Anda di halaman 1dari 62

BAB IV

ALIGNEMEN HORISONTAL JALAN

Kompetensi
Setelah pembelajaran diharapkan mahasiswa memahami, menjelaskan, mengunakan
pengetahuan alignemen horizontal jalan melalui pemecahan teknis sebagai bagian rancangan
tikungan jalan dan kelengkapan jalan.

Alignement horizontal dibentuk didasarkan pada faktor lahan dan arah jalan mengalami
pembelokan tentu memerlukan perlakuan akibat adanya tataguna lahan disekitar jalan dan
fasilitas yang telah ada. Perjalanan arah sumbu trase jalan sebaiknya kita usahakan selalu
berjalan mengikuti arah garis lurus, tetapi kenyataannya hal ini tidak dapat kita jumpai, arahnya
merupakan tikungan (belokan).

Kalau sumbu as jalan itu kita proyeksikan ke bidang horisontal maka disebut aligment
horisontal dan as jalan ke bidang vertikal disebut aligment vertical.gambar dibawah menunjukan
posisi tikungan ke kiri dengan as sumbu jalan seimbang pada kanan kan kiri jalan, kelengkapan
jalan meliputi berm, ruang pejalan kaki, drainase dan tiang penerangan memiliki ukuran standart.

Gambar : kondisi Jalan yang menikung berbelok kearah kiri dilengkapi kelengkapan jalan

Posisi simpang berurutan dengan jalinan jalan posisi belokan jalan harus diperhatikan posisi
jarak titik simpang dengan jarak saat kendaraan memasuki tikungan. Ukuran jari jari tikungan
perlu disesuaikan saat kecepatan kendaraan memasuki tikungan

35
Gambar : Persimpangan jalan dan kondisi jalan yang menikung kearah kanan dan kelengkapan
jalan.

Kelengkapan untuk menentukan alignemen horizontal dapat diperoleh melalui gambar peta
countor tanah dan diproyeksikan pada potongan memanjang as rencana jalan dan potongan
melintang jalan pada setiap perubahan titik tikungan arah memanjang

Gambar peta contour tanah dengan duga ketinggian masing masing lokasi tanah

Peta countor tanah dari peta Topografi skala 1: 1000, sebagai pedoman awal untuk menentukan
arah as jalan pada tiap bagian peta akan membentuk garis perpotongan raha jalan dan
mengelompokan jenis tikungan dan tanjakan jalan. Pada gambar dibawah salah satu bagian
jalinan as jalan yang mengalami perubahan bentuk garis yang mengakibatkan terbentuknya sudut
pertemuan garis dari titik penting yang perlu ditentukan koordinant. Titik potong dari bagian
lurus jalan sebagai penanda adanya tikungan jalan. Sudut yang terbentuk pada titik PI1, PI2 dst
akan dijadikan pedoman dalam rancangan tikungan jalan. Penentuan sudut jurusan (Δ ) dan
sudut Bearing ( ), didasarkan dari arah utara. Misal Δ1 = Δ (A- PI1) ; Δ2 = Δ (PI1- PI2)

36
+125
+135
0

+130
+14
0

5
5

4
1

1
+

Gambar : bagian contour tanah dan rencana letak pertemuan arah lajur lurus as jalan dari tarikan
garis lurus dan membentuk potongan garis sebagai rencana belokan/tikungan jalan dan
membentuk sudut tikungan dilakukan dengan analitis dan grafis ( busur Derajat)

1. Alignement Horisontal.

Alignement horisontal harus diatur untuk memenuhi kebutuhan lengkungan, belokan


jalan, dan menyediakan ruang bagi penguna lalu lintas kendaraan pada saat memasuki
lengkungan/ tikungan. Dan juga menyediaan ruang bagi bagi penguna lain kendaraan tak
bermotor dan pejalan kaki dari arah berlawanan jalan.
Pertimbangan alignement jalan yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1. Disesuaikan alignement topografi dan geografi daerah sekitarnya
2. Kemantapan alinyemen horizontal dan vertical.
3. Koordinasi antara alinyemen horisontal dan vertical yang berdekatan pada ruas jalan.
4. Keamanan dan kenyamanan dari pengemudi, penumpang dan penguna lain; pejalan kaki.
5. Keterbatasan pada pelaksanaan pembangunan disekitar rencana tikungan jalan, daerah
pemukiman dan penduduk padat.
6. Penyediaan biaya pelaksanaan konstruksi.
Pada saat kendaraan berjalan lurus dalam kecepatan rencana, kemudian akan melewati jalan
berbelok (tikungan), maka kendaraan dan pengemudi akan merasakan kendaraan terdesak kearah
luar jalan, hal ini dikarenakan adanya gaya sentrifugal yang berarah mendatar untuk mendorong
kendaran keluar jalan. Gaya ini dapat mengulingkan kendaraan bila titik kendaraan dari muatan
tidak sebanding , James H.Banks (1998). Dalam kondisi demikian maka diperlukan lebar jalan,
perkerasan tambahan yang diperlukan pada inner edge, gaya gesekan pada permukaan agar
kendaraan masih dapat melaju pada kondisi kecepatan rencana, sehingga pada belokan
37
diperlukan radius jari jari minimum (Rmin) dari berbagai pendekatan yang dilakukan oleh
beberapa pakar dan negara jari jari ini selalu dimodifikasi sehingga memerlukan penyesuaian
dengan memperhatikan karakteristik kendaraan, kecepatan (Vr) dan kondisi geometrik tanjakan
dan turunan (g), Ev, faktor gesekan permukaan jalan (fm) dan elevasi melintang jalan (e)pada
tikungan. rumus dapat digunakan standart dari Dinas lembaga terkait dishub, dinas PUPR. faktor
kecepatan rencana dan type atau klas jalan, jari minimum (R) ini masih dikelompokan untuk
jalan jalan dengan kemiringan normal (en) dan perubahan kemiringan pada daerah tikungan yang
mengalami perubahan elevasi.
Melalui pedoman perencanaan Geometrik no 38/T/1979 dan RSNI 2004 diperbaruhi melalui
perencanan geometrik Dinas PUPR - Bina marga, beberapa persyaratan harus diusahakan untuk
diperhatikan dalam perencanaan geometrik pada alinyemen horizontal, antara lain.

2. Unsur –Unsur pada Alignemen Horisontal


1. Jari-Jari Minimum
Pada saat kendaraan berjalan pada suatu jalan yang lurus kemudian dengan kecepatan
tertentu akan melewati jalan yang berbelok (tikungan), maka kendaraan tersebut pada saat
melalui tikungan, pengemudi akan merasakan kendaraan terdesak ke arah luar jalan, hal
ini diakibatkan adanya gaya sentrifugal yang berarah mendatar ke arah luar jalan. Kondisi
tikungan diperlukan lengkungan dari segmen jalan yang dibentuk oleh jari jari tikungan
minimum dan maksimum.
Gaya ini dapat menggulingkan kendaraan bila titik kendaraan dan muatan tidak
sebanding, bila dibandingkan dengan lebar jalan (jarak kedua roda) dan gaya gesekan
antara roda dengan jalan (fm)
Maka dari itu untuk menjaga keamanan kendaraan pada resiko kecelakaan tertentu
ditikungan (belokan) tersebut, diperlukan jari-jari min (Rmin) hitungan belokan harus
lebih besar dari jari-jari minimum yang telah ditentukan. Pendekatan rumus praktis pada
besarnya jari jari tikungan dapat digunakan melalui formulasi Rmin = 0,033 V²
Dimana :V= kecepatan kendaraan rencana pada jalan lurus (m/detik-km/jam)

38
Gambar : Bentuk tikungan jalan dengan sudut tajam ditandaiperpotongan garis jari jari
mmebentuk tangen = 0 sampai sudut puncak dan berakhir pada titik tangen =o

2. Jari-Jari Normal
Dalam melaksanakan pekerjaan jalan raya guna mempermudah didalam pelaksanaan,
maupun dalam merencanakan berdasarkan pengalaman telah berjalan ditentukan adanya
suatu jari-jari normal Rn).
Pihak konsorsium pembuatan jalan di Indonesia mendapatkan jari-jari normal (Rn )
diperoleh dalam daftar Perencanaan Geometrik jalan dapat direkomendasikan berdasrkan
dengan kecepatan rencana.(Vr ) km/jam, contoh kecepatan 120 km/jam dianjurkan Rmin =
600 meter dan begitu pula untuk jenis kecepatan lainnya:
Hubungan kecepatan rencana dan jari Jari minimum pada titik tikungn jalan dengan
kondisi normal tanpa ada ganguan samping misal tebing dan curah, jurang pad lahan di
lokasi tikungan jalan, dapat dijelaskan pada tabel

Tabel 1 Hubungan Kecepatan (Vr) dan jari jari normal (Rn) pada tikungan jalan
Vr 120 100 80 60 50 40 30 20
km/jam
R 600 370 210 110 80 50 30 15
meter
Sumber : 038/T/PPGJR/1979

