Anda di halaman 1dari 31

Case Report Session

Epistaksis

Oleh:
Kharisma Putra D 1210312049
M Bintang Ilhami 1210313055

PRESEPTOR:
dr. Ade Asyari, SpTHT-KL(K)

BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M. DJAMILPADANG
2018
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Definisi

Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung yang merupakan gejala atau

manifestasi penyakit lain, penyebabnya bisa lokal atau sistemik. Perdarahan bisa

ringan sampai serius dan bila tidak segera ditolong dapat berakibat fatal. Sumber

perdarahan biasanya berasal dari bagian depan atau bagian belakang hidung.2

1.2 Epidemiologi

Epistaksis atau perdarahan hidung dilaporkan timbul pada 60% populasi

umum. Prevalensi meningkat pada anak-anak kurang dari 10 tahun dan kemudian

naik lagi setelah usia 35 tahun. Umumnya, laki-laki yang sedikit terkena

dibanding wanita sampai usia 50 tahun, tapi setelah 50 tahun tidak ada perbedaan

yang signifikan seperti data yang telah dilaporkan.2

1.3 Tinjauan Anatomi Hidung

Kerangka hidung

Kerangka hidung berbentuk seperti tenda dengan dua os nasale yang bersatu, satu

sama yng lain dalam garis tengah dan berartikulasio disuperior dengan pars

nasalis os frontalis dan processus “ ascending’’ maxilla di lateral. Hanya

sepertiga superior hidung merupakan tulang.dua pertiga bawah hidung merupakan

kartilago nasi lateralis atas dan bawah.septum membagi hidung kedalam dua
ruangan disebut vestibulum. Seperti sisi lateral hidung, septum terdiri dari

kartilago di anterior dan tulang di posterior.1

Hidung Interna

Lubang luar yang menuju ke sisi dalam hidung dinamai nares, sementara lubang

posterior dari hidung ke nasopharink dinamai choana. Tepat setelah nares,

terdapat area kulit yang dinamai vestibulum dan berlapis mengandung bulu

hidung atau vibrase. Ia penting secara klinik karena folikel rambut ini dapat
4
terinfeksi.

Permukaan medial tiap ruang lingkup dibentuk oleh septum nasi. Sering septum
4
berdeviasi, yang menyebabkan onstruksi saluran pernafasan nasal.

Gambar 1. Dinding Lateral Kavum Nasi


Anatomi Vaskuler

Gambar 1. Anatomi vaskular yang memperdarahi septum nasal.

Vaskularisasi
4
Vaskularitas berasal dari system carotis interna dan eksterna. Arteri carotis

interna bercabang menjadi arteri oftalmika yang kemudian bercabang lagi menjadi

arteri etmoidalis anterior dan posterior. Cabang etmoidalis anterior dan posterior

menyuplai sinus palatina mayor menyuplai sinus frontalis dan etmoidalis serta

atap

hidung. Sedangkan arteri stenopalatina dan arteri palatina mayor merupakan

cabang terminal dari arteri karotis eksterna yang menyuplai darah pada concha,

meatus dan septum nasalis. Semua pembuluh darah hidung saling berhubungan

melalui anastomosis. Suatu pleksus vaskuler disepanjang bagian anterior septum

kartilaginosa menggabungkan anastomosis ini dan dikenal sebagai Little Area


atau Pleksus Kiesselbech. Karena ciri vaskularnya dan kenyataan bahwa daerah

ini merupakan subjek trauma fisik dan lingkungan berulang maka merupakan
4
lokasi epistaksis tersaring .

1.4 Klasifikasi

Epistaksis dibedakan atas dasar sumber pendarahan atau tempat

pendarahan. Sumber perdarahan dapat berasal dari bagian anterior atau bagian
2
posterior hidung.

 Epistaksis Anterior

Dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach, merupakan sumber perdarahan paling

sering dijumpai pada anak-anak. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan

dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.

