaga
III 0,0144 Tenggara Barat laut Kiri dermaga
IV 0,0410 Tenggara Barat laut Kiri dermaga
V 0,0600 Tenggara Barat laut Kiri dermaga
VI 0,1064 Tenggara Barat laut Kiri dermaga
Ket : Pukul 15.00 : muka air bergerak menuju pasang, kedalaman 125-150 cm

Dasar perairan landai, pasir berbatu

Tabel 2. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Pantai Tanjung Tiram
Pukul 07.00 Wita Tanggal 22 April 2018.

Stasiun Kecepatan Arus Arah Arus Arah Angin Dasar Perairan


I 0,0320 Barat laut Utara Kanan dermaga
II 0,0388 Barat laut Utara Kiri dermaga
III 0,0195 Barat laut Utara Kiri dermaga
IV 0,0195 Barat laut Utara Ujung dermaga
V 0,0400 Barat laut Utara Ujung dermaga
VI 0,0200 Barat laut Utara Ujung dermaga
Ket :Pukul 07.00 : muka air bergerak surut, kedalaman 125-150 cm

Dasar perairan landai, pasir berbatu


E. Gelombang

Kelom Nilai Arah


Panjang Tinggi Angin Gelo
Ket : Pukul 11.0pok (cm) (cm)
5,78 0,15 Barat Barat laut Kanan
II

III 5,78 0,13 Barat Barat lau Kanan


IV 1,93 0,13 Barat Barat Kanan
V 2,20 0,13 Barat Barat Kanan
VI 3,50 0,11 Barat Barat laut Kanan

Rata-rata 3,87 0,13 Barat Barat Kanan dermaga

I 4,05 0,13 Barat Bar


Tabel 1. Hasil pengukuran dan arah periode gelombang di perairan pantai Tanjung
Tiram pukul 15.00 Wita Tanggal 6-7 mai 2018
0 air laut bergerak pasang, kedalaman 117 cm

F. Pasang Surut

Tabel 8. Hasil pengukuran Tinggi Permukaan Air Laut di Perairan Pantai Tanjung
Tiram

Jam (wita) Tinggi (m) Jam (wita) Tinggi (m)


17.00 118 05.00 130
18.00 73 06.00 124
19.00 66 07.00 97
20.00 12 08.00 63
21.00 0 09.00 43
22.00 -10 10.00 43
23.00 -40 11.00 44
24.00 -60 12.00 65
01.00 0 13.00 80
02.00 28 14.00 118
03.00 35 15.00 141
04.00 165 16.00 131
Ket : Umur bulan saat pengmatan 5 dan 6 hari bulan (05-06 hari bulan sa’ban) beda
pasang surut (Amplitudo) = 225 cm. Bulan terbit jam 12.41 terbenam 23.00

Gambar 3. Grafik pasang surut di Perairan Pantai Tanjung Tiram selama 24 jam.
Tanggal 21-22 April 2018
20
40
60
80

0
100
120
140
160

17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
24.00
01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
06.00
Tinggi pasut

07.00
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
Tabel 9. Hasil analisis Pasang Surut

Jam Tinggi muka air Tinggi muka air terhadap


MSL
17.00 118 -36
18.00 73 -25
19.00 66 -5
20.00 12 21
21.00 0 45
22.00 -20 43
23.00 -40 24
24.00 -60 24
01.00 0 20
02.00 28 15
03.00 35 11
04.00 165 -35
05.00 130 -35
06.00 124 -45
07.00 97 -6
08.00 63 39
09.00 43 32
10.00 43 26
11.00 44 26
12.00 65 4
13.00 80 -13
14.00 118 -26
15.00 141 -26
16.00 131 -31

Tertinggi : 165
Terendah : -60
MSL : 45
MSL = mean sea level = tinggi muka air laut
Gambar 4. Grafik analisis pasang surut di Perairan Pantai Tanjung Tiram selama 24
jam. Tanggal 6-7 mei 2017.

