Anda di halaman 1dari 26

MODUL II

DENSITAS, VISKOSITAS, GEL STRENGTH, DAN ATMOSFIR FILTRATION


LOSS PADA WATER-BASED MUD
PEMBUATAN DAN PENGUKURAN SIFAT RHEOLOGY OIL-BASED MUD

LAPORAN PRAKTIKUM

Nama : Nur Rahmi SR (12215092)


Tanggal Praktikum : 13 November 2017
Tanggal Penyerahan : 19 November 2017
Dosen : Dr. Ing. Bonar Tua Halomoan Marbun
Asisten Modul : 1. Deny Candra Putra Ansory (12214036)
2. Radifan Taufiqul Hafidz (12214043)
3. Immanuel Lumban Gaol (22616013)
4. Stevy Canny Louhenapessy (22217007)
5. Stevanus Sagala (22217006)
6. Rangga Adi Kusuma (22217006)
7. Agustinus Sua Azi (22216016)
8. Riviani Kusumawardani (22616008)

LABORATORIUM TEKNIK OPERASI PEMBORAN PROGRAM


STUDI TEKNIK PERMINYAKAN INSTITUT TEKNOLOGI
BANDUNG
2017
Daftar Isi

Daftar Isi ......................................................................................................................................... 2

Bab I Tujuan Percobaan ............................................................................................................6

Bab II Teori Dasar.....................................................................................................................7

Bab III Data Percobaan............................................................................................................14

Bab IV Pengolahan Data..........................................................................................................16

Bab V Analisis Percobaan ...................................................................................................... 21

Bab VI Kesimpulan .................................................................................................................27

Bab VII Saran ..........................................................................................................................29

Daftar Pustaka..........................................................................................................................30

2
Bab I
Tujuan Percobaan

1. Memahami fungsi lumpur dalam proses pemboran.


2. Memahami dan mengukur sifat-sifat lumpur pemboran: densitas, viskositas, gel
strength dan filtration loss.
3. Memahami prinsip dan cara kerja peralatan praktikum: Fann VG, Mud Balance, dan
Filter Pressure Apparatus.
4. Memahami perubahan sifat lumpur pemboran akibat penambahan berbagai jenis aditif.
5. Mengenal material penyusun dan fungsi utama OBM (Oil Based Mud).
6. Mampu menjelaskan fungsi aditif yang dipakai pada OBM.
7. Menentukan densitas OBM dengan menggunakan alat Pressurized Mud Balance.
8. Menentukan Apparent Viscosity, Plastic Viscosity, Yield Point, dan Gel Strength OBM
dengan menggunakan alat Fann VG.

3
Bab II
Teori Dasar

Densitas

Salah satu fungsi utama lumpur pemboran adalah mengimbangi tekanan formasi.
Fungsi ini merupakan salah satu parameter reologi lumpur pemboran yakni densitas
yang mempengaruhi tekanan hidrostatik. Nilai densitas yang terlalu besar dapat
mengakibatkan loss circulation serta, nilai densitas yang terlalu kecil dapat
menyebabkan well kick.

Pemboran pada zona dengan gradien tekanan normal, fluida seperti air tawar
(densitas = 8.33 ppg) atau air asin (densitas = 9 ppg) dapat digunakan sebagai lumpur
pemboran. Apabila terdapat zona yang menyimpang dari tekanan normal, dibutuhkan
penanganan khusus berupa penggunaan material pemberat atau weighting agent untuk
zona tekanan abnormal. Atau pencampuran dengan gas pada zona bertekanan rendah
atau tekanan subnormal.

Umumnya satuan densitas yang digunakan di lapangan adalah ppg atau (pound per
gallon), tetapi dapat juga dinyatakan dalam g/cc, pcf (lb/ft3), dan ppb (lb/bbl) dengan
hubungan persamaan sebagai berikut :

1 g/cc = 1 kg/l = 1 ton/m3 = 8.33 ppg = 62.4 lb/ft3 = 350 ppb

Berikut adalah konversi satuan densitas untuk air tawar atau fresh water dalam ppg:

Densitas air = 1000 kg/m3 = 1 kg/l = 1 g/cc

1 𝑘𝑔
1𝑔𝑥 𝑥 2.204622476 𝑙𝑏 𝑘𝑔 𝑙𝑏
𝑔 10! 𝑔
1 𝑐𝑐 = = 8.345468736
1𝑚 ! 264.17 𝑔𝑎𝑙 𝑔𝑎𝑙
1 𝑐𝑐 𝑥 ! 𝑥 !
10 𝑐𝑐 1𝑚

1 g/cc = 8.345 ppg

Selama proses pemboran, terdapat penambahan-penambahan material padat atau cair


yang menimbulkan perubahan volume dan densitas. Perubahan-perubahan tersebut
dapat dihitung dengan menggunakan prinsip dasar sebagai berikut:
- Prinsip material balance:

Kekekalan volume: Vs + Vml = Vmb

Kekekalan massa: (Vs x ρs) + (Vml x ρml) = Vmb x ρmb


4
Dari persamaan diatas diperoleh :

𝜌!" − 𝜌!" 𝑥 𝑉!"


