Anda di halaman 1dari 12

Ileus Obstruktif et causa Hernia Inguinal Incarserata

Bryan Raka Alim (102013145)


Magdalena Sri F Tambunan (102013260)
Gracecaella Arjanti (102016024)
Alfandy Mamuaja (102016048)
Nafthalia Rila C Tangdilallo (102016124)
Claudia Marlissa (102016161)
Mieke Joseba Istia (102016193)
Nathaniel Sugiarto (102016209)
Nurul Solehah Binti Hamzah (102016265)

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Abstrak

Terdapat berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan distensi abdomen yaitu
tertumpuknya zat atau massa atau cairan didalam abdomen yang mengakibatkan nyeri dan
perbesaran pada abdomen. Salah satunya yaitu Ileus obstruksi. Ileus obstruksi adalah
gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal. Obstruksi usus dapat akut
atau kronis, parsial atau total (komplit), keperahannya tergantung pada usus yang terkena,
derajat dimana lumen tersumbat dan khususnya derajar dimana sirkulasi darah dalam dinding
usus terganggu. Ada beberapa penyebab terjadinya ileus obstruksi. Salah satunya adalah
hernia.

Kata kunci: distensi, ileus, intestinal, obstruksi, hernia

abstract

There are various diseases that can cause abdominal distension is the accumulation of
substances or mass or fluid within the abdomen that cause pain and enlargement of the
abdomen. One of them is Ileus obstruction. Ileus obstruction is a disorder of the normal flow
of intestinal contents along the intestinal tract. Intestinal obstruction may be acute or
chronic, partial or total (complete), its redness depending on the affected bowel, the degree
to which the lumen is blocked and especially the degrees in which the blood circulation
within the intestinal wall is disrupted. There are several causes of ileus obstruction. One of
them is a hernia.

1
Keyword: distension, ileus, intestinal, obstruction, hernia

Pendahuluan

Hambatan pasase usus dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau oleh
gangguan peristaltis. Obstruksi usus disebut juga obstruksi mekanik. Penyumbatan dapat
terjadi dimana saja di sepanjang usus. Pada obstruksi usus harus dibedakan lagi obstruksi
sederhana dan obstruksi strangulata. Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi,
adhesi dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau
askariasis adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi. Obstruksi usus
termasuk dalam salah satu penyebab tersering dari akut abdomen selain appendicitis, kolik
bilier, kolesistitis, divertikulitis, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis, salpingitis, adenitis
mesenterika dan kolik renal yang dapat disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah
hernia. Hernia didefinisikan adalah suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan melalui
daerah yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding. Meskipun hernia dapat terjadi di
berbagai tempat dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding abdomen pada umumnya
daerah inguinal.1

Anamnesis

Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara dengan pasien (autoanamnesis), keluarga pasien atau
dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien (aloanamnesis). Berbeda dengan wawancara
biasa, anamnesis dilakukan dengan cara yang khas, yaitu berdasarkan pengetahuan tentang
penyakit dan dasar-dasar pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta
bertolak dari masalah yang dikeluhkan oleh pasien. Berdasarkan anamnesis yang baik dokter
akan menentukan beberapa hal mengenai hal-hal berikut.2

Pada anamnesis didapatkan seorang laki-laki 45 thn datang dengan keluhan nyeri
hebat pada perut hilang timbul disertai mual muntah sejak 12 jam yang lalu. Terdapat
benjolan dilipat paha yang hilang timbul sejak 1 thn yang lalu.

2
Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik abdomen, dilakukan dengan 4 cara, yaitu dimulai dari
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pemeriksaan abdomen paling baik dilakukan pada
pasien dalam keadaan berbaring dan relaks, kedua lengan berada di samping, dan pasien
bernapas melalui mulut. Pasien diminta untuk menekukkan kedua lutut dan pinggulnya
sehingga otot-otot abdomen menjadi relaks. Tangan pemeriksa harus hangat untuk
menghindari terjadinya reflex tahanan otot oleh pasien.2

Pada kasus didapatkan kesadarn pasien tampak sakit sedang dan pada Pemeriksaan
umum tanda-tanda vital.

