Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi

masyarakatdengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh

perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan

kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang tetap mampu

meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh

masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setingi-tingginya.

Rumah sakit adalah bangunan gedung atau sarana kesehatan

yangmemerlukan perhatian khusus dari segi keamanan, keselamatan,

kesehatan, kenyaman dan kemudahan.

Rumah sakit memiliki pelayanan spesialis penunjang medik salah

satunya Instalasi Radiologi. Instalasi Radiologi adalah salah satu

instalasi dari keseluruhan instalasi yang dimiliki oleh rumah sakit, yang

berfungsi sebagai pemberi pelayanan penunjang diagnosa dan juga

sebagai penentu langkah atau tindakan medis lanjutan terhadap suatu

keadaan penyakit atau kelainan pada pasien.

Mutu pelayanan adalah sejauh mana kenyataan pemberian pelayanan

sesuai dengan kriteria pelayanan yang baik, kriteria pelayanan yang

baik antara lain pelayanan yang diberikan menunjukkan manfaat dan

1
hasil yang diinginkan,pelayanan yang diberikan dilakukan dengan

efisien, kenyamanan fasilitas pelayanan yang tersedia, pelayanan yang

diberikan dapat diterima oleh masyarakat pengguna atau yang

membutuhkan.

Kepuasan pasien adalah sesuatu yang bisa membuat pasien

merasa percaya terhadap pelayanan yang diberikan. Indikator

kepuasan pasien antara lain dapat dilihat jumlah pasien yang datang

setiap harinya. Pada umumnya pasien menginginkan kepuasan dalam

pelayanan. Apabila pasien merasa tidak puas terhadap mutu pelayanan

yang diberikan, maka pasien akan cenderung beralih ke tempat

pelayanan yang lain yang dianggap dapat memberikan mutu pelayanan

yang lebih baik.

Manajemen pengelolaan dan pelayanan radiologi sangat penting

dalam struktur kerja yang bergerak di bidang pelayanan jasa, dalam hal

ini pelayanan jasa kesehatan di rumah sakit. Rumah Sakit Islam Sultan

Agung Semarang sebagai salah satu lembaga pelayanan kesehatan

masyarakat yang meliputi berbagai aspek, memberikan pelayanan yang

bermutu dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, tempat

pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan serta tempat pelatihan dan

pengembangan ilmu kedokteran klinis dan keperawatan dalam rangka

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Sebuah Instalasi Radiologi yang mempunyai tingkat pemeriksaan dan

jumlah pasien yang banyak, membutuhkan ruang yang luas, baik itu

2
ruang pemeriksaan maupun ruang tunggu pasien. Di Instalasi

Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, ruang

pemeriksaannya sudah cukup luas dan memungkinkan dalam

kelancaran pemeriksaan. Tetapi pada ruang tunggu untuk pasien

kurang luas, ruang tunggu pasien antara rawat jalan dan rawat inap

tidak dipisahkan sehingga ruangan terasa sempit dan kenyamanan

pasien terganggu. Utamanya kenyamanan terhadap pasien rawat jalan,

pasien yang dilayani tidak hanya pasien rawat jalan tetapi juga

melayani pasien rawat inap. Tenaga medis atau radiografer biasanya

mengutamakan pasien rawat inap karena dianggap lebih darurat

dibanding pasien rawat jalan. Pasien rawat jalan mungkin merasa tidak

dilayani sebagai mestinya karena pasien menganggap sudah datang

terlebih dahulu tapi tidak segera dilayani. Dikarenakan itu pasien jenuh

apalagi pada saat penungguan hasil radiografi. Kurangnya fasilitas

untuk kelangsungan kenyamanan pasien dapat mempengaruhi kualitas

pelayanan dan kepuasan pasien terhadap sarana dan prasarana di

Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

Latar belakang itulah yang mendasari penulis untuk mengkaji lebih

lanjut tentang “TATA RUANG TUNGGU PASIEN DALAM

MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RADIOLOGI

RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG” .

3
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tata ruang tunggu di Instalasi Radiologi Rumah Sakit

Islam Sultan Agung Semarang?

2. Bagaimana standar tata ruang tunggu pasien dalam meningkatkan

mutu pelayanan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Sultan Agung

Semarang?

C. Tujuan Penulisan Laporan

Tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana tata ruang tunggu di Instalasi

Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

2. Agar penulis dapat mengetahui masalah-masalah yang dihadapi

dalam pengelolaan dan pelayanan radiodiagnostik dan mengetahui

pemecahan masalah tersebut.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penyusunan laporan ini

adalah sebagai berikut :

1. Bagi Instalasi Radiologi

Untuk mengetahui standar tata ruang tunggu pasienrawat jalan dan

rawat inap di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung

Semarang

4
2. Bagi Institusi Pendidikan

Untuk menambah khasanah pustaka bagi institusi tentang

keefektifan tata ruang tunggu pasien terhadap mutu pelayanan di

Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

3. Bagi Peneliti

Megetahui dan memahami lebih dalam mengenai tingkat kepuasan

pasien sehingga pada saat penulis terjun langsung ke lapangan

dapat meningkatkan mutu pelayanan di tempat penulis bekerja.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan praktek kerja nyata adalah sebagai

berikut :

BAB I : PENDAHULUAN, berisi tentang latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN TEORI,berisi tentang gambaran umum rumah

sakit, profil rumah sakit, visi, misi , struktur organisasi

rumah sakit dan kualifikasi sumber daya manusia, jenis

kegiatan pelayanan di rumah sakit, jenis pelayanan

spesialis, jumlah tenaga kerja, manajemen radiologi,

pelayanan radiologi, administrasi dan arsip radiologi,

peralatan dan sarana pendukung di Instalasi dan arsip

radiologi, analisis SWOT rumah sakit.

5
BAB III : PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN, berisi tentang

paparan masalah dan penyebab masalah dan

pembahasan dari masalah yang ada.

BAB IV : PENUTUP, berisi tentang kesimpulan dan saran.

