Anda di halaman 1dari 19

MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan

Dosen Pengampu: Mia Zultriantisari, M.Pd

Disusun :
Fiola Flaoraenca (2015151072)
3B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KUNINGAN
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan


Rahmat Inayah serta Magfirah kepada penyusun sehingga penyusun dapat
menyelesaikan Makalah MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM
PENDIDIKAN
Adapun penulisan Makalah ini bertujuan untuk melengkapi dan memenuhi
salah satu Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan. Oleh karena itu, terselesaikannya
Makalah ini tentu saja bukan karena kemampuan penyusun semata-mata. Namun
karena adanya dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang terkait. Sehubungan
dengan hal tersebut, perlu kiranya penyusun dengan ketulusan hati mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu
persatu, yang telah membantu menyelesaikan Makalah ini.
Dalam penyusunan Makalah ini, penyusun menyadari pengetahuan dan
pengalaman penyusun masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penyusun sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak agar Makalah ini dapat
menjadi lebih baik.

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................................2
C. Tujuan Penulisan........................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................4
A. Konsep Manajemen Mutu Terpadu (MMT)...............................................4
1. Definisi Manajemen Mutu .................................................................4
2. Definisi Manajemen Mutu Taerpadu (MMT)....................................7
B. Komponen Mutu........................................................................................9
C. Manajemen Mutu Terpadu (MMT)..........................................................12
D. Manfaat Mutu Pendidikan.......................................................................13
BAB III PENUTUP................................................................................................15
A. Kesimpulan..............................................................................................15
B. Saran.........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aplikasi manajemen mutu terpadu dalam dunia industri telah lama
dilakukan dengan hasil yang memuaskan dalam meningkatkan mutu produksi
untuk memuaskan pelanggan. Industri yang menerapkan manajemen mutu
terpadu memiliki kemampuan daya saing yang tinggi dalam mengusai pasar.
Dalam perkembangan lebih lanjut, manajemen mutu terpadu telah
mulai diterapkan di dunia pendidikan oleh berbagai institusi pendidikan.
Hasilnya juga mengembirakan , yaitu institusi pendidikan yang menerapkan
manajemen mutu terpadu cenderung unggul dalam bersaing untuk
meninggakatkan mutu pendidikan dalam memuaskan pelanggan. Namun
aplikasi manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan belum
memasyarakat seperti halnya di dunia industri, apalagi masyarakat awam
pada umumnya belum tau banyak mengetahui tentang manajemen mutu
terpadu dalam dunia pendidikan.
Dewasa ini perkembangan pemikiran manajemen sekolah mengarah
pada sistem manajemen yang disebut MMT (Manajemen Mutu Terpadu).
Pada prinsipnya sistem manajemen ini adalah pengawasan menyeluruh dari
seluruh anggota organisasi (warga sekolah) terhadap kegiatan sekolah.
Penerapan MMT berarti semua warga sekolah bertanggung jawab atas
kualitas pendidikan.
Sebelum hal itu tercapai, maka semua pihak yang terlibat dalam proses
akademis, mulai dari komite sekolah, kepala sekolah, kepala tata usaha, guru,
siswa sampai dengan karyawan harus benar–benar mengerti hakekat dan
tujuan pendidikan ini. Dengan kata lain, setiap individu yang terlibat harus
memahami apa tujuan penyelenggaraan pendidikan. Tanpa pemahaman yang
menyeluruh dari individu yang terlibat, tidak mungkin akan diterapkan MMT.
Dalam ajaran MMT, lembaga pendidikan (sekolah) harus menempatkan
siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan sebagai stakeholders
yang terbesar, maka suara siswa harus disertakan dalam setiap pengambilan