3. Koefisien gesekan (fm)


Jari-jari minimum pada belokan (tikungan), yang terlalu pendek dan perlu
diperhatikan pula kekasaran permukaan jalan untuk menambah keamanan kendaraan
39
pada waktu mengatasi gaya sentrifugal tersebut perlu diperbesar angka gesekan
permukaan jalan. Pelaksanaannya dengan membuat kemiringan melintang (e) jalan
supaya permukaan jalan menjadi kasar (tidak licin), sedang pabrikan dalam membuat ban
karet (roda) dapat dilakukan melalui memperbesar dari ukuran dari ring ban mobil
(kendaraan) atau dengan membuat bentuk alur-alur ban (roda) dengan maksud
memperbesar gaya gesekan antara ban dan permukaan jalan.
Besar angka pada tingkat kecepatan kendaraan yang berbeda-beda dapat diperoleh
melalui nilai (fm) karena nilai gesekan dipengaruhi memalui kecepatan rencana sesuai
dengan medan lokasi jalan antara lain (1) daerah datar (2) berbukit dan (3) pegunungan.
Besaran factor gesekan permukaan jalan dapat diadopsi dari rumusan AASHTO , bila
dimasukan dalam rumusan dengan kecepatan sebagai variabel bebas maka akan diperoleh
faktor gesekan permukaan jalan.antara lain:
Bila kecepatan (V) = 40 km/jam, maka dipeoleh hasil angka gesekan : 0,40, secara
berurutan dapat dijelaskan melalui pengunaan gambar grafik akan diperoleh besaran
gesekan dari masing kecepatan rencana kendaraan,kecepatan (V) = 60 km/jam, angka
diperoleh angka gesekan : 0,39, dan pada kecepatan V = 80 km/jam, diperoleh angka
gesekan : 0,30, serta V = 100 km/jam, diperoleh angka gesekan : 0,25. Formula faktor
gesek permukaan fm= -0,000625.V +0,192

Gambar Hubungan kecepatan rencana dengan faktor gesekan pada permukaan jalan
4. Kemiring melintang pada tikungan Jalan

40
Kemiringan Super elevation Penampang Jalan
kemiringan melintang dari jalan yang dinyatakan dalam prosen. kemiringan melintang
dari jalan dengan sudut elevation sama dengan tan α
Kemiringan melintang dibedakan menjadi: 1) Miring melintang pada jalan yang lurus ( en
= 2%) . 2) Miring melintang pada titik jalan tikungan (emaks = 10%).

pada tikungan jalan dapat diistilahkan landai relative melintang jalan, ditentukan dari
panjang jari jari minimum ( R min) dan angka geseran permukaan jalan akibat gaya
dorong kesamping keluar dari jalur ‘ gaya centrifugal’ pada tikungan kondisi ini dapat
diatasi melalui leveling keadaan jalan yang dibuat miring kearah dalam pada perubahan
dari kemiringan normal (en) berkisar antara 2%, dan pada kemiringan maks ( e max)= 10
% pada titik kritis tikungan.
Besar miring melitang (emax) pada titik tikungan ini tidak boleh terlalu besar = 10 %,
karena akan mempersulit pelaksanaan dan pemeliharaan serta saat kendaraan melintasi
untuk mengikuti arah tikungan, sudut miring melintang jalan yang besar mempermudah
tergulingnya kendaraan memasuki tikungan dan menurunkan kecepatan kendaraan. Oleh
karena itu miring melintang jalan harus dibatasi antara 10-12%.

Kemiringan tersebut selain sebagai mengalirkan air ke tepi jalanr juga sebagai
penyamaan untuk mengatasi gaya sentrifugal yang timbul pada tikungan. Miring
melintang pada tikungan maksimun dapat diambil mementuk derajatTan= 6% - 10%.
Dengan ketentuan di atas, bahwa kemiringan maksimum dari miring melintang maks=
10%, jika digunakan rumusan bidang maka terdapat hubungan antara rumusan :

p² = h² + a²< 10%
sehingga h didapat bila a ditentukan melalui 1) h= miring membujur dalam %;dan 2 )
a= miring melintang dalam %
41
b. Pelebaran Tikungan

Perjalanan suatu kendaraan pada saat berada pada tikungan dengan jari minimum,
akan mengalami perubahan sentrifugal kearah keluar jalur, maka diperlukan upaya
melalui pelebaran tepi perkerasan jalan:

Gambar Suatu kendaraan berjalan ditikungan, maka sumbu roda muka mengalami
membentuk lingkaran dengan jari-jari baru (T) dan sumbu muka mengikuti bentuk
lingkaran dengan jari-jari R minimum. Kondisi ini mengalami pergeseran lintasan
kesamping pada potongan melintang jalan dapat dicapai.
nilai k dipengaruhi kecepatan dan jari jari lengkung:

Sedangkan untuk kendaraan gandengan nilai k dapat dipakai rumusan:

5. Lengkung peralihan
Sebelum memasuki tikungan jalan dari arah lurus ke titik tikungan akan terjadi
bentuk jari-jari tertentu sejauh perubahan tikungan, dan kendaraan harus merubah arah
jalan dari arah lurus melalui lengkung peralihan melanjut ke bagian tikungan maks jalan.
Maksud lengkung peralihan pada bagian tikungan untuk merubah arah dari arah lurus
yang mempunyai jari-jari tak terhingga ke jari-jari tertentu saat memasuki (tikungan).
Saat kendaraan memasuki tikungan dapat berjalan tanpa adanya gangguan dari sisa gaya
42
sentrifugal maupun gaya-gaya lain dari kendaraan yang melewat, begitu pula saat
kendaraan meninggalkan tikungan ke arah lurus diperlukan lengkung peralihan ditandai
dari perubahan kemiringan tikungan jalan dari 2 % sampai emaks 10 %. Sisa-sisa gaya
sentrifugal ini dapat dirasakan pada saat kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi,
sedang tikungan dengan jari jari yang kecil dan terbatas atau dalam bentuk tikungan
tajam.
Pengunaan lengkung peralihan pada alignemem horizontal memperoleh manfaat
1) Mengarahkan pengemudi untuk mengikuti lajur yang telah disediakan dimasing
masing arah jalan.
2) Mempermudah pembentukan kelerengan jalan pada tikungan dari kelerengan
melintang normal beralih ke kelerengan melintang maks.
3) Memudahkan pembentukan peralihan pelebaran perkerasan pada segmen
tikungan dan pengaturan berm dan saluran air tepi jalan.
4) Meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengemudi saat memasuki tikungan
sesuai kecepata rencana jalan.
Menurut Bina Marga no 17/Tb/1977, dan no 38/T/PPJR/1997 penentuan lengkung peralihan
diperhitungkan mulai dari penampang melintang jalan berbentuk normal‘ crown” pada kedua
sisi lajur membentuk elevasi normal (en) hingga pada penampang melintang mencapai awal
memasuki belokan dengan membentuk superelevasi sesuai jenis tikungan (spiral) dalam
penjelasan AASHTO 1990 penentapan lengkung peraliah dimulai dari penampang melintang
jalan berbentuk satu sisi lajur datar dan sisi laju berdekatan membentuk evelasi hingga sampai
penampang melintang jalan memiliki kemiringan sebesar super elevasi. Berikut ini pendekatan
dari Bina marga tentang jari pada lengkung peralihan
Tabel 2. Jari jari minimum yang diperkenankan untuk lengkung peralihan
Kecepatan Rencana Jari jari minimum ( R min )
(Vr) Km/jam meter
60 700
80 1250
100 2000
120 5000
Sumber N0 17/PGJR/1977

43
Penentuan jari jari minimum pada tikungan, dapat pula diambil tanpa ada lengkung
peralihan pada segmen tikungan tersebut, besarnya jari jari direkomendasikan didasarkan pada
hubungan kecepatan rencana (Vr)
Tabel 3 Hubungan kecepatan dan Jari Jari minimum ( R ) min
Kecepatan 120 100 80 60 50 40 30 20
renc (VR)
R min (m) 2500 1500 900 500 350 250 130 60
Sumber ; 038/PPGJR/1997

Pengunaan lengkung peralihan dipakai dengan memenuhi batasan


1) Kelandaian relative maksimum yang diperkenankan pada jenis tikungan Circle
2) Bentuk tikungan peralihan merupakan bentuk lengkung spiral
3) Panjang lengkung peralihan berdasarkan rumusan modifikasi SHORTT FORMULA
4) Saat pengemudi memasuki tikungan dan menghindari pandangan patahan pada lajur
perkerasan jalan, maka perjalanan menurut AASHTO memerlukan waktu 2 detik,
sedangkan menurut bina Marga waktu capaian selama 3 detik untuk jalan luar kota

6. Jarak Pandangan Tikungan


Jarak pandangan pengemudi saat memasuki tikungan pada lajur tepi memiliki pandangan
sangat terbatas dan terhalangi oleh tebing terutama daerah berbukit dan angunan tepi jalan
bertingkat daerah pada pemukiman. Maka penentuan pandangan pada tikungan diperlukan batas
minimum antara sumbu lajur jalan bagian tepi dengan penghalang . penentuan batas minimum
jarak antara sumbu lajur tepi jalan terhadap penghalang didasarkan pada
Peninjauan jarak pandangan pada suatu tikungan ada dua kemungkinan:
1) Keadaan dimana jarak pandangan (s) lebih kecil daripada panjang tikungan yang
bersangkutan (L), sehingga seluruh jarak pandangan ada dalam daerah lengkung (s<L).
2) Keadaan dimana jarak pandangan (s) lebih besar daripada panjang tikungan yang
bersangkutan (L), sehingga jarak pandangan sebagian dalam lengkungan sepanjang (L)
dan sisanya dalam garis lurus (s>L)

44
Gambar : kondisi batasan pandangan pengendara pada panjang tikungan
Garis lurus A-B : garis pandangan pengemudi
Garis lengkung A-C-B dan A-D-C-E-B : jarak pandangan (s), dapat dijelaskan

Dimana: m = ordinat tengah sumbu jalur dalam ke penghalang (m)


s = jarak pandangan (m)
L = panjang busur lingkaran (m)
R = jari-jari sumbu jalur dalam (m)
Θ = ½ sudut pusat busur lingkaran sepanjang L
d =L

Jarak pandangan henti (Jh) dapat dihitung melalui persamaan dalam peraturan jalan no
38/T/PPGJR1979, maka jarak pendangan henti (Jh) dapat diperoleh sesuai dalam tabel dibawah
ini

Tabel 4.Jarak Pandangan Henti berdasarkan Kecepatan Rencana (VR)


Kecepatan 120 100 80 60 50 40 30 20

45
renc (VR)
Jarak min 250 175 120 75 55 40 27 16
(Jh) meter
Sumber :038/T//PPJGR/1979
Jarak Pandangan mendahului kendaraan pada saat mengubah jalur kiri kekanan harus
memenuhi 30 % dari panjang ruas jalan lurus.