– pasien tampak kesakitan, TD 130/80 mmHg, Nadi 92x/menit, Frekuensi Nafas


24x/menit, Suhu 36.5oC

• Inspeksi:

– Mendapatkan benjolan massa ukuran 2x2 cm pada daerah inguinal sinistra.

• Auskultasi

– Bising usus meningkat, metallic sound (+)

• Palpasi

– Nyeri tekan (+), Benjolan padat, Distensi muskular (+)

• Perkusi

– Hipertimpani pada regio umbilikus

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium, pada tahap awal hasil laboratorium bisa saja normal. Lebih
lanjut akan terjadi hemokonsentrasi dan leukosistosis. Elektrolit biasanya normal pada
obstrusi usus halus bagian distal, namun hipokalemia dan hipokloremia dapat terjadi pada
obstruksi usus yang lebih proksimal. Amilase serum dan angka leukosit akan meningat pada
kasus strangulasi. Pada analisa gas darah didapati asidosis metabolik. Ureum dan creatinin
akan meningkat yang yang mengindikasikan suatu hipovolemia dengan azotemia prerenal.3

• Foto polos abdomen.

3
Dilatasi usus halus disertai dengan air-fluid level, dapat negatif pada
obstruksi usus bagian proksimal. Pada foto supine kita dapat memastikan
obstruksi usus halus jika didapati gambaran dilatasi usus berada dibagian central
foto, adanya plica sirkularis, tidak terdapat udara pada kolon, dan adanya multiple
air fluid level pada foto upright/LLD. Adanya gambaran udara bebas pada foto
upright menandakan suatu perforasi.3

Gambar 1. Foto Polos Abdomen 3 Posisi.3

• USG abdomen
dapat dilakukan pada pasien dengan kecurigaan obstruksi usus halus. USG
dapat mendeteksi adannya air-fluid level, dilatasi usus proksimal sampai
kolapsnya usus bagian distal. Pada beberapa penelitian, disebutkan bahwa USG
lebih superior dibandingkan plain foto abdomen dalam mendeteksi obstruksi usus
halus. Namun USG amatlah operator dependent, sehingga keahlian dan
pengalaman amat menentukan dalam diagnostik.3

Working Diagnosis

Ileus obstruksi

Ileus obstruksi dapat diartikan sebagai kegagalan usus untuk melakukan propulsi
(pendorongan) isi dari saluran cerna (intestinal content). Kondisi tersebut dapat terjadi dalam
berbagai bentuk baik yang terjadi pada usus halus maupun usus besar (kolon), baik yang
diakibatkan oleh obstruksi mekanik maupun akibat gangguan motilitas karena gangguan
neuromuscular atau proses iskemik.4

4
Terdapat 2 jenis obstruksi ileus, (1) fungsional (misalnya, ileus paralitik atau ileus
adinamik), peristaltik usus dihambat akibat pengaruh toksin atau trauma yang memengaruhi
pengendalian otonom motilitas usus. (2) Mekanis, terjadi obstruksi di dalam lumen usus atau
obstruksi mural yang disebabkan oleh tekanan ekstrinsik. Obstruksi mekanis selanjutnya
digolongkan sebagai obstruksi mekanis simpleks (hanya terdapat satu tempat obstruksi) dan
obstruksi lengkung tertutup (sedikitnya terdapat 2 tempat obstruksi). Obstruksi lengkung
tertutup tidak dapat didekompresi, sehingga tekanan intralumen meningkat cepat dan
mengakibatkan terjadinya penekanan pembuluh darah, iskemia, dan infark (strangulasi).4

Obstruksi ileus termasuk dalam salah satu penyebab tersering dari akut abdomen selain
appendicitis, kolik bilier, kolesistitis, divertikulitis, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis,
salpingitis, adenitis mesenterika dan kolik renal. Dari sudut nyeri abdomen, dapat terjadi
karena rangsangan visceral, rangsangan somatik, dan akibat peristaltik. Pada anamnesis perlu
dievaluasi mengenai nyeri yang disampaikan pasien tersebut apakah nyeri yang disampaikan
terlokalisir, atau sukar ditentukan lokasinya. Adanya nyeri tekan pada pemeriksaan fisik
seseorang, juga menunjukkan bentuk nyeri tersebut. Nyeri tekan biasanya berasal dari nyeri
yang melibatkan serosa. Nyeri ini dapat terjadi akibat infeksi yang kontinyu (terus menerus)
serta ulkus lanjut. Nyeri somatik biasanya nyerinya terlokalisasi.4