6
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Umum Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan

Agung Semarang

1. Pofil, Visi dan Misi Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang.

a. Profil

Instalasi Radiologi sebagai instalasi yang memberikan

pelayanan radiologi secara optimal dengan memeperhatikan

perlindungan hak-hak pasien, termasuk bahaya radiasi yang

mengacu pada IPTEK mutahir dan sebagai wahana pendidikan

yang beroientasi pada “Rahmatan lil Alamin”.

b. Visi

Instalasi Radiologi terkemuka dalam pelayanan kesehatan

diagnostik yang selamat menyelamatkan, dalam bidang

pendidikan membangun generasi baru khaira ummah dan

peradaban Islam menuju masyarakat sejahtera yang dirahmati

Allah SWT.

c. Misi

1. Mengembangkan Pelayanan diagnostik atas dasar nilai-

nilai Islam, yang selamat menyelamatkan, dijiwai semangat

“ Mencintai Allah Menyayangi Sesama” dan berpegang

7
teguh pada etika Rumah Sakit Islam dan etika kedokteran

Islam.

2. Mengembangkan Pelayanan untuk penelitian dan

pengembangan ilmu diagnostik dan imaging sesuai

standart yang tertinggi.

3. Mengembangkan pengabdian kepada masyarakat melalui

pelayanan diagnostik dengan memperhatikan perlindungan

hak-hak pasien, termasuk bahaya radiasi untuk

membangun peradaban islam menuju masyarakat sehat

sejahtera yang dirahmati Allah SWT.

4. Mengembangkan fasilitas sarana diagnostik dan imaging

sesuai tuntutan visi.

5. Mengembangkan Sistem yang Kondusif sehingga mampu

mengantisipasi perubahan dinamika masyarakat dan

perkembangan IPTEK Radiologi dan Imaging.

8
2. Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia Instalasi

RadiologiRumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

a. Bagan Struktur Organisasi Instalasi RadiologiRumah Sakit

Islam Sultan Agung Semarang

Gambar 2.1 Struktur organisasi Instalasi Radiologi Rumah


Sakit Islam Sultan Agung Semarang

b. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Dalam upaya mempersiapkan tenaga radiologi yang handal,

perlu kiranya melakukan kegiatan menyediakan,

mempertahankan sumber daya manusia yang tepat bagi

9
organisasi. Atas dasar tersebut perlu adanya perencanaan

SDM, yaitu proses mengantisipasi dan menyiapkan perputaran

orang ke dalam, di dalam dan di luar organisasi. Tujuannya

adalah mendayagunakan sumber-sumber tersebut seefektif

mungkin sehingga pada waktu yang tepat dapat disediakan

sejumlah orang yang sesuai dengan persyaratan jabatan.

Perencanaan bertujuan untuk mempertahankan dan

meningkatkan kemampuan oganisasi dalam mencapai

sasarannya melalui strategi pengembangan kontribusi.

Spesifikasi Pendidikan Jumlah

Dokter Spesialis Radiologi 3 orang

Radiografer 13 orang

Perawat Radiologi 2 orang

Administrasi Radiologi -

1. Distribusi Ketenagaan

Adapun Distribusi Ketenagaan di Instalasi Radiologi

Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, yaitu:

a) Kepala Instalasi Radiologi : 1 Orang

b) Penanggung jawab Radiologi : 1 Orang

c) Dokter Spesialis Radiologi : 3 Orang

d) Radiografer Pelaksana : 13 Orang

e) Perawat radiologi : 2 Orang

f) Administrasi radiologi :-

10
2. Tugas dan Tanggungjawab

Adapun tugas dan tanggungjawab masing-masing,


yaitu:
a) Kepala Instalasi Radiologi

Membantu Direktur Pelayanan dalam merencanakan,

mengarahkan, mengkoordinasikan, mengendalikan,

mengevaluasi pelaksanaan program-program

pelayanan Instalasi Radiologi.

b) Penanggung Jawab Radiologi.

Membantu Kepala Instalasi Radiologi dalam rangka

mengelola Radiologi (merencanakan, mengarahkan,

mengkoordinasikan, mengendalikan dan mengevaluasi

program-program radiologi) melalui pelayanan dan

administrasi radiologi.

c) Radiografer Pelaksana

1) Melakukan pemeriksaan radiodiagnostik (x-ray

konvensional, fluoroscopy, panoramik,

chepalometri dan CT-Scan) sesuai prosedur.

2) Menggunakan peralatan radiologi sesuai prosedur.

3) Melakukan pengolahan, pencetakan dan

pengiriman gambar dengan CR (computerize

Radiography).

11
4) Meminimalisasi penolakan film yang disebabkan

kesalahan dari radiografer.

5) Mengikuti training atau seminar yang diadakan

internal atau eksternal.

6) Menjaga dan merawat semua peralatan yang ada

di Diagnostik Imaging

7) Menjaga kebersihan dan kerapihan tempat kerja.

d) Perawat Radiologi

1) Mengobservasi tanda-tanda vital (mengukur nadi

dan tekanan darah) dan keluhan-keluhan pasien.

2) Melakukan tindakan keperawatan yang meliputi:

pemasangan iv line, needle atau wing needle.

3) Menerapkan komunikasi therapeutic.

4) Melaporkan keadaan pasien yang bermasalah

kepada radiolog.

5) Mendokumentasikan semua tindakan yang telah

dilakukan.

6) Bekerjasama dengan radiografer dalam

mempersiapkan peralatan medis yang dibutuhkan

pada saat pemeriksaan.

7) Membantu penanganan pasien yang alergi

terhadap bahan kontras.

12
8) Membantu mempersiapkan mental pasien sebelum

dilakukan tindakan pemeriksaan radiologi.

9) Membantu dokter dalam memberikan obat penurun

tekanan darah kepada pasien yang

memerlukannya.

10) Membuat daftar kebutuhan medis sesuai standar

maksimum dan minimum

11) Menyimpan obat-obatan medis dan alkes sesuai

petunjuk penggunaan pada barang tersebut.

