Anda di halaman 1dari 14

Tugas Laporan

Strategi Bisnis

Tambang Grasberg

Disusun Oleh :

Kelompok 4

Aditya Rahman Halim (073.013.002)

Diony Rizhan (073.013.025)

Ramadhan Dimas (073.013.084)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2016
Bagian I
Penemuan dan Risiko

1. Freeport dan Irian Jaya


Pada tahun 1936, seorang geolog muda berkebangsaan Belanda bernama Jean Jacques Dozy
mengenali sebuah gunung dalam peta yang dibawanya. Dozy memandang gunung tanpa
pepohonan itu dan memberinya nama Grasberg atau Gunung Rumput. Meskipun tujuan
utamanya adalah melakukan pendakian gletser Cartensz, sebagai seorang ahli geologi Dozy
menaruh perhatian tersendiri terhadap gunung aneh tersebut dan terdorong untuk membuat
catatan serta mengambil beberapa contoh batuan.
Contoh batuan kemudian dikirim ke beberapa laboratorium untuk dianalisis. Hasil analisis
beserta penjelasan-penjelasan tentang lapisan batuan di sekeliling gunung yang dibuat Dozy
diterbitkan dalam jurnal Geologi Leiden pada tahun 1939. Meskipun Grasberg disebut-sebut
dalam buku ini, namun anomaly yang lebih menarik dan lebih dramatis adalah Ertsberg atau
Gunung Bijih, yakni sebuah gunung dengan kandungan tembaga kadar tinggi, menjulang 180
meter diatas rawa-rawa.
Menjelang tahun 1988, minat para investor terhadap proyek emas terus meningkat. Minat
investor yang tinggi ini digabungkan dengan jalan pikiran Jim Bob Moffett yang berorientasi
eksplorasi, mendorong dilakukannya pemboran di Grasberg dengan lebih terencana. Pemboran
dilakukan di lima titik, dimulai dari puncak gunung. Empat lubang bor pertama menunjukkan
adanya kadar emas dan tembaga yang menggembirakan, namun tidak terdapat konsentrasi
endapan emas di dekat permukaan. Hasil lubang bor kelima, dari 611 meter kedalaman lubang
bor, 591 meter menembus lapisan bijih yang mengandung kadar tembaga 1,69% dan kadar emas
1,77 gram per ton.
Freeport bukan lagi tambang kecil di dataran tinggi Irian Jaya yang menarik secara teknis dan
mulai menipis, tetapi telah menjadi sebuah perusahaan nomor tiga terbesar di dunia yang
memiliki cadangan emas tunggal terbesar di dunia. Cadangan yang dimiliki Freeport dalam
tahun 1995 adalah 40,3 milyar pon tembaga dan 52,1 juta ons (troy) emas.
Kegiatan pertambangan maupun eksplorasi terpusat di Irian Jaya, suatu tempat yang paling
terpencil di Indonesia dan mungkin juga di dunia dan kurang di kenal. New Guinea adalah pulau
terbesar di dunia setelah Greenland dengan luas 792.540 km2. Dari barat ke timur pulau ini
mempunyai panjang 2.400 km dan tempat yang paling lebar di bagian tengah adalah 740 km di
utara ke selatan.
Di provinsi Irian Jaya terdapat 251 bahasa atau merupakan 40% jumlah bahasa yang dikenal
di Indonesia yang jumlahnya sedikit dibawah 600. Bahasa Irian Jaya digabungkan dengan 770
bahasa New Guinea merupakan seperlima dari bahasa yang dikenal di dunia. Sebanyak 140
bahasa di Irian Jaya hanya digunakan oleh kurang dari 1000 orang. Sepertiga asli penduduk Irian
Jaya menggunakan salah satu dari bahasa Dani (230.000) atau bahasa Ekagi (100.000) dan hanya
kedua bahasa ini dan bahasa Asmat (60.000) yang banyak dikenal.
2. Penemuan Ertsberg
Pada abad ke 20, garis pantai New Guinea Belanda sudah dipetakan dengan teratur, namun
daerah pedalaman tetap merupakan daerah yang tidak dikenal. Kendala utama yang membuat
putus asa namun tetap menantang adalah puncak bersalju yang selalu tertutup awan.
Para ahli geologi anggota ekspedisi menemukan lapisan batubara mutuuu rendah, indikasi
kehadiran minyak bumi, tanda-tanda adanya kandungan timah putih, tembaga dan bijih besi.
Manajer operasi Babo adalah seorang ahli hukum bernama Dr. Antonio Colijn, yang
kebetulan putera perdana menteri Belanda. Colijn berada di dalam pesawat pada waktu pertama
kali dilakukan penerbangan percobaan untuk ketinggian maksimal di wilayah tersebut. Setelah 1
jam, pesawat mencapai ketinggian 4.000 meter dan saat itulah Colijn melihat puncak Cartensz.
Pada saat pesawat mendekati pegunungan, Colijn membuat penemuan besar : Ternyata
lereng Cartensz di bagian utara tidak menurun begitu saja, tetapi terdapat rangkaian lembah-
lembah dimana gletser tersembunyi di dalamnya.
3. Membangun Tambang
Untuk melanjutkan proyek Ertsberg, Freeport harus melakukan pemboran secara sistematis
agar cadangan bijih dapat di evaluasi dengan pasti. Tetapi ada kendala yaitu membawa peralatan
bor yang beratnya mencapai beberapa ton dengan menggunakan perahu dorong. Solusinya
adalah dengan menggunakan helicopter. Tetapi pada zaman tersebut helicopter masih
menggunakan mesin piston dimana hanya mampu mengangkat 1 orang dan beban barang 210 kg,
untuk terbang ke Ertsberg dengan ketinggian 3.600 meter.
Pada tahun 1966 babak baru mulai terbuka untuk Freeport untuk meneruskan proyek
Ertsberg. Pimpinan Freeport pada saat itu adalah Langbourne William, mendengar perubahaan di
Indonesia yang menggembirakan dari pejabat Texaco. Texaco berhasil mempertahankan
usahanya di Indonesia. Keberhasilan Texaco ditentukan oleh peran salah satu manajer Indonesia
yaitu Julius Tahija. Agar Freeport bisa mempertahankan usaha untuk membangun proyek
Ertsberg, Julius Tahija menunjuk Ali Budiarjo untuk menjabat sebagai Presiden Freeport
Indonesia.
Pada tanggal 5 April 1967, Menteri Pertambangan Slamet Bratanata dan Perwakilan Freeport
menandatangani Kontrak Karya selama 30 tahun untuk pengembangan Ertsberg. Inilah Kontrak
Karya pertama yang pernah ditandatangani oleh Indonesia dibawah UU Penamaman Modal
Asing.
Dalam waktu sebulan penandatanganan Kontrak Karya, perusahaan mempersiapkan langkah
selanjutnya, yakni melakukan pemboran intiuntuk mengambil contoh batuan dari kedalaman
Ertsberg.

