Anda di halaman 1dari 9

Lex et Societatis, Vol. II/No.

6/Juli/2014

PERAN PEMERINTAH DALAM UPAYA pelaporan. Berbagai instrumen tersebut


PEMBERANTASAN KORUPSI menunjukkan komitmen pemerintah dalam
KAITANNYA DENGAN upaya pemberantasan tindak pidana
UNDANG-UNDANG NO. 32 TAHUN 20041 korupsi. 2. Upaya penegakan hukum dalam
oleh : Samuel Mangapul Tampubolon2 meningkatkan kesadaran dan pemahaman
hukum bagi masyarakat khususnya dalam
pemberantasan korupsi yakni, tindakan
ABSTRAK represif. Pendekatan represif berupa
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah penindakan dan penanganan terhadap
untuk mengetahui bagaimana Upaya terjadinya tindak pidana korupsi dilakukan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi secara profesional dan proporsional. Upaya
menurut kaitannya dengan Undang-Undang Preventif, berupa sanksi pidana terhadap
No. 32 Tahun 2004 dan bagaimana Upaya pelaku kejahatan, yang mengedepankan
Penegakan Hukum Bagi Masyarakat pada aspek keseimbangan kepentingan dan
Khususnya Dalam Pemberantasan Korupsi. pemulihan keadaan yang diakibatkan
Metode penelitian yang digunakan dalam adanya pelanggaran hukum.
penulisan skripsi ini adalah: 1. Upaya yang Kata kunci: Upaya, Pemberantasan,
dilakukan pemerintah dalam Korupsi.
pemberantasan korupsi di daerah yakni
dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 5 PENDAHULUAN
Tahun 2004 tentang percepatan A. Latar Belakang
pemberantasan korupsi. Dalam rangka Dalam kehidupan sehari-hari manusia
mewujudkan pemerintahan yang bersih sering dihadapkan pada suatu kebutuhan
dan bebas KK sebagaimana tertuang dalam yang mendesak, kebutuhan pemuas diri.
visi dan misi strategi nasional dan rencana Bahkan, kadang-kadang kebutuhan itu
aksi nasional pemberantasan korupsi timbul karena keinginan atau desakan
(Stranas dan RAN PK) 2010-2005. Peraturan untuk mempertahankan status diri. Secara
Pemerintah No. 5 Tahun 2010 tentang umum kebutuhan setiap manusia itu akan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah dapat dipenuhi, walaupun tidak seluruhnya,
(RPJM) 2010-2014 yang diarahkan pada dalam keadaan yang tidak memerlukan
perbaikan tata kelola pemerintah yang baik desakan dari dalam atau dari orang lain.3
melalui 7 (tujuh) strategi berkaitan upaya Sejalan dengan perkembangan kehidupan
pemberantasan, upaya pemberantasan sosial dengan kebutuhan hidupnya yang
korupsi massive dan semakin efektif. semakin kompleks, setiap individu ingin
Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2011 merasakan kenikmatan hidup di dunia ini
tentang Rencana Aksi Pencegahan dan dengan nyaman.
Pemberantasan Korupsi Menetapkan 6 Salah satu isu yang paling krusial untuk
(enam) strategi yaitu Strategi bidang dipecahkan oleh bangsa dan pemerintah
pencegahan, penindakan harmonisasi Indonesia adalah masalah korupsi. Hal ini
peraturan perundang-undangan, disebabkan semakin lama tindak pidana
penyelamatan aset hasil korupsi, kerjasama korupsi di Indonesia semakin sulit untuk
internasional dan strategi bidang diatasi. Maraknya korupsi di Indonesia
disinyalir terjadi di semua bidang dan
1
Artikel Skripsi. Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Telly sektor pembangunan. Apalagi setelah
Sumbu, SH, MH., Leonard S. Tindangen, SH, MH,
3
Cobi E. Mamahit, SH, MH R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia
2
NIM. 00711064. Mahasiswa Fakultas Hukum Edisi Revisi, PT. RajaGradindo Persada, Jakarta,
Universitas Sam Ratulangi, Manado 2012, hlm. 171.