Tabel 5 Pandangan mendahului (Jd) dalam meter


Kecepatan 120 100 80 60 50 40 30 20
renc (VR)
Jarak min 800 675 550 350 250 200 150 75
(Jh) meter
Sumber : 038/PPGJR/1979
Menentukan aligmment horisontal pada tikungan jalan, perlu diketahui terlebih dahulu
kondisi “topography” wilayah yang akan dilalui garis trace jalan, kondisi ini akan
mengelompokan kondisi lahan dikelompokan pada medan datar, daerah perbukitan, daerah
pegunungan. kriteria medan menentukan ukuran geometrik jalan agar dalam merencana tidak
melampui standar dari perencanaan geometric.pembuatn tikungan jalan dilakukan melalui
analisis yeng dapat dipetangung jawabkan dari sisi keamanan, kenyamanan, dan kemampuan
kecepatan kendaraan.
Dalam perancangan tikungan lahan diklasifikasi menjadi 3 jenis medan, yakni a) Daerah Datar;
b) Daerah perbukitan (B); c) Daerah pegunungan (G). Kondisi medan ini dapat menentukan
besarnya kecepatan rencana.
Perencanaan alignemen horisontal dirancang dengan mempertimbangkan hal hal sebagai
berikut:
1) Memenuhi semua ketentuan dan standart perencanaan yang ada yaitu peraturan
Perencanaan Geometrik Jalan Raya . No 38/T/PPGJR/1979.Direktorat Jenderal Bina
Marga
2) Kondisi lapangan yang ada berdasarkan peta topografi skala 1 : 1000.
3) Menghindari sedapat mungkin pekerjaan tanah berupa galian dan timbunan yang besar
tidak seimbang, memenuhi ketentuan dalm pelaksanan konstruksi.

46
Gambar: jarak
7. Penomoran titik ruas Jalan ( Stationing)
Penomoran titik ruas jalan pada rencana lokasi jalan memberikan nonor pada interval
tertentu dari awal pekerjaan, kemudahan pada saat merancang ruas jalan. Penomoran
dilakukan pada interval tertentu dari titik awal lokasi pekerjaan jalan.
Manfaat penomoran pada ruas jalan :
1) Sebagai kontrol terhadap letak dan posisi ruas jalan dari kondisi awal berupa lokasi
lahan, perencanaan duga konstruksi, pelaksanaan pembuatan badan jalan telah sesuai
dengan syarat teknis keamanan dan kenyamanan dan kedudukan perkerassan jalan.
2) Sebagai penentuan panjang jalan keseluruhan untuk menentukan biaya fisik dan
biaya kelengkapan sarana yang lain meliputi penurapan tebing pengalian dan
pengurukan pada lokasi tertentu sesuai disain perencanaan geometrik.

8. Penentuan koordinat dan jarak


Awal penentuan titik STA jalan dapat dimulai dari pemilihan rencana jalan
sampai penentuan titik horisontal alignement seperti pada gambar dibawah, misal
pengambaran titik STA yang perlu ditentukan koordinatnya adalah:
1) Titik A sebagai titik awal rencana jalan.
2) Titik P4,P11,P16 sebagai titik potong (point of intersection) dari dua bagian lurus
rencana jalan membentuk potongan sebagai titik horisontal alignement.
3) Titik C sebagai titik akhir rencanan jalan
4) Jarak yang harus dihitung dengan penentuan koordinat, sebagai contoh adalah
 d1 : jarak dari titik A - titik PI4
 d2 : Jarak dari titik PI4 – titik PI 11
 d3 : Jarak dari titik PI 11 – titik PI 16
 d4 : Jarak dari titik PI 16 – titik B

PI 4 d2 PI 11 d3 PI 16
A
CT T2 T3
47
d1 T1 L1 L2
L3 d4
Ts
A Ø B

Gambar : Rencana arah panjang jalan dan penempatan titik tikungan pada proyeksi
horisontal

Dalam rancangan alignemet horisontal, didasarkan pada kondisi topografi dan kondisi
klasifikasi medan, serta arah dari garis potongan horisontal jalan, posisi garis berada pada
medan dan beda tinggi countor tanah cukup tinggi atau rendah, serta sudut arah jalan
yang akan membentuk garis potongan pertemuan arah jalan dengan membentuk sudut
(Ø) penentuan titik STA didasarkan pada gambar topografi countur tanah dan diperjelas
digambar pada potongan memanjang rencana jalan pada tengah as lajur jalan.

3. Metode Penomoran Ruas Jalan


Penentuan tiik Sta jalan dimulai dari 0 + 000 m yang berarti 0 Km dari 0 awal pekerjaaan,
Misal :Sta 10 + 250 berarti lokasi jalan tertetak pada jarak 10 km dari titik awal jalan dan 250
meter dari 10 km titik Sta.
Penomoran Sta dilakukan :
1) Setiap 100 m pada medan datar.
2) Setiap 50 meter pada medan berbukit.
3) Setiap 25 m pada medan pegunungan.
Pada tikungan, penomoran dilakukan pada setiap tiik potong terjadinya garis awal
alignyemen horisontal penomoran dilakukan pada setiap titik penting pada posisi terdapat sta
terbentuknya titik Tc, dan Sta titik CT pada tikungan jenis lingkaraan sederhana, sedangkan pada
jenis spiral busur lingkaran dan spral akan dibentuk dari Sta titk TS,SC, CS dan Sta titik STl.

4.Penentuan sudut arah jalan (Δ) dan Bearing ( £)

Sudut arah jalan/jurusan (Δ ) pengambaran ditentukan berdasarkan pedoman mata angin


arah utara sebagai pedoman rancangan arah ruas jalan, seperti contoh gambar diatas dengan
batasan jarak dimasing- masing titik ruas jalan disederhanakan menjadi;
48
P A = STA 0 + ( 000) ; PI4 = STA 4+ (d1- T1) ; PI 11 = STA 11+(d1-T1)+ L1+(d2-
T2): PI 16= STA 16 + (d1-T1) + L1+ (d2-T2) + L2 (d3-T3)
Sudut jurusan ( Ø ) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

(X2 – X1)
Ø = Arc Tg
( Y2 – Y1 )

sudut tikungan dapat diistilahkan bearing diperoleh dengan perpotongan garis arah kalan
sebagai berikut

Δ1 = ( 1 - 2) ; Δ 2 = ( 3 - 2 ) dst.

Hasil perhitungan sudut tikungann (Δ ) dan bearing ( Ø ) harus dikontrol dengan pengukur
grafis dengan bantuan busur derajat pada gambar rencana jalan untuk memastikan bahwa hasil
perhitungan tersebut adalah cocok.

5.Bentuk Alignement Horisontal


Pada umumnya rancangan alignemen horizontal pada geometrik jalan raya untuk
menentukan dan menetapkan bentuk alignemen horizontal berupa jenis lengkungan atau
tikungan dapat dikelompokan atas 3 (tiga) bentuk lengkungan /tikungan yaitu:
1) Lengkung lingkaran sederhana Full circle
2) Lengkung busur lingkaran dengan lengkung peralihan Spiral – circle – spiral ( S-C-S)
3) Lengkung peralihan Spiral -Spiral (S-S)
Pada gambar dibawah ini bagian dari aah jalan yang membentuk potongan dengan sudut Δ

Gambar: Pertemuan arah jalan pada bidang mendatar dengan membentuk sudut potongan arah
jalan
1. Bentuk lengkung sederhana circle.
49
Lengkungan sederhana atau disebut tikungan circle adalah bentuk tikungan dengan radius
tertentu pembentukan yang biasa dipakai di Indonesia dimana diperbolehkan menggunakan
bentuk lengkung circle adalah sebagai berikut :
Tabel 6 Hubungan Kecepatan Rencanan dengan Jari jari lengkung minimum
Kecepatan rencana (km/jam) Jari-jari lengkung minimum
memerlukan lengkung peralihan (m)
120 2750
100 2000
80 1250
60 700
40 300
30 180
Sumber : 013/PPGJR/1970 dan 038/T/PPJR/1997
Untuk lengkungan/ tikungan yang jari-jarinya nilai lebih kecil daripada nilai R jari jari lengkung
minimum diatas, bentuk tikungan direkomendasikan dipakai jenis lengkungan bentuk spiral-
circle-spiral ( S-C-S).

Rumusan Lengkungan sederhana Type Circle (CC)sebagai berikut.


