Anda di halaman 1dari 14

Resusitasi Cairan pada Luka Bakar

Luka bakar adalah trauma yang terjadi dikulit dan atau jaringan sekitarnya yang bisa
disebabkan oleh panas, radiasi, kimia, atau sengatan listrik. Luka bakar dibedakan menurut
kedalamannya (derajat 1, superficial, parsial tipis, sangat dalam) dan persentase area total tubuh
yang terkena (BSA). Dukungan infus intravena diberikan saat terjadi syok atau pada luas luka
bakar dengan BSA > 10%. Pilihlah kanula infus no:14-16 dan pasanglah pada satu atau dua sisi
dibagian kulit yang tidak terpapar oleh luka bakar. Pilihlah pada bagian dengan risiko flebitis
yang rendah. Resusitasi cairan juga pasti sangat dibutuhkan pada pasien dengan luka bakar yang
sangat luas (BSA > 20%) (1).

Dan perkirakan volume cairan yang hilang dalam 24 jam pertama segera setelah terjadi trauma
(bukan saat pasien masuk rumah sakit) (2).

(A) Rule of nines (Dewasa) and (B) Lund-Browder chart (Anak) untuk estimasi luas luka
bakar

(digambar ulang oleh: Artz CP, JA Moncrief: The Treatment of Burns, ed. 2. Philadelphia, WB
Saunders Company, 1969; used with permission.)

Hal-hal penting sehubungan dengan resusitasi pada Luka bakar :


1. Tujuan utama resusitasi pada luka bakar adalah tercukupi kebutuhan air tubuh untuk
mempertahankan fungsi organ dan mencegah komplikasi karena resusitasi yang
berlebihan (2).
2. Resusitasi pada luka bakar adalah seni keseimbangan, disatu sisi mengisi defisit air
intravaskuler dan disisi yang lain adalah mencegah potensi kelebihan air, yang biasanya
dijumpai suatu udem pulmonal, peningkatan tekanan vena sentral dan sindroma
kompartemen, walau terjadi di area yang tidak terkena luka bakar (3).
3. Ditemukan perbedaan signifikan volume air resusitasi yang diberikan kelompok pasien
usia muda cenderung diberikan jauh lebih banyak setiap persen luka bakarnya. Hal ini
ternyata juga terjadi pada kelompok pasien dengan usia tua bila dibandingkan pasien
usia 15–44 tahun (4).
4. Resusitasi yang berlebihan pada luka bakar yang sangat luas akan sangat berhubungan
dengan mudahnya terjadi reaksi adverse pada pasien. Dan ini ditemukan pada pasien
luka bakar luas (mayor) yang dihitung kebutuhan air resusitasinya menggunakan
formula Parkland. Walaupun banyak kejadian reaksi adverse, angka kematiannya masih
cukup rendah (5).
5. Suatu studi multi senter baru-baru ini juga menyatakan adanya peningkatan angka
kematian dan kejadian pneumonia bila pasien diberikan resusitasi cairan > 5 mL/kg/%
TBSA (6).
6. Penggunaan ASERING® ** pada luka bakar :

(d) ASERING® adalah infus resusitasi yang lazim digunakan saat kehilangan darah pada trauma,
pembedahan atau saat luka bakar (7) .
®
(e) ASERING biasa digunakan pada resusitasi untuk syok hemoragik tanpa risiko peningkatan
asidosis laktat (8) .
®
(f) ASERING dan RL terbukti bisa menjaga “survival rate” pada kasus luka bakar berat (guinea
pig) dibanding Normal salin (100% & 87%), tapi setelah 24 jam efek ASERING ® terbukti jauh
lebih baik dibanding RL, dalam hal (9)(10):
 Meminimize risiko asidosis laktat
 Kecepatan berubah menjadi bikarbonat (2.5 – 4 kali lebih cepat)
 Memiliki efek sebagai bahan bakar sel jantung

** ASERING® adalah infus acetated ringer’s orisinil yang pertama dipasarkan di Indonesia, oleh PT.
Otsuka Indonesia (Perusahan farmasi Internasional yang berbasis di Jepang)

Formula Parkland dibandingkan dengan volume cairan yang lebih sedikit (11)

Jumlah cairan kristaloid berdasarkan Formula Parkland adalah 4 ml/kg/% luka bakar
dalam 24 jam, di mana separuhnya diberikan dalam 8 jam pertama.
Dampak dari resusitasi volume dengan lebih sedikit cairan terhadap difungsi organ ganda
setelah luka bakar berat dinilai. Pendekatan ini diacu sebagai “permissive hypovolaemia”.