138
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

ditetapkannya pelaksanaan otonomi daerah. Sebuah perubahan struktur


daerah, berdasarkan Undang-Undang pemerintahan dan politik akan
Nomor 22 Tahun 1999 tentang mempengaruhi tingkah laku aktor politik
Pemerintahan Daerah yang diperbaharui dan mekanisme kebijakan serta efek politik
dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun yang ditimbulkan. Belum lagi dengan
2004, disinyalir korupsi terjadi bukan hanya rapuhnya aturan legal formal dan belum
pada tingkat pusat tetapi juga pada tingkat komprehensif pelembagaan penegakan
daerah dan bahkan menembus ke tingkat hukum di daerah, semakin menambah
pemerintahan yang paling kecil di daerah. carut-marutnya pelaksanaan otonomi di
Otonomi dan desentralisasi pada daerah.4
hakikatnya merupakan pemberian Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak
kewenangan, yang sebelumnya hanya tinggal diam dalam mengatasi praktek-
dimiliki oleh pemerintah pusat kepada praktek korupsi. Upaya pemerintah
pemerintah daerah. Pada satu sisi, otonomi dilaksanakan melalui berbagai kebijakan
daerah telah memberikan andil bagi berupa peraturan perundang-undangan
peningkatan kehidupan berbangsa dan dari yang tertinggi yaitu Undang-Undang
bernegara di republik ini. Atas nama Dasar 1945 sampai dengan Undang-Undang
otonomi daerah, terjadi transformasi politik tentang Komisi Pemberantasan Tindak
dan penyebaran kekuasaan yang tidak Pidana Korupsi. Selain itu, pemerintah juga
hanya terpusat seperti di kala Orde Baru, membentuk komisi-komisi yang
melainkan merambah ke daerah-daerah berhubungan langsung dengan pencegahan
dengan kewenangan yang dimiliki dan pemberantasan tindak pidana korupsi
Bupati/Walikota di wilayah kabupaten dan seperti Komisi Pemeriksa Kekayaan
kota. Melalui otonomi daerah, para kepala Penyelenggara Negara (KPKPN) dan Komisi
daerah dapat leluasa menentukan Pemberantasan Korupsi (KPK). 5
kebijakan publiknya dalam mendorong roda
perekonomian dan menggairahkan geliat B. Perumusan Masalah
investasi di daerah. 1. Bagaimana Upaya Pemberantasan
Memang patut diakui, bahwa otonomi Tindak Pidana Korupsi menurut
daerah bukan merupakan satu-satunya kaitannya dengan Undang-Undang No.
penyebab menyebarnya korupsi ke daerah- 32 Tahun 2004?
daerah. Banyak faktor lain yang juga 2. Bagaimana Upaya Penegakan Hukum
berkontribusi mewabahnya endemik Bagi Masyarakat Khususnya Dalam
korupsi, baik menyangkut aspek moral dan Pemberantasan Korupsi?
integritas, sistem politik, administrasi
keuangan dan pemerintahan, maupun C. Metode Penelitian
aspek tata laksana dan produk legislasi Metode penelitian yang digunakan
serta penegakan hukumnya. Begitu pula dalam penyusunan skripsi ini adalah
halnya dengan eksistensi civil society yang dengan menggunakan pendekatan
diharapkan menjadi kekuatan kontrol penelitian yuridis normatif atau norma
terhadap penyelenggara pemerintahan di hukum yang erat dengan peraturan
daerah, malah tidak cukup mampu perundang-undangan yang berlaku.
membendung derasnya “money politic” dan
menguatnya “patron-client system” dalam 4
D. Andhi Nirwanto, Otonomi Daerah versus
pelaksanaan pembangunan di daerah. Desentralisasi Korupsi, Aneka Ilmu, Semarang, 2013,
Sebagian kalangan menganggap bahwa hlm. 4
5
perubahan institusional yang cepat juga Yogi Suwarno, Strategi Pemberantasan Korupsi,
berpengaruh terhadap pelebaran korupsi di Pusat Kajian Administrasi Internasional, LAN RI,
Jakarta, 2006, hlm. 94.
139
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