Bagian II
Krisis dan Ekspansi
4. Era Bawah Tanah
Pada tahun 1975, cadangan bijih di Estberg mencapai 12 juta ton dengan kapasitas pabrik
pengolahan 2,7 juta ton/tahun. Timbul masalah hutang bagi perusahaan sementara tambang
tesebut hanya berumur kira-kira 4 tahun lagi. Maka, diharapkan adanya penambangan bawah
tanah untuk menggali bijih tembaga yang jauh di perut Estberg. Hanya saja untuk melakukan
penambangan bawah tanah tidaklah semudah itu. Harga tembaga rendah, sedangkan
penambangan bawah tanah membutuhkan modal besar dan biaya ekstraksi logam mahal.
Alternatif lain adalah dengan melakukan tambang terbuka dengan kedalaman yang ditambah.

Kemudian pada tahun 1976 disimpulkan bahwa keadaan setelah dilakukan penelitian cukup
ekonomis dan aman sehingga akan diperoleh tambahan bijih sebanyak 6 juta ton. Dengan
persetujuan tsb akan membuka peluang untuk menemukan cadangan untuk memperpanjang
umur tambang. Namun, Kementrian Pertambangan Indonesia menyatakan keberatan karena akan
ada 40 persen asset nasional yang tidak termanfaatkan. Setelah meyakinkan Menteri,maka
terbukti keputusan tersebut bermanfaat dan ditemukannya cadangan sebesar 2 juta ton.
Ditemukan cadangan di Lembah barat Atas, dengan perkiraan potensi cadangan mencapai 75000
ton. Namun, harus ditambang dengan cara bawah tanah. Ditemukan juga cebakan mineral
dibagian timur GBT (Gunung Bijih Timur) yang mengandung banyak kalkopirit dan memiliki
candangan sebanyak 40 juta ton dengan kadar tembaga rata rata 2.5 persen. Meskipun demikian,
harga logam tembaga pada saat itu hanya 63 sen dollar per ton, sehingga tidak menjamin operasi
akan dapat ekonomis.

