Anda di halaman 1dari 4

LAMPIRAN 1: BAHAN AJAR

HUKUM NEWTON TENTANG GERAK


A. Pengertian Gaya.
Bila kita lemparkan kelereng di atas permukaan lantai, maka kecepatan kelereng semakin lama
semakin berkurang sehingga suatu saat kelereng itu diam (berhenti).Kenapa demikian? Hal itu
disebabkan karena adanya gaya gesekan antara lantai dengan kelereng. Jadi dalam hal ini gaya dapat
menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan pada benda. Apa yang terjadi jika bola softball yang
dilempar lalu kita pukul? Tentunya bola itu akan terpental dengan arah yang berbeda dengan arah
semula. Dengan demikian gaya dapat menyebabkan perubahan arah gerak suatu benda. Contoh lain
perubahan yang terjadi akibat pengaruh gaya adalah perubahan ukuran suatu benda. Misalnya kalau
kita tarik pegas, maka panjang pegas akan berubah dari panjang semula. Tentunya masih banyak lagi
perubahan-perubahan yang dissebabkan oleh gaya yang bekerja pada suatu benda. Coba berikan
contoh yang lain akibat pengaruh gaya!
Dari contoh-contoh di atas dapatlah didefinisikan bahwa gaya adalah sesuatu yang dapat
menyebabkan perubahan gerak, perubahan arah gerak, perubahan ukuran atau perubahan bentuk dari
benda. Tetapi dalam hal ini kita akan pelajari khusus tentang hubungan gaya dengan gerak. Orang
yang paling berjasa dalam pembahasan ini adalah seorang yang bernama Isaac Newton, ilmuawan
berkebangsaan Inggris yang hidup pada tahun 1642 – 1727.
B. Hukum I Newton.
Dari contoh di atas dikemukakan, bila suatu kelereng dilemparkan di atas lantai maka kecepatan
kelereng semakin lama semakin berkurang sehingga suatu saat kelereng akan berhenti. Bayangkanlah,
bagaimana jika lantainya sangat licin sehingga tidak ada gaya
gesek antara lantai dengan kelereng?
Tentunnya kelereng itu akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap dan tidak akan pernah berhenti,
Bagaimana pula jika kelereng itu diletakkan di atas lantai tanapa diberi gaya? Tentu saja kelereng itu
tetap akan diam di tempatnya. Keadaaan inilah yang sebesarnya dikemukakan oleh Newton yang
dikenal dengan hukumnya yang pertama.
Bunyi hukum I Newton:
Bila tidak ada gaya yang bekerja pada benda (jumlah gaya-gaya yang bekerja sama dengan nol) maka
benda akan diam atau bergerak lurus beraturan.
Dari pernyataan itu dapat kita ringkas:
Jika Σ F = 0, maka benda itu diam atau bergerak lurus beraturan.
Perhatikan gambar berikut!
F1y Balok akan tetap diam atau bergerak
lurus beraturan jika:
ΣFx = 0
F1x F2x ΣFy = 0

F2y
Hukum I Newton disebut juga kelembaman, yaitu sifat suatu benda yang cenderung untuk
mempertahankan keadaan semula. Suatu benda yang diam cenderung untuk tetap diam, sebaliknya bila
benda itu bergerak maka cenderung untuk terus bergerak. Hal ini dapat kita rasakan pada saat kita naik
bus. Apabila bus tiba-tiba bergerak maka kita akan merasakan badan kita terdorong kebelakang,
sebaliknya pada saat bus sudah bergerak kemudian tiba-tiba direm, maka kita merasa badan kita
terdorong ke depan. Inilah yang dimasud dengan sifat lembam suatu benda.
C. Hukum II Newton.
Hukum I Newron membicarakan keadaan suatu benda jika tidak ada gaya yang bekerja padanya. Lalu
bagaimana jika ada gaya yang nekerja pada benda atau jumlah gaya yang bekerja pada benda tidak
sama dengan nol?
Tentunya keadaan benda akan sebaliknya, yaitu benda akan bergerak dan gerakannya tidak lurus
beraturan tetapi bergerak lurus berubah beraturan. Kalau benda bergerak lurus berubah beraturan tentu
ada percepatannya. Berapa besar percepatannya? Keadaan ini telah dikemukakan oleh Newton dalam
hukumnya yang kedua.
Bunyi Hukum II Newton:
Besarnya percepatan yang ditimbukan oleh gaya yang bekerja pada benda berbanding lurus dengan
besarnya gaya tetapi berbanding terbalik dengan massa benda.