 Epistaksis Posterior

Berasal dari arteri sphenopalatina dan dari arteri etmoid posterior. Perdarahan

cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat menyebabkan

anemia, hipovolemi dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan kelainan

kardiovaskuler.1

Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya. Pasien kontinu
4
mengeluh darah dibelakang tenggorokkannya.
Gambar 3. Epistaksis anterior (atas) dan Epistaksis posterior (bawah)

1.5 Etiologi

Seringkali epitaksis timbul spontan tanpa diketahui

penyebabnya,terkadang jelas disebabkan karena trauma. Epitaksis dapat

disebabkan oleh kelainan lokal pada hidung atau kelainan sistemik. Kelainan lokal

misalnya : trauma, kelainan anatomi, kelainan pembuluh darah, infeksi lokal,

benda asing, tumor dan pengaruh udara lingkungan.2 Perdarahan hidung diawali

dengan pecahnya pembuluh darah di selaput mukosa hidung. Delapan puluh

persen perdarahan berasal dari pembuluh darah pleksus Kiesselbach.

Sumber perdarahan epistaksis dapat berasal dari bagian anterior dan

superior. Epistaksis anterior dapat berasal dari pleksus Kiesselbach atau dari arteri

etmoid anterior. Pleksus Kiesselbach menjadi sumber perdarahan yang paling

sering pada epistaksis terutama pada anak-anak, dan biasanya dapat nerhenti
sendiri (secara spontan) dan mudah diatasi. Epistaksis posterior dapat berasal

arteri sfenopalatina dan arteri etmoid posterior. Perdarahannya biasanya hebat dan

jarang berhenti dengan sendirinya. Sering ditemukan pada pasien dengan

hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit kardiovaskuler.

Perdarahan ini disebabkan oleh pecahnya arteri sfenopalatina.2

Secara umum epistaksis dapat disebabkan oleh sebab-sebab lokal seperti

trauma, infeksi, neoplasma, kelainan kongenital dan bisa juga disebabkan oleh

keadaan umum atau kelainan sistemik seperti penyakit kardiovaskuler, kelainan

darah, infeksi, perubahan tekanan atmosfir dan gangguan endokrin .2

1. Lokal

a. Trauma

Epistaksis yang berhubungan dengan trauma biasanya karena

mengeluarkan sekret dengan kuat, bersin, mengorek hidung, atau trauma seperti

terpukul. Selain itu iritasi oleh gas yang merangsang dan trauma pada

pembedahan bisa juga menyebabkan epistaksis.

b. Infeksi

Infeksi hidung dan sinus paranasal, rhinitis, sinusitis, serta granuloma

spesifik seperti sifilis, lepra, dan lupus dapat menyebabkan epistaksis.

c. Neoplasma
Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan

intermiten, kadang-kadang disertai mukus yang bernoda darah. Hemangioma,

karsinoma,dan angiofibroma dapat menyebabkan epistaksis berat.

d. Kelainan kongenital

Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis adalah

teleangiektasis hemoragik herediter (hereditary hemorrhagic teleangiectasis

Osler’s Disease). Pasien ini juga menderita teleangiektasis di tangan, wajah, atau

bahkan di traktus gastrointestinal atau di pembuluh darah paru.

e. Sebab – sebab lain termasuk benda asing dan perforasi septum

Perforasi septum dan benda asing hidung dapat menjadi predisposisi

perdarahan hidung. Bagian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau

perforasi akan terpapar aliran udara pernafasan yang cenderung mengerikan aliran

sekresi hidung . Pembentukan krusta yang keras dan usaha pelepasan krusta

dengan jari dapat menimbulkan trauma. Pengeluaran krusta berulang

menyebabkan erosi membran mukosa septum yang menyebabkan perdarahan.

f. Faktor lingkungan

Misalnya tinggal didaerah tinggi, tekanan udara rendah atau lingkungan

udaranya sangat kering

2. Sistemik

a. Kelainan darah
Kelainan darah penyebab epistaksis, misalnya trombositopenia, hemofilia

dan leukemia.2 Obat-obatan seperti terapi antikoagulan, aspirin dan fenilbutazon

dapat pula mempredisposisi epistaksis berulang.1

b. Penyakit kardiovaskular

Hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti pada arteriosklerosis,

nefritis kronis, sirosis hepatis, sifilis, diabetes melitus dapat menyebabkan

epistaksis. Epistaksis akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan

prognosinya kurang baik.

