Anda di halaman 1dari 10

KOMISI PEMILIHAN UMUM

PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Kendari, 18 Juni 2018

Nomor : 444/PL.03.6-SD/74/Prov/VI/2018
Sifat : Penting
Lampiran : 1 (satu) Rangkap
Perihal : Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan dan
Penghitungan Suara dalam Pemilihan
Serentak Tahun 2018 dalam Wilayah
Provinsi Sulawesi Tenggara
Kepada
Yth. Ketua KPU Kabupaten/Kota Se Sulawesi Tenggara
Masing-masing
Di –
Tempat

Dalam rangka memastikan terlaksanannya proses pemungutan dan penghitungan


suara dalam Pemilihan Serentak Tahun 2018 dalam Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara,
bersama ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:
A. KEGIATAN SEBELUM HARI PEMUNGUTAN SUARA
1. KPU Kabupaten Kota melakukan persiapan pemungutan suara, diantaranya yaitu :
a. Membentuk desk pemungutan suara dan penghitungan suara dan/atau call center
yang melibatkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat guna merespon
konfirmasi KPPS atas permasalahan identitas kependudukan pemilih dan masalah
teknis lainnya;
b. KPU Kabupaten/Kota penyelenggara pemilihan agar melaksanakan rapat
koordinasi kesiapan akhir pemungutan dengan peserta pemilihan dan Panwaslu
Kabupaten/Kota pada waktu 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara dengan
agenda menjelaskan DPT, Surat Keterangan yang diterbitkan Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil, pemilih tambahan, pelayanan di rumah sakit dan
lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan negara serta hal lain yang dianggap
perlu;
c. KPU Kabupaten/Kota agar mendistribusikan data surat keterangan yang
diterbitkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil secara berjenjang untuk
diumumkan di TPS.
2. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan seluruh Panitia Pemungutan Suara (PPS)
diwilayahnya, mengumumkan waktu dan tempat pemungutan suara pada tempat-
tempat strategis seperti Kantor Pemerintahan, Tempat Ibadah dan Ruang Publik
lainnya, dengan menginformasikan minimal :
a. Hari dan Tanggal Pemungutan Suara;
b. Lokasi Tempat Pemungutan Suara
c. Pemilih agar membawa Formulir Model C6-KWK dan/atau KTP-el/Surat
Keterangan (Suket) yang masih berlaku.
3. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan seluruh KPPS dalam wilayah kerjanya telah
mendirikan TPS pada tempat-tempat yang sesuai dengan ketentuan dan
mempertimbangkan kemudahan bagi pemilih dalam menyalurkan hak suaranya serta
aksessibel bagi pemilih disabilitas paling lambat 1 (satu) hari sebelum pemungutan
suara.
4. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan seluruh jajaran penyelenggara badan Adhoc
mulai dari PPK, PPS dan KPPS di wilayah kerjanya siap bertugas pada hari
pemungutan suara, dan jika terdapat personil yang tidak dapat melaksanakan tugas
karena alasan tertentu, seperti sakit, tidak berada diwilayah kerja pada saat hari
pemungutan suara serta alasan lainnya yang diperkirakan akan mengganggu proses
pemungutan suara, agar segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai
ketentuan yang berlaku.
5. KPU Kabupaten/Kota memastikan KPPS diseluruh wilayah kerjanya melakukan
pengisian formulir model C6-KWK sesuai nama, alamat, NIK dan Nomor TPS
sebagaimana Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Sistem Informasi Data Pemilih
(SIDALIH) yang diberikan dari KPU Kabupaten/Kota.
6. KPU Kabupaten/Kota wajib memastikan KPPS melakukan pendistribusian formulir
model C6-KWK sesuai alamat pemilih yang bersangkutan.
7. Dalam hal pemilih tidak berada di tempat tinggalnya, Ketua KPPS dapat
menyampaikan formulir model C6-KWK kepada keluarganya dan diminta untuk
menandatangani tanda terima.
8. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan KPPS melakukan koordinasi dengan
pengawas TPS atau Pengawas Lapangan dan/atau Tim Pemenangan Pasangan Calon