Data yang diperlukan dari lokasi tikungan:
PI.Sta. = nomor stasiun tikungan
d =jarak PI … ke PI… yang lain (m)
v = kecepatan (ditetapkan) medan (km/jam)
Δ = (diukur dari gambar dengan busur) (derajat)
Rc = (ditetapkan) table geometrik…(contoh = 40km/jam = 250.(m)) lihat kelandaian
Panjang Tc dan titik potong kedua garis dinamakan sudut potongan bersimbul Δ= …. Dan
Jarak ttik Tc dan titik potong kedua garis PI 1 dinamakan panjang circle
Tc = Rc.*tg ½ Δ (m)
Jarak pergeseran horizontal dari titik potong kedua garis kearah busur lingkaran
Ec = Tc*.tg ¼ Δ (m)
Panjang busur lingkaran dimulai dari TC ketitik CT meningalkan tikungan
Lc = 0,01744 *. Δ * . RC (m)
e = kemiringan melintang (m/m)
Δ = dalam satuan derajat dalam gambar potongan arah jalan
50
Sudut peralihan yang ditentukan dari jarak x dan dan jarak Y sepanjang Tc diperoleh nilai
S = (1718,78^ / R ) * L
Jika Nilai S = L – Lc / (24 * Rc ), nilai X = S * Cos s ; dan Y = S *sin s.

Gambar :Lengkungan lingkaran bentuk circle

Kelengkapan bagian dari lengkung Circle


Panjang diukur dari titil awal TC sampai pada garis potong 2 arah jalan pada titi PI
Tc = R. tg ½ Δ (m)
Panjang lintasan Circle diukur dari Tc - CT
Δ
Lc = x n x Rc (m) atau dihitung Lc = 0.01745333* Δ*Rc
1800
Pergeseran lintasan diukur dari titik PI ke titik baru garis bantu R
Ec= Tc * tg 1/4 Δ (m)
Ec= Rc/cos(Δ/2) – Rc (m)
Harga masing rumusan dihitung secara analistis berdasarkan koodinat koordinat gambar. dan
harga R ditentukan secara grafis dalam gambar dilapangan

51
Lengkung circle berbentuk lengkung sederhana, maka pencapaian superelevasi dimasing masing
titik segmen mulai dari bagian lurus ke titik TC sampai saat keluar dati titik CT dan memasuki
daerah lurus jalan. Kondisi ini jika memungkinkan terjadi lengkung peralihan sehingga daerah
peralihan di segmen untuk pencapaian kemiringan disesuaikan adanya lengkung peralihan pada
gambar dibawah ini lengkung peralihan dengan sudut besar diperoleh seperti gambar dibawah
ini.

Dari data perhitungn diperoleh nilai: sudut tangent garis lurus, TC = ….m
Nilai Lc =….. m, Ec =…… m, R c =……. M
Pada kasus jika diperoleh adanya lengkung peralihan diperlukan menghindari gap antara garis
cicle dan garis lurus maka diperlukan lengkung peralihan dan proses pembuatan kemiringan
melintang sebagai berikut

52
Lengkung peraliahan spiral semu; Ls’ = ( e + en ) * ½.B. m,
Gambar : lengkung sederhana dan lengkung peralihan fiktif (Ls’)

Pelebaran Perkerasan pada Tikungan

Pelebaran perkerasan pada tikungan diperlukan melalui hasil hitungan dengan mengunakan
parameter table pada peraturan BM no: 13/1970 dengan pedoman dari nilai1000/Rc, dan nilai
parameter lainnya akan diperoleh setelah memproyeksikan garis horizontal dan titk pertemuan
garis diproyeksikan vertikal untuk menentukan besaran parameter..

Lebat perkerasan jalan B = n *( b’ + c ) + ( n – 1 ) *Td+ . z

Dimana : B = Lebar pekerasan pada tikungan.


n = Jumlah jalur lalu lintas
b’ = Lebar lintasan kendaraan truk pada tikungan . grafik monogran
Td = Lebar melintang akibat ‘tonjolan depan, grafik nomogram
Z = lebar tambahan akibat kecerobohan dalam mengemudi grafik monogram
c = kebebasan samping = 0,8 m
A = tonjolan depan lihat =1,5 m

Parameter diambil dari buku PPGJR No 13 – 1970 hal 18; No 38-1979- SNI 2002
Contoh pengunaan monogram jika: 1000/ R lingk = 1000/ (358) = 2,79 = 3 < 6, b = 2,6
m. td = 0,1, z =0,48

53
Kontrol lebar perkerasan pada tepi perkerasan tikungan;
Td = V* R2 + A * ( 2 p + A )- R
= 100 *3582 + 1,5 ( 2. 6,5 + 1,5 ) – 358 = 0,031m

b’ = R - V R2 – p2 + 2.A = 358 - V 3582 -6,52 + 2. 1,5 = 3,059m jika n = 4


B = 4 ( 3,059 + 0,8)+ ( 4-1) 0,031 + 0,105 ( 100/ 100x 358) =
= 15,436 + 0,093 +0,555 = 16,08 m
Pada tikungan dibandingkan nilai pelebaran diperoleh B = 16.08 m > B = 2x2x 3,75 = 15 m
Maka diperlukan pelebaran tepi perkerasan dalam tikungan ekstrem sebesar B’ = 16,08-15 =1,08
m
Lengkung spiral semu Ls = ( e + en ) * ½.B. m, jika m = 263 m
=(0,1 +0,02) *1/2 x 16,08 x 263
= 253,74 =254 meter

2.Lengkung bentuk Spiral- Cirle- Spiral. (SCS)

Lengkung jenis ini merupakan kombinasi peralihan berbentuk spiral yang


menghubungkan dari bagian lurus dengan radius tak terhingga diawal spiral (TS) dan bagian
54
berbentuk lingkaran dengan radius = Rc diakhir spiral kanan (Sc), dan lengkung peralihan bagian
dari spiral ke bagian lingkaran ( circle).
Panjang lengkung peralihan pada tikungan Spiral diperhitungkan terjadi perubahan gaya
sentrifugal dari nilai 0 (pada bagian lurus) sampai pada keadaan titik lengkung peralihan TS dan

menuju pada lengkung spiral, titik SC dimana gaya sentifugal > 1 akan terjadi sebesar

Waktu pergerakan kendaraan sepanjang lengkung spiral dan untuk mengimbangi gaya sentrifugal
dan komponen berat kendaraan dengan memasukan berbagai factor kecepatan (V), jari jari
minimum( R), dan superelevasi ( k = e) , maka akan membentuk lengkung peralihan fiktif (Ls
min) dengan rumus pendekatan didekati dengan rumusan modifikasi SHORTT FORMULA,
menjadi

dan atau

Dimana : Ls = panjang spiral (m)


V = kecepatan rencana (km/jam)
R = jari-jari dari table 1 (m)
C = perubahan percepatan (m/det³)
dianjurkan harga C = 0,4 m/det2
k = e = superelevasi permukaan jalan

dan atau diperoleh Ls = ( e + en ) * ½.B. m, dimana B = lebar jalan, m = pergeseran garis


yang diukur didasrkan pada perbandingan nila S=jarak pandangan henti terhadap lengkung circle
1/ Landai relatif

Jari-jari circle yang diambil harus sedemikian sehingga sesuai dengan kecepatan rencana
serta tidak mengakibatkan adanya kemiringan tikungan yang melebihi harga maksimum pada
kondisi R min.

55
Kemiringan lengkungan tikungan maksimum dibedakan berdasarkan fungsi dari jalan
yang akan ditempat pada jalur menghubungkan antar kota atau pada jalur dalam kota tentunya
juga diperhatikan dari kondisi lingkungan medan, pengunaan elevasi melintang dapat
rekomendasikan untuk jalan antar kota ( e maksimum = 0,10) dan untuk jalan kota (e maksimum
= 0,08)

Besarnya jari-jari lengkung minimum dapat dikontrol berdasarkan rumus:


R = 0,033*V2
R min = dari table geometrik

Nilai R dibangun dari nilai dengan miring tikungan maksimum (e) dan koefisien gesekan
melintang maksimum.(f).
Dimana: R= jari-jari lengkung maksimum (m)
e= miring tikungan maksimum (persen)
fm= koefisien gesek maksimum
V= kecepatan rencana (km/jam)

56
TC CT
A B C

+10% KIRI

SB. JALAN

-2%

10% KANAN
A B C

+7%
-2% -2% -7%

A-A TC
+2%
-2% +10%

B-B -10%
C-C

Gambar ; Bentuk lengkung horizontal Spiral Circle Spiral


Data yang diperlukan pada saat rancangan lengkung bentuk spiral circle spiral ,antara lain:
PI. Sta.= nomor stasiun
d = jarak PI ke PI yang lain (m)
V = (ditetapkan) (km/jam)
Δ = (diukur dari gambar) (derajat)
R = (ditetapkan) (m)
Ls = panjang lengkung spiral (m)
Θs = lihat di tabel (derajat)
Ts = (R+p) Tg Δ ½ + k (m)
Es = (R+p) / sec ½ Δ- R c (m)
Lc = panjang lengkung circle (m)
e = kemiringan melintang (m/m person)
Jika mengunakan tabel

R(m) ---------> = ………………………………….(derajat)

R atau D dan v -> lihat tabel e maksimum, didapat : e = ….(persen)


Ls = …(m)
Panjang diukur dari titil awal TC sampai pada garis potong 2 arah jalan
Ts = (R+p) tg ½ Δ + k (m)
Garis pergeseran horizontal dati titik potong 2 arah jalan
57
Es = (m)

