Anda di halaman 1dari 42

Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini dan masa-masa yang akan datang, kebutuhan listrik untuk
industri maupun perusahaan jasa semakin meningkat. Di samping itu dengan
penggunaan peralatan yang canggih ( complicated ) diperlukan energi listrik yang
mempunyai keandalan tinggi. Kita ketahui semua bahwa dalam sistem tenaga
listrik tidak mungkin dapat menyediakan tenaga listrik yang mutlak tanpa
gangguan. Misalnya pada desain suatu saluran transmisi ditentukan berdasarkan
kriteria jumlah gangguan yang akan terjadi yang jumlahnya per 100 km per tahun,
dan ini tergantung dari sistem tegangannya. Dengan demikian sekarang
bagaimana caranya supaya gangguan yang terjadi seminim mungkin beraskibat
terhadap konsumen ataupun kalau berakibat sesedikit dan sesingkat mungkin.
Salah satu cara yaitu dengan sistem pengamanan yang baik, dalam hal ini di
samping perangkat kerasnya ( relenya ) juga perangkat lunaknya diantaranya
penyetelannya. Apabila penyetelan rele ini tidak benar, maka tidak selektif atau
akan terjadi salah kerja ( miss trip ). Pada kaidah penyetelan rele ini, di
kelompokkan menjadi dua hal:
a.Rele-rele yang penyetelannya cenderung mengamankan peralatan secara
individu dan ditentukan oleh pabriknya yang lebih mengetahui kemampuan
dari peralatannya.
b.Rele-rele yang harus di koordinasikan dengan rele lainya untuk
mendapatkan selektifitas.
Sebagaimana diketahui, desain suatu pola pengaman sistem tenaga listrik
adalah suatu seni, dimana desain yang satu dapat berbeda dengan lainnya.
Meskipun desain pola pengaman itu dapat berbeda tetapi prinsip dasarnya adalah
sama yaitu pola pengaman yang didesain tersebut haruslah handal, terpercaya,
cepat dan ekonomis. Maka dari itulah saya mengambil judul : Sistem Proteksi
Terhadap Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Pada Belitan Stator
Generator 6,3 kV di PT.PLN ( Persero ) Sektor Pembangkitan Keramasan, dalam

1
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Laporan Akhir ini. Karena Generator merupakan peralatan kelistrikan yang


sangat vital, karena generator merupakan komponen utama untuk mengasilkan
energi listrik di samping komponen-komponen utama lainnya.

1.2 Tujuan dan Manfaat


1.2.1 Tujuan
- Mengetahui berapa besar arus hubung singkat satu fasa ke tanah, pada
belitan stator generator. Sehingga dapat menentukan berapa besar nilai
setting arus, pada rele arus lebih untuk memproteksi belitan stator
generator apabila terjadi gangguan hubung singkat satu fasa ketanah.
- Mengetahui berapa setting waktu, rele arus lebih apabila terjadi gangguan
hubung singkat satu fasa ke tanah pada belitan stator generator.

1.2.2 Manfaat
- Dapat menentukan bagaimana sistem pengamanan yang akan kita buat,
untuk memproteksi generator terhadap gangguan hubung singkat satu fasa
ke tanah. Supaya gangguan tersebut tidak merusak belitan stator, setelah
kita ketahui besar arus hubung singkat satu fasa ke tanah.

1.3 Metode Penulisan


Dalam menyusun dan menyelesaikan laporan akhir ini, penulis menggunakan
beberapa metode yaitu :
- Mengadakan kunjungan dan survei kelapangan tempat sumber informasi
tentang permasalahan yang akan dibahas pada laporan akhir ini dan
mengambil data – data yang dibutuhkan untuk penyusunan laporan akhir
ini.
- Wawancara dan diskusi, dengan petugas-petugas di lapangan yang terkait
dengan topik pada laporan akhir ini, dan juga berupa konsultasi dengan
dosen-dosen pembimbing laporan akhir ini.

2
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

- Studi literatur, menggali informasi tentang permasalahan pokok dari


laporan akhir ini pada buku-buku yang mendukung dan berkaitan dengan
pembahasan pada laporan akhir ini.

1.4 Perumusan masalah


Dalam laporan akhir ini saya akan membahas masalah proteksi pada
Generator tentang :
- Bagaimana setting arus, rele arus lebih apabila terjadi gangguan hubung
singkat satu fasa ke tanah pada belitan Stator Generator.
- Bagaimana setting waktu, rele arus lebih apabila terjadi gangguan hubung
singkat satu fasa ke tanah pada belitan Stator Generator.

1.5 Pembatasan Masalah


Untuk mempersempit permasalahan, maka pada laporan akhir ini di batasi
dengan hanya :
- Membahas perhitungan setting arus, rele arus lebih .
- Membahas perhitungan waktu, rele arus lebih.
- Membahas sistem proteksi dan gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah pada belitan Stator Generator.

1.6 Sistematika Penulisan.


Penulisan Laporan Akhir ini terdiri dari lima bab, yaitu :
Bab I Membahas mengenai latar belakang, tujuan, metode penulisan, perumusan
masalah, pembatasan masalah dan sistematika.
Bab II. Membahas mengenai teori – teori penunjang yang berhubungan dengan
laporan akhir ini.
Bab III. Membahas mengenai keadaan umum data – data yang terpasang di
apangan.
Bab IV. Membahas mengenai hasil dan pembahasan dari judul laporan akhir yang
diangkat.
Bab V. Membahas mengenai kesimpulan dan saran.

3
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum
Dalam menjamin penyaluran tenaga listrik ke berbagai tempat, sangat
diperlukan sekali suatu system pengaman yang baik. Dimana dalam operasinya
sering sekali sistem tenaga listrik tersebut mengalami gangguan. Jadi untuk
melindungi sistem tenaga listrik terhadap gangguan diperlukan suatu peralatan
yang dapat mendeteksi terjadinya gangguan tersebut, serta membatasi pengaruh –
pengaruh lainya. Biasanya dngan cara mengisolir bagian yang terganggu itu
dengan bagian – bagian dari peralatan lain yang normal.
Rele proteksi adalah suatu peralatan yang dapat mendeteksi kondisi titik
normal yang mungkin terjadidalam sistem dengan cara mengukur besaran
listrikyang berbeda pada keadaan normal dan keadaan gangguan.
Dalam melindungi sistem tenaga listrik dari berbagai jenis ganggua, maka
sangat diperlukan pembagian daerah dari sistem pengaman. Adapun pmbagain
dari sistem proteksi adalah :

a. Proteksi Generator.
b. Proteksi Transformator.
c. Proteksi Busbar.
d. Proteksi saluran Transmisi.

Dengan pembagian seperti pada gambar di bawah ini, apabila terjadi gangguan
di daerah tertentu maka sistem proteksi di darah tersebut yang hanya akan bekerja
dan akan membuka pemutus tenaga yang menghubungkan daerah tersebut.

4
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Gambar 2.1
Daerah Sistem Proteksi dari Suatu Sistem Tenaga Listrik

2.2 Syarat – syarat dasar rele proteksi


Rele proteksi berfungsi untuk mengamankan dan melindungi peralatan dari
adanya kemungkinan gangguan yang terjadi. Sehingga untuk memenuhi keadaan
tersebut diatas, maka rele proteksi yang baik harus dapat memenuhi syarat –
syarat sebagai berikut :

a. Kecepatan
Rele proteksi direncanakan dan diharapkan dapat bekerja secepat mungkin,
tetapi bila bekerjanya terlalu cepat, dapat mengurangi keandalan sistem karena
tidak semua gangguan harus diamankan dengan pelepasan Circuit Breaker ( CB ).