Metode

Dua kelompok pasien luka bakar >20% BSA tanpa trauma penyerta dan masuk ICU dalam 6 jam
pertama dibandingkan. Pasien memiliki usia dan keparahan sebanding. Skor multiple-organ
dysfunction score (MODS) Marshall dihitung 10 hari setelah masuk ICU. Hipovolemia permisif
diberikan dengan pendekatan berorientasi hemodinamik sepanjang 24 jam pertama. Variabel
hemodinamik, laktat darah arteri dan imbang cairan bersih diambil dalam 48 jam pertama.
Hasil

Dua puluh empat pasien direkrut: dua belas diantaranya menerima Formula Parkland sedang
dua belas lagi diresusitasi menurut pendekatan permissive hypovolaemic. Permissive
hypovolaemia memungkinkan volume infus lebih sedikit (3.2 ± 0.7 ml/kg/% luka bakar versus 4.6
± 0.3 ml/kg/% luka bakar; P < 0.001), imbang cairan positif lebih kecil (+7.5 ± 5.4 l/hari versus +12 ±
4.7 l/hari; P < 0.05) dan skor MODS lebih ringan (P = 0.003) dibandingkan Formula Parkland.
Variabel hemodinamik maupun kadar laktat darah arteri sebanding pada kedua kelompok
pasien sepanjang periode resusitasi.

Kesimpulan

Permissive hypovolaemia tampaknya aman dan ditoleransi baik oleh pasien luka bakar. Lebih
dari itu, pendekatan ini agaknya efektif mengurangi disfungsi organ ganda yang diinduksi oleh
akumulasi cairan edema dan utilisasi O2 jaringan yang tidak adekuat.

Referensi:

1. Wolf E, Steven MD; Burn: Last full review, revision March 2009;
http://www.merck.com/mmpe/sec21/ch315/ch315a.html#S21_CH315_F00.
2. Oliver, Robert I Jr; Resuscitation and Early Management; Clinical Faculty, Burns;
Division of Plastic Surgery, University of Alabama at Birmingham; Clinical Faculty,
Surgical Residency Program, Baptist Health Systems; Updated: Jun 19, 2009
3. Fodor, Luciana; Fodor, Adriana, et all; Controversies in fluid resuscitation for burn
management: Literature review and our experience; Department of Plastic and
Reconstructive Surgery, Rambam Medical Centre & Bruce Rapaport Faculty of Medicine,
Ha’Aliya St. 8, Haifa 31096, Israel; Injury, Int. J. Care Injured (2006) 37, 374—379;
www.elsevier.com/locate/injury
4. Daher S, Piccolo, et al; Acute burn intravenous resuscitation: Are we giving too much
volume to our patients?; Pronto Socorro para Queimaduras, Goiaˆnia, Goia´ s, Brazil;
silviapd@gmail.com
5. Dulhunty, JM, et all; Increased fluid resuscitation can lead to adverse outcomes in major-
burn injured patients, but low mortality is achievable; Department of Intensive Care
Medicine, Royal Brisbane and Women’s Hospital, Butterfield Street, Herston, QLD 4029,
Australia. journal homepage: www.elsevier.com/locate/burns
6. Klein MB, Hayden D, Elson C, Nathens AB, Gamelli RL, Gibran NS, et al. The association
between fluid administration and outcome following major burn: a multicenter study.
Ann Surg 2007;245:622–8
7. www.medic8.com © Medic8 ® All Rights Reserved
8. Kveim M, et al. Utilization of exogenous acetate during canine hemorrhagic shock. Scand
J Clin Lab Invest 1979; 39 : 653 - 8.
9. Conahan ST, et al. Resuscitation Fluid Composition and Myaocardial Performance during
Burn Shock. Circ Shock 1987; 23(1): 37-49.
10. Osuka Pharmaceuticals. Ringer Acetate Solution in Clinical Practice. MediMedia Com; 1-
5, 1999.
11. S. Arlati, E. Storti, V. Pradella, L. Bucci, A. Vitolo, M. Pulici. Decreased fluid volume to
reduce organ damage: A new approach to burn shock resuscitation? A preliminary study
Resuscitation, Volume 72, Issue 3, March 2007, Pages 371-378