Δc = Δ - 2θs (derajat=….°)
Panjang lengkung circle
Lc = ((Δ - 2 Øs)/ 180) *3,14*R (m)
Panjang total cicle dan spiral
L = Lc + 2*Ls (m)
Ls = panjang Spiral (panjang lengkung TC - SC, CS - CT)
Lc = panjang lingkaran sircle ( panjang lengkung SC-CS)
Panjang bagian tikungan : L = 2Ls + Lc
L = panjang bagian tikungan

3. Lengkungan Spiral –Spiral (TS-ST)

Lengkung horizontal berbentuk spiral merupakan lengkung tanpa busur lingkaran, sehingga
titik spiral (Sp) berimpit dengan titik (Cs), dengan panjang busur Lc = 0, sehingga R yang dipilih
harus mendekati titik lengkung spiral. panjan Ls yang dibutuhkan lebih besar dari Ls yang
menghasilkan landai relative minimum yang disyaratkan.
Panjang lengkung peralihan Ls yang dipergunakan diperoleh dari persamaan:
Ls = Ls/ 2x Rs ( radial), untuk lengkung spiral dengan sudut 0s = ½. Δ terbangun pada kanan
kiri dari gambar lengkung pada titik PI. pengunaan rumusan lengkung bentuk spiral- lingkaran–
spiral dapat pula digunakan dengan memperhatikan hal kesamaan seperti syarat dan asumsi
diatas.
Dari perolehan Tabel Joseph Barnett sudut lengkung spiral diperoleh Os = ½ Δ, dapat
disederhanakan dan dipergunakan melalui Table Joseph Barnett, maka besaran besaran
hubungan koefisien x dan y dan harga koefisien p* dan k* dan data lainnya.

Panjang lengkung spiral dapat diperoleh


Os
Ls = xR ( m)
(180/2. *3,14)

58
Melalui Table yoseph Barnett nilai Ls minimum berdasarkan landai relative menurut pendekatan
dari nilai dinas marga adalah Ls = (e+en)*m8 ½*B, dimana m landai relative dalam meter, e =
kondisi hasil hitungan , en kondisi lereng normal., dan nilai B lebar jalur jalan. M = jarak
ergeseran dari tilungan pada posisi bukit
Control persyaratan lengkung peralihan spiral jika
1. Ls dihitung terjadi > dari Ls minimum maka Rc lengkung berbentuk spiral spiral dapat
dipergunakan
2. Panjang perjalanan selama 3 detik diperoleh rumus Ls min = 3 x 60x (1000/3000) =….
m, maka Ls > Ls min, maka Rc dapat dipergunakan.

59
Panjang Ts dihitung dari titik potong 2 arah jalan lurus (PI) sampai awal titik lengkung spiral

Ts = (Rc +p) tg 1/2 Δ +K

Nilai pergeseran horizontal Es = ((R c+p)/ sec Δ ½ )- R ( meter) atau

( R+ p )
Es = -R (meter)
cos ½ Δ

maka panjang lengkung spiral diperoleh L = 2* Ls a dilakukan control 2 Ls < 2 Ts, perlu
dipahami bahwa pada tilungan spiral spiral dimana Lc = circle adalah = 0 ini kurang baik karena
tidak ada jarak tertentu sebagai peralihan dalam panjang tikungan yang permukaan akan sama
miringnya

Dalam table yosep Barnet dengan sudut ( Os) diperoleh nilai besaran p* dan k*,dan x*,y*,
selanjutnya diperoleh nilai p = P* x Ls ( hasil perhitungan ) dan nilai k= k* x Ls, X= x*.Ls
dan y= y*.Ls

60
Pelebaran Perkerasan pada Tikungan

Pelebaran perkerasan pada tikungan diperlukan melalui hasil hitungan dengan mengunakan
parameter table pada peraturan BM no: 13/1970 dengan pedoman dari nilai1000/Rs, dan nilai
parameter lainnya b’, Td. Z ditentukan dengan membuat garis horizontal dan berpotongan pad
garis lengkung diperoleh b’ dan td sedangkan z dipotongkan sesuai kecepatan rencana (V) akan
diperoleh setelah memproyeksikan garis vertical untuk menentukan besaran parameter.

Lebat perkerasan jalan B = n *( b’ + c ) + ( n – 1 ) *Td+ . z

Dimana : B = Lebar pekerasan pada tikungan.


n = Jumlah jalur lalu lintas
b’ = Lebar lintasan kendaraan truk pada tikungan .
Td = Lebar melintang akibat ‘tonjolan depan
Z = lebar tambahan akibat kecerobohan dalam mengemudi
C = kebebasan samping = 0,8 m
A = tonjolan depan lihat =1,5 m

Parameter diambil dari buku PPGJR No 13 – 1970 hal 18; No 38-1979- SNi 2002
Untuk 1000/ R lingk = 1000/ (358) = 2,79 = 3 < 6
Kontrol lebar perkerasan pada tepi perkerasan tikungan;
Td = V* R2 + A * ( 2 p + A )- R
= V3582 + 1,5 ( 2. 6,5 + 1,5 ) – 358 = 0,031m

b’ = R - V R2 – p2 + 2.A = 358 - V 3582 -6,52 + 2. 1,5 = 3,059m


B = 4 ( 3,059 + 0,8)+ ( 4-1) 0,031 + 0,105 ( 100/ 100x 358) =
= 15,436 + 0,093 +0,555 = 16,08 m
Pada tikungan dibandingkan nilai pelebaran diperoleh B = 16.08 > B = 2x2x 3,75 = 15 m
Maka diperlukan pelebaran tepi perkerasan dalam tikungan ekstrem sebesar B’ = 1,08 m

Pada alignement horizontal yang memiliki sudut tajam lebih besar darisudut bearing 45, dan R
ditentukan lebih besar dari sandart R minimum, dengan hambatan pandangan pengemudi S > lc
dapat didekati dengan mengunakan R cicle.
Pada alignement horisontal dengan sudut bearing 300 pengunaan parameter alignement
mengunakan protype pilihan spiral cicle spiral, kelandaian melintang memasuki spiral berlanjut
ke circle bagian kiri hampir sama saat keluar titik tikungan cicle ke spiral.
61
Pada gambar dibawah ini contoh pengunaan hasil dari analisa BINA MARGA dimana LS
lengkung peraliahan digunakan perbandingan ¾ LS dan ¼ Ls, digambarkan dengan skala maka
akan diperoleh hubungan antara ukuran melintang jalan dan ketinggian kelerengan melintang
jalan pada masing masing letak bagian lengkungan yang dibatasi oleh jarak bertahap dari A, B,
TC, C dst.

TC CT
A B C

+10% KIRI

SB. JALAN

-2%

10% KANAN
A B C

+7%
-2% -2% -7%

A-A TC
+2%
-2% +10%

B-B -10%
C-C

Gambar : Posisi kemiringan melintang jalan dengan titik- titik lengkungan di tiap segmen
tikungan pad alengkung spiral dan circle

62
Contoh 1 Rancangan lengkung Spiral Circle spiral

Data perencana lengkung yang diperlukan dalam alignemet horizontal akan ditetapkan beberapa
criteria dasar sebagai berikut
 Kecepatan Rencana (Vr) = 100 km/jam.
 Miring tikungan Maksimum ( e = 0,10= 10 %)
 Miring tikungan normal (e = 2%)
 Faktor gesekan melintang permukaan jalnfm = ((- 0,000625 x 100) + 0,192) = 0,1295
 R minimum dalam meter
 sudut tikungan Δ= 300

Radius minimum atau derajat lengkung maksimum


Penentuan jari jari lengkung minimum dan maksimum, dari persamaan e+f = V2 /127 R
besarnya radius lengkung horizontal dipengaruhi oleh nilai e dan f serta nilai kecepatan rencana
yang ditetapkan. Ini menunjukan nilai radius minimum atau derajat lengkung maksimum untuk
nilai superelevasi maksimum dan koefisien gesekan maksimum, dengan artian lengkung
tertajam.
V2
Rmin = = 100 2 / 127* ( 0,10 + 0,1295) = 346,873 meter
127*( em + fm )

Dengan mengunakan rumusan D maks = 181913,53x ( e maks + f maks)/ V2, dan dapat pula
dicari dengan menentukan busur dari table ASHTO digunakan D = 1432,4 / R min, maka
diperoleh D rencana = 1432,4 /346,873 = 4,129 0 = 4.150 , dari daftar table diperoleh Ls = 100
m
Pada kondisi dimana tidak dibutuhkan kemiringan melintang jalan (e = 0) karena
lengkung tumpul, maka dibutuhkan super elevasi e normal sampai pada e maksimum mengikuti
garis lurus sampai posisi titik e maksmum agar gaya sentrifugal tidak memberikan kondisi kritis
bagi pengemudi.
Saat pada lengkung tikungan akan terjadi kondisi gaya sentrifugal yang timbul diimbangi oleh
kondisi kendaran dan kecepatan tertentu, maka perubahan superelevasi minimum ke titik
63
maksimum, akan terjadi gaya sentrifugal yang akan diimbangi pula oleh gaya gesek permukaan
jalan, selanjutnya akan menimbulkan kondisi gesekan f akan membesar maksimum dan nilai e
juga maksimum. kondisi terjadi pada tikungan kurang tajam, pengunaan kecepatan rencana
sangat diperlukan agar dapat memperoleh nilai e dan f dipadukan dengan nilai V kecepatan
rencana akan menghasilkan nilai D yang ideal satuan dalam derajat
Penentuan nilai lengkung spiral menunjukan kondisi dimana superelevasi mengalami
perubahan dari kondaisi normal pada kedua jalur jalan menuju datar dan normal pada salah satu
jalur jalan dan kondisi kemiringan pada kedua jalur jalan saat mencapai titik batas busur
lengkungan kritis. Besarnya nilai superelevasi yang dibutuhkan untuk setiap radius yang dipilih
pada kecepatan rencana tertentu dan pada kondisi superelevasi maksimum e = 10 %, dan dari
metode AASHTO dan Bina marga merekomendasi untuk dipakai superelevasi maksimum e =8
%.
Dicari Ls dari perhitungan, nilai Ls dapat mengunakan rumusan Modifikasi SHORTT.