5
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Kecepatan kerja rele proteksi diperlukan antara lain karena dapat :


- Mempercepat tercapinya kembali stabilitas sistem.
- Mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan.
- Mengurangi kemungkinan timbulnya gangguan lain yang disebabkan oleh
gangguan yang telah terjadi.
- Memperkecil timbulnya gangguan pada konsumen.

Adapun waktu total yang dibutuhkan untuk melepaskan bagian yang


terganggu dari sistem disebut dengan waktu bebas. Waktu bebas ini merupakan
penjumlahan dari waktu kerja rele dengan waktu pemutus CB. Dimana waktu
kerja rele adalah waktu sejak saat terjadinya gangguan hingga saat menutupnya
kontak pada rangkaian pemutus. Sedangkan waktu pemutus CB adalah waktu
sejak saat penutupan kontak pada rangkaian pemutus sampai saat terbukanya
saklar daya Circuit Breaker ( CB ).

b. Selektivitas.
Selektivitas adalah kemampuan dari rele proteksi untuk dapat membedakan
dan menentukan dimana gangguan terjadi dan memilih CB terdekat yang akan
bekerja dan mampu membebaskan sistem dari gangguan dengan kerusakan yang
sekecil mungkin.
Jadi disini rele proteksi harus dapt mendeteksi dengan tepat daerah mana yang
mengalami gangguan dan kemudian mengerjakan pemutus daya dengan tepat
untuk memisahkan daerah yang mengalami ganggguan tersebut dengan daerah
yang masih baik atau daerah yang tidak mengalami gangguan.

c. Sensitivitas
Sensitivitas adalah kemampuan dari rele proteksi untuk bekerja dengan baik
sesuai dengan karakteristiknya, atau dengan kata lain suatu sistem proteksi peka
terhadap setiap tingkat gangguan. Walaupun begitu sistem proteksi dengan
tingkat kepekaan yang tinggi adalah sangat kompleks dan memerlukan lebih
banyak peralatan, jadi harganyapun akan lebih mahal. Oleh karena itu sistem

6
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

proteksi yang sedemikian itu digunakan hanya bila sistem proteksi yang sederhana
tidak dapat lagi dipakai karena rendahnya tingkat kepekaan.

d. Keandalan
Keandalan yasng dimaksud disini adalah bahwa suatu rele proteksi harus siap
bekerja, andal dan tepat dalam operasinya disetiap saat dari jenis gangguan pada
sistem tenaga yang di proteksi.
Rele proteksi pada umumnya lebih banyak berada dalam keadaan tidak bekerja.
Kadang – kadang beberapa kali saja dalam setahun itupun kalau ada gangguan
yang berarti. Oleh karena itu untuk menjamin keandalannya, pada waktu – waktu
tertentu harus diadakan pengujian – pengujian kembali sehingga pada saat
dibutuhkan nantinya dapat bekerja sesuai yang diharapkan.
Beberapa faktor penting yang mempengaruhi keandalan suatu sistem proteksi
antara lain kwalitas yang baik dari rele proteksinya, kesederhanaan kontruksinya,
serta ketepatan perancangan. Pada umumnya untuk suatu sistem proteksi, makin
sedikit jumlah rele serta rangkain dan kontak – kontaknya maka makin andal
sistem proteksi itu.

c. Sederhana
Adalah kesederhanaan dalam kondisi, kwalitas bahan yang baik, ketelitian
perencanaan, kemudian pemasangan dan pemeliharaan, dan lain – lain merupakan
faktor – faktor yang sangat berpengaruh kepada keandalan.
Semakin sederhana sistem proteksi, maka semakin sedikit jumlah rele beserta
kontak – kontaknya dan rangkaianya, maka semakin tinggi keandalanya.
Keandalan berubungan erat dengan kesederhanaan karena itu kebutuhan paling
utama dari sutau teknik perlindungan adalah kesederhanaan.

f. Ekonomis
Dalam usaha mendapatkan perencanaan teknik proteksi yang baik, maka
faktor biaya memainkan peranan yang sangat penting. Untuk menggabungakan

7
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

kebutuhan dasar dari suatu sistem proteksi tersebut diperlukan suatu kompromi
sedemikian rupa, sehingga perencanaan rele dapat menjadi ekonomis.

2.3 Prinsip Dasar Sistem Proteksi


Sistem rele proeksi pada sisem tenaga listrik tidak akan beroperasi selama
sistem tersebut berada dalam keadaan normal, akan tetapi sistem rele proteksi ini
harus dapat cepat beroperasi dengan baik bila terjadi suatu gangguan atau keadaan
tidak normal untuk mencegah kerusakan yang fatal terhaadap peralatan –
peralatan listrik.
Penggunaan peralatan sistem rele proteksi ini harus disesuaikan dengan tujuan
dan fungsinya. Pada umumnya sistem rele proteksi digunakan untuk mendeteksi
dan mengamati kondisi tidak normal yakni gangguan hubung singkat yang dapat
mengganggu kestabilan sistem.
Untuk sistem rele proteksi yang mendeteksi gangguan hubung singkat terdapat
dua jenis sistem proteksi yaitu :
a. Rele proteksi utama ( main relaying protection )
b. Rele proteksi cadangan ( back – up relaying protection )
Sistem rele proteksi utama akan bekerja secepat mungkin untuk mengatasi
gangguan yang terjadi di dalam daerah proteksinya. Apabila sistem rele proteksi
utama mengalami kegagalan beroperasi, maka sistem rele cadangan akan bekerja
untuk menggantikan fungsi sistem rele utama tersebut. Dengan demikian berarti
penyetelan waktu kerja rele cadangan adalah dibuat lebih lama dibandingkan
dengan waktu kerja rele utama.
Adapun penyebab kegagalan bekerjanya proteksi utama adalah
a. Arus atau tegangan yang menyuplai rele mengalami kegagalan atau tidak
sempurna.
b. Kegagalan pada sumber DC tripping.
c. Kegagalan pada pemutus daya atau CB itu sendiri, baik pada
mekanismenya atau pada rangkaian pemutusnya.
Tidak semua peralatan sistem tenaga listrik mempunyai kedua jenis sistem
rele tersebut di atas. Hal ini adalah sangat tergantung pada tingkat kepentingan

8
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

peralatan sistem tenaga listrik itu sendiri dan besarnya akibat gangguan yang
mungkin terjadi.

2.4 Klasifikasi rele proteksi


2.4.1 Berdasarkan pada prinsip kerjanya, rele proteksi dapat di bedakan
menjadi bebeapa jenis yaitu sebagai berikut :

a. Jenis Elektromagnit.
Rele proteksi jenis ini adalah rele yang bisa digerakan dengan arus AC dan
DC dengan prinsip pergerakkan besi magnetik, besi jangkar dan lain – lain, untuk
menggerakan kontak.

b. Jenis Termis.
Rele jenis ini bekerja karena panas yang ditimbulkan oleh arus yang
melewatinya dan dapat beroperasi dengan sumber DC maupun AC. Rele proteksi
ini sering digunakan untuk proteksi arus lebih, dengan mendeteksi panas yang
terjadi akibat arus lebih tersebut.

c. Jenis Statis.
Rele ini bekerja dengan menggunakan komponen – komponen statis seperti
transistor, didoda dan lain – lain gunanya untuk mendapatkan karakteristik operasi
yang diinginkan.