JENIS-JENIS CAIRAN INFUS

ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam
berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:

Na 130 mEq

K 4 mEq

Cl 109 mEq

Ca 3 mEq

Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:

Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang
mengalami gangguan hati

Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik
dibanding RL pada neonatus

Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada
anestesi dengan isofluran

Mempunyai efek vasodilator

Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml


RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko
memperburuk edema serebral

KA-EN 1B
Indikasi:

Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus
emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)

< 24 jam pasca operasi

Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500
ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak

Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam
KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:

Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan
oral terbatas

Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A

Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

KA-EN MG3
Indikasi :

Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan
kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas

Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

Mensuplai kalium 20 mEq/L

Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

KA-EN 4A
Indikasi :

 Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak

 Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar
konsentrasi kalium serum normal

 Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):

Na 30 mEq/L

K 0 mEq/L

Cl 20 mEq/L

Laktat 10 mEq/L

Glukosa 40 gr/L
KA-EN 4B
Indikasi:

 Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun

 Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia

 Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:

Na 30 mEq/L

K 8 mEq/L

Cl 28 mEq/L

Laktat 10 mEq/L

Glukosa 37,5 gr/L

Otsu-NS
Indikasi:

Untuk resusitasi

Kehilangan Na > Cl, misal diare

Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi


adrenokortikal, luka bakar)

Otsu-RL
Indikasi:

 Resusitasi

 Suplai ion bikarbonat

 Asidosis metabolik

MARTOS-10
Indikasi:

Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik


Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi
berat, stres berat dan defisiensi protein

Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

Mengandung 400 kcal/L

AMIPAREN
Indikasi:

Stres metabolik berat

Luka bakar

Infeksi berat

Kwasiokor

Pasca operasi

Total Parenteral Nutrition

Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

AMINOVEL-600
Indikasi:

* Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI

* Penderita GI yang dipuasakan

* Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)

* Stres metabolik sedang

* Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

PAN-AMIN G
Indikasi:

* Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan


* Nitrisi dini pasca operasi

 Tifoid

PENDAHULUAN

Air merupakan unsur vital untuk makhluk hidup. Kira-kira 55-60% dari berat badan
orang dewasa terdiri atas air, dan pada bayi dan anak total air tubuh lebih tinggi lagi yakni 80%
pada bayi baru lahir dan 70% pada anak. Jadi mudah dipahami bahwa gangguan keseimbangan
air akan sangat mempengaruhi kondisi tubuh. Air tubuh yang sebanyak 60% ini, tersebar di tiga
kompartemen cairan tubuh yakni:
· Intraselular ( di dalam sel)
· Interstisial (antar sel)
· Intravaskular (di dalam pembuluh darah)
Cairan intravascular dan cairan interstisial keduanya disebut juga cairan ekstraseluler.
Dalam keadaan sehat, tubuh memiliki mekanisme keseimbangan atau homeostasis yang
mengatur asupan dan pengeluaran air. Sebagai contoh, jika kita kurang minum air maka
produksi air kemih akan berkurang untuk menjaga kadar air tubuh dalam batas-batas normal.
Juga, jika tubuh kekurangan air setelah olah raga maka kita akan merasa haus dan minum. Ini
adalah mekanisme kompensasi tubuh.
Pada keadaan-keadaan di mana asupan air sangat berkurang sekali atau kehilangan air
sangat berlebihan atau cepat, tubuh tidak bisa melakukan kompensasi dengan adekuat, sehingga
seseorang jatuh dalam keadaan yang dinamakan dehidrasi.
Dehidrasi bisa terjadi akut dan kronis sesuai dengan penyebabnya. Pada diare berat dan
muntaber, bisa terjadi dehidrasi akut yang berat yang mengancam jiwa, karena banyak
kehilangan air dari kompartemen ekstraseluler. Sebaliknya pada pasien yang sakit dan dirawat
inap karena diare kronis, asupan minum yang kurang atau ada demam tinggi, terdapat
kekurangan air juga di kompartemen intraseluler. Biasanya dehidrasi tidak seberat pada diare,
dan jenis cairan yang diberikan untuk mengatasi kedua jenis dehidrasi inipun berbeda. Di
samping kekurangan air dan elektrolit, beberapa pasien rawat-inap dengan asupan makan yang
kurang juga mengalami kekurangan zat gizi, sehingga tidak jarang kita lihat bahwa pasien
diberikan infus yang mengandung asam amino dan karbohidrat untuk dukungan nutrisi.
Khusus untuk Indonesia, dimana insiden demam berdarah dan diare yang tinggi dan
semakin banyak penduduk yang terancam dari tahun ke tahun, pemahaman tentang produk
infus dan terapi cairan tentunya sangat penting.

APA ITU TERAPI CAIRAN

Terapi cairan adalah suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat
gizi kepada pasien-pasien yang mengalami dehidrasi dan tidak bisa dipenuhi oleh asupan oral
biasa melalui minum atau makanan. Pada pasien-pasien yang mengalami syok karena
perdarahan juga membutuhkan terapi cairan untuk menyelamatkan jiwanya. Untuk dehidrasi
ringan, umumnya digunakan terapi cairan oral (lewat mulut). Sedangkan pada dehidrasi sedang
sampai berat, atau asupan oral tidak memungkinkan, misal jika ada muntah-muntah atau pasien
tidak sadar, biasanya diberikan cairan melaui infus.
Terapi cairan melalui infus dikerjakan mulai dari Rumah Sakit yang paling canggih
sampai kunjungan rumah (home visit) yang diberikan oleh Paramedis s/d Dokter ahli . Ini
merupakan bagian manajemen pasien dan salah satu tindakan yang paling banyak dilakukan
untuk “menolong” pasien.

Tujuannya bermacam-macam mulai dari yang samar sampai yang paling tegas

1. IV line : Berjaga-jaga, jalan obat.


2. Resusitasi
3. Pemberian elektrolit rumatan
4. Parenteral feeding

IV line sering disebut juga infus jaga, artinya diberikan sebagai jalan masuk obat suntik
ke dalam pembuluh darah balik (catatan i.v artinya intravena atau di dalam pembuluh darah
balik). Pada infus jaga, pasien umumnya masih bisa mendapat air cukup dari minum, jadi jumlah
cairan yang diperlukan tidak banyak, misal hanya 500 ml per hari atau kurang.

Terapi cairan resusitasi adalah pemberian cairan untuk menyelamatkan jiwa pasien
yang mengalami syok karena dehidrasi akut dan berat atau perdarahan. Di sini cairan infus
diberikan dengan cepat dan dalam jumlah cairan yang besar sesuai dengan derajat dehidrasi atau
perdarahan yang terjadi.

Terapi cairan rumatan bertujuan mengganti kehilangan air normal harian pada pasien
rawat inap. Seringkali pasien rawat-inap karena kondisi sakitnya tidak bisa mengkonsumsi air
dan elektrolit dalam jumlah cukup melalui minum, sehingga memerlukan dukungan infuse
untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar tidak jatuh dalam gangguan keseimbangan air dan
elektrolit yang bisa mengancam jiwa. Jenis dan jumlah dan kecepatan cairan rumatan yang
diberikan kepada pasien berbeda dengan cairan resusitasi.