1
keputusan strategis langkah organisasi sekolah. Tanpa suasana yang
demokratis manajemen tidak mampu menerapkan MMT, yang terjadi adalah
kualitas pendidikan didominasi oleh pihak–pihak tertentu yang seringkali
memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan hakekat pendidikan (Adnan
Sandy Setiawan : 2000),
Penerapan MMT berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat.
Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa
dengan guru, antara siswa dengan kepala sekolah, antara guru dan kepala
sekolah, singkatnya adalah kebebasan berpendapat dan keterbukaan antara
seluruh warga sekolah. Pentransferan ilmu tidak lagi bersifat one way
communication(komonikasi satu arah) , melainkan two way communication.
Ini berkaitan dengan budaya akademis.
Selain kebebasan berpendapat juga harus ada kebebasan informasi.
Harus ada informasi yang jelas mengenai arah organisasi sekolah, baik secara
internal organisasi maupun secara nasional. Secara internal, manajemen harus
menyediakan informasi seluas- luasnya bagi warga sekolah. Termasuk dalam
hal arah organisasi adalah progran – program, serta kondisi finansial.
Singkatnya, MMT adalah sistem menajemen yang menjunjung tinggi
efisiensi. Sistem manajemen ini sangat meminimalkan proses birokrasi.
Sistem sekolah yang birokratis akan menghambat potensi perkembangan
sekolah itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah,
diantaranya yaitu :
1. Pengertian Manajemen Mutu Taerpadu (MMT).
2. Konsep Mutu.
3. Manajemen Mutu Terpadu (MMT).
4. Manfaat mutu pendidikan

C. Tujuan Penulisan

2
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas dapat
dirumuskan beberapa tujuan penulisan, diantaranya yaitu :
1. Untuk mengetahui Pengertian Manajemen Mutu Taerpadu (MMT)
2. Untuk mengetahui konsep mutu
3. Untuk mengetahui Manajemen Mutu Terpadu (MMT).
4. Untuk mengetahui manfaat mutu pendidikan

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Manajemen Mutu Terpadu (MMT)


1. Definisi Manajemen Mutu
Sutikno (2010: 143) menjelaskan bahwa mutu secara umum bisa
diartikan sebagai keseluruhan gambaran dan karakteristik suatu produk
bekaitan dengan pemenuhan kebutuhan konsumen. Istilah mutu menurut
Juran adalah “tepat untuk dipakai” dan menegaskan bahwa dasar misi
mutu sebuah sekolah adalah “mengembangkan program dan layanan
yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat”.
Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa “tepat waktu yang dipakai lebih
tepat ditentukan oleh pemakai bukan pemberi”.
Sebagai pakar bidang mutu, Juran memiliki ide penting mengenai
mutu, yaitu produk atau jasa yang bermutu adalah produk atua jasa yang
bisa menemukan spesifikasi yang diinginkan oleh pelanggan. Untuk
mewujudkan idenya itu, Juran mengemukakan dua hal, yaitu:
a. Hukum 85/15
Hukum 85/15 yang dikemukakan Jurang mengungkapkan
bahwa 85 % masalah mutu yang dihadapi organisasi disebabkan
karena buruknya desain proses. Desain proses merupakan proses
manajemen yang dilakukan untuk mengelola organisasi, apabila
desain proses dibuat sevara benar maka dapat dikatakan bahwa mutu
telah dibuat secara benar. Desain proses sistem merupakan
manajemen.
b. Strategi Manajemen Mutu
Untuk memperbaiki manajemen dalam rangka mencapai mutu,
Juran mengembangkan suatu pendekatan yang disebut stratrgic
quality management (SQM). SQM merupakan tiga bahan proses
berdasarkan perbedaan tingkat staf. Perbedaan tingkat star ini dinilai
memberikan kontribusi yang unik bagi peningkatan mutu. Manajer
puncak memiliki pandangan strategis organisasi. Manajer madya