2.4.2 Berdasarkan pada penggunaan


a. Rele Diferensial
Rele jenis ini akan bekerja apabila terjadi perbedaan arus, tegangan, atau
phasa. Adapun yang sering digunakan adalah rele diferensial arus dimana dapat
bekerja berdasarkan perbandingan besaran arus yang menuju dan meninggalkan
peralatan yang diamankan.

9
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

b. Rele Jarak.
Rele jenis ini akan bekerja berdasarkan pada perbandingan tegangan dan arus.
Jadi dapat dikatakan bahwa besaran yang dideteksi adalah impedansi .
Untuk pembahasan yang selanjutnya hanya meliputi tentang sistem rele
proteksi arus lebih. Dikarenakan rele ini yang akan dipergunakan pada sistem
proteksi gangguan hubung tanah pada generator.

2.5 Beberapa istilah dalam rele proteksi.


a. Operating atau pick up level.
Adalah harga arus, tegangan batas dan lain – lain dimana diatas tingkat ini rele
akan menutup kontaknya.
b. Drop out atau reset level.
Adalah harga arus, tegangan batas dan lain – lain dimanah di bawah tingkat ini
kontak dari rele akan kembali pada posisinya yang normal. Perbandingan antara
drop out atau reset level dengan operating atau pick up level disebut drop out ratio
atau reset ratio.
c. Operating Force.
Gaya yang digunakan untuk menutup kontak dari rele.
d. Restraining Force
Gaya yang berlawanan dengan operating force yang berguna untuk mencegah
tertutupnya kontak rele.
e. Flag atau target.
Peralatan biasa umumnya bertugas untuk memberikan tanda bekerjanya suatu
rele.
f. Power consumption.
Daya yang dibutuhkan rangkaian yang di nyatakan dalam Volt Ampere ( AC )
dan Watt ( DC ) pada arus dan tegangan nominal.
g. Operating time atau waktu kerja.
Adalah waktu mulai dari saat besaran ukur mencapai harga yang sama dengan
harga pick up sampai dengan bekerjanya kontak rele.

10
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

h. Seal in Coil.
Adalah gulungan yang menahan, kontak rele untuk tidak bekerja pada saat
arus mengalir melalui kontak tersebut.

i. Maximum Torque Angel.


Adalah sudut kerja dari rele dimana rele akan mendapat torque maksimum.
j. Over Reach.
Adapun istilah yang digunakan bila rele bekerja pada harga yang lebih rendah
dari settingnya. Umumnya terjadi pada kecepatan tinggi jika arus tidak simetris
dan sering terjadi pada siklus awal segera setelah terjadinya gangguan. Rele
simetris karena arus tidak simetris mempunyai harga lebih tinggi maka rele dapat
bekerja pada harga di bawah harga settingnya.

k. Under reach.
Adalah hal yang sebaliknya dari over reach, umumnya terjadi akibat tambahan
impedansi yang diakibatkan oleh impedansi bunga api sehingga akan
mempengaruhi pengukuran jarak dari rele sehingga kemungkinan terjadinya under
reach.

2.6 Rele Arus Lebih


Proteksi dengan rele arus lebih sangat luas pemakaiannya pada sistem
distribusi, terutama kalau masalah biaya menjadi faktor utama. Karena rele ini
paling murah jika dibandingkan dengan rele – rele lainnya. Begitu juga dengan
pemakaiannya untuk memproteksi jaringan primer suatu sistem distribusi yang
pada saat kerja normal mempunyai bentuk radial. Untuk sistem yang lebih
canggih diperlukan pemakaian rele – rele seperti rele arah, rele jarak, dan lain –
lain.
Jika gangguan eksternal terjadi pada sebuah stator tidak dapat cepat
dihilangkan misalnya gangguan hubung singkat sehingga dapat mengakibatkan
pemanasan yang berlebihan ataupun kerusakan pada tempat lainnya. Rele arus

11
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

lebih ini digunakan untuk menghindari kerusakan stator dari gangguan hubung
singkat yang terjadi sebelum gangguan tersebut menjalar pada tempat lain.
Rele arus lebih mempunyai bermacam – macam karakteristik kerja arus waktu.
Berdasarkan karakteristik kerja arus waktu tersebut maka rele arus lebih dapat di
bagi atas beberapa jenis antara lain :

a. Rele arus lebih inverse.


Pada rele jenis ini hampir tidak dapat perbedaan waktu saat terjadi gangguan
dengan saat bekerjanya kontak pada rangkaian pemutus, dimana waktu kerja rele
ini memerlukan waktu yang sesingkat mungkin.

b. Rele arus lebih definit.


Dimana pada rele ini terdapat suatu perbedaan waktu antara saat terjadinya
gangguan dengan saat bekerjanya pada rangkaian pemutus, tetapi selisih waktu itu
tidak dipengaruhi oleh besarnya arus gangguan ataupun besaran lain yang
mengerjakn rele tersebut, atau dengan kata lain perubahan waktu ini relatif kecil
dengan perbedaan dari besarnya arus gangguan.

c. Rele arus lebih sesaat.


Pada rele jenis ini lama waktu saat terjadi gangguan dengan saat bekerjanya
kontak pada rangkaian pemutus berbanding terbalik dengan besarnya arus
gangguan atau besaran lain yang menyebabkan rele bekerja.

d. Inverse Definit Time Relays.


Pada rele jenis ini dimana waktu kerja rele ini hampir berbanding terbalik
dengan harga terkecil tegangan dari arus atau besaran lain yang menyebabkan
bekerja pada waktu minimum tertentu.
Dari keempat jenis rele ini yang kedua merupakan rele dengan kelambatan waktu
( time delay ) yaitu rele yang waktu kerjanya dapat diatur atau diset sesuai dengan
yang diinginkan. Sedangkan rele yang ketiga yaitu rele arus lebih sesaat adalah
rele tanpa kelambatan waktu dan mempunyai waktu kerja yang sangat cepat yaitu

12
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

sekitar 0,01 sampai 0,1 detik waktu kerja rele arus lebih sesaat ini tidak bisa diatur
atau diubah tergantung pada pabrik pembuatnya.

2.6.1 Prinsip Kerja Rele Arus Lebih.


Rele arus lebih berfungsi untuk mengamankan stator terhadap gangguan
hubung singkat yang terjadi. Rele ini bekerja berdasarkan arus lebih dan
memberikan perintah trip ke PMT sesuai dengan karakteristik waktunya. Pada
gambar di bawah ini mengambarkan rangkaian rele arus lebih.

Gambar 2.2
Prinsip Kerja Rele Arus Lebih.

13
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Cara kerjanya sebagai berikut :


1. Pada kondisi normal arus beban ( Ib ) oleh trafo arus, besaran arus ini
ditransformasikan ke besaran – besaran sekunder ( IR ). Arus IR mengalir
pada kumparan rele, bila arus tersebut masih lebih kecil dari pada suatu
harga yang ditetapkan setting, maka rele tidak bekerja.
2. Bila terjadi gangguan hubung singkat, Ib akan naik dan menyebabkan arus
IR naik pula. Jika arus IR ini melebihi suatu harga settingnya, maka rele
akan bekerja dan akan memberikan trip pada PMT, sehingga gangguan
dapat diisolir.

3. Beberapa istilah pada rele arus lebih :


• Ip = arus kerja ( arus pick up ) yaitu arus minimum yang menyebabkan
rele bekerja.
• Id = Ir arus kembali yaitu arus maksimum yang menyebabkan rele
kembali tidak bekerja.
• Perbandingan Id / Ip adalah suatu harga perbandingan antara arus
kembali dengan arus kerja.
• Waktu tunda yaitu periode waktu yang sengaja diberikan pada rele
untuk memperlambat trip PMT sejak rele itu pick up.