Terakhir adalah Parenteral feeding atau nutrisi parenteral. Parenteral artinya pemberian
selain melalui enteral. Dengan kata lain, nutrisi parenteral adalah pemberian infus zat gizi (bisa
asam amino, karbohidrat dan lipid) ke dalam pembuluh balik atau vena. Nutrisi parenteral ini
diberikan pada pasien yang kekurangan gizi atau asupan gizi melalui oral diperkirakan akan
terhambat oleh kondisi penyakit pasien.

JENIS CAIRAN INFUS

Sekarang tersedia banyak sekali jenis cairan dipasaran. Kondisi orang sakit
membutuhkan cairan yang berbeda sesuai dengan penyakitnya. Cairan sebagai terapi
seharusnyalah tepat sehingga dicapai efek yang optimal. Pemberian cairan yang salah bisa
memperberat penyakit pasien. Rancangan cairan disesuaikan dengan kondisi patologis.

FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERHATIKAN DALAM PEMBERIAN TERAPI CAIRAN


INTRAVENA

Faktor Pasien
Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien, status hidrasi dan
hemodinamik, pasien dengan komplikasi penyakit tertentu, dan kekuatan jantung. Kesemua
faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter.

Faktor Cairan
1. Kandungan elektrolit cairan
Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na +, K+, Cl-, Ca++, laktat
atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus, yang diperhitungkan bukan hanya air
melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas atau terlalu banyak.
Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah
penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing.

2. Osmolaritas cairan
Yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam
kandungan infus. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang
dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis
(peradangan vena)
Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena
sentral.

3. Kandungan lain cairan


Seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit beberapa produk infus juga
mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel, antara lain: glukosa,
maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino, trigliserida.
Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg ++, Zn++
dan trace element lainnya.

4. Sterilitas cairan infus.


Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril,
bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain. Pada
sterilisasi cairan intravena yang menggunakan metoda sterilisasi uap panas, ada dua
pendekatan yang banyak digunakan, yaitu overkill dan non-overkill (bioburden-based).

a. Overkil l: Pendekatan Overkill dilakukan untuk membunuh semua mikroba,


dengan prosedur sterilisasi akhir pada suhu tinggi yaitu 121 oC selama 15 menit.
Metoda ini sudah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Dengan cara ini, hanya
cairan infus yang mengandung elektrolit tidak akan mengalami perubahan. Namun
cara ini sangat berisiko dilakukan pada cairan infus yang mengandung nutrisi
seperti karbohidrat dan asam amino karena bisa jadi nutrisi tersebut pecah dan
pecahannya menjadi racun. Misalnya saja larutan glukosa konsentrasi tinggi. Pada
pemanasan tinggi, cairan ini akan menghasilkan produk dekomposisi yang
dinamakan 5-HMF atau 5-Hidroksimetil furfural yang pada kadar tertentu
berpotensi menimbulkan gangguan hati. Selain suhu sterilisasi yang terlalu tinggi,
lama penyimpanan juga berbanding lurus dengan peningkatan kadar 5-HMF ini.

b. Non-overkill (bioburden-based) : sesuai dengan perkembangan kedokteran yang


membutuhkan jenis cairan yang lebih beragam contohnya cairan infus yang
mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino serta obat-obatan yang
berasal dari bioteknologi, maka berkembang juga teknologi sterilisasi yang lebih
mutakhir yaitu metoda Non-Overkill atau disebut juga Bioburden, dimana pemanasan
akhir yang digunakan tidak lagi harus mencapai 121 derajat, sehingga produk-
produk yang dihasilkan dengan metoda ini selain dijamin steril, bebas pirogen,
bebas partikel namun kandungannya tetap stabil serta tidak terurai yang diakibatkan
pemanasan yang terlampau tinggi. Dengan demikian infus tetap bermanfaat dan
aman untuk diberikan.

