Anda di halaman 1dari 17

METODE PENELITIAN

Pengembangan Sistem Transportasi Untuk Meningkatkan Kinerja Jaringan Jalan


Pada Daerah Lingkar Dalam Kota Palu

OLEH :
MUHAMMAD RAZAK
F 231 15 005

PROGRAM STUDI S1 PERENCANAAN WILAYAH & KOTA


JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem transportasi meliputi beberapa sistem yang saling berkaitan dan saling
mempengaruhi. Sistem-sistem yang membentuk sistem transportasi antara lain sistem
pergerakan, sistem jaringan dan sistem aktivitas. Selain itu terdapat pula sistem kelembagaan
yang berfungsi sebagai penunjang dan yang mempengaruhi hubungan berbagai sistem tersebut.
Sistem kelembagaan ini dituangkan dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan (Fadiah,
2003). Berdasarkan undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan, Manajemen lalu lintas didefinisikan sebagai upaya untuk mengatur pergerakan lalu
lintas, agar memenuhi kriteria keselamatan, kelancaran, efisiensi, dan murah. Manajemen lalu
lintas selanjutnya meliputi kegiatan perencanaan lalu lintas, pengaturan lalu lintas, pengawasan
lalu lintas, dan pengendalian lalu lintas.
Perkembangan suatu kota menjadi hal penting bagi kota itu sendiri, karena kepadatan
penduduk di kota sangat padat. Hal ini diakibatkan adanya urbanisasi, pertumbuhan penduduk
yang begitu pesat sehingga suatu kota itu harus dikembangkan baik dari aspek fisik, aspek
lingkungan dan aspek ekonomi. Meningkatnya pertumbuhan penduduk tiap tahun serta adanya
urbanisasi tentunya kebutuhan lahan semakin banyak. Sehingga mengakibatkan kepadatan dan
kemacetan sangatlah rentan terjadi. Kepadatan dan kemacetan menjadi suatu permasalahan
yang serius bagi kota-kota besar di Indonesia maupun di dunia.
Kota Palu merupakan daerah yang awalnya lautan, karena terjadi gempa dan pergeseran
lempeng (palu koro). Sehingga daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan menjadi
lembah, sehingga bisa disebut juga Kota 3 dimensi yakni pegunungan, lembah dan teluk.
Populasi penduduk Kota Palu berjumlah 374.020 jiwa menurut data BPS tahun 2017, dan
jumlah penduduk tiap tahunnya akan terus meningkat. Sistem transportasi di Kota Palu belum
terkelola dengan baik, beberapa titik kemacetan yang sering terjadi pada waktu – waktu
tertentu.
Beberapa titik kemacetan yang sering terjadi di Kota Palu yakni jalan I gusti ngurah rai,
Rajamoili dan Tombolotutu. Berdasarkan kondisi eksisiting, klasifikasi jalan tersebut, maka
MKJI menentukan 3 hal yang harus diketahui antara lain: jumlah kendaraan, LHR, kondisi
jalan di I gusti ngurah rai dan Rajamoili. Oleh karena itu Pemerintah Kota Palu harus
mempunyai tindakan untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan penduduk dengan
pembangunan.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas terkait pengembangan sistem
transportasi untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan lingkar dalam Kota Palu,
Diharapkan penelitian ini nantinya bisa menjadi penting dilakukan bagi peningkatan kinerja
jaringan jalan di kota palu.

1.2 Rumusan Masalah


Pembahasan diatas terdapat hal yang menjadi permasalahan yang akan di bahas dalam
penilitian ini.
Permasalahan yang ada pada wilayah ini yaitu kurangnya sistem pengelolaan transportasi.
Oleh karena itu kajian untuk mengetahui bagaimana cara pengelolaan pemerintah dalam
mengelola transportasi, apakah terdapat kendala-kendala dalam pengelolaan transportasi.
Setiap tahunnya jumlah penduduk akan terus meningkat yang berdampak pada pemenuhan
kebutuhan semakin meningkat, kepadatan penduduk berpengaruh terhadap sistem jaringan lalu
lintas yang menyebabkan kemacetan, kondisi prasarana lalu lintas belum terkelola secara baik.
Sehingga perlu adanya penelitian mengenai bagaimana sistem pengelolaan atau manajemen
transportasi di Kota Palu.

