Anda di halaman 1dari 4

Khutbah Pertama Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah

berikan pada kita. Lebih-lebih Allah memberikan tiga nikmat yang utama
yaitu nikmat Islam, kesehatan dan kecukupan. Tanpa tiga nikmat tersebut,
‫ور أَ ْنفُ َسنَا‬ َ ‫ش ُر‬ ُ ‫ْال َح ْمدَ َ هّلِلَ نَ ْستَ َعينُهُ َونَ ْستَ ْغ َف ُرهُ َونَعُوذُ بَ َه َم ْن‬ kita akan sulit beramal. Moga dengan nikmat yang kita peroleh tadi
semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala.
ُ‫َى لَهُ َوأَ ْش َهد‬ َ ‫ض َل ْل فَالَ هَاد‬ ْ ُ‫ض هل لَهُ َو َم ْن ي‬ َ ‫َّللاُ فَالَ ُم‬‫َم ْن يَ ْه َد ه‬ Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi

ُ‫سولُه‬ َ ‫َّللاُ َوأ َ ْش َهدُ أَ هن ُم َح همدًا‬ ‫أَ ْن الَ إَلَهَ َإاله ه‬


besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula pada keluarga
ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬ dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir

‫يَا أَيُّ َها الهذَينَ آ َمنُوا اتهقُوا ه‬:‫قَا َل هللاُ ت َ َعالَى فَي َكتَا َب َه ال َك َري َْم‬
َ‫َّللا‬ zaman.

‫اس اتهقُوا‬ ُ ‫َح هق تُقَاتَ َه َو َال ت َ ُموت ُ هن إَ هال َوأَ ْنت ُ ْم ُم ْس َل ُمونَ يَا أَيُّ َها النه‬ Jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah,

َ ‫َربه ُك ُم الهذَي َخلَقَ ُك ْم َم ْن نَ ْف ٍس َو‬


Ada sebuah perkataan yang disimpulkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali
‫احدَةٍ َو َخلَقَ َم ْن َها زَ ْو َج َها‬ dalam Lathaif Al-Ma’arif dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-

َ‫سا َءلُون‬ َ َ ‫َّللاَ الهذَي ت‬


‫سا ًء َواتهقُوا ه‬ َ َ‫يرا َون‬ً َ‫ث َم ْن ُه َما َر َج ًاال َكث‬ ‫َوبَ ه‬ Qur’an Al-‘Azhim dari tafsir surat Al-Lail, juga kaedah ini disampaikan oleh
ulama lainnya. Mereka berkata,
َ‫َيا أَيُّ َها الهذَين‬ ‫علَ ْي ُك ْم َر َقيبًا‬َ َ‫َّللاَ َكان‬‫ام َإ هن ه‬ َ ‫َب َه َو ْاْل َ ْر َح‬ َ َ‫ َوإَ هن َم ْن َجز‬،‫سنَةَ َب ْعدَهَا‬
‫اء‬ َ ‫سنَ َة ال َح‬
َ ‫ب ال َح‬ َ ‫َإ هن َم ْن ثَ َوا‬
‫ص َل ْح لَ ُك ْم أَ ْع َمالَ ُك ْم‬ْ ُ‫سدَيدًا ي‬ َ ‫َّللاَ َوقُولُوا قَ ْو ًال‬ ‫آ َمنُوا اتهقُوا ه‬ ‫س َيئَةَ بَ ْعدَهَا‬
‫س َيئ َ َة ال ه‬
‫ال ه‬
‫سولَهُ فَقَ ْد فَازَ فَ ْو ًزا‬ ‫َويَ ْغ َف ْر لَ ُك ْم ذُنُوبَ ُك ْم َو َم ْن يُ َطعَ ه‬
ُ ‫َّللاَ َو َر‬ “Sesungguhnya di antara balasan kebaikan adalah kebaikan
selanjutnya. Dan di antara balasan dari amalan kejelekan adalah
‫ع َظي ًما‬َ kejelekan selanjutnya.”

َ ‫اب هللاَ َوأ َ ْف‬ ْ َ‫فَإَ هن أ‬


Berarti tanda suatu amalan itu diterima adalah kalau dilanjutkan
r ‫ض ُل ال ُهدَى ُهدَى ُم َح هم ٍد‬ ُ َ‫ث َكت‬ َ ‫صدَقَ ال َح َد ْي‬ dengan kebaikan selanjutnya dan tanda suatu amalan tidak diterima