𝑉! = … … … … . . (3)
𝜌! − 𝜌!"
Berat solid adalah Ws = Vs x ρs
Persamaan diatas dimasukkan ke persamaan 3 menjadi
!!" !!!" ! !!"
𝑊! = !! !!!"
𝑥 𝜌! ……….(5)

Persentase volume solid:


!! !!" !!!"
!!"
𝑥 100% = !! !!!"
𝑥 100% ......(6)

Persentase berat solid:


!! ! !! !! !!" !!!"
!!" ! !!"
𝑥 100% = !!" !! !!!"
𝑥 100% ……(7)

Keterangan :
Vs = Volume solid ρs = densitas solid
Vml = Volume lumpur lama ρml = densitas lumpur lama
Vmb = Volume lumpur baru ρmb = densitas lumpur baru

Viskositas, Yield Point, dan Gel Strength

Fann VG digunakan untuk menentukan parameter-parameter reologi lumpur yang


menggambarkan kelakuan fluida non-Newtonian. Fluida non-Newtonian adalah fluida
yang viskositasnya berubah-ubah menurut shear rate. Pada saat ini, model aliran
Bingham plastic merupakan model yang digunakan dalam laporan lumpur pemboran
standar API. Terdapat tiga jenis parameter dalam model fluida yaitu:
1. Plastic viscosity

Plastic viscosity atau viskositas plastik adalah bagian dari resistensi untuk
mengalir yang disebabkan oleh friksi mekanik. Friksi atau gesekan ini disebabkan oleh:
- Konsentrasi padatan.
- Bentuk dan ukuran padatan.
- Viskositas fluida itu sendiri.

Untuk mengurangi gesekan ini, dapat dilakukan beberapa cara yakni


- Mengurangi padatan dengan penyaringan atau centrifuge.
- Mencairkan fluida.

5
2. Yield point

Yield point adalah bagian dari resistensi untuk mengalir karena adanya gaya
tarik-menarik antar muatan pada permukaan partikel yang terdispersi dalam fasa fluida
ketika fluida mengalir. Yield point dipengaruhi oleh:
- Kandungan ion permukaan pada padatan.
- Konsentrasi volume padatan.
- Kandungan ion fasa cair atau liquid.

3. Gel strength

Gel strength adalah bagian dari resistensi untuk mengalir karena adanya gaya
tarik-menarik antar muatan pada partikel yang terdispersi dalam fasa fluida ketika
fluida diam. Type gel strength sebagai penahan suspense yang diinginkan pada lumpur
pemboran adalah low-flat gels. Pada tipe ini, gel strength lumpur yang didiamkan untuk
waktu yang lama tidak akan jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi awal ketika
didiamkan. Lumpur dengan tipe gel strength berupa progressive gels dan high-flat gels
sangat tidak diharapkan karena memberikan kenaikan gel strength yang cukup tinggi
seiring dengan kenaikan waktu (progressive gels) dan memberikan nilai gel strength
yang tinggi sejak awal lumpur didiamkan (high-flat gels).

4. Apparent viscosity

Apparent viscosity adalah viskositas lumpur pada kecepatan RPM tertentu.


Berikut adalah grafik jenis kelakuan fluida antara shear stress dan shear rate.

Berikut ini adalah rumus yang digunakan dalam perhitungan reologi lumpur
pemboran:
𝜏!"" − 𝜏!""
𝜇! = = 𝜃!"" − 𝜃!"" … … … (8)
𝛾!"" − 𝛾!""

𝜏! = 𝜃!"" − 𝜇! = 2𝜃!"" − 𝜃!"" … … … (9)

𝐺𝑆 = 𝜃! … … … (10)

𝜏 𝜃
𝜇! = 100 × = 300× … … … (11)
𝛾 𝑁

Dengan 𝜏 = 5.077×𝜃! dan 𝛾 = 1.704×𝑁

6
Keterangan :

!"#$
𝜇! = 𝑝𝑙𝑎𝑠𝑡𝑖𝑐 𝑣𝑖𝑠𝑐𝑜𝑠𝑖𝑡𝑦, 𝑐𝑝. 𝜏 = 𝑠ℎ𝑒𝑎𝑟 𝑠𝑡𝑟𝑒𝑠𝑠, !"!
.