PEMBAHASAN menjadikan salah satu faktor mewabahnya


A. Upaya Pemberantasan Tindak Pidana korupsi di jajaran legislatif dan eksekutif.
Korupsi di Daerah Kedua, pelaksanaan Pemilihan Umum
Dalam menjelaskan fenomena korupsi di Kepala Daerah (Pemilukada) dan salah
daerah, banyak variabel dan berbagai kaprahnya implementasi otonomi daerah,
faktor yang mempengaruhinya. Setidaknya menjadikan maraknya korupsi yang
ada beberapa indikator yang dapat dipakai melibatkan para pejabat daerah. Otonomi
untuk menjelaskan maraknya korupsi di daerah yang tidak diikuti peningkatan
berbagai sektor baik legislatif, eksekutif partisipasi dan pengawasan masyarakat
maupun yudikatif, yang juga merambah menjadi salah satu penyebab semakin
pada sektor swasta, dan pejabat asing. banyaknya korupsi di daerah, sehingga
Pertama, korupsi yang terjadi di otonomi daerah malah menguatkan oligarki
lingkungan legislatif dan eksekutif baik di tingkat lokal melalui persekongkolan elite
dipusat maupun daerah dewasa ini, tidak atas dasar ikatan keluarga (nepotisme),
terlepas dari kecenderungan DPR/DPRD kesukuan (primordial yang sempit) hingga
yang lebih banyak memerankan fungsi asosiasi bisnis (kolusi) dalam menguras
“budgeting” daripada fungsi legislasi dan anggaran daerah untuk kepentingan
pengawasan. Pada saat ini terdapat trends pribadinya masing-masing. Bahkan otonomi
dari kementerian dan lembaga pemerintah seakan-akan merupakan upaya
pusat/daerah untuk melakukan berbagai memindahkan korupsi yang dulu marak di
“pendekatan” dalam rangka pembahasan pusat ke daerah dan menyuburkan kolusi
rencana anggaran institusinya dengan DPR/ antara pejabat daerah dengan para
DPRD. Apabila tidak diwaspadai, fenomena pengusaha hitam, melalui commitment fee
tersebut sangat rentan dan rawan atau sistem ijon dalam pelaksanaan suatu
menciptakan suap-menyuap karena proyek daerah. 7
masing-masing akan berusaha dengan Pola Pemilukada yang membutuhkan
berbagai cara untuk menggolkan rencana banyak biaya, menjadikan titik rawan
anggaran institusinya masing-masing.6 munculnya money politic yang menjadi
Apabila pengajuan anggaran saja awal tumbuhnya persekongkolan antara
menimbulkan berbagai kerawanan, maka pejabat daerah dengan pengusaha hitam.
dikhawatirkan dapat berimbas pula Biasanya dalam dua tahun terakhir masa
terhadap implementasi penggunaan jabatannya, pejabat yang akan
anggaran dimaksud. Terlebih lagi dengan mencalonkan menjadi kepala daerah lagi
lemahnya pengawasan dan buruknya atau incumbent (petahanan) akan jorjoran
akuntabilitas di berbagai instansi, mencari uang dari proyek dan mencari
pengusaha hitam yang mau mensponsori
susksesi kepemimpinannya, padahal tidak
6
Fenomena tersebut sebagaimana terungkap dari ada “makan siang” yang gratis.
korupsi oleh Bupati Dompu Abubakar, yang Ketiga, implementasi sistem
menggunakan APBD untuk memuluskan turunnya “desentralisasi” dan “dekonsentrasi” telah
dana dari pusat. Hanya saja pengusutan oleh KPK menimbulkan dampak pemekaran daerah
saat itu, tidak secara menyeluruh dapat baru. Dalam pidato pengantar Nota
membongkar keterlibatan pejabat dan calo di pusat
yang dikucuri dana APBD oleh Abubakar. Demikian Keuangan RAPBN tahun 2012 di depan
pula halnya dengan penyidikan yang dilakukan oleh sidang paripurna DPR RI dan DPD RI tanggal
Kejaksaan Negeri Ciamis, secara tidak langsung telah
7
menunjukkan bahwa “lobby” dalam hal alokasi Hadi Supeno, Korupsi di Daerah; Kesaksian,
anggaran dari pusat menjadi fenomena yang Pengalaman dan Pengakuan, Total Media,
kerapkali mewarnai kiprah pemerintahan di daerah. Yogyakarta, 2009, hlm. 53-54.

