Anda di halaman 1dari 2

Polusi sampah dilaut dan cara penanganannya dengan metode “Konversi”

Permasalahan sampah adalah salah satu permasalahan yang paling kompleks bagi Negara-negara
di dunia. Untuk sampah organic secara umum membutuhkan dua sampai enam bulan proses
penguraian sedangkan untuk sampah plastik yang membutuhkan waktu bertahun tahun dalam
proses penguraiannya oleh alam.Kita sering atau mungkin pasti melihat sampah dilaut Indonesia,
ketika kita berkunjung kepantai atau sekedar berkeliling dilautan sekitar pulau. Untuk sampah
dilaut, Indonesia merupakan pemasok terbanyak kedua sampah plastik dilaut, setelah china dan
Filipina ditempat ketiga yang merupakan hasil riset dari jambeck, peneliti dari universitas
Georgia di Amerika Serikat. Menurut alan Jamieson, ahli ekologi kelautan dari Newcastle
university di inggris yang telah melakukan penelitian hingga palung kermandec dan mariana,
yang menunjukkan bahwa sampah plastik sudah mengkontaminasi dasar laut, bahkan hingga
kedalaman 10.000 meter. Sampah plastic memiliki permasalahan yang super kompleks, hal ini
dikarenakan ketika kita membuang sampah dilaut , mungkin kita berfikir sampah tersebut akan
hilang dengan sendirinnya dengan terbawa oleh gelombang ataupun arus laut, padahal, tidak.
Sampah plastik yang kita buang dilaut mungkin akan hilang untuk sementara, tapi nantinya akan
menjadi sebuah bencana seiring bertambahnya jumlah volumenya, baik bagi manusia maupun
untuk hewan dan tumbuhan dilaut. Dampah – dampah yang langsung dapat terlihat adalah
banyaknya sampah di permukaan sepanjang garis pantai, berkurangnya daerah tangkapan ikan
bagi nelayan akibat dari banyaknya sampah dipermukaan dan kerusakan terumbu karang. Untuk
saat ini, sudah banyak penelitian tentang penangggulangan sampah plastik dilautan Indonesia ,
hanya saya jumlahnya masih terlalu sedikit. Sehingga butuh penanganan yang dilakukan secara
berkala, setidaknya setahun sekali sehingga kita bisa mengetahui mengenai perkembangan
sampah plastik dilaut, sehingga dapat dirumuskan solusi dengan berdasarkan kajian secara
ilmiah. Pada penulisan ini, penulis fokus pada solusi pengurangan sampah botol plastik dengan
metode yang penulis sebut dengan “ Konversi “. Mengapa Penulis fokus pada sampah botol
plastic?, bukan karena sampah lain tidak penting, melainkan sampah botol plastik salah satu
sampah yang memakan volume yang cukup besar jika jumlahnya sangat banyak. Secara
sederhana misalnya, untuk botol plastik 1.5 liter dengan tinggi rata rata 28 cm dan diameter 8.5
cm makan dalam 1m2 akan terdapat sebanyak 33 botol plastik, jumlah yang sangat besar
tentunnya. belum termasuk dengan kandungan polimer yang terdapat didalamnya yang bersifat
komplek dan tebal sehingga untuk mengurakannya butuh waktu hingga 20 tahun untuk dapat
dihancurkan. Solusi yang penulis usulkan disini adalah dengan mengkonversi sampah botol
plastik menjadi sebuah jetty atau dermaga apung dengan membentuksebuah kerangka atau
framework sebagai penopangnya.mengapa disebut konversi?, karena penulis mempunyai konsep
bukan merubah bentuk dari botol plastik, melainkan mempertahankan bentuk botol plastik
dengan menggabungkan dengan bahan lain sehingga didapat bentuk yang baru yaitu jetty ada
dermaga apung. Konsep sederhana ini penulis dapat dengan analogi, jika 1 botol plastk dengan
volume 1.5 liter sama dengan 1.5 kg maka jika kita membuat dermaga apung dengan panjang 1
meter, lebar 1 meter dan tinggi 30 cm makan dengan ukuran botol plastik rata-rata, tinggi 28 cm
dan diameter 8.5 cm, maka kita mampu mengurangi jumlah botol plastic sebanyak 99 botol
plastik dengan daya apung jetty atau dermaga sebesar 148.5 kg. hal ini tentunya akan sangat
menguntungkan untuk beberapa daerah yang belum memiliki dermaga sehingga hal ini mampu
mendorong tumbuhnya sector pariwisata dengan dibuatnya jetty atau dermaga apung dari botol
plastik tersebut.

Botol Plastik 1.5 Liter Papan Kayu

Kerangka