12) Mengevaluasi persediaan medis minimal satu tahun

sekali.

13) Mencatat pada form yang tersedia setiap ada

barang medis yang masuk dan keluar.

14) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

terutama di bidang perawatan melalui pertemuan-

pertemuan ilmiah, membaca buku atau jurnal

keperawatan.

15) Menjaga kebersihan dan kerapihan tempat kerja.

e) Petugas Administrasi

1) Melakukan registrasi pelanggan Radiologi.

2) Mengatur perjanjian Radiologi untuk pemeriksaan

Kontras, USG dan MSCT.

3) Melakukan pencetakan label.

13
4) Memasukkan hasil laporan radiologi ke dalam

amplop.

5) Memastikan identitas pasien sudah benar sebelum

menyerahkan hasil.

6) Melakukan alur komunikasi yang jelas antara

radiografer dengan staff clinical, non clinical dan

pasien sehingga menjamin pelayanan medical

imaging yang berkualitas.

7) Membuat laporan bulanan terkait dengan jumlah

pemeriksaan, jenis pemeriksaan, jenis pasien,

rekapitulasi pendapatan radiolog diagnostic

imaging.

8) Menjamin tersedianya logistic umum (amplop

roentgen, form permintaan, ATK, dsb).

f) Petugas Kendali Mutu Radiologi

1) Mengontrol atau memeriksa fungsi alat-alat kesehatan

Diagnostic Imaging.

2) Membantu Kepala Instalasi Radiologi dan Penanggung

Jawab Radiologi dalam membuat laporan keadaan

peralatan kesehatan Diagnostic Imaging.

3) Melaporkan dengan segera bila terjadi kerusakan atau

tidak berfungsinya alat kepada pihak maintenance

Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang dan

14
memberitahukan hal tersebut juga kepada Manajer

Penunjang Medis sebagai tembusan.

4) Membantu Kepala Instalasi Radiologi dan Penanggung

Jawab Radiologi dalam melaksanakan pengawasan

perawatan (maintenance) rutin alat-alat kesehatan

Diagnostic Imaging.

5) Mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang

Diagnostic Imaging.

3. Pengaturan Jaga Shift

Pelayanan Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang memerlukan pengaturan jaga

yang efektif dan efesien sesuai dengan kebutuhan pasien .

Adapun pengaturan jaga di Instalasi RadiologiRumah Sakit

Islam Sultan Agung Semarang sebagai berikut :

a) Dokter Spesialis Radiologi

Nama Dokter Hari Waktu

dr. Bekti Safarini, Sp. Rad (K) Senin, Rabu, Kamis, Jumat 09.00 - 14.00 WIB

Selasa 09.00 s/d selesai

Sabtu 09.00 s/d selesai

dr. Eddy Sudijanto, Sp. Rad Rabu& Kamis 16.00 s/d selesai

dr. Titik Yuliastuti, Sp. Rad Setiap hari 06.30 s/d 08.00

Senin & Jumat 16.00 s/d selesai

15
b) Radiografer

Dinas Pagi Pukul 07.00 – 14.00 WIB

Dinas Pagi-Siang 1 Pukul 09.00 – 16.00 WIB

Dinas Pagi-Siang 2 Pukul 12.00 – 19.00 WIB

Dinas Siang Pukul 14.00 – 21.00 WIB

Dinas Malam Pukul 21.00 – 07.00 WIB

c) Perawat Radiologi

Dinas Pagi Pukul 07.00 – 14.00 WIB

Dinas Siang Pukul 14.00 – 21.00 WIB

16
3. Sarana Prasarana

a) Jenis peralatan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan

Agung Semarang

NO PERALATAN JUMLAH

1 Pesawat MSCT coverages 500 slice Merk GE Optima 660 1

2 Power Injector Otomatis 1

3 Monitor EKG Jantung 1

4 Pesawat Sinar-X multi purpose Merk Siemens RF Luminos 1

5 Pesawat Sinar-X Merk GE XR 6000 1

6 Pesawat Sinar-X Panoramic & Cephalometric Merk Instrumentarium 1

7 Pesawat USG Merk Voluson R730 Pro/ Pro V GE 1

8 Pesawat USG Merk GE C5 Premium 1

9 Alat CR (Computed Radiography) Merk Carestream 1

10 Pesawat Sinar-X Mobile Merk GE 1

11 Pesawat Sinar-X C-Arm ESWL Merk Huikang 1

12 Pesawat Sinar-X C-Arm (CathLab) Merk PHILIPS ALLURA FD 10 1

13 Pinter Merk TRIMEX TX40 Laser Image 1

14 Printer Merk HP 1

15 Printer Merk DryView 5700 Laser Image 1

b) Jenis Pelayanan Radiologi

1. CT Scan

Merupakan pemeriksaan radiologi untuk melihat irisan-irisan

atau potongan suatu objek atau organ dengan sistem

computerized tomography spiral. Macam pemeriksaannya :

17
a) CT Scan Kepala atau Otak

b) CT Scan Telinga, Os Petrusum dan Os Mastoid

c) CT Scan Orbita

d) CT Scan Nasopharing

e) CT Scan Sinus Paranasalis

f) CT Scan Thorax

g) CT Scan Abdomen

h) CT Scan Spine

i) CT Scan Extremitas

j) CT Scan Cardiac atau Jantung

k) CT Angio

l) CT Perfusi

m) CT Run Off

n) Kalsium Score

o) Rekontruksi 3 Dimensi

2. USG

Pemeriksaan dengan mempergunakan gelombang suara

berfrekuensi tinggi dengan fasilitas Doppler berwarna.