4
memegang peranan operasional mutu dan pengawas mutu
bertanggungjawab atas pengawasan mutu.
Beberapa pandangan Juran tentang mutu, diantaranya yaitu:
a. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir,
b. Perbaikan mutu merupakan proses yang berkesinambungan,
bukan proses sekali jalan,
c. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan seklah
dan administrator,
d. Pelatihan missal merupakan persyaratan mutu,
e. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan.
Sallis (1993) dalam Tim Dosen (2014: 295) mendefinisikan
mutu dalam dua prespektif, yaitu mutu absolute dan mutu relative.
Mutu absolute merupakan mutu dalam arti yang tidak ditawar-tawar
lagi atau bersifat mutlak. Absolute juga dapat dikatakan sebagai
suatu kondisi yang ditentukan secara sepihak, yakni oleh produsen
(jasa atau barang). Dalam pandangan absolut, mutu diartikan sebagai
ukuran yang terbaik menurut pertimbangan produsen dalam
memproduksi suatu barang atau jasa. Sedangkan mutu relative
diartikan sebagai mutu yang ditetapkan oleh selera konsumen.
Dengan demikian, suatu barang atau jasa dapat disebut bermutu oleh
seorang konsumen, tetapi belum dikatakan bermutu oleh konsumen
yang lainnya.
Pengertian mutu dalam konteks pendidikan, mengacu pada
proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan
yang bermutu, terlibat berbagai input, seperti: bahan pelajaran
(kognitif, afektif dan psikomotorik). Mutu dalam konteks hasil
pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga
pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai
tersebut dapat berupa hasil tes kemampuan akademik maupun
kemampuan potensi peserta didik lainnya seperti olahraga, seni dan

5
computer. Pendidikan disebut bermutu apabila semua input dan
proses sesuai dengan standar mutu yang diterapkan.
Visi mutu adalah terfokus pada pemenuhan kebutuhan
customer, mendrong keterlibatan total komunitas dalam program,
mengembangkan sistem pengukuan nilai tambah pendidikan,
menunjang sistem yang diperlukan staf dan siswa untuk mengelola
perubahan, serta perbaikan bekelanjutan dengan selalu beupaya
keras membuat produk pendidikan menjadi lebih baik.
Tujuan akhir dari pendidikan bermutu ialah untuk mencapai
kepuasan pelanggan atau bersesuaian dengan harapan masyarakat.
Agar pendidikan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, program
studi yang tersedia seyogyanya harus bersesuaian dengan minat
masyarakat dan selaras dengan tuntutan zaman. Para pimpinan
intuisi pendidikan sebagai meneger (Kepala Sekolah, Ketua Sekolah
Tinggi, maupun Rektor) harus mengoptimalkan mutu pendidikan
untuk memenuhi harapan pelanggan dan atau masyarakat, dengan
danya kerjasama antar berbagai komponen dalam suatu sistem
pendidikan, yaitu tujuan pendidikan, faktor pendidikan, peserta
didik, kurikulum (isi/ materi pendidikan), metode pendidikan dan
situasi lingkungan, lembaga/ intuisi pendidikan akan dapat menjadi
mutu pendidikan yang sesuai dengan harapan.
Jika mutu pendidikan ingin diperbaiki, maka perlu adanya
pemimpin professional pendidikan. Sekolah mesti belajar untuk bisa
berjalan dengan sumber daya yang sedikit. Para profesional
pendidikan harus membantu para siswa untuk mengembangkan
keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk bersaing dalam
perekonomian global.
Mutu merupakan gagasan dinamis yang sulit untuk dapat
disamakan. Di suatu sisi mutu data dipahami sebagai konsep absolut
dan pada sisi lain dapat dipahami sebagai konsep yang bersifat
relatif.

