Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN TYPOID

DI RUANG CEMPAKA RSUD RAA SOEWONDO PATI

DISUSUN OLEH:

NAMA :SUPRIHATI, S.Kep

NIM :200401084

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

CENDEKIA UTAMA KUDUS

TAHUN 2013
BAB 1
TINJAUAN TEORI
1. Pengertian

Istilah kejang demam digunakan untuk bangkitan kejang yg timbul akibat


kenaikan suhu tubuh. “Kejang demam ialah bangkitan kejang yg terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal 38C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium (Hasan, 1995).
Banyak pernyataan yang dikemukakan mengenai kejang demam, salah satu
diantaranya adalah : “Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak,
biasanya terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam
tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak
yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak
termasuk. Kejang demam harus dapat dibedakan dengan epilepsi, yaitu ditandai
dengan kejang berulang tanpa demam (Mansjoer, 2000).

2. Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan


Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997), bahwa system saraf terdiri dari system
saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum, medulla oblongata
dan pons (batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang), system saraf
tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala)
dan semua cabang dari medulla spinalis, system saraf gaib (autonomic nervous
system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem
saraf parasimpatis).
Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput
otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama
terhadap resiko benturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu
duramater, arachnoid dan piamater.
Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari :
a. Cerebrum (otak besar)
Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga
tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis
media.

Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri.

Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat sensorik, pusat

pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta

pusat pemikiran.

Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba

sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah

medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia

basalis.

Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah :

1) Thalamus

Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau

yang langsung sampai ke kortex cerebri. Fungsi thalamus terutama penting untuk

integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa

nyeri.

2) Hypothalamus

Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari

beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda.


Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti

mengatur metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan

haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada tubuh, maka akan

terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus

berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur

keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik

ekstrakranium.

3) Formation Reticularis

Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan

pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada

daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls

yang akan dikirim ke cortex cerebri.

b. Serebellum

Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial

posterior. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai

pusat koordinasi kontraksi otot rangka.

System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak

atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasang :

1) N. I : Nervus Olfaktorius

2) N. II : Nervus Optikus

3) N. III : Nervus Okulamotorius

4) N. IV : Nervus Troklearis

5) N. V : Nervus Trigeminus
6) N. VI : Nervus Abducen

7) N. VII : Nervus Fasialis

8) N. VIII : Nervus Akustikus

9) N. IX : Nervus Glossofaringeus

10) N. X : Nervus Vagus

11) N. XI : Nervus Accesorius

12) N. XII : Nervus Hipoglosus.

System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system

saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Menurut

fungsinya system saraf otonom ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan

post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis.

Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah :

1) Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan seterusnya

2) Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis

3) Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral.

System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu :

Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla spinalis:

1. Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak

2. Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis.

3. Etiologi

Penyebab Febrile Convulsion hingga kini belum diketahui dengan Pasti, demam

sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia,

gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu tinbul pada suhu yang
tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang

(Mansjoer, 2000).
Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia (penurunan
oksigen dalam darah) berat, hipoglikemia, asodemia, alkalemia, dehidrasi, intoksikasi
air, atau demam tinggi. Kejang yang disebabkan oleh gangguan metabolik bersifat
reversibel apabila stimulus pencetusnya dihilangkan (Corwin, 2001).

4. Patofisiologi
Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal membran sel
neuron dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit dilalui oleh
ion natrium dan ion lain, kecuali ion clorida. Akibatnya konsentrasi natrium menurun
sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya.

Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat

perbedaan potensial yang disebut potensial membran dan ini dapat dirubah dengan

adanya :

a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler

b. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik

dari sekitarnya

c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari

membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion

natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas

muatan listrik ini demikian besarnya sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke

membran sel tetangganya sehingga terjadi kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung dari tinggi

rendahnya ambang kejang tersebut. Pada anak dengan ambang kejang rendah, kejang
dapat terjadi pada suhu 38 C, sedang pada ambang kejang tinggi baru terjadi pada

suhu 40 C atau lebih.


Pathway
5. Tanda dan Gejala

Secara teoritis pada klien dengan Kejang Demam didapatkan data-data antara lain

klien kurang selera makan (anoreksia), klien tampak gelisah, badan klien panas dan

berkeringat, mukosa bibir kering (Ngastiyah, 1997).

6. Komplikasi

Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi

hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula – mula

kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas.

Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis

di otak sehingga terjadi epilepsy.

Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan kejang

demam :

a. Pneumonia aspirasi

b. Asfiksia

c. Retardasi mental

7. Penatalaksanaan / Pengobatan

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :

a. Memberantas kejang secepat mungkin

Bila penderita datang dalam keadaan status convulsion, obat pilihan utama adalah

diazepam secara intravena. Apabila diazepam tidak tersedia dapat diberikan

fenobarbital secara intramuskulus.

b. Pengobatan Penunjang
Semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya miring untuk

mencegah aspirasi isi lambung, usahakan jalan nafas bebas agar oksigen terjamin,

penghisapan lendir secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian

oksigen. Tanda – tanda vital diobservasi secara ketat, cairan intravena diberikan

dengan monitoring.

c. Pengobatan di rumah

Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumah. Pengobatan ini

dibagi atas 2 golongan yaitu :

1) Profilaksis intermitten

Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari diberikan obat campuran

anti konvulsan dan anti piretik yang harus diberikan pada anak bila menderita

demam lagi

2) Profilaksis jangka panjang

Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup di

dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.

d. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun epilepsy yang diprovokasi

oleh demam, biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis medi
B. Asuhan Keperawatan
I. PENGKAJIAN

1. Anamnesia

1. Identitas

• Banyak dijumpai pada usia 3 bulan – 5 tahun.

Chan (1968) : Angka tertinggi pada usia 2 tahun dan setelah 4 tahun.

3 % anak dibawah 5 tahun pernah menderita kejang demam.•

• Laki-laki > perempuan.

maturasi serebral yang lebih cepat.Perempuan

2. Keluhan utama : kejang

3. Riwayat kesehatan sekarang

• Apakah betul ada bangkitan kejang ?

• Apakah disertai demam ? sejak kapan anak menderita demam ?

• Lamanya serangan

• Pola serangan : apakah bersifat umum atau lokal, tonik, klonik.

• Keadaan sebelum, selama, setelah kejang :

adakah aura yang dapat menimbulkan kejang (rasa lapar / lelah, muntah, sakit perut,

sakit kepala, melihat TV, obat-obatan dll)- Sebelum

ditanyakan dimana kejang dimulai dan bagaimana penjalarannya.- Selama

apakah penderita tertidur, ada perasa, sadar, kesadaran menurun.- Sesudah

4. Riwayat kesehatan dahulu

• Frekuensi serangan

- Apakah Px pernah mengalami kejang sebelumnya.


- Umur beraepa kejang terjadi untuk pertama kali.

- Berapa frekuensi kejang pertahun.

kemungkinan berulangnya kejang demam akan lebih besar.Nelson (1975)

kejang demam yang pertama terjadi kurang 1 Tahun dan didapatkan faktor

keturunan

• Apakah pernah trauma kepala

5. Riwayat Imunisasi

Efek samping dari imunisasi DPT

6. Riwayat kesehatan keluarga

• Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (25 % kejang demam

mempunyai faktor keturunan)

• Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit saraf / lainnya.

7. Riwayat kehamilan dan persalinan

• Penyakit yang pernah diderita ibu selama kehamilan, trauma, pendarahan

pervaginam, obat yang digunakan selama kehamilan.

• Apakah kelahiran sukar, spontan, tindakan (forceps / vakum), perdarahan

antepirtum, aspiksia, dll.

8. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan

hemiparese permanen berkisar antar 0,1 – 0,2 %.• Kelainan motorik

• Nelsan : apabila kejang berlangsung > 15 menit dan kejang > penurunan IQ dan

kecerdasan adanya gangguan mental dan belajar.1 x 24 jam


2. Pemeriksaan fisik

- Keadaan umum : Kesadaran, tensi, nadi, suhu dan pernafasan.

- Kepala : makro/mikrocephali, disproporsi kepala, tanda TIK meningkat, gangguan

nervus kranialis, gangguan gerak bola mata dan lain – lain.

- Apakah didapat test positif untuk rangsangan meningeal

- apakah ada tanda – tanda risus sardonikus epistotonus

- Jantung : kelainan jantung tipe sianotik

- Paru : apakah sesak nafas dan asidosis

- Pada kulit apakah ada hemangioma

3. Pemeriksaan penunjang

- Darah lengkap

- Elektrolit

- Cairan serebro spinal

- X- Ray

- Transluminasi

- EEG

- CT- scan

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. ketidak bersihan jalan nafas sehubungan dengan kerusakan neuro transmiter,

obstruksi tracheobronkial
2. defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme

III. PERENCANAAN

1. Diagnosa No. 1

Tujuan : Mempertahankan efektivitas pola nafas, nafas yang bersih dan mencegah

aspirasi.