200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
20.00
21.00
22.00
23.00
24.00
17.00
18.00
19.00

01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
06.00
07.00
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
Ket:
Tinggi muka air laut terhadap MSL
Tinggi muka air
G. Ph
Tabel 10. Hasil pengukuran pH rata-rata perairan pantai Tanjung Tiram

Kelompok Jam pH
I 10.00 6
II 13.00 5
III 16.00 5
IV 19.00 6
V 22.00 6
VI 01.00 5
Rata-rata
Catatan : terdapat sumber-sumber bahan organik dari mangrove dan muara sungai

H. Sedimen

Table 11. Hasil pengamatan komposisi sedimen (%) berdasarkan kedalaman di perairan
Tanjung Tiram pukul 08.00 Tanggal 6-7 mei 2017

kedala Kategor Titik Pengukuran


man i
I II III IV V VI VI VI IX X XI XI XI Rat
(cm) I II I II a2

Butiran- 39.85 11.8 23.1 1.97 12. 66. 18. 18. 13. 57. 25. 8.5 24.
kerikil 5 2 03 02 15 23 48 41 55 2 68
pasir 7.85 20.5 21.6 1.14 18. 11. 14. 13. 46. 12. 15. 15. 16.
kasar 3 9 72 07 85 69 42 17 25 15 54
50 Pasir 48.90 66.6 52.5 96.9 66. 22. 65. 68. 40. 29. 50. 70. 56.
halus 4 5 0 95 65 16 05 10 70 30 62 54
Lumpur 3.40 0.98 2.65 0.00 2.3 0.2 1.8 0.0 0.0 0.7 8.9 5.7 2.2
1 6 4 3 0 3 0 1 3
Butiran- 15.51 5.90 2.97 11.5 28. 43. 3.1 35. 3.5 22. 11. 5.3 15.
kerikil 6 76 69 5 98 8 87 31 2 88
pasir 34.87 29.5 2.51 20.6 44. 13. 22. 17. 32. 30. 24. 17. 24.
kasar 0 4 01 39 64 35 92 53 55 21 18
100 Pasir 44.90 64.6 93.8 67.8 24. 41. 73. 46. 63. 42. 56. 65. 57.
halus 0 6 0 29 01 19 61 50 45 24 62 01
Lumpur 4.72 0.00 0.66 0.00 2.9 1.9 1.0 0.0 0.0 4.1 7.9 11. 2.9
4 1 2 7 0 5 0 85 3
Butiran- 6.26 10.9 10.6 4.77 17. 7.0 3.3 3.0 8.4 9.4 2.5 11. 7.9
kerikil 4 1 93 1 9 2 4 3 5 24 7
pasir 42.20 51.8 28.8 37.2 57. 30. 25. 26. 84. 47. 21. 42. 41.
kasar 0 8 1 29 88 47 40 78 67 66 42 39
125 Pasir 50.00 37.2 58.1 58.0 24. 60. 71. 70. 6.7 42. 71. 46. 49.
halus 6 9 2 02 48 04 53 9 40 04 19 66
Lumpur 1.54 0.00 2.32 0.00 0.7 1.6 0.1 0.0 0.0 0.5 4.7 0.1 0.9
5 3 0 5 0 0 6 5 8

H. Topografi

Tabel 12. Hasil Pengukuran Jarak dari Garis Pantai Berdasarkan Kedalaman diperairan
pantai Tanjung Tiram Jam 08.00 Tanggal 7 Mei 2017

Jarak dari garis pantai (m)


Stasiun Ked. 25 cm Ked. 50 cm Ked. 75 cm Ked.100 cm Ked. 125
I 127,50 245,50 432,70 634,70 873,20
II 1,15 4,05 9,10 176,00 408,80
III 7,65 15,51 35,76 164,56 216,93
IV 3,62 9,65 27.59 159,85 215,52
V 11,25 19,45 34,43 152,03 198,88
VI 5,40 30,55 117,32 212,32 337,82
Catatan : Pengamatan pada saat ketinggian muka air berada pada Mean Sea Level

Gambar 4. Peta Topografi Pantai Tanjung Tiram


B. Pembahasan

1. Suhu

Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kisaran suhu 29°C-34°C. Kisaran suhu

ini termasuk dalam kategori normal, mengingat suhu dan lapisan di permukaan laut

perairan Pantai Tanjung Tiram mirip seperti diperairan Indonesia lainnya tidak banyak

bervariasi.

