Anda di halaman 1dari 95

ABSTRAK SKRIPSI

Bank sebagai lembaga keuangan mempunyai tugas untuk menghjimpun


dana dan memberikan kredit kepada masyarakat. Dalam pemberian kredit harus
dilakukan dengan perjanian kredit antara pihak pemohon kredit dengan pihak
bank. Untuk keamanan modal dan kepastian hukum, maka pihak bank
menginginkan adanya jaminan dalam memberikan kredit jaminan tersebut dapat
berupa jaminan kebendaan maupun jaminan perorangan. Deposito merupakan
salah satu jaminan dalam bentuk kebendaan yang dapat dijadikan jaminan kredit
yang sangat disukai oleh bank.
Dari hal tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan judul “TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN KREDIT
DENGAN JAMINAN DEPOSITO PADA BANJ NEGARA INDONESIA 1946
CABANG KEBUMEN”. Dalam melaksanakan penelitian ini penulis
menggunakan jenis penilitian deskriptif, dan data yang digunakan adalah data
primer dan data sekunder yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan
studi kepustakaan. Penelitian ini penulis lakukan pada Bank BNI ’46 cabang
Kebumen. Untuk menganalisa data yang diperoleh maka penulis menggunakan
analisis dari secara Kualitatif.
Hasil penelitian yang penulis peroleh adalah sebagai berikut: Bahwa
perjanjian kredit dengan jaminan deposito yang dilaksanakan pada Bank BNI’46
Cabang Kebumen harus melalui prosedur, yang telah ditetapkan oleh pihak bank
yaitu pemohon kredit mengajukan permohonan kredit dengan membawa surat-
surat yang telah ditentukan, pemeriksaan keabsahan dan kebenaran Bilyet
Deposito dan penjelasan oleh petugas, pendaftaran permohonan kredit,
penganalisisan permohonan kredit, pengambilan keputusan oleh Pemimpin
Cabang/Pemimpin Bidang Operasional, serta penandatanganan perjanjian kredit
oleh Pemimpin Cabang/Pemimpin Bidang Operasional dengan pemohon kredit
diikuti dengan penandatanganan perjanjian gadai.
Perjanjian kredit dapat dimasukan dalam ketentuan Buku III XIII KUH
Perdata tentang Pinjam Meminjam. Bentuk perjanjian kredit ini adalah perjanjian
standar dimana isi daripada perjanjian ini telah ditentukan oleh pihak bank dan
dituangkan dalam suatu formulir perjanjian kredit. Dengan adanya perjanjian
kredit maka timbul hak dan kewajiban bagi pihak bank dan pemohon kredit.
Jaminan deposito termasuk jaminan gadai, dalam pelaksanaannya
dikontruksikan dalam perjanjian gadai yang mempunyai sifat accesoir artinya
perjanjian ini selalu mengikuti dan mengabdi pada perjanjian pokok yaitu
perjanjian kredit. Sebagai pemegang gadai bank mempunyai kekuasaan atas
deposito itu, akan tetapi hak milik dari deposito itu tetap dipegang deposan
pemilik deposito.
Banyak keuntungan dan kemudahan yang diperoleh dalam perjanjian kredit
dengan jaminan deposito ini, sehingga dalam pelaksanaannya pada Bank BNI’46
Cabang Kebumen belum pernah terjadi permasalahan yang dapat menghambat,
karena perjanjian kredit ini telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan hukum
yang berlaku.
BAB Ι

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia adalah negara berkembang yang sedang giat untuk

melaksanakan pembangunan di berbagai bidang. Pembangunan ini

diarahkan agar dapat mewujudkan tujuan nasioanal Negara kita yaitu

masyarakat yang adil dan makmur material dan spritiual, dengan

berdasarkan pada pancasila dan undang-undang dasar 1945.

Pembangunan yang mendapatkan prioritas utama yaitu bidang

ekonomi, hal ini karena dengan peningkatan hasil-hasil pada bidang

ekonomi di harapkan akan mendapat sumber-sumber pembiayaan yang

luas bagi pembangunan.Namun hal ini bukan berarti akan mengabaikan

bidang pembangunan yang lain, karena antara bidang yang satu dengan

yang lainnya saling menunjang dan melengkapi.

Untuk melaksanakan pembangunan agar dapat berjalan dengan

lancar di perlukan dana yang besar, dan merupakan faktor yang sangat

menentukan bagi berhasilnya pembangunan. Dana tersebut dapat kita

peroleh dari beberapa sumber, baik yang berasal dari dalam negeri maupun

dari luar negeri. Dana dari dalam negeri untuk modal pembangunan di

peroleh dari masyarakat, melalui lembaga keuangan baik itu berbentuk

lembaga perbankan atau lembaga keuangan yang lain, serta lembaga

pemerintah yang lain.


Hal diatas dapat kita ketahui di dalam ketetapan majelis

Permusyawaratan Rakyat No ΙΙ/ MPR/1998, tentang Garis Garis Besar

Haluan Negara pada Bab ΙV sub. D 17 mengenai arah dan kebijaksanaan

pembangunan, sebagaimana di bawah ini:

“ Pengerahan dana tabungan masyarakat melalui lembaga keuangan

bukan bank dan pasar modal, baik yang bentuknya deposito, penerbitan

surat berharga maupun jenis tabungan yang lain perlu makin digalakkan,

sehingga peranannya sebagai sumber dana pembangunan semakin

meningkat, pemanfaatan dana masyarakat untuk perkreditan di arahkan

guna menunjang kegiatan investasi yang sangat produktif, sesuai dengan

prioritas pembangunan, agar tercapai alokasi dana investasi yang efesien,

sehinngga mendorong pemerataan kesempatan kerja dan berusaha serta

terpeliharanya keseimbangan moneter dan stabilitas ekonomi.”

Bank sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan

mempunyai eksistensi yang besar didalam pelaksanaan pembangunan

khususnya pembangunan ekonomi. Selain itu bank juga sebagai sarana

yang mempunyai, peran yang strategis dalam menyerasikan dan

menyeimbangkan masing-masing unsur dalam Trilogi pembangunan.

Perang yang strategis tersebut terutama di sebabkan oleh fungsi utama

bank sebagai wahana yang dapat menghimpun dan menyalurkan dana

masyarakat secara efektif dan efesien. Penyaluran dana kepada masyarakat

ini dilakukan dengan pemberian kredit. Hal ini sesuai dengan usaha pokok
bank sebagai lembaga keuangan yaitu memberikan kredit serta jasa-jasa

lain di bidang keuangan.

Fungsi untuk mencari dana dan selanjutnya menghimpun dana

tersebut dalam bentuk simpanan atau dengan deposito sangat menentukan

pertumbuhan dari suatu bank karena volume dana yang dapat di

kembangkan oleh bank dalam bentuk penanamanm dana yang

menghasilkan.

Bank merupakan salah satu kekuatan ekonomi yang sangat

potensional dan mempunyai peran yang sangat memnunjang bagi

keberhasilan pembangunan Nasioanal. Lembaga perbankan wajib ikut

serta menanggulangi kesulitan keuangan negara dan menjaga stabilitas

ekonomi masyarakat.

Di dalam pasal 1c UU No 14 tahun1967 tentang pokok-pokok

perbankan, yang di maksud dengan kredit adalah:

“ penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat di samakan dengan itu


berdasarkan persetujuan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain dalam
hal mana pihak peminjam berkewajiban melunasi hutangnya setelah jangka waktu
tertebty dengan bunga yang telah di tentukan.”

Sedangkan menurut undang Undang perbankan yang baru, yaitu

undang-undang No 7 tahun 1992 tentang Perbankan yang di undangkan

pada tanggal 25 maret 1992, menyebutkan bahwa kredit adalah

penyediaan uang atau tagihan yang dapat di persamakan dengan itu,

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank

dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi


hutangnya setelah jangka waktu tertentu, dengan jumlah bunga, imbalan

atau pembagian hasil keuntungan.

Dari kedua pengertian kredit tersebut terdapat kata persetujuan, yang

dalam hal ini di maksudkan sebagai suatu perjanjian. Perjanjian yang

merupakan salah satu bagian dari Hukum Pedata di atur dalam buku ΙΙΙ

KUH Perdata tentang perikatan.

Perjanjian dapat terjadi apabila pihak-pihak dalam perjanjian itu

telah mengadakan suatu janji baik menurut persetujuan maupun undang-

undang. Di dalam pasal 1313 KUH perdata menyebutkan bahwa

persetujuan adalah perbuatan dengan satu orang lain atau lebih.Perjanjian

kredit merupakan perjanjian yang lahir dari persetujuan. Persetujuan yang

di buat antara bank dengan masyarakat yang memohon kredit.

Istilah perjanjian kredit tersebut dapat kita lihat dalam Surat Edaran

Bank Negara Indonesia Unit 1 no 2/539/pemb/1996 tentang kebijaksanaan

di bidang Perkreditan dan Instruksi presidium Kabinet yang bernomor

15/EKA/IN/10/1996 tanggal 3 oktober 1996, No 1 Angka 5 yang

menyatakan : “Di larang melakukan pemberian kredit dalam berbagai

bentuk tanpa adanya perjanjian kredit yang jelas antara bank dengan

nasabahnya atau antara bank sentral dengan bank lain”.

Kenyataan ini menunjukkan betapa pentingnya fungsi dari perjanjian

kredit untuk menunjang pembangunan dan kerena itu mendorong untuk

mengetahui apakah perjanjian kredit itu dari segi hukum memenuhi unsur-

unsure yang di perlukan seperti unsure kepercayaan, waktu, dan prestasi


sehingga mampu menjamin bahwa kredit dapat di kembalikan tepat pada

jangka waktu yang telah di tentukan.

Sehubungan dengan pemberian fasilitas kredit tersebut di atas, bank

sebagai pihak yang meminjamkan perlu untuk mendapatkan jaminan,

bahwa uang yang di pinjamkannya akan di terima kembali beserta

bunganya.Jaminan merupakan syarat penting dalam suatu perjanjian

kredit.

Hal ini dapat di lihat dalam pasal 24 UU Perbankan No 14 tahun

1967 yang menyatakan bahwa bank umum di larang memberikan kredit

tanpa jaminan kepada siapa pun juga. Serta dalam penjelasan pasal 8 UU

No 7 tahun 1992 tentang perbankan.

Jaminan tersebut ada yang sifatnya perorangan, maupun jaminan ke

bendaan.Jaminan perorangan yaitu adanya orang tertentu yang membayar

jika debitur wan prestasi, sedangkan untuk jaminan kebendaan adanya

benda atau barang tertentu yang di pakai sebagai jaminan.Benda-benda

tersebut dapat berupa benda bergerak dan benda tidak bergerak.

Jaminan kebendaan diantaranya berupa surat-surat berharga seperti

surat/Bilyet Deposito, wesel, Tabungan, Sertifikat Bank dan sebagainya,

asalkan surat-surat berharga tersebut mempunyai nilai yang terjamin.

Maksudnya surat berharga tersebut dapat di cairkan dan di uangkan oleh

bank, dimana hasilnya di gunakan untuk pemenuhan hutang debitur yang

tidak memenuhi kewajibannya.


Dalam perkembangan dewasa ini banyak lembaga perbankan yang

menggunakan perjanjian kredit dengan jaminan surat-surat berharga, hal

ini karena jaminan surat-surat berharga du pandang sedikit resiko ke

rusakannya dan penyimpannya tidak perlu tempat yang luas dan untuk

pencairannya mudah. Begitu pula Bank Negara Indonesia 1946 Cabang

Kebumen, yaitu menerima deposito sebagai jaminan dalam pemberian

kredit kepada masyarakat.

Menurut pasal 1 angka 8 Undang-Undang No 7 tahun 1992 tentang

perbankan, yang di maksud dengan deposito adalah simpanan yang

penarikkannya hanya dapat di lakukan pada waktu tertentu menurut

perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkuatan.

Dengan kata lain deposito adalah nama yang di berikan, pada

simpanan deposit di bank yang lazim dilekatkan pada persyaratan jangka

waktu penyimpananya.

Keberadaan deposito ini disatu pihak merupakan salah satu alat

untuk mengumpulkan dana dari masyarakat untuk perluasan operasi kredit

bank dan menunjang pembangunan Negara pada umumnya, sedangkan di

pihak lain yaitu bagi deposit, deposit merupakan bentuk simpanan atau

tabungan dana yang akan berlebih yang tidak dikonsumsi dan mempunyai

banyak sekali keuntungan.Selain hal tersebut diatas, deposito juga aman di

jadikan jaminan kredit dalam perjanjian kredit.Hal inilah yang antara lain

mendorong Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen untuk

menerima deposito sebagai jaminan dalam pemberian kredit.Dengan latar


belakang tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian

dengan judul : “ TINJAUAN YUDIRIS TERHADAP PELAKSANAAN

PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO PADA

BANK NEGARA INDONESIA 1946 CABANG KEBUMEN.”

B. Rumusan Masalah

Untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat di pertanggung

jawabkan kevalidannya dan agar penelitian itu sesuai dengan sasaran yang

diinginkan, maka sangat di perlukan adanya suatu rumusan masalah.

Dalam penelitian ini penulis merumuskan permasalahan sebagai

berikut:

1. Bagaimana proses timbulnya perjanjian kredit dengan jaminan

deposito pada bank BNI’46 Cabang Kebumen?

2. Bagaimana kedudukan deposito sebagai jaminan di dalam

perjanjian kredit tersebut?

3. Keuntungan apakah yang di peroleh dengan di jadikannya deposito

sebagai jaminan dalam perjanjian kredit?

4. Masalah apa yang timbul dalam pelaksanaan perjanjian kredit

dengan jaminan deposito pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen dan

bagaimana cara mengatasinya?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui proses timbulnya perjanjian kredit dengan

jaminan deposito pada Bank Negara Indonesia 1946 Cabang

Kebumen.

b. Untuk mengetahui kedudukan deposito sebagai jaminan dalam

perjanjian Kredit.

c. Untuk mengetahui keuntungan yang di peroleh dengan di

jadikannya deposito sebagai jaminan dalam perjanjian kredit.

d. Untuk mengetahui masalah yang timbul dan cara mengatasinya

dalam pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan deposito

pada Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen.

2. Kegunaan Penelitian

a. Dengan penilitian ini di harapkan dapat memberikan masukan

dan sumbangan pemikiran bagi lembaga perbankan umumnya

dan bagi perkembangan Bank Negara Indonesia 1946 Cabang

Kebumen, khususnya dalam bidang perkreditan.

b. Memberikan sedikit sumbangan pemikiran yang telah penulis

peroleh di bangku kuliah untuk perkembangan ilmu hokum,

khususnya hokum perdata.

c. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam meraih gelar

kesarjanaan dalam bidang ilmu hukum.

D. Metodologi Penelitian

Dalam suatu penelitian untuk memperoleh data-data yang diperlukan

digunakan suatu metode penelitian, dimana metode penelitian ini dapat


ikut menunjang dalam proses penyelesaian masalah yang sedang diteliti,

Adapun metode penelitian yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis unakan dalam penelitian ini ialah jenis

penelitian deskriptif, yaitu:

“Penelitian untuk memberikan data yang seteliti mungkin


tentang manusia. Maksudnya ialah untuk mempertegas hipotesa-
hipotesa agar dapat membantu dalam memperkuat teori-teori lama
dalam menyusun kerangka teori baru.”

Metode Deskriptif ini membicarakan beberapa kemungkinan untuk

memecahkan masalah yang ada sekarangini dengan mengumpulkan,

menyusun, mengklasifikasikan serta menginterprerstasikan data yang

yang akhirnya menyimpulkan.

2. Lokasi Penelitian

Penentuan lokasi penelitian dikamsudkan untuk mempersempit ruang

lingkup penelitian, seingga orientasinya dapat dibatasi dan terarah

Dalam penelitian ini lokasi penelitian yang penulis gunakan ialah

kantor Bank Negara Indonesia Cabang Kebumen.

3. Jenis Data

a. Data Primer

Yaitu sejumlah keterangan atau fakta yang secara langsung

penulis dapatkan di lapangan mengenai pelaksanaan dari pada

perjanjian kredit dengan jaminan deposito.

b. Data Sekunder

Yaitu berupa data yang penulis dapatkan di perpustakaan, seperti:


 Literatur-literatur

 Peraturan-peraturan yang berhubungan dengan masalah

yang diteliti

 Dokumen dan arsip

 Majalah, surat kabar yang berkaitan dengan penelitian ini.

4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data

berupa :

a. Obserasi

Observasi merupakan alat pengumpul data yang digunakan untuk

mengamati gejala yang nyata.