!"
𝜏! = 𝑦𝑖𝑒𝑙𝑑 𝑝𝑜𝑖𝑛𝑡 𝐵𝑖𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚, !"" 𝑠𝑞 𝑓𝑡. 𝛾 = 𝑠ℎ𝑒𝑎𝑟 𝑟𝑎𝑡𝑒, 𝑠 !! .

𝜃!"" = 𝑑𝑖𝑎𝑙 pada 600 RPM, derajat.


𝜃! = 𝑑𝑖𝑎𝑙 pada N RPM, derajat.

𝜃!"" = 𝑑𝑖𝑎𝑙 pada 300 RPM, derajat. 𝑁 = kecepatan putaran, RPM.

𝐺𝑆 = 𝑔𝑒𝑙 𝑠𝑡𝑟𝑒𝑛𝑔𝑡ℎ. 𝜇! = 𝑎𝑝𝑝𝑎𝑟𝑒 𝑡 𝑣𝑖𝑠𝑐𝑜𝑠𝑖𝑡𝑦, 𝑐𝑝.

𝜃! = 𝑑𝑖𝑎𝑙 maksimum pada 3 RPM, derajat.

Atmosphere Filtration Loss

Atmosphere filtration loss adalah alat yang digunakan untuk mengukur laju filtrasi.
Filtrasi adalah proses pemisahan fluida dan solid yang terkandung di dalamnya melalui
suatu media permeable yang disebut penyaring. Dalam proses filtrasi di dunia
pemboran, saringan diperankan oleh batuan berpori yang menyaring padatan-padatan
yang lebih besar dari ukuran pori sehingga bertumpuk di dinding sumur membentuk
mud cake.

Percobaan filtrasi pada modul ini menggunakan model filtrasi statik, yaitu filtrasi
yang terjadi ketika lumpur berhenti bersirkulasi. Pada keadaan ini, filter cake terus
bertambah tebal. Sedangkan, filtration rate berkurang karena sifat kompresibilitas mud
cake yang membuat permeabilitasnya semakin kecil bila ditekan terus-menerus.

7
Bab III
Data Percobaan

1. Percobaan 1 : Pengukuran Densitas


Mud Balance WBM= 8.63 ppg
Mud balance OBM = 9.1 ppg

2. Percobaan 2 : Penentuan Viskositas, Yield Point, dan Gel Strength

A. WBM
DIAL READING
RPM
LS Air
3 4 0
6 5.5 0
100 17 0
200 25.5 0.5
300 32 1
600 46 2

Gel Strength (lb/100sqft)


Waktu RPM
Air Lumpur Standar
10 detik 3 1 3
10 menit 3 1 15

B. OBM
DIAL READING
RPM
LS Diesel
3 3 0
6 4 0.5
100 20 1.5
200 35 2.5
300 50 3.75
600 87 7

8
Gel Strength (lb/100sqft)
Waktu
RPM Diese
(s)
l Lumpur Standar
10 3 1 4
600 3 1.5 16

3. Percobaan 3 : Penentuan Laju Filtrasi

Waktu Volume Filtrat (ml)


𝒎𝒆𝒏𝒊𝒕
(menit) Sampel

0 0 0.6
2 1.414214 2.9
4 2 4.6
6 2.44949 5.7
7.5 2.738613 6.5
8 2.828427 6.7
10 3.162278 7.6
11 3.316625 8.1
12 3.464102 8.5
13 3.605551 8.8
14 3.741657 9.2
15 3.872983 9.5
16 4 9.5
17 4.123106 10.3
18 4.242641 10.8
19 4.358899 11.1
20 4.472136 11.4
21 4.582576 12
22 4.690416 12.2
23 4.795832 12.4
24 4.898979 13
25 5 13.2
9
Parameter Hasil
pH Filtrat 8
Tebal Mudcake 0.21333 cm
Keterangan Halus (Soft)
26 5.09902 13.4
27 5.196152 13.6
28 5.291503 14
29 5.385165 14.2
30 5.477226 14.4

10
Bab IV
Pengolahan Data

1. Penentuan densitas

A. WBM

• Komposisi mud : Air 350 cc + Bentonite 22.5 gr

350 cc = 0.092461 gal

22.5 gr = 22.5 / 2.6 = 0.002286111 gal.

