Anda di halaman 1dari 10

Perhitungan Tahanan Total Kapal Ikan Dengan Metode Harvald dan Guldhammer

Studi Kasus : Kapal Ikan di pelabuhan Teradisional Gili Cemandi Sidoarjo

Ganda irvan Silitonga


Teknik Perkapalan, Universitas Hang Tuah Surabaya
ganda.irvan@hangtuah.ac.id

Abstrak
Kapal ikan yang dibangun diwilayah nusantara umumnya dibangun dengan cara
tradisional.Umumnya kapal ikan tersebut menggunakan mesin diesel ukuran kecil sebagai mesin
penggeraknya.Perhitungan ini bertujuan untuk menentukan atau meningkatkan efisiensi dari
mesin penggerak kapal dengan perhitungan tahanan totalnya.Pengambilan data dilakukan di
pelabuhan tradisional gili cemandi sidoarjo. Data tersebut mencakup ukuran utama. Untuk
menentukan tahanan total kapal menggunakan metode Harvald dan Guldhammer. Hasil
perhitungan ini digunakan untuk menentukan daya mesin dan efisiensi mesin yang digunakan.
Kata Kunci : “Tahanan total”, “Harvald”, “Guldhammer “

Pendahuluan
Kapal ikan tradisional yang digunakan di wilayah pesisir Nusantara dibangun dengan metode
yang mengandalkan teknik tertentu dari ketrampilan yang diwarisi secara turun menurun oleh
pengrajin kapal. Pembangunan kapal secara tradisional ini memang jauh dari teknologi
moderndan mempunyai banyak kelemahan yang harus mendapatkan perhatian lebih dalam
rangka perbaikan (Sukadana & Suastawa, 2009). Dari sejumlah kapal ikan yang beroperasi di
pelabuhan Brondong, hanya sedikit yang memperhatikan factor keamanan dan hidrodinamika
kapal, umumnya mereka hanya berorientasi pada pemenuhan kapasitas muatan (Sukardono,
2010). Untuk dapat menghasilkan produk kapal yang dapat beroperasi secara optimal dan
memenuhi persyaratan, dapat dilakukan penelitian mengenai bentuk lambung kapal yang
digunakan. Hal ini telah diteliti dalam penelitian Arif (2010) yang menghasilkan rekomendasi
bentuk lambung kapal yang memenuhi persyaratan stabilitas dan hambatan terkecil. Sistem
propulsi yang digunakan harus disesuaikan
Perhitungan in bertujuan untuk pengetahuan perihal karakteristik komponen hambatan yang terjadi
pada lambung kapal dengan metode Harvald dan Guldhammer.

Materi dan Metode


Optimasi besarnya tahanan yang terjadi pada kapal dilakukan berdasarkan data-data yang
diperoleh dari pengujian model pada tangki percobaan yang hasilnya akan direpresentasikan
dalam bentuk kurva karakteristik model. Kurva tersebut dapat digunakan untuk menentukan
karakteristik dari kapal yang akan direncanakan dengan sarat kurva tersebut harus ditambahkan
dengan Correlation allowence.
Berdasarkan metode perhitungan tahanan yang dipublikasikan oleh Guldhammer dan
harvald, data-data karakteristik dari tahanan diperoleh berdasarkan beberapa cara yaitu :
1. Semua data diacukan pada daerah (lingkup) model dan tahanan model (RTm)ditentukan
sebagai fungsi kecepatan.
R Tm
2. Koefisien tahanan total spesifik model (CTm) ditentukan : CTm 
2   v m  Sm
1 2

3.  merupakan massa jenis dari fluida, Vm2 merupakan kecepatan model dan Sm merupakan
Luas permukaan basah model
4. Koefisien tahanan sisa spesifik ditentukan dari
CR = CTm - CFm

CFm adalah koefisien tahanan gesek spesifik. “Garis korelasi model – kapal ITTC 1957”
dipakai untuk menentukan koefisien tahanan gesek.