1.3 Pertanyaan Penelitian


Berdasarkan uraian pada latar belakang dan rumusan masalah diatas dapat diketahui bahwa
pengelolaan transportasi sangat menentukan suatu aksesibiltas, mobilitas tanpa adanya
hambatan. Terkait hal tersebut diketahui pertanyaan dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah jumlah kendaraan di jalan I gusti ngurah rai, Rajamoili dan Tombolotutu sesuai
dengan peruntukkan kapasitas jalan ?
2. Bagaimana tingkat kelayakan kondisi jalan tersebut ?

1.4 Tujuan dan Sasaran Penelitian


1.4.1 Tujuan
Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini yaitu:
a. Mengetahui berapa jumlah kendaraan yang menggunakan ke 3 jalan tersebut.
b. Mengetahui tingkat kelayakan jalan yang dilalui kendaraan.
1.4.2 Sasaran
a. Teridentifikasinya kebijakan pengelolaan sistem transportasi di Kota Palu
b. Teridentifikasinya kapasitas kinerja jalan, yang sesuai peruntukkan MKJI, 1997
c. Arahan pengembangan sistem pengelolaan transportasi berdasarkan analisis
d. Ilustrasi pengelolaan sistem transportasi.

1.5 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang diperoleh dalam penulisan ini yaitu :
1.5.1 Manfaat Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat menimbulkan kenyamanan masyarakat dalam berkendara atau suatu
pergerakan dengan menjangkau tempat tujuan menjadi lebih efisien dan hemat waktu.
1.5.2 Manfaat Bagi Pemerintah
Penelitian ini dapat menjadi acuan pemerintah dalam mengembangkan dan meningkatkan
pengelolaan sistem transportasi di Kota Palu, agar terciptanya kota yang humanis.
1.5.3 Manfaat Bagi Akademisi
Hasil dari kajian penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengembangkan
sistem sistem transportasi di Kota Palu.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian


1.6.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup yang tertuang dalam substansi penelitian pengembangan sistem
transportasi yaitu mengetahui kelayakan kinerja jalan lingkar dalam Kota Palu.
1.6.2 Ruang Lingkup Substansi
Pada penelitian ini, lingkup kajian pembahasan terdiri dari beberapa substansi
diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Mengkaji kondisi fisik guna lahan sebagaimana dalam kondisi fisik dapat dilihat dari
berbagai sudut pandang, diantaranya kondisi jalan, kondisi pengaturan lalu lintas, kondisi
penetapan rambu lalu lintas.
2. Menganalisis mengenai sistem transportasi yang dilakukan pemerintah dalam mengatur
pergerakan lalu lintas serta kinerja jalan sesuai dengan kebijakan yang ada. yaitu dengan
menggunakan pendekatan evaluasi rencana pengelolaan lalu lintas.
1.7 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang pengambilan topik dan judul penelitian, rumusan masalah,
tujuan dan sasaran penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup yang terdiri dari
ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup substansi dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka merupakan kajian literatur yang digunakan dalam meyelesaikan
penelitian yang terkait transportasi.
BAB III METODE PENELITIAN
Motode penelitian ini membahas tentang lokasi penelitian, pendekatan penelitian
yang terdiri dari pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif dan
kualitatif, tahap pengumpulan data dan teknik analisis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Transportasi
Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dengan menggunakan wahana yang
digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia
untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Banyak ahli telah merumuskan dan mengemukakan
pengertian transportasi. Para ahli memiliki pandangannya masing-masing yang mempunyai
perbedaan dan persamaan antara yang satu dengan lainnya.
Kata transportasi berasal dari bahasa latin yaitu transportare yang mana trans berarti
mengangkat atau membawa. Jadi transortasi adalah membawa sesuatu dari satu tempat ke
tempat yang lain. Menurut Salim (2000) transportasi adalah kegiatan pemindahan barang
(muatan) dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam transportasi ada dua unsur
yang terpenting yaitu pemindahan/pergerakan (movement) dan secara fisik mengubah tempat
dari barang (comoditi) dan penumpang ke tempat lain.
Transportasi menurut Papacostas (1987), transportasi didefinisikan sebagai suatu sistem
yang terdiri dari fasilitas tertentu beserta arus dan sistem kontrol yang memungkinkan orang
atau barang dapat berpindah dari suatu tempat ketempat lain secara efisien dalam setiap waktu
untuk mendukung aktifitas manusia.
Transportasi dikatakan baik, apabila perjalanan cukup cepat, tidak mengalami kemacetan,
frekuensi pelayanan cukup, aman, bebas dari kemungkinan kecelakaan dan kondisi pelayanan
yang nyaman. Untuk mencapai kondisi yang ideal seperti ini, sangat ditentukan oleh berbagai
faktor yang menjadi komponen transportasi ini, yaitu kondisi prasarana (jalan), sistem jaringan
jalan, kondisi sarana (kendaraan) dan sikap mental pemakai fasilitas transportasi tersebut (Budi
D. Sinulingga, 1999).
Proses transportasi merupakan gerakan dari tempat asal, yaitu darimana kegiatan
pengangkutan dimulai dan ke tempat tujuan, yaitu dimana kegiatan pengangkutan diakhiri.
Transportasi bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tujuan sementara kegiatan
masyarakat sehari-hari, bersangkut paut dengan produksi barang dan jasa untuk mencukupi
kebutuhan yang beraneka ragam. Kegiatan transportasi terwujud menjadi pergerakan lalu lintas
antara dua guna lahan, karena proses pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi ditempat asal
(Nasution,1996).
Menurut Nasution (2008) terdapat unsur-unsur pengangkutan/transportasi meliputi atas :
1. Ada muatan yang diangkut
2. Tersedia kenderaan sebagai alat angkutannya
3. Jalanan/jalur yang dapat dilalui
4. Ada terminal asal dan terminal tujuan
5. Tersedianya sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang menggerakkan
kegiatan transportasi tersebut.