Suhu tertinggi di perairan Pantai Tanjung Tiram mencapai 34°C yang diukur pada pukul

12.00-13.00 WITA. .Hal ini disebabkan karena pengukuran suhu dilakukan pada siang

hari, dimana pada saat itu posisi matahari dan bumi hampir berada dalam satu garis

yang sejajar hingga pada perairan terjadi pengadukan. Sedangkan suhu terendah terjadi

pada pukul 01.00 WITA,02.00 WITA,dan 03.00 dimana suhu mencapai 29°C, hal ini

disebabkan karena adanya proses penguapan yang terjadi di perairan laut dan kurangnya

intensitas cahaya matahari yang masuk ke permukaan perairan,serta curah hujan dan

tiupan angin yang terjadi di perairan tersebut. Terjadinya fluktuasi suhu ini merupakan
faktor pengaruh dari pengukuran yang dilakukan pada waktu yang berbeda, dimana

faktor yang dominan sangat dipengaruhi oleh kondisi suatu meteorologi yaitu curah

hujan, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas cahaya atau radiasi matahari.

2. Salinitas

Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kisaran salinitas 300/%-340/%.Dari data

hasil pengukuran variasi salinitas di perairan pantai Tanjung Tiram, menunjukkan

bahwa terjadi adanya perubahan salinitas selama 24 jam. Salinitas tertinggi terjadi pada

pukul 22.00 WITA dengan pengukuran salinitas mencapai 34 ‰ hal ini disebabkan

karena pada jam 22.00 WITA cuaca sangat baik di mana langit cerah, sehingga curah

hujan sangat kecil sekali. Perubahan salinitas yang besar ini juga dipengaruhi oleh

banyaknya air yang hilang akibat dari besarnya penguapan yang terjadi pada waktu

siang hari.

Sedangkan salinitas terendah adalah 30 ‰ yang didapatkan yaitu pukul 13.00

dan 19.00, hal ini dipengaruhi oleh cuaca yang kurang baik dimana pada saat itu kondisi

langit cerah, dan laut teduh.

3. Kecerahan

Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kecerahan di perairan Pantai Pantai

Tanjung Tiram dengan kecerahan rata-rata 4,62 meter, dalam hal ini kecerahan perairan

tersebut sangat rendah. Karena disebabkan oleh kondisi cuaca cerah agak mendung serta

kekeruhan rendah sehingga intensitas cahaya matahari yang sampai ke permukaan laut

sangat sedikit. Faktor lain yang mempengaruhi adalah pengadukan di perairan yg

disebabkan oleh arus dan gelombang.


4. Pasang Surut

Dari hasil pengukuran diperoleh kisaran pasang surut yaitu 10cm-136cm. Pasang

tertinggi terjadi pada pukul 21.00 WITA dengan ketinggian mencapai 165 cm.

Sedangkan surut terendah terjadi pada pukul 22.00 WITA dengan ketinggian mencapai

10 cm. Hal ini disebabkan oleh topografi dasar laut yang landai dan posisi bumi

terhadap bulan. Karena pada saat pasang tertinggi posisi bulan berada di sebelah timur

sedangkan pada saat surut terendah bulan sudah tidak terlihat disebelah barat.

Berdasarkan hasil pengukuran yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa

tipe pasang surut di perairan pantai Tanjung Tiram termasuk tipe pasang surut campuran

condong ganda.

Beda pasang surut di perairan pantai Tanjung Tiram dipengaruhi oleh umur bulan.

Dalam sebulan variasi harian dari rentang pasang surut berubah secara sistematis

terhadap siklus bulan. Pada saat Bulan, Matahari dan Bumi berada pada garis lurus atau

pada saat terjadinya bulan purnama maka akan terjadi pasang naik maksimum, saat itu

air laut mengalami gaya tarik oleh gravitasi bulan dan matahari sekaligus .Sedangkan

saat bulan berada pada fase setengah awal dan akhir, pasang naik akan menjadi

minimum karena posisi bulan dan matahari yang terpisah 90 derajat menyebabkan gaya

gravitasi bulan dan Matahari saling meniadakan.