c. Infeksi sistemik

Yang paling sering menyebabkan epistaksis adalah demam berdarah

dengue, selain itu juga morbili, demam tifoid dan influensa dapat juga disertai

adanya epistaksis.

d. Gangguan endokrin

Wanita hamil, menarche dan menopause sering juga dapat menimbulkan

epistaksis.

e. Perubahan tekanan atmosfir

Sering terjadi bila seseorang berada ditempat yang cuacanya sangat dingin

atau kering

1.6 Gambaran Klinis dan Pemeriksaan

Anamnesis yang lengkap sangat membantu dalam menentukan sebab-

sebab perdarahan. Keadaan umum, tensi dan nadi perlu diperiksa. Dan untuk

pemeriksaan alat-alat yang diperlukan adalah lampu kepala, spekulum hidung dan

alat penghisap. Kadang-kadang diperlukan pemeriksaan penunjang laboratorium


2
yaitu pemeriksaan darah lengkap dan fungsi hemostatis.
a. Anamnesis

Kebanyakan kasus epistaksis timbul sekunder trauma yang disebabkan

oleh mengorek hidung menahun atau mengorek krusta yang telah terbentuk akibat

pengeringan mukosa hidung berlebihan. Penting mendapatkan riwayat trauma


5
terperinci.

Riwayat pengobatan atau penyalahgunaan alkohol terperinci harus dicari.

Banyak pasien minum aspirin secara teratur untuk banyak alasan. Aspirin

merupakan penghambat fungsi trombosit dan dapat menyebabkan pemanjangan

atau perdarahan. Penting mengenal bahwa efek ini berlangsung beberapa waktu

dan bahwa aspirin ditemukan sebagai komponen dalam sangat banyak produk.

Alkohol merupakan senyawa lain yang banyak digunakan, yang mengubah fungsi
5
pembekuan secara bermakna.

Aspek anamnesis yang mungkin penting dalam melokalisasi tempat


5
perdarahan bisa didapat dengan menanyakan :

1. Sewaktu anda membungkuk apakah ada darah yang keluar dari hidung?

(menggambarkan sumber perdarahan anterior)

2. Apakah darah menuruni tenggorokan anda? (menggambarkan perdarahan dari

sisi posterior cavitas nasalis)

b. Pemeriksaan Fisik

Pertama hidung harus dibersihkan dari bekuan darah atau debris dengan

alat penghisap. Kedua harus dioleskan senyawa vasokonstriktif seperti efedrin

atau kokain 5% yang akan mengerutkan mukosa hidung sehingga memberikan


5
evaluasi yang lebih baik dan bahkan menghentikan perdarahan sementara waktu.
Pemeriksaan harus dilakukan dalam cara teratur dari anterior ke posterior.

Vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan concha

inferior harus diperiksa cermat. Pemeriksaan hidung tidak lengkap jika tidak

dilakukan nasofaringoskop tak langsung. Pemeriksaan rinoskopi posterior kadang-


5
kadang akan memperlihatkan sumber epistaksis posterior.

Jika tempat perdarahan dikenali, ia harus didokumentasi dalam rekam

medis dengan gambar sederhana. Bila mungkin, kemudian dokter seharusnya

mencoba mengendalikan perdarahan dengan tindakan local: yaitu kauterisasi atau


5
penempatan senyawa hemostatik atau tampon hidung anterior.

Tes laboratorium tertentu bermanfaat dalam mengevaluasi pasien

epistaksis. Tes diagnostik seharusnya mencakup sel darah lengkap untuk

memantau derajat perdarahan dan apakah pasien anemia. Jika ada kemungkinan

koagulopati sistematik, maka harus dilakukan pemeriksaan pembekuan darah. Jika

pemeriksaan ini abnormal, maka harus dilakukan kosultasi yang tepat. Terakhir

jika massa terlihat pada pemeriksaan, maka harus dilakukan politomografi


5
dan/atau CT scan untuk menggambarkan luas lesi ini.