140
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

16 Agustus 2011, Presiden RI Susilo Ketidakjelasan sumber dana dan besaran


Bambang Yudhoyono, antara lain alokasi dana kegiatan dan proyek yang
menyampaikan bahwa sejak tahun 1999 dilaksanakan terlebih dahulu, menjadikan
hingga sekarang terdapat adanya salah satu pemicu terjadinya berbagai
pemekaran daerah baru sebanyak 205 yang penyimpangan dalam pengelolaan
terdiri dari 7 propinsi, 164 kabupaten dan anggaran di daerah. Selain itu masih terjadi
34 kota.8 pada akhir tahun anggaran proyek yang
Keempat, instrumen hukum dalam belum selesai telah direkayasa sedemikian
pengelolaan keuangan daerah yang rupa seolah-olah sudah selesai sebagai
beragam dan menimbulkan peluang syarat pembayaran.
terbukanya multi tafsir. Dikeluarkannya
paket undang-undang di bidang keuangan B. Penegakan Hukum Bagi Masyarakat
negara yang diikuti oleh berbagai peraturan Khususnya Dalam Pemberantasan
pelaksanaannya, pada dasarnya Korupsi
dimaksudkan untuk menciptakan tertib Efektifitas penegakan hukum tidak
anggaran sesuai dengan semangat hanya ditentukan oleh faktor aparat
reformasi manajemen keuangan dan penegak hukum semata, melainkan juga
otonomi daerah. Akan tetapi pada sisi yang ditentukan oleh faktor perundang-
lain, terdapat kesulitan dalam keseluruhan undangan (legal substance) dan faktor
siklus keuangan pemerintah daerah, mulai budaya hukum (legal culture). Selain ketiga
dari penyusunan anggaran dan faktor tersebut, Romli Atmasasmita
pengesahannya sampai pada tahap memandang adanya faktor lain yang
penyusunan laporan keuangan. memegang peranan penting dalam konteks
Dalam hal Peraturan Menteri Dalam fungsi dan peranan hukum dalam
Negeri No. 13 Tahun 2006 misalnya, yang pembangunan, yaitu pemberdayaan
antara lain mengatur bahwa DPRD birokrasi (bureucratic engineering).9
mengeluarkan Kebijakan Umum Anggaran Adapun pilar-pilar penting penegakan
(KUA) yang mirip dengan Arah Kebijakan hukum, khususnya dalam rangka
Umum (AKU) melalui program dan kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi yang
yang jauh lebih rinci. Di sisi yang lain, perlu mendapat perhatian, yakni :
Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 29
Tahun 2006 mengamanatkan agar DPRD 1. Peraturan Perundang-Undangan
juga menyiapkan AKU, yang berfungsi Secara objektif, norma hukum yang
sebagai panduan kebijakan umum bagi hendak ditegakkan mencakup pengertian
eksekutif dalam menyusun rencana hukum formal dan hukum materiel.
anggaran (RAPED). Hal ini akan Pertama, hukum formal (tertulis) hanya
menghasilkan rancangan anggaran yang bersangkutan dengan peraturan
dihasilkan akan terlihat berbeda dengan perundang-undangan yang tertulis baik
KUA, sehingga terkadang menimbulkan dalam lingkup peraturan perundang-
konflik antara DPRD dan eksekutif. undangan formil yakni UU No. 8 Tahun
Kelima, tertundanya pengesahan APBD 1981 tentang Hukum Acara Pidana; dan
merupakan fenomena yang kerapkali peraturan perundang-undangan hukum
terjadi, sehingga banyak kegiatan dan materiil yakni UU no. 31 Tahun 1999 jo. UU
proyek yang dilaksanakan di daerah no. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan
ditalangi dahulu oleh “biaya siluman”. Tindak Pidana Korupsi dan peraturan
8 9
Pidato Kenegaraan Presiden RI Susilo Bambang Romli Atmasasmita, Globalisasi dan Kejahatan
Yudhoyono dalam sidang Paripurna DPR RI dan DPD Bisnis, Kencana Prenada Media, Cetakan Pertama,
RI tanggal 16 Agustus 2011. Jakarta, 2010, hlm. 17.
141
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