5. Arus

Dari hasil pengukuran kecepatan dan arah arus di perairan pantai Tanjung Tiram

diperoleh kisaran 0,0395 m/det – 0,0388 m/det. Hasil pengukuran kecepatan dan arah

arus perairan Pantai Tanjung Tiram memiliki kecepatan tiap hari dan tiap stasiun yang
berbeda-beda. Untuk kecepatan arus pukul 15.00WITA tanggal 21 Mei 2018, mencapai

kecepatan arus pada stasiun II dengan kecepatan 0,0395 m/s, dengan arah arus barat

laut, arah angin sebelah utara, dan dasar perairan landai, pasir berbatu.

Sedangkan untuk hasil pengukuran pukul 07.00 WITA, tanggal 22 2018,

mencapai kecepatan 0,0388 m/s dengan arah arus sebelah barat laut, arah angin utara,

serta dasar perairan landai, pasir berbatu didapatkan pada stasiun II.

Kecepatan Arus tersebut dapat disebabkan oleh angin dan kedalaman. Pada

kedalaman 150 cm dengan air laut mendekati pasang tertinggi, memiliki kecepatan arus

lebih besar dibandingkan pada kedalaman 125 cm dengan air laut bergerak menuju

surut.

6. Gelombang

Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kisaran panjang gelombang yaitu

5,78cm-2,92cm, dan kisaran tinggi yaitu 0,13cm-0,12cm. sedangkan kisaran periode

gelombang yang diperoleh yaitu 1,04 cm-2,92 cm.

Dari hasil pengukuran panjang, tinggi, dan periode gelombang di Perairan Pantai

Tanjung Tiram didapatkan gelombang terpanjang yaitu 5,78 cm pada stasiun II dan

terendah 1,93 cm pada stasiun IV. Gelombang tertinggi 0,15 cm pada stasiun II dan

terendah 0,11 cm pada stasiun VI. Sedangkan periode diukur dengan stopwatch

memperoleh periode terbesar 1,97 sekon pada stasiun III. Dan terendah 1,04 sekon.

Pada stasiun II. Dengan arah angin dan arah gelombang yang sama, tetapi dasar perairan

yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh lama tiupan angin pada permukaan

perairan, dan topografi. Karena pada saat pengukuran tiupan angin sangat kencang.

Faktor yang menentukan karakteristik gelombang yang dibangkitkan oleh angin, yaitu

lama angin tiupan atau durasi angin, kecepatan angin.


Gelombang di perairan Pantai Tanjung Tiram merupakan gelombang yang

terjadi karena hembusan angin dan juga pengaruh dari adanya pasang surut. Jenis

gelombang yang terjadi adalah gelombang air naik, hal ini disebabkan karena

kedalaman air kurang dari 1,19-1,50 kali panjang gelombang.

7. Topografi

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan jarak dari garis pantai perairan

tanjung tiram pada saat ketinggian muka air berada pada Mean Sea Level. Topografi

perairan pantai perairan tanjung tiram yaitu landai. Bentuk topografi perairan pantai

tanjung tiram keberadaannya dipengaruhi oleh letak dari perairannya yang berada di

wilayah penduduk serta keadaan sekitar pantai yang berbatu-batu yang dapat

mengakibatkan pengikisan secara terus menerus oleh aktivitas arus dan gelombang.

Faktor yang mempengaruhi sedimen sebagian besar dari darat yang terdiri dari

pelapukan tanah dan bebatuan,dan bahan lain yang hanyut dari daratan menuju laut.

8. Sedimen

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan tekstur sedimen di perairan pantai

tanjung tiram jam 08.00 WITA, Tanggal 22 April 2018. Berbeda-beda tiap stasiun.