6
1) Konsep Absolut
Mutu sebagai konsep absolut memungkinkan kepala
sekolah untuk merumuskan standar maksimal, yang pada
kenyataannya akan sulit untuk direalisasikan. Dalam
pemahaman seperti ini, kepala sekolah akan berpikir bahwa
sekolah yang dipimpin harus selalu menjadi sekolah unggulan
baik bertaraf nasional maupun internasional. Mutu akan menjadi
simbol status bagi pelanggan internal maupun pelanggan
eksternal, sehingga stakeholder/pemilik akan merasa bangga dan
merasa puas, khususnya bagi orang tua peserta didik.
2) Konsep Relatif
Mutu sebagai konsep relatif, sangat mengikuti keinginan
pelanggan. Mutu ditentukan oleh spesifikasi standart yang telah
ditetapkan dan selalu disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Mutu pada kondisi sekarang belum tentu menjadi ukuran mutu
dimasa datang. Kepala sekolah harus bisa merancang kebutuhan
masa depan dengan visi dan misi sekolah yang menantang.
Untuk itu sekolah harus merumuskan program-programnya
terlebih dahulu dengan kejelasan target yang akan dicapai.
2. Definisi Manajemen Mutu Taerpadu (MMT)
Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah filosofi dan sistem untuk
pengembangan secara terus menerus (continuous improvement) terhadap
jasa atau produk untuk memenuhi kepuasan pelanggan (customer
satisfaction). Sistem pengembangan secara terus menerus dan kepuasan
pelanggan merupakan kalimat yang selalu ada dalam setiap definisi yang
dikemukakan pakar terhadap MMT. Sistem pengembangan secara terus
menerus menggambarkan bahwa MMT memiliki titik tekan pada proses
dan bekerja dengan mendasarkan pada sistem.
Tim Dosen (2014: 295) manajemen mutu terpadu merupakan
sebuah konsep yang mengaplikasikan berbagai prinsip mutu untuk
menjamin suatu produk barang/ jasa memiliki spesifikasi mutu

7
sebagaimana ditetapkan secara menyeluruh, yaitu mulai dari input,
proses, output dan outcome. Dilakukan secara berkelanjutan menunjukan
bahwa upaya mewujudkan mutu merupakan bagian kerja keseharian,
bukan sesuatu yang bersifat temporal (sewaktu-waktu). Dalam konteks
outcome (dampak) dikenal istilah layanan purna jual. Dalam dunia
pendidikan, layanan purna jual ini terkait dengan keterlibatan alumni
dalam pengelolaan dan pengembangan sekolah. Semua komponen sistem
organisasi diposisikan sebagai bagian untuk menjamin mutu dan
disiergikan melalui kepemimpinan mutu.
(Tenner dan De Toro,1992) dalam Sa’ud (2004: 5) Manajemen
mutu merupakan satu cara dalam mengelola suatu organisasi yang
bersifat komprehensif dan terintegrasi.
Manajemen mutu diarahkan dalam rangka:
a. Memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten, dan
b. Mencapai peningkatan secara terus menerus dalam setiap aspek
aktivitas organisasi
Sasaran yang dituju dari manajemen mutu adalah meningkatkan
mutu pekerjaan, memperbaiki produktifitas dan efesiensi melalui
perbaikan kinerja dan peningkatan mutu kerja agar menghasilkan produk
yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen. Jadi, manajemen
mutu bukanlah seperangkat prosedur proses untuk memperbaiki kinerja
dan meningkatkan mutu kerja. Dapat pula dikatakan bahwa hakekat
manajemen mutu adalah suatu sistem manajemen yang secara terus
menerus mengusahakan dan diarahkan untuk meningkatkan kepuasan
konsumen dengan biaya murah. Murahnya biaya, itu karena produk yang
dihasilkan bermutu dan bebas dari memperkecil kegagalan yang
TQM/Serang/25 Maret 2004 6 mengakibatkan kerugian, sehingga
perbandingan antara output dan input menjadi tinggi.
Dalam bidang pendidikan, manajemen mutu merupakan cara dalam
mengatur semua sumber daya pendidikan, yang diarahkan agar semua
orang yang terlibat didalamnya melaksanakan tugas dengan penuh

8
semangat dan berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan
sehingga menghasilkan jasa yang sesuai atau melebihi kebutuhan
konsumen. Keberhasilan beberapa konsep manajemen mutu dalam
bidang industri telah menyebabkan banyak pengelola organisasi,
termasuk organisasi pendidikan untuk menerapkan konsep dan prinsip-
prinsipnya, dengan modifikasi sesuai dengan kepentingan. Selain dalam
bidang pendidikanpun, dalam penerapannya memerlukan berbagai
perubahan.