V3 V. e
Ls = 0,022 x - 2,727
R. C C

1003 100.x 0,1


Ls = 0,022 x - 2,727 x = 90 m< Ls min = 100 m dalam table
346.873x0,4 0,4

Ketajaman lengkung circle ditentukan dari bagian lurus dari jalan memotong titik dari bagian
lurus jalan berikutnya perpotong kedua garis akan membentuk sudut perpotongan, bersimbul Δ.

Tentukan area circle

Rc = 0,067 x V 2 = 670 m > R renc = 350 m, > Rmin = 346,873 m

Dipakai Ls hitungan = 100 m, Rc = 670 m

Besar sudut spiral titik SC-- Os = 90 * Ls / Rc x 3,14 = 90 x 100 /(670 x 3,14) = 4 o 16’ 40,7 “
4.16.40.7 =4,16

Oc = Δ sudut lapangan busur – 2xOs = 30 - 2x 4 o 16’ 40.7 “ = 210 26’ 38,59"

64
Oc
Lc = x3.14 x R c = (210 26’ 39" /180) x 3,14 x 670 = 250,63m
0
180
L = lc + 2 x Ls = 250,63 + 2 x 100 m = 450,63 m

Ukuran pada garis pertemuan dua arah ditentukan melalui besaran secara analitis

Os2 Os4 Os6 .


X* = 1 - + -
10 216 9360

4.162 4,164 4,166


X* = 1 - + - = 0,95 m
10 216 9360

X = Ls x( 1 – (Ls2 /(40xRc2)) = 100 ( 1 – 100 2/ (40x6702) = 99,94 m


Y = Ls2 / ( 6xRc) = 1002 / ( 6x 670) = …2,48……. m
P = (Ls2 / 6xRc ) - Rc ( 1 – cos Os)
P = (1002 / (6x 670)) - 670 ( 1 – cos 40 16.40,7 ) = 0,62 m

Ls 3
k = Ls - - Rc * sin Os
40x Rc
100 3
= 100 - - 670x sin 4o 16’.40,7”
40 x 6703
k = 12,7 m

Garis puncak dari potongan dua arah jalan, pergeseran kearah dalam radius R jalan.

Es = ((Rc + p)/ Sec 30/2) – Rc dan atau Es =( Rc+p),Sec ½ Δ -Rc

= (670 + 2,05) sec 15 - 670 = 30,10 m


Ts = (R +p) x tg ½ Δ +k

=(670 + 2,05 )x Tg 15 + 12.7 = 290,165 m

Ordinat tengah M ditentukan

65
M = R x ( 1 – cos 30/2 ) = 670 x ( 1- cos 15) = 57, 79 m

Dari hasil hitungan diatas diperoleh dan dirangkum sebagai berikut

Spiral cicle spiral PI STA 4


V = 100 km/jam
Δ = 300
Os = 40 16’ 40,7”
Rmin = 346,81 m
Rc =670 m
Ts = 290,165 m
Lc = 14,83 m
Es =30,10 m
Ls = 100 m
L =450,65 m
X = 99,98 m
Y = 2,45 m
e max=10%
P* = 0,62 m
K* = 12,7 m
M = 57,79 m

Besaran hasil hitungan diatas dapat digambarkan pada posisi mendatar sebagai berikut. Perlu
diperhatikan pada pengaturan posisi lengkung peraliahan dapat digunaan 2 metoda dalam
pengambaran superelevasi. Dalam mengunakan pengambaran dari BINA MARGA pengunaan
LS dapat di sederhakan dengan ukuran ¾ kali Ls terhitung dari awal memasuki lengkung
peralihan dan dilanjutkan ¼ x Ls sampai mencapai titik memasuki lingkaran circle. Sedangkan
mengunakan AASHTO pengunaan LS dapat di sederhakan dengan ukuran 2/3 kali Ls terhitung
dari awal memasuki lengkung peralihan dan dilanjutkan 1/3 x Ls sampai mencapai titik
memasuki lingkaran circle.
66
TS

Es = 9,769 m
X

Lc = 95,975 m

Ls = 50 m Ls = 50 m

R = 239 m

?s = 5,99 ° ?s = 5,99°

?c = 23,02 °

R/60
Ki (+)

e
Sumbu Jalan

en = 71/50 en = 71/50
e = 2% e e = 2%
Ki=Ka=(+) Ki=Ka=(-)

LS LC LS

e e
0% 0%
en e en
e

TIKUNGAN KE KANAN : Ki(+).Ka(-)


TIKUNGAN KE KIRI : Ka(+).Ki(-)
en en en en en en

en en

DIAGRAM SUPER ELEVASI SPIRAL-CIRCLE-SPIRAL


SKALA 1 : 30

Gambar Superelevasi tikungan Jenis spriral Circle Spiral dengan unsure nilai jarak masing
masing bagian lengkungan
2 % 2 %

0 % 2 %

TANAH DASAR
LAPISAN PONDASI BAWAH/SUBBASE
LAPISAN PONDASI/BASE
LAPISAN PERMUKAAN

6 % 2 %

7.1 %
7.1 %

BAHU JALAN LEBAR PERKERASAN BAHU JALAN


2.50 M 2 X 3.50 M 2.50 M

SKALA 1 : 100

Gambar: Penampang melintang jalan dengan kelengkapan jalan


67
Contoh 2

Digunakan standart Bina Marga dalam Daftar I perencanaan Geometrik Jalan Raya, dimana data
diperoleh digambar lapangan. Jenis lengkung spiral Circle spiral, Membentuk Sudut akibat
perpotongan garis as jalan Δ = 30 o ,C = 0,4 m/det , Vr = 100 km/jam
Kecepatan untuk fungsi jalan arteri dan medan datar, dalam standart perencanaan geometrik
Departemen pekerjaan umum, Ditbina marga, kecepatan rencana V= 100 km/jam, diperoleh
batas jari jari Rc =1500 m.

Jari jari minimum (Rmin)

V2
Rmin = = 100 2 / 127 ( 0,10 + 0,129) = 346,818 meter
127 ( e + f)

Tentukan busur D = 1432,39 / R min = 1432,39 / 348,81 = 4,130

Lihat tabel Bina Marga D maks 4,13o diperoleh R table= 350,00 m


emax = 9,9 = 10 %
Ls = 100m

Dipakai R min = 348,81 m < R tabel =350 m, digunakan R tabel

Tentukan Ls
V3 V. e
Ls = 0,022 - 2,727
R. C C

1003 100. 0,1


Ls =0,022 - 2,72 x = 89,56 m > 100 m dipakai Ls 100 m
350 x 0,4 0,4

Digunkan R tabel

28,648 x 100
Os = = 8,1850 dikonversi dalam satuan derajat 80 18’54”
350

Oc = 30 – 2 x 80 18’54” = 10,04” dikonversi 130 62” 94”

68
Oc
Lc = x.r x R = ( 130 62’ 94 “/180 ) x 3,14 x 350 = 83,216 m
180

L = 2x Ls + Lc = 2 x 100 + 83,216 = 283,216 m


X = Ls ( 1 – Ls2 /(40.Rc2) = 100 - ( 1 – 100 2/ (40.3502) = 98,99 m
Y = ls / ( 6 x.Rc) = 1002 / ( 6x 350) = 4,761 m
p = (Ls2 / 6.Rc ) - Rc ( 1 – cos Os)
p = (1002 / (6x 350)) - 350 ( 1 – cos 8,180) = 1.199 m

100 3
k = 100 - - 350 sin 8,18o = 50,32 m
2
40 x 350

Ts = ( R + p ) tg Δ ½ +k

= ( 350 + 1,199 ) tg 15o + 50,32 = 144,42 m

(R+P)
Es = - Rc
cos ½ 30

= ( ( 350 + 1,199 ) / Cos Δ 15 )) – 350 = 13,58 m

kontrol lengkung titik S-C-S

Ts = 144,42 m < L = 283,23 maka dipakai Spiral -Circle - Spiral

Pelebaran perkerasan Tikungan Jalan

Pelebaran tikungan pada kanan dan kiri jalan dilakukan melalui pergesaran horizontal sejauh
jarak Ec sesuai lebar jalur yang direncanakan dengan maksud agar kendaraan saat memasuki
belokan maksimum roda tepi tidak keluar dari lajur jalan. Besaran dapat dicari mengunakan
rumusan

B = n ( b’ + c ) + ( n – 1 ) Td +. z

69
Dimana : B = Lebar pekerasan pada tikungan yang ditempati kend lajur
Dalam tilungan.
n = Jumlah jalur lalu lintas
b’ = Lebar lintasan kendaraan truk pada tikungan .
Td= Lebar melintang akibat ‘tonjolan depan
Z = lebar tambahan akibat kecerobohan dalam mengemudi
C = kebebasan samping = 0,8 m
P = jarak antar gandar = 6,5 m
A = tonjolan depan kendaraan = 1,5 m