Pemeriksaan yang diperlukan berupa:

a) Rinoskopi anterior

Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior.

Vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konka

inferior harus diperiksa dengan cermat.2,7


b) Rinoskopi posterior

Pemeriksaan nasofaring dengan rinoskopi posterior penting pada pasien

dengan epistaksis berulang dan sekret hidung kronik untuk menyingkirkan

neoplasma.2,7

1.7 Penatalaksanaan

Prinsip penatalaksanaan epistaksis ialah memperbaiki keadaan umum, cari

sumber perdarahan, hentikan perdarahan, cari faktor penyebab untuk mencegah

berulangnya perdarahan.

Bila pasien datang dengan epistaksis perhatikan keadaan umumnya, nadi,

pernafasan serta tekanan darahnya. Bila ada kelainan atasi terlebih dahulu,

misalnya dengan memasang infus. Jalan nafas dapat tersumbat oleh darah atau

bekuan darah, perlu dibersihkan atau dihisap.2

Prinsip dari penatalaksanaan epistaksis yang pertama adalah menjaga ABC, yakni

A (airway) : pastikan jalan napas tidak tersumbat/bebas, posisikan duduk

menunduk

B (breathing) : pastikan proses bernapas dapat berlangsung, batukkan atau

keluarkan darah yang mengalir ke belakang tenggorokan


C (circulation) : pastikan proses perdarahan tidak mengganggu sirkulasi darah

tubuh, pastikan pasang jalur infus intravena (infus) apabila terdapat gangguan

sirkulasi.1

Penanganan epistaksis yang tepat akan bergantung pada suatu anamnesis

yang cermat. Hal-hal yang penting adalah sebagai berikut:

1. Riwayat perdarahan sebelumnya

2. Lokasi perdarahan

3. Apakah darah terutama mengalir ke dalam tenggorok (posterior) atau

keluar dari hidung depan (anterior) bila pasien duduk tegak

4. Lama perdarahan dan frekuensinya

5. Kecendrungan perdarahan

6. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga

7. Hipertensi

8. Diabetes mellitus

9. Penyakit Hati

10. Penggunaan anti koagulan

11. Trauma hidung yang belum lama

12. Obat-obatan misalnya aspirin dan fenilbutazon

Menghentikan Perdarahan

Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti kaustik dan pemasangan

tampon lebih baik daripada pemberian obat hemostatik sambil menunggu

epistaksis berhenti dengan sendirinya.


Pasien sendiri dapat menghentikan perdarahan bagian depan hidungnya

dengan menjepit bagian itu dengan sebuah jari tangan dan ibu jari serta

meletakkan sebuah cawan untuk menampung tetesan darah dari hidungnya. Pasien

dilarang menelan karena dapat menggeser bekuan darah yang terbentuk.2 Menelan

dapat dicegah dengan menempatkan sebuah gabus diantara kedua barisan gigi

depan (metode Trotter).1

Jika seorang pasien datang dengan epistaksis maka pasien harus diperiksa

dalam keadaan duduk, sedangkan jika terlalu lemah dapat dibaringkan dengan

meletakkan bantal di belakang punggungnya kecuali bila sudah dalam keadaan

syok.1

Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap dan untuk

membersihkan hidung dari bekuan darah. Kemudian tampon kapas yang telah

dibasahi dengan adrenalin 1/10.000 dan lidocain atau pantocain 2% dimasukkan

ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa

nyeri pada waktu tindakan selanjutnya. Tampon ini dibiarkan selama 3-5 menit.