• Densitas : Air = 1 gr/mL = 8.33 ppg

Bentonite = 2.6 gr/mL = 21.7 ppg

• Perhitungan :

Kekekalan volume : 𝑉! + 𝑉!" = 𝑉!"

Kekekalan massa : 𝑉! 𝑥 𝜌! + 𝑉!" 𝑥 𝜌!" = 𝑉!" 𝑥 𝜌!"

𝑉! 𝑥 𝜌! + 𝑉!" 𝑥 𝜌!"
𝜌!" =
𝑉! + 𝑉!"

0.002286 𝑥 21.7 + 0.092461 𝑥 8.33


𝜌!" = = 8.652601 𝑝𝑝𝑔
0.002286 + 0.092461

• Pembacaan dengan Mud Balance : 8.63 ppg

B. OBM
Mud balance OBM = 9.1 ppg

2. Penentuan Viskositas, Yield Point, dan Gel Strength

a) Menghitung Plastic Viscosity (𝜇! )


Untuk menghitung plastic viscosity gunakan rumus dibawah ini.

𝜇! = 𝜃600 – 𝜃300
Perhitungan untuk air :
𝜇! = 2-1 = 1 cp
Perhitungan untuk Lumpur WBM :
𝜇! = 46-32 = 14 cp
11
Perhitungan untuk Lumpur OBM :

𝜇! = 87-50 = 37 cp
Perhitungan untuk diesel:
𝜇! = 7 – 3.75 = 3.25 cp

b) Mengitung Yield Point Bingham (Yb) dalam lb/100 ft2


Untuk menghitung yield point gunakan rumus dibawah ini.

Yb = 𝜃 300 - 𝜇!

Perhitungan untuk Lumpur WBM

Yb = 32 – 14 = 18

Perhitungan untuk air

Yb = 1 – 1 = 0

Perhitungan untuk diesel

Yb = 3.75 – 3.25 = 0.5 cP

Perhitungan untuk Lumpur OBM

Yb = 50 - 37 = 13

c) Menghitung Shear Rate dan Shear Stress


• Shear Rate
𝛾 = 1.704×𝑁 , s-1 ….(10)

Dengan : N = kecepatan putaran, RPM

o Contoh Perhitungan pada RPM 600


𝛾 = 1.704×600 = 1022,4 𝑠 !!

o Contoh Perhitungan pada RPM 300


𝛾 = 1.704×300 = 511,2 𝑠 !!

o Melakukan perhitungan yang sama untuk nilai RPM yang berbeda

• Shear Stress

12
𝜏 = 5.077×𝜃! , dyne/cm2…..(11)

Dengan : ϴN = dial pada N RPM

o Contoh perhitungan pada LS RPM 600


𝜏 = 5,077×46 = 233.542 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚!

o Melakukan perhitungan yang sama untuk bacaan dial pada jenis


lumpur yang lainnya

Lumpur Standar OBM Lumpur Standar WBM


RPM Dial Shear Shear Stress Dial Shear Shear Stress
Reading Rates (s-1) (dyne/cm2) Reading Rates (s-1) (dyne/cm2)
3 3 5.112 15.231 4 5.112 20.308
10.22
6 4 20.308 5.5 10.224 27.9235
4
100 20 170.4 101.54 17 170.4 86.309
200 35 340.8 177.695 25.5 340.8 129.4635
300 50 511.2 253.85 32 511.2 162.464
Air Diesel
Shear Shear
RPM Dial Shear Stress Dial Shear
Rates (s- Stress
Reading 1
(dyne/cm2) Reading Rates (s-1)
) (dyne/cm2)
3 0 5.112 0 0 5.112 0
6 0 10.224 0 0.5 10.224 2.5385
100 0 170.4 0 1.5 170.4 7.6155
200 0.5 340.8 2.5385 2.5 340.8 12.6925
300 1 511.2 5.077 3.75 511.2 19.03875
600 2 1022.4 10.154 7 1022.4 35.539

13
500

450

400
Shear Stress (dyne/cm2)

350

300

250

200

150

100

50

0
5.112 10.224 170.4 340.8 511.2 1022.4
Shear Rate 1/s

Lumpur Standar OBM Air

Diesel Lumpur Standar WBM

d) Menghitung gel strength

Waktu Gel Strength (lb/100sqft)


RPM
(s) Air Diesel Lumpur Standar OBM Lumpur Standar WBM
10 3 1 1 4 3
600 3 1 1.5 16 15

14
18
16
Gel Strength (lb/100sqE)
14
Air
12
10 Diesel
8
6 Lumpur Standar
4 OBM

2 Lumpur Standar
WBM
0
10 600
Waktu (s)

e) Menghitung Apparent Viscosity


!
𝜇! = 100 𝑥 ! …..