Adapun jenis pemeriksaannya :

a) Colour Doppler

1) Carotis

2) Vascular Perifer

3) Vascular Intra Abdomen

18
4) Aneurisma

5) Vascular Tumor, dll.

b) USG semua organ

1) Payudara, tiroid, testis

2) Ginjal

3) Hepar, Lien

4) Prostat

5) Transrectal

6) Transcranial

7) Obstetri – Genekologi

8) Muskulo Skeletal

3. Panoramik

Suatu pemeriksaan radiologi untuk melihat gigi geligi dan

rahang secara keseluruhan. Adapun jenis pemeriksaannya

sebagai berikut :

a) Foto Panoramic

b) Foto Cephalometri

c) Foto Temporo Mandibula Joint

Jenis pemeriksaan dilakukan dengan diagnosa pasien

antara lain sebagai berikut:

a) Pasien dengan impaksi gigi

b) Pasien dengan perawatan gigi (ortodonsi)

c) Pasien dengan trauma rahang

19
d) Pasien dengan kasus tumor didaerah rahang

4. Foto Konvensional

a) Pemeriksaan tanpa kontras

Cranium, thoraks, pelvis, ekstrimitas atas, ekstrimitas

bawah, abdomen, pelvimetri, bone survey, invertogram,

chepalometri, panoramic, vertebrae dan mammografi.

b) Pemeriksaan dengan kontras

Semua pemeriksaan saluran cerna (oesophagus, OMD,

follow through, colon in loop, lopografi dan

appendicogram), saluran perkemihan (BNO-IVP, RPG,

APG, bipolar uretrocystografi, uretrografi, MCU,

cystografi), myelografi, HSG, fistulografi, kandung

empedu, sialografi, plebografi dan pemeriksaan dengan

fluoroscopi lainnya.

5. Pelayanan Lainnya

a) ESWL, memecah batu ginjal atau tembak batu ginjal.

b) Kateterisasi jantung, pemeriksaan untuk mendeteksi

adanya kelainan pada organ jantung dan pemasangan

ring apabila ada penyumbatan pada organ jantung.

20
4. Standar Alur Pelayanan Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang

a. Bagan Alur Pelayanan Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang.

PENDAFTARAN

PEMBAYARAN

RUANG TUNGGU PASIEN


RUANG PEMERIKSAAN
YANG AKAN DIFOTO

RUANG PENGAMBILAN
RUANG HASIL EXPERTICE
HASIL FOTO

1. Prosedur Pendaftaran

a) Pasien Rawat Inap

1) Perawat ruangan menghubungi petugas radiologi

via telepon bahwa akan mendaftar dan atau

mengirim pasien ke Instalasi Radiologi.

2) Selanjutnya perawat ruangan mengantar pasien ke

Instalasi Radiologi dengan membawa surat atau

blangko permintaan rontgen dan status pasien.

21
3) Petugas administrasi radiologi menerima surat atau

blangko permintaan rontgen, kemudian

mencocokkan data pasien di surat atau blangko

permintaan dengan data di komputer billing dan

membuat rincian besarnya biaya pemeriksaan.

4) Petugas administrasi radiologi menuliskan data

pasien di buku register pemeriksaan radiologi.

5) Selanjutnya radiografer melakukan pemeriksaan

sesuai permintaan dokter dan SPO pemeriksaan

radiologi.

6) Setelah selesai pemeriksaan, perawat mengantar

pasien kembali ke ruangan rawat inap.

7) Jika radiograf sudah diexpertise oleh dokter

radiologi maka petugas radiologi akan

menghubungi perawat ruangan via telepon untuk

mengambil hasil pemeriksaan rontgen.

8) Petugas pramusada mengambil hasil pemeriksaan

rontgen dan menandatangani di buku pengambilan

hasil radiologi rawat inap.

b) Pasien Rawat Jalan

1) Pasien atau keluarga pasien rawat jalan datang ke

loket pendaftaran Instalasi Radiologi dengan

22
membawa surat atau blangko permintaan rontgen

dari dokter.

2) Petugas administrasi radiologi menerima surat atau

blangko permintaan rontgen, kemudian

mencocokkan data pasien di surat atau blangko

permintaan dengan data di komputer billing dan

memberitahu besarnya biaya pemeriksaan

radiologi. Setelah pasien atau keluarga pasien

menyetujuinya, petugas administrasi radiologi

membuat kuitansi perincian besarnya biaya

pemeriksaan dan menyerahkan kepada pasien atau

keluarganya. Kemudian pasien dipersilakan untuk

menunggu panggilan pemeriksaan.

3) Petugas administrasi radiologi menuliskan data

pasien di buku register pemeriksaan radiologi.

4) Selanjutnya radiografer melakukan pemeriksaan

sesuai permintaan dokter dan SPO pemeriksaan

radiologi.

5) Pasien atau keluarganya membayar biaya

pemeriksaan di kasir, kemudian menyerahkan bukti

pembayaran kepada petugas administrasi radiologi.

6) Petugas administrasi radiologi mempersilakan

pasien untuk menunggu hasil pemeriksaan.

23
7) Jika radiograf sudah diexpertise oleh dokter

radiologi maka petugas radiologimemanggil pasien

dan menyerahkan hasil rontgen.

8) Pasien menerima hasil pemeriksaan rontgen dan

menandatangani di buku pengambilan hasil

radiologi rawat jalan.

c) Pasien IGD (Instalasi Gawat Darurat)

1) Perawat IGD menghubungi petugas radiologi via

telepon mendaftarkan pasien sekaligus akan

mengirim pasien ke radiologi.

2) Selanjutnya Perawat IGD mengantar pasien ke

Instalasi Radiologi dengan membawa surat atau

blangko permintaan rontgen dan status pasien.

3) Petugas radiologimenerima surat atau blangko

permintaan rontgen, kemudian mencocokkan data

pasien di surat atau blangko permintaan dengan

data di komputer billing dan membuat perincian

besarnya biaya pemeriksaan.

4) Petugas radiologimenuliskan data pasien di buku

register pemeriksaan radiologi.

5) Selanjutnya radiografer melakukan pemeriksaan

sesuai permintaan dokter dan SPO pemeriksaan

radiologi.

24
6) Jika radiograf sudah diexpertise oleh dokter

radiologi maka petugas radiologi menyerahkan

hasil pemeriksaan rontgen ke perawat IGD yang

mengantar pasien.