Maka dibuat terowongan untuk menembus GBT sepanjang 1.300 meter dengan anggaran 12
juta dollar. Setelah studi kelayakan,dilaksanakan langkah kedua dengan membuka tambang
sampai produksi dengan perkiraan biaya antaran 70 juta - 80 juta dollar. Pada tahun 1977,
peledakan pertama dilakukan untuk menembus GBT. Dan kemudian pada tahun 1978 sekitar
bulan Januari berhasil menembus endapan GBT dan pada bulan September, cadangan bijih diatas
3600 meter telah selesai di evaluasi melalui 10 pemboran bawah tanah dan pada bulan
November, Studi kelayakan selesai dan konsentrat GBT dinyatakan bagus sekali. Biaya proyek
sebesar 101 juta dollar dengan biaya produksi 55,6 % dollar per ton dan pengembalian modal
sebesar 24 %. Ditemukan batuan bijih dibawah level 3600 dan pada tahun 1978 dilakukan
pemboran lebih dalam. Pada tahun 1979, didapatkan pembeli dan umur tambang bertambah
paling sedikit 10 tahun lagi. Rencana selanjutnya adalah untuk mencari manajer yang ahli dan
berpengalaman dalam penambangan bawah tanah. Pada tahun 1979, direkrut pekerja ahli dari
Amerika dan Canada untuk pertambangan batuan keras. Namun, tidak sesuai perkiraan watak
mereka tidak sesuai kebutuhan yang dibutuhkan. Pada tahun 1980, tambang bawah tanah GBT di
mulai. Diperkirakan, Produksi tembaga jika terjual dengan harga 70 sen dollar per pon,maka
proyek ini memberikan pengembalian modal sebesar 24 persen. Hasil yang didapatkan dari
penambangan GBT adalah :

• Produksi tembaga naik 25 persen

• Umur proyek meningkat 10 tahun dan mungkin dapat lebih lama lagi

• Teknologi dan training yang diberikan kepada tenaga kerja Indonesia aklan terus
bermanfaat.

5. Era Grasberg
Per tahun 1996, Grasberg mengandung deposit 1,7 milyar ton batuan bijih dengan kadar rata
rata 1,11% tembaga atau sama dengan 35,2 milyar pon logam tembaga murni,kandungan emas
49 juta troy ons. Sejarah Grasberg dimulai pada tahun 1970. Pada saat itu, Grasberg pernah
diusulkan sebagai sasaran eksplorasi yang potensial. Namun,banak ahli yang mengatakan
Grasberg hanyalah bijih kadar normal bahkan rendah( kadar tersebut tidak sesuai dengan
ketentuan tentang apa yang disebut ‘bijih’ bagi perusahaan) dan lokasi terletak 4000 km diatas
permukaan laut. Pada tahun 1983, department pertambangan memusatkan perhatian pada
produksi dikarenakan harga tembaga turun 30% sejak 1980 dan bertahan pada tingkat 70 sen per
pon sehingga eksplorasi untuk menemukan cadangan bijih dibatasi hanya untuk memastikan
cadangan yang sedang ditambang. Pada tahun 1985, dilakukanlah pemboran di Grasberg.
Tahun 1988, lapisan bor menembus lapisan batuan setebal 144 meter dengan kadar emas 1,6
gram per ton dan tembaga dengan kadar 1,63%. Lalu ditambahkan lubang bor dengan sudut
kemiringan makin besar dengan kedalaman 611 meter dengan lapisan batuan bijih setebal 591
meter dengan kadar tembaga 1,69% dan kadar emas 1,77 gram per ton. Pada tahun 1989,
diperkiran bahwa Grasberg mengandung batuan bijih sedikitnya 99 juta ton. Dilakukannya
pembuatan perencanaan tambang terbuka dengan produksi sebesar 32000 ton per hari
,dinamakan sebagai ‘program 32K’(tahap I proyek Grasberg) dengan perkiraan biaya sebesar
125 juta dollar. Strategi dari program 32k meliputi:

• Penambangan bawah tanah20.000 ton

Strategi penambangan : bijih diangkut ke pabrik pengolahan melalui system saluran bijih
(orepass) dan kereta kabel