Apparent Viscosity (cp)


RPM Lumpur Standar Lumpur Standar
Air Diesel
WBM OBM
3 0 0 397.2613459 297.9460094
6 0 24.82883412 273.1171753 198.6306729
100 0 4.469190141 50.6508216 59.58920188
200 0.744865023 3.724325117 37.9881162 52.14055164
300 0.993153365 3.724325117 31.78090767 49.65766823
600 0.993153365 3.476036776 22.84252739 43.20217136

15
3. Penentuan Laju Filtrasi

StaPc FiltraPon vs Square Root of Time


16
14 y = 2.7671x - 0.9168
R² = 0.99361
12
Volume Filtrat (ml)

10
8
6
4
2
0
0 1 2 3 4 5 6
-2

Sampel

Komposisi : Lumpur Standar 350 ml + CMC-LV 10 gr

Volume Filtrat : 𝑉!.! = 6.5 ml (saat t = 7.5 menit)

Ekstrapolasi : y = 2.7671x - 0.9168 (y = Volume Filtrat, x = 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 )


Volume Spurtloss : Vsp = y, saat x = 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 = 0
y = 2.7671 (0) - 0.9168, sehingga Vsp = 0 ml
Volume Filtrat : Setelah 30 menit 𝑉!" = 2 𝑉!.! − 𝑉 !

𝑉!" = 2 (6.5) – 0 𝑉!" = 13 ml


Volume Filtrat Selama 30 menit : 13 ml
Mud Cake : Ketebalan = (0.2 + 0.23 + 0.21) / 3 = 0.21333 cm

Volume Filtrat (ml)


Parameter
Hasil Perhitungan Hasil Percobaan
𝑉!" 13 14.4

Parameter Hasil
pH Filtrat 8
Tebal Mudcake 0.21333 cm
Keterangan Halus (Soft)
20
I. ANALISIS
i. Asumsi
1. Suhu dan tekanan konstan selama percobaan
2. Densitas air adalah 8.33 ppg
3. Lumpur dan aditif tercampur dengan baik
4. Tidak ada reaksi pada peralatan yang bersentuhan langsung dengan lumpur
5. Cup terisi penuh oleh fluida (lumpur/air) dan tidak ada kebocoran pada alat
6. Tidak ada kesalahan paralaks saat pembacaan densitas pada skala
7. Tidak ada kesalahan paralaks saat pembacaan dial reading serta stopwatch dan
saat pembacaan volume fitrat
8. Tidak ada kerusakan pada alat (kalibrasi alat berjalan optimal)
9. Rotor dan Bob tercelup seluruhnya di dalam fluida (lumpur)
10. Putaran rotor konstan pada setiap kecepatan yang ditentukan dengan speed
selection knob
11. Tidak ada kerusakan dan kebocoran pada alat
12. Tekanan yang diberikan oleh kompresor konstan 100 psi

ii. Alat
Pada percobaan modul I ini digunakan 3 alat percobaan yaitu mud balance,
Fann VG, dan filter press apparatus.

a. Mud Balance
Alat ini digunakan untuk mengukur densitas suatu fluida dengan cara
melakukan penggeseran rider pada balance arm hingga cairan di dalam level
glass berada tepat di garis tengah. Setelah itu kita bisa melakukan pembacaan
densitas pada balance arm dalam satuan ppg. Prinsip dari alat ini sendiri adalah
kesetimbangan massa

Sebelum alat ini digunakan diharuskan untuk mengkalibrasi terlebih


dahulu dengan cara menggunakan air dan pada saat kesetimbangan skala yang
terbca dari rider haruslah 8,33 ppg. Bila skala yang ditunjukkan tidaklah sama,
maka calibration screw harus diatur hingga benar.
b. Fann VG