Dengan cara ini dapatlah ditentukan apakah sumber perdarahan letaknya di bagian

anterior atau di bagian posterior.1

Perdarahan anterior

Perdarahan anterior seringkali berasal dari septum bagian depan. Apabila

tidak berhenti dengan sendirinya, perdarahan anterior terutama pada anak dapat

dicoba dihentikan dengan menekan hidung dari luar selama 10-15 menit dan

seringkali berhasil.2 Bila sumbernya terlihat tempat asal perdarahan dikaustik

dengan larutan Nitras Argenti 20-30% atau dengan Asam Trikolasetat 10% atau
5
dapat juga dengan elektrokauter.
Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka diperlukan

pemasangan tampon anterior, dengan kapas atau kain kasa yang diberi vaselin

atau salap antibiotika. Pemakaian vaselin atau salep pada tampon berguna agar

tampon tidak melekat, untuk menghindari berulangnya perdarahan ketika tampon


5
dicabut.

Tampon dimasukkan sebanyak 2-4 buah, disusun dengan teratur dan harus

dapat menekan asal perdarahan. Tampon dipertahankan selama 2x24 jam, harus

dikeluarkan untuk mencegah infeksi hidung.2 Jika lokasi perdarahan telah

ditemukan, vasokonstriktor harus diberkan bersamaan dengan obat-obat topikal

seperti larutan kokain 4% atau oxymetazolin atau phenylephrine. Perdarahan yang

lebih aktif perlu diberikan anestesi topikal yang adekuat. Obat-obat intravena bisa

diberikan pada kasus yang sulit atau pada penderita yang cemas.4

Perdarahan Posterior

Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau

tampon Bellocq, dibuat dari kasa dengan usuran 3x2x2 cm dengan mempunyai 3

buah benang, 2 buah pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya.
Tampon harus menutup koana(nares posterior). Tempat perdarahan tidak mudah

dikenal pada epistaksis posterior. Penting menempatkan pasien dengan tepat.

Kecuali hipovolemia, ia harus duduk tegak, sehingga darah tidak menuju kembali

ke tenggorokkannya.4,5

Teknik pemasangan

Untuk memasang tampon Bellocq dimasukkan kateter karet melalui nares

anterior sampai tampak di orofaring dan kemudian ditarik ke luar melalui mulut.

Ujung kateter kemudian diikat pada dua buah benang yang terdapat pada satu sisi

tampon Bellocq dan kemudian kateter ditarik keluar hidung. Benang yang telah

keluar melalui hidung kemudian ditarik, sedang jari telunjuk tangan yang lain

membantu mendorong tampon ini kearah nasofaring. Jika masih terjadi

perdarahan dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior, kemudian diikat

pada sebuah kain kasa yang diletakkan didepan lubang hidung, supaya tampon

yang terletak di nasofaring tidak bergerak. Benang yang terdapat pada rongga

mulut terikat pada sisi lain dari tampon Bellocq, diletakkan pada pipi pasien.

Gunanya untuk menarik tampon keluar melalui mulut estela 2-3 hari.2

Pada epistaksis yang berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan

pemasangan tampon anterior maupun posterior, dilakukan ligasi arteri. Ligasi

arteri etmoid anterior dan posterior dapat dilakukan dengan membuat sayatan

didekat kantus medialis dan kemudian mencari kedua pembuluh darah tersebut

didinding medial orbita. Ligasi arteri maksila interna yang tetap difosa

pterigomaksila dapat dilakukan melalui operasi Caldwell-Luc dan kemudian

mengangkat dinding posterior sinus maksila.6


1.8 Komplikasi Tindakan

Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha

penanggulangannya. Sebagai akibat perdarahan hebat dapat terjadi syok dan

anemia. Tekanan darah yang turun mendadak dapat menimbulkan iskemia otak,

insufisiensi koroner dan infark miokard dan akhirnya kematian. Harus segera

dilakukan pemberian infus atau transfusi darah. Komplikasi lain terjadi aspirasi
4,5,6
yaitu darah tersedak masuk ke dalam paru-paru.