Gejala klinis

Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen, mual, muntah,
perut distensi dan tidak bisa buang air besar (obstipasi). Mual muntah umumnya terjadi pada
obstruksi letak tinggi. Bila lokasi obstruksi di bagian distal maka gejala yang dominant
adalah nyeri abdomen. Distensi abdomen terjadi bila obstruksi terus berlanjut dan bagian
proksimal usus menjadi sangat dilatasi.5

Hernia Inguinalis

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan (fascia dan muskuloaponeurotik) yang menberi jalan
keluar pada alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Pada hernia abdomen, isi
perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri atas 3 hal : cincin, kantong dan isi hernia. Hernia inguinalis adalah suatu
penonjolan ke luar dari isi abdomen melalui dinding abdomen bagian inguinal. Inguinal
hernia merupakan bentuk paling sering dari hernia. Sebuah ruang semilunaris berbentuk D

5
terletak dibawah serat-serat melengkung dari otot oblique internal. Area ini dipenuhi hanya
dengan fascia transversalis, jaringan preperitoneal dan peritoneum sehingga merupakan
daerah paling lemah di region inguinal. Disini, fascia transversalis merupakan satu-satunya
penyangga yang mencegah terjadinya hernia.6

Gambar 2. Hernia.6

Hernia menurut sifatnya:6

1. Hernia reponibel
Bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengejan dan
masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri.
2. Hernia irreponibel
Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga
isi tidak dapat dimasukkan lagi. Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi
usus. Isi hernia yang tersering adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding
hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih
sering menyebabkan irreponible dibandingkan usus halus. Kadang juga disebabkan
oleh perlekatan isi kantong di perineum kantong hernia yang disebut hernia akreta.
Tidak ada keluhan rasa nyeri atau tanda sumbatan akibat perlekatan.
3. Hernia incarserata
Bila isi hernia semakin banyak yang masuk akan terjepit oleh cincin hernia
sehingga isi kantong hernia terperangkap dan tidak dapat kembali ke rongga perut

6
disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase. Secara klinis, hernia incarserata
merupakan hernia irreponible dengan gangguan pasase. Pada keadaan ini akan timbul
gejala ileus antara lain perut kembung, muntah dan obstipasi.

4. Hernia strangulate
Hernia ini terjadi gangguan vaskularisasi, sebenarnya gangguan vaskularisasi
sudah mulai terjadi saat jepitan dimulai dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari
bendungan sampai nekrosis(2). Disebut hernia ritcher bila strangulasi hanya menjepit
sebagian dinding usus. Pada keadaan ini nyeri timbul lebih hebat dan kontinyu, daerah
benjolan menjadi warna merah dan pasien menjadi gelisah.

Gambar 3. Hernia berdasarkan sifatnya.6

Etiologi

Berikut adalah beberapa penyebab terjadinya obstruksi ileus:7

• Perlengketan : Lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara
lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen
• Intususepsi : Salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada
dibawahnya akibat penyempitan lumen usus. Segmen usus tertarik kedalam segmen
berikutnya oleh gerakan peristaltik yang memperlakukan segmen itu seperti usus.
Paling sering terjadi pada anaka-anak dimana kelenjar limfe mendorong dinding

7
ileum kedalam dan terpijat disepanjang bagian usus tersebut (ileocaecal) lewat
coecum kedalam usus besar (colon) dan bahkan sampai sejauh rectum dan anus.
• Volvulus : Usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan
demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang
terjadi amat distensi. Keadaan ini dapat juga terjadi pada usus halus yang terputar
pada mesentriumnya
• Hernia : Protrusi usus atau penonjolan melalui area yang lemah dalam usus atau
dinding dan otot abdomen.
• Tumor : Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar
usus menyebabkan tekanan pada dinding usus

