Anda di halaman 1dari 14

ABSTRAK

OBJEKTIV: Kami menentukan insiden dan prediksi Faktor-faktor yang menjadi


masalah/kesulitan dalam memanage airway/saluran nafas, dan alat yang digunakan
untuk mengatasi masalah tersebut pada pasien yang di telah di anestesi umum.

METODE: Kami meninjau kasus manajemen airway yang sulit pada 37.805 pasien
yang menjalani anestesi umum dari Mei 2011 hingga Oktober 2013. Data diperoleh
dari sistem audit prosedural di institusi kami.

HASIL DAN KESIMPULAN : Terdapat 885 (2,3%) pasien dengan masalah saluran
napas yang sulit ditangani. Insiden berupa intubasi trakea, pembukaan jalan nafas
supraglotik dan masker ventilasi masing-masing berturut-turut 4,7%, 0,4% dan 1,0%.
Dari 805 pasien dengan kasus intubasi trakea yang sulit, prosedur intubasi trakea
gagal pada 11 (0,1%) pasien dan 3 dari pasien ini membutuhkan tracheostomy.

Faktor risiko utama mengatur jalan napas yang sulit adalah pendeknya jarak
thyromental (rasio odds 11.3 (9.6-13.4)) dan ekstensi leher yang kurang (OR 7.0 (5.5-
8.8)). Pasien yang telah diantisipasi sebelumnya memiliki risiko kesulitan empat kali
lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tidak diantisipasi sama sekali.
Nilai prediktif negatif pada tindakan evaluasi pra operasi sederhana ini adalah
98,7%. Alat yang sering digunakan ketika terjadi kesulitan dalam intubasi trakea
adalah bougies dan videolaryngoscopes,terutama untuk kesulitan yang tak terduga
sebelumnya Saluran udara melaui supraglotis dapat meningkatkan ventilasi dan
oksigenasi saat terjadi kesulitan dalam intubasi , tetapi ada 0,4% insidensi
penempatan jalan napas supraglotis yang sulit dilakukan. Kami mendukung hasil
laporan evaluasi saluran udara sederhana pra-anestesi,menghindari penggunaan
intubasi trakea atau penyisipan saluran napas supraglottic ketika terjadi kesulitan dan
mencegah penggunaan terlalu dini/awal berbagai alternatif dan metode.

1
PENDAHULUAN

Prediksi pengelolaan jalan napas yang sulit dan persiapan peralatan canggih
serta skill/ keterampilan untuk menggunakannya dapat mencegah hasil yang buruk
ketika menemukan kasus yang sulit

Oleh karena itu kami menggunakan standar assessment/ penilaian saluran nafas
pra operasi dari semua pasien, yang terdiri dari Mallampati view, pergerakan leher,
jarak thyromental, pembukaan mulut dan ada tidaknya celah dalam pertumbuhan gigi,
untuk memungkinkan persiapan yang memadai. Gagalnya intubasi trakea tidak
dengan sendirinya mengancam nyawa, tetapi upaya yang berulang dalam melakukan
intubasi bisa membuat trauma jalan nafas, karena menyelamatkan saluran nafas jauh
lebih sulit, karena dapat menyebabkan gagalnya oksigenasi, dan bahkan mortalitas.
Kami menekankan oksigenasi, dan menghindari mencoba mamasukkan penyisipan
alat, dan beralih ke metode alternatif manajemen jalan nafas lebih awal.

Sementara rentang alat canggih yang tersedia saat ini, kami telah
mengidentifikasi di departemen kami, empat perangkat inti untuk melatih staf kami
untuk digunakan dalam manajemen kasus kasus saluran napas yang sulit ditangani.
Alat tersebut antara lain: bougies, jalan nafas supraglottic, videolaryngoscopes dan
bronkoskopi fleksibel. Ini akan memungkinkan staf kami untuk mengatasi sebagian
besar situasi, termasuk situasi 'tidak dapat dilakukan ventilasi - tidak bisa intubasi'
yang langka, yang diperkirakan ada 0,01-0,05% . Keempat fitur perangkat ini
pedoman terbanyak untuk manajemen kasus jalan napas yang sulit . Krikotirotomi
ada dalam pedoman, tetapi hanya sedikit ahli anestesi yang memiliki pengalaman
melakukan cricothyrotomy darurat dan ditakutkan terjadi cedera iatrogenik
menggunakan metode ini.