2.6.2 Penggunaan rele proteksi arus lebih.


Rele proteksi arus lebih ini dapat dipergunakan hampir untuk semua jenis
pengaman gangguan, rele proteksi ini dapat mendeteksi adanya perubahan besaran
arus secara tiba – tiba.
Pembahasan selanjutnya akan dititik beratkan pada sistem proteksi gangguan
hubung tanah. Dimana prinsip kerja sistem pengaman ini sama dengan prinsip
kerja dari rele proteksi arus lebih. Pada gambar di bawah ini dapat dilihat
penggunaan rele proteksi untuk gangguan hubung tanah pada generator, dimana
jika terjadi gangguan hubung singkat di belitan stator generator, jika setting kerja
rele yang dipergunakan terlampaui maka sistem pengaman ini akan bekerja.
Dimana rele proteksi gangguan hubung tanah yang dihubungkan dengan sisi

14
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

sekunder transformator arus ( CT ) sedangkan sisi primernya dihubungkan pada


titik netral generator. Jika titik netral generator dengan sistem pentanahan maka
besar arus gangguan tanah ini tergantung juga dari type pentanahan yang
dipergunakan. Sistem proteksi gangguan hubung tanah ini biasanya di
pergunakan untuk sistem generator besar.

Gambar 2.3
Proteksi Gangguan Hubung Tanah pada Sistem Generator dengan Rele
Proteksi Gangguan Hubung Tanah yang dipasang di titik Netral.

2.7 Gangguan Dalam Generator.


Pada prinsipnya gangguan dalam generator secara garis besar ada lima macam
yaitu :

a. Hubung Singkat antar Fasa.


Gangguan ini terjadi apabila isolasi antara fasa bocor atau adanya kegagalan
isolasi, ini bisa terjadi dalam belitan stator dan pemutus tenaga generator misalnya
pada kabel penghubung stator generator dengan pemutus generator. Pada

15
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

gangguan antara fasa pada generator kemungkinan terjadi sangat kecil berkisar
antara 1 – 5 %

b. Gangguan Hubung Singkat Fasa ke Tanah.


Pada generator yang titik netralnya di tanahkan, gangguan hubung tanah
belum tentu dapat di deteksi oleh relay diferensial apabila gangguan terjadi di
dekat titik netral.
c. Suhu Tinggi.
Masalah suhu terlalu tinggi, hal ini bisa terjadi di stator dan bantalan
generator. Suhu stator terlalu tinggi di sebabkan karena pembebanan lebih pada
generator yang terlalu lama. Ventilasi yang kurang sempurna atau karena
banyaknya debu atau kotoran yang menempel pada isolasi lilitan stator sehingga
menghambat pada pelepasan panas pada lilitan stator atau ada hubung singkat
kecil yang tidak terdeteksi oleh rele yang ada. Suhu bantalan terlalu tinggi bisa di
sebabkan karena penyetelannya kurang baik. Untuk mengamankan generator
terhadap masalah suhu, dipakai rele suhu yang di tahap pertama ini akan
membunyikan alarm dan men – tripkan pemutus generator.

d. Penguatan Hilang.
Jika terjadi gangguan pada rangkaian arus penguat sehingga medan penguat
generator menjadi lemah atau hilang maka pada generator bisa mengalami kondisi
lepas dari sinkronisasinya dengan sistem dan dapat menimbulkan gangguan dalam
sistem. Oleh karena itu pada generator yang dayanya relatif besar dipasang rele
untuk mencegah terjadinya lepas dari sinkronisasinya dengan jalan men – trip
pemutus tenaga generator.

e. Gangguan Hubung Singkat Dalam Sirkit Rotor.


Apabila terjadi gangguan dalam sirkit rotor maka pada generator mengalami
kerusakan yang disebabkan arus hubung singkat sirkit rotor. Jika mengalami
gangguan hubung tanah, maka hal ini dapat menimbulkan gangguan dalam medan
magnet penguat sehingga timbul getaran yang berlebihan. Oleh karena itu pada

16
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

generator yang dayanya besar di pasang pengaman terhadap gangguan rotor


hubung tanah.

2.8 Sistem Pentanahan Netral Generator.


Yang dimaksud dengan sistem pentanahan netral generator adalah suatu
sistem pentanahan yang mempergunakan konduktor yang diletakkan pada netral
generator. Adapun tujuan dari sistem pentanahan ini adalah :
a. sebagai pelindung terhadap keselamatan bagi manusia.
b. Sebagai pelindung bagi sistem peralatan.

Klasifikasi dari sistem pentanahan generator biasanya dapat dipergunakan


beberapa pentanahan yaitu sebagai berikut :
a. Sistam pentanahan langsung atau solid.
b. Sistem pentanahan dengan tahanan rendah
c. Sistem pentanahan dengan tahanan tinggi.
d. Sistem pentanahan dengan kumparan petersen.
Faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem pentanahan yaitu :
a. Selektifitas dan sensitifitas dari rele gangguan tanah.
b. Pembatasan besar arus gangguan.
c. Pembatasan tegangan lebih transien.

2.8.1 Pentanahan Dengan Tahanan.


Sistem pentanahan generator yang ditanahkan melalui tahanan adalah titik
netral dari generatornya dihubungkan dengan tahanan yang melalui impedansi
atau tahanan. Pentanahan seperti ini dapat dibagi atas 2 bagian yaitu :

a. Pentanahan dengan tahanan rendah atau Kecil.


Sistem pentanahan ini jarang dipergunakan karena kurang dapat mengurangi
arus gangguan hubung tanah yang relatif besar, dikarenakan terbatasnya atau
rendahnya nilai tahanan pentanahan yang dipergunakan oleh sistem generator itu
sendiri.

17
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

b. Pentanahan Dengan Tahanan Tinggi atau Besar.


Sistem pentanahan ini banyak dipergunakan karena dapat membatasi besar
arus gangguan hubung tanah, biasanya besar tahanan pentanahan yang
dipergunakan harus sesuai dengan besar arus gangguan maksimum, sehingga sisa
dari arus gangguan yang sampai pada generator tidak membahayakan lagi bagi
sistem peralatan. Pada sistem generator batasan arus gangguan maksimum tanah
yang diperbolehkan adalah kira – kira 10 Ampere. Bila generator dan
transformator berbentuk satu kesatuan maka sistem pentanahan dengan tahanan
tinggi inilah yang dipakai. Untuk keperluan proteksi gangguan tanah, adalah
praktis untuk tidak menghubungkan secara langsung tahanan itu antara netral dan
tanah, tetapi memasang sebuah transformator tipe distribusi antara netral dan dan
tanah, dan memasang tahanan pada jepitan sekunder dari transformator.36 )

Gambar 2.4
Pentanahan Dengan Transformator Tipe distribusi.

18
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

2.8.1 Pentanahan Dengan Kumparan Petersen.


Sistem pentanahan kumparan petersen adalah dengan mempergunakan reaktor
yang dapat diatur – atur dan pada umumnya disesuaikan dengan sistem yang
dipergunakan. Keuntungan dari pentanahan kumparan petersen adalah :
a. Arus gangguan satu fasa ke tanah dapat dibuat sekecil mungkin dengan
demikian gangguan tanah itu menjadi tidak berbahaya lagi terhadap sistem
dan gangguan dapat hilang sendiri, tanpa operasi pemutusan dayanya.
b. Hilangnya gejala busur tanah yang sangat berbahaya terhadap sistem
karena tegangan lebih yang dihasilkan, sehingga kerusakan pada peralatan
sistem terutama pada titik ganguan dapat di hindarkan.
c. Suplai daya menjadi tak terganggu dan dapat berlangsung terus walaupun
gangguan belum hilang sama sekali artinya sistem dapat beroperasi terus
dalam keadaan gangguan tanah.
d. Tegangan lebih transien yang terlampau besar dapat dikurangi
dibandingkan pada sistem yang terisolir.
e. Efek – efek terhadap sistem komunikasi dapat diperkecil.
f. Mengurangi kejutan pada sistem yang disebabkan gangguan tanah.