dalam melakukan pendistribusian formulir model C6-KWK.
9. Dalam mendisrtibusikan formilur model C6-KWK, KPPS dapat didampingi oleh
pengawas TPS atau Pengawas Lapangan dan/atau Tim Pemenangan Pasangan Calon.
10. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan KPPS dan PPS mengadministrasikan
pendistribusian formulir model C6-KWK dalam formulir model D1-KWK dan D2-
KWK.
11. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan KPPS dan PPS menyampaikan kepada KPU
Kabupaten/Kota seluruh formulir model C6-KWK yang tidak dapat didistribusikan
kemudian KPU Kab/Kota mengadministrasikan dalam model D8-KWK pada saat
rekapitulasi tingkat KPU Kabupaten/Kota.
12. Pemilih yang dilayani sebagai pemilih pindahan, wajib melaporkan diri kepada PPS
dan/atau KPPS paling lambat pada hari pemungutan suara dengan menunjukan
formulir model A5-KWK dari PPS asal pemilih terdaftar.
13. KPU Kabupaten/Kota wajib memfasilitasi penerbitan formulir model A5-KWK bagi
pemilih pindahan.
14. Pemilih pindahan dapat melaporkan kepada KPU Kabupaten/Kota 3 (tiga) hari atau 1
(satu) hari kepada PPS asal pemilih untuk mendapatkan formulir model A5-KWK jika
pemilih pindahan tidak dapat melapor kepada PPS tujuan untuk di data sebagai
pemilih tambahan dalam formulir model A4-KWK maka pemilih pindahan
menggunakan hak pilihnya dengan membawa formulir model A5-KWK.
15. PPS mendistribusikan pemilih pindahan pada TPS dalam wilayah kerjanya dengan
memperhatikan ketersediaan surat suara pada TPS yang bersangkutan.
16. Dalam hal TPS dalam wilayah kerjanya sebagaimana dimaksud pada angka 15 (lima
belas), tidak dapat melayani pemilih pindahan karena kekurangan surat suara, maka
PPS melaporkan kepada PPK agar pemilih pindahan tersebut dapat menyalurkan hak
pilihnya pada TPS dalam wilayah kerja PPS terdekat tersebut.
17. Untuk memastikan pelayanan bagi pemilih tambahan, agar KPU Kabupaten/Kota
menyediakan alat bantu KPPS bagi pemilih tambahan paling banyak sepuluh per
seratus (10%) dari jumlah DPT pada setiap TPS dengan format terlampir.
18. Bagi daerah yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan/atau
Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur Sulawesi Tenggara, mendistribusikan formulir model C6-KWK untuk
masing-masing jenis pemilihan.
19. Dalam hal daerah yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
dan/atau Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, hanya dapat mendistribusikan 1 (satu) jenis
formulir model C6-KWK untuk 2 (dua) jenis pemilihan, KPU Kabupaten/Kota
memastikan tidak terjadi penyalahgunaan formulir model C6-KWK yang tidak
didistribusikan serta membuat Berita Acara khusus mengenai hal tersebut.
20. Dalam hal daerah yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
dan/atau Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, hanya dapat mendistribusikan 1 (satu) jenis
formulir model C6-KWK untuk 2 (dua) jenis pemilihan sebagaimana dimaksud pada
angka 19, wajib mencantumkan 2 (dua) jenis pemilihan dalam formulir model C6-
KWK tersebut.
21. Berita Acara khusus sebagaimana dimaksud pada angka 19, minimal memuat jenis
pemilihan formulir model C6-KWK yang tidak didistribusikan, jumlah dan alasan-
alasan tidak didistribusikannya formulir model C6-KWK jenis pemilihan tersebut dan
menyampaikan kepada KPU Provinsi Sulawesi Tenggara paling lambat 1 (satu) hari
sebelum pemungutan suara berlangsung.
22. KPU Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
dan/atau Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara memastikan ketersediaan formulir model C7-
KWK untuk masing-masing jenis pemilihan pada setiap TPS.
23. KPU Kabupaten/Kota agar memastikan ketersediaan surat suara di TPS dalam
wilayah kerjanya dan menyampaikan kepada KPU Provinsi Sulawesi Tenggara paling
lambat 7 (tujuh) hari sebelum pemungutan suara apabila terdapat TPS yang
diperkirakan akan mengalami kekurangan surat suara.