Dalam ulasan ini, kami mempelajari insiden kasus jalan napas yang sulit Pada
situasi selama anestesi umum, prediksi kesulitan,dan metode yang memungkinkan
pengelolaan jalan nafas yang aman dan sukses.

2
MATERIAL DAN METODE

Pada tahun 2011, kami menerapkan sistem audit prosedural 100% dari semua
anestesi yang bekerja di departemen kami. Ini diamanatkan oleh rumah sakit dan
Departemen Kesehatan sebagai bagian dari kelanjutan peningkatan kualitas dan
keselamatan pasien untuk semua prosedur dan spesialisasi bedah. Dewan Review
Domain Khusus diinformasikan tentang pekerjaan audit kami dan memberi tahu
bahwa persetujuan dari pasien tidak diperlukan untuk pekerjaan audit semacam itu.
Sistem audit mencatat karakteristik pasien, teknik anestesi, masalah dan kesulitan
yang dihadapi secara kritis dan merugikan.

Dalam ulasan ini, kami mempelajari semua kasus yang sulit yang dilaporkan
dalam masalah pengelolaan saluran napas antara 37.805 kasus anestesi umum di
periode Mei 2011 hingga Oktober 2013. Informasi tambahan diperoleh dari catatan
kasus, dan bila perlu dari komunikasi dengan ahli anestesi yang terlibat dalam kasus
tersebut. Kita mencatat tingkat ventilasi SGA yang sulit, trakea yang sulit dilakukan
intubasi, ventilasi masker yang sulit, gagal penyisipan alat SGA, dan gagal
melakukan intubasi trakea. Ventilasi mask yang sulit didefinisikan sebagai
ketidakmampuan untuk mempertahankan ventilasi mask atau mask yang memadai
tetapi membutuhkan dua ahli anestesi. KesulitanVentilasi SGA didefinisikan sebagai
ketidakmampuan untuk menyediakan ventilasi yang memadai karena satu atau lebih
dari masalah berikut: segel SGA yang tidak memadai, resistensi yang berlebihan
terhadap masuknya atau keluarnya udara. Di dalam institusi kami, SGA yang umum
digunakan adalah LMA Proseal, LMA Supreme dan I-gel. Intubasi trakea yang sulit
didefinisikan sebagai Cormack dan Lehane grade III atau IV oleh alat laringoskopi
konvensional dan / atau perlunya alat tambahan untuk melakukan intubasi trakea.
Kami mencatat metode yang digunakan untuk memecahkan kasus kesulitan jalan
napas , keberhasilan manajemen saluran napas, dan apa saja komplikasi yang terjadi
selama penatalaksanaan saluran napas.

3
Evaluasi pra anestesi standar termasuk evaluasi view Mallampati, pergerakan
leher, jarak thyromental, pembukaan mulut dan ada tidaknya gigi longgar atau celah
dalam pertumbuhan gigi. Jarak thyromental dianggap abnormal jika kurang dari “tiga
jari” lebarnya dari pasien. Kami mempertimbangkan Malampati kelas I, II dan III
memprediksi risikograde rendah kasus saluran napas, dan Mallampati kelas IV
sebagai risiko tinggi. Beberapa dari kondisi seperti diabetes, obesitas (indeks massa
tubuh> 27,5 kg / m2), obstruktif slee apneu, dan apakah pasien itu berisiko aspirasi
seluruhnya dicatat. Ringkasan evaluasi yang dibuat : saluran nafas yang sulit
'diantisipasi' atau 'tidak diantisipasi'. Apakah jalan nafas yang sulit diantisipasi
diperiksa lagi di preinduction "Time out", di mana identitas pasien, riwayat alergi,
fungsi monitor, dan antisipasi mencegah kehilangan darah juga diperiksa. Persiapan
selanjutnya dari a bougie, videolaryngoscope atau alat lain untuk situasi kesulitan
jalan nafas , atau tidak ada persiapan alat tambahan, didasarkan pada evaluasi ini.

Di institusi kami, semua induksi anestesi melibatkan seorang ahli anestesi yang
memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun, dibantu oleh seorang perawat anestesi.
Ketika seorang residen junior melakukan induksi anestesi, ahli anestesi yang lebih
senior juga hadir di ruang operasi untuk mengawasi dokter junior.