Masih menjadi kontroversi mengenai apa yang sesungguhnya menjadi penyebab timbulnya
hernia inguinalis. Disepakati adanya 3 faktor yang mempengaruhi terjadinya hernia inguinalis
yaitu meliputi:7

• Processus vaginalis persistent


Hernia mungkin sudah tampak sejak bayi tapi kebanyakan baru terdiagnosis sebelum
pasien mencapai usia 50 tahun. Sebuah analisis dari statistik menunjukkan bahwa
20% laki-laki yang masih mempunyai processus vaginalis hingga saat dewasanya
merupakan predisposisi hernia inguinalis
• Naiknya tekanan intra abdominal secara berulang
Naiknya tekanan intra abdominal biasa disebabkan karena batuk atau tertawa
terbahak-bahak, partus, prostat hipertrofi, vesiculolitiasis, carcinoma kolon, sirosis
dengan asites, splenomegali massif merupakan factor resiko terjadinya hernia
inguinalis. Pada asites, keganasan hepar, kegagalan fungsi jantung, penderita yang
menjalani peritoneal dialisa menyebabkan peningkatan tekanan intra abdominal
sehingga membuka kembali processus vaginalis sehingga terjadi hernia indirect
• Lemahnya otot-otot dinding abdomen

Epidemiologi

Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus. Di Amerika
diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap tahunnya. Di Indonesia tercatat
ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024
pasien rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen Kesehatan Indonesia.
75% dari seluruh kasus hernia adalah hernia abdominal di inguinal (lipat paha). Hernia

8
inguinal dapat juga terjadi di daerah lainnya, dapat terjadi di umbilikus (pusar) atau daerah
perut lainnya. Kasus hernia inguinalis indirect lebih sering terjadi berbanding hernia
inguinalis direct dengan nisbah 2:1. Hernia inguinalis paling sering terjadi pada pria
berbanding wanita dengan nisbah, pria:wanita (7:1) dengan bertambahnya usia, risiko terjadi
hernia semakin besar. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan otot-otot perut yang sudah mulai
melemah akibat faktor usia.7

Patofisiologi

Mekanik
Fungsional

Hernia Tumor
Gangguan Muskular
Usus
Protrusi Usus Tumor dlm dndng
usus Tidak Mampu
Aliran Usus Meluas ke lumen mndorong usus
Tersumbat usus
Statis isi usus ( ttp
Penyempitan Tekanan Pada dlm lumen)
aliran darah dinding uusus
Isi lumen tersumbat
Aliran dara ke Lumen usus
usus tersumbat tersumbat
sbagian

Ileus Obstruktif

Differential Diagnosis

Hernia Femoralis inkarserata

merupakan tonjolan di lipat paha yang muncul terutama pada waktu melakukan
kegiatan yang menaikkan tekanan intra abdomen seperti mengangkat barang atau ketika
batuk. Hernia femoralis adalah hernia yang berjalan melalui canalis femoralis yang berada di
bawah ligamentum inguinale. Pintu masuknya adalah annulus femoralis dan keluar melalui
fossa ovalis di lipatan paha.6

9
Hernia Inguinalis Strangulata

Suplai darah untuk isi hernia terputus. Terdapat oklusi vena dan limfe; akumulasi cairan
jaringan (edema) menyebabkan pembengkakan lebih lanjut; dan sebagai konsekuensinya
peningkatan tekanan vena. Jaringannya mengalami iskemi dan nekrosis. Mukosa usus terlibat
dan dinding usus menjadi permeabel terhadap bakteri, yang bertranslokasi dan masuk ke
dalam kantong dan dari sana menuju pembuluh darah. Usus yang infark dan rentan,
mengalami perforasi (biasanya pada leher pada kantong hernia) dan cairan lumen yang
mengandung bakteri keluar menuju rongga peritonial menyebabkan peritonitis.6