B. PELAYANAN PEMILIH DI TPS


1. Petugas KPPS 4 menerima pemilih DPT dengan cara mencocokan kesesuaian antara
formulir model C6-KWK dengan DPT yang terdapat pada petugas KPPS 4. Dalam hal
petugas KPPS 4 meragukan kesesuaian antara formulir model C6 dengan jatidiri
pemilih, maka petugas KPPS 4 dapat meminta pemilih menunjukan identitas yang
masih berlaku berupa KTP-el/Suket, SIM atau Paspor dan lain-lain untuk memastikan
bahwa formulir model C6-KWK yang di perlihatkan oleh pemilih sesuai dengan jati
diri pemilih, jika petugas KPPS 4 meyakini kesesuaian antara formulir model C6-
KWK dengan pemilih kemudian pemilih yang bersangkutan dipersilahkan mengisi
formulir model C7-KWK sesuai jenis pemilihan yang terdapat pada petugas KPPS 5
dan selanjutnya dapat dilayani untuk menyalurkan hak pilihnya.
2. Dalam hal ditemukan ketidaksesuaian antara formulir model C6-KWK dengan DPT
yang terdapat pada petugas KPPS 4 maka pemilih yang bersangkutan diminta untuk
menunjukan KTP-el/Suket yang masih berlaku.
3. Dalam hal ditemukan kesesuaian antara alamat KTP-el/Suket yang masih berlaku
dengan DPT yang terdapat pada petugas KPPS 4, pemilih yang bersangkutan
dipersilahkan mengisi formulir model C7-KWK sesuai jenis pemilihan yang terdapat
pada petugas KPPS 5 dan selanjutnya dapat dilayani untuk menyalurkan hak pilihnya.
4. Dalam hal ditemukan ketidaksesuaian antara alamat KTP-el/Suket yang masih berlaku
dengan DPT yang terdapat pada petugas KPPS 4, tetapi KTP-el/Suket tersebut
menunjukan bahwa administrasi kependudukan yang bersangkutan sesuai dengan
wilayah TPS, maka petugas KPPS 4 mendaftarkan yang bersangkutan sebagai pemilih
tambahan dan menyampaikan kepada pemilih tersebut dapat menyalurkan hak
pilihnya setelah pukul 12.00 Waktu setempat selama surat suara masih tersedia.
5. Dalam hal ditemukan ketidaksesuaian antara alamat KTP-el/Suket yang masih berlaku
dengan wilayah TPS, petugas KPPS 4 menolak pemilih yang bersangkutan untuk
menyalurkan hak piihnya di TPS tersebut dan mengarahkan pemilih yang
bersangkutan pada TPS yang sesuai dengan alamat KTP/Suket yang bersangkutan.
6. Petugas KPPS 4, memeriksa keseuaian antara formulir model A5-KWK dengan KTP-
el/Suket dalam hal melayani pemilih pindahan.
7. Bagi KPU Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur
dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara agar memastikan pemilih pindahan yang akan
menggunakan hak pilihnya mendapat surat suara sesuai jenis pemilihan sebagaimana
alamat yang tercantum dalam KTP-el/Suket yang bersangkutan.
8. Pengaturan sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 7 adalah sebagai berikut;
a. Pemilih pindahan yang berasal dari desa/kelurahan atau kecamatan lain pada
daerah yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan/atau
Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur Sulawesi Tenggara mengisi 2 (dua) jenis formulir model C7-KWK dan
mendapat 2 (dua) jenis surat suara;
b. Pemilih pindahan yang berasal dari desa/kelurahan atau kecamatan lain pada
kabupaten/kota lainnya, apabila menyalurkan hak pilihnya pada daerah yang
menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan
Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur
Sulawesi Tenggara hanya mengisi formulir model C7-KWK Pemilihan Gubernur
dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Tahun 2018 dan mendapat surat suara
pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara;
c. Pemilih pindahan yang berasal dari desa/kelurahan atau kecamatan lain pada
daerah yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan/atau
Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur Sulawesi Tenggara apabila menyalurkan hak pilihnya pada
kabupaten/kota yang hanya menyelenggarakan Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur Sulawesi Tenggara, mengisi formulir model C7-KWK pemilihan
Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara dan mendapat surat suara
pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara.
9. Penggunaan hak pilih bagi Pemilih pindahan yang menyalurkan hak pilih,
diadministrasikan dalam formulir model A4-KWK oleh petugas KPPS 5.
10. Pengadministrasian pemilih pindahan dalam formulir formulir model A.4-KWK oleh
petugas KPPS 5 sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 9 adalah petugas KPPS 5