Analisis Statistik

menghitung rasio odds (interval kepercayaan 95%) untuk faktor risiko untuk
jalan nafas yang sulit, termasuk Kami ekstensi leher yang terbatas/minimal, jarak
thyromental yang pendek, pembukaan mulut yang terbatas,gigi yang buruk dan view
oropharyngeal Mallampati IV. Kita menghitung sensitivitas dan spesifisitas faktor-
faktor ini dan memprediksi kesulitan dan juga prediksi positif dan negatif nilai-nilai
keberadaan faktor-faktor tersebut.

4
HASIL

Selama masa penelitian, ada 37.805 pasien yang dilakukan anestesi umum dan
intervensi saluran napas. Kami melihat kasus penanganan airway yang sulit ada pada
Tabel 1. Supraglottic saluran nafas adalah teknik saluran napas yang paling umum
digunakan.

Tabel 1. Insiden kasus pengelolaan kesulitan jalan napas

Sebanyak 885 pasien mengalami kesulitan jalan napas, dengan insidensi 2,3%.
Tidak ada kematian atau kerusakan otak karena hipoksia pada semua pasien ini.
Hipoksia transien dengan oksigenasi <80% terjadi pada 22 pasien, dan cepat
dikoreksi dengan ventilasi mask di antara seluruh upaya alat alat bantu jalan nafas.
Kami mencatat kejadian hasil merugikan pada pasien dengan kesulitan jalan napas
pada Tabel 2.

5
Tabel 2. Kondisi buruk yang terjadi pada pasien dengan kesulitan jalan napas

Kesulitan Intubasi Trakea


Ada 805 pasien dengan kesulitan dalam melakukan intubasi trakea; pasien-
pasien ini memiliki laryngoscopy grade yang buruk atau tidak bisa diintubasi dengan
alat yang digunakan di awal pemeriksaan . Pada 704 pasien, laringoskop Macintosh
pada awalnya digunakan dan gagal untuk melakukan intubasi trakea. Alat tambahan
diperlukan, dan tingkat keberhasilan ini ada di Tabel 3. Bougies dan
videolaryngoscopes paling sering digunakan.

6
Tabel 3. Persentase keberhasilan dari pengunaan alat keselamatan setelah awal
kegagalan dengan upaya menggunakan macintosh laryngoscopy

Dalam 605 kasus di mana upaya pertama dengan menggunakan direct


laringoskopi tidak berhasil, bougies adalah alat tambahan pertama yang digunakan.
Pada pasien-pasien ini, beberapa bagian dari laryngeal inlet dapat terlihat dan sukses
dilakukan intubasi pada 600 kasus (99,2%). Bougies juga digunakan dengan
laringoskop lainnya, dan secara keseluruhan, intubasi sukses dilakukan dari 686
(85,2%) kasus, ketika digunakan bersamaan dengan laringoskop Macintosh,
laringoskop McCoy atau videolarnygoscope. Videolaryngoscopes adalah yang paling
umum yang digunakan setelah Macintosh laringoskop dan intubasi berhasil dilakukan
ada 76,9% kasus. Videolaryngoscopes digunakan sebagai alat pertama, bukan
Macintosh laringoskop, untuk intubasi trakeal pada 37 pasien dan berhasil pada 29
pasien (78,4%).
LMA Fastrach digunakan untuk intubasi trakea pada tujuh pasien, semuanya
berhasil. Bronkoskopi fleksibel digunakan dalam enam pasien sebagai prosedur yang
direncanakan sebelum melakukan induksi anestesi. bronkoskopi fleksibel berhasil

7
digunakan pada dua pasien setelah kegagalan dengan menggunakan laringoskopi
langsung dan videolaryngoscopy.
Pada 11 pasien (0,06%), intubasi gagal dilakukan setelah dilakukan upaya
dengan alat tambahan, dan upaya lebih lanjut berupa intubasi trakea dihentikan. Tiga
dari 11 pasien ini memerlukan tracheostomy selama ventilasi mask dipertahankan.
Pada delapan pasien, SGA berhasil digunakan menjaga oksigenasi. Pada satu dari 11
pasien ini, saluran napas dipertahankan dengan ventilasi mask di seluruh anestesi,
setelah percobaan intubasi gagal. Pada 2 pasien, keputusan diambil untuk
menghentikan anestesi, membangunkan pasien, dan menunda operasi. Hipoksia
transien telah terjadi setelah kesulitan melakukan intubasi pada empat pasien, tetapi
tidak ada pasien yang mengalami hipoksia berat yang mengakibatkan cedera
neurologis.