B. Komponen Mutu
Komponen-komponen mutu nerupakan bagian-bagian yang harus ada
dalam upaya untuk mewujudkan mutu. Bagian-bagian ini merupakan
pendukung dan menjadi prasyarat dimilikinya mutu, beberapa komponen
mutu yang dimaksud adalah:
a. Kepemimpinan yang berorientasi pada mutu
Manajer puncak harus mengarahkan upaya pencapaian tujuan
secara terpadu dengan memberikan, menggunakan alat dan bahan yang
komunikatif, menggunakan data dan mengidentifikasi orang-orang
(SDM). Dalam implementasi TQM sebagai kunci proses manajemen,
manajer puncak berperan sebagai penasihat, guru dan pimpinan.
Pimpinan suatu organisasi harus sepenuhnya menghayati implikasi
manajemen dan semua perilakunya terhadap produktivitas organisasi,
bahan terhadap respon pesaing.
Kenyataan ini harus menyadarkan manajer puncak untuk mengakui
bahwa mereka harus mengembangkan manajemen secara partisipatif,
baik visi dan misi mereka maupun proses manajemen yang dapat mereka
pergunakan untuk mencapai keduanya. Pimpinan harus mengerti bahwa
TQM adalah suatu proses yang harus bersinergi yang terdiri dari prinsip-
prinsip dan komponen-komponen pendukung yang harus dikelola agar
mencapai perbaikan mutu secara berkesinambungan sebagai kunci
keunggulan bersaing.

9
b. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
Perwujudan mutu didasarkan pada keterampilan setiap pegawai
dalam merencanakan, mengorganisasikan, membuat, mengevaluasi, dan
mengembangkan barang/ jasa sebagaimana tuntutan pelanggan.
Pemahaman dan keterampilan pegawai menjadi kunci untuk mewujudkan
hal tersebut melalui aplikasi pemahaman dan kemampuan.
Perkembangan tuntutan pelanggan inilah yang terus berkembang dan
harus direspon positif oleh manajer puncak melalui penyiapan SDM/
pegawai yang kompeten dalam bidangnya.
Dinamisasi tuntutan mengharuskan di ubahnya kemampuan
pegawai secara terus menerus. Bahkan investasi terbesar haruslah pada
SDM organisasi. Diklat terkait dengan keterampilan pokok dan
keterampilan pendukung kedua-duanya menjadi utama dalam
membentuk pegawai yang kompeten. Keterbatasan implementai diklat
memungkinkan untuk memilih pada keterampilan inti, sedangkan untuk
keterampilan pendukung dikembangkan melalui proses kepemimpinan.
c. Struktur Pendukung
Manajer puncak akan memerlukan dukungan untuk melakukan
perubahan yang dianggap perlu dalam melaksanakan strategi pencapaian
mutu. Dukungan semacam ini mungkin diperoleh dari luar melalui
konsuktan atau tim mutu, tetapi akan lebih baik kalau diperoleh dari
dalam manajemen puncak untuk mengartikan konsep mengenai mutu
melalui jaringan dengan manajert mutu dibagian lain dalam organisasi
dan membantu sebagai narasumber mengenal topik-topik yang
berhubungan dengan mutu bagi manajer puncak.
d. Komunikasi
Komunikasi dalam suatu organisasi yang berorientasi mutu perlu
ditempuh dengan cara yang bervariasi agar pesan yang dikomunikasikan
dapat tersampaikan secara efektif dan manajer puncak dapat
berkomunikasi kepada seluruh pegawai mengnal suatu komitmen yang
sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan dalam usaha peningkatan