20
Fann VG di sini digunakan untuk menentukan beberapa rheologi lumpur
yaitu plastic viscosity, apparent viscosity, yield point, dan gel strength. Prinsip
alat ini yaitu memberikan shear rate kemudian membaca shear sress pada skala
dial. Dial reading yang akan terbaca merepresentasikan gesekan yang dialami
bob oleh lumpur akibat shear rate yang diberikan oleh rotor. Dial reading
sendiri terdiri dari enam nilai RPM atau shear rate yaitu 600, 300, 200, 100, 6,
dan 3. Dari pembacaan dial tersebut, kita dapat menentukan rheologi dari
lumpur yang diuji dengan menggunakan perhitungan. Semakin kental suatu
lumpur maka gesekan yang terjadi akan semakin besar begitupula sebaliknya.
Fluida pemboran yang kita uji dianggap mengikuti model Bingham Plastic.
Data yang akan didapatkan dari alat ini yaitu bacaan dial dan RPM yang
kemudian dapat dihitung rheology dari lumpur tersebut.
c. Filter Press Apparatus
Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk mengukur laju filtrasi.
Prinsip dasar dari alat ini adalah aliran fluida melalui media berpori yang dapat
digambarkan dengan hukum darcy. Aliran fluida ini diakibatkan oleh
perbedaan tekanan antara tekanan kompresor dengan tekanan atmosfer. Fluida
mengalir melalui dua buah filter yaitu filter paper dan screen. Filter ini
mencegah padatan pada lumpur untuk keluar sehingga padatan ini terkumpul
membentuk mud cake pada filter sedangkan cairan yang lolos akan ditampung
di tabung ukur sebagai filtrat.

Tekanan yang diberikan ketika percobaan berlangsung yaitu sebesar 100


psi. Tekanan ini merepresentasikan perbedaan tekanan pada lubang bor dengan
formasi pada kejadian nyatanya. Alat ini harus dipasang sesuai dengan urutan
yaitu dari yang paling bawah yaitu drain tube kemudian bottom chamber lalu
rubber, screen, filter paper lalu kemudian rubber lagi. Setelah itu cell body
dipasang dan harus dipastikan sudah kencang lalu ditutup dengan penutupnya.
Penutupan ini kemudian nantinya akan dikencangkan dengan filter press
handle. Sebelum melakukan percobaan harus dipastikan terlebih dahulu tidak
adanya kebocoran pada selang juga pada wadah. Selain itu harus dipastikan
rubber ryang digunakan sudah pas.

Pengecekan terhadap kebocoran ini dilakukan dengan menggunakan air.


Setelah semua alat suda dipastikan tidak mengalami kebocoran maka
percobaan pun dapat dilakukan. Filtrat yang keluar dihitung sesuai dengan
20
waktu ukur tertentu. Data yang akan didapatkan yaitu volume filtrat dan waktu
ukur.

Penentuan pH dilakukan dengan kertas pH yang dicelupkan ke filtrat lalu


dicocokan dengan warna referensi yang tersedia. Tebal mud cake diukur
dengan ujung jangka sorong di mana sebelumnya mud cake dicuci bagian
atasnya untuk menghilangkan mud cake yang tidak stabil.

iii. Data Hasil Percobaan


Penentuan Densitas

Dari percobaan yang dilakukan dapat dilihat nilai densitas lumpur standard WBM
dengan menggunakan mud balance yaitu sebesar 8,63 ppg sedangkan lumpur Satandar
OBM sebesar 9.1 ppg. Densitas lumpur standard WBM yang ditambahkan dengan
bentonite menjadi lebih berat dibandingkan air yaitu 8.33 ppg karena peran bentonite
sebagai weighting agent. Diesel (7 ppg) yang juga merupakan salah satu komposisi
dalam pembuatan OBM (9.1 ppg) memiliki densitas yang jauh dibawah OBM,
berselisih 2.1 ppg yang diakibatkan dari berbagai macam zat aditif yang ditambahkan
kedalam Diesel 250 ml dalam pembuatan OBM. Hal ini tentunya akan membuat OBM
menghasilkan gaya hidrostatik yang lebih besar.
Dari pengukuran menggunakan mud balance apabila nilai yang didapatkan ini
dibandingkan dengan perhitungan dengan menggunakan prinsip kesetimbangan, maka
didapatkan nilai yang berbeda. Galat yang dihasilkan dari perbedaan nilai ini tidak
terlalu besar yaitu sebesar 3.8% . Hal ini mungkin disebabkan oleh pembacaan posisi
setibang pada balance arm yang kurang presisi atau dikarenakan alat mud balance yang
tidak berfungsi 100% karena sudah terlalu tuanya alat tersebut.

Penentuan Rheology Lumpur

• Plastic Viscosity
Jika kita bandingkan nilai dari plastic viscosity , terdapat perbedaan hasil yang
sangat besar antara air (1 cp) dengan WBM(14 cp) dan diesel (3.25 cp) dengan
OBM(37 cp). Pada WBM, perbedaan nilai dapat terjadi karena penambahan
bentonite, sedangkan pada OBM juga terjadi hal yang serupa yaitu aditif yang
ditambahkan menyebabkan friksi mekanik menjadi lebih besar pula.
Penambahan friksi mekanik yang terjadi antara lumpur juga peralatan

20
pemboran yang dapat memberikan efek negative seperti lebih cepat terjadinya aus
pada bit. Tingginya nilai PV dapat dikurangi dengan mengurangi padatan (dengan
penyaringan atau sentrifuge), atau mencairkan fluida. Pada alat ini terdapat rotor
yang berputar dan bergesekan dengan lumpur, sehingga lumpur akan ikut bergerak.
Makin kecil gesekan antara keduanya maka menunjukkan bahwa viskositas yang
dimiliki lumpur kecil, sedangkan makin besar gesekan yang terjadi
mengindikasikan lumpur tersebut memiliki viskositas yang besar.