0,075
CF 
( Log10 Rn  2) 2
VL
Diamana Rn merupakan angka Raynolds ( ), dengan  yang merupakan harga dari

viskositas kinematis dan L adalah panjang garis air.

5. CR dinyatakan sebagai fungsi froude Number yaitu :


V
Fn 
gL
6. Hasilnya dikelompokkan menurut rasio panjang displacement ( L /  3 ), koefisien
1

prismatik (  ) model,  merupakan volume displacement, B merupakan lebar, T

merupakan Sarat dan  merupakan Koefisien penampang melintang tengah kapal


(MidShip Coefficient), yang keseluruhananya dihubungkan berdasarkan persamaan
sebagai berikut :



L  B T  

7. Diagram utama digambarkan untuk menyatakan Kurva rata-rata CR untuk rasio Lebar –
sarat (B/T) = 2,5.

Hasil dan Pembahasan


Data dan ukuran utama kapal ikan Baroi
Lpp :6 m
Lwl : 6,18 m
Breadth : 2,3 m
Draught : 1,35 m
Draft : 0,92 m
Kecepatan : 5 Knot
( 1 Knot : 0,5144 m/s )
Cb : 0,6
Cm : 0,9
Cw : 0,8
Cp : 0,66
 (Displacement) : 3.505 Ton
 (Volume) : 3.420 m3
LCB : -0,803 % LBP
air : 1,025 kg/m3

1. Menentukan Minimal 5 macam kecepatan kapal dalam satuan knot untuk diselidiki (
catatan : jarak antar tiap kecepatan adalah 1 knot )
Kecepatan ( knot )
6 5.5 5 4 3
Kec
2. Menentukan kecepatan dalam satuan m/s dan mengkuadratkannya 6.5 6
V(knot) = V(knot) × 0,5144
Kec
v (m/s) 3.084 2.827 2.57 2.056 1.542
7 5
v2 (m2/s) 9.511056 7.991929 6.6049 4.227136 2.377764

3. Menentukan luas bidang basah


Menurut E.R Mumford (Sv. Harvald, Tahanan dan Propulsi Kapal; halaman 133)
3.341 × LWL 3.084
v (m/s) S2 = 1,025 (Cb × B + 1,72.57
T) 2.056 1.542
2 2
v (m /s) = 11.162281
1,025 × 6.189.511056 6.6049
(0,6 × 2.3 + 1,7 0.92) 4.227136 2.377764
2
57 2 .0 5 6 = 18,648
1 .5 4 2 m Kecepatan ( m/s ) Fn
049 4 .2 2 7 1 3 6 2 .3 7 7 7 6 4 3.598 0.462331925
3.084 0.396284507
4. Menentukan Angka Froude (Fn) 2.57 0.330237089
Sv. Harvald, Tahanan dan Propulsi Kapal; halaman2.05644) 0.264189672
1.542 0.198142254
Menurut R.E Froude, hambatan gesek dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
𝑽(𝒎)
𝒔
𝑭𝒏 =
√𝒈 × 𝑳𝑾𝑳

Kecepatan ( m/s ) Fn
3.0864 0.3965929
2.8292 0.363543492
2.57 0.330237089
2.056 0.264189672
1.542 0.198142254

5. Menentukan Koefsien Tahanan Sisa (103 CR1)


𝐿𝑊𝐿
Koefisien Tahanan Sisa (103 CR) dihitung dengan mempertimbangan nilai CR. Dimana CR = ∇1/3
6,18
= = 4.101. Dari grafik 5.5.5 dan 5.5.6 diperoleh nilai 103 CR1 :
(3,240 )1/3

Pada kecepatan 3.346 m/s


Fn = 0.3965
CR 103 CR1
4 10.2
4.101 10.3414
4.5 10.9
Pada kecepatan 3.084 m/s Pada kecepatan 2,570 m/s
Fn = 0.3635 Fn = 0.3302
3 3
CR 10 CR1 CR 10 CR1
4 5.9 4 4.8
4.101 5.8192 4.101 4.699
4.5 5.5 4.5 4.3
4.5 4.3
Pada kecepatan 2.056 m/s Pada kecepatan 1.542 m/s
Fn = 0.2641 Fn = 0.1981
3 3
CR 10 CR1 CR 10 CR1
4 1.2 4 1.1
4.101 1.1596 4.101 1.0394
4.5 1.00 4.5 0.800

