Anda di halaman 1dari 3

ETIOLOGI :

a. Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus, misalnya pada penyakit polio
dan orang yang bertugas di kemiliteran.
a. Fraktur beban atau fraktur kelelahan
Terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka,
misalnya olahragawan yang menambah beban latihan mereka secara ekstrim.

FAKTOR RESIKO
a. ACR (Albumin-Creatin Ratio) yang tinggi, efek ini kemungkinan disebabkan oleh
gangguan sekresi 1,25-dihidroksivitamin D, yang menyebabkan malabsorbsi Ca.

KOMPLIKASI
Komplikasi awal :
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat perdarahan (banyak kehilangan darah
eksternal maupun yang tidak kelihatan yang bisa menyebabkan penurunan
oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi
pada fraktur ekstremitas, thoraks, pelvis atau vertebra.
b. Sindrom emboli lemak
Pada saat terjadi fraktur globula, lemak dapat masuk ke dalam pembuluh darah
karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena
katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stress pasien akan mobilisasi asam lemak
dan memudahkan terjadinya globula lemak pada aliran darah.
c. Kompartemen syndrome
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa disebabkan karena penurunan ukuran
kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat, penggunaan
gips atau balutan yang menjerat maupun peningkatan isi kompartemen karena
edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misalnya iskemia
dan cedera remuk).
d. Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak ada nadi, CRT menurun,
sianosis bagian distal, hematoma yg lebar, dan dingin pada ekstremitas yang
disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit,
tindakan reduksi, dan pembedahan.
e. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superfisial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya
terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa terjadi karena penggunaan bahan lain
dalam pembedahan seperti pin dan plat.
f. Avaskuler nekrosis
AVN terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa
menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Iskemmia.
(Smeltzer dan Bare, 2001)

PROSES PENYEMBUHAN TULANG


a. Stadium satu – pembentukan hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar daerah fraktur. Sel-sel
darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat
tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24-48 jam dan
perdarahan berhenti sama sekali.
b. Stadium dua – poliferasi seluler
Pada stadium ini terjadi poliferasi dan diferensiasi sel yang menjadi fibro kartilago
yang berasal dari periosteum, endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami
trauma. Sel-sel yang mengalami poliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang
lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen
tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai
selesai, tergantungnya frakturnya.
c. Stadium tiga – pembentukan kallus
Sel-sel yang berkembang memiliki potensi kondrogenik dan osteogenik, bila
diberikan dalam keadaan yang tepat, sel itu akan membentuk tulang dan juga
kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoclast yang
mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal
dengan tulang yang immatur dan kartilagon, membentuk kallus atau bebat pada
permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang immatur (anyaman
tulang) menajdi lebih padat, sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4
minggu setelah fraktur menyatu.
d. Stadium empat – kosolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi
lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos
melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat di belakangnya osteoclast mengisi
celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah
proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk
membawa beban yang normal.
e. Stadium lima – remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa
bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses reabsorbsi dan
pembentukan tulang yang terus menerus. Lamella yang lebih tebal diletidakkan pada
tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikendaki dibuang, rongga
sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip normalnya. (Black, J.M.
et al, 1993 dan Apley, A. Graham, 1993)

Perry, Potter. 2005. Fundamental Keperawatan. Vol 2. Jakarta: EGC.


Smeltzer, Suzanne C & bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Ed 8. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor
bahasaIndonesia Monica Ester. Jakarta: EGC.