• Penambangan Grasberg  12.000 ton

Strategi penambangan

 Menggunakan front end loader dan truck berkapasitas 85 ton

 Bijih diangkut menggunakan system conveyor menuju ke system


saluran bijih (ore pass) dan system conveyor yang sudah berada
dibawah tanah

• Pabrik Pengolahan ditingkatkan kapasitasnya ditempatkan ballmill yang keempat,


perluasan ruangan untuk penempatan crusher & flotasi kasar

• Meningkatkan pembangkit tenaga listrik serta menambah prasarana di Tembagapura bagi


tambahan tenaga kerja yang akan dibutuhkan
Kemudian direncanakan program 57k. Dibutuhkan biaya untuk menaikan kapasitas dari
32.000 ton menjadi 57.000 ton per hari akan mencapai 381 juta dollar. Dengan kondisi
pembangunan prasarana dalam rangka program 20K dan 32K tersisa yang belum terselesaikan
maka akan diperlukan investasi sebesar 716 juta dollar yang harus diselesaikan dalam 4 tahun
kedepan. Program 37K mencakup pekerjaan merobohkan beberapa bagian bangunan,
pembangunan pabrik tambahan diaman akan ditempatkan 3 mesin penggerus batuan primer,
mesin pemecah batu dan tangka penyimpan batuan bijih yang sudah halus, pabrik untuk mesin
mesin flotasi, jaringan pipa baru, sarana tambahan di pelabuhan untuk menyimpan konsentrat,
penyaringan dan pengeringan juga harus diperluas, di Tembagapura diperlukan perkantoran baru,
klub rekreasi untuk staff, pusat belanja dan perluasan perumahan.

Bank utama PTFI mempertimbangkan pemberian dana, tetapi mensyaratkan agar terlebih
dahulu ada kontrak penjualan atau berupa surat kesediaan untuk membeli (letter of intent)
setidaknya 75% produksi. Tanggung jawab pada bidang rekayasa dan rancang bangun
pembangunan sarana berada ditangan pihak pemilik proyek, dalam hal ini Freeport. Dengan
demikian sarana tambang dan sarana tambahan pada pabrik pengolahan dapat dibangun sesuai
dengan keinginan, dan selalu dapat memenuhi kebutuhan dan dapat diselesaikan dengan biaya
rendah.

6. Menuju 115.000 Ton per Hari


Selain masalah keuangan, tantangan terbesar yang dihadapi program 115K adalah mencari
cara untuk membawa peralatan dan barang-barang sampai ke lokasi tambang dalam waktu yang
telah ditetapkan. Akhirnya jalan keluarterbaik adalah menancapkan semacam jangkar dari beton
di puncuk gunung, untuk mengatrol bulldozer keatas dengan kabel. Setelah itu dapat di bentuk
HEAT road, HEAT road sendiri merupakan sumbangan tunggal terbesar kepada program
pengembangan Grasberg. Tanpa ada HEAT road, peningkatan produksi sampai 115.000 ton
perhari atau lebih tidak akan mungkin dapat tercapai. Pada akhir 1988, cadangan Grasberg
diperkirakan 600-800 juta ton. Dengan meningkatnya penelitian geologi dan pemboran, terbukti
Grasberg mengandung bijih lebih dari 1 miliyar ton. Maka lahirlah program 115K.
Semua kebutuhan untuk tambang, pabrik pengolahan dan kota Tembagapura didatangkan
melalui jalan tunggal yang menghubungkan daerah pantai dengan pedalaman. Pembuatan jalan
yang hanya kurang lebih Sembilan mil ini memakan biaya sebesar $10 juta, karena harus melalui
rawa-rawa. Permukaan jalan tidak diperkeras dengan beton karena memakan biaya tinggi dan
juga karena pipa konsentrat serta pipa bahan bakar yang berada di bawahnya memerlukan
inspeksi secara teratur. Pusat pembangkit listrik menghasilkan tenaga 103 Megawatt untuk