Dalam penelitian ini penulis melakukan observasi secara

langsung pada kantor Bank Negara Indonesia 1946 Cabang

Kebumen tentang pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan

deposito.

b. Wawancara (Interview)

Wawancara ialah suatu kegiatan dimana penulis, mengadakan

tanya jawab atau wawanara secara langsung berhadapan muka

dengan pihak-pihak yang terkait pada kantor Bank Negara

Indonesia ’46 Cabang Kebumen, yang atara lain dengan Pimpinan

Bank Negara Indonesia ’46 Cabang Kebumen, Kepala Bagian


Kredit, Analisi Kredit dan beberapa nasabah pemohon kredit

dengan jaminan deposito.

c. Studi Kepustakaan

Yaitu cara mengumpulkan data yang diperlukan, dengan

membaca buku-buku literature, peraturan-peraturan yang

berhubungan dengan masalah yang diteliti, dokumen, arsip-arsip,

serta majalah, dan surat kabar yang ada hubungannya dengan

penelitian ini.

5. Analisis Data

Setelah data diperoleh melalui pengumpulan data sebagaimana

diterangkan di atas, meka penulis selanjutnya mengadakan pengolahan

data yang kemudian menganalisanya. Dalam penelitian ini penulis

menggunakan analisi data secara kualitatif.

Analisis Data Kualitatif terjadi dengan saling terjalinnya tiga

komponen utama analisis yang dilakukan secara bersamaan dalam

pengumpulan data. REduksi data dilakukan sejak proses pengumpulan

data dan bersamaan terjalin dengan dua komponen lain. Tiga

komponen tersebut masih mengalir dan masih tetap saling menjalin

pada waktu kegiatan pengumpulan data sudah berakhir, sampai

dengan proses penulisan laporan penelitian selesai.

Selain itu, tiga komponen tersebut dapat juga dilakukan dengan cara

aktivitasnya berbentuk interaksi antarkomponen dan dengan proses


pengumpulan sebagai siklus. Proses analisis semacam ini disebut

model analisis interaktif.

E. Sistematika Skripsi

Sistematika skripsi diperlukan untuk menghasilkan suatu penulisan skripsi

yang terarah dan dapat dimengerti dengan mudah. Untuk keperluan

tersebut maka penulis menguraikan pembahasan skripsi ini ke dalam bab

demi bab, dengan sistematika sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan, yang antara lain berisi tentang latar belakang

masalah, perumusan masalah, tujuan penlitian dan

kegunaannya, metode penelitian, dan sistematika skripsi.

Bab II : Dalam bab kedua ini penulis membahasa Tinjauan Pustaka,

yang isinya antara lain tinjauan umum tentang perjanjian

yaitu pengertian perjanjian, syarat sahnya perjanjian,

wanprestasi dan hapusnya perjanjian.

Juga tentang kredit yang menguraikan mengenai pengertian

kredit, unsur-unsur kredit, tujuan dan fungsi kredit serta

macam-macam kredit juga dikemukaan tentang perjanjian.

Bab III : Tinjauan Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen,

yang antara lain berisi uraian mengenai lokasi penelitian yang

meliputi pengertian bank, sejarah berdirinya, tugas dan usaha

yang dilaksanakan, perkembangannya dalam lima tahun


terakhir serta strukltur organisasi dari Bank Negara Indonesia

1946 Cabang Kebumen.

Bab IV : Dalam bab yang keempat ini diuraikan mengenai hasil

penelitian dan pembahasannya dalam pelaksanaan perjanjian

kredit dengan jaminan deposito yang meliputi prosedur

perjanjian kredit, bentuk perjanjian kredit, hak dan kewajiban

masing-masing pihak dalam perjanjian kredit, kedudukan

deposito sebagai jaminan dalam perjanian kredit, kedudukan

deposito sebagai jaminan dalam perjajian kredit, keuntungan

dengan dijadikannya deposito sebagai jamainan, berakhirnya

perjanjian kredit serta masalah yang timbul dan cara

mengatasinya.

Bab V : Penutup merupakan bab yang terakhir, yang memuat

kesimpulan dan saran yang sekiranya dapat bermanfaat untuk

pembaca.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Perjanjian

Untuk pengetahui apa yang dimaksud dengan perjanjian, kita

harus melihat ketentuan dalam Kitab tetntang perikatan yang

dilahirkan atau bersumber pada perjanjian atau persetujuan. Karena

menurut KUH Perdata perikatan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu

perikatan yang bersumber pada pernjanian (overenkomst) dan

perikatan yang bersumber dari undang-undang (wet). \

Menurut pasal; 1313 KUH Perdata yang dimaksud dengan

perjanjian ialah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih

mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Apabila ditinjau

lebihb mendalam ternyata pengertian perjanian tersebut kurang

lengkap dan terlalu luas.

Dikatakan kurang lengkap karena menyangkut sepihak saja,

yaitu satu pihak saaja yang mempunyai kewajiban berprestasi

sedangkan pihak yang tidak berprestasi, misalnya dalam hibah.

Jadi definisi itu tidak mengatur mengenai perjanjian dimana dua

pihak saling mempunyai prestasi (timbal balik). Dalam pengertian

“perbuatan” akan menyangkut pula tindakan melaksanakan tugas tanpa

kuasa dan tindakan melawan hukum.


Sedangkan dikatakan terlalu luas karena pengertian perjanjian

dalam pasal 1313 KUH perdata, mencakup pula pelangsungan

perkawinan, janji-janji kawin, dimana hal itu diatur dalam hukum

keluarga dan dikuasai oleh ketentuan-ketentuan tersendiri, sehingga

Buku III KUH Perdata tidak berlaku terhadapnya.

Untuk dapat lebih memperjelas maksud dari pengertian

perjanjian dalam pasasl 1313 KUH Perdata maka banyak ahli dalam

ilmu hukum memberikan definisi tentang perjanjian, diantaranya ialah:

a. Subekti

Beliau mengartikan perjanjian ialah suatu peristiwa dimana seorang

berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling

berjanji untuk melaksanakan suatau hal.

b. R. Seiawan

Mengertikan perjanjian sebagai suatu perbuatan hukum dimana satu

orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling meningkatkan

dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

c. Wirjono Prodjodikoro

Perjanjian ialah perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua

pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk

melakukan sesuatu hal. Atau tidak melakukan sesuatu hal, atau

tidak melakukan sesuatu hal sedang pihak lain berhak menuntut

pelaksanaan dari janji itu.


d. Achmad Ichsan

Mengertikan perjanjian yaitu suatu hubungan atas dasar hukum

kekayaan anatara dua belah pihak atau lebih, dalam mana pihak

yang lain mempunyai hak menuntut terhadap suatu prestasi.

Jadi dengan demikian perjanjian adalah sesuatu perbuatan hukum

dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling

mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.

2. Syarat Syahnya Perjanjian

Suatu perjanjian dikatakan sah menurut hukum, apabila

perjanjian tersebut telah memenuhi sayarat-syarat yang telah

ditentukan oleh undang-undang yaitu dalam ketentuan pasal 1320

KUH Perdata. Didalam pasala 1320 KUH Perdata tersebut ditentukan

empat syarat syahnya suatu perjanjian, yaitu:

a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri

b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian

c. Suatu hal tertentu

d. Suatu sebeb atau causa yang halal

Dari ke emapat syartat seperti tersebut diatas menurut A.Qirom

Syamsudin Meliala dapat dibagi dua kelompok yaitu sayarat subyektif

dan syarat obyektif. Disebut syarat seubyektif karena mengenai

subyeknya atau orang yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua

syarat yang terakhir dinamakan suatu syarat yang obyektif karena


syarat itu mengenai perjanjian sendiri oleh obyek dari perbuatan

hukum yang dilakukan itu.

Berikut ini akan penulis uraikan satu persatu mengenai syuarat

sahnya perjanjian terseubt.

a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri

Kata sepakat maksudnya adalah harus ada kemauan yang bebas

diantara pihak-pihak mengenai hal-hal pokok dari perjanjian yang

diadakan tersebut atau dengan kata lain orang diaktakan sepakat

kalua memang mengehndaki apa yang disepakati. Dengan

demikian sepakat sebenarnya merupakan pertemuan antara dua

kehendak, yaitu kehendak orang yang satu saling mengisi dengan

apa yang dikehendaki pihak lawannya.

Pasal 1321 KUH Perdata menyebutkan bahwa tiada sepakat

yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau

diperolehnya, dengan paksaan atau perjanjian. Bila keadaan itu

terjadi maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan oleh pengadilan

atas tumtutan orang yang berkepentingan.

b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian

Orang dikatakan cakap bertindak atau melakukan

perbuatan hukum apabila sudah dewasa. Menurut pasal 1330 KUH

Perdata batasan orang-orang dewasa adalah merak yang sudah

mencapai umur denap 21 tahun, atau mereka yang sudah kawin.

Sedangkan menurut 1974 tentang Perkawinan, batasan orang


dikatakan dewasa adalah mereka yang telah mencapai umur genap

18 tahun atau mereka telah lebih dulu kawin.

Adanya syarat cakap dalam suatu hal suatu perjanjian

dilihat dari rasa keadilan adalah bahwa seorang yang membuat

perjanjian itu berarti mempertaruhkan kekayaanya, maka orang

tersebut haruslah orang yang sungguh-sungguh berhak, bebas

untuk berbuat terhadap harta kekayaan, sehingga diperlukan

adanya suatu tanggung jawab.

Pasal 1330 KUH Perdata menyebutkan orang-orang yang

tidak cakap untuk membuat perjanjian yaitu:

1) Orang yang belum dewasa

Mereka yang termasuk golongan ini adalah mereka yang belum

mencapai umur 21 tahun, juga belum kawin, hal ini diatur

dalam pasal 330 KUH Perdata. Ataupun belum berumur 18

ntahun dan belum kawin seperti ynag diatur di dalam pasal 47

Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

2) Mereka yang diatur dibawah pengampuan

Dalam pasal 433 KUH Perdata menyebutkan seorang yang ditaurh

dibawah pengampuan dapat terjadi atas dasar:

- Gila (sakit ingatan)

- Dungu, mata gelap

- Lemah akal dan pemboros


3) Seorang perempuan dalam hal hal yang ditetapkan oleh

undang-undang dan semua orang kepada siapa undang-undang

telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.

Menurut KUH Perdata pasal 105 ayat 2, seorang istri harus

mendapatkan bantuan dari suaminya untuk melakukan suatu

perbuatan dari suaminya untuk melakukan suatu perbuatan

hukum. Akan tetapi dengan dikeluarkannya Undang-undang

Perkawinan No 1 tahun 1974, pada pasal 31 ayat 2 istri

termasuk golongan orang yang mampu untuk melakukan suatu

perbuatan hukum, yang anatara lain membuat suatu perjanjian.

c. Suatu hal tertentu

Prestasi suatu perjanjian harus tertentu dan dapat

ditentukan, atau sekurang-kurangnya dapat ditentukan jenisnya

karena merupakan obyek dari perjanjian.

Menurut pasal 1332 KUH Perdata, yang dapat menjadi

obyek dari perjanjian adalah barnag-barang yang dapat

diperdagangkan saja. Selanjutnya berdasarkan pasal 1334 KUH

Perdata disebutkan bahwa barang-barang yang baru akan ada di

kemudian hari dapat menjadi nobyek perjanjian, kecuali dilarang

oleh umdang-undang secara tegas.

Fungsi dari syarat suatu hal tertentu adalah untuk

menetapkan hak dan kewajiban para pihak jika timbul perselisihan

dalam pelaksanaan perjanjian itu. Apabila prestasi itu kabur maka


dianggap tidak ada obyek perjanjian. Akibatnya tidak dipenuhinya

syarat ini, perjanjian batal demi hukum.

d. Suatu sebab yang halal

Yang dimaksud dengan sebab yang halal atau causa dari

suatu perjanjian adalah istri dari pada perjanjian yang merupakan

tujuan yang hendak dicapai didalam perjanjian tersebut. Hal ini

untuk menghilangkan kemungkinan salah sangka, bahwa sebab

atau causa itu adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang

membuat perjanjian termaksud. Bukan itu yang dimaksud oleh

undang-undang dengan sebab yang hahal tersebut. Sesuatu yang

menyebabkan seseorang membuat sesuatu perjanjian atau

dorongan jiwa untuk membuat perjanjian pada asasnya tidak

diperdulikan oleh undang-undang. Hukum pada asasnya tidak

begitu menghiraukan apa yang berada dalam gagasan seorang atau

atas apa yang dicita-citakannya. Yang diperhatikan oleh undang-

undang atau hukum hanyalah tindakan seseorang dalam

masyarakat.

Bagaimana apabila syarat-syarat tersebut atau salah satu

masyarakat tidak dipenuhi, maka untuk hal ini harus

memperhatikan pembedaan antara syarat subyektif dengan syarat

obyektif.

Dalam hal ini syarat subyektif, jika syarat ini tidak

dipenuhi, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan. Pihak yang


dapat meminta pembatalan itu adalah pihak yang tidak dapat cakap

atau pihak yang memberikan sepakatnya (perizinannya) secara

tidak bebas. Jadi perjanjian yang telah dibuat mengikat juga selama

tidak dibatalkan, oleh hakim atas permintaan pihak yang berhak

meminta pembatalan itu. Dengan demikian nasib sesuatu perjanjian

seperti itu demikian nasib sesuatu perjanjian seperti itu tidaklah

pasti dan tergantung pada kesedian suatu pihak untuk mentaatinya.

Yang dapat meminta pembatalan dalam hal seorang anak

belum dewasa adalah anak itu sendiri apabila ia telah dewasa atau

orang tua ataupun oleh walinya. Dalam hal seorang yang dibawah

pengampuan oleh pengampunya. Dalam hal ini seseorang yang

telah memberikan sepakat atau perizinannya secara tidak bebas,

dilakukan orang itu sendiri. Bahaya pembatalan itu mengancam

selama lima tahun, hal ini dapat kita lihat dalam pasal 1454 KUH

Perdata, jadi dibatasi juga oleh undang-undang. Memang segala

sesuatu yang tidak tentu selalu dibatasi oleh undang-undang, demi

untuk keamanan dan ketertiban umum.

Bahaya pembatalan yang mengancam itu, dapat dihilangkan

dengan penguatan oleh orang tua, wali atau pengampu. Penguatan

yang dimiliki itu dapat terjadi secara tegas, misalnya orang tua wali

atau pengampu itu menyatakan dengan tegas.

Untuk syarat obyektif, kalua syarat-syarat itu tidak

dipenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum. Artinya dari


semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah

ada perikatan. Tujuan para pihak yang mengadakan perjanjian

tersebut untuk melahirkan , suatu perikatan hukum adalah gagal.

Dengan demikian maka tiadalah dasar untuk saling menuntut,

didepan pengadilan.

3. Wanprestasi

Dalam suatu perjanian debitur mempunyai kewajiban untuk

memenuhi prestasi, jika debitur tidak melakaksanakan kewajibannya

tersebut bukan karena keadaan memaksa maka debitur disebut

wanprestasi. Jadi yang dimaksud dengan waprestasi ialah apabila

debitur tidak melaksanakan prestasi sama sekali atau melakukan

prestasi yang keliru, atau terlambat melakukan prestasi, tetapi bukan

karena keadaan yang memaksa.

Wanprestasi seseorang debitur dapat berupa 4 (empat)

macam, yaitu :

a. Tidak melakukan apa yang disnaggupi akan dilaksanakannya.

b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana

dijanjikannya.

c. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat.

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh

dilakukannya.

Terhadap kelalaian dan kealpaan si debitur, dapat diancam

dengan beberapa sanksi atau hukuman. Hukuman atau akibat-akibat


yang tidak dikehendaki bagi debitur yang lalai ada empat macam,

yaitu sebagai berikut :

a. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dinamakan

ganti rugi.

b. Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan

perjanjian.

c. Peralihan resiko.

d. Membayar biaya perkara, kalua sampai diperkarakan di depan

hakim.

Karena wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu

penting maka harus ditetapkan lebih dahulu apakah si debitur

melakukan wanprestasi, atau lalai, dan hal itu disangkal olehnya,

maka harus dapat dibuktikannya dimuka hakim. Kadang tidak mudah

untuk mengatakan bahwa seseorang lalai atau alpa karena seringkali

tidak dijanjikan dengan tepat kapan suatu pihak diwajibkan untuk

melakukan prestasi yang dijanjikannya. Misalnya didalam hal orang

meminjam uang, sering juga tidak ditentukan, kapan uang tersebut

harus dikembalikannya.