10
mutu. Secara ideal manajer harus bertemu secara pribadi dengan para
pegawai untuk menyampaikan informasi, memberikan pengarahan dan
menjawab pertanyaan dari setiap pegawai. Namun demikian, jika
pegawai/ anggota berjumlah sangat banyak maka penyampaian mengenai
komitmen organisasi terhadap mutu harus disampaikan secara terus
menerus dan konsisten.
e. Ganjaran dan Pengakuan
Tim atau individu yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip mutu
dalam proses mutu harus diakui dan diberi ganjaran sebagaimana
kemampuan organisasi, sehingga pegawai lainnya sebagai anggota
organisasi akan mengetahui apa yang diharapkan. Kegagalan dalam
megenali seseorang yang mencapai sukses akan memberikankesan bahwa
ini bukan arah menuju pekerjaan yang sukses, dan memungkinkan
promosi atau sukses individu secara menyeluruh. Jadi pada dasarnya
pegawai yang berhasil mencapai mutu tertentu harus diakui dan diberi
ganjaran agar menjadi panutan/ contoh bagi pegawai lainnya.
f. Pengukuran
Penggunaan data hasil pengukuran (evaluasi) menjadi sangat
penting di dalam menetapkan proses manajemen mutu.asil pengukuran
merupakan informasi umpan balik bagi manajer puncak mengenai
kondisi yang nyata sebagaimana gambaran mutu yang ada dalam
organisasi. Bahkan hasil evaluasi ini harus menjadi dasar untuk
mengambil kepurusan bagi manajer puncak. Pendapat-pendapat umum
mengenai mutu organisasi harus diganti dengan fakta dan data. Dalam
menentukan dalam memilih data , kepuasan pelanggan eksternal harus
diukur secara konsisten untuk mengetahui seberapa jauh kebutuhan
benar-benar dipenuhi.

11
C. Manajemen Mutu Terpadu (MMT)
Manajemen mutu terpadu yang diterjemahkan dari total Quality
management adalah suatu pendekatan mutu pendidikan melalui peningkatan
mutu komponen terkait mutu terpadu memandang pendidikan sebagai sebuah
sistem total, yang dibentuk sejumlah komponen internal dan eksternal. hanya
dengan memperbaiki keseluruhan sistem pendidikan maka para profesional
pendidikan dapat membuat perbaikan mutu seperti yang diminta masyarakat.
mutu dalam pendidikan meminta adanya komitmen pada kepuasan kostumer
dan komitmen untuk menciptakan sebuah lingkungan yang memungkinkan
para staf dan siswa menjalankan pekerjaan sebaik-baiknya. arcaro sebelum
mengembangkan sekolah bermutu total, yaitu :
1. Fokus pada kostumer
Secara khusus, kostumer sekolah adalah siswa dan keluarganya.
merekalah yang memetik manfaat dari sekolah. para orang tua
merupakan pemasok sistem pendidikan. orang tua menyerahkan anaknya
kepada sekolah bermutu terpadu sebagai siswa yang siap belajar.
tanggung jawab sekolah bermutu terpadu untuk bekerja bersama para
orang tua mengoptimalkan potensi siswa agar mendapat manfaat dari
proses belajar disekolah.
Sekolah memiliki kostumer internal dan eksternal. kostumer
internal adalah orang tua, siswa, guru, administrator, staf dan dewan
sekolah yang brada dalam sistem pendidikan. koatumer eksternal adalah
masyarakat, perusahaan, keluarga, militer, dan perguruan tinggi yang
berada diluar organisasi, namun memanfaatkan output proses pendidikan.
sebuah relasi terbangun antara harapan kostumer pada anda dan apa yang
anda harapkan dari pemasok.
2. Keterlibatan total
Setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu. mutu
bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas. mutu
merupakan tanggung jawab semua pihak. mutu menuntut setiap orang
memberi kontribusi bagi upaya mutu.