7) Perawat IGD tanda tangan di buku pengambilan

hasil radiologi rawat jalan.

8) Perawat IGD mengantar pasien kembali ke IGD.

2. Pelayanan Radiologi Rutin

a) Instalasi Radiologi memberikan pelayanan setiap hari

kerja mulai pukul 07.00 s/d 21.00 WIB.

b) Prosedur pelayanan umum diagnostik adalah sebagai

berikut :

1) Pasien dari luar mendaftar di loket pendaftaran

Radiologi dan mengurus kelengkapan administrasi

serta melakukan pembayaran di kasir.

2) Pasien dari rawat inap dan rawat jalan mendaftar di

loket Radiologi untuk dilakukan validasi secara

electronik, pembayaran dilakukan setelah selesai

dilakukan tindakan radiologi.

3) Setelah itu pasien menunggu panggilan untuk

diperiksa di ruang tunggu.

4) Pemeriksaan Radiologi dilakukan di ruang

pemeriksaan tertentu.

25
5) Setelah itu gambar rontgen diproses dengan

mengggunakan Computerize Radiography

6) Pengecekan hasil rontgen dilakukan oleh

radiografer, jika baik, pasien diberitahu bahwa

pemeriksaan telah selesai, tapi jika kurang baik,

maka dilakukan pengulangan foto.

7) Pasien pulang atau kembali ke ruang perawatan

bagi pasien yang dirawat.

8) Untuk pasien yang cito, hasil expertise dapat

ditunggu.

9) Hasil Pemeriksaan Radiologi dilaporkan dalam

kerangka waktu yang telah ditetapkan.

10) Analisis dan expertise dilakukan oleh dokter

spesialis radiologi atau radiolog.

3. Pelayanan Radiologi Gawat Darurat

a) Instalasi Radiologi memberikan pelayanan gawat

darurat setiap hari selama 24 jam.

b) Prosedur pelayanan gawat darurat diagnostik adalah

sebagai berikut :

1) Dokter pengirim melakukan order pemeriksaan

radiologi melalui blangko permintaan rontgen pada

pasien dari Instalasi Gawat Darurat (IGD).

26
2) Perawat Menghubungi Instalasi Radiologi untuk

mengantar pasien dari IGD.

3) Petugas Radiologi melakukan validasi pada pasien

yang akan dilakukan pemeriksaan radiologi.

4) Pemeriksaan Radiologi dilakukan di ruang

pemeriksaan tertentu.

5) Setelah itu gambar rontgen diproses dengan

menggunakan Computerize Radiography.

6) Pengecekan hasil rontgen dilakukan oleh

Radiografer, jika baik, pasien ke IGD atau ruang

perawatan, tapi jika kurang baik, maka dilakukan

pengulangan foto.

7) Untuk pasien IGD yang benar-benar dalam keadaan

sangat tidak kooperatif maka pemeriksaan diagnostik

dapat dilakukan di ruang radiologi di IGD dengan

menggunakan mobile unit.

8) Untuk pasien ICU/PICU/NICU, pemeriksaan

diagnostik dilakukan di ruang ICU/PICU/NICU

dengan menggunakan mobile unit.

9) Analisis dan expertise dilakukan oleh radiolog.

27
4. Laporan Hasil dan Arsip

a) Pendokumentasian hasil atau pemberian expertise

1) Di dalam jam kerja

Setelah selesai pemeriksaan, petugas radiologi

menyatukan surat atau blangko permintaan rontgen

dengan film radiograf dan di klip dengan amplop film

radiograf sesuai dengan identitas pasien.

Selanjutnya membawanya ke meja dokter spesialis

radiologi untuk di expertise. Dokter spesialis radiologi

mengexpertise film radiograf dengan bantuan light

case (viewing box). Dokter spesialis radiologi

mengetik hasil expertise di komputer khusus

expertise yang online secara intranet. Setelah

memeriksa kebenarannya, selanjutnya di-print

rangkap tiga dan ditandatangani.

2) Di luar jam kerja

Setelah selesai pemeriksaan, petugas radiologi

mengcopy gambar radiograf yang ada di work station

ke dalam CD dan di-emailkan kepada dokter

radiologi yang dituju untuk diexpertise melalui alamat

email : radiologi.rsisa@gmail.com.Setelelah selesai

mengexpertise, dokter spesialis radiologi

mengirimkan kembali hasil expertise ke alamat

28
email: radiologi.rsisa@gmail.com.Selanjutnya

petugas radiologi memindahkan hasil expertise ke

komputer khusus expertise yang online secara

intranet.Setelah memeriksa kebenarannya,

selanjutnya di-print rangkap tiga dan distempel.

b) Arsip

Hasil expertise yang sudah di print rangkap tiga

diambil oleh Petugas radiologi untuk diverifikasi:

1) Lembar hasil warna putih dan hijau dijadikan satu

dengan film radiograf dan dimasukkan ke dalam

amplop sesuai dengan identitas pasien. Kemudian

diarsipkan sesuai dengan urutan tanggal, bulan, dan

tahun dengan penyusunan bilangan tanggal, bulan,

dan tahun terkecil berada paling bawah.

2) Lembar hasil warna kuning dilubangi dengan

menggunakan pervorator kertas. Selanjutnya

dimasukkan ke dalam file arsip sesuai dengan

kategori pasien rawat inap dan rawat jalan dan

diletakkan di tempat arsip.