Kerugian dan kelemahan dari metode pentanahan dengan kumparan petersen


antara lain :
a. Kumparan petersen tidak dapat mengkompensir terhadap gangguan dua
fasa ketanah.
b. Kumparan petersen tidak dapat menghilangkan gangguan satu fasa yang
menetap pada sistem.
c. Kumparan petersen tidak dapat mencegah tegangan lebih secara
keseluruhan, hanya membatasi sampai pada keadaan tertentu sehingga
memerlukan peralatan yang mampu menanggulangi tegangan lebih
tersebut.

19
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Gambar 2.5
Netral Generator diketanahkan dengan Kumparan Petersen.52)

2.9 Gangguan Hubung Tanah pada Generator.


Gangguan hubung tanah pada generator merupakan jenis gangguan yang
jarang terjadi, dibandingkan dengan gangguan pada sistem jaringan. Biasanya
kesalahan pada generator diakibatkan oleh gangguan antar lilitan sehingga dapat
menimbulkan panas. Pemanasan yang berlebihan ini dapat merusak konduktor
dan isolasi pada belitan stator generator.
Sebelum kita merencanakan sistem proteksi, terlebih dahulu kita harus
mengetahui jenis – jenis gangguan yang dapat terjadi pada sistem tenaga listrik,
sehingga dapat diperhitungkan besar arus gangguan yang mungkin terjadi. Hasil
dari perhitungan arus gangguan satu fasa ke tanah ini dapat dipergunakan untuk
penyetelan sistem rele proteksi dan dapat juga menentukan kapasitas alat pemutus
daya yang akan di pergunakan.
Jenis – jenis gangguan hubung singkat ke tanah yang sering terjadi pada sistem
tenaga listrik adalah sebagai berukut :
a. Hubung singkat satu fasa ke tanah.
b. Hubung singkat dua fasa ke tanah.
c. Hubung singkat tiga fasa ketanah.

20
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Dalam sistem penyaluran daya listrik terjadi gangguan – gangguan hubung


singkat. Dari gangguan – gangguan di atas, pada umumnya arus gangguan tanah
besarnya 25 % atau lebih dari arus gangguan tiga fasa.
Akibat – akibat yang dapat ditimbulkan dari gangguan adalah sebagai berikut :
a. Sistem menjadi tidak stabil.
b. Rusaknya peralatan – peralatan yang terhubung pada jaringan tersebut.
Untuk menganalisa setiap gangguan tersebut di atas, representasi fasa tunggal
tidak dapat dipergunakan. Untuk membahas masalah ini, digunakan metode
komponen simetris.

2.10 Komponen Simetris Dari sistem Tiga Fasa.


Dalam sistem yang tidak seimbang ( Ia, Ib, Ic, atau Va, Vb, Vc ) vektor sistemnya
dapat diuraikan dalam tiga vektor sistem yang tidak seimbang. Vektor – vektor
ditempatkan terpisah 1200 satu sama lainnya dan mempunyai urutan fasa yang
sama, dimana :
a. Komponen – komponen urutan positif ( Va1, Vb1, Vc1, atau Ia1, Ib1, Ic1 )
yang seimbang meliputi tiga sistem yang jarak antara vektor 1200 dan
mempunyai urutan fasa yang sama seperti pada sistem awalnya.
b. Komponen – komponen urutan negatif ( Va2, Vb2, Vc2, atau Ia2, Ib2, Ic2 )
meliputi tiga vektor yang seimbang yang ditempatkan pada jarak yang
sama yaitu1200 dan mempunyai urutan fasa yang berlawanan dengan arah
vektor sistem lainya.
c. Komponen – komponen urutan nol ( Va0, Vb0, Vc0, atau Ia0, Ib0, Ic0 )
meliputi tiga vektor yang sama yang mempunyai sudut fasa nol.
Komponen simetris dapat dijelaskan secara vektoris sebagai berikut.

21
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Gambar 2.6
Penjumlahan secara grafis komponen simetris.

Va = Va1 + Va2 + Va0 : Ia = Ia1 + Ia2 + Ia0


Vb = Vb1 + Vb2 + Vb0 : Ib = Ib1 + Ib2 + Ib0 ........................................( 2.1 )

Vc = Vc1 + Vc2 + Vc0 : Ic = Ic1 + Ic2 + Ic0


Dimana :

Va = Tegangan pada saluran a.


Vb = Tegangan pada saluran b.
Vc = Tegangan pada saluran c.

Va1, Vb1, Vc1 = Tegangan pada urutan positif.


Va2, Vb2, Vc2 = Tegangan pada urutan negatif.
Va0, Vb0, Vc0 = Tegangan pada urutan nol.

22
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Ia = Arus pada saluran a.


Ib = Arus pada saluran b.
Ic = Arus pada saluran c.

Ia1, Ib1, Ic1 = Arus pada urutan positif.


Ia2, Ib2, Ic2 = Arus pada urutan negatif.
Ia0, Ib0, Ic0 = Arus pada urutan nol.

2.11 Operator ( a )
Karena adanya pergeseran fasa untuk komponen simetris tegangan dan arus
pada sistem tiga fasa maka diambil suatu metode untuk menentukan perputaran
sudut sebesar 1200. Dimana dimetode ini digunakan huruf ( a ) sebagai operator
yang menyatakan perputaran sebesar 1200 dengan arah putaran sudut berlawanan
arah jarum jam. Bila operator ini dinyatakan dalam bilangan kompleks yang
dinyatakan dengan besaran dan sudut.

Gambar 2.7
Operator ( a )

23
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Dari gambar diatas maka nilai operator ( a ) dapat ditulis sebagai berikut :
a = I e j 120
a = Cos 1200 + j Sin 1200
a = - 0,5 + j 0,866 = 1 ∠120 0

Untuk mendapatkan nila ( a2 ) dapat dilakukan dengan cara yaitu :


a2 = I e j 240
a2 = Cos 2400 + j Sin 2400
a2 = - 0,5 - j 0,866 = 1 ∠ 240 0

Sehingga untuk mendapatkan nilai ( a3 ) dapat dilakukan dengan cara :


a3 = I e j 360
a3 = Cos 3600 + j Sin 360
a3 = 1 + j 0

2.12 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah.


Dari macam hubung singkat di atas, gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah umumnya mempunyai arus gangguan yang besarnya 25 % atau lebih besar
dari arus gangguan hubung singkat tiga fasa ke tanah.
Arus gangguan satu fasa ke tanah pada generator yang titik netralnya
ditanahkan melalui impedansi Zn, merupakan gangguan yang dapat berpengaruh
pada generator, dan sering menimbulkan kerusakan pada isolasi generator :

24
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Gambar 2.8
Suatu Generator Tiga Fasa Hubung Y dengan Netral ditanahkan Melalui
Suatu Reaktansi dan Terjadi Gangguan di Fasa ( a ).