12
3. Pengukuran
Anda tidak dapat memperbaiki apa yang tidak dapat anda ukur.
sekolah tidak dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan masyarakat,
sekalipun ada sarana untuk mengukur kemajuan berdasarkan pencapaian
standar tersebut. para siswa menggunakan nilai ujian untuk mengukur
kemajuannya dikelas.
4. Komitmen
Para pengawas sekolah dan dewan sekolah harus memiliki
komitmen pada mutu. bila mereka tidak memiliki komitmen, proses
formasi mutu tidak akan dapat dimulai karena kalaupun dijalankan pasti
gagal.
5. Perbaikan Berkelanjutan
Para profesional pendidikan harus secara terus menerus
menemukan cara untuk menangani masalah yang muncul, mereka harus
memperbaiki proses yang dikembangkannya dan membuat prbaikan yang
diperlukan.

D. Manfaat Mutu Pendidikan


Manfaat Mempelajari Manajemen Mutu Pendidikan Kita sepakat bahwa
untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu dan dapat diandalkan dalam
era gelobalisasi dan persaingan dewasa ini dan di masa depan, perlu dibangun
tentang kesadaran dan kemauan untuk mengelola lembaga pendidikan secara
otonom, fleksibel, dan professional melalui manajemen mutu. Sebelum
memahami lebih dalam tentang manajemen mutu pendidikan, pada
pembahasan ini penulis akan menjelaskan pengertian manajemen mutu
pendidikan. Pendidikan yang bermutu dan berkualitas merupakan harapan
dan dambaan bagi setiap warga negara ini. Masyarakat, baik yang terorganisir
dalam suatu lembaga pendidikan, maupun orang tua, sangat berharap agar
murid dan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang bermutu agar
kelak dapat bersaing dalam menjalani kehidupan. Untuk menjawab harapan
masyarakat tersebut, setiap lembaga pendidikan hendaknya selalu berupaya
agar pendidikan yang dikelolanya dapat menghasilkan produk yang

13
berkualitas, yaitu produk yang dapat memuaskan para pelanggan. Manajemen
Mutu pendidikan adalah ilmu yang dapat membantu lembaga pendidikan
untuk mengembangkan mutu pendidikan. Ilmu ini sangat penting terutama
bagi calon pengelola atau manajerlembaga pendidikan untuk merancang,
melaksanakan, melakukan evaluasi mutu pendidikan agar lembaga
pendidikan dapat meningkatkan mutu pendidikan
secara berkelanjutan.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manajemen mutu merupakan sebuah filsafat dan budaya organisasi
yang menekankan kepada upaya menciptakan mutu yang konstan melalui
setiap aspek dalam kegiatan organisasi. Penjaminan mutu adalah proses
penetapan dan pemenuhan atandar mutu secara konsisten dan berkelanjutan
sehingga konsumen, produsen, dan pihak lainnya yang berkepentingan
memperoleh kepuasan. Manajemen Mutu Terpadu-MMT (Total Quality
Management-TQM) merupakan suatu sistem nilai yang mendasar dan
komperhensip dalam mengelola organisai dengan tujuan meningkatkan
kinerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang dengan memberikan
perhatian secara khusus pada tercapainya kepuasan pelanggan dengan tetap
memperhatikan secara memadai terhadap terpenuhinya kebutuhan seluruh
stakeholders organisasi yang bersangkutan.

B. Saran
Penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan olehnya itu
dibutuhkan saran yang sifatnya membangun, guna kesempurnaan dalam
penulisannya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Hadari Nawawi. 2005. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajah Mada University


Press

Tim Dosen Asministrasi Pendidikan Universitas Indonesia (2019). Manajemen


Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Widodo, Suparno Eko. 2011. Manajemen Mutu Pendidikan. Jakarta: Ardadizya


Jaya.

Sudiyono. 2004. Manajemen Pendidikan Tinggi. Jakarta: Rineka Cipta.

Mondir. 2012. Konsep Manajemen Mutu Terpadu. JP3. Vol. 2. No. 1. 43-53.

16