Pemasangan tampon dapat menimbulkan sinustis, otitis media, bahkan

septikemia. Oleh karena itu pada setiap pemasangan tampon harus selalu

diberikan antibiotik dan setelah 2-3 hari harus dicabut meskipun akan dipasang

tampon baru bila masih berdarah. Selain itu dapat juga terjadi hemotimpanum

sebagai akibat mengalirnya darah retrograd melalui tuba Eustachius dan air mata

yang berdarah (bloody tears) sebagai akibat mengalirnya darah secara retrograd

melalui duktus nasolakrimalis. Pada waktu pemasangan tampon Bellocq dapat


terjadi laserasi palatum mole dan sudut bibir karena benang terlalu kencang
4,5
dilekatkan.

1.9 Prognosis

Sembilan puluh persen kasus epistaksis anterior dapat berhenti sendiri.

Pada pasien hipertensi dengan/tanpa arteriosklerosis, biasanya perdarahan hebat,


5
sering kambuh dan prognosisnya buruk.
BAB II
PRESENTASI KASUS

I. Identitas pasien
Nama : Tn. Y
No MR : 01015251
Umur : 58 th
Jenis kelamin : Laki- laki
Alamat : Pesisir Selatan
Suku bangsa : Minangkabau
Tanggal masuk RS : 04/05-2018

II. Anamnesis
Keluhan utama:
Keluar darah dari lubang hidung kanan 1 jam SMRS.
Riwayat penyakit sekarang :
- Sebelumnya pasien sedang BAK, tiba tiba dari lobang hidung
kanan keluar darah kurang lebih 1 sendok makan dan darah
berhenti sendiri.
- Lima jam setelah itu darah keluar lagi dari hidung kanan
sebanyak setengah sendok makan dan kembali berhenti sendiri
tanpa obat.
- 1 jam SMRS darah kembali mengalir dan pasien berobat ke RS
swasta dan dirujuk ke IGD M Djamil dengan terpasang tampon
kassa.
- Riwayat trauma pada hidung tidak ada
- Riwayat mengorek-korek hidung sebelumnya ada
- Riwayat bersin lebih dari 5x tiap hari tidak ada
- Riwayat hidung tersumbat tidak ada
- Riwayat perdarahan yang lama berhenti tidak ada
- Demam tidak ada
- Pilek tidak ada
- Batuk tidak ada
Riwayat penyakit dahulu:
- Pasien memiliki riwayat hpertensi sejakk 5 tahun yang lalu, jarang
kontrol ke dokter. Tekanan darah saat di IGD : 173/80 mmhg

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
dengan penderita

Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi, dan kebiasaan:


Pasien seorang pedagang

III. Pemeriksaan fisik (7 Mei 2018)


Status generalis
Keadaan umum : Sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis kooperatif
Tekanan darah : 120/70 mmhg
Frekwensi nadi : 88x/menit
Suhu tubuh : 36,7o C
Pemeriksaan sistemik
Kepala : Normochepal
Mata : Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
Toraks : Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
Abdomen : tidak ada kelainan
Ekstremitas : tidak ada kelainan
Status lokalis THT

TELINGA
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Kelainan - -
kongenital
Daun telinga Trauma - -
Radang - -
Kelainan - -
metabolik
Nyeri tarik - -
Nyeri tekan tragus - -
Liang & Lapang Cukup lapang Cukup lapang
dinding Sempit - -
telinga Hiperemis - -
Edema - -
Massa - -
Jaringan granulasi - -
Sekret/ Bau - -
serumen Warna serumen Kuning kecoklatan Kuning kecoklatan
Jumlah serumen Sedikit Sedikit
Jenis - -

Membran timpani
Utuh Warna Putih mutiara Putih mutiara
Refleks cahaya + +
Bulging - -
Retraksi - -
Atrofi - -
Perforasi Jenis - -
Kwadran - -
Pinggir - -

Gambar membran timpani

Mastoid Tanda radang - -


Fistel - -
Sikatrik - -
Nyeri tekan - -
Nyeri ketok - -
Tes garpu tala Rinne + +
Webber Tidak ada lateralisasi
Schwabach Sama dengan Sama dengan
pemeriksa pemeriksa
Kesimpulan Normal
Audiometri - -