Tentang bagaimana memperingati seorang debitur, agar jika

ia tidak memenuhi teguran itu dapat dikatakan lalai, diberikan

petunjuk oleh paal 1238 KUHPerdata yang mana pasal itu berbunyi

sebagai berikut : bahwa siberhutang lalai, bila ia dengan surat perintah

atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai atau demi
perikatannya sendiri menetapkan bahwa siberhutang, akan harus

dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

Adapun yang dimaksud dengan surat perintah seperti tersebut

di atas itu adalah suatu peringatan resmi oleh seorang juru sita

pengadilan. Perkataan akta sejenis itu sebenarnya oleh undang-undang

dimaksudkan suatu peringatan tertulis. Sekarang sudah lasim

ditafsirkan suatu peringatan atau teguran yang juga boleh dilakukan

secara lesan, asalkan cukup tegas menyatakandesakan si debitur

supaya prestasi dilakukan dengan seketika atau dalam waktu yang

singkat. Hanya sebaiknya dilakukan dengan cara tertulis dan dengan

surat tercatat. Hal ini menjaga agar dimuka hakim tidak mudah

dipungkiri oleh si debitur atau yang berutang.

Apabila seorang debitur sudah diperingatkan, atau sudah

dengan tetas ditagih janjinya, maka jika ia tetap tidak mau melakukan

preastasinya, ia dalam keadaan lalai atau lupa dan terhadap dia dapat

di perlakukan sanksi-sanksi sebagaimana di sebutkan di atas yaitu

ganti rugi, pembatalan perjanjian dan peralihan resiko.

Sanksi-sanksi tersebut diatas, dapat dijelaskan suatu persatu

seperti dibawah ini. Ganti rugi dapat diperinci dalam tiga unsur yaitu

biaya, rugi, dan bunga. Yang dimaksudkan dengan biaya ialah segala

pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata telah dikeluarkan

oleh kreditur. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah bunga ialah

kerugian yang berupa kehilangan keuntungan, yang sudah


dibayangkan atau diperhitungkan oleh kreditur. Sedangkan yang

dimaksud dengan rugi ialah kerugian, karena kerusakan barang-barang

kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian si debitur.

Dalam soal penuntutan ganti rugi oleh undang-undang

diberikan ketentuan-ketentuan tentang apa yang dap[at dimasukan

dalam ganti rugi tersebut. Boleh dikatakan ketentuan-ketentuan itu

merupakan pembatasan dari apa yang boleh dituntut sebagai suatu

ganti rugi. Dengan demikian, seorang debitur yang lalai atau alpa

masih juga dilindungi oleh undang-undang terhadap kesewenang-

wenangan dari si kreditur.

Jadi demikian ganti ruygi itu diabatasi, yang hanya meliputi

kerugian yang dapat diduga dan yang merupakan akibat langsung

daripada wanprestasi

Mengenai pembatalan perjanjian atau juga dinamakan

pemecahan perjanjian, sebagai sanksi kedua atas kelalaian seorang

debitur, mungkin ada orang yang tidak dapat melihat sufat

pembatalannya atau pemecahan tersebut sebagai suatu hkuyman.

Debitur akan meras lega dengan dibatalkannya perjanjian itu karena ia

dibebaskan dari kewajiban melakukan suatu prestasi. Memang

adakalanya pembataklan itu dirasakan sebagai suatu pembebasan..

tetapi betapa beratnya pembatalan itu dirasakan.

Pembatalan perjanjian bertujuan membawa kedua belah

pihak kembali kepada keadaan semula sebelum perjanjian diadakan.


Kalua suatu pihak menerima suatu dari pihak lain baik uang maupun

darang maka harus dikembalikan. Pokoknya perjanjian-perjanjian itu

ditiadakan.

Masalah pembatalan perjanjian kaarena kelalaian atau

wanprestasi pihak debitur ini, dalam kitabn undang-undang hukum

perdata terdapat pengaturannya yaitu dalam pasal 1226, pasl ini

terdapat didalam bagian kelima Bab I, Buku III yang mengatur

tentang perikatan.

Menurut pasl; 1267 KUH Perdata, pihak kreditur data

menuntut si debitur yang lalai itu pemenuhan pemenuhan perjanjian

atau pembatalan perjanjian disertai dengan penggantian biaya, rugi

atau bunga. Dengan sendirinya ia juga dapat menentukan pemenuhan

perjanjian disertai dengan ganti rugi. Mungkin saja ia menuntut

sesuatu ganti rugi dalam hal mana ia dianggap telah melepaskan

haknya untuk meminta pemenuhan maupun pembatalan saja.

Sebagai kesimpulan dapat ditentukan bahwa kreditur dapat

memilih antara tuntutan-tuntutan sebagai berikut:

a. Pemenuhan Perjanjian

b. Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi

c. Ganti rugi saja

d. Pembatalan Perjanjian

e. Pembatalan disertai ganti rugi


4. Hapusnya Perjanjian

Hapusnya perjanjian harus benar-benar dibedakan dengan

hapusnya perikatan, karena suatu perikatan itu dapat dihapus

sedangkan perjanjiannya yang merupakan sumbernya masih ada.

Misalnya pada perjanjian jual beli dengan dibayarnya harga maka

perikatannya mengenai pembayaran manjadi hapus, sedangkan

perjanjiannya belum hapus karena aperikatan mengenai penyerahan

barangnya belum terlaksana. Hany ajika semua perikatan-perikatan

dari pada perjanjian telah hapus seluruhnya, maka perjanjiannyapun

akan berakhir. Dalam hal ini hapusnya perjanjian sebagai akibat

hapusnya perikatan-perikatannya. Sebaliknya hapusnya perjanjian

dapat pula mengakibatkan hapusnya perikatan-perikatannya, yaitu bila

suatu perjanjian hapus dengan berlaku surut, misalnya sebagai akibat

daripada pembatalan berdasarkan wanprestasi (pasal 1266 KUH

Perdata), maka semua perikatan yang terjadi menjadi hapus. Akan

tetapi dapat juga terjadi bahwa perjanjian berakhir atau putus untuk

waktu selanjutnya jadi kewajiban-kewajiban yang telah ada tetap ada.

Suatu perjanjian dapat menjadi hapus karena :

a. Ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak. Misalnya perjanjian

akan berlaku untuk waktu tertentu.

b. Undang – undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian.

Misal menurut pasal 1066 ayat 3 KUH Perdata, bahwa para ahli
waris dapat mengadakan perjanjian untuk selama perjanjian

jangka waktu tertentu untuk tidak melakukan pemecahan harta

warisan, akan tetapi waktu perjanjian tersebut oleh pasal 1066

KUH Perdata dibatasi waktunya hanya untuk lima tahun.

c. Para pihak atau undang-undang dapat menentukan bahwa dengan

terjadinya peristiwa tertentu, maka perjanjian akan menjadi hapus.

d. Pernyataan menghentikan perjanjian (opzegging) dapat dilakukan

oleh kedua belah pihak atau oleh salah satu pihak.

e. Perjanjian hapus karena putusan hakim.

f. Tujuan daripada perjanjian telah tercapai.

g. Dengan persetujuan para pihak.

B. Kredit

1. Pengertian Kredit

Kredit berasal dari Bahasa Yunani yaitu kata credere yang artinya

kepercayaan. Jadi bila seseorang memperoleh kredit, berarti seseorang

tersebut memperoleh kepercayaan. Dengan demikian dasar kredit adalah

kepercayaan.

Pengertian kredit dari sudut ekonomi adalah suatu penundaan

pembayaran. Artinya bahwa uang dana tau barang yang diterima

sekarang akan dikembalikan untuk waktu yang akan dating.

Menurut Muchdarsyah Sinungan, arti dari kredit ialah suatu

pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain dan prestasi itu
akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu yang akan dating

disertai kontra prestasi berupa uang.

Pengertian kredit tersebut diatas mempunyai persamaan dengan

pengertian kredit dalam undang-undang pokok perbankan yaitu undang-

undang no 14 tahun 1967 yang telah disempurnakan dengan undang-

undang perbankan yang baru yaitu UU No 7 tahun 1992 tentang

perbankan, yang diuandangkan pada tanggal 25 maret 1992, dalam pasal

1 bagian 12, menyebutkan :

“Kredit ialah penyedian uang atau tagihan, yang dapat dipersamakan


dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam
meminjam antara bank dengan pihak lainyang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagaian hasil keuntungan.”

Dari pengertian kredit tersebut diatasa dapat diketahui bahwa

dalam pemberian kredit terkandung kewajiban untuk mengembalikan

pinjaman atau kredit tersebut. Kemudian berdasarkan kewajiban ini lebih

lanjut dapat disimpulkan bahwa kredit hanya dapat diberikan kepada

pihak lain (debitur) yang dipercaya mampu untuk mengembalikan kredit

dibelakang hari.

Pemberian kredit oleh bank kepada masyarakat, dilakukan dengan

sutu perjanjian kredit. Perjanjian kredit merupakan perjanjian yang

mempunyai sifat khusus tertentu., yaitu bahwa perjanjian kredit terjadi

dalam pinjaman uang, dilaksanakan anatara nasabah dengan bank atau

antara bank dengan bank sentral, dalam kata lain terjadi dalam dunia

perbankan. Dalam perjanjian kredit ditetapkan adanya jangka waktu


tertentu dan dalam jangka waktu itu dikenakan Bungan yang telah

ditentukan sebelumnya.

2. Unsur-unsur Kredit

Diatas dikatakan bahwa kredit diberikan atas dasar kepercayaan.

Dengan demikian pemberian kredit adalah pemberian kepercayaan. Hal

ini berarti bahwa prestasi yang diberikan benar-benar diyakini dapat

dikembalikan oleh penerima kredit sesuatu dengan waktu dan syarat-

syarat yang telah disetujui bersama.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka unsur-unsur dalam kredit

adalah :

a. Kepercayaan :Suatu keyakinan pemberi kredit bahwa prestasi

berupa uag, jasa dan barang yang diberikannya akan dapat benar-

benar diterimanya kembali di masa depan yang akan datang

b. Waktu : Bahwa antara pemberian prestasi dan

pengembaliannyadibatasi oleh suatu masa atau waktu trertentu.

Dalam unsur wktu ini terkandung pengertian tentang ilia agio uang

bahkwa uang sekarng lebih benilai dari pad di masa dating.

c. Degre of risk : Pemberitahuan kredit menmbulkan suatiu tingkat

resiko, dimasa tenggan merupakan masa yang abstrak. Resiko timbul

bagi pemberi kredit, karena uang/jasa/barang yang berupa predtasi

telas lepas kepada orng lain.

d. Prestasi : yang diberikan adlaah sesuatu prestasi yang dapat berupa

barang, jasa atau uang.


Dalam perkembangan perkreditan di alam modern, maka yang

dimaksudkan dengan prestasi dalam pemberian kredit adalah uang.

3. Tujuan dan Fungsi Kredit

Kredit mempunyai tujuan dan fungsi yang luas tujuan kredit yang

saling berkaitan adalah:

- Profitability , yaitu tujuan untuk memperolehhasil dari

kredit berupa keuntungan yang diperoleh dari pemungutan

bunga.

- Safety , yaitu keamanan dari prestasi, dan fasilitias

yang diberikan harus benar-benar teracpai tanpa hambatan

yang berarti.

Didalam kehidupan perekonomian, bank memegang peranan yang

sangat penting selaku lembaga keuangan yang membantu

pemerintah untuk mencapai kemakmuran. Sebagai lembaga yang

memberikan kredit, maka pengertian tentang bank dan kredit tidak

dapat dipisahkan, karena:

- Kegiatan utama dari bank ialah perkreditan.

- Keberhasilan suatu bank tergantung sebagian besar dari

usaha perkreditannya, karena sebagian besar penghasilan

bank adalah dari kegiatan-kegiatan kredit.

Fungsi kredit dalam kegiatan perekonomian, keuangan dan

perdagangan dalam garis bearnya adalah sebagai berikut:


a. Kredit dapat meningkatkan utility (dya guna) dari modal atau

uang.

Para penabung menyimpan uangnya di bank, dalam bentuk giro,

deposito ataupun tabungan. Uang tersebut dalam presentase

tertentu oleh bank ditingkatka kegunaanya untuk usaha

peningkatan produktifitas. Para pengusaha atau masyarakat

menkmati kredit dari bank untuk kegiatan usahanya.

b. Kredit meningkatkan utility (daya guna) suatu barang

Produsen dengan bantuan kredit dari bank dapat memproduksi

bahan mentah menjadi barang jadi, dan juga dapat

memindahkan barang dari suatu tempat yang kegunaannya

kurang ke tempat yang lebih bermanfaat.

c. Kredit meningkatkan peredaran lalu lintas uang

Kredit yang disalurkan via rekening-rekening Koran menciptakan

pertambahan peredaran uang giral dan sejenisnya seperti

cheque, giro, bilyet, wesel, promes, dan sebagainya. Dengan

melalui kredit, peredaran uang kartal maupun uang giral akan

lebih berkembang. Oleh karena kredit menciptakan suatu

kegairahan berusaha, sehingga penggunaan uang akan

bertambah baik.

d. Kredit menimbulkan kegairhan berusaha pada masyarakt

Masyarakat untuk memperbesar atau menngkatka kegiatabn

usahanaya memerl;ukn modal, karena itu masyarakat harus


selalu berhubunga dengan bank, sebab bank akan memberikan

kredit untuk bantuan masyarakat.

e. Kredit sebagai alat stabilitas ekonomi

Kredit yang diberikan bak mempunyai peran peting untuk menekan

arus inflasi dan untuk usaha pembangunan ekonomi. Arh kredit

haruslah selalu berpedoman pada segi pembatasan kualitatif

yaitu pengarahan kesektor-sektor prioritas yang secara

langsung berpengaruh pada hajat hidup masyarakat. Misalnya

sector pertanian, peternakan, perkebunan, industry dan lain-

lain.

f. Kredt sebagai jembatan untuk peningkatan pendapatan

Nasional

Kredit yang disalurkan kepada masyarakat, ditujukan untuk

merangsang partum,buhan kegiatn ekspor, sehinggakan

menghasilkan pertambahan devisa bagi Negara. Di samping itu

dengan makin efektifnya kegiatan swasembada kebutuhan

pokok, berarti akan terhemat devisa keungan Negara, sehingga

akan dapat diarahkan pada usaha kesejahteraan atau sector lain

yang lebih bermanfaat.

Apabila pendapatan masyarakat mengalami penngkatan maka

pendapatan Negara akan bertambah serta penggunan devisa

Negara untuk konsumsi berkurang, sehingga langsung atau

tidak, melalui kredt pendapatan nasional akan bertambah.


g. Kredit sebagai alat hubungan ekonomi internasional

Bank sebagai lembaga kredit tidak hanaya bergerak di dalam

negeri saja akan tetapi juga di luar negeri. Negara kaya yang

kuat akan ekonominya demi persahabatan antar Negara banyak

memberikn bantuan-bantuan kepada Negara berkembang yang

sedang membangun. Bantuan itu tercermn di dalam bentuk

bantuan kredit dengan syarat-syarat ringan yaitu bunga relative

rendah dan waktunya panjang.

4. Macam-macam kredit

Dari pengertian yang terkandung didalamnya pada dasarnya krdit hanya satu

macam saja. Akan tetapi untuk membedakan kredit menurut factor-faktor

dan unsur-unsur yang ada dalam pengertian, kredit maka di adakanlah

pembedaan kredit yang di bagi berdasarkan: (23)

a. Sifat penggunaannya

b. Keperluan kredit

c. Jangka waktu kredit

d. Cara pemakaian

e. Jaminannya

Pembagian kredit tersebuyt diatas juga mengingat ketentuan yang

terdapat dalam undang-undang perbankan atau formulir-formulir

perjanjian kredit yang dipergunakan dalam praktek perbankan.

a. Kredit menurut sifdast penggunaannya, dibedakan menjadi


1) Kredit konsumtif, yaitu kredit yang dopergunakan oleh

nasabah (debitur) untuk keperluan konsumsi, artinya uang

kredit habis terpakai untuk memenuhi kebutuhannya.

Misalnya untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok,

membeli alat-alat rumah tangga, biaya pesta, baiaya

pengobatan dan lain lain.

2) Kredit produktif, yaitu kredit yang ditujukan untuk

keperluan produksi dalam arti luas baik untuk mengadakan

barang-barang baru maupun untuk membiayai peredaran

barang, melalui kredit produktif inilah suatu daya guna

uang dan bang dapat terlihat nyata.

b. Kredit menurut keperluannya, dibedakan menjadi:

1) Kredit eksploitasi, yaitu kredit yang diperlukan perusahaan

untuk meningkatkan produksi baik peningkatan kuantitatif

yaitu sejumlah hasil produksi, maupun peningkatan

kualiratif yaitu peningkatan kualitas atau mutu p[roduksi.