‫ع ٍة‬ َ ‫عةٌ َو ُك هل بَ ْد‬ َ ‫َوش هَر اْل ُ ُم ْو َر ُم ْحدَثَات ُ َها َو ُك هل ُم ْحدَثَ ٍة بَ ْد‬ (dinilai jelek) adalah jika dilanjutkan dengan kejelekan selanjutnya.
Untuk bulan Ramadhan, jika amalan di bulan tersebut diterima,
‫ار‬َ ‫ضالَلَ ٍة فَى النه‬ َ ‫ضالَلَةٌ َو ُك هل‬ َ berarti setelah Ramadhan diikuti dengan kebaikan. Tanda amalan tersebut
tidak diterima adalah jika setelah Ramadhan malah yang ada kejelekan
atau amalan kebaikan malah jadi hilang.
Jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah,
Jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah,
‫صالَ َة الفَ ْج َر‬ َ ‫علَى ال ُمنَا َف َقينَ َم ْن‬ َ ‫صالَة ٌ أثْقَ َل‬ َ ‫ْس‬ َ ‫َلي‬
Dari penjelasan di atas, kami akan menjelaskan suatu kenyataan. Kita
akan temukan 7 kenyataan yang menunjukkan keadaan kebanyakan kaum
muslimin setelah Ramadhan. ً ‫ َولَ ْو يَ ْعلَ ُمونَ َما فَي َه َما ْلَتَ ْو ُه َما َولَ ْو َحبْوا‬، ‫َاء‬
َ ‫َوال َعش‬
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari
Kenyataan pertama:
shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan
Malas mengerjakan shalat lima waktu, lebih-lebih lagi untuk shalat
yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan
Shubuh karena ba’da Ramadhan tidak lagi punya kebiasaan makan
mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari, no. 657).
sahur.

Kenyataan kedua:
Padahal shalat adalah suatu kewajiban yang mesti diperhatikan.
Masjid mulai sepi bahkan tidak sedikit yang tidak ada kumandang
Karena tegaknya bangunan Islam dilihat dari apakah shalat lima waktu
azan. Parahnya lagi setelah Ramadhan, ada masjid yang hanya
didirikan ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
menjadi sarang kotoran hewan (cicak, dll)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‫َّللاُ َوأ َ هن‬


‫ش َهادَ َة أَ ْن الَ إَلَهَ إَاله ه‬َ ‫علَى خ َْم ٍس‬ َ ‫اإل ْسالَ ُم‬ َ ‫ى‬َ ‫بُ َن‬ Perhatikanlah bahwa shalat berjama’ah itu sangat ditekankan sekali

‫سولُهُ َو َإقَ َام ال ه‬


bagi kaum pria. Yang buta saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap
َ‫الز َكاة‬‫اء ه‬ َ َ‫صالَةَ َو َإيت‬ ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬
َ ‫ُم َح همدًا‬ menyuruhnya berjama’ah di masjid.

َ‫ضان‬َ ‫ص ْو َم َر َم‬
َ ‫ت َو‬ َ ‫َو َحجَ ْالبَ ْي‬ Ceritanya ada seorang laki-laki buta mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid’. Kemudian pria ini
berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad meminta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi
adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan keringanan untuk shalat di rumah. Pada mulanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa
zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. sallam memberi dia keringanan. Namun, tatkala dia hendak berpaling,
Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya lagi lantas berkata,

Kalau shalat tidak ada, hancurlah bangunan Islam. Sehingga kalau ‫صالَ َة‬
‫ه َْل ت َ ْس َم ُع النَدَا َء َبال ه‬
shalat benar-benar diperhatikan berarti tegaklah bangunan Islam. “Apakah engkau mendengar azan ketika shalat?”
Terkhusus lagi shalat Shubuh jika dijaga dengan baik, maka akan Laki-laki buta tersebut menjawab, “Iya.”
terselamatkan dari sifat kemunafikan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ْ‫فَأ َ َجب‬
“Penuhilah panggilan azan tersebut.” (HR. Muslim, no. 653)
Lihatlah laki-laki yang buta saja tetap diwajibkan shalat berjama’ah.
‫ َكانَ يَقُو ُم الله ْي َل فَتَ َر َك‬، ‫ الَ تَ ُك ْن َمثْ َل فُالَ ٍن‬، َ‫َّللا‬
‫ع ْبدَ ه‬ َ ‫َيا‬
Bagaimana dengan kita dalam keadaan sehat badan dan penglihatan pun ‫ام الله ْي َل‬
َ َ‫قَي‬
masih normal?
“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si A. Dulu dia biasa
mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak
Kenyataan ketiga:
mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari, no. 1152)
Shalat malam sudah enggan, padahal di bulan Ramadhan kita
menjadi orang yang gemar shalat tarawih.
Kenyataan keempat:
Puasa sunnah sudah tidak mau dikerjakan karena merasa cukup
Harusnya setelah Ramadhan menjadi orang yang semangat terus
dengan puasa wajib di bulan Ramadhan.
menjaga shalat malam atau giat melakukan shalat tahajud (shalat malam
setelah bangun tidur).
Padahal puasa Ramadhan perlu disempurnakan dengan puasa
Coba perhatikan ada orang yang tidurnya sampai Shubuh itu tiba, ia
sunnah. Biar kekurangan yang ada pada puasa wajib bisa ditutup dengan
tidak bangun untuk shalat malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
puasa sunnah. Salah satu puasa yang bisa dilakukan adalah puasa Syawal
sallam mencelanya ketika itu dengan mengatakan,
sebanyak enam hari.
‫ان بَا َل فَى أُذُنَ ْي َه‬
ُ ‫ط‬َ ‫ش ْي‬
‫ذَ َل َك ال ه‬ Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
“Demikianlah setan telah mengincingi kedua telinganya.” (HR. An- wa sallam bersabda,
Nasa’i, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1330. Syaikh Al-Albani dalam Shahih َ‫ضانَ ث ُ هم أَتْبَعَهُ َستًّا َم ْن ش هَوا ٍل َكان‬
َ ‫ام َر َم‬ َ ‫َم ْن‬
َ ‫ص‬
At-Targib wa At-Tarhib no. 640 mengatakan bahwa hadits ini
shahih). ‫ص َي َام الده ْه َر‬
َ ‫َك‬
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari
Untungnya setan adalah makhluk ghaib yang kencingnya pun tidak di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR.
bisa kita lihat. Bayangkan jika kencing itu diwujudkan seperti kencing anak- Muslim, no. 1164)
anak kita?
Puasa ini bisa dilakukan di awal, pertengahan atau di akhir. Puasa ini
Juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela pula orang yang bisa pula dilakukan berturut-turut atau tidak. Yang penting enam hari
dahulu rajin shalat malam, namun sekarang ia meninggalkannya. tersebut dikerjakan di bulan Syawal.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, Kenyataan kelima:
Al-Qur’an ditinggalkan, dengan tidak dibaca, tidak dihafalkan atau
tidak direnungkan dan digali maknanya. Kata Ibnu Katsir, kesemuanya akan ditanya, lalu ditanya pula apa
yang dilakukan oleh pendengaran, penglihatan dan hati tersebut.
Sebagaimana perkataan Nabi yang ada dalam Al-Qur’an, Moga 7 kenyataan yang disebutkan tersebut dapat kita hindari.