pabrik pengolahan, 16 megawat untuk tambang, 6 megawat untuk Tembagapura, dan sisanya
untuk pelabuhan dan beberapa instalasi yang tersebar dimana-mana.Biaya keseluruhan program
perluasan 115K mencapai $953 juta, termasuk $300 juta untuk perluasan pabrik pengolahan,
lebih dari $200 juta untuk alat-alat berat dan $250 juta untuk system pengangkutan batuan bijih.
Sebagian dari dana sebanyak itu diperoleh perusahaan dari penjualan saham khusus, dan
sebagian lagi melalui program privatisasi secara ekstensif, yaitu dengan menjual asset
perusahaan di Irian Jaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan produksi. Freeport-
McMoRan Copper & Gold kemudian meminjamkan dana pinjaman dari publikk ini kepada
Freeport Indonesia, sebagai anak perusahaan yang beroperasi di Irian Jaya. Dengan cara
demikian , perusahaan dapat mengumpulkan dana sebesar $500 juta, dimana setengah dari
jumlah itu dipakai untuk pendanaan program perluasan 115K.
Peminjaman dari pasar uang dapat menguras keuntungan . Dana juga dapat diperoleh dari
penualan saham, tetapi hal ini akan memperkecil kepemilikan, sedang pendanaan melalui ekuiti
bahkan lebih mahal dari pada pinjam dari pasar uang. Penjualan saham yang dikaitkan dengan
harga komoditi yang kami lakukan dapat menghindari permasalahan-permasalahan diatas. Tetapi
jalan keluar terbaik adalah melalu program privatisasi. Aset asset saran tambahan dijual dan
dioperasikan pihak lain. Faktor lain yang mendorong privatisasi adalah resiko. Freeport
McMoRan Copper & Gold harus memperoleh pengembalian sebesar 40% dari asset yang
ditanam.
Total perolehan dari penjualan beberapa pembangkit listrik dan sarana-sarana yang sedang
dibangun, adalah $215 juta. Secara keseluruhan Program privatisasi menghasilkan dana sebesar
$830 juta. Proses pengambilan keputusan dengan cepat dan praktis inilah yang dapat
menyelamatkan uang perusahaan serta menjaga pelaksanaan proyek tetap sebagaimana
direncakan. Penggunaan truk kecil untuk mengangkut shovel memang menelan biaya $30.000
untuk perbaikan karena shovel terdapat kerusakan, tetapi dengan berhasilnya shovel digunakan
sesuai jadwal, tambang dapat segera berproduksi, sehingga kerugian jutaan dolar dapat
dihindarkan. Kisah keberhasilan proyek 115K bukan hanya karena pelaksanaan yang sesuai
anggaran biaya, tetapi terutama karena proyek ini dapat diselesaikan delapan bulan lebih awal.
Pengurangan waktu delapan bulan tersebut berharga $200 juta dalam bentuk tambahan
pendapatan, dan mungkin sekitar $40-$50 juta dalam keuntungan tambahan.
Freetport Indonesia meproduksi lebih dari lima persen dari produksi tembaga baru di dunia.
Pada operasi tambang dan pabrik pengolahan, hanya dierplukan sepuluh persen penambahan
tenaga kerja untuk menghasilkan produksi dua kali lipat. Perluasan untuk mencapai 115.000 ton
bijih perhari merupakan keberhasilan tanpa tandingan. Penghasilan dari tambang Irian Jaya rata-
rata $5 juta setiap hari. Dalam waktu dekat, tanpa masalah yang berarti, jumlah produksi
konsentrat akan menyamai jumlah produksi batuah bijih yang dapat dihasilkan oleh tambang
Ertsberg. Lebih dari pada angka-angka statistic, hal ini dapat menggambarkan peningkatan skala
operasi Freeport dari proyek perluasan satu ke yang lain sampai terakhir pada tingkat 115K.