Kredit ini digunakan juga untuk menutupi biaya-biaya

eksploitasi perusahaan secara luas berupa pembelian bahan

baku, bahan penolong dan lain-lain.

2) Kredit poerdagangan, yaitu kredit yang dipergunakan untuk

keperlkuan perdagangan umumnya. Dengan kredit ini dapat

dilakukan pemindahan barang dari suatu tempat ke tempat

lainnya, sehinggan dapat membaa peningkatan, utility of


place dari barang yang bersangkutan. Fungsi utama dari

kredit ini adalah untuk memudahkan dalam perdagangan

barng dari produsen ke konsumen. Kredit perdagangan ni

dapat terbagi dalam kredit perdagangan dalam negeri dan

kredit perdagangan luar negeri, di kenal dengan kredit

ekspor impor.

3) Kredt investasi, yaitu kredit yang digunakan untuk

penbanaman modal, untuk keperluan perbaikan atau

penambahan barang modal, besert fasilitas-fasilitas lainnya

yang berhubungan erat dengan hal ini. Misalnya untuk

membangun pabrik, membeli atau mengganti meisn-mesin

dan sebagainya. Kredit investasiini mempunyai ciri-ciri

sebagai berikut:

4) – diperlukan untuk penanaman modal

5) Mempunyai perncanaan yang terarah dan matang.

6) Waktu penyelenggaraan kredit berjangka menengah dan

panjang.

c. kredit menurut jangka waktunya, di bedakan atas;

1) kredit jangka pendek (short term credit)

Yaitu kredit yang berjangka waktu maksimum satu tahun. Dalam

kredit ini termasuk untuk tanaman musiman yang berjanghka

waktu satu tahun.

2) Kedit jangka sedang atau menengah (intermediate term credit )


Yaitu kredit yang berjangka waktu anata satu sampai lma tahun

3) Kredit jangka panjang (long term credit)

Yaitu kredit yang jangka waktunya lebih dari lima tahun.

d. Kredit menurut cara pemakaiannya dibedakan menjadi:

1) Kredit dengan uang muka (persekot)

Yaitu kredit yang penarikan nya dilakukan dengan

sekaligus, artinya maksimum kredit pada waktu

penarikannya yang pertama sepenuhnya digunakan

nasabah (debitur) untuk usahanya.

2) Kredit rekening koran

Dalam kredit ini nasabah menerima seluruh dari kreditnya

dalam rekening koran dan kepadanya diberikan

blangko cheque. Nasabah bebas melakukan penarikan

kreditnya sesuai dengan yang dibutuhkan untuk usaha

sampai batas maksimum kredit yang dibutuhkan

tersebut.

e. Kredit menurut jaminannya, dibedakan atas:

1). Kredit tanpa jaminan (unsecured loans) kredit ini disebut

juga dengan istilah kredit blangko. Sesuai dengan

namanya, kredit ini diberikan nasabah tanpa disertai

jaminan-jaminan yang dimaksud dalam kredit ini adalah

jaminan dalam bentuk fisik. Didalam kredit tanpa jaminan

(fisik), ini bukan berarti. Tanpa jaminan sama sekali,


jaminan tetap ada tetapi ditekankan pada jaminan berupa

bonafiditas dan prospek usaha dari nasabah. Jenis kredit

ini dalam perbankan di Indonesia tidak lazim digunakan,

sebab disamping mengandung resiko yang benar bagi

bank, juga tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang

ada di dalam praktek perbankan.

2). Kredit dengan jaminan (secured loans)

Yaitu kredit yang diberikan pada nasabah maupun debitur

yang diberikan pada nasabah maupun debitur yang

sanggup menyediakan jaminan yang meyakinkan pihk

bank. Jaminan yang meyakinkan ini diukur dari jumlah

jaminan itu apakah kepentingan bank akan terpenuhi

seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan. Jaminan

kredit ini dapat berupa tanah, rumah, pabrik, mesin-

mesin pabrik dan sebagainya, dapat juga kredit dijamin

dengan surat-surat berharga seperti obligasi, bilyet

deposito, tabungan, saham dan sebagainya asalkan surat

berharga tersebut nilai dan kegunaannya masih

terjamin.

C. Jaminan

Di dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata mengenai jaminan

diatur dalam pasal 1131 dan pasal 1132. Menurut pasal 1131 KUH Perdata

menyebutkan bahwa segala kebendaan siberutang baikyang bergerak maupun


yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada

dikemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatannya

perseorangan. Meskipun demikian, jaminan ini dirasakan kurang memadai

dan kurang menimbulkan rasa aman, sebab disamping kekayaan seseorang

yang berutang suatu waktu dapat habis, jaminan yang demikian menurut pasal

1131 KUH Perdata berlaku juga untuk semua kreditur. Para kreditur itu

mempunyai kepentingan yang sama tidak ada yang lebih didahulukan

pemenuhan piutangnya. Hasil penjualan dari barang-barang tersebut dibagi

bagi secara ponds-ponds gelijk seimbsang dengan piutangnya masing-masing,

dengan demikian ada kemungkinan mereka tidak mendapatkan pelunasan atas

seluruh piutangnya.

Oleh karena itu bank sebagai kreditur, akan berusaha agar uang yang

dipinjamkannya kepada nasabah dapat kembali dengan aman beserta

bunganya dan biaya-biaya yang lain. Usaha tersebut dengan mengharuskan,

adanya jaminan bagi setiap pemberian kredit.

Dalam praktek perbankan adanya jaminan dalam pemberian kredit

disyaratkan oleh suatu prinsip yaitu bahwa bank umum tidak memberikan

kredit tanpa jaminan kepada siapapun juga. Jadi jaminan disini maksudnya,

adalah jaminan yang dikhususkan untuk bank dimana pertelaan barang-

barang jaminan itu disebutkan secara terperinci.

Jaminan harus diartikan secara luas, maksudnya tidak hanya jaminan

dalam arti materiil saja, tetapi juga imateriil, yaitu mengenai watak dari

debitur, kemampuan ekonominya, jalannya perusahaan, keadaan


administrasinya dan lain-lain. Untuk jaminan dalam arti materiil dapat

berupa:

1. Jaminan orang (avalist/bortoght), yaitu atas pemberian kredit

kepada seseorang dijamin oleh orang lain dimana bila terjadi

kemacetan atas kredit itu maka orang lain itulah yang akan

menanggung resiko. Orang yang menanggung ini harus sudah

dikenal baik oleh bank dari segi bonafiditas usaha dan

pribadinya.

2. Jaminan berupa surat-surat berharga, seperti surat atau bilyet

deposito, wesel, sertifikat bank, obligasi, saham dan

sebagainya.

3. Jaminan barang-barang, dapat dilakukan baik dengan barang

bergerak maupun barang tidak bergerak. Barang-barang tidak

bergerak seperti rumah, tanah, pabrik dan sebagainya.

Sedangkan untuk barang-barang bergerak seperti kendaraan

bermotor, barang dagangan dan lain-lain.

Di dalam pemberian kredit hal yang perlu diperhatikan oleh bank

dalam penilaian jaminan atau barang agunan ialah tentang:

1. Jumlah dan nilai agunan/jaminan

2. Status pemilikan

3. Daya tahan dan marketability

4. Cara-cara pengikatannya.

Dibawah ini penulis akan menjelaskan satu persatu mengenai:


1. Jumlah dan nilai agunan

Jumlah dan nilai agunan kredit harus dapat menjamin kepentingan bank bila

terjadi sesuatu kemacetan kredit, sehingga jaminan tersebut terpaksa

dicairkan atau dikonversikan menjadi uang.

2. Status pemilikan

Mengenai status pemilikan sangat penting untuk diperhatikan. Harus dengan

jalan diketahui bahwa barang jaminan tersebut benar-benar milik si

penerima kredit. Bila jaminan atau agunan bukan milik si penerima kredit

harus ada surat juasa atau surat pernyataan dari pemilik, untuk bersedia

harta miliknya dijadikan jaminan oleh penerima kredit kepada bank.

Selain itu diperhatikan juga tentang kelengkapan bukti-bukti penilaian

berupa surat-surat yang sah dan keterangan-keterangan lain yang

meyakinkan tentang bukti atau status pemilikan surat surat jaminan.

3. Daya tahan dan marketability

Yaitu kekuatan barang jaminan untuk dijual dan dipasarkan. Bila

marketabilitynya lemah tentu nilainya akan turun terus menerus.

Jadi mengenai daya tahan dan marketability suatu barang jaminan harus

benar-benar diperhatikan bila barang tersebut akan dijadikan jaminan

dalam suatu perjanjian kredit.

4. Cara-cara pengikatannya

Barang-barang yang menjadi jaminan kredit pengikatannya harus kuat dan

benar-benar menjamin kepentingan bank, sesuai dengan hukum yang

berlaku. Bagi barang-barang bergerak pengikatannya dilakukan dengan


gadai (pands), sedangkan dengan barang tidakl bergerak pengikatan

jaminannya dilakukan dengan akta hipotik. Gadai diatur dalam Buku II,

Bab 21 KUH Perdata.

Dalam praktek perbankan, jaminan dapat dilembagakan atas jaminan

khusus yang sifatnya kebendaan yaitu hipotik, creditverband, gadai dan

fiducia. Untuk jaminan yang bersifat perorangan berwujud bortogcht

(perjanjian penanggungan), perjanjian garansi, perutangan tanggung

menanggung dan sebagainya.

Mengenai pembagian benda bergerak dan benda tidak bergerak

penting sekali dalam Hukum Perdata terutama mengenai lembaga

jaminannya. Dimana atas dasar pembedaan itu, menentukan jenis lembaga

jaminan atau pengikatan kredit yang mana dapat dipasang untuk kredit yang

akan diberikan.

Jika benda itu barang bergerak dapat dipasang lembaga jaminan yang

berbentuk gadai atau lembaga jaminan fiducia. Untuk barang tak bergerak

atau barang tetap maka sebagai lembaga jaminan dapat dipasang hipotik dan

creditverband.

Deposit yang dapat digolongkan ke dalam benda bergerak mempunyai

ikatan kredit atau lembaga jaminan yang berupa gadai. Istilah gadai yang

penulis gunakan adalah terjemahan dari pand menurut KUH Perdata. Gadai

diatur dalam Buku II Title 21 dari pasal 1150 sampai pasal 1160 Kitab

Undang Undang Hukum Perdata.


Perumusan gadai yang dikemukakan oleh J. Satrio adalah sebagai

berikut:

“Gadai adalah hak kebendaan atas barang bergerak milik orang lain, yang

khusus diperikatkan dengan maksud untuk mendapatkan hak yang

didahulukan dalam mengambil pelunasan dari barang tersebut secara

didahulukan daripada orang yang berpiutang lainnya dengan

kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang

telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang tersebut

digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.”

Perumusan gadai tersebut diatas diambil dari pasal 1150 KUH Perdata, dimana

kata gadai itu digunakan dalam arti dua yaitu untuk menunjuk kepada

bendanya yaitu benda gadai dan kepada haknya ialah hak gadai.

Sebagai lembaga jaminan maka gadai mempunyai sifat-sifat sebagai

berikut:

1. Karena merupakan suatu hak kebendaan maka gadai mempunyai sifat

selalu mengikuti bendanya (droit de suite) yang terjadi lebih dahulu

didahulukan di dalam pemenuhannya. Selain itu gadai mempunyai

kedudukan prefensi yaitu didahulukan dalam pemenuhannya melebihi

kreditur-kreditur lainnya.

2. Hak gadai bersifat accesoir

Gadai diperjanjikan dengan maksud untuk memberikan jaminan

atau suatu kewajiban prestasi tertentu. Oleh karena itu gadai merupakan

hak yang sifatnya accesoir, artinya perjanjian gadai tergantung pada


perjanjian pokoknya yaitu perjanjian kredit. Bila perjanjian kreditnya

hapus maka gadai ikut hapus dan bila perjanjian kreditnya berakhir maka

gadai berakhir juga, perjanjian gadai dapat juga batal apabila perjanjian

pokoknya dibatalkan.

3. Hak gadai bersifat memberi jaminan

Hak gadai merupakan hak kebendaan yang bersifat memberi

jaminan, menjamin pembayaran kembali dari uang jaminan itu. Akan

tetapi hak untuk menguasai barang itu tidak meliputi hak untuk

menikmati, memakai dan memungut hasil dari barang yang dipakai

sebagai jaminan.

4. Hak gadai tidak dapat dibagi-bagi

Sifat ini dapat kita ketahui dalam pasal 1160 KUH Perdata yang

menentukan tentang tidak dapat dibagi-baginya benda gadai dalam hal

kreditur meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris.

Hak gadai tidak dapat dibagi-bagi, artinya sebagai hak gadai itu

tidak menjadi hapus dengan dibayarnya sebagian dari hutangnya. Gadai

tetap meletak pada seluruh bendanya.

= Hak gadai tidak selamanya akan berjalan, gadai dapat juga

hapus oleh berbagai sebab antara lain:

1. Dengan hapusnya perikatan pokoknya yaitu perjanjian kreditnya yang

dijamin dengan gadai.

2. Dengan terlepasnya benda jaminan dari kekuasaan pemegang gadai.

Dalam hal ini pemegang gadai masih mempunyai hak untuk


menuntutnya kembali dan kalau berhasil maka undang-undang

menganggap perjanjian gadai tidak pernah hapus.

3. Dengan hapus atau musnahnya barang jaminan

4. Dengan dilepasnya benda gadai secara sukarela

5. Dengan bercampur yaitu dalam hal pemegang gadai menjadi pemilik

barang gadai tersebut.

Kalau ada penyalah gunaan benda gadai oleh pemegang gadai,

sebenarnya undang-undang tidak menyatakan dengan tegas mengenai hal

itu. Hanya di dalam pasal 1159 KUH Perdata dinyatakan bahwa pemegang

gadai mempunyai hak retensi, kecuali kalau ia menyalah gunakan benda

gadai, dalam hal mana secara a contrario dapat disimpulkan bahwa

pemberi gadai berhak untuk menuntut kembali benda jaminan. Kalau

benda jaminan keluar dari kekuasaan pemegang gadai, maka gadainya

menjadi hapus.

BAB III

TINJAUAN BANK NEGARA INDONESIA 1946

CABANG KEBUMEN

A. Pengertian Bank

Perbankan sebagai ssalah satu kekuatan ekonomi yang sangat

potensial dan sebagai suatu lembaga keunagan yang berkewajiban turut serta

menanggulangi kesulitan dibidang ekonomi, moneter serta ikut melakukan


perbaikan ekonomi rakyat, maka peran bank perlu ditingkatkan dan

dikembangkan.

Dewasa ini telah banyak para ahli dibidang perbankan yang

memberikan batasan tentang apa yang dimaksud bank tersbeut. Diantaranya

adalah Prof. GM Verrin Stuart dalam bukunya “Bank Politik:, menyebutkan :

“Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan


kebutuhan kredit baik dengan alat-alat sendiri atau uang yang
diperolehnya dari seorang lain, maupun dengan jalan peredaran alat-
alat poenukar baru yang berupa uang giral.”

Sedangkan A. Hahn mendefinisikan bank dengan memandang dari

tugasnya yaitu terletak pada pemberian pinjaman dengan cara menciptakan

pinjamandari simpanan yang dipercayakan.

Dari pengertian Bank seperti tersebut di atas ternyata para ahli

meninjaunya dari sudut pandangan yang berbeda-beda, sehngga tidak ada

keseragaman pengertian bank tersebut.

Akan tetapi dengan telah dikeluarkannya Undang-undang UU No. 07

Tahun 1992 tentang Perbankan yang mulai berlaku pada tanggal 25 Maret

1992, maka telah ada suatu pegangan yang kuat untuk memberikan

pengertian tentang Bank.

Dalam pasal 1 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Bank ialah

: Badan usaha yang dimaksud dengan bank ialah : Badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

menyalurkannya kepada masayarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup

rakyat banyak.
Dengan penjelasan dari para ahli perbankan di atas dan Undang-

undang tentanmg Perbankan No. 7 tahun 1992 tersebut, maka dapatlah

pengertian bank disimpulkan, sebagai berikut, bahwa bank merupakan suatu

lembaga keuangan yang bertujuan memberikan kredit serta jasa-jasa lain.

Adapun pemberian kredit itu dilakukan baik dengan moal sendiri atau dengan

dana-dana yang dipercayakan oleh pihak ke tiga maupun dengan jalan,

memperedarkan alat-alat pembayaran baru yang berupa uang giral.