Cairan infus yang dihasilkan oleh Otsuka Jepang termasuk PT Otsuka Indonesia
mempergunakan pendekatan metoda Bioburden melalui proses dan teknologi sebagai berikut :
A. Bahan baku (Material)

1. Penyediaan air demineralisata (deionized water), dengan system Reverse Osmosis yang
memenuhi syarat, dan penyediaan air untuk injeksi (water for injection) melalui unit distilasi
bertahap (multi stage distillation unit) pada suhu 121-140 oC yg bebas pirogen.

2. Bahan baku dengan beban mikroba dan endotoksin (pirogen) tidak melebihi batas yang
dipersyaratkan;

B. Proses (Metode).

1. Proses produksi dengan semua komponen produk dan peralatan yang berhubungan langsung
dengan bahan dilakukan secara otomatis.

2. Design dan kebersihan ruang produksi memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan dipantau
secara berkala

3. Pembersihan dan sanitasi peralatan serta fasilitas produksi yang tervalidasi dan terkendali.

4. Penggunaan filter khusus untuk menjamin larutan bebas pirogen dan filter berukuran 0.22
mikron untuk menghilangkan kontaminasi mikroba dan partikel pada tahap pengolahan larutan
infus sebelum proses pengisian kedalam botol. (Catatan, pirogen tidak akan hilang hanya
dengan pemanasan 121 oC, dengan demikian pemanasan dengan suhu 121oC tidak memjamin
bebas pirogen jika tidak difiltrasi)

5. Pembuatan botol, dengan sistem blow moulding pada suhu 1850 C dan pengisian larutan
di bawah Laminar Air Flow.

6. Proses sterilisasi akhir dari kemasan dan isi di otoklaf pada suhu yang optimal sehingga tidak
merusak zat-zat yang rentan seperti dekstrosa, asam amino, albumin dll

7. Pengendalian kualitas (quality control) yang ketat melalui pengujian secara kimia, fisika,
mikrobiologi untuk memastikan kualitas larutan dan kemasan produk sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan

C. SDM ( Sumber Daya Manusia)

Pelatihan SDM penerapan higiene perorangan untuk pengelolaan


produk steril dan pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala.

Pendekatan bioburden umumnya lebih sesuai untuk produk infus dan telah digunakan secara luas
di berbagai negara Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.
Dari ulasan persyaratan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan yang baik dalam terapi
cairan, diperlukan teknologi dan pengalaman yang handal baik dari segi petugas kesehatan
(dokter dan paramedik) dan produsen produk infus.

PT Otsuka Indonesia adalah perusahaan farmasi multinasional Jepang yang didirikan pada
tahun 1975, dengan pabrik seluas 40.000 M2 berlokasi di Lawang-Malang, Jawa Timur.
PT Otsuka Indonesia memiliki visi “Menjadi perusahaan yang paling unggul dalam
sumbangsihnya untuk meningkatkan kesehatan umat manusia”.

Selama lebih dari 30 tahun, PT Otsuka Indonesia telah memproduksi ratusan juta botol infus dan
telah digunakan untuk menyelamatkan jutaan jiwa manusia. Bahkan produksi infusnya telah
diekspor ke berbagai negara di Asia Pacific.
Hingga saat ini Otsuka Jepang merupakan produsen infus terbesar di Asia, dimana pabriknya
telah tersebar dibeberapa negara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Pakistan, China dan
Taiwan.

Referensi:

1. JP XV 2006
2. Sterile Dosage Forms 2nd Edition – Salvatore Turco & Robert E King, halaman 37
3. Validation of Aseptic Pharmaceutical Processes – F.J. Carleton and J.P. Agalloco halaman 266
4. USP XXX 2007 hal 669-676
5. Milala AS, Marchaban,Martono S. Optimasi Pembuatan Sediaan Infus Dekstrosa yang
disterilkan pada suhu 115 oC. Artocarpus Media Pharmaceutica Indonesiana Vol 5 No 1 Maret
2005. Hal 1-10
6. PDA Journal of Pharmaceutical Science and Technology, Draft 18, Technical Monograph No 1,
2006 Revision