2.1.2 Konsep perencanaan transportasi


Konsep perencanaan transportasi yang telah berkembang dan paling populer adalah
Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap. Model ini merupakan gabungan dari
beberapa komponen yang masing-masing harus dilakukan secara terpisah dan beruntun yaitu:
1. Aksesbilitas - Aksesbilitas digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan menolong
mengevaluasi alternatif perencanaan transportasi yang diusulkan, merupakan konsep
yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna lahan dengan sistem jaringan yang
menghubungkannya. Menurut Black (1981) aksesbilitas adalah suatu ukuran
kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan dalam berinteraksi
satu sama lain dan “mudah” atau “susah” nya lokasi tersebut dicapai melalui sistem
transportasi yang ada.
2. Bangkitan dan Tarikan Pergerakan - Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan
yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zone atau tata guna
lahan, sedangkan tarikan pergerakan merupakan jumlah pergerakan yang tertarik ke
suatu tata guna lahan atau zone.
3. Sebaran Pergerakan - Merupakan prakiraan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu
zone atau tata guna lahan yang lain. Tahap ini menghubungkan interaksi antara tata
guna lahan, jaringan transportasi dan arus lalu lintas.
4. Pemilihan Moda - Jika interaksi yang terjadi antar tata guna lahan mengharuskan
terjadinya pergerakan, maka harus ditentukan dalam hal pemilihan alat angkut (moda
transportasi) yang akan digunakan.
5. Pemilihan Rute - Pemilihan rute tergantung juga dari moda transportasi yang
digunakan. Pemilihan moda dan pemilihan rute dilakukan bersama dengan alternatif
terpendek, tercepat dan termurah.
2.2 Kapasitas Jalan
Kapasitas suatu ruas jalan dalam suatu sistem jalan adalah jumlah kendaraan maksimum
yang memiliki kemungkinan yang cukup untuk melewati ruas jalan tersebut (dalam satu
maupun dua arah) dalam periode waktu tertentu dan di bawah kondisi jalan dan lalu lintas
yang umum (Oglesby dan Hicks, 1993).
Untuk jalan dua lajur dua arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah (kombinasi dua
arah), tetapi untuk jalan dengan banyak lajur, arus dipisahkan per arah dan kapasitas ditentukan
per lajur. Kapasitas merupakan salah satu ukuran kinerja lalu lintas pada saat arus lalu lintas
maksimum dapat dipertahankan (tetap) pada suatu bagian jalan pada kondisi tertentu (MKJI,
1997). Menurut HCM 1994, kapasitas didefinisikan sebagai penilaian pada orang atau
kendaraan masih cukup layak untuk memindahkan sesuatu, atau keseragaman segmen jalan
selama spesifikasi waktu dibawah lalu lintas dan jam sibuk.