perundang-undangan lainya yang terkait. korupsi mengingat areanya yang teramat


Kedua, hukum materiel (tidak tertulis) luas bahkan dapat dikatakan tak terbatas,
mencakup pula pengertian nilai-nilai sebagaimana Pasal 31 ayat (2) RUU PPTPK.
keadilan yang hidup dalam masyarakat. Permasalahan yang sering muncul
Indonesia sebagai negara peratifikasi terkait adanya beberapa instansi
United Nation Convention Against penyelidik/penyidik tindak pidana korupsi
Corruption (UNCAC) Tahun 2003, maka yakni Kepolisian, Kejaksaan dan KPK adalah
harmonisasi peraturan perundangan adanya tumpang tindih dalam pelaksanaan
nasional terkait pemberantasan tindak penyelidikan/penyidikan, masih adanya
pidana korupsi dengan konvensi tersebut, arogansi dan sikap saling curiga antar
merupakan acuan utama arah instansi penyidik, adanya persepsi yang
pemberantasan korupsi ke depan, berbeda terhadap beberapa ketentuan
mengingat tindak pidana korupsi peraturan perundangan, adanya perbedaan
merupakan transnasional crime. kewenangan yang diberikan oleh undang-
Terkait hukum acara pidana dalam undang, adanya perlakuan berbeda oleh
praktik seringkali sudah tertinggal dengan negara terkait kesejahteraan penyidik dan
perkembangan teknologi informasi, lain-lain, untuk itu diperlukan adanya
misalnya sarana persidangan dengan sinergitas.
menggunakan teleconference, alat bukti Kedua, tugas dan fungsi penuntutan
elektronik, rambu-rambu penyadapan (wire tindak pidana korupsi. Secara praktis
tapping) belum diatur dalam hukum acara pengendalian penuntutan yang dilakukan
pidana. Dalam praktik yang berjalan selama oleh dua lembaga yang berbeda akan
ini terkait hal-hal dimaksud adalah berdasar memunculkan disparitas tuntutan pidana
aturan-aturan khusus dalam berbagai karena tidak adanya pedoman tuntutan
peraturan perundangan misalnya UU pidana yang jelas. Patokan yang digunakan
Terorisme, UU Pemberantasan Tindak selama ini hanyalah ketentuan minimal
Pidana Korupsi, UU Pencucian Uang, UU khusus dan maksimal khusus dalam setiap
Informasi dan Transaksi Elektronik yang rumusan tindak pidana dalam UU PTPK,
secara sepintas memberikan aturan terkait misalnya pidana penjara minimal 1 tahun
hukum acara pidana. Realitas tersebut dan maksimal 20 tahun. Rentang sanksi
membuktikan bahwa UU No. 8 Tahun 1981 pidana tersebut demikian lebar sehingga
tentang Hukum Acara Pidana semestinya berbagai kemungkinan tuntutan pidana
sudah harus segera direvisi. bisa terjadi, belum lagi terkait dengan
pengenaan pidana denda, kurungan
2. Aparatur Penegak Hukum pengganti denda dan pidana tambahan.
Dalam kaitan arah pemberantasan Selain itu secara praktis pula dengan
korupsi ke depan maka peraturan berlakunya Undang-Undang No. 46 Tahun
perundangan mengenai aparatur penegak 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana
hukum haruslah dilakukan harmonisasi, Korupsi yang menyatakan bahwa
terutama berkaitan dengan 2 (dua) hal. Pengadilan Tipikor bukanlah pengadilan
Pertama, tugas dan fungsi yang secara khusus memeriksa dan
penyelidikan/penyidikan. Semakin banyak memutus perkara-perkara hasil penyidikan
penyelidik/penyidik tindak pidana korupsi KPK, karena hasil penyidikan dari Kejaksaan
adalah semakin baik dalam tugas dan Kepolisian dilimpahkan untuk diperiksa
pemberantasan korupsi, karena satu dan disidangkan di Pengadilan Tipikor. Hal
lembaga saja tidak akan mampu untuk ini menimbulkan adanya dualisme
melakukan penyelidikan/penyidikan pengendalian penuntutan, yaitu