Kriteria hasil :

- RR 30 – 60 x/mnt (Bayi), RR 15 – 30 x/mnt (Anak)

- Suara nafs tambahan berkurang

- Refraksi oto bantu nafas berkurang.

- Inspirasi dan espirasi adekuat.

Rencana tindakan :

1. Anjurkan Px untuk mengosongkan mulut bila terjadi aura.

Rasional:menurunkan resiko aspirasi.

2. Letakkan klien ditempat yang datar dan kepala dalam posisi miring.

Rasional:meningkatkan aliran sekresi, mencegah lidah menyumbat.

3. Longgarkan pakaian.

Rasional:mengoptimalkan ekspansi dada.

4. Berikan tounge spotel pada mulut.

Rasional:menjaga lidah tergigit dan memberi tempat untuk melakukan

suction.

5. Berikan O2 sesuai kebutuhan


Rasional:menurunkan cerebral hypoxia akibat penurunan sirkulasi yang dapat

mengingkatkan kejang.

2. Diagnosa No. 2

Tujuan : Kebutuhan cairan dapat terpenuhi sebagian dalam waktu 2 jam pertama

Kriteria hasil :

- Klien dapat mempertahankan intake

- Turgor kulit baik, lembab

- Mata tidak cowong

- TTV dalam batas normal S : 6,50 C-7,50C, N : 100-120x/mnt, RR : 15-30x/mnt

Rencana tindakan

1. Berikan penjelasan pada keluarga klien tentang rencana tindakan keperawatan

Rasional: keluarga klien diharapkan kooperatif setelah mengerti rencana

2. Longgarkan pakaian dan berikan pakaian yang tipis

Rasional: proses konduksi akan terhambat oleh pakaian yang ketat dan tidak

menyerap keringat.

3. Anjurkan keluarga untuk mengompres dingin

R/asional: perpindahan panas secara kondusi.

4. Berikan ekstra caaairan (aair putih, teh, sari buah, atau susu)

Rasional:pada keadaan demam kebutuhan cairan tubuh akan meningakat.

5. Batasi aktivitas anak selama anak panas.

Rasional:aktifitas dapat meningkatkan metabolisme sehingga meningkatkan suhu

tubuh. Sedangkan peningkataan suhu tubuh tiap 1 oC akan meningkatkan kebutuhan


cairan.

6. Observasi tanda-tanda vital tiap 1 x 4 jam

Rasional: indikator keadekuatan sirkulasi ddan penurunan suhu tubuh mengobservasi

keberhasilan asupan cairan

7. Kolaborasi dengan tim medis dalam peberian terapi cairan dan anti piretik

Rasional:caairaan iv menggantikan cairan yang hilang dalam tubuh dan piretik

menurunkan panas padda hypotalamus.

IV. PELAKSANAAN

Prinsip-prinsip dalam melaksanakan rencana Askep pada anak dengna kejang demam

adalah :

1. Mengontrol aktivitas kejang, menghindari terjadinya trauma.

2. Menurunkan / mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.

3. Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan efektivitas fungsi pernafasan.

4. Memberi informasi tentang proses penyakit, prognesis dan tindakan yang harus

dilakukan

V. EVALUASi

1. Mengukur pencapaian tujuan.

2. Membandingkan data yang terkumpul dengan kriteria hasil / pencapaian tujuan

yang telah ditetapkan


DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer, dkk (2008), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Media Aesculapius, Jakarta

Doenges, Marillyn E, dkk (2009), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa


Keperawatan, EGC, Jakarta

Doenges, Marillyn E, et all (2008), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta
Gaffar, La Ode Jumadi (2007), Pengantar Keperawatan Profesional, EGC, Jakarta

Hasan, Dr. Rusepno (2007), Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta

Ngastiyah (2007), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta

Pusponegoro, Titut S., dkk (2009) Perinatologi, EGC, Jakarta

Saifuddin (2007), Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, EGC, Jakarta


Susan Martin, dkk (2008), Standar Perawatan Pasien, Proses Keperawatan, Diagnosa dan
Evaluasi, Edisi 5, EGC, Jakarta

Sylvia A. Price, dkk (1995), Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 4, EGC, Jakarta