Diambil dari buku PPGJR No 13 – 1970 hal 18; disederhanakan dalam tabel

Untuk 1000/ R = 1000/287 = 3,48 dibulatkan 4 < 6

Kontrol lebar perkerasan tepi tikungan;

Td = V R2 + A ( 2 p + A ) - R

= 100 x 2872 + 1,5 ( 2. 6,5 + 1,5 ) – 287 = 0,037 m

b’ = R - V R2 – p2 + 2.A = 287 - 100x 2872 -6,52 + 2x 1,5 = 3,0736 m

B = 4 ( 3,0736 + 0,8)+ ( 4-1) 0,037 + (0,105 ( 100/ 100x 287) ) = 4,161 m

= 15,49 +0,111 + 0,619 = 16,22 M

Pada tikungan dibandingkan nilai diperlukan pelebaran B = 16,22m > B = 2x2x3,75 = 15m,
maka pelebaran tepi dalam tikungan B “ = 1,22 m
Dari hasil hitungan diatas diperoleh dan dirangkum sebagai berikut

Contoh 3
Lengkung Spiral - spiral diperoleh data hasil hitungan sebagai berikut
V = 100 km/jam
Sudut perpotongan garis as jalan Δ = 300
Os = 80 18’ 54”
OC = 130 2” 24”
R = 350 m
Tt = 127,86m
Es = 13,58 m
70
Lc = 85,21 m
L = 283,262 m
P* = 1,199 M
K* = 50,32 m
X = 98,99 m
Y = 4,761 m
e max=10%
B = 1,22 m

Gambar lengkungan spiral Spiral

71
Contoh: Rancangan Alignemen Horizontal mengunakan Standar Perecanaan Geometrik,
dan Tabel Joseph Barnet
Data perhitungan tikungan pada gambar trase jalan:
∆ : 350 , sudut pertemuan arah jalan
V : 60 km/jam, kecepatan rencana
R : 239 meter, jari-jari lengkung rencana
C : 0,4, konstanta
D : Derajat penentuan kemiringan rencana
La : Panjang spiral
Lc : Panjang cyrcle
Gs : Sudut spiral
Gc : Sudut cyrcle

Menentukan derajat penentuan kemiringan rencana


1432,4
D =
RRe ncana

1432,4
=
210
= 6,82 = 60 49’ 15’’ (Tabel Yoseph Bernet)
Pada C maksimum = 0,4 diperoleh D = 60 49’ 15’’ adalah :
R = 220 meter R = 240 ---
e = 0,075 ≈ 7,5 % e=8%
Ls = 60 meter Ls = 50 meter
V3 V e
Ls m = 0,022   2,272 
RC C
 60 3 60  0,071
= 0.022   2,272 
239  0,4 0,4

= 56,57 – 24,20
= 32,37 < (Ls min ijin) < 50 m

72
V3 V e
Ls m = 0,022   2,272 
RC C
 60 3 60  0,071
= 0.022   2,272 
239  0,4 0,4

= 49,71– 24,20
= 25,51 < (Ls min ijin) < 60 m
Karena dari Ls m di atas tidak ada yang memenuhi maka dipakai Ls = 50 meter
Menghitung sudut spiral (θs)
28,648  Ls
θs =
R
28,648  50
=
239
= 5,990 = 50 59’24”
θc = ∆ - 2 x θc
= 350 – 2 x 5,990
= 23,020 = 230 1’12”
Dari daftar II Joseph Bernet, bagian-bagian dengan Ls yang sudah diketahui dengan nilai :
-
θs = 5,990
-
θc = 23,020
P : 0,00858
K : 0,49983
X : 0,99894
Y : 0,03430
T.Pa : 0,66704
T.Pc : 0,33367
T.bs : 0,99953
Karena Ls dipakai 50 meter, maka nilai daftar II Joseph Bernet di atas dikalikan 50 meter,
sehingga diperoleh :
P* : 0,00858 x 50 = 0,42900
K* : 0,49983 x 50 = 24,9915
X* : 0,99894 x 50 = 49,9470
73
Y* : 0,03430 x 50 = 1,71500
T.Pa* : 0,66704 x 50 = 33,3520
T.Pc* : 0,33367 x 50 = 16,6835
T.bs* : 0,99953 x 50 = 49,9765
Menghitung Lc dan Ts
c c
Lc =  2. .R atau  *. * .R
360 180
23,02
=  2  3,14  239
360
= 95,975 meter
L = Lc + 2.Ls
= 95,975 + 2 x 50
= 195,975 meter
Tt =Ts = (R + P*). tg ∆/2 + K*
= (239 + 0,42900). tg 35/2 + 24,9915
= 92,517 meter

Es =
R  P   R c

Cos / 2
 239  0,42900  239
=
Cos35 / 2
= 9,769 meter
Kontrol S-C-S
Tt = 92,517 meter < L = 195,975 meter maka dipakai Spiral -Circle - Spiral
Perhitungan Pelebaran tikungan pada lajur jalan
B = n (b’ + c) + (n – 1) Td + z
Dimana:
B = Lebar perkerasan pada tikungan (m)
n = Jumlah jalur lalu lintas
b’ = Lebar lintasan kendaraan truck pada tikungan (m)
Td = Lebar melintang akibat tonjolan depan (m)
z = Lebar tambahan akibat kelalaian dalam mengemudi (m)
74
c = Kebebasan samping (m) = 0,80 m
Dengan menggunakan Grafik I Pelebaran perkerasan pada tikungan pada PPGJR no
13/1970 halaman 18
1000 1000
  4,18
R 239
Diperoleh nilai :
b’ = 2.490
Td = 0,028
z = 0,4
n = direncanakan 2 jalur
Maka nilai B adalah :
B = n (b’ + c) + (n – 1) Td + z
= 2.(2.490 + 0,80) + (2 – 1).0,028 + 0,4
= 6,58 + 0,428
= 7,008 meter
Mengacu pada daftar PPGJR klasifikasi jalan IIB, lebar perkerasan 2 x 3,5 m = 7 meter
(PPGJR no 13/1970 halaman 15). Pada tikungan dibandingkan nilai diperlukan pelebaran
karena B = 7,008 meter > B = 2 x 3,5 = 7 meter. Pelebaran tepi dalam tikungan B” =
0,008 meter.

Dari hasil hitungan di atas diperoleh dan dirangkum sebagai berikut:


Spiral Circle Spiral PI
V = 60 km/jam
∆ = 350
Θs = 5,990
Θc = 23,020
R = 239 meter
Tt = 92,517 meter
Ec = 9,769 meter
Lc = 95,975 meter

75
L = 195,975 meter
p* = 0,42900 meter
k* = 24,9915 meter , x = 49,9470 meter, Y = 1,71500 meter, e max= 10 %, B’= 0,008 m

TS

Es = 9,769 m
X

Lc = 95,975 m

Ls = 50 m Ls = 50 m

R = 239 m

?s = 5,99 ° ?s = 5,99 °

?c = 23,02 °

R/60
Ki (+)

e
Sumbu Jalan

en = 71/50 en = 71/50
e = 2% e e = 2%
Ki=Ka=(+) Ki=Ka=(-)

LS LC LS

e e
0% 0%
en e en
e

TIKUNGAN KE KANAN : Ki(+).Ka(-)


TIKUNGAN KE KIRI : Ka(+).Ki(-)
en en en en en en

en en

DIAGRAM SUPER ELEVASI SPIRAL-CIRCLE-SPIRAL


SKALA 1 : 30

Gambar . Diagram Super Elevasi tikungan Spiral-Circle-Spiral

76
2% 2%

0% 2%

TANAH DASAR
LAPISAN PONDASI BAWAH/SUBBASE
LAPISAN PONDASI/BASE
LAPISAN PERMUKAAN

6% 2%

7.1 %
7.1 %

BAHU JALAN LEBAR PERKERASAN BAHU JALAN


2.50 M 2 X 3.50 M 2.50 M

SKALA 1 : 100

Gambar Potongan Penampang Melintang Jalan dengan bagian kelengkapan jalan

Berikut contoh dari Tabel pendukung untuk menentukan besaran nilai dari masing masing
bagian lengkung horisontal. (PPGJR/1970. Dirjen Bina Marga) untuk membantu mengetahui
persyaratan dari tikungan jalan raya disajika pada daftar 1, standar perencanaan alignemen,

77
Sumber PPGJRNo 13/1970/dirjen Bina Marga

Sumber :PPGJR no 13/1970 Dirjen Bina Marga

78
STANDAR Ls DAN KEMIRINGAN MELINTANG JALAN

Sumber : PPGJR Dirjen Bina Marga dan AASHTO 1960

79
STANDAR UKURAN KEBEBASAN SAMPING JALAN SISI KIRI DAN KANAN

Gambar Kebebasan Samping Pada jalan Raya (kebebasan sisi Kiri dan Kanan Jalan)

GRAFIK HUBUNGAN KECEPATAN JARI JARI LENGKUNG LEBAR PERKERASAN,


LEBAR MELINTANG AKIBAT TONJOLAN DEPAN KENDARAAN DAN KEBEBASAN
SAMPING

80
Grafik Pelebaran Jalan Pada Tikungan berdasarkan nilai hubungan jari jari Lengkung

Gambar Grafik Penentuan Kebebasan Samping pada tikungan sumber PPGJR/1970 Dirjen Bina
Marga

81
Contoh Nilai perolehan besaran p,k,x dan y dari Yoseph Barnet untuk membantu mengetahui
ukuran jarak dari bagian lengkungan horisontal

82
83
Lanjutan

84
85
Lanjutan

86
Sumber : Yoseph Barnet transportation curver for highway

87
Contoh Bentuk Lengkungan horisontal

Data perencana yang diperlukan;