2.3 Kinerja Jalan


Kinerja jalan menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia yang dikeluarkan oleh
Direktorat Jenderal Bina Marga tahun 1997, adalah suatu ukuran kuantitatif yang
menerangkan tentang kondisi operasional jalan seperti kerapatan atau persen waktu tundaan.
Kinerja jalan pada umumnya dinyatakan dalam kecepatan, waktu tempuh dan kebebasan
bergerak.
Unjuk kerja atau tingkat pelayanan jalan merupakan indikator yang menunjukan tingkat
kualitas lalu lintas. Menurut MKJI 1997 dalam Fathoni, M dan Buchori, E, 2004 tingkat
pelayanan jalan (Level of service) dinyatakan sebagai berikut:
a. Kondisi operasi yang berbeda yang terjadi pada lajur jalan ketika mampu
menampung bermacam-macam volume lalu lintas.
b. Ukuran kualitas dari pengaruh faktor aliran lalu lintas, kenyamanan
pengemudi, waktu perjalanan, hambatan, kebebasan manuver dan secara tidak
langsung biaya operasi dan kenyamanan.

Untuk kerja lalu lintas pada ruas jalan perkotaan dapat ditentukan melalui nilai VC ratio
atau perbandingan antara volume kendaraan yang melalui ruas jalan tersebut pada rentang
waktu tertentu dengan kapasitas ruas jalan tersebut yang tersedia untuk dapat dilalui
kendaraaan pada rentang waktu tertentu. Semakin besar nilai perbandingan tersebut maka
unjuk kerja pelayanan lalu lintas akan semakin buruk dan berpengaruh pada kecepatan
operasional kendaraan yang merupakan bentuk fungsi dari besaran waktu tempuh kendaraan.
Nilai VC ratio dapat dibuat interval untuk mengklasifikasikan tingkat pelayanan ruas jalan.

di Indonesia, kondisi pada tingkat pelayanan (LOS) diklasifikasikan atas berikut ini.

1. Tingkat Pelayanan A
a) Kondisi arus bebas dengan volume lalu lintas rendah dan kecepatan tinggi.
b) Kepadatan lalu lintas sangat rendah dengan kecepatan yang dapat dikendalikan oleh
pengemudi berdasarkan batasan kecepatan maksimum/minimum dan kondisi fisik
jalan.
c) Pengemudi dapat mempertahankan kecepatan yang diinginkannya tanpa atau dengan
sedikit tundaan.
2. Tingkat Pelayanan B
a) Arus stabil dengan volume lalu lintas sedang dan kecepatan mulai dibatasi oleh kondisi
lalu lintas.
b) Kepadatan lalu lintas rendah, hambatan internal lalu lintas belum mempengaruhi
kecepatan.
c) Pengemudi masih cukup punya kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatannya
dan lajur jalan yang digunakan.
3. Tingkat Pelayanan C
a) Arus stabil tetapi kecepatan dan pergerakan kendaraan dikendalikan oleh volume lalu
lintas yang lebih tinggi.
b) Kepadatan lalu lintas meningkat dan hambatan internal meningkat.
c) Pengemudi memiliki keterbatasan untuk memilih kecepatan, pindah lajur atau
mendahului.
4. Tingkat Pelayanan D
a) Arus mendekati tidak stabil dengan volume lalu lintas tinggi dan kecepatan masih
ditolerir namun sangat terpengaruh oleh perubahan kondisi arus.
b) Kepadatan lalu lintas sedang fluktuasi volume lalu lintas dan hambatan temporer dapat
menyebabkan penurunan kecepatan yang besar.
c) Pengemudi memiliki kebebasan yang sangat terbatas dalam menjalankan kendaraan,
kenyamanan rendah, tetapi kondisi ini masih dapat ditolerir untuk waktu yang sangat
singkat.
5. Tingkat Pelayanan E
a) Arus lebih rendah daripada tingkat pelayanan D dengan volume lalu lintas mendekati
kapasitas jalan dan kecepatan sangat rendah.
b) Kepadatan lalu lintas tinggi karena hambatan internal lalu lintas tinggi.
c) Pengemudi mulai merasakan kemactan-kemacetan durasi pendek.
6. Tingkat Pelayanan F
a) Arus tertahan dan terjadi antrian kendaraan yang panjang.
b) Kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volume rendah serta terjadi kemacetan untuk
durasi yang cukup lama.
c) Dalam keadaan antrian, kecepatan maupun volume turun sampai 0.