142
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

penuntutan oleh Penuntut Umum yang korupsi dilakukan di pengadilan tipikor yang
dikendalikan oleh KPK dan penuntutan oleh berada di ibukota propinsi.
Penuntut Umum yang berada di bawah Kelima, kesejahteraan aparat penegak
kendali Kejaksaan. hukum. Diskriminasi kesejahteraan antara
penyidik dan penuntut umum sebagai
3. Sarana dan Prasarana aparat penegak hukum dari berbagai
Berkaitan dengan terbentuknya institusi, padahal mereka mempunyai tugas
Pengadilan Tipikor, menuntut pula yang sama dalam penanganan perkara TPK,
pembenahan terhadap permasalahan dapat menimbulkan kecemburuan dan
teknis serta sarana dan prasarana, yang menurunkan semangat serta etos kerja,
menyangkut beberapa hal. Pertama, dan lain-lain.
persoalan teknis yuridis yang seharusnya
diperkirakan diantaranya menyangkut 4. Peran Serta Masyarakat
kewenangan pemberian ijin dan Terminologi peran serta atau partisipasi
persetujuan penggeledahan/penyitaan, memperoleh wujud elaborasi dalam bentuk
perpanjangan penahanan pengadilan kongkrit pada tahun 1970-an ketika
negeri, pemeriksaan pra peradilan perkara- beberapa lembaga internasional
perkara tindak pidana korupsi terjadi mempromosikannya sebagai metode
apakah berada pada pengadilan negeri perencanaan dan pelaksanaan
setempat dimana tindak pidana korupsi pembangunan. Pemerintahan yang baik
terjadi ataukah pada pengadilan Tipikor. dan bersih mempunyai delapan unsur, yang
Hal ini memunculkan permasalahan dalam salah satunya adalah adanya peran serta
praktik karena belum ada aturan yang masyarakat dalam laju pemerintahan.
tegas. Dalam praktik saat ini, Kejaksaan Peran serta masyarakat dimulai dari proses
mengambil langkah bahwa kewenangan- mengenali masalah, merencanakan,
kewenangan tersebut tetap berada pada kegiatan, melaksanakan kegiatan.
pengadilan negeri di mana tindak pidana Adapun kedua strategi mendasar yang
korupsi terjadi. dilakukan oleh kejaksaan dalam penegakan
Kedua, permasalahan tenaga, waktu dan hukum, khususnya penanggulangan dan
biaya persidangan perkara tindak pidana pemberantasan korupsi, yaitu:
korupsi. Contoh sederhana dapat 1. Tindakan Represif
disampaikan adalah Penuntut Umum di Pendekatan represif berupa penindakan
Kejaksaan Negeri Kota Manado melakukan dan penanganan terhadap terjadinya tindak
penuntutan di Pengadilan Tipikor di Kota pidana korupsi dilakukan secara profesional
Kotamobagu tentunya akan menguras dan proporsional. Dalam melakukan
tenaga, waktu dan biaya Jaksa Penuntut penindakan hukum terhadap tindak pidana
Umum. korupsi tersebut, Kejaksaan menerapkan
Ketiga, asas Rutan/Lapas yang terbatas. prinsip optimalisasi dan berkualitas serta
Dengan penahanan tahap persidangan memprioritaskan kasus-kasus korupsi yang
untuk kasus-kasus korupsi adalah di Rutan big fish dan still going on yaitu dengan
atau Lapas dimana Pengadilan Tipikor mendahulukan penindakan untuk perkara
berada, maka setidaknya pihak besar dan perbuatan pidana yang dilakukan
Rutan/Lapas akan kebanjiran tahanan yang secara terus menerus serta mengusahakan
mau tidak mau akan menimbulkan semaksimal mungkin pengembalian atau
permasalahan baru. penyelamatan keuangan negara. Upaya
Keempat, anggaran penegakan hukum represif yang dilakukan Kejaksaan tersebut,
yang minim. Minimnya anggaran pun akan setelah melalui serangkaian kegiatan
terjadi apabila persidangan tindak pidana penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan
143
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