َ‫ب َإ هن قَ ْو َمي ات ه َخذُوا َٰ َهذَا ْالقُ ْرآن‬


َ ‫سو ُل يَا َر‬ ‫َوقَا َل ه‬
ُ ‫الر‬ Jangan sampai amlan baik Ramadhan, malah diikuti dengan maksiat
setelah itu. Harusnya setiap amal baik diikuti dengan amal baik setelah itu.
‫ورا‬
ً ‫َم ْه ُج‬ Akhirnya kami memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa
memberikan kita petunjuk dan taufik untuk tetap beramal shalih selepas
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini
Ramadhan ini. Moga kita terhindar dari kenyataan jelek sebagaimana yang
sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqan: 30)
telah kami sebutkan di atas.
Moga amalan kita di bulan Ramadhan yaitu amalan shalat malam,
Ibnu Katsir menyatakan bahwa di antara makna ayat di atas adalah
membaca Al-Qur’an, bersedekah dan lainnya diterima oleh Allah. Moga
tidak mau mendengarkan Al-Qur’an. Dalam Zad Al-Masir karya Ibnul Jauzi
kita diberi keistiqamahan serta diberi keistimewaan untuk bertemu
di antara pendapat Ibnu ‘Abbas dan Maqatil tentang ayat di atas bahwa Al-
dengan bulan Ramadhan berikutnya.
Qur’an tidak diperhatikan dan tidak diimani lagi.
‫ َونَفَ َع ِني‬،‫آن اْلعَ ِظي ِْم‬ ِ ‫ار َك هللا ِلي َولَ ُك ْم فِى اْلقُ ْر‬ َ ‫َب‬
ُ‫َو ِإيَّا ُك ْم ِب َمافِ ْي ِه ِم ْن آيَ ِة َو ِذ ْك ِر ْال َح ِكي ِْم َوتَقَبَّ َل هللا‬
Kenyatan keenam:
Lisan, mata, dan pendengaran sulit lagi dijaga.

َّ ‫ِمنَّا َو ِم ْن ُك ْم تِالَ َوتَهُ َوإِنَّهُ ُه َو ال‬


،‫س ِم ْي ُع العَ ِل ْي ُم‬
‫َوأَقُ ْو ُل قَ ْو ِلي َهذَا فَأ ْستَ ْغ ِف ُر هللاَ ال َع ِظي َْم ِإنَّهُ ُه َو‬
Kenyataan ketujuh: َّ ‫الغَفُ ْو ُر‬
‫الر ِحيْم‬
Maksiat kembali berulang selepas Ramadhan.

Allah Ta’ala menyatakan,

َ َ‫ص َر َو ْالفُ َؤادَ ُك ُّل أُولَئَ َك َكان‬


ُ‫ع ْنه‬ َ ‫س ْم َع َو ْال َب‬
‫َإ هن ال ه‬
ً ُ ‫َم ْسئ‬
‫وال‬
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36).