29
5. Analisis SWOT Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang

a. Strength

Dengan motto “Mencintai Allah Menyanyangi Sesama

melalui penegakan Diagnosa”, Instalasi Radiologi

Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang memiliki

peralatan-peralatan yang canggih serta tenaga

radiografer yang sudah ahli dalam bidangnya, yaitu

dalam melakukan pemeriksaan ESWL, Pain Center dan

Katerisasi Jantung atau Cathlab.

b. Weaknesses

Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung

Semarang masih belum memiliki petunjuk yang lebih

jelas sehingga terkadang pasien salah masuk ruang

pemeriksaan.

c. Opportunities

Peluang yang dimiliki oleh Instalasi Radiologi Rumah

Sakit Islam Sultan Agung semarang adalah menjadi

instalasi yang sudah bisa mmenjalankan pelayanan

berbasis syariah karena di Instalasi radiologi Rumah

Sakit Islam Sultan Agung semarang sudah menerapkan

pelayanan sesuai gender, dimana merupakan salah

satu ketentuan untuk menuju syariah.

30
d. Treath

Dengan kondisi geografis yang dimiliki oleh Rumah

Sakit Islam Sultan Agung Semarang yang berdekatan

dengan pantai maka sering terjadi banjir rob disekitar

wilayah rumah sakit, hal ini akan membuat rumah sakit

terlihat lebih kumuh dari luar dan juga berpotensi untuk

terkena bencana alam yang lain.

B. Tinjauan Teori Permasalahan

1. Mutu Pelayanan

Ada beberapa pengertian Mutu Pelayanan, diantaranya yaitu:

a) Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan sesuatu

yang sedang diamati (wollersheim, 2007).

b) Mutu adalah sifat yang dimiliki oleh suatu program (w.edward

Deming, 2004).

c) Mutu adalah totalitas dari wujud serta ciri dari suatu barang

atau jasa, yang didalamnya terkandung sekaligus pengertian

rasa aman atau pemenuhan kebutuhan para pengguna

(david L Goestsch 2002).

d) Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah

ditetapkan (Feigenbaum).

e) Mutu pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat

kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang di satu pihak

31
dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai

dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta pihak lain

yang tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik

dan standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan(Mary R

Zimmerman).

Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam Program Menjaga

Mutu adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan. Untuk

dapat mencapai tujuan ini, diselenggarakan rangkaian

kegiatan Program Menjaga Mutu yang terdiri dari menetapkan

masalah, menetapkan penyebab masalah, menetapkan cara

penyelesaian masalah, melakukan penilaian terhadap hasil

yang dicapai, serta menyusun saran-saran tindak lanjut

sehingga mutu pelayanan tetap dapat dipertahankan bahkan

mungkin ditingkatkan.

Agar tujuan Program Menjaga Mutu dapat dicapai dengan

memuaskan serta rangkaian kegiatan Program Menjaga Mutu

dapat terlaksana dengan baik, banyak hal yang perlu

diperhatikan. Salah satu diantaranya yang dipandang

mempunyai peranan yang cukup penting adalah pemahaman

para pelaksana Program Menjaga Mutu tentang mutu

pelayanan. Diharapkan dengan adanya pemahaman tersebut

bukan saja akan mempermudah para pelaksana dalam

merumuskan tujuan Program Menjaga Mutu, tetapi juga dalam

32
melaksanakan rangkaian kegiatan Program Menjaga Mutu (dr-

suparyanto.blogspot.com, 02.04.2017).

2. Kepuasan Pasien

a. Pengertian Kepuasan

Secara umum pengertian kepuasan atau ketiadakpuasan

merupakan perbedaan antara harapan (expectations) dan

kinerja yang dirasa (perceifed performance), sehingga dapat

dikatakan bahwa kepuasan berarti kinerja suatu barang atau

jasa sekurang-kurangnya sama dengan yang diharapkan.

Kotler (Hendroyono, 2007) mengemukakan bahwa tingkat

kepuasan adalah :

”Satisfaction is a person’s felling of pleasure or

disapointment resulting from comparing a product’s

perceifed performance (or outcome) in relation to his or

her expectations”.

Artinya, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa

seseorang yang muncul setelah membandingkan antara

persepsi atau kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu

produk dan harapan-harapannya. Kepuasan seorang pasien

tergantung pada sejauh mana terpenuhinya harapan pasien

tersebut atas suatu pelayanan yang diberikan oleh tenaga

kesehatan.

33
Banyak pakar yang menyatakan bahwa hukum pertama

mutu adalah “Melakukan Segala Sesuatu Secara Benar Sejak

Awal”. Bila hal itu tercapai, maka akan terwujud kepuasan

pelanggan. Meskipun demikian, dalam suatu perusahaan

yang telah menyampaikan jasanya dengan baik, tetap saja

akan ada pelanggan yang tidak puas atau kecewa. Tjiptono

(2000) menyatakan bahwa penyebab ketidakpuasan itu ialah:

1) Faktor internal yang relatif dapat dikendalikan perusahaan,

misalnya karyawan yang kasar, karyawan yang tidak tepat

waktu, kesalahan pencatatan transaksi, dan lain-lain.

2) Faktor eksternal yang diluar kendali perusahaan, seperti

cuaca, bencana alam, gangguan pada infrastruktur umum

(listrik padam, jalan longsor), aktivitas kriminal, dan

masalah pribadi pelanggan, misalnya dompet hilang.

b. Metode Pengukuran Tingkat Kepuasan

Ada beberapa metode pengukuran tingkat kepuasan

menurut (Tjiptono, 2000) sebagai berikut:

1) Sistem keluhan dan sasaran

Sistem organisasi yang berorientasi pada pelanggan

(customeroiental) perlu memberikan kesempatan yang

luas kepada para pelanggannya untuk menyampaikan

saran, pendapat dan keluhan mereka.

34
2) Ghost Shopping

Salah satu cara untuk memperoleh gambaran

mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan

mempekerjakan beberapa orang (Ghost Shopper) untuk

berperan atau bersikap sebagai pelanggan atau pembeli

potensial produk perusahaan dan pesaing. Kemudian

mereka melaporkan penemuan-penemuannya mengenai

kekuatan dan kelemahan produk perusahaan dan pesaing

berdasarkan pengalaman mereka dalam produk-produk

tersebut.

3) Lost Customer analysis

Perusahaan seyogyanya menghubungi para

pelanggan yang telah berhenti atau yang telah pindah

pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi

dan supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan atau

penyempurnaan selanjutnya.