F
a atau F  m.a
m
Keterangan:
a = percepatan benda (m/s2)
F = gaya (N)
m = massa benda (kg)

D. Hukum III Newton.


Bila kita memakai sepatu roda kemudian mendorong tembok, apakah yang terjadi? Tembok akan tetap
diam, malah kita yang terdorong ke belakang. Semakin besar dorongan kita, semakin kuat kita
terdorong ke belakang. Bagaimana ini bisa terjadi? Kejadian ini dapat dijelaskan bahwa pada saat kita
mendorong (memberikan gaya) pada tembok, sebenarnya tembokpun memberikan gaya pada kita
dengan besar gaya sama tetapi arahnya berlawanan. Keadaan ini telah dikemukakan oleh Newton pada
hukumnya yang ketiga dan dikenal pula sebagai hokum aksi-reaksi.
Bunyi Hukum III Newton.
Bila suatu benda mengerjakan gaya pada benda lain, maka benda kedua juga akan memberikan gaya
pada benda pertama dengan besar gaya sama tetapi arahnya berlawanan.
Secara matematis hokum III Newton dapat ditulis:
F(aksi) = - F(reaksi)

Perlu diperhatikan bahwa pasangan gaya aksi dan gaya rekasi ini timbul secara bersamaan tetapi
bekerja pada benda yang berlainan. Perhatikan pasangan gaya aksi-reaksi berikut ini.
N
Balok melakukan gaya pada meja sebesar W dan meja
melakukan gaya pada balok sebesar N, dimana
N=W
N = gaya normal
W = gaya berat
W

E. Berat dan massa.


Dalam kehidupan sehari-hari pengertian massa dan berat dianggap sama saja. Tetapi di dalam fisika
kedua kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Massa suatu benda menyatan kuantitas materi yang
dikandungnya. Besaran massa benda dimana-mana sama besar, tidak tergantung dimana letak benda
itu berada. Massa benda 100 kg di bumi bila di bawa ke bulan massanya tetap 100 kg. Tetapi lain
halnya dengan berat. Berat suatu benda menyatakan besarnya gaya gravitasi terhadap benda itu. Berat
suatu benda tergantung massa benda dan percepatan gravitasi tempat dimana benda itu berada. Berat
benda di bumi 200 N akan berbeda beratnya jika di bawa ke bulan atau planet lain, karena percepatan
gravitasi di bumi berbeda dengan percepatan gravitasi di bulan atau planet lain.
Hubungan antara massa dan gaya berat (berat0 dapat ditulis sebagai berikut:

W = m. g
Keterangan:
W = berat benda (N)
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
F. Gaya Gesekan.
Bila kita lemparkan sebuah kelereng di atas lantai, maka kecepatan kelereng sedikit demi sedikit akan
berkurang dan akhirnya kelereng itu akan berhenti setelah menempuh jarak tertentu. Bagaimanakah
jarak yang ditempuh kelereng jika dilemparkan di atas jalan beraspal? Tentunya jarak yang ditempuh
kelereng jauh lebih pendek jika dibandingkan di atas lantai. Hal ini dapat dimaklumi karena pada
permukaan jalan beraspal gaya gesekannya lebih besar bila dibandingkan permukaan lantai. Arah gaya
gesekan selalu berlawanan dengan arah gerak benda, sehingga gaya ini selalu menghambat gerak benda.
Keuntungan dan kerugian gaya gesekan.
Gaya gesekan tidak selalu merugikan kita. Banyak sekali adanya gaya gesekan ini menguntungkan
dalam kehidupan sehari-hari, bahkan diantaranya memang dibuat sedemikian rupa untuk tujuan
tertentu.
Di bawah ini diberikan contoh-contoh gaya gesekan yang merugikan maupun yang merugiksn.
Contoh gaya gesekan yang merugikan:
1. gaya gesekan antara komponen-komponen dalam sebuah mesin.
2. gaya gesekan antara roda dengan porosnya.
3. gaya gesekan antara udara dengan bodi pesawat.
Contoh gaya gesekan yang menguntungkan:
1) gaya gesekan antara ban roda mobil dengan jalan.
2) gaya gesekan pada rem sepeda motor
3) gaya gesekan meja dengan lantai.
Hal-hal yang mempengaruhi gaya gesekan.
Besar kecilnya gaya gesekan ditentikan oleh dua hal, yaitu:
1) tingkat kekasaran permukaan benda-benda yang berseinggungan atau koedisien gesekan ( μ)
2) gaya normal (N)
Besarnya gaya gesekan memenuhi persamaan:
fg   .N

G. Gaya gesekan statik dan kinetic.


Pada saat kita menarik sebuah peti di atas lantai datar dan peti tidak bergeser dari tempat semula, hal
ini disebabkan adanya gaya gesekan antara peti dengan lantai yang besarnya sama dengan gaya yang
kita berikan tetapi arahnya berlawanan. Gaya gesekan ini disebut gaya gesekan statik. Bila gaya tarikan
kita diperbesar sehingga peti bergerak, maka gaya yang kita berikan telah melampaui gaya gesekan
static maksimum.
Besarnya gaya gesekan static maksimum adalah sebagai berikut:

fs. max  s.N

Keterangan: fs.max = gaya gesekan static maksimum (N)


μs = koefisien gesekan statik
N = gaya normal (N)
Setelah peti bergerak, gaya tarikan yang kita rasakan akan lebih kecil bila dibandingkan dengan gaya
tarikan pada saat awal peti belum bergerak. Hal ini terjadi karena gaya gesekan kinetik (gaya gesekan
pada saat peti bergerak) nilainya selalu lebih kecil dari pada gaya gesekan static maksimum.
Besarnya gaya gesekan kinetic memenuhi persamaan:
fk  k .N

Keterangan: fk = gaya gesekan kinetik (N)


μs = koefisien gesekan kinetik
N = gaya normal (N)
Gaya gesekan pada bidang datar.
Bila suatu balok di atas bidang datar ditarik dengan gaya F yang arahnya juga mendatar, maka gaya-gaya
yang bekerja pada balok adalah seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:
Besarnya gaya normal:
N
N=W
N = m.g
fs F

W
Bila F < fs.max  balok belum bergerak
Bila F = fs.max  balok tepat akan bergerak/ hampir bergerak
Bila F > fs.max  balok bergerak
Bila balok bergerak, maka percepatan yang terjadi sebesar :

F  fk
a
m

Jika gaya F bekerja membentuk sudut tertentu terhadap bidang datar, maka gaya-gaya yang bekerja seperti
pda gambar di bawah ini.

N
Fsin α F Besarnya gaya normal:

fs α Fcos α N  W  F sin 

W
Bila Fcos α < fs.max  balok belum bergerak
Bila Fcos α = fs.max  balok tepat akan bergerak/ hamper bergerak
Bila Fcos α > fs.max  balok bergerak
Bila balok bergerak, maka percepatan yang terjadi sebesar:

F cos   fk
a
m
Gaya gesekan pada bidang miring.
Perhatikan gaya-gaya yang bekerja pada balok yang berada di atas bidang miring di bawah ini.

N
Besarnya gaya normal:
α fs
Wsin α N  W cos

Wcos α
α
W
Bila Wsin α < fs.max  balok belum bergerak
Bila Wsin α = fs.max  balok tepat akan bergerak/ hamper bergerak
Bila Wsin α > fs.max  balok bergerak
Bila balok bergerak, maka percepatannya adalah:

W sin   fk
a
m