Dari gambar rangkaian di atas didapatkan persamaan sebagai berikut :

Ib = 0 ; Ic = 0 ..............................................................................................( 2.2 )

Va = 0 ..........................................................................................................( 2.3 )
1 1
Ia0 = ( Ia + Ib + Ic ) = Ia
3 3
1 1
Ia2 = ( Ia + aIb + a2Ic ) = Ia .......................................................................( 2.4 )
3 3
1 1
Ia0 = ( Ia + a2 Ib + aIc ) = Ia
3 3
1
Ia0 = Ia1 = Ia2 = Ia ( hubungan seri ) ...........................................................( 2.5 )
3

25
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Dari persamaan dasar didapat :


Va = Ea – Ia1 . Z1
Va2 = -Ia2 . Z2
Va0 = -Ia0 . Z0

Dari persamaan umum :


Va = Va1 + Va2 + Va0
Va1 = Ea – Ia1 . Z1 – Ia2 . Z2 – Ia0 . Z0
Va1 = Ea – Ia1 ( Z 1 + Z 2 + Z0 )
Ea
Ia1 =
Z1 + Z 2 + Z 0
Dimana :
Z0 = Z01 + 3 Zn

Maka arus gangguan satu fasa adalah :


3Ea
Ifg 1 Ø = ...............................................................................( 2.6 )
Z 1 + Z 2 + Z 0 + 3R

Dimana : Ifg 1 Ø = arus gangguan satu fasa ke tanah.


Ea = tegangan dalam kutup generator.
Z1 = reaktansi urutan positif.
Z2 = reaktansi urutan negatif.
Z0 = reaktansi urutan nol.
R = tahanan pentanahan perunit
Maka :
KV 2
Zg = . ........................................................................................( 2.7 )
MVA
Dimana :
Zg = Reaktansi generator dalam satuan perunit
KV = Tegangan generator
MVA = Daya generator

26
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Sehingga :
R pen tan ahan
R= ......................................................................................( 2.8 )
Zg

R = tahanan pentanahan
R pentanahan = tahanan pentanahan pada generator
Zg = reaktansi generator dalam satuan perunit

Gambar 2.9
Hubungan jala – jala urutan hubung singkat satu fasa ke tanah.

Dalam melindungi generator terhadap gangguan hubung singkat ke tanah


digunakan juga tahanan pentanahan, ini dimaksudkan untuk membatasi arus
gangguan agar tidak menimbulkan bahaya kerusakan pada belitan dan inti

27
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

generator pada saat terjadi gangguan hubung singkat ke tanah pada belitan stator
generator. Maka untuk menghitung besar tahanan pentanahan dapat
mempergunakan rumus atau persamaan berikut :

Vg
R= ........................................................................................( 2.9 )
15 3 N 2
Dimana :
Vg = tegangan nominal generator ( Volt ).
15 = batasan arus gangguan hubung tanah ( Ampere ) untuk generator besar.
R = nilai tahanan pentanahan.
N = perbandingan transformator arus.

Penentuan nilai KVA dari transformator arus yang dipergunakan :

10 3 Vg
KVA = ...................................................................................( 2.10 )
3N 2 R

2.13 Proteksi Stator


2.13.1 Proteksi Terhadap Hubung Singkat dalam Belitan Stator.
Kegagalan isolasi belitan stator generator yang disebabkan oleh tegangan lebih
atau pemanasan yang berlebihan, dapat menimbulkan hubung singkat. Hal ini
dapat juga menurunkan tingkat ketahanan isolasi atau dengan kata lain dapat
memperpendek umur isolasi tersebut. Hubung singkat ini dapat berupa :
• Hubung singkat fasa ke fasa.
• Hubung singkat fasa ke tanah.
• Hubung singkat antar belitan.
Apabila hubung singkat yang pertama gagal diamankan, maka efek
pemanasan yang diakibatkannya dapat menimbulkan kerusakan isolasi di belitan
yang lain. Dengan demikian daerah gangguan akan meluas. Kelambatan dalam
pencegahan hubung singkat ini akan menimbulkan bahaya kebakaran dalam
belitan stator. Untuk pencegahan terhadap gangguan ini diperlukan suatu alat

28
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

pendeteksi yang dapat mengetahui kesalahan dan segera memerintahkan alat


pengaman untuk memutuskan generator dari sistem kelistrikannya. Dengan
demikian bahaya kerugian yang cukup besar dapat dihindari.
Sistem pengamanan yang biasanya digunakan untuk melindungi generator
terhadap hubung singkat dalam belitan adalah dengan menggunakan sistem
pengamanan differensial. Sistem ini sangat dianjurkan terutama untuk mesin –
mesin yang berkapasitas di atas 1000 KVA.

2.13.2 Pengamanan Gangguan Hubung Singkat Stator ke Tanah untuk


Belitan Generator – Trafo.
Generator – generator besar umumnya menggunakan sistem pentanahan netral
melalui trafo distribusi dengan tahanan di sisi sekunder. Sistem pentanahan yang
demikian dimaksudkan untuk mendapatkan nilai impedansi pentanahan yang
tinggi. Sedangkan pemasangan tahanan juga berfungsi untuk membatasi
gangguan agar tidak menimbulkan bahaya kerusakan pada belitan stator generator
pada saat gangguan hubung singkat ke tanah. Dengan menghubungkan sisi
tegangan tinggi pada netral generator, maka pada saat terjadi hubung singkat ke
tanah di belitan stator generator, akan diperoleh tegangan yang rendah di sisi
sekunder trafo pentanahan. Arus gangguan hubung singkat ke tanah untuk
generator besar biasanya di batasi kira – kira 10 Ampere.
Untuk melengkapi pengaman di dekat titik netral generator terhadap gangguan
hubung singkat fasa ke tanah dipergunakan rele proteksi arus lebih yang dipasang
di sisi sekunder trafo arus, dimana sistem ini sangat peka terhadap gangguan
hubung singkat fasa ke tanah dalam stator dan dapat disetting sedemikian rupa
sehingga peka terhadap arus gangguan hubung singkat ke tanah yang terjadi
dalam belitan stator generator dengan frekuensi 50 Hz.

29
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

2.14 Penentuan Setting Rele Proteksi Stator


2.14.1 Rele Arus Lebih Instantaneous untuk Gangguan Fasa
a. Setting arus dengan kelambatan waktu
Iset = ( 4 – 6 ) x In
Dimana In adalah arus nominal trafo arus.

2.14.2 Rele Arus Lebih Definite Time


a. Setting arus lebih Definite Time pada stator untuk gangguan tanah :
Iset = 5 % x Ifg 1Ø
Dimana :
I set : Setting rele arus lebih.
I hs : Arus gangguan maksimum hubung singkat satu fasa ke tanah

2.14.3 Setting Waktu Rele


Setting waktu kerja dari rele arus lebih definite time pada stator untuk
gangguan tanah tidak tergantung pada besarnya arus uji melainkan tergantung dari
setting waktu time delay pada rele sebesar 3 detik.

30
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

BAB III
KEADAAN UMUM

3.1 Umum.
Berdasarkan besarnya kapasitas suatu generator maka sistem penyaluran
tenaga listrik akan semakin kompleks, sehingga harus diperlukan sekali suatu
sistem pengaman yang baik. Maksud dan tujuan dari suatu sistem pengaman
generator adalah untuk mengurangi waktu peralatan keluar dari sistem kerja,
dengan cara pembedaan kesalahan secara cepat dan tepat.
Untuk kesalahan pada belitan stator generator sangat diperlukan sekali suatu
sistem proteksi yang dapat mendeteksi terjadinya gangguan pada belitan stator
tersebut dan memerintahkan pemutus tenaga untuk bekerja guna mengisolir
kesalahan tersebut, sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan pada sistem
peralatan yang lain. Jika generator tersebut masih tetap bekerja mengirimkan
tenaga ke belitan stator yang salah ( eksitasi mesin masih ada ). Maka sangat
diperlukan sekali membuka rangkain penguatan medan magnet, yang dapat
menghentikan suplai dari mesin penggerak utama. Jadi kerusakan yang lebih
besar terjadi pada generator dapat dihindarkan.