B. Sejarah berdirinya Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen

Berdirinya Bank Negara Indonesia merupakan bagian tidak

terpisahkan dari kelahiran negara Republik Indonesia. Hal ini karena tidak

berapa lama setelah proklamasi kemerdekaan, siding dewan menteri yang

dilaksanakan pada tanggal 19 September 1945 memutuskan, untuk

mendirikan sebuah bank milik negara yang berfungsi sebagai bank sirkulasi.

Gagasan untuk pendirian Bank ini dicetuskan oleh RM. Margono

Djojohadikusuma, yang kemudian mendiskusikan dengan Drs. Moch. Hatta

yaitu Wakil Presiden pada waktu itu. Untuk mempersiapkan

pembentukannya, maka pemerintah memberikan surat kuasa kepada RM.

Margono Djojohadikusumo.

Untuk pertama kalinya didirikan di Jakarta sebuah yayasan yang

bernama Poesat bank Indonesia yang didasarkan pada akta notaris RM.

Soerojo No 14 tanggal 9 Oktober 1945. Banyak Hambatan dan tantangan


dalam rangka pembentukannya, mengingat keadaan kemanan dan ekonomi

negara belum stabil karena saat itu Indonesia baru saja merdeka.

Baru pada tanggal 5 Juli 1946 dengan berdasarkan pada perpu No 2

tahun 1946, berhasil didirikan sebuah bank sirkulasi atau Bank Sentral milik

negara yaitu Bank Negara Indonesia. Peresmian pendirian Bank tersebut

dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1946 bertempat di gedung De

Javaneceh Bank di Yogyakarta. Tujuan didirikannya Bank Negara Indoensia

pada waktu itu diatur dalam pasal 2 Keputusan tersebut di atas, yang pada

intinya mengatur pengeluaran dan peredaran uang kertas bank dan memenuhi

kredit masyarakat.

Pada tahun 1965 dengan Penpres No 17 tahun 1965, tentang Integrasi

Bank Pemerintah, terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1965, Bank BNI

berubah status menjadi Bank BNI Unit III. Tetapi pada tahun 1967 dengan

dikeluarkannya Undang-undang No 14 tentang Pokok-pokok perbankan yang

menetapkan kembalinya bank-bank pemerintah kepada fungsi semula

sebelum adanya integrase. Dengan adanya UU No 17 tahun 1968, Bank BNI

Unit III ditetapkan menjadi Bank Negara Indoensia ’46 yang fungsinya

menjadi Bank Umum milik Negara.

Bank Negara Indonesia 1946 untuk lebih memudahkan pelayanan

kepada masayarakat di seluruh pelosok tanah air, maka berusaha membuka

kantor cabang pada setip daerah Tingkat II atau kabupate, diantaranya di

Kebumen. Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen didirikan pada

tanggal 21 Desember 1964 atas prakasa, dan petunjuk dari Bapak Sungkono.
Pada saat baru berdiri Bank BNI Cabang Kebumen hanya melaksanakan

aktivitas kas saja.

Dengan perkembangan yang pesat maka pada tahun 1967, Bank BNI

46 Cabang Kebumen yang semula hanya sebagai cabang pembantu dari Bank

BNI 46 Cabang Magelangberubah menjadi Kantor Cabang Klas III, yang

dapat melaksanakan tugas sebgaaimana kantor cabang Bank Negara

Indonesia lainnya.

Bank Negara Indoensia 1946 Cabang Kebumen mulai beroperasi pada

tanggal 21 Desember 1964, dengan ijin usaha sebagai Kantor Cabang

berdasar surat keputusan BI No 12/26 Kep.DIR tanggal a9 Agustus 1964,

menempati kantor di Jalan Pahlawan No 140 Kebumen secara langsung

bertanggung jawab kepada kantor pusat Bank BNI yang berkedudukan di

Jakarta, dengan tempat usaha yang permanen dimana kantor cabang tersebut

melakukan kegiatannya.

Dengan keluarnya Undang-undang Perbankan yang baru yaitu

Undang-Undang No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan karena

perkembangan ekonomi yang cepat , dan khsusunya untuk dunia perbankan,

maka pemerintah mengharuskan kepada setiap bank milik pemerintah

merubah status badan hukumnya menjadi Perseroan (PT). Hal ini juga yang

menjadikan Bank BNI 46 Cabang Kebumen, pada tanggal 31 Juli 1992

merubah statusnya menjadi perseroan (PT). Perubahan ini dimaksudkan untuk

lebih meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat serta kemajuan dari

bank itu sendiri.


C. Tugas dan Usaha Bank Negara Indoensia 1946 Cabang Kebumen

Perbankan di Indonesia pada umumnya mempunyai fungsi utama

sebagai penghimpun dan penyalur dana kepada masyarakat, begitu halnya

dengan Bank BNI 46 Cabang Kebumen yang didirikan dengan tujuan untuk

menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan

pemerataan peningkatan kemajuan ekonomi dan stabilitas Nasional kearah

peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.

Tugas Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen sebagai salah

satu Bank milik pemerintah, adalah sebagai berikut :

1. Mengemban tugas sebagai “agen of development” adalah melaksanaakn

kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam bidang moneter atau

perbankan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan titik berat

pada sector industry.

2. Sebagai bank komersial, maka Bank Negara Indonesia harus dapat

memperoleh keuntungan agar dapat berkembang meningkatkan

kegiatannya.

Melihat undang-undang No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

terutanma Bab II pasal 5 yang mengatur jenis bank, maka Bank Negara

Indonesia 1946 Cabang Kebumen dapat dikategorikan sebagai Bank Umum.

Sebagai kantor cabang maka Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen

diperkannkan untuk menjalankan semua kegiatan dan lapangan usaha seperti

kantor pusat bank umum, serta dapat menjual produk-produk perbankan


secara lengkap. Akan tetapi dalam melakukannya usaha itu harus tetap

tunduk kepada segala ketentuan yang berlaku dan ditetapkan oleh kantor

pusat Bank BNI.

Tidak semua usaha bank umum milik pemerintah seperti dalam UU

No 7 tahun 1992 dilaksakan oleh Bank Negara Indonesia 1946 Cabang

Kebumen. Hal ini mengingat keadaan dan kondisi daerah yang tidak sama

dengan daerah lainnya, lagipula Undan-undang tersebut ditujukan untuk

mengatur semua bank atau perbankan pada umumnya artinya, dari kantor

pusat sampai kantor cabang serta kantor cabang pembantu.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh Bank Negara Indonesia 1946

Cabang Kebumen yaitu :

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang

berupa giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dana tau bentuk

lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.

2. Memberikan kredit kepada masyarakat.

3. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri,maupun untuk

kepentingan nasabah.

4. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan

dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana

telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya.

5. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga, dan melakukan

perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.


6. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat

berharga.

7. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak yang lain

berdasarkan suatu kontrak.

8. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya

dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat dalam bursa efek.

9. Melakukankegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang

tidak bertentangan dengan undang-undang ini, dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

10. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan

yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

D. Perkembangan Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen dalam

lima tahun terakhir

Dalam upaya mendukung kesinambungan dan peningkatan

pelaksanaan pembangunan, lembaga perbankan pada umumnya telah

menunjukkan perkembangan yang pesat, seiring dengan kemajuan

pembangunan Indonesia dan perkembangan ekonomi Internasional, serta

sejalan dengan peningkatan dalam tuntutan akan kebutuhan masyarakat akan

jasa perbankan untuk selalu tangguh dan kuat.

Selama lima tahun terakhir, bank-bank yang ada di Indonesia

menunjukkan adanya persaingan yang ketat, baik itu antar bank milik

pemerintah maupun bank milik swasta. Persaingan tersebut dalam perbankan


merupakan hal yang biasa karena pada prinsipnya persaingan itu selalu ada

dan akan terus berlangsung sepanjang waktu. Persaingan antar bank ini

desebabkan juga oleh adanya perkembangan ekonomi, perubahan perundang-

undangan dan peraturan pemerintah serta perkembangan bank itu sendiri.

Perubahan kebijaksanaan pemerintah pada tanggal 27 Oktober 1988

yang telah dikenal dengan pakto 27, yang pada intinya mengatur kemudahan

untuk mendirikan kantor cabang bank dan pendirian bank-bank swasta baru,

dan Bank Perkreditan rakyat (BPR), menjadikan perbankan banyak

persaingan. Dengan adanya Paktro 27 itu menuntut suatu bank untuk lebih

dinamis, artinya bank tersebut dapat menyesuaikan dengan perubahan-

perubahan ekonomi yang terjadi., karena bila bank tersebut geraknya lambat

maka akan terlambat gerakannya dan kemungkinan mengalami kebangkrutan.

Untuk menjadi bank yang dinamis tentu saja tidak mudah, karena

kedinamisan sutu bank itu merupakan sutu proses yang memakan waktu.

Kedinamisan itu merupakan sikap mental yang dipengaruhi banyak factor,

antara lain ialah management style, budaya kerja, wawasan berfikir

manajemen, dan pengeloalaan sumber daya manusia.

Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi serta adanya

kebijaksanaan dari pemerintah dibidang perbankan, sangat mempengaruhi

perkembangan Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen. Juga adanya

persaingan antar bank setelah Pakto 27 yang semakin tajam, Bank BNI

Cabang Kebumen harus selalu hati-hati dalam setiap pengambil;an keputusan.

Hal ini karena banyak yang merupakan usaha jasa., harus selalu mendapat
dukungan dari masayarakat dank kepercayaan masayarakat serta melindungi

kepentingan-kepentingannya.

Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen sebagai salah

satunya Bank milik Pemerintah yang berada di Kabupate Kebumenn harus

mampu membantu masyarakat, khususnya masyarakat Kebumen dalam

memenuhi kebutuhan dalam sector moneter, serta memberikan pelayanan

yang baik kepada nasabah dan calon nasabah. Bank ini diharapkan juga

sebagai pendukung pembangunan daerah artinya dapat membantu dalam

penyediaan dana untuk pelaksanaan pembangunan di Kebumen.

Dalam lima tahun terakhir Bank BNI Cabang Kebumen

menunjukkan perkembangan yang meningkat, dimana hal ini terlihat dari

banyaknya nasabah maupun calon nasabah yang menyimpan uangnya di bank

ini. Sedangkan bagi yang mengajukan permohonan kredit terjadi fluktuasi

artinya terjadi tidak tetap kadang terjadi kenaikan dan juga penurunan jumlah.

Terlihat juga dibidang manajemen, penggunaan teknologi modern serta

pemasaran jasa-jasa dan produk-produk Bank BNI yang baru.

Untuk lebih jelasnya perkembangan Bank BNI Cabang Kebumen

untuk kurun waktu lima tahun terakhir ini meliputi perkembangan dalam

bidang :

1. Sistem Organisasi dan Manajemen

Organisasi Bank untuk saat ini diarahkan agar mampu

menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan, masa depan dunia

perbankan yang lebih berorientasi pada kebutuhan pasar yang lebih aktif,
sistematik, berencana sehingga mampu memciptakan jasa dan pasar baru

di dalam perbankan Indonesia. Suatu organisasi yang baik tidak hanya

disusun atas beban atau sifat jenis kerja, tetapi juga adanya kesempatan

untuk mengembangkan diri dari masing-masing karyawannya.

Untuk memenuhi hal tersebut maka Bank BNI ’46 Cabang

Kebumen telah mengatur system organisasinya karyawannya atau

pegawainya dengan suatu struktur organisasi yang baik yaitu dengan

menempatkan karyawan-karywannya sesuai dengan keahlian kerja

masing-masing, membina kerja sama yang serasi antar pimpinan dan

bawahan atau antar karyawan sehinggadapat menghasilkan kerja yang

baik. Untuk lebih meningkatkan mutu karyawannya sehingga

menghasilkan tenaga manajemen perbankan yang handal, professional

serta tenaga non manajemen yang trampil, maka Bank BNI ’46 Cabang

Kebumen memberikan kesempatan kepada karywannya untuk mengikuti

training, kursus-kursus, seminar-seminar, pelatihan yang ada

hubungannya, dengan dunia perbankan sehingga dapat menunjang

kemajuan dan perkembangan bank. Disamping itu juga diadakan suatu

pengkaderan karyawan yang bertujuan untuk mempersiapkan calon

pengganti manajemen serta tenaga ahli dalam perbankan.

2. Penggunaan Teknologi Baru

Perbankan yang modern tidak lepas dengan penggunaan alat-alat

dengan teknologi yang baru. Begitu pula dengan Bank BNI ’46 Cabang

Kebumen yaitu dengan menggunakan system komputerisasi dalam


memproses data-data perbankan. Dengan computer-komputer ini akan

diperoleh data dengan cepat, aman dan dapat terjamin kebenarannya.,

sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat diberikan dengan cepat dan

baik.

3. Pengembangan Produk-produk dan Jasa-jasa Bank BNI

Dalam kedudukannya sebagai kantor cabang, maka Bank BNI ’46

Cabang Kebumendiperkenankan untuk menjual produk-produk dan jasa-

jasa Bank BNI secara lengkap. Pengembangan produk-produk dari Bank

BNI ini dengan dua macam cara yaitu menciptakan produk-produk yang

benar-benar baru serta menyempurnakan produk-prduk yang lama agar

lebih menarik sehingga menambah minat masyarakat menggunaknnya.

Produk-produk dan jasa-jasa perbankan yang telah dikeluarkan

oleh Bank BNI ’46 Cabang Kebumen diantaranya ialah :

a. Giro, yaitu simpanan uang pada bank yang penarikannya dilakukan

setiap saat dengan menggunakan cek atau alat penarikan lainnya.,

surat perintah pembayaran atau pemindah bukuan.

b. Deposito, ialah simpanan uang di bank yang dapat ditarik kembali

pada waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang disepakati

bersama.

c. Tabungan, ialah simpanan pihak ketiga kepada bank yang

pengambilannya dapat dilakukan menurut syarat-syarat yang

ditentukan.

Tabungan yang ada di BankBNI ’46 Cabang Kebumen terdiri dari :


1) Tabungan Pembangunan Nasional BNI (Tabanas); Tabungan ini

hanya diperkenankan untuk perorangan saja, perusahaan tidak

diperkenankan.

2) Tabungan Plus BNI (Taplus BNI); yaitu tabungan yang dapat

disetor dan diambil pada cabang Bank BNI yang suah

dihubungkan secara online system. Tabungan ini memberikan

Bungan secara harian.

3) Tabungan HajiIndonesia (THI); yaitu tabungan yang sifatnya

khusus untuk membantu umat islam mempersiapkan diri dalam

mengumpulkan dana baik dalam jangka waktu pendek mapun

panjang untuk pada waktunya akan digunakan untuk membayar

Ongkos Naik Haji (ONH).

d. Ongkos Naik Haji, biaya yang khusus diperuntukan bagi umat Islam

yang berniat menunaikan ibadah Haji. Besarnya ongkos naik haji

ditentukan oleh presiden atas usul Menteri Agama setelah

memperhatikan pendapat dari Menteri Agama.

e. Kiriman Uang adalah jasa bank BNI dalam mengirimkan uang dari

suatu tempat atas permintaan pihak ketiga yang ditujukan kepada

seseorang atau perusahaan di tempat lain, dengan sarana Telex atau

Teleepon.

f. Delegasi Kredit, yaitu perintah tertulis kepada bank untuk

membayarkan sejumlah uang secara berkala kepada seseorang atau

badan hukum dalam jumlah dan jangka waktu tertentu.


g. Inkaso, adalah jasa dari bank untuk membantu penagihan

surat/dokumen berharga kepada pihak ketiga ditempat lain dimana

Bank BNI mempunyai cabang.

h. Membantu dalam pembayaran Telepon.

4. Bank BNI ’46 Cabang Kebumen juga memberikan kredit kepada

masyarakat, yaitu :

a. Kredit Investasi

Yaitu kredit untuk membiayai barang modal sepertiuntuk pembelian

tanah, pembelian mesin peralatan, membiayai pembangunan

pabrik/kantor. Krdit yang sekarang diberikan ialah Kreit Investasi

Untuk Usaha Kecil.

b. Kredit Modal Kerja

Kredit yang diperlukan untuk mmbiayai modal kerja perusahaan seperti

membeli bahan baku, piutang dagang dan keperluan modal kerja

lainnya.