mengisi sesuai dengan identitas yang terdapat dalam KTP-el/Suket yang ditunjukan
oleh pemilih.
11. Petugas KPPS 4 memeriksa kesesuaian antara alamat KTP-el/Suket dengan wilayah
TPS dan Daftar Pemilih yang telah mendaftar sebelum pukul 12.00 waktu setempat,
sebelum melayani pemilih tambahan.
12. Penggunaan hak pilih bagi pemilih tambahan, diadministrasikan dalam formulir model
A.Tb-KWK oleh petugas KPPS 5.
13. Pengadministrasian pemilih tambahan dalam formulir formulir model A.Tb-KWK
oleh petugas KPPS 5 sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 12 adalah petugas
KPPS 5 mengisi sesuai dengan identitas yang terdapat dalam KTP-el/Suket yang
ditunjukan oleh pemilih.
14. KPU Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
dan/atau Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara memastikan agar petugas KPPS 5 wajib
mencermati setiap pemilih yang akan menyalurkan hak pilihnya, mengisi formulir
model C7-KWK sesuai jenis pemilihan secara baik dan benar.
15. Pelayanan pemilih yang berstatus sebagai warga binaan Rutan atau Lapas dilakukan
dengan membentuk TPS khusus. Dalam hal TPS khusus tidak dibentuk, maka
pelayanan pemilih di dalam Lapas atau Rutan dilakukan pada TPS yang berdekatan
dengan tempat atau lokasi Lapas dan atau Rutan.
16. Pelayanan pemilih yang berstatus sebagai warga binaan Lapas dan atau Rutan yang
terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap pada kabupaten/kota lain dalam wilayah
Sulawesi Tenggara dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota tempat administrasi Rutan
atau Lapas berada dengan menerbitkan formulir model A5-KWK sebagai Pemilih
Pindahan setelah terlebih dahulu memastikan bahwa yang bersangkutan benar
terdaftar dalam DPT pada kabupaten/kota lain dalam wilayah Provinsi Sulawesi
Tenggara.
17. Dalam hal KPU Kabupaten/Kota juga menyelenggarakan Pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati dan/atau Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota yang bersamaan dengan
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Tahun 2018, Pemilih
pindahan sebagaimana dimaksud pada Huruf B angka 16 hanya diadministrasikan
pada formulir model A4-KWK Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, dan hanya
mengisi formulir model A7-KWK Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi
Tenggara serta hanya mendapat surat suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur
Sulawesi Tenggara Tahun 2018.
18. PPK dan/atau PPS yang diwilayahnya terdapat TPS pada Lapas atau Rutan
melaporkan kepada KPU Kabupaten/Kota apabila TPS tersebut mengalami
kekurangan surat suara pada hari pemungutan suara dalam kesempatan pertama
sebelum pemungutan suara di tutup.
19. KPU Kabupaten/Kota setelah menerima laporan PPK dan/atau PPS sebagaimana
dimaksud pada huruf B angka 15, dapat menambah surat suara pada TPS tersebut
dengan mengambil surat suara di TPS lain.
20. Dalam hal penambahan surat suara diambil dari TPS lain sebagaimana dimaksud pada
huruf B angka 16, diadministrasikan oleh KPPS asal surat suara dan KPPS tujuan
surat suara dalam formulir model C2-KWK dan formulir model C1-KWK masing-
masing TPS.
C. PELAYANAN PEMILIH DISABILITAS DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS
1. Yang dimaksud dengan Pemilih disabilitas adalah pemilih yang menyandang
disabilitas tertentu dan pemilih yang berkebutuhan khusus adalah orang tua, ibu hamil
dan ibu menyusui.
2. Ketua KPPS dapat memberikan prioritas bagi pemilih disabilitas dan berkebutuhan
khusus dalam menyalurkan hak pilihnya atas izin pemilih lain yang lebih dulu hadir di
TPS.
3. KPU Kabupaten/kota wajib memastikan KPPS menyediakan TPS yang aksessibel
bagi pemilih disabilitas.
4. Petugas KPPS wajib mengumumkan tentang ketersediaan atau tidak tersedianya alat
bantu bagi pemilih disabilitas di TPS dalam menyalurkan hak pilihnya.
5. Pemilih disabilitas memutuskan akan memilih menggunakan alat bantu (jika tersedia)
di TPS, atau didampingi oleh petugas KPPS atau keluarganya dalam menyalurkan hak
pilihnya ataukah menyalurkan hak pilihnya tanpa menggunakan alat bantu dan/atau
pendamping.
6. Dalam hal pemilih disabilitas didampingi oleh petugas KPPS atau keluarganya, maka
pendamping wajib mengisi dan menandatangani formulir model C3-KWK.