Formulir yang digunakan untuk menilai kinerja jalan yaitu formulir UR-1 untuk data umum
dan data geometrik jalan, UR-2 untuk arus lalu lintas serta UR-3 untuk analisa kecepatan dan
kapasitas jalan.

2.4 Jalan Lingkar


Jalan lingkar adalah jalan yang melingkari pusat kota, yang berfungsi untuk mengalihkan
sebagai arus lalu lintas terusan dari pusat kota. Menurut jenisnya kelas jalan di jalan lingkar
dalam termasuk juga jalan arteri dan lokal. Pengertian konsep dasar dari jalan arteri adalah
bahwa jalan arteri didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/ jam dengan
lebar badan jalan tidak kurang dari 8 m, selain itu jalan arteri mempunyai kapasitas yang lebih
besar dari volume lalu lintas rata-rata.

2.5 Kebijakan RDTR Jalan Lingkar Dalam Kota Palu


Untuk mendukung terwujudnya Kawasan Teluk Palu sebagai pilar (beranda) utama
pengembangan Kota Palu maka perlu direncanakan pengembangan dan peningkatan
aksesibiltas disepanjang tepian pantai pada masing-masing Sub BWP melalui rencana
pengembangan Jalan Lingkar Dalam Kota Palu. Rencana Jalan Lingkar Dalam Pantai Teluk
Palu juga merupakan upaya untuk memudahkan dan mempercepat konektivitas antar pusat-
pusat pelayanan kota sehingga mampu mempercepat pergerakan masyarakat, barang dan jasa
dari arah Sub BWP I sebagai PPK ke Sub BWP II, III sebagai PL dan Sub BWP IV sebagai
sPPK. Selain itu, Pengembangan Jalan Lingkar Dalam Pantai Teluk Palu juga dimaksudkan
untuk membagi kepadatan arus kendaraan yang selama ini melintasi jalan arteri primer.
Rencana Jalan Lingkar Dalam Pantai Teluk Palu yang dikembangkan merupakan jalan
dengan klasifikasi sebagai Jalan Arteri Sekunder, yang meliputi jaringan jalan pada sepanjang
pantai Teluk Palu yaitu ruas jalan sepanjang pantai di Kelurahan Panau – Baiya – Kayumalue
Pajeko – Taipa – Mamboro Barat – Layana Indah – Tondo, dengan dimensi jalan direncanakan
8 m dan sirkulasi 2 jalur serta ruas jalan sepanjang pantai Silae – Tipo – Buluri – Watusampu,
dengan dimensi jalan direncanakan 8 m dan sirkulasi 2 jalur. Sementara itu, untuk ruas jalan
sepanjang pantai di Kelurahan Talise – Besusu Barat – Lere perlu ditingkatkan kualitas
pelayanannya melalui perbaikan jalan yang kondisinya kurang memadai guna mendukung
tercapainya Rencana Jalan Lingkar Dalam Pantai Teluk Palu.