Macam Kredit Modal Kerja ialah :

 Kredit Usaha Kecil (KUK)

 Kredit Non KUK

c. Kredit Konsumsi

Kredit yang diperlukan untuk keperluan pembelian barang konsumsi

yang diperlukan oleh Debitur. Jenisnya yaitu :

 Kredit Pemilik Kendaraan


 Kredit Perbaikan Rumah

d. Cash Colateral Credit

Kredit khusus yang diberikan oleh Bank BNI ’46 Cabang Kebumen

kepada pemegang Deposito berjangka Bank BNI, Bank Pemerintah

lainnya, Bank Swasta atau Bank asing lainnya yang bonafidnya dan

pemegang tabungan Plus BNI.

5. Memberikan kemudahan-kemudahan dalam hal :

a. Pemberian Kredit, yaitu dengan jalan :

 Memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama yang

membutuhkan modal untuk dapat mengambiul kredit di bank

BNI.

 Meningkatkan administrasi nasabah yaitu dengan jalan

mengadministrasikan dengan baik sehingga nasabah

memperoleh kepuasan tambahan.

 Meningkatkan pelayanan kepada nasabah terutama nasabah

yang mengambil kredit. Karena pelayanan yang baik akan dapat

mengatasi persaingan antar Bank yang pada akhirnya akan

meningkatkan jumlah nasabah.

 Mengurangi birokrasi, dengan kemudahan yang ditawarkan

kepada para nasabah dan calon nasabah yang akan mengambil

kredit, maka akan banyak calon nasabah yang dating ke Bank

BNI untuk memohon kredit.

b. Peningkatan Dana
 Meningkatkan pelayanan kepada nasabah; Pada dasarnya

merupakan suatu tolak ukur bagi sukses atau tidaknya suatu

usaha. Maksudnya jika nasabah merasakan adanya system

pelayanan dengan baik, cepat dan memadai, nasabah ini pasti

akan melakukan transasksi lagi di masa-masa berikutnya di

Bank yang sama pula, sehingga perolehan dana bank akan

meningkat.

 Memberikan kemudahan dalam prosedur pembukaan atau

pengambilan rekening di Bank.

 Memperkenalkan keberadaan Bank BNI kepada masyarakat

dengan meningkatkan adverstising atau periklanan dengan cara

menyebarkan brosur-brosur, di media cetak dan melalui radio.

 Menciptakan rasa aman dan suasana kantor yang baik, bersih,

tenang sehingga nasabah akan merasa senang dalam melakukan

transaksinya.

E. Struktur Organisasi Bank Negara Indonesia 1946 Cabang Kebumen

Dalam suatu organisasi atau kantor baik itu pemerintah atau swasta,

sangatlah perlu disusun suatu struktur organisasi. Struktur Organisasi

merupakan hubungan fisik antara personil yang satu dengan yang lainnya

dalam melaksanakan fungsinya masing-masing untuk mencapai suatu bentuk


yang teratur dengan jalan kerjasama, agar dapat melaksanakan rencana yang

telah ditentukan.

Keuntungan adanya struktur organisasi yaitu memungkinkan

seseorang pimpinan mencapai hasil yang lebih banyak mencegah kekembaran

pekerjaan, adanya spesialisasi tenaga kerja, memberikan dasar untuk menilai

hasil pekerjaan dan kemungkinan-kemungkinan dari para

karyawan/pegawainya, mempercepat komuniaksi formil, serta dapat

meningkatkan ko-operasi dank o-ordinasi dari pada kegiatan kelompok.

Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh Bank BNI ’46 Cabang

Kebumen dengan mengatur karywan-karyawannya ke dalam suatu struktur

organisasi yang teratur. Ini diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan

efisiensi kerja akan dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan

lebih baik.

Struktur organisasi dari Bank BNI ’46 Cabang Kebumen dan tugas

dari masing-masing personel, adalah sebagai berikut :

1. Pemimpin Cabang

Bertugas :

 Mengelola aktivitas Bank

 Melaksanakan fungsi manajemen

 Memberikan keputusan dalam setiap kebijakan yang akan

dikeluarkan kantor cabang BNI

 Memimpin seluruh karyawan

2. Pemimpin Bidang Pelayanan Nasabah


Bertugas :

 Melayani Giro, tabungan, deposito, jasa-jasa dalam negeri dan luar

negeri.

 Melayani setoran/pengambilan tunai termasuk setoran kegiatan

eksternal payment point.

 Menyediakan informasi dan service kepada nasabah.

 Melayani pemesanan, pembelian/penjualan efek.

3. Pemimpin Bidang Operasional

Bertugas :

 Memproses administrasi transaksi cabang.

 Mengelola kredit dan pemasarannya

 Mengelola administrasi kredit

 Mengawasi kebenaran transaksi dan mengelola data keuangan

 Mengelola cek, giro dan tabungan yang lama dan yang baru.

 Mengelola transaksi deposito berjangka dalam rupiah dan valuta

asing.

 Mengelola transaksi delegasi kredit

 Membuat laporan dan statistic

 Membawahi bidang Dalam negeri dan Kliring, Kredit, Administrasi

Kredit, Akuntaansi, dan Kliring.

4. Informasi

Bertugas :

 Menyediakan informasi dan service kepada nasabah.


 Memberikan advis/penjelasan kepada nasabah mengenai keunggulan

produk dan jasa Bank BNI.

 Memberikan advis/penjelasan/melayani transaksi transfer, wesel,

inkaso dalam negeri dan luar negeri dan setoran kliring tabungan.

5. Setoran/Pengambilan

Bertugas :

 Melayani transaksi kas/tunai, dan pemindahan.

 Melayani transaksi tabungan.

 Melayanoi kegiatan penukaran valuta asing.

 Menerima setoran kegiatan payment point.

6. Kasir

Bertugas :

 Mengelola kas besar

 Menutup polis asuransi cash in transit

 Membuat laporan kas besar

 Mengelola kas ATM

7. Asisten Pemasaran Dana dan Jasa

Bertugas :

 Mempromosikan produk dan jasa Bank BNI kep[ada nasabah dan

calon nasabah non debitur.

 Membuat perencanaan dan melaksanakan program

pendekatan/pertemuan dengan nasabah/calon nasabah non debitur.


 Mempergandakan penjualan produk dan jasa Bank BNI (cross

selling).

 Mengelola dan melakukan pembelian/penjualan efek-efek di bursa

efek sesuai pemesanan nasabah.

8. Asisten Control Intern

Bertugas :

 Mengendalikan dan mengawasi proses usaha cabang secara

langsung.

 Mengadakan pemeriksaan atas ketatalaksanaan cabang (Pemeriksaan

manajemen) dan melakukan pemeriksaan khusus.

 Membantu pemimpin cabang dalam memantau realisasi rencan kerja

dan anggaran.

 Menyusul laporan aktifitas tahunan kontrol intern kepada pemipin

cabang.

9. Asisten Kredit Khusus

Bertugas :

 Mengupayakan penagihan dan penyelesaian dan perbaikan kredit

klasifikasi nasabah.

 Melakukan konsultasi dengan unit kredit.

 Membantu kantor wilayah dan kantor besar dalam upaya/tindakan

pencairan barang agunan dan penyelesesaiannya, pinjaman melalui

pengadilan negeri dan panitia urusan piutang negara (PUPN).

10. Dalam Negeri dan Kliring


Bertugas :

 Menangani penyelesaian transaksi kliring

 Membuat surat peringatan kepada nasabah penarik cek kosong dan

mengelola daftar hitam cek kososng dari bank Indonesia.

 Menangani penyelesaian transaksi transfer dalam dan luar negeri.

 Menangani transaksi jasa dalam negeri.

11. Kredit

Bertugas :

 Memberikan perencanaan dalam memasarkan kredit langsung atau

tiak langsung kepada debitur dan calon debitur.

 Mempergandakan penjualan produk serta jasa-jasa Bank BNI kepada

debitur.

 Melakukan pemantauan dalam pemberian kredit.

 Memproses permohonan kredit konsumsi dan produksi.

12. Administrasi Kredit

Bertugas :

 Memproses administrasi fasilitas kredit.

 Mengelola dan memantau portepel kredit.

 Memantau proses dalam pemberian kredit.

 Melayani dalam penerbitan jaminan bank

13. Akuntansi

Bertugas :
 Mengendalikan dan mengawasi data entries (vouchers) dan data

output EDP.

 Menangani penyelesaian bunga dan jasa, serta penalty rekening

nasabah.

 Mengendalikan/mengawasi atas transaksi yang dibukukan ke dalam

rekening nasabah rekening financial dan rekening laba.

 Menyiapkan data laporan (rekening) financial.

 Mengendalikan dan memantau dana-dana pada kantor cabang.

 Membuat laporan-laporan dari kantor cabang.

14. Umum

Bertugas :

 Mengelola masalah kepegawaian pada kantor cabang.

 Mengelola keperluan logistic kantor cabang.

 Mengelola administrasi umum kantor cabang.

 Pengamanan

15. Kantor Kas

Bertugas :

 Meningkatkan upaya pembinaan/pemeliharaan pagu pasar sector

retail atas bisnis yang mengntungkan kantor cabang.

 Meningkatkan mutu pelayanan yang unggul kepada nasabah secara

optimal.
STRUKTUR ORGANISASI

BNI 1946 CABANG KEBUMEN

Pemimpin Cabang

Kantor Kas

Pemimpin Bidang Pemimpin Bidang


Pelayaann Nasabah Operasional

Petugas Setoran/ Kasir Ass Ass Ass Dalam Kredit Adms Umum
Informasi Pemasaran Negeri & Kredit
Pengambilan Kontrol Kredit Kecil
Dana dan Kliring
Intern Khusus
Jasa

Pemimpin Cabang

Pemimpin Cabang

Pemimpin Cabang
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Prosedur perjanjian kredit

Kredit yang diberikan dengan jaminan deposito pada Bank Negara

Indonesia 1946 Cabang kebumen dikenal dengan nama Kredit Cash

Collateral. Kredit ini bagai pemegang deposito berjangka Bank BNI, Bank

pemerintah, Bank Swasta Nasioanal, dan bank Asing lainnya atau peserta

Tabungan Plus Bank BNI.

Maksud dan tujuan diberikannya kredit cash colateral ini antara lain :

1. Untuk meningkatkan pendapatan bank

2. Untuk membantu menghimpun dana

3. Membantu para deposan yang membutuhkan dana untuk keperluan

yang mendesak tanpa harus mencairkan depositonya.

Adapun prosedur perjanjian kredit dengan jaminan deposito ini yang

dilaksanakan Bank BNI’46Cabang Kebumen untuk mendapatkan fasilitas

kredit cash collateral adalah sebagai berikut :

1. Pemohon kredit mengajukan permohonan kredit kepada bagian kredit

dengan membawa :

a. Bilyet deposito

b. Tanda pengenal diri/KTP/SIM

c. Nomor Pokok Wajib Pajak/NPWP (apabila pemohon kredit

mempunyainya)

d. Surat kuasa (apabila deposito yang dijaminkan merupakan milik

orang lain dan pemilik asli dari deposito tersebut harus datang
sendiri ke kantor Bank BNI untuk mentanda tangani surat kuasa

tersebut)

e. Bila pemohon kredit adalah perusahan atau badan hukum dengan

membawa Akta Pendiriannya.

2. Petugas akan memeriksa keabsahan atau kebenaran daripada bilyet

deposito dan surat-surat lainnya, dan menjelaskan kepada pemohon

kredit mengenai :

a. Jumlah maksimum kredit yang dapat diberikan oleh Bank BNI’46

Cabang Kebumen yaitu sebesar 80% atau dapat ditingkatkan 90%

dari nilai nominal deposito.

b. Untuk pemegang deposito perorangan jumlah maksimal kredit yang

diberikan yaitu sebesar Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)

c. Besarnya bunga pinjaman di hitung secara bulanan dan atas

outstanding kredit dengan tarif bunga ditetapkan sebesar 2% di atas

tarif bunga deposito.

d. Dikenakan provisi sebesar 1% pertahun.

e. Jangka waktu kredit maksimal selama 12 bulan dan atau sampai

deposito jatuh tempo, dapat diperpanjang atau diberikan lebih

panjang dari depositonya dengan syarat deposito dapat diperpanjang

oleh Bank BNI, berdasarkan Surat Kjuasa pemegang deposito.

f. Pengikatannya yaitu dengan gadai dan bilyet deposito dikuasai oleh

Bank BNI, dengan dilengkapi Swurat Kuasa dari pemilik deposito

untuk :

1) Memindah bukukan bunga deposito


2) Memperpanjang dan memindahkan deposito ke Bank BNI pada

saat jatuh tempo.

3) Mencairkan deposito

3. Pemohon kredit tersebut kemudian didaftarkan pada bagian umum

untuk kepentingan administrasi.

4. Permohonan kredit ini selanjutnya oleh bagian kredit diserahkan kepada

analis kredit untuk dilakukan penelaahan ats permohonan kredit

tersebut.

5. Setelah analisa kredit dilakukan, maka diperiksa kembali oleh bagian

kredit untuk disetujui, lalu diserahkan kepada pemimpin cabang atau

pemimpin bidang Operasional untuk dimintakan persetujuan.

6. Pemimpin Cabang/ Pemimpin Bidang Operasional akan ambil

keputusan, apabila setuju maka keputusan tersebut diteruskan kepada

bagian kredit untuk dilaksanakan, denhgan mendudukannya dalam

suatu perjanjian kredit.

7. Perjanjian kredit tersebut selanjutnya ditanda tangani oleh pemimpin

Cabang/ Pemimpin Bidang Operasional dan pemohon kredit. Pada

waktu penandatanganan perjanjian kredit tersebut akan diikiuti dengan

penandatangan perjanjian gadai.

Bilamana deposito yang dijaminkan tersebut merupakan deposito

dari bank yang lain artinya bukan deposito pada Bank BNI’46 Cabang

Kebumen maka deposito tersebut sebelum diterima sebagai jaminan kredit

pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen harus :

a. Mendapatkan konfirmasidari bank yang bersangkutran mengenai

kebeneran dari deposito tersebut.


b. Ada kesanggupan dari debitur/ pemohon kredit untuk segera

dipiondahkan ke Bank BNI dalam hal ini BNI’46 Cabang Kebumen

setelah deposito yang dimaksud jatuh tempo.

c. Bila deposito tersebut jangka waktu kreditnya melebihi jangka waktu

depositonya maka harus dipenuhi ketentuan bahwa pada saat

deposito jatuh tempo kepada Bank BNI diberi kuasa untuk

memindahkan deposito dimaksud ke dalam Bank BNI dan

memperpanjang jatuh tempo kreditnya.

d. Untuk bunga ditentukan dengan tarif bungan komersial yang

berlaku.

B. Bentuk Perjanjian Kredit

Dipandang dari segi hukum perdata perjanjian kredit ini masuk

dalam ketentuan buku III Bab XIII KUH perdata tentang pinjam

meminjam.

Pasal 1754 KUH perdata sangant erat dengan maksud dan

pengertuan kredit dalam pasal 1 angka 12 UU No 7 tahun 1992 tentang

perbankan. Dalam pasal 1754 KUH berdata menyebutkan bahwa pinjam

meminjam adalah persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan

kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang

menghabis karena pemakaian dengan syarta bahwa pihak yang

belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan

keadan yang sama pula. Akan tetapi dalam dua ketentuan diatas tidak

dinyatakan adanya bentuk tertentu dan secara tertulis dari perjanjian

kredit. Oleh karena itu agar dapat sebagai alat bukti atau bukti tertulis dari
suatu perbuatan hukum, maka suatu keharusan bagi bank untuk membuat

suatu perjanjian secara tertulis dalam pemberian kredit pada pemohon

kredit.

Perjanjian kredit secara tertulis didasarkan pada instruksi

presidium kabinet No 15/ EKA/IN/10/1966, yang antara lain menyebutkan

dilarang melakukan pemberian kredit dalam berbagai bentuk tanpa adanya

perjanjian kredit yang jelas antara bank dengan nasabah atau antara ban

sentral dengan bank-bank lain. Juga tertuang dalam surat Bank Indonesia

yang ditujukan kepada segenap Bank Devisa No3/1093/UPK/KPD,

tangggal 29 Desember 1970, butir 4 yang berbunyi untuk pemberian kredit

tersebut harus dibuat surat perjanjian kredit.

Dalam pelaksanaannya pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen

perjanjian kredit dibuat dalam bentuk perjajian standar dimana isi dari

perjanjian kredit yang disdakan oleh pemohon kredit dengan pihak bank

tersebut telah dibakukan atau dituangkan dalam bentuk formulir perjanjian

kredit, isinya telah dipersiapkan dan ditentukan oleh pihak yang biasanya

lebih kuat kedudukannya dalam perjanjian itu.

Bank BNI’46 Cabang Kebumen telah menyediakan blangko atau

formulir perjanjian kredit dimana isinya telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Ke[pada pemohon kredit hanya dimintai persetujuannya apakah dapat

menerima syarat-syarat yang tersebut dalam perjanjian kredit atau tidak.