• Yield point

Nilai yield point pada air bernilai 0 karena air merupakan newtonian fluid dimana
air dapat mengalir terus tanpa dipengaruhi gaya-gaya yang bekerja pada
fluida. Nilai yield point pada WBM sebesar 18 cP dapat terjadi karena
penggunaan WBM sebagai drilling fluid memang didesign untuk memiliki
nilai yield point yang cukup besar. Nilai yield point yang semakin tinggi juga
berarti membutuhkan tekanan yang semakin besar pula untuk
mensirkulasikan lumpur tersebut. Nilai yield point dapat dikontrol dengan
penambahan thinner (seperti lignin dan tannin), membuat ion-ion kontaminan
yang mengandung Ca dan Mg menjadi endapan yang tidak terlarut, atau
pengenceran dengan air.

• Gel Strength

Berdasarkan gambar pada plot grafik, dapat dilihat bahwa WBM memiliki gel
strength cenderung meningkat diakibatkan oleh gaya tarik-menarik antar muatan
pada permukaan partikel yang terdispersi. Sedangkan air memilki gel strength
yang konstan sepanjang waktu. WBM dapat dikatakan memiliki perbedaan gel
strength yang cukup besar, sehingga dapat dikategorikan sebagai progressive gels
karena WBM memiliki initial gel strength yang rendah yaitu 3 lb/100ft2, namun
setelah 600 detik, gel strength nya naik 4 kali lipat menjadi 12 lb/100ft2.

• Untuk diesel, dari data pembanding dapat disimpulkan sebagai low-flat gels,
dimana jenis ini merupakan yang paling diminati di lapangan karena tidak
mengalami perubahan yang signifikan walau telah didiamkan cukup lama serta
nilai initial gel strength yang tidak terlalu tinggi, dan OBM dapat dikategorikan
sebagai high-flat gels karena memiliki nilai initial gel strength yang cukup tinggi
diawal yaitu 6 lb/100ft2 dan terus mengalami peningkatan seiring dengan
bertambahnya waktu mencapai 15 lb/100ft2 di akhir detik ke-600.
20
Gel strength yang terlalu berlebihan maka akan menyebabkan swabbing ketika
pipa ditarik, surging ketika pipa diturunkan, kesulitan memasukkan wireline
logging, dan penahanan cutting dengan ketat sehingga sulit dilepaskan
dipermukaan.

Penentuan Laju Filtrasi

Dalam proses pemboran, saringan diperankan oleh batuan berpori yang


menyaring padatan-padatan yang berukuran lebih besar daripada ukuran pori,
sehingga bertumpuk di dinding sumur membentuk mud cake. API menggunakan
standard waktu 30 menit dalam pengukuran filtration loss.
Pada saat percobaan praktikan mendapatkan jumlah filtration loss selama 30
menit yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena terdapatnya pula volume spurt
loss yaitu volume filtrat yang dihasilkan sebelum porositas dan permeabilitas md
cake stabil. Tetapi, karena volume tidak mungkin bernilai negatif maka praktikan
mengasumsikan nilai tersebut menjadi 0 ml. Selain itu, kurang akuratnya praktikan
dalam pembacaan volume yang tertampung dalam tabung ukur juga dapat
mempengaruhi nilai filtration loss lumpur. Dalam perhitungan filtration loss
dengan filter press apparatus pada lumpur standard yaitu 14.4 ml sedangkan susuai
dengan perhitungan harusnya 13 ml. Hal ini juga dapat diakibatkan karena asumsi
yang tidak terpenuhi.

Dari grafik static filtration dengan akar waktu dapat dilihat bahwa semakin
bertambahnya waktu volume filtrat yang dihasilkan akan semakin besar. Tetapi
dapat dilihat bahwa kenaikan waktu tidak diikuti dengan penambahan filtrat yang
stabil. Hal ini dikarenakan karena mungkin pada saat percobaan lumpur yang
berada dalam cup tidak rata (bolong). Hal ini dapat mengakibatkan pada saat
pemberian tekanan pada wadah dan ternyata bagian tersebut kosong dari lumpur
atau tidak terisi dengan rata maka volume foltrat pun akan berkurang dan menjadi
tidak stabil penambahannya. Seharusnya semakin lama maka semakin stabil
penambahannya dikarenakan mud cake yang terbentuk suda stabil.