6. Menentukan Koefisien Tahanan Sisa Akibat Ratio B/T (103 CR2)


Tahanan sisa yang menjadi standar perhitungan dengan ratio perbandingan B/T = 2,5. Jikalau
melebihi standar ratio tersebut, maka harus dikoreksi. Sedangkan pada kapal ini nilai
perbandingan lebar-sarat 2,59, sehingga harus dikoreksi. Koreksi tahanan sisa akibat ratio B/T
yang tidak sesuai standar dapat dihitung dengan rumus :
(103 CR2) = 103 CR1 – 0,16 (B/T – 2,5)
Sehingga :
Pada kece
Pada kecepatan 3.3
Pada kecepatan 3.341 m/s Pada kecepatan 3.084 m/s 3
10 CR1 =10
3 C
10,3
103 CR1 = 10,34 103 CR1 = 5,81 3
3 3
10 3 CR2 =10 CR2 = 10
10.34-0.16
10 CR2 = 10.34-0.16(2.59-2.5) 10 CR2 = 10.34-0.16(2.59-2.5) = =
10.3256 1
= 10.3256 = 5.7956
Pada kecep
Pada kecepatan 2.57
10 3 C
Pada kecepatan 2.570 m/s Pada kecepatan 2.056 m/s 10 333 CR1 = 4.69
10 CR2 = 10
3
10 CR1 = 4.69 103 CR1 = 1.15 10 33 CR2 = 4.69.16(2
=
103 CR2 = 4.69.16(2.59-2.5) 103 CR2 = 10.34-0.16(2.59-2.5) = 4.6756
= 4.6756 = 1.1356 Pada ke
Pada kecepatan 1.54 10
3
3 3
10 10 CR1CR2= 1.039
=
Pada kecepatan 1.542 m/s 3
3
10 CR2 = 1.039-0.16(2=
103 CR1 = 1.039
= 1.0246
103 CR2 = 1.039-0.16(2.59-2.5) Pada kec
= 1.0246 Pada kecepatan 3.08410m
10 3 CR110 3=CR25,81=
3
10 CR2 = 10.34-0.16(2.5 =
= 5.7956Pada kec
10 3
3
10 CR2 =
=
7. Menentukan Koefisien Tahanan Sisa Akibat Letak LCB (103 CR3)
Sebelum menentukan koefisien tahanan sisa akibat letak LCB, maka letak LCB harus dikoreksi
terlebih dahulu. Koreksi LCB dilakukan untuk mengetahui penambahan koefisien tahanan sisa
(CR) akibat dari penyimpangan letak LCB Sebenarnya terhadap LCB Standar.
Penentuan Letak LCB Sebenarnya
LCBsebenarnya = -0,803 %  LBP
= -0,803 %  6
= -0,048 m

Penentuan Letak LCB Standar


Letak LCBstandar dipengaruhi oleh fungsi Froude Number (Fn). Sehingga :
v(m/s) Fn Lcb % Lcb ( m)
3.341 0.43570 -9.75296 -0.58518
3.048 0.39749 -8.09082 -0.48545
2.570 0.33515 -5.3792 -0.32275
2.056 0.26812 -2.46336 -0.1478
1.542 0.20109 0.45248 0.027149