D. PELAYANAN PEMILIH DI LUAR TPS


1. Pemilih yang tidak dapat hadir di TPS pada saat pemungutan suara karena sakit di
rumah, dapat dilayani hak pilihnya setelah mendapat persetujuan para saksi pasangan
calon dan pengawas TPS.
2. Tata cara pelayanan pemilih sebagaimana dimaksud pada huruf D angka 1 di atas,
dilakukan dengan cara :
a. Ketua KPPS memastikan bahwa pemilih tersebut terdaftar sebagai pemilih pada
TPS tersebut.
b. Pelayanan pemilih yang sakit tersebut tidak mengganggu pelayanan pemilih di
TPS.
c. Pelayanan pemilih yang sakit tersebut dilakukan oleh salah seorang petugas KPPS
yang mendatangi pemilih bersangkutan dan didampingi oleh minimal 1 (satu)
orang saksi, pengawas TPS serta salah seorang petugas ketertiban TPS.
3. Petugas KPPS yang mendatangi pemilih sebagaimana dimaksud pada huruf D angka
2, wajib memastikan kerahasiaan pilihan pemilih setelah pemilih menyalurkan hak
pilihnya hingga surat suara tersebut dimasukkan kedalam Kotak Suara di TPS.

E. PELAYANAN SAKSI DAN PEMANTAU


1. Petugas KPPS menerima mandat saksi pasangan calon paling lambat sebelum
pembukaan tempat pemungutan suara (TPS).
2. Surat mandat saksi pasangan calon ditandatangani oleh Pasangan Calon dan/atau salah
satu calon dan/atau Ketua Tim Kampanye pasangan calon tingkat Provinsi dan/atau
tingkat kabupaten/kota di kertas berkop tim Kampanye pasangan calon dengan tanda
tangan dan cap basah.
3. Dalam hal mandat saksi pasangan calon dan/atau saksi pasangan calon terlambat
menyerahkan surat mandat dan atau terlambat menghadiri rapat pemungutan suara,
saksi dapat mengikuti rapat pemungutan suara sampai selesai dan baru dapat
mengikuti rapat perhitungan suara setelah mendapat izin dari Ketua KPPS dan
menempati tempat yang telah disediakan.
4. Setiap pasangan calon hanya diperkenankan memberikan mandat saksi pada setiap
TPS maksimal sebanyak 2 (dua) orang dengan ketentuan hanya 1 (satu) saksi yang
dapat bertugas dan saksi lainnya dapat mengganti saksi yang sedang bertugas atas izin
Ketua KPPS.
5. Saksi pasangan calon dilarang menggunakan segala bentuk atribut pasangan calon di
tempat pemungutan suara (TPS).
6. Rapat pemungutan suara dibuka pada pukul 07.00 waktu setempat dan dapat
dilanjutkan tanpa kehadiran seluruh saksi pasangan calon dan/atau saksi salah satu
pasangan calon dan/atau saksi beberapa pasangan calon, sepanjang terdapat pemilih
yang telah hadir di TPS dan/atau telah hadir pengawas TPS dan/atau pengawas
lapangan.
7. Pemantau dari lembaga pemantau yang mendapat akreditasi dari KPU Provinsi
Sulawesi Tenggara untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur serta akreditasi
dari KPU Kabupaten/Kota untuk pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan/atau
Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota wajib melaporkan diri kepada Ketua KPPS
dengan menunjukan surat tugas dari lembaga pemantauannya sebelum melaksanakan
pemantauan dan wajib menggunakan identitas/tanda pengenal selama melaksanakan
pemantauan.
8. Pemantau wajib mematuhi kewajiban dan larangan bagi pemantau selama
melaksanakan pemantauan sebagaimana diatur dalam Peraturan KPU Nomor 8 Tahun
2017 dan Surat Keputusan KPU Provinsi Sulawesi Tenggara tentang Akreditasi
Lembaga Pemantau dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi
Tenggara Tahun 2018 dan/atau Surat Keputusan KPU Kabupaten/Kota tentang
akreditasi lembaga pemantau dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan/atau
Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2018 pada Kabupaten/Kota masing-masing.