4) Survey Kepuasan Pelanggan

Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan

pelanggan yang dilakukan dengan survey, baik dengan

survey melalui post, telepon maupun wawancara pribadi.

Melalui survey perusahaan akan memperoleh tanggapan

dan umpan balik (feedbeck) secara langsung dari

pelanggan dan juga memberikan tanda (signal) pasitif

35
bahwa perusahaan menaruh perhatian pada

pelanggannya.

Hendroyono (2007) menyatakan bahwa dalam

menentukan tingkat kepuasan, terdapat beberapa faktor

utama yang harus diperhatikan penyelenggara jasa, yaitu:

a) Kualitas produk: Pelanggan akan merasa puas bila

hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk

(barang atau jasa) yang mereka gunakan berkualitas.

b) Kualitas pelayanan: Terutama untuk industri jasa,

pelanggan akan merasa puas bila mereka

mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai

dengan yang diharapkan.

c) Harga: Produk (barang atau jasa) yang mempunyai

kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang

relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi

kepada pelanggannya.

d) Biaya: Pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya

tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk

mendapatkan suatu produk (barang atau jasa) akan

cenderung puas terhadap produk (barang atau jasa)

tersebut.

Perusahaan jasa harus dapat mengetengahkan

secara konsisten jasa yang berkualitas lebih tinggi

36
daripada pesaingnya. Pelanggan (konsumen) memilih

penyedia jasa dengan membandingkan pelayanan

yang dirasakan (perceifed services) dengan yang

diharapkan (expected services). Jika pelayanan yang

dirasakan berada dibawah yang diharapkan, maka

timbul suatu ketidakpuasan pelanggan, rasa

kepercayaan pelanggan terhadap penyedia jasa

menjadi berkurang (hilang), pendapatan perusahaan

menurun dan dan akhirnya membahayakan

kelangsungan hidup usahanya. Sebaliknya, juka

pelayanan yang dirasakan sama atau lebih besar dari

yang diharapkan, maka pelanggan akan merasa puas.

Mereka akan menggunakan kembali jasa tersebut dan

memberitahukan kepada orang lain, sehingga menjadi

alat promosi yang efektif dan kelangsungan hidup

perusahaan menjadi lebih terjamin. Oleh karena itu,

penyedia jasa harus dapat mengidentifikasikan

keinginan konsumen dalam hal kualitas pelayanan

secara umum maupun khusus (Hendroyono, 2007).

Hendroyono (2007) mengemukakan bahwa perbedaan

(kesenjangan) antara jasa pelayanan yang dirasakan

dengan yang diharapkan terjadi karena adanya:

37
1) Kesenjangan antara harapan konsumen dengan

pandangan manajemen (Gap between the

customer’s expectations and the manajement

perceptions).

2) Kesenjangan antara pandangan mananjemen

dengan spesifikasi kualitas pelayanan (Gap

between manajement perceptions and service

quality spesification).

3) Kesenjangan antara spesifikasi kualitas pelayanan

dengan penyajian pelayanan (Gap between

service quality spesification and service delivery).

4) Kesenjangan antara penyajian pelayanan dengan

komunikasi eksternal (Gap between service

delivery and external communications).

5) Kesenjangan antara pelayanan yang dirasakan

dengan pelayanan yang diharapkan (Gap

between perceived service and expected sevice).

3. Kenyamanan Ruang Tunggu

Kenyamanan dan kebersihan ruang tunggu pasien juga turut

menentukan penilaian pasien, kurangnya fasilitas hiburan selagi

pasien menunggu antrian pemeriksaan atau menunggu hasil

pemeriksaan terutama pada saat pasien yang mendaftar banyak

kemungkinan hal ini yang menyebabkan penilaian yang masih

38
dibawah harapan pasien. Sesuai dengan pendapat Irawan (2009),

bahwa pelanggan akan mempunyai toleransi yang lebih besar

apabila menunggu di tempat yang nyaman serta adanya fasilitas

yang memadai, hal ini akan membuat pelanggan mampu

menunggu lebih lama, sebaliknya pelanggan yang sama akan

memberikan toleransi yang lebih kecil apabila menunggu di

tempat yang tidak nyaman.

39
BAB III

PAPARAN MASALAH DAN PEMBAHASAN

A. PAPARAN MASALAH

Mutu pelayanan adalah sejauh mana kenyataan pemberian

pelayanan sesuai dengan kriteria pelayanan yang baik, kriteria

pelayanan yang baik antara lain pelayanan yang diberikan

menunjukkan manfaat dan hasil yang diinginkan,pelayanan yang

diberikan dilakukan dengan efisien, kenyamanan fasilitas pelayanan

yang tersedia, pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh

masyarakat pengguna atau yang membutuhkan. Dengan adanya

peningkatan mutu pelayanan akan meningkatkan kualitas pelayanan

dan kepuasan pasien terhadap pelayanan radiologi.

Kepuasan merupakan perasaan senang atau kecewa seseorang

yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya

terhadap kinerja atau hasil suatu pelayanannya. Kepuasan seorang

pasien tergantung pada sejauh mana terpenuhinya harapan pasien

tersebut atas suatu pelayanan yang diberikan oleh tenaga

kesehatan.Kepuasan pasien mempengaruhi mutu pelayanan. Bila

mutu tercapai maka kepuasan pasien terhadap pelayanan akan

terwujud.

Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

sudah menerapkan manajemen tentang mutu pelayanan dalam

40
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Tetapi pada segi standar

ruangan belum terpenuhi secara menyeluruh. Terutama standar ruang

tunggu pasien, dimana pasien menunggu berjam-jam sampai

pelayanan dilakukan. Hal itu membuat pasien merasa jenuh apabila

menunggu terlalu lama. Letak ruang tunggu pasien berada di

selasarmenuju ruang pemeriksaan sehingga banyak petugas dan

pengunjung yang berlalu lalang disekitar ruang tunggu pasien.