2.6 Sistem Transportasi dan Pendekatan Perencanaan Transportasi


Sistem transportasi meliputi beberapa sistem yang saling berkaitan dan saling
mempengaruhi. Sistem-sistem yang membentuk sistem transportasi antara lain sistem
pergerakan, sistem jaringan dan sistem aktivitas. Selain itu, terdapat pula sistem kelembagaan
yang berfungsi sebagai penunjang dan mempengaruhi hubungan berbagai sistem tersebut.
Sistem kelembagaan ini dituangkan dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan (Fadiah,
2003). Keseluruhan komponen tersebut juga dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan yang
meliputi aspek fisik, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi dimana sistem transportasi
tersebut berada. Lingkup perwilayahan yang meliputi wilayah kota, regional, nasional dan
internasional juga berpengaruh besar terhadap sistem transportasi (Kusbiantoro, 1996 dalam
Fadiah, 2003).
Sistem kegiatan merupakan peruwujudan dari ruang dan isinya, terutama manusia dengan
segala aktivitasnya yang dilakukan di suatu guna lahan (zacky, 2005). Untuk memenuhi
kebutuhan dan menunjang aktivitasnya tersebut, manusia membutuhkan perjalanan dengan
menggunakan sistem transportasi. Makin tinggi kuantitas dan kualitas penduduk di suatu
wilayah dengan kegiatannya, main tinggi pula pergerakan yang dihasilkan, baik dari segi
jumlah (volume), frekuensi, jarak, moda, maupun tingkat pemusatan temporal dana tau spasial
(kusbiantoro dkk, 2005).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan merupakan konsep-konsep dasar yang digunakan untuk menjabarkan
pencapaian tujuan penelitian kedalam metode dan teknik pelaksanaan penelitian. Penelitian
pengembangan sistem transportasi untuk peningkatan jaringan jalan dengan menggunakan
pendekatan penelitian dan berkaitan dengan tujuan dan ruang lingkup studi. Penelitian fokus
pada peningkatan kinerja jalan serta pengaturan lalu lintas, meliputi ketidak teraturan lalu lintas
dilihat dari pola pergerakan bangkitan dan tarikan, aksesbilitas serta moda transportasi. Pada
penelitian ini output yang dihasilkan adalah berupa ilustrasi pola pergerakan lalu lintas.

3.2 Lokasi Penelitian


Penelitian ini berlokasi pada jalan lingkar dalam Kota Palu dengan luas area 395,06 KM2,
dalam penelitian ini mencakup 3 Jalan yaitu I gusti ngurah rai, Rajamoili dan Tombolotutu.

3.3 Tahap Pengumpulan Data


3.3.1 Survei Primer
 Survei Guna Lahan
Survei guna lahan dilakukan dengan cara mencatat seluruh aktivitas guna lahan yang
ada Kota Palu adalah pengelompokan penggunaan lahan yaitu perkantoran,
perdagangan dan jasa. Dari penggunaan lahan tersebut di lihat berapa besar pengaruh
gangguan hambatan samping terhadap kinerja sistem transportasi.
 Survei Arus Lalu Lintas
Survei Arus Lalu Lintas terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
 Traffic counting selama dua hari kerja (satu hari akhir pekan dan satu hari libur).
Survei dilakukan dengan menghitung volume lalu lintas harian (LHR).

Tabel 3.1 Kebutuhan Data


Kategori Data Jenis Data Rincian Sumber Data
Geometri dan kondisi jalan Dinas Pekerjaan Umum /
(lebar jalan, lebar bahu, dll) Lapangan
Data Sekunder Kinerja jalan Kondisi lalu lintas (volume lalu Dinas Pekerjaan Umum
lintas/LHR, kecepatan, waktu dan Dinas Perhubungan /
tempuh dan tundaan) Lapangan
Dinas Pekerjaan Umum,
RTRW Kota Palu
Peta (jaringan jalan Kota Palu) Dinas Perhubungan dan
2010-2030
BAPPEDA / Lapangan

Dinas Pekerjaan Umum,


Jenis kegiatan perdagangan Dinas Perhubungan dan
Pola kegiatan BAPPEDA / Lapangan
Data Primer
transportasi Dinas Pekerjaan Umum
Jarak perjalanan dan Dinas Perhubungan /
Lapangan

Sumber : Jurnal Teknik Sipil UBL, Volume 3 Nomor 1, April 2012

3.3.2 Survei Sekunder


 Data karakteristik Kota Palu meliputi data kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Palu, data strategi pengembangan struktur tata ruang Kota Palu serta data sistem
transportasi. Sumber Instansi : Bappeda Kota Palu, Dinas Perhubungan Kota Palu dan
Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu. kendaraan dilakukan 4 kali perjalanan dalam satu
jam yang tertinggi (pagi, siang dan sore).
 Melakukan penghitungan hambatan samping di ruas Jalan yang menjadi titik konflik
penyebab kemacetan akibat adanya kawasan perdagangan ditiap jalan lingkar dalam
Kota Palu.
 Data Karakteristik wilayah studi meliputi data kebijakan Tata ruang Wilayah
pengembangan, data fisik wilayah studi, sistem transportasi dan kebijakan penggunaan
lahan di wilayah studi. Sumber Instansi : Bappeda Kota Palu, Dinas Perhubungan Kota
Palu, Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu.

a. Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif merupakan metode yang digunakan untuk data yang tersaji dalam
bentuk angka dan terukur. Metode ini lebih akurat dari kualitatif karena didukung bukti
numerik. Data yang diolah menggunakan metode ini adalah :
 Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi digunakan untuk mempertegas berbagai deskripsi kualitatif dalam
identifikasi dan analisis. Distribusi frekuensi untuk mengolah data numerik hasil
kuisioner dengan melibatkan data statistik dan standar-standar yang terkait literatur
studi untuk memperoleh gambaran suatu fenomena. Hasil dari pengolahan berupa
prosentase yang ditampilkan dalam bentuk perhitungan. Kategori yang digunakan
adalah kapasitas jalan, kecepatan arus bebas,
1. Kapasitas Jalan
Untuk mengetahui kapasitas jalan didasarkan pada pedoman standar teknis yaitu
Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997 :
C = C0 x FCw x FCsp x FCsf x FCcs (smp / jam)
Keterangan :
C = Kapasitas (smp/jam)
C0 = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCw = Faktor penyesuaian lebar jalan
FCsp = Faktor penyesuaian pemisahan arah (hanya untuk jalan tak terbagi)
FCsf = Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan/kereb
FCcs = Faktor penyesuaian ukuran kota

2. Kecepatan Arus Bebas


Kecepatan arus bebas adalah kecepatan pada tingkat arus nol, yaitu kecepatan yang
akan dipilih pengemudi jika mengendarai kendaraan bermotor tanpa dipengaruhi
kendaraan yang lain (volume = 1). Kecepatan arus bebas dapat dihitung dengan
persamaan matematis yang terdapat pada MKJI (1997) dengan mempertimbangkan
data geometrik serta kondisi lingkungan jalan.
Untuk menghitung kecepatan arus bebas, persamaan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
FV = (FV0 + FVw) x FFVsf x FFVcs
Keterangan :
FV = kecepatan arus bebas untuk kendaraan ringan dalam kondisi aktual (km/jam)
FV0 = kecepatan dasar arus bebas untuk kendaraan ringan (km/jam)
FVw = faktor penyesuaian kecepatan untuk lebar jalan (km/jam)
FFVsf = faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan bahu atau kereb jalan
FFVcs = faktor penyesuaian kecepatan untuk ukuran kota

3.4 Teknik Analisis


Penelitian mengenai pengembangan sistem transportasi dilakukan dengan teknik analisis
yang dapat mendukung penelitan ini, maka digunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif.
Alat analisis yang digunakan untuk menganalisis data yang sudah diolah yaitu analisis
deskriptif dan analisis perhitungan. Berikut analisis yang digunakan :
a. Menghitung kecepatan kendaraan
b. Tundaan
c. Waktu tempuh
d. Penentuan komposisi jenis kendaraan
e. Penentuan tingkat pelayanan jalan, meliputi : kapasitas jalan, rasio volume perkapasitas.

Alur Penelitian

Sumber: Hasil Analisis, 2018


Jadwal Pelaksanaan (Time Schedule)
BULAN

TAHAPAN Maret April Mei Juni Juli Agustus September

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

Bimbingan
Proposal

Seminar
Proposal

Survei Data

Pengolahan
Data & Analisis

Hasil dan
Pembahasan

Seminar Hasil

Perbaikan

Studio TA

Sidang Ujian TA
dan Yudisium

Wisuda
DAFTAR PUSTAKA

Andriansyah, (2015) Manajemen transportasi dalam kajian dan teori. Jakarta: Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama.
Aisyah sitti, (2012) Jurnal Pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat di Kota Surabaya, Vol 15,
No.3 https://media.neliti.com/media/publications/40044-ID-perencanaan-
pembangunan-jalan- lingkar-luar-barat-di-kota-surabaya.pdf di akses
pada tanggal 27 April 2018
RDTR, Kawasan Teluk Palu 2014
Jurnal Teknik Sipil UBL, Volume 3 Nomor 1, April 2012.
http://Metode/20Penelitian/Pedoman/20TA/JURNAL/20KINERJA/20JALAN/20PWK/20IT
B.pdf di akses pada tanggal 14 April 2018
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 20/No.3 Desember 2009.
http://Metode/20Penelitian/Pedoman/20TA/JURNAL/20KINERJA/20JALAN.pdf di akses
pada tanggal 14 April 2018