Anda di halaman 1dari 26

Lampiran IV Surat Edaran Walikota

Nomor : 800/8838/BPKAD
Tanggal : 7 Desember 2016

KEBIJAKAN AKUNTANSI ASET TETAP


(PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 49 TAHUN 2015)

A. UMUM

Tujuan

Mengatur perlakuan akuntansi untuk aset tetap meliputi pengakuan,


penentuan nilai tercatat, serta penentuan dan perlakuan akuntansi atas
penilaian kembali dan penurunan nilai tercatat aset tetap.

Ruang Lingkup

1. Kebijakan akuntansi ini diterapkan dalam penyajian seluruh aset


tetap dalam laporan keuangan untuk tujuan umum yang disusun
dan disajikan dengan basis akrual. Kebijakan ini diterapkan untuk
entitas akuntansi dan entitas pelaporan pemerintah Kota Bekasi,
tidak termasuk perusahaan daerah.

2. Kebijakan akuntansi ini mengatur perlakuan akuntansi aset tetap


pemerintah Kota Bekasi yang meliputi definisi, pengakuan,
pengukuran, penilaian, penyajian dan pengungkapan aset tetap.

3. Aset tetap tidak diterapkan untuk:


a. Hutan dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui
(regenerative natural resources);
b. Kuasa pertambangan, eksplorasi dan penggalian mineral,
minyak, gas alam, dan sumber daya alam serupa yang tidak
dapat diperbaharui (non- regenerative natural resources).

Hal ini berlaku untuk aset tetap yang digunakan untuk mengembangkan
atau memelihara aktivitas atau aset yang tercakup dalam butir a dan b di
atas dan dapat dipisahkan dari aktivitas dan aset tersebut.

B. DEFINISI

1. Aset Tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat


lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah daerah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
2. Biaya Perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang
dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk
memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi sampai
dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
dipergunakan.

3. Masa Manfaat adalah:


a. Periode suatu aset diharapkan digunakan untuk aktivitas
pemerintahan dan/atau pelayanan publik; atau
b. Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh
dari aset untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pemerintahan
publik.

4. Nilai Sisa adalah jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh pada
akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangi taksiran biaya
pelepasan.

5. Nilai Tercatat adalah nilai buku aset tetap, yang dihitung dari biaya
perolehan suatu aset tetap setelah dikurangi akumulasi penyusutan.

6. Nilai Wajar adalah nilai tukar aset tetap atau penyelesaian


kewajiban antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk
melakukan transaksi wajar.

7. Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu aset


tetap yang dapat disusutkan (Depreciable Asets) selama masa
manfaat aset tetap yang bersangkutan.

8. Konstruksi Dalam Pengerjaan adalah aset-aset tetap yang sedang


dalam proses pembangunan .

9. Kontrak Konstruksi adalah perikatan yang dilakukan secara


khusus untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi yang
berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal
rancangan, teknologi, dan fungsi atau tujuan atau penggunaan
utama.

10. Kontraktor adalah suatu entitas yang mengadakan kontrak untuk


membangun aset atau memberikan jasa konstruksi untuk
kepentingan entitas lain sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan
dalam kontrak konstruksi.

11. Uang Muka Kerja adalah jumlah yang diterima oleh kontraktor
sebelum pekerjaan dilakukan dalam rangka kontrak konstruksi.
12. Klaim adalah jumlah yang diminta kontraktor kepada pemberi kerja
sebagai penggantian biaya-biaya yang tidak termasuk dalam nilai
kontrak.

13. Pemberi Kerja adalah entitas yang mengadakan kontrak konstruksi


dengan pihak ketiga untuk membangun atau memberikan jasa
konstruksi.

14. Retensi adalah jumlah termin (progress billing) yang belum dibayar
hingga pemenuhan kondisi yang ditentukan dalam kontrak untuk
pembayaran jumlah tersebut.

15. Termin (progress billing) adalah jumlah yang ditagih untuk


pekerjaan yang dilakukan dalam suatu kontrak baik yang telah
dibayar ataupun yang belum dibayar oleh pemberi kerja.
16. Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau
fungsinya dalam aktivitas operasi entitas. Klasifikasi aset tetap adalah
sebagai berikut :
a. Tanah;
b. Peralatan dan Mesin;
c. Gedung dan Bangunan;
d. Jalan, Irigasi , dan Jaringan;
e. Aset Tetap Lainnya;
f. Konstruksi dalam Pengerjaan.