Bagian III
Bisnis Pertambangan
7. Menambang Bijih Tembaga
Tambang Grasberg berada di daerah terpencil di daerah pegunungan yang tingginya 4.200
meter, di tengah-tengah sebuah pulau yang paling sulit dicapai di dunia, yakni Irian Jaya.
Lapisan udara di lokasi ini selain tipis dan juga dingin, sedang tambang itu sendiri di selimuti
kabut. Mesin-mesin tambang harus dihentikan bilamana jarak pandang kurang dari 40 meter,
karena pada jarak pandang ini shovel listrik tidak terlihat.
Tambang Grasberg mencapai produksi dengan sangat cepat. Konstruksi dimulai segera
setelah beberapa lubang bor memberikan kepastian cadangan pada musim panas 1988. Pekerjaan
pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan akses darat untuk perbekalan pemboran dan
selanjutnya mengerjakan perintisan untuk membuat lereng-lereng pada tambang terbuka yang
pertama.
Sejak di bangunnya HEAT road pada tahun 1993 yang memungkinkan shovel dan truk-truk
berat diangkut ke tambang, sampai awal 1995 produksi Grasberg telah meningkat du kali lipat.
Operasi Grasberg rata-rata mampu menghasilkan batuan sebesar 10 ton hari per pegawai.
Sekarang sudah 150 ton hari per pegawai.
Lebih dari 1000 orang bekerja di Grasberg, sedang operasi penambangan berjalan dalam dua
aplos, selama 24 jam sehari, 365 hari per tahun. Diperlukan 3 juta orang per hari untuk
menyelasaikan pekerjaan, dengan hasil dapat dipindahkan 191 juta ton batuan bijih dan batuan
limbah pada akhir tahun. Semua jerih payah ini menghasilkan 1 milyar ton tembaga dan 1,4 juta
troy emas ton.
Tingkat kadar ekonomis bijih Grasberg adalah 0,8% “setara tembaga”. Maksudnya adalah
kadar tembaga sebenarnya ditambah dengan nilai kandungan emas yang dinyatakan dalam
persen tembaga. Hanya batuan bijih yang berkadar 0,8% yang diangkut ke pabrik pengolahan.
Batuan yang tidak memenuhu syarat, ditumpuk pada tempat tertentu. Stripping Ratio di
Grasberg, yakni perbandingan antara batuan yang tidak diolah dengan batuan bijih yang diolah,
termasuk tinggi untuk sebuah tambang tembaga yakni 3,67.
Memperdalam tambang dengan sudut yang lebih terjal sulit dilakukan pada endapan
Grasberg karena di beberapa bagian terdapat batuan diorite lembek yang mudah retak berkeping-
keping. Batuan ini dijuluki “kepingan poker” karena pada inti bor batuan ini terlepas dalam
bentuk keeping-keping bulat seperti kepingan permainan poker.
Peledakan sangat menentukan bentuk dasar dari lubang tambang, meskipun bentuk tersebut
selalu berubah. Peledakan sekarang menggunakan bahan campuran bahan pupuk dan minyak
diesel yang dinamakan ANFO, kepanjangan dari Amonium Nitrate dan fuel oil. Peledakan di
Grasberg dilakukan 2 kali seminggu dan setiap kali peledakan digunakan 230.000 kg ANFO.
Penggalian bijih di Grasberg dilakukan dengan peralatan tambang yang paling besar dan
secara teknis paling mutakhir di dunia. Terdapat 16 alat pemunggah, 22 bulldozer, 12 grader, dan
80 truk.
8. Eksplorasi
Para geolog Freeport saat ini sedang berusaha menemukan tanda-tanda mineralisasi di daerah
Kontrak Karya yang sebentang 3 juta Ha di Irian Jaya. Sejauh ini sudah menemukan tidak
kurang dari 70 anomali, yakni gejala geologis yang menunjukkan kemungkinan kehadiran
mineral yang layak di tambang. Untuk menemukan anomali ini dilakukan berbagai upaya,
diantaranya penangkapan citra satelit dan radar dalam jumlah besar, melaksanakan penelitian
aeromagnetis dan menganalisis hasilnya, bergelantung pada tali helicopter, sampai melakukan
cara-cara penelitian geologi sederhana dan kuno dengan mendaki gunung membawa palu dan
buku catatan dan kantong contoh batuan.
Semua tambang Freeport yang sedang beroperasi pada umumnya berada di daerah yang
relative sempit tetapi penuh dengan endapan bijih. Intrusi Grasberg dan Ertsberg berada di atas
persilangan patahan dalam, sekitar 10-15 km di bawah tanah. Patahan ini memungkinkan magma
naik keatas sampai pada kedalaman yang dapat di tambang.
9. Penggunaan dan Penjualan Tembaga
Di Amerika Utara dan Selatan, pemggunaan tembaga sudah mulai sejak 3.000 tahun yang
lalu oleh beberapa kelompok bangsa Indian Amerika Tengah dan Andes. Penggunaan tembaga
oleh kelompok tersebut belum intensif.
Sejak zaman dahulu sampai sekarang, tembaga merupakan logam yang paling banyak
dipakai oleh manusia setelah besi. Tembaga modern dimulai sejak penemuan listrik. Penggunaan
tembaga di dunia yang paling besar adalah pelistrikan, peralatan listrik.
Sekitar 40% atau 2,8 juta ton dalam tahun 1995, penjualan tembaga hasil tambang negara-
negara barat kepada pabrik peleburan dilakukan oleh perusahaan tambang yang sama sekali tidak
mempunyai kaitan dengan perusahaan peleburan bersangkutan. Jumlah 2,8 juta ton logam
tembaga murni ini adalah hasil dari keseluruhan 8,4 juta ton konsentrat yang di produksi.
Konsentrat tembaga dijual dua jenis kontrak, “jangka panjang” dan kontrak “spot”. Kontrak
jangka panjang adalah 2 tahun atau lebih lama sedangkan kontrak “spot” adalh untuk sekali
pengapalan atau berlaku kurang dari dua tahun.