Kesulitan penempatan Supraglotis Airway


Di antara seluruh kasus, SGA adalah metode yang direncanakan dalam
pengelolaan saluran napas, ada penempatan yang sulit di lakukan di 63 (0,4%)
pasien. Penempatan SGA yang gagal, terjadi pada 34 (0,2%) pasien, di mana upaya
lebih lanjut segera dihentikan, dan saluran nafas pasien dikelola dengan ventilasi
mask atau intubasi trakea. Ada intubasi trakea yang dilakukan secara bersamaan pada
9 dari pasien ini. Ketika dihadapkan dengan penempatan SGA yang sulit, dicoba jenis
SGA yang berbeda tipenya pada 21 pasien ini dan hanya 11 (52,4%) yang berhasil.

Kesulitan Sungkup Ventilasi


Di antara pasien yang menggunakan mask ventilasi untuk metode
manajemen saluran napas, ada mask ventilasi yang sulit dilakukan pada 17 (1,0%)
pasien, membutuhkan asisten untuk membantudan penggunaan alat tambahan.
Sementara itu tidak ada pasien dengan ventilasi mask yang tidak mungkin tidak
dilakukan para ahli anestesi. SGA adalah alat digunakan untuk mengatasi kesulitan

8
pada 9 pasien, intubasi trakea pada 6 pasien dan intubasi bronkoskopik fleksibel pada
2 pasien.
Di antara 885 pasien, manajemen jalan nafas yang sulit telah diantisipasi
pada 524 (59,2%) pasien setelah dilakukan evaluasi pra anestesi. 524 pasien ini
adalah 5,1% dari 9684 pasien di antaranya kesulitan telah diantisipasi sebelumnya.
Insiden ini empat kali lipat lebih tinggi dari pada pasien yang faktor kesulitannya
tidak diantisipasi.
Sensitivitas, spesifisitas dan nilai prediktif dari indikator yang digunakan
dalam evaluasi pra-anestesi dicatat pada Tabel 4. Nilai prediksi positif rendah,
sedangkan yang negatif nilai prediktif tinggi. Semua indikator: Mallampati view,
jarak thyromental pendek, pergerakan leher terbatas, pembukaan mulut terbatas, gigi
yang buruk, BMI tinggi, meningkatkan risiko penatalaksanaan saluran napas yang
sulit. Faktor resiko terbesar yaitu jarak thyromental yang pendek dan terbatasnya
pergerakan leher.

9
DISKUSI

Ulasan kami menemukan insiden kesulitan jalan nafas sebanyak 2,3% pasien
anestesi umum, sebagian besar yang yaitu kesulitan intubasi. Tingkat intubasi sulit
4,7% di antara pasien yang membutuhkan intubasi trakea sebanding dengan pasien
5,8% dalam meta-analisis dan kejadian gagal 0,06% intubasi trakea sebanding dengan
data awal 0,05% dalam populasi non-obstetrik.

Sebagian besar situasi intubasi yang sulit bersifat aman dan berhasil dikelola
menggunakan berbagai alat yang ada. ketika beberapa bagian dari laryngeal inlet
dapat dilihat, alat bougies paling sering digunakan pertama kali dengan tingkat
keberhasilan yang sangat tinggi. Ketika saluran masuk laring tidak bisa dilihat sama
sekali, videolaryngoscopes kemudian digunakan. Ulasan kami menunjukkan bahwa
ketersediaan dan pengalaman dengan videolaryngoscopes membantu mengurangi
tingkat kegagalan intubasi. Bronkoskopi fleksibel dan LMA Fastrach digunakan
hanya dalam sebagian kecil kasus yang ada. Kesulitan tersebut diminimalkan atau
dicegah pada beberapa pasien dengan penggunaan segera bougies dan
videolaryngoscopes atau dengan menggunakan SGA bukannya intubasi trakea.
Sementara banyak sekali persiapan yang mungkin tidak diperlukan, kami
menyarankan bahwa lebih baik untuk di siapkan, untuk mengurangi kesulitan yang
tidak terduga.