3.2 Analisa Gangguan Hubung Tanah pada Belitan Stator Generator di


PLTU Sektor Pembangkitan Keramasan.
Generator – generator bertegangan tinggi pada umumnya memiliki hubungan
belitan “ Bintang ( Y ) dan menggunakan pentanahan titik netral. Dimana
pentanahan titik netral ini dapat berupa hubungan langsung ketanah ( soild
grounding ) maupun hubungan langsung ke tanah melalui suatu impedansi atau
tahanan. Dengan tingginya nilai tahanan pentanahan ini maka akan
mempengaruhi besar arus gangguan hubung tanah yang akan mengalir bila terjadi
gangguan hubung singkat ke tanah di belitan stator generator.
Sistem pentanahan ini dimaksudkan untuk membatasi arus gangguan, agar tidak
menimbulkan bahaya kerusakan pada belitan dan inti generator pada saat
terjadinya gangguan hubung singkat ke tanah pada belitan stator generator. Arus

31
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

gangguan satu fasa ke tanah maksimum untuk proteksi generator yang besar
adalah 15 Ampere.
Untuk melengkapi pengaman di dekat titik netral generator terhadap gangguan
hubung singkat fasa ke tanah dipergunakan rele pendeteksi arus lebih yang di
pasangkan di sisi sekunder trafo arus. Dimana sistem ini sangat peka terhadap
gangguan singkat fasa ke tanah pada belitan stator generator.
Rele proteksi arus lebih yang di pasangkan ini disetting sedemikian rupa
sehingga peka terhadap arus gangguan yang terjadi pada belitan stator generator
dengan frekuensi rating ( 50 Hz ), dan tidak boleh bekerja terhadap arus harmonik
yang timbul di titik netral generator pada keadaan tanpa gangguan.
Pada belitan stator generator – generator besar biasanya didesain dengan
hubungan bintang ( Y ), dan sistem generator ini langsung dihubungkan ke busbar
melalui transformator penaik tegangan yang terhubung segi tiga – bintang
( Δ - Y ). dimana sistem ini sangat baik karena dapat membatasi aliran arus urutan
nol ( 0 ) yang mengalir ke dalam generator pada saat terjadi gangguan hubung
singkat fasa ke tanah di sisi tegangan tinggi transformator atau pada saluran
transmisi. Jadi arus urutan nol ini diblokir dan tidak memungkinkan mengalir
melalui rele stator gangguan tanah. Dengan kata lain rele stator gangguan tanah
ini dapat bekerja untuk kesalahan – kesalahan hubung tanah pada belitan stator
generator saja. Sehingga didapat sistem proteksi yang selektif.
Pada gambar 3.1 dapat dilihat prinsip dasar penggunaan sistem proteksi dari
belitan stator generator dengan mempergunakan rele proteksi arus lebih, dan tidak
boleh beroperasi terhadap gangguan di luar generator. dengan keterangan gambar
sebagai berikut :
1. Transformator
2. Generator
3. Tahanan Pentanahan
4. Transformator arus
5. Rele stator gangguan tanah
M = Pengukur
S = Sumber sinyal

32
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Gambar 3.1
Prinsip Dasar Penggunaan Proteksi Gangguan Hubung Tanah di Stator

Sistem proteksi stator gangguan hubung tanah yang dipergunakan di PLTU


sektor pembangkitan keramasan, adalah Rele Arus Lebih dengan Type RMAH
200.

3.3 Data – Data Peralatan yang Terpasang


Data Generator
Pabrik : Yugoslavia
Tahun Pembuatan : 1966 – 1972
Type : S – 1145 – 2
Model : Synchrons Turbo
Putaran : 3000 rpm
Tegangan : 6,3 kV
Data Trafo : 16 MVA
Daya Maksimum : 12500 kW

33
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Frekuensi : 50 Hz
Arus Beban : 1466 A
Ketahanan hubung singkat thermal ( untuk 20 dtk ) : 10 In
R pentanahan : 240 Ohm
X0 ( reaktansi urutan nol ) : 0,0975 pu
X2 ( reaktansi urutan negatif ) : 0,1561 pu
Xd ( reaktansi urutan positif ) : 0,164 pu

Data Teknik Rele Arus Lebih


Jenis : Definit Time
Pabrik : Montrouge
Type : RMAH 200
Penyetelan Arus : 0,5 A
Setting Arus / Penyetelan Arus : 1 – 2 x In
Setting Waktu : 5 Detik
Ketahanan hubung singkat thermal ( untuk 1 dtk ) : 100 In
Ketahanan hubung singkat Dinamik ( untuk 1 dtk ) : 100 In
Arus Nominal ( In ) : 2,5 / 5 A
Frekuensi : 50 Hz.
Toleransi Arus Kerja : 86 % dari penyetelan arus
kerja
Arus Trip Maksimum Sesaat
- Penyetelan : 3 – 6 x In
- Toleransi : 10 %
- Waktu Kerja : 0,04 Detik.

34
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Penyetelan Kelambatan Waktu


- Frekuensi 50 Hz : 0,2 – 10 Detik
- Toleransi : 0,05 Detik
- Arus servis indikator kontak trip : 0 – 1 In
- Arus kontinyu : 10 A

Pemutus Daya yang Diizinkan


- Frekuensi 50 Hz, beban resitif : 1000 VA
- Frekuensi 50 Hz, Cos Q = 0,35 : 700 VA
- DC, beban resitif : 120 W
- Kapasitas Maksimum : 4,4 KVA
- Arus Maksimum Trip dengan CT
Trip pada 220 V, 50 Hz : 40 A

35
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Umum.
Pada bab pendahuluan telah jelaskan tujuan dari pembahasan adalah untuk
mengetahui berapa besar arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah pada
belitan stator generator. Maka pada bab ini akan membahas perhitungan besar
arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah pada belitan stator generator
yang ada di PLTU Sektor Keramasan. Jumlah generator yang ada di PLTU
Sektor Keramasan ada 2 Unit adalah generator sinkron. Untuk mempermudah
dalam pembahasan, maka cukup diambil satu unit generator saja yaitu generator
PLTU unit 1, tahanan pentanahan yang di gunakan adalah 240 Ohm. Besar arus
gangguan dari hasil perhitungan tersebut akan dijadikan bahan acuan dalam
penyetelan rele dan koordinasi setting rele.

4.2 Perhitungan Reaktansi dalam Satuan Perunit ( Zg )


Sebelum dicari arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah, maka data –
data reaktansi generator harus di ubah dahulu dalam satuan perunit. Dari data
pada sub bab 3.3 dengan menggunakan persamaan 2.7 maka dapat di cari besar
reaktansi generatornya.

Dimana :
KV 2
Zg =
MVA
Zg adalah reaktansi dalam satuan perunit.

Sehingga didapat:
(6,3) 2
Zg = = 2,4806 pu
16

36
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

4.2 Perhitungan Nilai Tahanan Pentanahan.


Dari data generator pada sub bab 3.3 dengan menggunakan persamaan 2.8
maka dapat dihitung nilai tahanan pentanahan perunit.