Bagian IV
Sumber Daya dan Masa Depan
10. Pengelolaan Lingkungan
Dalam penambangan di Grasberg terdapat beberapa permasalahan, salah satunya adalah
permasalahan lingkungan dimana Tailing yang dihasilkan dari pabrik pengolahan dibuang ke
sungai Aikwa. Akibatnya pada pertengahan 1990-an terjadi badai dan aliran sungai Aikwa
terendapkan. Untuk menanggulangi hal ini, para Insinyur PT. Freeport membuat tanggul untuk
melindungi perkampungan penduduk disekitar sungai Aikwa. Namun, Tanggul yang dibuat tidak
efektif diakibatkan di daerah pegunungan Irian Jaya sangat tinggi sehingga mengakibatkan banjir
bandang. Tapi Pada akhirnya, PT. Freeport tetap melanjutkan dan membangun tanggul sebagai
pengendalian banjir dan terbukti dapat menampung tailing pabrik (133 km2).
Menjelang penambangan Grasberg. Ilmuwan meneliti daerah sekitar Grasberg dimana
tanaman vegetasi dapat hidup lebih subur pada batuan yang baru saja di tumpuk.
Permasalahannya adalah, batuan yang baru saja ditumpuk merupakan batuan berpori sehingga
dapat menyebabkan pencemaran asam tambang. Faktanya, 25% batuan disekitar Grasberg adalah
batuan kapur, 25% batuan sedikit asam dan sisanya mempunyai potensi tinggi menimbulkan
asam alias PAF (Potential Acid Forming). Selain itu terdapat juga masalah tailing. Letak
pembuangan tailing berada diantara hutan dan batas rawa-rawa yang ditumbuhi pohon sagu.
Namun ketika Ilmuwan meneliti tailing tersebut banyak tanaman seperti tanaman kopi, coklat
bahkan padi tumbuh sangat baik diatas lahan tailing.
11. Hubungan Masyarakat
Daerah di sekitar tambang, merupakan tempat dimana banyak suku pedalaman yang
hidupnya hanya mengandalkan alam dan bertani. Melihat potensi SDM yang tersedia, Freeport
membutuhkan penduduk setempat untuk bekerja dibandingkan penduduk luar karena menggaji
penduduk setempat tentunya akan lebih ekonomis dibandingkan menggaji penduduk luar. Untuk
merealisasikan hal ini, dilaksanakan Program tripatrit yaitu program pengembangan masyarakat
yang dilakukan oleh pemerintah, penduduk dan Freeport. Namun sempat terjadi konflik dengan
suku Amungme yang menetap didekat kawasan tambang. Tahun 1960-an Forbes Wilson
(geologist Belanda) menulis di laporannya bahwa suku Amungme sangat ramah dan murah
senyum. Namun ketika Freeport melakukan operasi penambangan pada akhir 1960 dan awal
1970-an, terjadi kesalah pahaman dengan suku Amungme. Suku Amungme berprinsip
persamaan dalam kepemilikan barang dengan tujuan untuk menghindarkan kecemburuan dan
pemerataan kekayaan antar keluarga. Selain itu, Suku Amungme juga menganut kepercayaan
cargo yaitu kepercayaan spiritual suku asli pedalaman. Suku Amungme percaya bahwa barang-
barang yang dibawa oleh pendatang adalah dari kekuatan spiritual. Untuk menghindari konflik
yang berkepanjangan akibat kesalah pahaman ini, Freeport mengadakan perjanjian dengan suku
Amungme dan menyatakan bahwa perusahaan bersedia membangun sarana dan prasarana seperti
rumah, pusat perbelanjaan dll. Suku Amungme pada akhirnya menyatakan bahwa mereka
memberikan izin kepada perusahaan untuk meneruskan kegiatan penambangannya.
12. Timika dan Kota Baru
Timika lahir tahun 1960-an saat Freeport memutuskan untuk membuka tambang Ertsberg.
Lokasinya berada dekat pantai Timuka, 40KM kepedalaman di tepi sungai Aikwa. Pada Tahun
1971, bandar udara dan pusat perbekalan selesai dibangun dan lambat laun berkembang menjadi
satu kota. Pada saat membangun jalan akses ke tambang tahun 1969, Freeport mempekerjakan
orang-orang Amungme. Dalam dua tahun, para pekerja dan keluarganya telah menetap di daerah
utara Bandar Udara. Tahun 1973, pemukiman di sebelah utara bandar udara sudah demikian
besar sehingga orang-orang Amungme menjadikan desa bernama Kwamki. Beberapa sarana
yang dibangun Freeport di daerah tersebut:
- Jalan sambungan dari Jalan Utama Freeport
- Lahan untuk perumahan dan kebun
Tahun 1972 setelah tambang Ertsberg berproduksi, perusahaan mengalami masalah dengan
pendatang yang bermukim disekitar Tembagapura. Mereka adalah orang-orang Dani, Ekagi, dan