Videolaryngoscopes memiliki beberapa keunggulan di banding direct


laringoskopi konvensional. Khususnya, penggunaannya membutuhkan lebih sedikit
ekstensi dan fleksi kepala dan leher, tekanan pada leher, dan distorsi pada saluran
napas bagian atas. Videolaryngoscopes memungkinkan operator dan asisten untuk
secara bersamaan melihat jalan napas. Pembukaan mulut yang adekuat masih
diperlukan untuk menggunakan videolaryngoscope dan bisa ada kesulitan
memasukkan tabung trakea meskipun pandangan laring terlihat baik, dan ini dapat
menyebabkan trauma saluran napas. Pada beberapa pasien, bougies digunakan untuk

10
memandu tabung trakea selama videolaryngoscopy. Kami menyarankan bahwa ketika
laringoskopi konvensional gagal, videolaryngoscope harus digunakan lebih awal dan
bougies digunakan bersama dengan videolaryngoscope di situasi " tidak bisa
dilakukan intubasi ”. Dalam audit kami, tidak ada trauma saluran napas yang
disebabkan oleh videolaryngoscopes, tetapi kita juga harus menghindari beberapa
percobaan dengan videolaryngoscopes, untuk mencegah pembengkakan dan
perdarahan saluran napas.

Pada pasien kami, kesulitan tingkat penyisipan alat SGA jauh lebih rendah dari
pada kesulitan intubasi trakea. Ada kemungkinan karena banyak situasi intubasi yang
sulit dihindari dengan menggunakan SGA sebagai gantinya. SGA sekarang
meruakan fitur di semua algoritma kasus kesulitan saluran napas karna bermnafaat
untuk meningkatkan oksigenasi dan ventilasi. Sementara itu, SGA mungkin tidak
memberikan tingkat perlindungan yang sama terhadap hal lain seperti aspirasi isi
lambung yang mengalami regurgitasi, SGA seperti Proseal LMA dan Igel yang
memiliki saluran untuk memasukkan tabung lambung yang memungkinkan drainase
dan pengurangan volume isi perut. Namun, kami mengingatkan terhadap
ketergantungan pada SGA, karena kesulitan dalam memasukkan SGA juga dapat
terjadi pada pasien yang kesulitan dilakukan intubasi Ulasan sebelumnya
menemukan tingkat ventilasi yang sulit dengan alat SGA menjadi 0,5% . Kasus
penyisipan SGA yang gagal di review kami sebagian besar melibatkan ventilasi yang
tidak memadai karena adanya kebocoran udara . Sisipan SGA segeraditinggalkan dan
intubasi trakea digunakan sebagai gantinya, tetapi sebagian besar intubasi trakea yang
sulit membutuhkan penggunaan bougies dan videolaryngoscopes. Kami menyarankan
bahwa penting untuk menghindari beberapa upaya pada penyisipan SGA, karena
upaya ini dapat dilakukan trauma jalan nafas akibatnya intubasi trakea atau
bronkoskopi fleksibel sulit atau mustahil dilakukan.

Dalam penelitian kami, tidak ada pasien yang gagal dalam pemasangan
Ventilasi mask, penempatan SGA yang gagal dan intubasi trakea yang gagal semua

11
terjadi sebelum diantisipasi. Hanya sedikit jumlah pasien yang membutuhkan jalan
napas bedah subglotis. Secara keseluruhan tiga pasien, yang kesulitanjalan nafas
telah diantisipasi dan tim bedah membantu untuk melakukan operasi darurat
tracheostomy. Tak satu pun dari pasien dilakukan cricothyrotomy olehahli anestesi,
ini menunjukkan bahwa sangat tidak mungkin bahwa ahli anestesi akan mendapatkan
pengalaman melakukan tindakan cricothyrotomy. Pelatihan dalam simulator dan
model binatang adalah satu-satunya metode pragmatis untuk mendapatkan
keterampilan tersebut.

Tidak ada kasus cedera hipoksia dalam ulasan ini. Kami Departemen telah
menekankan bahwa oksigenasi diutamakan Dalam melakukan intubasi, dan
menekankan penghentian intubasi ganda Sebagai salah satu upaya dan mengubah ke
metode alternatif awal. Ini untuk menghindari mengubah jalan nafas yang sulit
menjadi jalan napas yang tidak mungkin. Intubasi yang gagal tidak mengancam
kehidupan, namun seringterkait dengan komplikasi serius,seperti uaya yang berulang
dapat merusak saluran udara bagian atas dan membuat ventilasi mask sangat sulit
dilakukan .Pada tahun 2011, Audit Nasional ke-4 proyek Royal College of
Anesthetists di Inggris memperkirakan sebuah insiden komplikasi saluran napas yang
serius per 22000 kasus, dan ini bisa setinggi dari 5000 kasus .populasi penelitian
kami mendata sebanyak 37.805 pasien mungkin sebagian kecil jugadapat
memberikan tingkat komplikasi seperti itu.