Timpanometri - -

HIDUNG
Pemeriksaan Kelainan
Hidung luar Deformitas -
Kelainan kongenital -
Trauma -
Radang -
Massa -
SINUS PARANASAL
Pemeriksaan Dekstra Sinistra
Nyeri tekan - -
Nyeri ketok - -

RINOSKOPI ANTERIOR
Pemeriksaan Kelainan Dextra Sinistra
Vestibulum Vibrise + +
Radang - -
Kavum nasi Cukup lapang (N) Cukup lapang Cukup lapang
Sempit - -
Lapang - -
Sekret Lokasi - -
Jenis - -
Jumlah - -
Bau - -
Konka inferior Ukuran Eutrofi Eutrofi
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Edema - -
Konka media Ukuran Eutrofi Eutrofi
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Edema - -
Septum Cukup lurus/ deviasi
Deviasi
Permukaan Licin Licin
Warna Hiperemis Merah muda
Spina - -
Krista + -
Abses - -
Perforasi - -
Laserasi - -
Massa Lokasi - -
Bentuk - -
Ukuran - -
Permukaan - -
Warna - -

Gambar rinoskopi anterior

RINOSKOPI POSTERIOR
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Cukup lapang (N) Sulit dinilai Sulit dinilai
Koana
Sempit Sulit dinilai Sulit dinilai

Lapang Sulit dinilai Sulit dinilai

Warna Sulit dinilai Sulit dinilai


Mukosa Edem Sulit dinilai Sulit dinilai
Jaringan granulasi Sulit dinilai Sulit dinilai
Ukuran Sulit dinilai Sulit dinilai
Konka inferior Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Permukaan Sulit dinilai Sulit dinilai
Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
Adenoid Ada/tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Muara tuba Tertutup sekret Sulit dinilai Sulit dinilai
eustachius Edem mukosa Sulit dinilai Sulit dinilai
Lokasi Sulit dinilai Sulit dinilai
Ukuran Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Bentuk Sulit dinilai Sulit dinilai
Permukaan Sulit dinilai Sulit dinilai
Post Nasal Drip Ada/tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Jenis Sulit dinilai Sulit dinilai

Gambar
rinoskopi
posterior

OROFARING DAN MULUT


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Trismus Tidak ada
Uvula Edema -
Bifida -
Palatum mole + Simetris/tidak Simetris Simetris
Arkus faring Warna Merah muda Merah muda
Edema - -
Bercak/eksudat - -
Dinding Faring Warna Merah muda
Permukaan Licin
Tonsil Ukuran T1 T1
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Muara kripti Tidak melebar Tidak melebar
Detritus - -
Eksudat - -
Peritonsil Warna Merah muda Merah muda
Edema - -
Abses - -
Perlengketan - -
Tumor Lokasi - -
Bentuk - -
Ukuran - -
Permukaan - -
Konsistensi - -
Karies/radiks - -
Gigi Kesan Tidak ada karies Tidak ada karies
dentis dentis
Warna Merah muda Merah muda
Bentuk Normal Normal
Lidah
Deviasi - -
Massa - -

Gambar

LARINGOSKOPI INDIREK
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Bentuk Sulit dinilai Sulit dinilai
Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Epiglotis Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
Pinggir rata/tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Ariteniod Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Gerakan Sulit dinilai Sulit dinilai
Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Plika Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
ventrikularis Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Plica vokalis Gerakan Sulit dinilai Sulit dinilai
Pingir medial Sulit dinilai Sulit dinilai
Sinus piriformis Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Sekret Sulit dinilai Sulit dinilai
Valekula Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Sekret ( jenisnya ) Sulit dinilai Sulit dinilai

Gambar

Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher


 Dextra: - Inspeksi : Tidak tampak adanya tanda-tanda pembesaran
kelenjar getah bening leher
- Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah
bening leher

 Sinistra : - Inspeksi : Tidak tampak adanya tanda-tanda pembesaran


kelenjar getah bening leher
- Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah
bening leher
RESUME

Anamnesis

- Keluar darah dari hidung berulang ada


- Riwayat mengorek-orek hidung sebelumnya ada
- Riwayat hipertensi ada. TD di IGD : 173/80 mmhg
-

Pemeriksaan fisik

Telinga:

AD: liang telinga lapang, membran timpani utuh, refleks cahaya +

AS: liang telinga lapang, membran timpani utuh, refleks cahaya +

Hidung:

Kavum nasi dekstra dan sinistra: cukup lapang/cukup lapang, konka inferior dan
konka media : eutrofi/eutrofi, pada septum nasi dextra terdapat deviasi,septum,
krista.