17. Tanah yang dikelompokkan sebagai aset tetap ialah tanah yang
diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional
pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.

18. Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan


yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan
operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.

19. Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan


bermotor, alat elektronik, inventaris kantor, dan peralatan lainnya
yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 (dua
belas) bulan dan dalam kondisi siap pakai.

20. Jalan, irigasi, dan jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang
dibangun oleh pemerintah serta dimiliki dan/atau dikuasai oleh
pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.
21. Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap di atas, yang diperoleh
dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam
kondisi siap dipakai.

22. Konstruksi dalam pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang


dalam proses pembangunan namun pada tanggal laporan keuangan
belum selesai seluruhnya dan atau biaya umum belum diserap.

23. Aset tetap yang tidak digunakan untuk keperluan operasional


pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap dan harus disajikan di
pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya.

C. PENGAKUAN ASET TETAP

1. Pada umumnya aset tetap diakui pada saat manfaat ekonomi masa
depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan handal.
Untuk dapat diakui sebagai aset tetap harus dipenuhi kriteria sebagai
berikut :
a. Berwujud;
b. Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
c. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
d. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
dan
e. Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan;
f. Nilai Rupiah pembelian barang material atau pengeluaran untuk
pembelian barang tersebut memenuhi batasan minimal
kapitalisasi aset tetap yang telah ditetapkan.

Namun demikian, dengan pertimbangan biaya dan manfaat serta


kepraktisan, pengakuan aset tetap dilakukan pada saat aset tetap
diserahkan sesuai Berita Acara Serah Terima (BAST) Aset Tetap dari
pihak ke-III (tiga) jika aset tetap diperoleh dari pembelian atau BAST
saat serah terima barang untuk digunakan dari SKPD yang
membangun.

2. Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mempunyai manfaat


lebih dari 12 (dua belas) bulan, suatu entitas harus menilai manfaat
ekonomi masa depan yang dapat diberikan oleh aset tetap tersebut,
baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional
pemerintah. Manfaat tersebut dapat berupa aliran pendapatan atau
penghematan belanja bagi pemerintah. Manfaat ekonomi masa depan
akan mengalir ke suatu entitas dapat dipastikan bila entitas tersebut
akan menerima manfaat dan menerima risiko terkait. Kepastian ini
biasanya hanya tersedia jika manfaat dan risiko telah diterima entitas
tersebut. Sebelum hal ini terjadi, perolehan aset tidak dapat diakui.

3. Tujuan utama dari perolehan aset tetap adalah untuk digunakan oleh
pemerintah dalam mendukung kegiatan operasionalnya dan bukan
dimaksudkan untuk dijual.

4. Pengakuan aset tetap akan andal bila aset tetap telah diterima atau
diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya
berpindah.

5. Saat pengakuan aset akan dapat diandalkan apabila terdapat bukti


bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau
penguasaan secara hukum, misalnya sertifikat tanah dan bukti
kepemilikan kendaraan bermotor. Apabila perolehan aset tetap belum
didukung dengan bukti secara hukum dikarenakan masih adanya
suatu proses administrasi yang diharuskan, seperti pembelian tanah
yang masih harus diselesaikan proses jual beli (akta) dan sertifikat
kepemilikannya di instansi berwenang, maka aset tetap tersebut
harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaan atas aset
tetap tersebut telah berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran
dan penguasaan atas sertifikat tanah atas nama pemilik sebelumnya.