Di institusi kami, semua pasien memiliki standar yang sederhana untuk evaluasi
saluran napas sebagai bagian dari evaluasi pra operasi, dan ini dikonfirmasi pada
"time out" sebelum induksi anestesi. kami menekankan untuk mengurangi insiden
saluran nafas yang sulit untuk diantisipasi,. Terdapat sensitivitas dan spesifisitas yang
rendah, dan prediktif positif yang sangat rendah ada nilai evaluasi saluran napas dan
faktor risiko individu pada Pasien kami. Hampir sama dengan lainnya sistem evaluasi
saluran napas, semuanya juga memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang terbatas.
Banyak pasien yang mengalami kesulitan jalan nafas lalu diantisipasi akhirnya

12
memiliki manajemen jalan napas yang mudah, hanya dengan5,1% memiliki saluran
udara yang sulit. Sebaliknya, pada pasien yang dievaluasi karena tidak memiliki
kesulitan jalan napas nilai prediktif negatifnya sangat tinggi dan 98,7% tidak
mengalami masalah. Sisanya1,3% mengalami kesulitan yang tak terduga.

Kami menyarankan bahwa tes evaluasi tidak hanya diarahkan pada kesulitan
dalam laringoskopi dan intubasi, tetapi juga untuk ventilasi mask yang sulit, SGA
yang sulit, jalan napas bedah yang sulit. Pada pasien kami, jarak thyromental pendek
adalah prediktor terkuat dari kasus kesulitan jalan napas . Jarak thyromental dianggap
sebagai indikator ruang mandibula dan mencerminkan perpindahan lidah dengan
pisau laringoskop akan mudah atau sulit. Kami juga memeriksa leher untuk menilai
terbatasnya pergerakan leher, pembukaan mulut dan gigi yang buruk untuk mencegah
kesulitan yang tak terduga karena faktor-faktor ini. khususnya, pembukaan mulut
yang sangat terbatas akan membutuhkan metode alternatif seperti intubasi hidung
bronkoskopi atau saluran udara bedah subglotis. Kendati keterbatasan evaluasi
sederhana ini, hasil kami menunjukkan bahwa hal itu mencegah kesulitan tak terduga
dengan penyisipan laringoskop atau SGA. Para pasien yang memang mengalami
kesulitan yang sulit diantisipasi memiliki anatomi variasi yang bisa dikelola dengan
bougies dan videolaryngoscopes.

Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian kami. Sebagai sebuah rumah sakit
pendidikan , kami memiliki berbagai pengalaman klinis dan kompetensi dan ada
kemungkinan bahwa beberapa diagnosis saluran jalan nafas sulit dilakukan oleh
residen anestesi yang lebih junior dibanding yang lebih berpengalaman. Kedua,
meski kesulitan dapat diantisipasi pada banyak pasien, hanya sebagian kecil yang
dilaporkan sebagai sulit, karena penggunaan SGA sebagai gantinya. Ketiga, luasnya
penggunaan SGA akan menghasilkan tingkat yang lebih rendah dari kategori intubasi
yang tergolong sulit, tetapi ini mencerminkan praktik kontemporer.

13
KESIMPULAN

Kesimpulannya, insiden kesulitan pengelolaan saluran nafas dapat dikelola


dengan menggunakan berbagai metode dan menghindari beberapa percobaan alat
pada saluran trakea atau insersi SGA. Alat Bougies dan videolaryngoscope
memungkinkan intubasi yang dilakukan sukses dalam jumlah besar pada proporsi
pasien intubasi yang tergolong sulit. Standar yang sederhana dalam evaluasi saluran
napas preoperatif, yang dikonfirmasi sebelumnya dengan induksi anestesi, membantu
mencegah hal tak terduga pada saluran nafas yang dapat terjadi. Sedangkan SGA
dapat digunakan untuk membuat oksigenasi selama intubasi. kami mengingatkan
bahwa prosedur SGA yang sulit dan intubasi yang juga sulit dapat dilakukan
bersamaan pada beberapa pasien.

14