Formulir perjanjian kredit dengan jaminan deposito yang telah

disiapkan oleh pihak bank, terdiri dari tiga bagian yaitu bagian komparasi,

bagian isi perjanjian dan bagian penutup.

1. Bagian komparasi
Yaitu bagian dari perjanjian kredit yang menyebutkan mengenai pihak-

pihak yang mengadakan perjanjian kredit. Bagian komparasi ini

terdiri dari dua bagian yaitu komparasi untuk pihak Bank BNI’46

Cabang Kebumen dan komparasi untuk pihak pempohon kredit.

2. Bagian isi perjanjian

Merupakan bagian perjanjian kredit yang didalamnya memuat hal-hal

yang diperjanjikan oleh pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen

dengan nasabah/pemohon kredit dengan jaminan deposito,

mengenai penyediaan kredit dalam jumlah tertentu yang

merupakan plafon, dan mengenai syarat-syarat yang bertalian

dengan pemberian kredit yang bersangkutan baik mengenai jumlah

bunga n yang dibebanka, tujuan penggunaan kredit, jangka waktu

kredit, jaminan dan lain-lain.

3. Bagian penutup

Merupakan bagian perjanjian tempat dimuatnya hal-hal yang diluar

apa yang menjadi pokok perjanjian. Dalam formulir perjanjian

kredit pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen, bagian penutup

memuat pilihan tempat tinggal hukum para pihak, tempat dan

tanggal perjanjian ditanda tangani dan tanggal mulai berlakuknya

perjanjian kredit tersebut.

C. Hak Dan Kewajiban Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit


Setiap perjanjian yang dilaksanakan oleh dua orang atau lebih akan

selalu menimbulkan hak dan kewajiban kepada masing-masing pihak

tersebut. Demikian pula pada perjanjian kredit secara umum berdasar pada

perjanjian pinjam meminjam yang diatur dalam buku III bab XIII kitab

undang-undang hukum perdata.

Dalam perjanjian pinjam meminjam menurut KUH perdata tersebut, hak dan

kewajiban masing-masing pihak yaitu pihak yang meminjamkan diatur

dalam pasal 1759, 1760, 1761 dan 1762 KUH Perdata, sedangkan untuk

pihak yang meminjam diatur dalam pasal 1763 dan pasal 1764 KUH

Perdata.

Pasal 1759 menyatakan bahwa orang yang meminjamlan tidak

dapat menerima kembali apa yang yelah dipinjamkannya. Sedangkan

dalam pasal 1763 KUH Perdata dikemukakan bahwa siapa yang menerima

pinjaman sesuatu diwajibkan mengembalikannya dalam jumlah dan

keadaan yang sama pada waktu yang ditentukan.

Dari pasal tersebut diatas ternyata hanya diatur masalah kewajiban

dari pihak-pihak yang mengadakan perjanjian pinjam meminjam, sehingga

apabila dalam perjanjian kredit hanya berpedoman pada pasal-pasal

tersebut mengenai hak dan kewajiban para pihak yaitu pihak bank dan

pemohon kredit, maka kurang lengkap oleh karena itu dalam pelaksanaan

perjanjian kredit dengan jaminan deposito pada Bank BNI’46 Cabang

Kebumen, tentang hak dan kewajiban para pihak telah diatur dalam pasal-

pasal pada perjanjian kredit tersebut. Walaupun tidak dinyatakan secara

terang dan jelas hak dan kewajiban pihak bank dan pemohon kredit akan
tetapi bila ditelaah lebih lanjut, maka pasal-pasal itu mengatur hak dan

kewajiban pihak-pihak dalam perjanjian kredit.

Pasal-pasal didalam perjanijan kredit yang pengaturannya ialah

pasal 4, 5, 6, 7, 9 dan 10. Adapun secara terperinci hak dan kewajiban

tersebut adalah sebagai berikut :

1. Hak dan kewajiban Bank BNI’46 Cabang Kebumen sebegai

kreditur

a. Hak Bank

1) Menerima pelunasan kredit beserta bunga yang

telah ditetapkan dalam perjanjian kredit tersebut.

2) Menerima biaya provisi

3) Menerima denda tunggakan

4) Menerima bilyet deposito yang dijadikan jaminan

dalam perjanjian kredit ini.

5) Berhak dan mempunyai kuasa untuk sewaktu-waktu

memperpanjang atau mencairkan deposito tersebut

dan memindahkannya ke Bank BNI’46 pada saat

jatuh tempo bila kredit belum lunas, tanpa ijin lagi

atau pemberitahuan pada debitur penerima kredit.

6) Menolak penarikan kredit dan mengahkiri jangka

waktu kredit apabila menurut pertimbangan bank,

penerima kredit ternyata tidak memenuhi ketentuan

dalam perjanjian kredit.

7) Berhak dan menerima kuasa dari penerima kredit

untuk seaktu-waktu tanpa perlu ijin lagi atau


persetujuan dari penerima kredit, membebani

rekening giro dan atau rekening apapun lainnya atas

nama penerima yang ada pada Bank BNI’46 untuk

pembayaran hutang pokok, bunga kredit, bunga

tunggakan dan segala biaya atau kewajiban

pembayaran lain atau apapun dari penerima kredit

yang timbul atauberkaitan dengan ketentuan dari

perjanjian kredit.

b. Kewajiban Bank

Kewajiban dari pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen, sebagai

pemberi kredit yaitu memberikan kredit atau menyediakan

kredit selama jangka waktu yang telah ditentukan dan

ditetapkan dalam perjanjian kredit dengan jaminan deposito

2. Hak dan kewajiban penerima kredit sebagai debitur

a. Hak penerima kredit

Sebagai penerima kredit maka haknya dalam perjanjian kredit

ini adalah menerima uang pinjaman atau kredit dalam

jumlah yang telah ditetapkan dalam perjanjian itu.

b. Kewajiban penerima kredit

1) Melunasi atau membayar hutang atau kreditnya

beserta bunga yang telah ditetapkan di dalam

perjanjian kredit, tepat pada jangka waktunya.

2) Membayar biaya provisi


3) Membayar denda tunggakan

4) Menyerahkan bilyet deposito yang telah dijadikan

jaminan kredit pada Bank BNJI.

5) Menyerahkan kekuasaan pada bank untuk

memperpanjang atau mencairkan deposito tersebut

dan memindahkannya ke Bank BNI pada saat jatuh

tempo bola kredit belum lunas

6) Memberikan kuasa atas rekening dari penerima

kredit

7) Membayar semua biaya yang timbul karena dan

untuk pelaksanaan perjanjian kredit.

D. Kedudukan Deposito Sebagi Jaminan Dalam Perjanjian Kredit

Kredit yang diberikan oleh pihak bank mengandung resiko, sehingga

untuk pelaksanaannya bank harus selalu memperhatikan asas-asas

perkreditan yang sehat. Untuk mengurangi resiko tersebut, jaminan dalam

pemberian kredit dalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan

debitur penerima kredit untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang

diperjanjikan merupakan faktor yang penting harus diperhatikan oleh

pihak bank.

Dalam pasal 8 UU No & tahun 1992 tentang perbankan, masalah

pemberian kredit dengan jaminan dapat diartikan secara luas yaitu berupa

jaminan kebendaan tetapi juga dalam arti imateril yakni mengenai watak,

kemampuan ekonomi, jalannya perusahaan, prospek usaha dan keadaan


administrasi dari pihak debitur. Dimana hal-hal yang demikian akan

menjadi pertimbangan bagi pihak bank dalam memberikan kredit.

Disamping itu, dalam praktek perbankan juga berlaku prinsip

Commanditering Verband yang berarti adanya kewenangan bagi pihak

bank bahwa dengan adanya kredit tersebut bank akan ikut menanggung

resiko dari usaha debitur.

Oleh karena lembaga jaminan mempunyai tugas untuk melancarkan dan

mengamankan pemberian kredit, maka jaminan yang baik(ideal) menurut

Prof. Subekti adalah :

a. Yang dapat secara mudah membantu perolehan kredit oleh pihak

yang memerlukannya.

b. Yang tidak akan melemahkan potensi atau kekuatab si pencari

kredit untuk melakukan atau meneruskan usahanya.

c. Yang memberikan kepastian kepada sepemberi kredit dalam arti

bahwa barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi,

yaitu bila perlu dapat dituangkan untuk melunasi seluruh hutang-

hutangnya si penerima atau pengambil kredit.

30 SUBEKTI, Jaminan Untuk Pemebrian Kredit Menutur Hukum

Indonesia, alumni, bandung, 1982, hal.29

Sebenarnya dalam hukum KUH perdata telah ditegaskan adanya

jaminan secara umum, namun hal ini belum memberikan rasa aman karena

jaminan yang deberikan tidak kuat sehingga kepentingan dari kreditur

yang dalam hal ini bank, belum begitu terjamin. Pasal yang mengaturnya

yaitu pasal 1131 dan pasal 1132 KUH perdata pasal 1131KUH perdata

menyebutkan :
“ segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang
tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada
dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk disegala
perikatannya perseorangan.”

Pasal 1132 KUH perdata berbunyi :

“kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama dapatkan


penjualan benda-benda itu dibagi-bagi meniurut keseimbangan,
yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali
apabila diantara para berpiutang itu ada alasan yang sah untuk
didahulukan.”

Jaminan yang secara umum diberikan oleh KUH perdata, dirasakan

kurang cukup serta tidak begitu aman karena sselain kekayaan dari debitur

suatu waktu dapat habis, juga jaminan ini berlaku bagi semua debitur.

Sehingga kalau ada banyak kreditur ada kemungkinan beberapa orang dari

mereka itu tidak mendapat bagian. Apalagi dalam hal ini tidak dibedakan

antara kredit yang lebih dulu atau didahulukan dengan kredit yang lebih

dulu atau didahulukan dengan kredit yang terjadi kemudian. Karena itu

seringkali terjadi seorang kreditur meminta diberikan jaminan khusus yang

dapat berupa jaminan kebendaan yaitu gadai, hipotik, dan fidusia, serta

jaminan perseorangan.

Dari keterangan diarat terlihat bahwa dalam suatu perjanjian kredit

adanya jaminan sangant diperlukan sekali, baik itu untuk kepentingan

kreditur maupun kepentingan dari debitur sendiri. Oleh karena itu pad

Bank BNI’46 Cabang Kebumen apabila seorang nasabah atau debitur akan

mengajukan permohonan kredit maka pihak Bank BNI akan menanyakan

apa yang menjadi jaminan dari kredit itu.


Dalam hal ini pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen dapat menerima jaminan

berupa:

a. Jaminan orang (avalis/bortogeth)

Yaitu atas pemberian kredit pada seseorang di oleh seorang lain yang

berarti bila terdapat kemacetan atas kredit termasuk maka orang

lain itulah yang menanggung resikonya. Seorang yang bertindak

selaku penanggung harus telah dikenal dengan baik oleh bank dari

segi bonafiditas dan pribadinya.

b. Jaminan berupa surat-surat berharga

Jamunan surat-surat berharga antara lain jaminan deposito, tabungan,

sertifikat deposito dan lain-lain.

c. Jaminan barang-barang

Jaminan brupa barang dapat dilakukan baik berupa barang-barang

tetap seperti tanah, rumah, toko, maupun barang-barang dagangan

dan lain-lain.

Diatas telah disebutkan bahwa surat berharga dapat dijadikan

sebagai jaminan kredit, dimana salah satunya ialah bilyet deposito, seorang

deposan yang pada suatu waktu sangat membutuhkan uang dengan segera

padahal deposito yang dimilikinya belum jatuh tempo, maka mereka lebih

suka mengajukan permintaan kreditr pada bank dengan menjaminkan

depositonya yang belum jatuh tempo tersebut. Hal ini karena apabila

deposito belum jatuh tempo diambil maka sdeposan akan mengalami

banyak kerugian diantaranya menerima bunga sedikit bahkan bisa sama

sekali tidak mendapatkan bunga ditambah lagi membayar biaya


administrasi. Berkaitan dengan deposito yang dijadikan jaminan kredit

bank, maka jaminan ini termasuk jenis jaminan gadai, karena deposito

merupakan benda bergerak yang tidak bertubuh.

Menurut pasal 1150 KUH perdata, yang dimaksuddengan gadai

ialah:

“suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang


bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang lain atas
namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada siberipiutang
tersebut untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut, secara
didahulukan daripada orang yang melelang barang tersebut dan
biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu di gadaikan, biaya mana harus didahulukan.”

Selanjutnya didalam pasal 1151 KUH perdata menyebutkan bahwa

persetujuan gadai dibuktikan dengan segala alat yang diperbolehkan bagi

pembuktian persetujuannya pokok.

Didalam pelaksanaannya pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen,

perjanjian gadai dibuat dalam formulir perjanjian tersendiri terpisah

dengan perjanjian kreditnya. Akan tetapi perjanjian gadai ini tidak dapat

tediri sendiri, karena perjanjian gadai merupakan perjanjian kredit sebagai

perjanjian lanjutan dariperjanjian accesoir perjanjian gadai ini selalu

mengikuti dan mengabdi pada perjanjian pokok. Hal ini karena adanya,

hapusnya dan berakhirnya perjanjian gadi tergantung pada perjanjian

kreditnya.

Perjanjian kredit jaminan berupa deposito, dilakukan antara pihak

Bank BNI’46 Cabang Kebumen sebagai pemberi kredit dengan pihak

deposan sebagai penerima kredit. Perjanjian ini cukup dibuat dan

dilakukan dibawah tangan, artinya akta perjanjian dibuat tanpa perlu


dihadapan notaris atau pejabat yang berwenang seperti dalam hal jaminan

hipotik. Walaupun di buat dibawah ytangan akan tetapi kedudukan

perjanjian penjaminan ini telah dikontruksikan sebagai perjanjian yang

accesoir, menjamin kuatlembaga jaminan gadai yaitu berupa deposito bagi

keamanan pemberian kredit olah bank.

Pasal 1152 KUH perdata ada bagian yang menyebutkan bahwa hak

gadai atas benda-benda bergerak, dan atas piutang-piutang bawa diletakan

dengan membawa barangnya gadai dibawah kekuasaan si berpiutang atau

seorang pihak ketiga, tentang siapa yang telah disetujui oleh kedua belah

pihak. Dalam pelaksanaannya dengan dijadikanya deposito sebagai

jaminan maka deposito sebagai jaminan maka deposito itu berada dibawah

kekuasaan Bank BNI’46 Cabang Kebumen, sebagai pemegang gadai.

Deposan sebagai pemilik deposito tersebut akan dibatasi dengan hak

gadai yang dipunyai olek bank dimana hal ini terjadi karena adanya

perjanjian kredit yang dibuat. Kekuasaan bank atas deposito yang

dijaminkan itu hanya terbatas pada hal-hal yang tertentu saja, artinya hak

milik dari deposito yang dijaminkan atau digadaikan tetap dipegang oleh

deposan.

Pasal 1154 KUH Perdata menyatakan bahawa apabila sidebitur tidak

dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya maka diperkenankanlah si

berpiutang memiliki barang yang digadaikannya. Jadi apabila deposan

yang meminta kredit tidak dapat melunasi kewajibannya dan melakukan

wanprestasi atau juga perjanjian kredit telah lewat waktu dalam hal ini

pihak Bank BNI Cabang Kebumen sebagai pemegang gadai berwenang

untuk memulai menagih dan menguangkan deposito yang dijadikan


jaminan kredit dan kemudian mengambilnya daripada penghasilan yaitu

sejumlah yag sekiranya oleh bank berhutang padanya.

Bank juga mendapat perlindungan dari pihak ketiga yang akan

menuntut barang jaminan berupa deposito itu, dengan syarat Bank BNI’46

Cabang Kebumen didalam menerima deposito sebagai jaminan kredit

dengan suatu itikad yang baik, yaitu mengira bahwa deposan adalah

pemilik sebenarnya dari deposito itu.