Mengenai kepemilikan tanah ada beberapa hal yang dapat dijelaskan


sebagai berikut :

a. Dalam hal tanah belum ada bukti kepemilikan yang sah, namun
dikuasai dan/atau digunakan oleh Pemerintah Kota Bekasi ,
maka tanah tersebut tetap harus dicatat dan disajikan sebagai
aset tetap tanah pada neraca pemerintah serta diungkapkan
secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

b. Dalam hal tanah dimiliki oleh Pemerintah Kota Bekasi namun


dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain, maka tanah
tersebut tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap
tanah pada neraca pemerintah serta diungkap secara memadai
dalam Catatan atas Laporan Keuangan, bahwa tanah tersebut
dikuasai atau digunakan oleh pihak lain.
c. Dalam hal tanah dimiliki oleh suatu entitas pemerintah , namun
dikuasai dan/atau digunakan oleh entitas pemerintah yang lain,
maka tanah tersebut dicatat dan disajikan pada neraca entitas
pemerintah yang mempunyai bukti kepemilikan, serta
diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Entitas pemerintah yang menguasaio dan/artau
menggunakan tanah cukup mengungkapkan tanah tersebut
secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

d. Perlakuan tanah yang masih dalam sengketa atau proses


pengadilan :

1) Dalam hal belum ada bukti kepemilikan tanah yang sah,


tanah tersebut dikuasai dan/atau digunakan oleh
Pemerintah Kota Bekasi, maka tanah tersebut tetap harus
dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca
Pemerintah Kota Bekasi, serta diungkapkan secara
memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

2) Dalam hal belum ada bukti kepemilikan tanah yang sah,


tanah ersebut dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain,
maka tanah tersebut dicatat dan disajikan sebagai aset
tetap tanah pada neraca Pemerintah Kota Bekasi, serta
diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.
3) Dalam hal kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh Pemerintah Kota Bekasi,
maka tanah tersebut tetap harus dicatat dan disajikan
sebagai aset tetap tanah pada neraca Pemerintah Kota
Bekasi, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan
atas Laporan Keuangan.
4) Dalam hal kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain, maka tanah
tersebut tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap
tanah pada neraca Pemerintah Kota Bekasi, namun adanya
sertifikat ganda harus diungkapkan secara memadai dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.
Tanah Wakaf
Tanah yang digunakan/dipakai oleh instansi pemerintah yang
berstatus tanah wakaf tidak disajikan dan dilaporkan sebagai aset
tetap tanah pada neraca Pemerintah Kota Bekasi, melainkan cukup
diungkapkan secara memadai pada Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK).

Tanah yang diperoleh melalui pembelian dilakukan melalui


pelaksanaan kegiatan (belanja), sehingga nilai perolehan tanah diakui
berdasarkan nilai belanja dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan
sampai tanah tersebut siap digunakan.

Batasan Jumlah Biaya Kapitalisasi (Capitalization Treshold)


Perolehan Awal Aset Tetap.

1. Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap adalah


pengeluaran pengadaan baru dan penambahan nilai aset tetap
dari hasil pengembangan, reklasifikasi, renovasi, perbaikan atau
restorasi.

2. Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap menentukan


apakah perolehan suatu aset harus dikapitalisasi atau tidak.

3. Biaya yang timbul atas penyelesaian sengketa tanah, seperti


biaya pengadilan dan pengacara tidak dikapitalisasi sebagai
biaya perolehan tanah.

4. Nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap atas perolehan aset


tetap berupa peralatan dan mesin dan aset tetap lainnya adalah
nilai per unitnya sebagai berikut :