Dimana :
R pen tan ahan
R=
Zg

Sehingga didapat :
240
R= = 96,7507 pu
2,4806

4.3 Perhitungan Besar Arus Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah
pada Belitan Stator Generator di PLTU 1 Sektor Keramasan.
Untuk menghitung besarnya arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah
pada belitan stator generator, dapat mempergunakan persamaan 2.6 yaitu :
3E a
Ifg 1Ø =
Z 1 + Z 2 + Z 0 + 3R

Jika tegangan dalam kutup generator Ea = 1,0 Volt


Maka :
3E a
Ifg 1Ø =
Z 1 + Z 2 + Z 0 + 3R
3 x1,0
Ifg 1Ø =
0,164 + 0,1561 + 0,0975 + 3(96,7488)
Ifg 1Ø = 0,01032 A

Jadi besar arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah pada belitan stator
generator adalah sebagai berkut :

Ifg 1Ø = 0,01032 x 1466 = 15 A

37
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Maka besar arus gangguan satu fasa ke tanah ini dapat ditetapkan sebagai
standar setting rele gangguan hubung singkat fasa ke tanah pada belitan stator
generator di PLTU 1 Sektor Keramasan.

4.4 Perhitungan Sistem Pentanahan dengan Tahanan pada Netral Generator


di PLTU Sektor Keramasan.
Guna melindungi sistem generator terhadap arus gangguan hubung singkat ke
tanah yang besar, maka dapat dipergunakan sistem pentanahan dengan tahanan
yang dapat dihitung dengan mempergunakan data – data sebagai berikut :

Data – data :
¾ Tegangan fasa ke fasa generator 6,3 kV
¾ Perbandingan transformator arus yang dipergunakan oleh sistem proteksi adalah
5/5 Ampere adalah 1 Ampere.

Dengan menggunakan persamaan 2.9 maka dapat dihitung nilai tahanan pentanahan
yang dipergunakan pada PLTU 1 Sektor Keramasan.

Vg
R=
15 3N 2

6300
R= = 242,7 Ohm.
15 3(1) 2

4. 5 Perhitungan Arus Gangguan Maksimum ke Tanah


Dengan mempergunakan nilai tahanan pentanahan di atas maka arus gangguan
maksimum ke tanah yang mungkin terjadi pada belitan stator generator di PLTU 1 sektor
keramasan adalah 15 Ampere atau dapat di buktikan dengan mempergunakan persamaan
2.10 sebagai berikut :

Ep / 3
Ik =
R.N 2

38
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

Dimana :
Ik = Arus gangguan maksimum ke tanah pada generator
EP = Tegangan fasa ke netral dari generator
R = Nilai tahanan pentanahan
N = Perbandingan transformator arus

Maka :

6300 / 3
IK = = 15 Ampere
242,7 x(1) 2

4. 6 Perhitungan Nilai Rating KVA dari Transformator Arus yang Dipergunakan


Sedangkan nilai KVA dari transformator arus yang dipergunakan, dapat dihitung
dengan mempergunakan persamaan 2.10 yaitu :

103Vg
KVA =
3N 2 R

103.6300
KVA = = 14954 KVA
2
3 (1) 242,7

Jadi untuk KVA adalah 14954 atau 14,954 MVA

4.7 Perhitungan Setting Rele Arus Lebih


Setting rele arus lebih pada stator untuk gangguan tanah adalah :

I Sett = 5 % x I k
I Sett = 5 % x 15 A
I sett = 0,75

Karena arus nominal rele ( In = 0,5 A ) maka setting penyetelan rele adalah
0,75
I sett = = 1,5 In
0,5

39
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

4. 8 Perhitungan Setting Waktu Rele.


Berdasarkan setting penyetelan rele arus lebih di atas dengan penyetelan 1,5 In, maka
setting waktu dapat dilihat pada kurva rele arus lebih definite time. Dari kurva dapat
dilihat bahwa dalam penyetelan 1,5 In maka waktu kerja relenya adalah 3 detik. ( lihat
lampiran )

4.9 Analisa Perhitungan

Hasil Perhitungan Hasil


No Setting Menurut Data di Perhitungan
Lapangan Menurut Teori

1 Arus, Rele Arus Lebih 1 – 2 In 1, 5 In

2 Waktu, Rele arus Lebih 5 detik 3 detik

Dari hasil perhitungan dan data dapat dilihat bahwa penyetelan rele yang ada pada
PT.PLN ( Persero ) PLTU 1 Sektor Keramasan sebesar 1 – 2 In. Sedangkan dari hasil
perhitungan didapatkan penyetelan arus sebesar 1,5 In. Perbedaan ini dikarenakan
penyetelan arus sebesar 1 – 2 x In yang dilakukan PLN disetel berdasarkan pada 5 % - 10
% dari arus gangguan hubung Singkat satu fasa ke tanah yang memiliki tahanan
pentanahan yang tinggi, sedangkan penyetelan arus sebesar 1,5 In disetel berdasarkan 5
% arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah yang memiliki tahanan pentanahan
yang tinggi. Fungsi tahanan pentanahan yang tinggi ini adalah untuk membatasi arus
gangguan yang terjadi pada belitan stator sehingga dengan tahanan yang tinggi, maka
arus gangguan yang dihasilkan semakin kecil. Sedangkan untuk penyetelan waktu kerja
rele didasarkan dari setting penyetelan arus kerja rele dengan penyetelan arus 1,5 In dan
arus gangguan sebesar 15 A, maka setting waktunya 3 detik. Ini dapat dilihat dari kurva
grafik rele arus lebih definite time, yaitu semakin kecil arus gangguan hubung singkat
fasa ke tanah, maka semakin lama waktu tunda pemutusannya.

40
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari perhitungan penulis dan dari data PT.PLN ( Persero ) PLTU
Pembangkitan Sektor Keramasan, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1. Besar arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah adalah 15 A.
2. Besar arus hasil perhitungan menurut teori /pustaka rele arus lebih ( I sett )
yang di hasilkan adalah 1,5 In sedangkan setting rele arus lebih ( I sett )
sebenarnya 1 – 2 In.
3. Lamanya waktu pemutusan rele hasil perhitungan menurut teori / pustaka,
setting waktu rele yang dihasilkan adalah 3 detik. Sedangkan setting waktu
rele sebenanya adalah 5 detik.
4. Berdasarkan hasil perhitungan setting kerja rele arus lebih yang didapat,
dengan data setting rele yang ada di PLN maka hasilnya tidak mengalami
perbedaan yang jauh karena masih berada pada batas setting rele yang ada
pada rele arus lebih type RMAH 200.

5.2 Saran
Mengingat pentingnya pengaman kerja generator yang sedang beroperasi
terhadap gangguan hubung singkat maka diperlukan adanya pengujian rele yang
dilakukan secara berkala sehingga dapat diketahui apakah rele tersebut masih
dapat bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan.

41
Politeknik Negeri Sriwijaya 2008

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, Kuwahara. 1972. Teknik Tenaga Listrik. Jakarta : PT. Pradiya


Paramita.
Yuliyati Jamiah, Susma. 2006. Evaluasi Sistem Proteksi Hubung Singkat Satu
Fasa ke Tanah pada Belitan Stator Generator 4,9 MVA PT.PLN ( persero )
PLTA TES Sektor Bengkulu. Laporan Akhir
Fadhilah, Yan. 1993. Pengaruh Pembebanan pada Generator Kompond Penguat
Sendiri dan Penguat Terpisah. Laporan Akhir Unsri
Hutauruk, T. S. 1991. Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan. Jakarta : Erlangga.
Rijono Yon, Drs. 1997. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Jakarta : Andi
Stevenson, William. 1994. Analisa Sistem Tenaga Listrik Edisi keempat. Jakarta :
Erlangga.

42