E. Keuntungan Dengan Dijadikan Deposito Sebagai Jaminan Kredit

Bank sebagai lembaga keuangan adalah penghimpun dana dan

menjadi lembaga kredit. Dalam menjalankan kedua tugas pokok tersebut

dihadapkan kepada suatu kenyataan bahwa sumber operasinya adalah

masyarakat. Untuk menghimpun dana, bank harus ke masyarakat demikian

pula untuk menyalurkan kreditnya. Sebaliknya masyarakat juga

memerlukan bantuan bank akan kredit untuk mengembangkan usaha atau

mencukupi kebutuhan l;ain kepentingan dan keuntungan yang diharapkan

oleh bank maupun masyaralat tercermin dalam dua kegiatan bank yaitu :

To receve deposit (menerima dan menghimpun dana)

To make loan ( memberikan kredit)

Masyarakat sebagai penghimpun dana di bank mengharapkan

keuntungan dari uang di bank mengharapkan keuntungan dari uang yang

disimpannya misalnya bunga. Sebaliknya bank juga memperoleh

keuntungan yaitu berupa dana yang disimpan oelh masyarakat tersebut,

akan disalurkan kembali dalam bentuk kredit dimana bank akan

memperoleh bunga dari kredit itu, sedangkan masyarakat dengan adanya


kredit akan dapat mengatasi masalah permodalan maupun kepentingan

lainnya.

Suatu hal yang sangat penting bagi bank bahwa dalam perjanjian

kredit ada suatu jaminan, uang yang dipinjamkannya akan diterimanya

kembaki beserta bunganya. Meskipun dalam KUH perdata telah

ditegaskan adanya jaminan secara umum bagi kreditur atau bank yang

memberikan kredit, akan tetapiu hal ini bukanlah jaminan yang kuat

sehingga kepentingan daripada bank sebagai kreditur dbelum terjamin.

Bank akan merasa aman apabila barang jaminan dikuasai secara hukum

yang berlaku.

Seorang deposen baik itu perorangan maupun badan hukum dan

perusahaan baik yang berprofesi sebagai pengusaha atau bukan, dapat

mengajukan fasilitas kredit jaminan deposito. Dal;am memberikan fasilitas

kredit Bank BNI’46 Cabang Kebumen tidak begitu saja mengabulakan

setiap permohonan deposan yang menginginkan kredit, tetapi akan tetap

memakai pertimbangan tertentu. Bagi deposan yang berprofesi dan yang

bukan berprofesi sebagai pengusaha akan dilihat dahulu alasan atau tujuan

penggunaan kreditnya dan kemampuan deposan untuk mengembalikan

hutang pokok beserta bunganya.

Hal ini dapat dilihat dari nomor pokok wajib pakaj/NPWP. Bagi

pengusaha baik yang bergerak dibidang perdagangan ataupun produksi

dapat dilihat dari usahanya baik secara langsung atau melalui laporan

keuangannya, penyaluran keuangan, serta laporan aktipitas yang dapat

dilihat dari stok dan perkembangan usahanya.


Bank tidak membedakan antara deposan atau pemohon kredit yang

berprofesi sebagai pengusaha atau bukan pengusaha, tetapi dilihat dari

alasan penggunan kredit dan keadaan keuangan pemohon kredit untuk

mengembalikan hutang pokoknya dan bunga kredit. Keadaan keuangan

deposan ataun pemohon kredit inilah yang terpenting bagi bank, karena

pihak bank tidak ingin menderita kerugian sehingga daopat mengganggu

kelancaran kegiatannya. Meskipun telah ada jaminan yang mantap yaitu

berupa deposito yang berada dibawah kekuasaan bank yang dapat dengan

mudah dieksekusi atau diuangkan sewaktu-waktu jika deposan pemohon

kredit tidak dapat memenuhi kewajibanya, namun hal ini bukan meruapak

tujuan utama dari bank. Bagi bank yang penting ialah kredit yang

diberikan dapat membantu klelancaran usaha dari yang deposan sehingga

dapat mendatangkan keuntungan, dengan demikian deposan dapat

memenuhi kewajibannya membayar hutang pokok dan bunga.

Banyak hutang yang diperokehbaik bagi pihak Bank Negara

Indonesia 1946 Cabang Kebumen sebagai pemberi kredit maipun deposan

atau pemohon kredit dengan jaminan deposito, yaitu :

1. Bagi pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen

a. Pihak bank sebagaipemberi kredit akan merasa aman dengan

adanya jaminan deposito, karenabilyet deposito yag dijaminkan

tersebut yang asli berada ditangan bank, sehingga tidak mungkin

penerima kredit akan mengalihkannya pada orang lain.

b. Adanya prosedur yang mudah dalam pengikatan jaminan deposito,

yaitu cukup dengan perjanjian di bawah tangan saja. Ini

menguntungkan pihak bank karena tidak begitu dituntut untuk


mengekluarkan banyak pikiran, biaya dan tenaga, serta waktu

mengurus dan menilai barang jaminan karena jaminan kredit yang

berupa tanah, bangunan atau barang bergerak lainnya. Kalau

jaminan itu tanah atau barang bergerak lain bank dituntut untuk

hati-hati dalam menilai harga dan status pemilikannya serta cara

pengikatannya jaminan dengan prosedur yang sulit serta memakan

waktu yang lama serta biaya yang banyak karena jharus dengan

akta notaris. Sedang untuk barang bergerak seperti kendaraan

bermotor, barang dagangan dan lain-lain, selain bank harus hati-

hati dalam menilai harga dan status pemilikannya bankl juga akan

dapat menanggung resiko hilang, rusak dan merosot nilai dari

barang jaminan itu sehingga kerugian tidak dapat dihindarkan.

c. Bila sampai batas waktu yang ditentukan dalam perjanjian kredit

dan setelah diberi peringatan dan tambahan jangka waktu,

penerima kredit tidak dapat mengembalikan hutangnya dan bunga

maka pihak bank langsung akan mencairkan atau menguangkan

barang jaminan itu. Yaitu mulai menagih dan menguangkan

deposito tersebut, kemudian mengembalikannya dari penghasilan

bersih itu sejumlah yang sekitarnya oleh bank terhutang padanya.

Bila hasil pencairan deposito itu sisa maka diberikan kepada

penerima kredit.

d. Bank dalam menilai deposito yang dijadikan jaminan dalam

perjanjian hanya akan memeriksa keabsahannya dan dana atas

deposito tersebut. Apabila deposito benar milik debitur/ penerima

kredit kepada atau milik orang lain yang telang memberi kuasa
kepada penerima kredit dengan surat kuasa dan deposito itu ada

danany maka pemohon kredit dapat segera menerima fasilitas

kredit.

e. Bank BNI’46 Cabang Kebiumen mendapat keuntungn dari bung

kredit yang diberikannya meskipun deposito yang dijaminkannya

tetap diberi bunga.

f. Bila deposito yang dijaminkan merupakan deposito pada bank lain,

maka pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen akan minta agar

deposito ini dipindahkan ke Bank BNI, ini akan menguntungkan

pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen karena dananya akan

bertambah dan deposito itu aman.

2. Bagi pihak penerima kredit

a. Deposito yang dijadikan jaminan kredit dapat milik sendiri atau

pun deposito milik orang lain dengan ketentuan apabila deposito

yang dijaminkan milik orang lain maka deposan atau pemilik asli

dari bilyet deposito harus datang sendiri ke Bank BNI’46 Cabang

Kebumen untuk menandatangin surat kuasa, hal ini adalah untuk

pengamana yaitu bahwa deposan adalah benar-benar pemilik asli

dari deposito tersebut.

b. Prosedur perjanjian kredit yag tidak begitu sulit, sehingga dalam

waktu satu hari setelah permohonan kredit pemohon kredit sudah

dapat menikmati dan menggunakan fasilitas kreditnya.

c. Deposito dapat dijadikan sebagai jaminan pokok ataupun jaminan

tambahan.
d. Cara pengikatan jaminan cukup dibawah tangan, artinya tidak perlu

dengan akte notaris atau disahkan oleh pejabat yang berwenang

seperti halnya dalam hipotik. Sehinggga pemohon/ penerima kredit

dapat menikmati fasilitas kredit dengan mudah, cepat dan biaya

sedikit.

e. Deposan yang memohon kredit akan tetap memndapatkan bungan

dari deposito yang dijaminkan itu dimana bunga deposito itu

nantinya dapat diperhitungkan sebagai pembayaran hutang pokok

dan bunga kredit.

F. Berakhirnya Perjanjian Kredit

Setiap perjanjian pasti akan berakhir atau hapus oleh bermacam-

macam sebab, dimana dalam hukum perjanjian mengenai hapusnya atau

berakhirnya perjanjian dapat disebabkan oleh jangka waktu yang telah

ditentukan dalam perjanjian, pernyataan menghentikan perjanjian, putusan

hakim, tujuan perjanjian telas tercapai dan lain-lain.

Dalam pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan depposito

pada Bank BNI;’46 Cabang Kebumen mengenai berakhirnya perjanjian

kredit telah diatur dalam pasal-pasal dari perjanjian kredit yang telah

ditanda tangani kedua belah pihak. Hal ini dapat kita lihat pada pasal 6

yang menyebutkan bahwa jangka waktu kredit dihitung sejak tanggal

ditandatanganinya perjanjian kredit ini dan kredit harus dilunasikan paling

lambat pada hari terakhir dari jangka waktu kredit sebagaimana tersebut

dalam pasal 1 ayat 1 perjanjian kredit ini juga dalam pasal 13,

menyebutkan bahwa :
Apabila menyimpang dari jangka waktu yang telah ditentukan dalam
perjanjian kredit, bank berhak menolak penarikan kredit oleh
penerima kredit dan mengakhiri jangka waktu kredit ini sehingga
penerimaa kredit wajib membayar lunas kredit yang telah
ditariknya dalam tenggang waktu seperti yang telah ditetapkan
dalam tenggang waktu seperti yang telah ditetapkan dalam surat
pemberitahuan Bank klepada penerima kredit ternyata tidak
memenuhi ketentuan dalam perjanjian kredit ini sebagaimana
mestinya.

Melihat kedua pasal tersebut siatas, maka dapat disimpulkan

bahwa berakhirnya perjanjian kredit dengan jaminan deposito karena :

1. Jangka waktu kredit telah ditentuakan dalamn perjanjian kredit telah

selesai, dan penerima kredit telah melunasi kreditnya.

2. Adanya pernyataan pengakhiran jangka waktu kredit oleh pihak bank

secara sepihak apabila penerima kredit tidak memenuhi ketentuan-

ketentuan yang ada pada perjanjian kredit.

3. Tujuan perjanjian kredit ini telah tercapai.

G. Permasalahan Yang Timbul Dan Cara Mengatasi

Pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan deposito seperti

telah diuraikan diatas mempunyai keuntungan yang banyak, baik itu bagi

pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen sendiri maupun bagi pihak

penerima kredit. Adanya kemyudahan dalam prosedur perjanjian kredit

maupun peningkatan jaminannya serta pencairan barang jaminan,

sehiongga dalam pelaksanaannya dapat dikatakan hampir tidak ada

masalah yang menjadikan mecetnya kredit tersebut, dibandingkan dalam

perjanjian kredit dengan jaminan barang tak bergerak maupun barang

bergerak yang lain.


Hal ini karena sebelum perjanjian kredit dengan jamina deposito

ini ditanda tangani oelh pemohon kredit, maka Bank BNI’46 Cabang

Kebumen telah menjelaskan mengenai syarat-syarat dan ketentuan yang

harus dipenuhi oleh pemohon kredit dan sanksi apabila pemohon kredit

wanprestasi.

Bilamana terjadi juga pemohon kredit melakukan wanprestasi yaitu

tidak membayar atau terlambat melakukan pembayaran kreditnya, baik

kredit yang dilunasi dengan angsuran tiap bulan maupun kredit dengan

pelunasan saat jatuh tempo sesuai dengan jangka waktu yang telah

ditetapkan dalam perjanjian kredit bukan karena keadaan memaksa, maka

pihak Bank BNI’46 Cabang Kebumen akan memberi peringatan serta

melakukan penagihan kredit tersebut.

Apabila debitur yang memohon kredit tetap tidak melunasi

kreditnya maka bank akan mengambil jalan terakhir yaitu berupa

pencairan deposito yang dijadikan jaminan, tanpa persetujuan pihak

penerima/ pemohon kredit karena Bank BNI’46 Cabang Kebumen sebagai

pemegang gadai mempunyai kuasa untuk itu. Selain itu pemohon kredit

juga akan dibebani denda tunggakan.

Akan tetapi dalam pelaksanaanya di Bank BNI’46 Cabang

Kebumen hal ini belum pernah terjadi, mengingat jaminan dalam

perjanjian kredit berupa uang disimpan dibank dalam bentuk deposito.

Karena itu pada Bank BNI’46 Cabang Kebumen jaminan deposito dalam

pemberian kredit sangat disukai, sebab jaminan ini dirasakan cukup aman

dan menguntukan sehingga kemacetan kredit dapat dihindar dan kegiatan

bank dapat berjalan lancar.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah penulis mengadakan penelitian mengenai pelaksanaan

perjanjian kredit jaminan deposito pada Bank BNI ’46 Cabang Kebumen,

maka pada Bab Penutup ini penulis berusaha untuk memberikan kesimpulan

dari uraian-uraian seperti yang telah penulis kemukakan pada bab-bab

sebelumnya serta saran-saran dengan harapan dapat bermanfaat bagi pihak

yang berkepentingan serta masyarakat pada umumnya. Adapun kesimpulan

tersebut ialah :

1. Simpanan Deposito memberikan lebih banyak potensi kepada bank untuk

aktifitas perkreditan. Hal yang penting bahwa perkreditan berasal dari

simpanan deposito yang terikat, dan khususnya mengenai jangka waktu

kreditnya harus diimbangi dengan jangka waktu deposito. Oleh karena

Deposito diterima bank dari masyarakat secara terus menerus dengan


waktu yang berbeda-beda, maka simpanan deposito memberikan lebih

banyak ratio yang dapat disediakan untuk pengeluaran kredit.

2. Untuk mendapatkan fasilitas kredit dengan jaminan deposito pada Bank

BNI ’46 Cabang Kebumen, pemohon kredit harus melalui prosedur

tertentu, yaitu :

3. Perjanjian kredit ini berbentuk perjanjian standar dimana telah dibakukan

dan dituangkan dalam bentuk formulir perjanjian kredit dan isinya telah

ditentukan Bank BNI ’46 Cabang Kebumen. Perjanjian ini terdiri dari

tiga bagian yaitu Bagian Komparasi, Bagian Isi, dan Bagian Penutup.

4. Dengan berdasar pada pasal 1131 dan pasal 1132 KUHPerdata serta

pasal 8 UU No 7 tahun 1992 tentang Perbankan, maka factor jaminan

dalam setiap perjanjian kredit dirasa sangat penting baik untuk

kepentingan pemohon kredit maupun pihak bank, karena lembaga

jaminan mempunyai tugas untuk melancarkan dan mengamnkan dalam

pemberian kredit.

5. Jaminan deposito termasuk jaminan kebendaan berupa gadai, yang

dikonstruksikan dalam suatu perjanjian gadai. Perjanjian gadai

merupakan perjanjian accsoirdari perjanjian kredit sebagai perjanjian

pokok Bank BNI ’46 Cabang Kebumen meneriman deposito sebagai

jaminan kredit, sehingga mempunyai kekuasaan atas deposito sebagai

pemegang gadai. Akan tetapi hak milik dari seposito itu tetap dipegang

oleh deposan yaitu pemilik deposito tersebut.

6. Banyak kemudahan dan keuntungan yang diperoleh dalam perjanjian

kredit dengan jaminan deposito ini baik bagi pihak bank atau pemohon
kredit, sehingga jarang sekali terjadi masalah yang dapat menghambat

dalam pelaksanaan perjanjian kredit ini.

B. Saran – Saran

Sesudah mengadakan penelitian tentang pelaksanaan perjanjian kredit

dengan jaminan deposito pada Bank BNI ’46 Cabang Kebumen, maka penulis

memberikan sedikit saran yang sekiranya dapat dijadikan pertimbangan

dalam pelaksanaan perjanjian kredit untuk waktu selanjutnya. Adapun saran

dari penulis ialah :

1. Karena Deposito merupakan bentuk simpanan yang sangat

menguntungkan dapat dijadikan jaminan dalam perjanjian kredit, maka

bank harus selalu meningkatkan jumlah penyimpanan uang dalam bentuk

deposito, dengan jalan :

 Bank harus selalu membina hubungan baik dengan masyarakat.

 Memberikan bunga yang menarik pada deposito

 Memberikan penjelasan tentang manfaat dan keuntungan dari

simpanan deposito kepada masyarakat.

2. Adanya prosedur perjanjian kredit yang mudah dan pengikatan jaminan

eposito yang hanya dilakukan di bawah tangan, jangan sampai

mengurangi sikap hati-hati bank dalam memberikan kredit.

3. Masyarakat yang memohon kredit hendaknya dalam menggunakan

fasilitas kredit sesuai dengan tujuan yang dimaksud dalam perjanjian

kredit, dan dalam pelunasan kreditnya harus dilakukan dengan tepat pada

jangka waktu kreditnya.