Masalah yang dapat ditimbulkan oleh filtration loss yang buruk diantaranya
yaitu adanya lubang yang ketat akibat penumpukkan mud cake sehingga
memperbesar gesekan drillstring dengan mud cake tersebut, menambah pressure
surges dan swabbing effect, pipe sticking akibat kontak pipa dengan permukaan
20
mud cake yang tebal dan memiliki permeabilitas tinggi, sulitnya perekatan semen
akibat tidak sempurnanya pembersihan mud cake yang tebal dan juga formation
damage akibat invasi filtrat (dapat terjadi fluid blocking, pore plugging, clay
swelling, dan mengubah wettability).

I. KESIMPULAN
1. Terdapat 10 fungsi dari lumpur pemboran dengan fungsi utamanya yaitu
mengangkat cutting ke permukaan, mengontrol tekanan formasi, dan
membentuk mud cake.
2. Hasil yang didapatkan dari percobaan :
a) Mud Balance
Mud Balance WBM= 8.63 ppg

Mud balance OBM = 9.1 ppg

b) Fann VG

Lumpur Standar Lumpur Standar


Air Diesel
Shear OBM WBM
Stress Shear Shear Shear Shear
RPM
(dyne/cm Dial Stress Dial Stress Dial Stress Dial Stress
2) Reading (dyne/c Reading (dyne/cm Reading (dyne/cm Reading (dyne/cm
m2) 2
) 2
) 2
)
3 15.231 3 15.231 4 20.308 0 0 0 0
6 20.308 4 20.308 5.5 27.9235 0 0 0.5 2.5385
100 101.54 20 101.54 17 86.309 0 0 1.5 7.6155
200 177.695 35 177.695 25.5 129.4635 0.5 2.5385 2.5 12.6925
300 253.85 50 253.85 32 162.464 1 5.077 3.75 19.03875
600 441.699 87 441.699 46 233.542 2 10.154 7 35.539
Gel Strength (lb/100sqft)
Waktu
RPM Dies
(s) Air
el Lumpur Standar OBM Lumpur Standar WBM
10 3 1 1 4 3
600 3 1 1.5 16 15

20
c) Filter Press Apparatus

Volume Filtrat (ml)


Waktu (menit) 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒕
Sampel

0 0 0.6
2 1.414214 2.9
4 2 4.6
6 2.44949 5.7
7.5 2.738613 6.5
8 2.828427 6.7
10 3.162278 7.6
11 3.316625 8.1
12 3.464102 8.5
13 3.605551 8.8
14 3.741657 9.2
15 3.872983 9.5
16 4 9.5
17 4.123106 10.3
18 4.242641 10.8
19 4.358899 11.1
20 4.472136 11.4
21 4.582576 12
22 4.690416 12.2
23 4.795832 12.4
24 4.898979 13
25 5 13.2
26 5.09902 13.4
27 5.196152 13.6
28 5.291503 14
29 5.385165 14.2
30 5.477226 14.4

Volume Spurtloss : Vsp = y, saat x = 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 = 0


20
y = 2.7671 (0) - 0.9168, sehingga Vsp = 0 ml
Volume Filtrat : Setelah 30 menit

𝑉!" = 2 𝑉!.! − 𝑉!"

𝑉!" = 2 (6.5) – 0

𝑉!" = 13 ml

3. Prinsip kerja peralatan praktikum modul ini :


a) Mud Balance
Mengukur densitas fluida dengan prinsip kesetimbangan dengan cara
menyeimbangkan skala yang terbaca pada alat ini

b) Fann VG
Memberikan bacaan dial reading lumpur pada shear rate tertentu dan
temperature dan tekanan konstan, dengan prinsip memberikan shear rate
kepada rotor untuk membaca shear stress yang dialami bob oleh lumpur.

c) Filter Press Apparatus


Aliran fluida melalui media berpori akibat adanya perbedaan tekanan sesuai
dengan hukum darcy.

4. Penambahan aditif pada fluida lumpur pemboran dapat merubah karakteristik


lumpur tersebut

20
Daftar Pustaka

Rubiandini, Rudi. 2012. Teknik Operasi Pemboran I. Bandung: ITB.


Amoco Production Company, “Drilling Fluids Manual”
Modul Praktikum TM 3101 - Teknik Operasi Pemboran I Semester I 2017/2018

20
26