eksekusi sesuai standar operasional 5. Reformasi Birokrasi, merupakan upaya


prosedur (SOP) yang berlaku serta untuk melakukan pembaharuan dan
peraturan perundang-undangan yang ada. perubahan mendasar terhadap sistem
penyelenggaraan pemerintahan
2. Upaya Preventif terutama menyangkut aspek
Dalam tataran teoritis, penggunaan kelembagaan, ketatalaksanaan dan
sarana penal berupa sanksi pidana sumber daya manusia aparatur.
terhadap pelaku kejahatan juga telah 6. Melaksanakan WASKAT secara efektif
mengalami perkembangan yang sangat bagi setiap pimpinan pada semua
signifikan. Konsepsi pemikiran yang pada tingkatan/satuan kerja dan memberikan
awalnya lebih banyak menekankan pada tauladan yang baik serta mentaati
fungsi represif sebagaimana yang dianut semua peraturan hukum yang ada.
oleh penganut aliran hukum pidana klasik,
telah bergeser ke arah fungsi-fungsi PENUTUP
restoratif yang mengedepankan pada aspek A. Kesimpulan
keseimbangan kepentingan dan pemulihan 1. Upaya yang dilakukan pemerintah
keadaan yang diakibatkan adanya dalam pemberantasan korupsi di
pelanggaran hukum. daerah yakni dikeluarkannya Instruksi
Presiden No. 5 Tahun 2004 tentang
Tindakan preventif lain yang cukup percepatan pemberantasan korupsi.
strategis dalam rangka pencegahan Dalam rangka mewujudkan
terjadinya tindak pidana korupsi di pemerintahan yang bersih dan bebas KK
Indonesia antara lain:10 sebagaimana tertuang dalam visi dan
1. Meningkatkan efektivitas kebijakan dan misi strategi nasional dan rencana aksi
kelembagaan, terutama terkait dengan nasional pemberantasan korupsi
pelayanan publik termasuk juga antara (Stranas dan RAN PK) 2010-2005.
lain kebijakan Nomor Induk Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun
Kependudukan (NIK) terintegrasi dalam 2010 tentang Rencana Pembangunan
program Single Identification Number Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014
(SIN). yang diarahkan pada perbaikan tata
2. Meningkatkan pengawasan terhadap kelola pemerintah yang baik melalui 7
pelayanan pemerintah, sehingga dapat (tujuh) strategi berkaitan upaya
diakses oleh publik yang transparan dan pemberantasan, upaya pemberantasan
akuntabel. korupsi massive dan semakin efektif.
3. Memperbaiki manajemen keuangan Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2011
daerah termasuk manajemen tentang Rencana Aksi Pencegahan dan
pengadaan barang/jasa pemerintah. Pemberantasan Korupsi Menetapkan 6
4. Memperkuat komitmen anti korupsi, (enam) strategi yaitu Strategi bidang
(termasuk melalui lembaga-lembaga pencegahan, penindakan harmonisasi
pendidikan secara edukatif) terkait peraturan perundang-undangan,
dengan integritas nasional bagi anggota penyelamatan aset hasil korupsi,
masyarakat, pelaku usaha dan aparatur kerjasama internasional dan strategi
pemerintahan/negara. bidang pelaporan. Berbagai instrumen
tersebut menunjukkan komitmen
pemerintah dalam upaya
10
Lampiran Peraturan MENPAN Nomor : PER/ pemberantasan tindak pidana korupsi.
is/M.PAN/7/2008 tentang Pedoman Umum
Reformasi Birokrasi.

144
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

2. Upaya penegakan hukum dalam Arief Barda Nawawi, Beberapa Aspek


meningkatkan kesadaran dan Penegakan dan Pengembangan Hukum
pemahaman hukum bagi masyarakat Pidana, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti,
khususnya dalam pemberantasan 1998.
korupsi yakni, tindakan represif. ---------------------------, Beberapa Aspek
Pendekatan represif berupa penindakan Penegakan dan Pengembangan Hukwn
dan penanganan terhadap terjadinya Pidana, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
tindak pidana korupsi dilakukan secara 1998.
profesional dan proporsional. Upaya Ashiddiqie Jimly, Format Kelembagaan
Preventif, berupa sanksi pidana Negara dan Pergeseran Kekuasaan
terhadap pelaku kejahatan, yang dalam UUD 1945, Yogyakarta: UII Press,
mengedepankan pada aspek 2004.
keseimbangan kepentingan dan ---------------------------, Menuju Negara
pemulihan keadaan yang diakibatkan Hukum Yang Demokratis, PT. Bhuana
adanya pelanggaran hukum. Ilmu Populer, Jakarta, 2009.
---------------------------, Hukum Tata Negara
B. Saran dan Pilar-Pilar Demokrasi, Konstitusi
Bertolak dari berbagai realitas korupsi Pers, Cetakan Pertama, Edisi Revisi,
yang terjadi dan trends perkembangannya, Jakarta, 2006.
maka setidaknya hal-hal yang perlu menjadi Atmasasmita Romli, Globalisasi dan
bahan renungan dan pemikiran dalam Kejahatan Bisnis, Kencana Prenada
rangka meningkatkan kesadaran hukum Media, Cetakan Pertama, Jakarta, 2010.
dan pemahaman hukum bagi masyarakat Azhary H. Muhammad Tahir, Negara
khususnya dalam pencegahan, Hukum, Suatu Studi tentang Prinsip-
pemberantasan dan penegakan hukum Prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam,
korupsi ke depan. Implementasinya pada Periode Negara
Tindak pidana korupsi yang terjadi baik Madinah dan Masa Kini. Prenada Media,
di pusat maupun daerah akan memberikan Jakarta, 2003.
andil bagi Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Djamali R. Abdoel, Pengantar Hukum
secara nasional dan mempunyai dampak Indonesia Edisi Revisi, PT. RajaGradindo
bagi negara Indonesia dimata internasional, Persada, Jakarta, 2012.
oleh karena itu mari kita berantas korupsi Kelsen Hans, Teori Hukum Murni; Dasar-
mulai dari diri sendiri, dari hal-hal yang kecil Dasar Ilmu Hukum Normatif, terjemahan
dan mulai hari ini sehingga negara kita Raisul Muttaqien, Nusa Media, Cetakan
menjadi bebas korupsi. Kedua, Bandung, 2007.
Demikian pokok-pokok pemikiran dalam Kusnardi Moh. dan Bintan R. Saragih,
pemberantasan dan penegakan hukum Susunan Pembagian Kekuasaan Menurut
sebagai salah satu upaya untuk Sistem UUD 1945, Gramedia Pustaka
meningkatkan kesadaran dan pemahaman Utama, Jakarta, 1988.
hukum bagi masyarakat, khususnya dalam Nirwanto D. Andhi, Otonomi Daerah versus
pemberantasan korupsi di Indonesia. Desentralisasi Korupsi, Aneka Ilmu,
Semarang, 2013.
DAFTAR PUSTAKA Pane Thorkis, Memahami Praktik Beracara
Amundsen, Inge. Corruption: Definitions di Peradilan Tata Usaha Negara, Pane
and Concepts. Chr. Michelsen Institute Press & Co, Cetakan Pertama, Jakarta,
Development Studies and Human Rights, 2005.
2000. Pidato Kenegaraan Presiden RI Susilo
Bambang Yudhoyono dalam sidang
145
Lex et Societatis, Vol. II/No. 6/Juli/2014