Moni yang ingin mendapatkan pekerjaan di Freeport. Masalah yang dihadapi antara lain:
- Mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan dan skill yang diperlukan
- Pemukiman liar yang dibangun menganggu pemandangan dan mengandung resiko
kesehatan akibat tidak adanya sarana sanitasi
- Penebangan hutan menyebabkan bahaya tanah longsor
- Pemerintah kesulitan untuk membangun sarana kehidupan di daerah tersebut
Pertengahan tahun 1970-an, pemerintah dan Freeport menyadarkan para pendatang untuk
pindah ke Kwamki, dimana tersedia lahan dan sarana yang layak. Setelah tahun 1970-an,
beberapa perumahan mulai dibangun daerah selatan bandar udara yang kemudian menjadi kota
Timika. Dalam keresahan politik tahun 1977, penduduk Katolik Kwamki melarikan diri dari
konflik antara pihak militer dan gerakan separatis. Mereka kembali 1-2 tahun kemudia dan
sebagian besar rumah mereka hancur sehingga membuat mereka pindah ke daerah Timika.
Tahun 1981-1982, pemerintah merelokasi 3 desa dari daerah pantai ke 2 daerah sekitar
Timika. 2 daerah tersebut adalah Koperapoka Baru dan Sempan Barat, dimana kedua daerah
tersebut sekarang disebut Koperakopa dan Inauga. Tahun 1985, Freeport membeli lahan
pertanian orang Amungme untuk dikembangkan menjadi pemukiman bagi karyawan Freeport,
yang dinamakan Timika Indah. Akibat pertumbuhan penduduk dan semakin lengkapnya
prasarana di daerah Timika, pemerintah mendirikan pemukiman transmigrasi resmi di pinggir
kota .
Tahun 1993, potensi Grasberg semakin jelas dengan berbagai program ekspansi terus
berlangsung sehingga Tembagapura terasa semakin sempit. Hal ini membuat dirintisnya
perluasan ke daerah rendah dengan tujuan untuk membangun “Kota Baru”. Konsep dari “Kota
Baru” ini adalah pemukiman yang serasi dengan wilayah sekitar dan sesedikit mungkin
mengganggu lingkungan. Ditemukan dua lokasi yang memiliki potensi yaitu di Mile 50
sepanjang jalan akses dan di Mile 32 sebelah barat jalan. Mile 50 terlihat lebih menarik karena
dengan kendaraan darat dapat ditempuh dalam waktu 20-30 menit lebih cepat dari Tembagapura
dan tambang. Hanya saja keadaan tanahnya yang paling lemah di daerah rendah sehingga dapat
memakan biaya yang sangat mahal untuk membuat bangunan.
Maka diputuskan untuk mengambil lokasi Mile 32, hanya saja terdapat masalah dengan
perusahaan kayu setempat yang tidak memiliki hak atas tanah tapi memiliki izin pengusahaan
hutan. Freeport dapat membangun kota setelah mereka selesai menebang semua pohon di daerah
tersebut. Bertentangan dengan kriteria “Kota Baru”, Freeport pada akhirnya membeli izin usaha
perusahaan tersebut seharga $5 Juta. Rancangan “Kota Baru” ini ingin membuat sebuah kota
Indonesia dan bukan Kota Amerika seperti Tembagapura. Berdekatan dengan “Kota Baru”
direncanakan akan dibangun LIR (Lingkungan Industri Ringan) untuk menampung industri yang
dapat melayani kegiatan pertambangan, kontraktor dan pemeliharaan “Kota Baru”.
“Kota Baru” kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 15 Desember 1995
dengan nama Kuala Kencana. Pembangunan Kuala Kencana dipimpin oleh Art d’Aquin, seorang
veteran proyek pengembangan. Dibentuk tim perencana untuk meneliti kebutuhan para penghuni
kota dimasa depan dengan membentuk Laporan Hay. Laporan ini dikumpulkan dengan
melakukan wawancara karyawan indonesia baik staf, non-staf, maupun asing di daerah
Tembagapura dan Timika. Laporan Hay ini dilakukan untuk menyeleksi para arsitek yang
mampu memenuhi keinginan para penghuni serta “meng-indonesiakan” Kuala. Diundang Pak
Bud Soehoed untuk membantu pembangunan, dimana beliau pernah menjadi anggota dewan
komisari Freeport dan Mentri. Perusahaan beliau melakukan penelitian awal seperti analisis
vegetasi dan drainase serta perencanaan awal. Karya Pak Soehoed yang patut dihargai adalah
Alun-alun yang dibangun dipusat kota. Tahun 1996, setelah tahap pertama pembangunan selesai,
sejumlah karyawan sudah dapat menempati perumahan di Kuala Kencana.