Tenggorok:

Arkus faring simetris, uvula di tengah, tonsil T1-T1, dinding faring posterior
tenang.

Diagnosis Kerja

Post Epistaksis berulang ec trauma mekanik  septum deviasi

Hipertensi stage II

Pemeriksaan Penunjang:

- Nasoendoskopi
- Cek Labor

Terapi:
- Tekan hidung (saat di IGD)
- Kloramfenikol salep
- Candesartan 1x8 mg
- Amlodipin 1x5mg
- IVFD RL 20 tpm

Prognosis:
Quo ad Sanam : dubia et bonam
Quo ad Vitam : dubia et bonam
Quo ad Fungsionam : dubia et bonam

Nasehat:

- Kontrol rutin tekanan darah


- Segera pencet hidung saat terjadi mimisan kembali
BAB III
DISKUSI

Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 58 tahun dengan

diagnosis Post Epistaksis berulang ec trauma mekanik, hipertensi stage II.

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Pasien datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan utama

keluar darah dari hidung kanan satu jam sebelum masuk Rumah Sakit.

Sebelumnya pasien sudah mengalami epistaksis berulang sebanyak 3 kali, dan

dibawa ke igd M Djamil untuk mendapatkan pengobatan. Pasien juga mempunyai

riwayat kebiasaan mengorek hidung, dan riwayat hipertensi yang tidak terkontrol.

Berdasarkan literatur disebutkan bahwa epistaksis terbanyak dijumpai pada usia

2-10 tahun dan 50-80 tahun, dan kondisi pasien dengan hipertensi juga menjadi

salah satu risiko terjadinya epistaksis.

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak septum deviasi krista.

Kelainan anatomi disebutkan dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya

epistaksis pada pasien.

Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah penghentian perdarahan

dengan menggunakan tindakan penekanan pada hidung. Setelah perdarahan

berhenti, dilakukan eksplorasi untuk mengevaluasi sumber perdarahan. Kemudian

dilakukan pemberian antibiotik lokal kloramfenikol sebagai profilak terjadinya

infeksi. Penyakit hipertensi pada pasien diberikan terapi agen antihipertensi

berupa candesartan dan amlodipine.


DAFTAR PUSTAKA

1. GlenPorter,MD.Francis.B.Quinn,MD.Epistaxis.

www.utmb.edu/otoref/grnds/Epistaxis-2002.../Epistaxis-2002-04-slides.pdf.

UTMB-Galveston, Texas . Tanggal akses : 8 Januari 2016

2. Mangunkusumo E, 2012. Perdarahan Hidung dan Gangguan Penghidu. In:

Soepardi EA, Iskandar N editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

Tenggorok Kepala Leher. 7 th ed. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI.

3. Ballenger, John, Jacob. 1994. Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Ed 13.

Binarupa Aksara. Jakarta. p, 113-116.

4. Thaller, Seth, R, et al., 1990. Diagram Diagnostik Penyakit Telinga Hidung

Tenggorok, EGC. Jakarta. p, 89-93.

5. Pope L.E.R., Hobbs C.G.L., 2005. Epistaxis un update on current management.

Department of Otolaryngology and Head and Neck Surgery. www.epistaxis

management.com/ent/topic 701.htm

6. Kucik Corry, 2005. http://www.aafp.org/afp/20050115/305.html Diakses

tanggal 8 Januari 2016.

7. Viewhug, Tate L, dan Jhon B Roberson. Epistaxis : Diagnosis and Treatment.

USA: American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons. 2006;511-8.