Paripurna DPR RI dan DPD RI tanggal 16 Perencanaan, Pengukuran Kinerja dan


Agustus 2011. Pelaporan Kinerja”, Hand Out, Kejaksaan
Political & Economic Risk Consultancy- Agung RI, Jakarta, 17 Juni 2010.
PERC. “Corruption in Asia.” Asian
Intelligence. Hongkong. 2006. Sumber-sumber lain :
Sadiawati Diana, Membangun Sistem Adiputri Novi Christiastuti, “Jadi Konsultan
Integritas Dalam Pemberantasan Korupsi Fiktif di Kementerian PU, WN Italia
di Daerah, Kemitraan, Jakarta, 2008. Ditangkap Kejagung”,
Sarman dan Mohammad Taufik Makarao, http://www.detiknews.com.
Hukum Pemerintahan Daerah di Drielsma, Hankes. “Successful Anti-
Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, 2011. Corruption Strategies Around the
Suharman, Jaminan Hukum Partisipasi Globe.” A Report for Lok Satta, Makalah
Warga dalam Pelayanan Publik Online. 2004.
Telusuran atas Kebijakan Pendidikan, http://www.politikindonesia.com
Kesehatan, dan Sumberdaya Air, Jurnal http://www.politikindonesia.com.
Lesung Edisi III No. 04 November 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Supandji Hendarman, Tindak Pidana Pustaka, 2001.
Korupsi dan Penanggulangannya, Badan Lampiran Peraturan MENPAN Nomor : PER/
Penerbit Universitas Diponegoro, is/M.PAN/7/2008 tentang Pedoman
Cetakan Pertama, Semarang, 2009. Umum Reformasi Birokrasi.
Perubahan Kedua UUD 1945.
Supeno Hadi, Korupsi di Daerah; Kesaksian, Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Pengalaman dan Pengakuan, Total Undang-Undang No. 16 Tahun 2004
Media, Yogyakarta, 2009. tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Susanto Dody, Galaksi (Gerakan Aksi
Langsung Anti Korupsi Sejak Dini),
Galaksi Center, Cetakan Pertama,
Jakarta, 2009.
Suwarno Yogi, “Corruption Around the
World: Causes, Consequences, Scope,
and Cures.” IMF Staff Papers, Vol. 45,
No. 4. 1998.
Suwarno Yogi, Strategi Pemberantasan
Korupsi, Pusat Kajian Administrasi
Internasional, LAN RI, Jakarta, 2006.
Utrecht E., Pengantar Hukum Administrasi
Negara, Ichtiar Baru, Jakarta 1990.
Wahyono Padmo, Indonesia Negara
Berdasarkan Atas Hukum, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1983.
Wijayanto dan Ridwan Zachrie, Korupsi
Mengorupsi Indonesia, Sebab Akibat dan
Prospek Pemberantasan, Gramedia
Pustaka Utama, Cetakan Pertama,
Jakarta, 2009.
Witjaksono Hendro, “Implementasi Sistem
AKIP (SAKIP): Masalah Penyelarasan

146