8. Menentukan Koreksi Tahanan Sisa Akibat Adanya Bagian-Bagian Tambahan (103 CR4)
Untuk bagian kemudi dan Bilga Keel, tidak mendapatkan pengoreksian. Untuk bagian Boss
Propeller, ditambah 3-5 % dari 103 CR2 serta untuk bagian Shaft, ditambah 5-8 % dari 103 CR2.
Sehingga koreksi tahanan sisa akibat adanya bagian-bagian tambahan kapal adalah :
1) Kemudi dan Bilga Keel ( Tidak Ada Koreksi)
2) Boss Propeller (Dilakukan penambahan 3 %)
3) (Dilakukan penambahan 5 %), Sehingga Total Penambahan 8 %
Pada kecepatan 3.341 m/s Pada kecepatan 3.084 m/s
3
10 CR2 = 10.325 103 CR2 = 5,756
103 CR3 = 10.34-0.16(2.59-2.5) 103 CR3 = 10.34-0.16(2.59-2.5)
= 11.151 = 6.21648
10 3 CR3

v (m/s) v (m/s)
Fn Lcb %
Fn Lcb%( m) Lcb ( m
Lcb
3
10 CR3
Pada kecepatan 2.570 m/s Pada kecepatan 2.056 m/s
3
10 CR2 = 4.67 103 CR2 = 1.136
103 CR2 = 10.34-0.16(2.59-2.5) 103 CR3 = 10.34-0.16(2.59-2.5)
= 5.0436 = 1.22688

Pada kecepatan 1.542 m/s


103 CR2 = 1.024 v (m/s)
Lcb % Lcb ( m
Fn
103 CR3 = 10.34-0.16(2.59-2.5) v (m/s) v (m/s)
Lcb
Lcb %( m)
Fn
3.341
Lcb %
Lcb ( m
Fn
0.43570
-9.75296 -0.5851
3.341 0.43570
3.341 -9.75296 -9.75296
0.43570 -0.58518 -0.5851
= 1.10592 3.048 0.39749 -8.09082 -0.4854
3.048 0.39749
3.048 -8.09082 -8.09082
0.39749 -0.48545 -0.4854
2.570 0.33515 -5.3792 -0.3227
2.570 0.33515
2.570 -5.3792 -5.3792
0.33515 -0.32275 -0.3227
3
2.056 0.26812 -2.46336 -0.147
9. Penentuan Koefisien Total Tahanan Sisa Kapal (10 CR) 2.056 0.26812
2.056
1.542 -2.46336 -2.46336
0.26812
0.20109 -0.1478 0.02714
0.45248 -0.147
1.542 0.20109
1.542
Koefisien total tahanan sisa kapal dapat dihitung dengan mengakumulasikan 0.45248
0.20109 0.027149 0.02714
0.45248
semua nilai
koefisien tahanan untuk setiap faktor. Berikut rinciannya :
103 CR = 103 CR1 + 103 CR2 + 103 CR3
v(m/s) 103 CR1 103 CR2 103 CR3 103 CR
3.314 10.34 10.32 11.151 31.81
3.084 5.81 5.79 6.21 17.81
2.570 2.57 4.67 5.04 12.28
2.056 1.15 1.13 1.22 3.50
1.542 1.04 1.02 1.1 3.16

10. Penentuan Koefisien Tahanan Gesek (103 CF)


Menghitung Reynold Number (Rn)
Angka Reynold dapat dihitung dengan menggunakan rumus empiris berikut :

𝑣 × 𝐿𝑊𝐿
Rn = 

Dimana :
v = kecepatan kapal dalam m/s
LWL = length waterline yaitu 98,23 m
 = viskositas air laut 1,1883 × 10-6 m2/s

v(m/s) Rn
3.314 0.04513
3.084 0.04200
2.570 0.03500
2.056 0.02800
1.542 0.02100
11. Penentuan Koefisien Gesek (103 CF)
𝟎,𝟎𝟕𝟓
12. 103 CF = (𝐥𝐨𝐠 𝑹𝒏−𝟐)𝟐 × 1000

v(m/s) Rn CF
3.314 0.04513 6.700745
3.084 0.04200 6.577344
2.570 0.03500 6.279404
2.056 0.02800 5.941518
1.542 0.02100 5.544698