F. ADMINISTRASI PERHITUNGAN SUARA


1. Bagi KPU Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota bersamaan dengan Pemilihan Gubernur
dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, proses penghitungan suara dilakukan untuk
jenis pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur terlebih dahulu dan setelah pengisian
formulir untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur selesai dan diterima para
pihak, kemudian dilanjutkan dengan penghitungan suara untuk pemilihan Bupati dan
Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota sampai selesai.
2. Jenis Formulir yang diberikan kepada saksi pasangan calon dan pengawas lapangan,
adalah formulir model C-KWK dan formulir model C1-KWK.
3. Sebelum melakukan proses perhitungan suara, Ketua KPPS memastikan kesesuaian
antara jumlah pemilih yang menyalurkan hak pilih sebagaimana terdapat dalam
formulir model C7-KWK dengan jumlah surat suara yang terdapat dalam kotak suara,
surat suara yang tidak digunakan dan surat suara yang rusak/keliru dicoblos.
4. Setelah proses perhitungan suara selesai, KPPS memastikan seluruh jenis logistik
pemilihan yang harus masuk kedalam kotak suara dan seluruh jenis logistik pemilihan
yang tidak masuk kedalam kotak suara telah berada pada tempat yang semestinya
sebelum kotak suara ditutup, digembok, disegel dan diserahkan ke PPK.
5. Setelah kotak suara ditutup, digembok, disegel, tidak dibenarkan membuka kotak
suara dengan alasan apapun kecuali untuk keperluan rekapitulasi penghitungan suara
ditingkat PPK.
6. Petugas KPPS agar segera menyampaikan formulir model C1-KWK kepada KPU
Kabupaten/Kota melalui PPS untuk diunggah kedalam Sistem Informasi Penghitungan
Suara (SITUNG) setelah proses penghitungan suara di TPS selesai.
7. KPU Kabupaten/Kota wajib menyampaikan hasil perhitungan suara di TPS dalam
wilayah kerjanya pada Sisitem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG) pada hari itu
juga.
8. Dalam hal KPU Kabupaten/Kota tidak dapat menyampaikan hasil perhitungan suara
di TPS dalam wilayah kerjanya pada Sistem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG)
pada hari itu juga, maka KPU Kabupaten/Kota wajib melaporkan kepada KPU
Provinsi Sulawesi Tenggara pada kesempatan pertama.
9. KPU Kabupaten/Kota wajib memastikan PPS dan KPPS dalam wilayah kerjanya
mengumumkan hasil perhitungan suara di desa/kelurahan dan TPSnya masing-masing
sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam hal terdapat keadaan yang belum dicakup dalam surat ini dan/atau ditemukan
pengaturan dalam surat ini bertentangan dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum serta
Surat KPU Nomor 574/PL.03.6-SD/06/KPU/VI/2018 tanggal 8 Juni 2018 tentang
Penyelenggaraan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilihan 2018 agar KPU
Kabupaten/Kota mempedomani peraturan Komisi Pemilihan Umum dan Surat KPU RI
dimaksud.
Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dan dipedomani

KETUA

LA ODE ABDUL NATSIR

Tembusan, Kpd Yth :


1. Ketua KPU RI di Jakarta sebagai laporan
2. Ketua Bawaslu Prov Sultra
3. Arsip