 Kecepatan Rencana (Vr) = 100 km/jam.
 Miring tikungan Maksimum ( e = 0,10)
 Miring tikungan normal (e = 2%)
 Faktor gesekan melintang ( fm = 0,19 – 0,000625 x (V) 100) = 0,127
 Sudut bearing Δ 100
 Direncanakan lingkaran sederhana

CARA I : Analisa

Penentuan jari jari lengkung

V2
Rmin = = 100 2 / 127 ( 0,10 + 0,127) = 248,8 meter < Batas R 2000 m
127 ( em + fm )

Maka perlu lengkung peralihan

Tentukan busur D max = 1432,39 / R min = 1432,39 / ( 248,81 ) = 5,756

D = 1432,39 / R jika R =ditentukan dilapangan 409m peta countour > lebih besar dari
Rmin =248,81 m, maka nilai
D = 1432,39/409 = 3,502
Menentukan kemiringan maksimum jalan

e max 2 e max
2
e= D + D
D2 max D max

0,10 2 x0,10
e=- 3,5022 + 3,502 = 0.158 = 15,8 % dalam kota 10 %. Luar
kota 8 %
5,7562 5,756

=15,8 % dipakai e maks = 10 %

88
Ls minimum
Ls min = ( e + e n ) ½. B x m

B lebar perkerasn jalan = 7,5 m , panjang pandangan m = 160 m

Ls min = (0,10 +0,02 )x ½ 7.5 x 160 = 142,28 M

1003 100. 0,099


Ls min = 0,022 - 2,727 = 153,50 m > Ls table 100 m
248,81 x0,4 0,4

jika :
R = 409 m Ls = (0s x r x R ) / 90 =( 5 x 3,14x 409 )/ 90 =71,34 m
Jika dicari R
R = 0,067 x V2 = 670 m Ls = (0s x r x R ) / 90 = ( 5 x 3,14 x 670 )/ 90
=116,87 m
Jika dipakai
lsmin = 153,5 m R = 153,5 x 90 / ( 5 x 3,14) = 879,9 = 880 m

L s = ls min= 153,5 m, diperoleh R = 880 m, maka nilai

p = (ls2/ 6.R ) x (1-cos ½ Δ )


p = (1532 / 6 x 880 ) x (1-cos ½ 10) = 0,02m
Ls2
k = ls - - R x. sin ½ Δ
40 x R2

153.502
k = 153,50 - - 880 .x sin 5 = 76,80 m
40 x 8802

Ts = ( 880 + 0,02) x tg ½ Δ + 76,80 m = 153,79 m

Ec= (880 + 0,02) sec ½ 10 – 880 = 3,36 m

Ordinat tengah M

M = 880 ( 1 – cos Δ 10/2 ) = 880 ( 1- cos 5) = 3,35 m

89
Hasil diperoleh dan dirangkum untuk dilakukan pengambaran

Tc = 153,47 m ; k =76,80 m ; R = 880 m


Ec = 3,36 m
Ls = 153,50 m
M = 3,35 m
L = 307,013
p = 0,02 m

Contoh bentuk lengkung Spiral spiral

90
Digunakan standart bina marga No 13 -1977 dalam Daftar I standart geometrik jalan sesuai
fungsi Sudut pertemuan garis potong arah lurus Δ = 10 o
, nilai C = 0,4, kecepatan rencana Vr = 100 km/jam
Kecepatan untuk fungsi jalan arteri dan medan datar, dalam standart perencanaan geometrik
departemen pekerjaan umum, bina marga, kecepatan 100 km/jam baras jari jari peralihan 1500
m.

Jari jari minimum


V2
Rmin = = 100 2 / 127 ( 0,10 + 0,127) = 248,818 meter
127 ( e + f)

Tentukan busur D = 1432,39 / R min = 1432,39 / 248,818 = 5,756

D = 1432,39 / R diperolah R = ditentukan 409 > lebih besar dari Rmin =248,81 m
Dicari nilai D = 1432,39/409 = 3,502

e max 2 e max
e=- D2 + D
2
D max D max

0,10 2 x0,10
91
e=- 3,5022 + 3,502 = -0,036 + 0,122
2
5,76 5,76
= 0,158 = 15,8 % dipakai maksimum e = 10 %

Ls minimum
Ls min = ( e + en ) B. m

B = 7,5 m , panjang pandangan m = 160 m

Lsmin = (0,10 +0,02 ) 7,5 x 160 = 142,28 m

1003 100.x 0,10


Ls = 0,022 - 2,727 = 153,50 m > 100 m
248,81 x0,4 0,4

jika dilakukan.:
R = 409 m Ls = (0s x r x R ) / 90 =( 5 x 3,14 x 409 ) / 90 =71,34 m

R = 0,067 x V2 =670 m Ls = (0s x r x R ) / 90 = ( 5 x 3,14x 670 )/ 90

=116,87 m

ls = 153,5 m R = 153,5 x 90 / ( 5x 3,14) = 879,9 = 880 m

L s = ls min= 153,5 m

P = (ls2/ 6.R ) x (1-cos ½ Δ )


P = (1532 / 6. 880 ) x (1-cos ½ 10) = 0,02m
Ls2
k = ls - - R . sin ½ Δ
40 x R2

153.502
k = 153,50 - - 880 . sin 5 = 76,80 m
40 x 8802

Ts = ( 880 + 0,02) tg ½ 10 + 76,80 m = 153,79 m

Es= (880 + 0,02) sec ½ 10 – 880 = 3,36 m

Ordinat tengah M
M = 880 ( 1 – cos 10/2 ) = 880 ( 1- cos 5) = 3,35 m

92
Diperoleh ; Ts = 153,47 m k =76,80 m
R = 880 m
Es = 3,36 m
Ls = 153,50 m
M = 3,35 m
L = 307,013
P = 0,02 m

Pelebaran tikungan pada sisi kanan dan kiri dimana letak titik pergeseran horosontal pada
jarak sejauh Ec

B = n ( b’ + c ) + ( n – 1 ) Td+ . z

Dimana : B = Lebar pekerasan pada tikungan.


n = Jumlah jalur lalu lintas
b’ = Lebar lintasan kendaraan truk pada tikungan .
Td= Lebar melintang akibat ‘tonjolan depan
Z = lebar tambahan akibat kecerobohan dalam mengemudi
C = kebebasan samping = 0,8 m

Diambil dari buku PPGJR No 13 – 1970 hal 18;


Untuk 1000/ R = 1000/358 = 2,79 3 <6
Kontrol lebar perkerasan pada tepi tikungan;
Td = V R2 + A ( 2 p + A ) - R
= V3582 + 1,5 ( 2. 6,5 + 1,5 ) – 358 = 0,031m
b’ = R - V R2 – p2 + 2.A = 358 - V 3582 -6,52 + 2. 1,5 = 3,059m
B = 4 ( 3,059 + 0,8)+ ( 4-1) 0,031 + 0,105 ( 100/ V 358) =
= 15,436 + 0,093 +0,555 = 16,08 m
Pada tikungan tidak diperlukan pelebaran B = 16.08m > B 2x2x 3,75
Maka diperlukan pelebaran tepi perkerasan dalam tikungan = 1,08 m

93
Keterangan :
Pada alignement horisontal dengan sudut bearing 300 pengunaan parameter alignement
mengunakan protype yang sama, kelandaian hampir sama.

Gambar : Bentuk lengkungan spriral spiral dan superelevasi dari masing masing segmen
lengkungan.

Rangkuman

94
1. Alignement horizontal dibentuk didasarkan pada faktor lahan dan arah jalan mengalami
pembelokan tentu memerlukan perlakuan akibat adanya tataguna lahan disekitar jalan dan
fasilitas yang telah ada.
2. Tikungan diperlukan lengkungan dari segmen jalan yang dibentuk oleh jari jari tikungan
minimum dan maksimum.
3. Kemiringan melintang pada tikungan jalan dapat diistilahkan landai relative melintang
jalan, ditentukan dari panjang jari jari minimum ( R min) dan angka geseran permukaan
jalan akibat gaya dorong kesamping keluar dari jalur ‘ gaya centrifugal’ pada tikungan
4. lengkung peralihan pada bagian tikungan untuk merubah arah dari arah lurus yang
mempunyai jari-jari tak terhingga ke jari-jari tertentu saat memasuki (tikungan).
5. Bentuk alignemen horizontal berupa jenis lengkungan atau tikungan dapat
dikelompokan atas 3 (tiga) bentuk lengkungan /tikungan yaitu: Lengkung lingkaran
sederhana Full circle,Lengkung busur lingkaran dengan lengkung peralihan Spiral –
circle – spiral ( S-C-S).Lengkung peralihan Spiral -Spiral (S-S)

Pertanyaan
1. Jelaskan maksud dari alignemen horizontal jalan?
2. Factor yang menentukan alignemen horizontal jalan meliputi ?
3. Sebutkan ciri dari masing –masing bentuk alignemen horizontal ?
4. Hitunglah ulang contoh dari alignemen horizontal.

Kepustakaan
1. Amirican Association of state Higway and Transportasi Officials ( AASHTO), 1987,
Highway Drainage Guidelines.
2. Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jnderal Bina Marga, 1997. Tat Cara
Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota no:038/T/BM/1997
3. Mannering,F.,Kilareski Walter,P.,Wasburn Scott,S.,Highway Enginering. 7 edition 2005,
John wiley & Son, Inc.All Right Reserved, UK

95
96