12. Penentuan Koefisen Tahanan Akibat Kekasaran (103 CA)

Permukaan kapal tidak akan pernah mulus sekalipun kapal tersebut masih baru dan catnya masih
mulus. Koefisien Penambahan tahanan untuk korelasi model umumnya sebesar C A = 0,0004,
namun demikian pengalaman lebih lanjut menunjukkan bahwa cara demikian tidak benar
(Dalam Buku Tahanan Kapal oleh M Alham Djabbar Halaman 85). Karena itu diusulkan koreksi
untuk pengaruh kekasaran dan pengaruh kondisi pelayaran percobaan sebagai berikut :

 (ton) CA
1000 0,0006
3.505 ?
10.000 0,0004

(0,0004−0,0006)
CA = 0,0006 + (3.505 - 1000)
(10.000−1000)

= 0,000622
103 CA = 0,622

13. Penentuan Koefisien Tahanan Angin (103 CAA)


Angin diperkirakan hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap tahanan kapal namun
tetap harus diperhitungkan. Maka disarankan untuk pengoreksian nilai koefisien tahanan angin
(103 CAA) sebesar 0,07
14. Penentuan Koefisien Tahanan Steering (103 CS)
Adanya rudder juga mempengaruhi tahanan kapal seperti halnya bagian-bagian tambahan
lainnya. Maka disarankan untuk pengoreksian nilai koefisien tahanan steering (103 CS) sebesar
0,04

15. Koefisien Tahanan Total Kapal (103 CRT)


Koefisien tahanan total dihitung dengan mengakumulasikan semua koefisien tahanan kapal,
yaitu :
103 CRT = 103 CR + 103 CF’ + 103 CA + 103 CAA + 103 CS
Dimana :
103 CR = KoefisienTahanan Sisa
103 CF’ = Koefisien Tahanan Gesek Yang Telah Dikoreksi
103 CA = Koefisien Tahanan Akibat Kekasaran
103 CAA = Koefisien Tahanan Angin

3 3 3 3 3
v(m/s) 10 CR 10 CF 10 CA 10 CAA 10 CRT
3.314 31.81 6.700745 0.622 0.07 39.20
3.084 17.81 6.577344 0.622 0.07 25.08
2.570 12.28 6.279404 0.622 0.07 19.25
2.056 3.50 5.941518 0.622 0.07 10.13
1.542 3.16 5.544698 0.622 0.07 9.40

16. Menentukan Tahanan Total (RT)


Tahanan total (RA) dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
RT = 0,5 ×  × S × v2 × 103 CRT  10-6
Dimana :
 = Massa jenis air laut yaitu 1025 kg/m3
S = Luas bidang tangkap angin yaitu 2201, 998 m2
v = Variasi kecepatan kapal
103 CRT = Koefisien tahanan total
Sehingga :
3 3 3 3 3
v(m/s) 10 CR 10 CF 10 CA 10 CAA 10 CRT RT
3.314 31.81 6.700745 0.622 0.07 39.20 1.24167
3.084 17.81 6.577344 0.622 0.07 25.08 0.739191
2.570 12.28 6.279404 0.622 0.07 19.25 0.472848
2.056 3.50 5.941518 0.622 0.07 10.13 0.199118
1.542 3.16 5.544698 0.622 0.07 9.40 0.138465

DAFTAR PUSTAKA
Arsip data tugas prarancangan kapal, lines plan, dan konstruksi kapal

Anonim, Perhitungan Tahanan Kapal. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Univeristas

Hasanuddin

Harval, Sv. Aa. 1974. Resistance and Propultion of Ships. Akademisk Forlag, Copenhagen.

J.M.Journee. 2000.An Approximate Power Prediction Method Oleh J. Holtrop And G.G.J

Mennen

M. Alham Djabbar dan Rosmani, 2011, ” Tahanan Kapal”, Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan Univeristas Hasanuddin.

Rosmani, dkk. 2014. Pandauan Perhitungan Tahanan. Program Studi Teknik Perkapalan,

Universitas Hasanuddin.

Solarso, Harotahara. 1983. Pompa dan Kompressor. PT. Pradnya Pramita : Jakarta

Takasiro, Kiyoshi. 1980. Power Prediction Based on Modified Yamagata Resistance Chart and

Newly Intruduced Thrust Deduction and Wake Factors. Japan