Untuk sedimen pada kedalaman 50 cm didapatkan tekstur yang lebih kasar yaitu masih

berupa batu-batuan atau kerikil yang berasal dari daratan serta hasil pelapukan batuan di

sekitar pantai pada kedalaman 100 cm diperoleh sedimen yang agak halus yaitu berupa

batu-batuan kecil dan pasir kasar, dan pada kedalaman 125 cm diperoleh sedimen yang

lebih halus yaitu berupa pasir dan lumpur. Hal ini disebabkan oleh dasar perairan ,

iklim, topografi, gelombang dan arah angin yang berbeda. Faktor-faktor yang

mempengaruhi terbentuknya sedimen adalah iklim, topografi, vegetasi, gelombang,

sedangkan yang mempengaruhi pengangkutan sedimen adalah air dan angin.


KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari laporan ini yaitu:

1. - Suhu perairan di Pantai Tanjung Tiram berfluktuasi dari 29°C- 34°C. Hasil ini di
sebabkan oleh lamanya penyinaran matahari dan proses penguapan di perairan.
Untuk mengetahui fluktuasi suhu perairan dapat digunakan alat yang bernama
thermometer.

2. - Salinitas perairan pantai Tanjung Tiram berfluktuasi dari 30‰ - 34‰ hal ini
disebabkan oleh adanya penguapan. Untuk mengukur salinitas digunakan
refraktometer.

3. - Kecerahan perairan dipantai Tanjung Tiram adalah 4,58 meter, Hal ini disebabkan
oleh tidak adanya padatan tersuspensi diperairan. Untuk mengukur kecerahan
digunakan secchi disk. Cara penggunaan alat ini harus butuh ketelitian yang
cermat.

4. - Tipe pasut diperairan pantai Tanjung Tiram adalah semi diurnal atau dua kali

pasang dan dua kali surut. Beda pasang surut di pantai Tanjung Tiram

dipengaruhi oleh umur bulan.

5. - Kecepatan dan arah arus di perairan Pantai Tanjung Tiram berfluktuasi dari 0,0395
m/s, Hal ini disebabkan oleh dasar perairan Pantai Tanjung Tiram curam dan
landai.
6. -Karakteristik gelombang di perairan Pantai Tanjung Tiram adalah sedang
rendah, Hal ini disebabkan oleh angin dan bentuk topografi pantai Tanjung Tiram
cenderung landai.
7. - Bentuk topografi perairan Pantai Tanjung Tiram adalah landai dan curam dan
mempunyai hubungan yang sangat erat dengan keadaan sedimen di perairan
Pantai Tanjung Tiram.

B. Saran

Saran pada praktikum lapang pengantar oseanografi ini adalah semua praktikan

harus melakukan kegiatan pengukuran karena dengan begitu mahasiswa dapat

mengetahui prosedur-prosedur kerja kegiatan di lapangan terutama mengetahui aspek-

aspek oseanografi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

DAFTAR PUSTAKA

Dwi A.Siswanto .2011. Kajian Sebaran Substrat Sedimen Permukaan Dasar di Perairan
Pantai Kabupaten Bangkalan. Universitas Trunojoyo Madura. (8) 1.
Dwi A.Siswanto . 2014. Studi Parameter Oseanografi di Perairan Selat Madura
Kabupaten Bangkalan. Volume (7) 1. Universitas Trunojoyo Madura.
Furqon M.A .2006. Gerak Air di Laut.volume (XXXI) : 4 Tahun 2006 : 9-21
Kusumah hadi.2008.Variabilitas Suhu dan Salinitas di Perairan Cisadane. Volume (12)
2 : 82-88. LIPI. Jakarta.
Nugroho D.Sugianto,Agus ADS. Studi Pola Sirkulasi Arus Laut di Perairan Pantai
Provinsi Sumatera Barat. Volume (12) 2 : 79-92. Universitas Dipenogoro.
Pariwono.I.John . 1999. Kondisi Oseanografi Perairan Pesisir Lampung. (99) 12-1
Pujiastuti peni, Bagus Ismail, Pranoto.Kualitas dan Beban Pencemaran Perairan Waduk
Gajah Mungkur. Universitas Setia Budi.
Rasyid.A.J. 2010.Distibusi Suhu Permukaan Pada Musim Peralihan Barat Timur Terkait
dengan FISHING GROUND Ikan Pelagis Kecil di Perairan Spermonde.
Volume (20) 1 :1-7.
Wikipedia. 2009. Oseanografi.