Penatalaksanaan

1) Konservatif
Pengobatan konservatif bukan merupakan tindakan definitif sehingga dapat kambuh
lagi.8
• Reposisi
Suatu usaha atau tindakan untuk memasukkan atau mengembalikan isi hernia ke
dalam cavum peritoneum atau abdomen secara hati-hati dan dengan tekanan yang
lembut dan pasti. Reposisi ini dilakukan pada hernia inguinalis yang reponibel dengan
cara memakai kedua tangan. Tangan yang satu memegang lekuk yang sesuai dengan
pintunya (leher hernia diraba secara hati-hati, pintu dilebarkan), sedangkan tangan
yang lainnya memasukkan isi hernia melalui pintu tersebut. Reposisi ini kadang
dilakukan pada hernia inguinalis irreponibel pada pasien yang takut operasi. Caranya,
bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 mL supaya
pasien tidur, posisi tidur trendelenburg. Hal ini rnemudahkan memasukkan isi
hernianya. Jika gagal tidak boleh dipaksakan, lebih baik dilakukan operasi pada hari
berikutnya.
• Suntikan
Dilakukan setelah reposisi berhasil. Dengan rnenyuntikkan cairan sklerotik berupa
alkohol atau kinin di daerah sekitar hernia, rnenyebabkan pintu hernia mengalami
sklerosis atau penyempitan, sehingga isi hernia tidak akan keluar lagi dari cavum
peritonei.
• Sabuk hernia

10
Sabuk ini diberikan pada pasien dengan pintu hernia yang masih kecil dan menolak
dilakukan operasi. Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia
yang telah di reposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai
seumur hidup.

2) Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional.8

Komplikasi

Komplikasi yang bisa didapat dari obstruksi ileus bila tidak ditangani secara tepat dan
cepat yaitu syok hipovolemik dan terjadinya peritonitis.9

Pasca operasi reparasi hernia, memar dan hematom dianggap normal. Pada sedikit
kasus terjadi infeksi dan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Komplikasi tertunda
berupa kekambuhan dan nyeri kronis juga bisa terjadi.9

Prognosis
Prognosis dari penyakit ini biasanya baik, dan tingkat mortalitasnya kecil. Namun hal
tersebut tergantung juga dari etiologi, tempat dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita
sangat muda ataupun tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun tindakan operatif yang
dilakukan sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas.

Kesimpulan
Hernia inguinalis tipe inkarserata adalah tonjolan iredusibel abdomen pada daerah
inguinal karena defek pada dinding abdomen. Hal ini biasanya disebabkan oleh faktor-faktor
yang meningkatkan tekanan intra abdominal. Kantung pada hernia dapat terisi oleh organ-
organ abdomen, salah satu diantaranya adalah usus. Akibatnya, usus dalam kantung hernia ini
dapat mengalami gangguan obstruksi yang ditandai dengan ditemukannya bising usus pada
kantung hernia dan timbul gejala nyeri abdomen, distensi, serta mual dan muntah.

11
Daftar Pustaka

1. Beers, Mark H, Berkow R. In the merck manual of diagnosis and therapy. Ileus.
Section 3, Chapter 25. Whitehouse Station, NJ: Merck Research Laboratories;
2004.p.2.

2. Gleadle, Jonathan. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : Penerbit


Erlangga; 2007. h. 1-17.

3. Patel PR. Radiologi. Jakarta: Erlangga;2006. h.121-3.

4. Rajiah P, Banerjee B. Surgical radiology: clinical cases. Cheshire : PASTEST; 2008.


P. 14,78.
5. Maconi G, Porro GB. Ultrasound of the gastrointestinal tract. 2nd Edition. New York :
Springer; 2014. P. 54.
6. Nigam VK, Nigam S. Essentials of abdominal wall hernias. New Delhi : I. K.
International Publishing House; 2008. P. 127-61.
7. Riwanto I, Ahmad HH, John P, Tadjuddin T, Ibrahim A. Usus halus, appendiks, kolon
dan anorektum. Dalam: Sjamsuhidajat-de Jong. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 3.
Jakarta: EGC; 2010.h. 738-59.
8. Hayes PC, Mackay TW. Diagnosis dan terapi. Jakarta : EGC; 2003. h.117
9. Maconi G, Porro GB. Ultrasound of the gastrointestinal tract. 2nd Edition. New York :
Springer; 2014. P. 105-6.

12