B. Pembahasan

1. Tata ruang tunggu di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang

Tata ruang tunggu pasien di Instalasi Radiologi Rumah Sakit

Sultan Agung Semarang berdasarkan gambar denah dibawah,

terdapat 3 tempat ruang tunggu yang berdekatan dengan ruang

pemeriksaan masing-masing. Akan tetapi letaknya kurang strategis

karena berada di selasar pintumasuk Instalasi Radiologi yang

digunakan juga sebagai akses masuk pasien rawat inap maupun

rawat jalan. Ruang tunggu pasien rawat jalan dan rawat inap juga

tidak dipisahkan, sehingga mengganggu kenyamanan pasien

rawat jalan, apabila terdapat pasien rawat inap yang infeksius atau

menderita penyakit yang menular, seperti pasien dengan

tubercolusis paru akan menginfeksi melalui udara bebas. Hal

41
tersebut akan menurunkan tingkat mutu dan kepuasan pasien

terhadap pelayanan yang diberikan.

3.1 Gambar Denah Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan


Agung Semarang

42
2. Standar tata ruang tunggu pasien dalam meningkatkan mutu

pelayanan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Sultan Agung

Semarang

3.2 standar tata ruang tunggu pasien di Instalasi Radiologi


berdasarkan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan
Sarana Kesehatan Kementrian Kesehatan RI

Berdasarkan tata ruang tunggu pasien sesuai Direktorat Bina

Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementrian

Kesehatan RI, tata ruang tunggu sebaiknya dilengkapi fasilitas

43
yang ada untuk ruang tunggu pasien. MenurutIrawan (2009),

bahwa pelanggan akan mempunyai toleransi yang lebih besar

apabila menunggu di tempat yang nyaman serta adanya fasilitas

yang memadai, hal ini akan membuat pelanggan mampu

menunggu lebih lama, sebaliknya pelanggan yang sama akan

memberikan toleransi yang lebih kecil apabila menunggu di

tempat yang tidak nyaman.

Tenaga medis atau radiografer biasanya mengutamakan pasien

rawat inap karena dianggap lebih darurat dibanding pasien rawat

jalan. Pasien rawat jalan mungkin merasa tidak dilayani sebagai

mestinya karena pasien menganggap sudah datang terlebih

dahulu tapi tidak segera dilayani. Dikarenakan itu pasien jenuh

menunggu lama, apalagi pada saat penungguan hasil radiografi.

Kurangnya fasilitas untuk kelangsungan kenyamanan pasien

dapat mempengaruhi mutu pelayanan dan kepuasan pasien

terhadap sarana dan prasarana di Instalasi Radiologi Rumah Sakit

Islam Sultan Agung Semarang.

Kenyamanan dan kebersihan ruang tunggu pasien juga turut

menentukan penilaian pasien, kurangnya fasilitas hiburan selagi

pasien menunggu antrian pemeriksaan atau menunggu hasil

pemeriksaan terutama pada saat pasien yang mendaftar banyak

kemungkinan hal ini yang menyebabkan penilaian yang masih

dibawah harapan pasien.

44
Solusi yang dapat penulis sampaikan yaitu sebaiknya disediakan

fasilitas hiburan seperti televisi, koran, atau majalah di ruang

tunggu pasiensehingga pasien atau keluarga pasien tidak bosan

selama menunggu antrian pemeriksaan atau menunggu

pengambilan hasil pemeriksaan.

45
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian diatas penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Denah Instalasi Radiologi sudah cukup memenuhi standar

ruangan, dari segi ruang pemeriksaan sudah standar, tidak ada

kendala dan sarana dan prasarana yang ada di Instalasi sudah

cukup memenuhi standar. Tapi dari segi tata ruang tunggu pasien

belum sesuai standar, ruang tunggu pasien terdapat 3 tempat

yang diletakan depan ruang masing-masing pemeriksaan,

letaknya dekat selasarpintu masuk instalasi radiologi. Sehingga

dapat mengganggu kenyamanan pasien dan mempengaruhi

tingkat mutu pelayanan, karena itu untuk tata ruang tunggu pasien

perlu diperhatikan kembali.

2. Standar tata ruang tunggu menurut Direktorat Bina Pelayanan

Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementrian Kesehatan

RI, tata ruang tunggu pasien sebaiknya dilengkapi dengan fasilitas

hiburan. Misalnya televisi, koran, atau majalah, sehingga pasien

atau keluarga pasien tidak bosan selama menunggu antrian

pemeriksaan atau menunggu pengambilan hasil pemeriksaan. Hal

ini akan membuat pasien mampu menunggu lebih lama,

46
sebaliknya pasien yang sama akan memberikan toleransi yang

lebih kecil apabila menunggu di tempat yang tidak nyaman. Rasa

nyaman dan aman akan meningkatkan kepuasan pasien dan mutu

pelayanan. Karena kepuasan berkaitan dengan mutu pelayanan.

B. Saran

1. Sebaiknya di ruang tunggu pasien disediakan fasilitas seperti

televisi, koran atau majalah dan tempat duduk yang nyaman.

2. Sebaiknya letak ruang tunggu pasien ditempat yang jauh dari lalu

lalang pasien.

3. Lahan kosong yang tidak dipergunakan, bisa dimanfaatkan untuk

ruang tunggu pasien.

47
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan


Kementrian Kesehatan RI Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis
Bangunan Rumah Sakit Kelas B.

Hendroyono, H. (2007). “The Rise of Ambient Media (Not The Fall of


Advertising)”.Cakram. Vol 284.

Irawan, H (2009). “10 Prinsip Kepuasan Pelanggan, PT Elex Media


Komputindo, Jakarta.

KMK RI No. 1014 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi


Diagnositik Di Sarana Pelayanan Kesehatan.

Profil Bagian Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung


Semarang 2017.

Desain Tata Ruang bagian Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam sultan
Agung Semarang 2013.

Tjiptono, Fandy, 2000,Strategi Pemasaran. Edisi I, Penerbit Andi,


Yogyakarta.

48