No Uraian Kebijakan Batasan untuk


Kapitalisasi dikapitalisasi
Aset Tetap per-
unit/set/batang
1. Alat-alat Berat, contoh: traktor,Merupakan Belanja Tidak ada
dump truk, crane, mesin Modal dan Masuk
pengolah air bersih,dll dalam Aset Tetap
2. Alat-alat Angkutan DaratMerupakan Belanja Tidak ada
Bermotor, contoh: Jeep, sedan, Modal dan Masuk
ambulan, mobil, station wagon dalam Aset Tetap
sepeda motor,lift/elevator,dll.
3. Alat-alat Angkutan Darat Tidak Merupakan Belanja Tidak ada
Bermotor,contoh:gerobak,bendi Modal dan Masuk
,becak,sepeda,karavan dll. dalam Aset Tetap
4. Alat-alat Angkutan di Air Merupakan Belanja Mulai dari Rp
Bermotor, termasuk: speed Modal dan Masuk 10.000.000
boat, motor boat/motor dalam Aset Tetap
tempel,dll.
5. Alat-alat Angkutan di Air Tidak Merupakan Belanja Mulai dari Rp
Bermotor, termasuk: perahu Modal dan Masuk 5.000.000
layar, perahu karet, perahu dalam Aset Tetap
rakit, perahu sekoci,dll.
6. Alat-alat Angkutan Udara, Merupakan Belanja Tidak ada
termasuk Pesawat Helikopter, Modal dan Masuk
Pesawat Terbang Layang dll dalam Aset Tetap
7. Alat-alat bengkel, termasuk: Merupakan Belanja Mulai dari Rp
mesin las, mesin bubut, mesin Modal dan Masuk 1.000.000
dongkrak, mesin kompresor,dll dalam Aset Tetap
8. Alat-alat pengolahan pertanian Merupakan Belanja Mulai dari Rp
dan peternakan, termasuk: Modal dan Masuk 1.000.000
mesin penggiling, hasil dalam Aset Tetap
pertanian, mesin penetas,dll
9. Peralatan Kantor, termasuk: Merupakan Belanja Mulai dari Rp
Mesin Tik, Mesin Hitung, Mesin Modal dan Masuk 1.000.000
fotocopy, Mesin Penghancur dalam Aset Tetap
Kertas, Tabung Pemadam
Kebakaran dll
10 Perlengkapan Kantor, termasuk; Merupakan Belanja Mulai dari Rp
meja gambar, almari, brankas, Modal dan Masuk 1.000.000
filling kabinet, white board, dalam Aset Tetap
penunjuk waktu
11 Komputer termasuk; server, Merupakan Belanja Mulai dari Rp
komputer PC, Note Book, Modal dan Masuk 1.000.000
Printer, Scanner, Monitor- dalam Aset Tetap
display, CPU, UPS/Stabilizer,
Belanja modal kelengkapan
komputer & Pengadaan
peralatan jaringan komputer
12 Meubelair, termasuk; Meja Merupakan Belanja Mulai dari Rp
kerja, meja rapat, meja makan, Modal dan Masuk 500.000,-
kursi kerja,kursi rapat, kursi dalam Aset Tetap
makan, tempat tidur, sofa, rak
buku, rak TV, dll.
13 Peralatan Dapur SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
500.000,-
14 Penghias ruangan rumah SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
tangga 500.000,-
15 Alat-alat studio SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
500.000,-
16 Alat-alat Komunikasi SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
500.000,-
17 Alat-alat Ukur SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
500.000,-/unit
18 Alat-alat kedokteran SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
500.000,-

19 Alat-alat laboratorium SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp


500.000,-
20 Alat-alat SE Mendagri No.079 Mulai dari Rp
Persenjataan/Keamanan 500.000,-

Pengadaan Aset Tetap Lainnya

Buku dan Perpustakaan Merupakan Belanja Mulai dari Rp 50.000,-


Modal dan Masuk
dalam Aset Tetap
Barang Bercorak Merupakan Belanja Mulai dari Rp
Kesenian/Kebudayaan/ Modal dan Masuk 500.000,-
Olahraga dalam Aset Tetap

Hewan ternak dan Hewan ternak & Mulai dari Rp


tumbuhan tumbuhan indukan 15.000.000,-
merupakan Belanja
Modal dan Masuk
dalam Aset Tetap
sedangkan pohon
pelindung dan
tanaman hias
merupakan Belanja
Barang dan Jasa

Pengukuran Aset Tetap

1. Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset


tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan
maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar yang ditetapkan
oleh tim penilai intern/tim verifikasi atau untuk tanah dapat
menggunakan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah setempat. Jika
aset tetap selain tanah nilai perolehannya tidak didapat maka dapat
mempergunakan nilai sesuai SP2D sejenis pada tahun
perolehannya.

2. Untuk tujuan pernyataan ini, penggunaan nilai wajar pada saat


perolehan untuk kondisi diatas bukan merupakan suatu proses
penilaian kembali (revaluasi) dan tetap konsisten dengan biaya
perolehan. Penilaian kembali yang dimaksud hanya diterapkan pada
penilaian untuk periode pelaporan selanjutnya, bukan pada saat
perolehan awal.
3. Pengukuran dapat dipertimbangkan andal bila terdapat transaksi
pertukaran dengan bukti pembelian aset tetap yang
mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aset yang
dikonstruksi/dibangun sendiri, suatu pengukuran yang dapat
diandalkan atas biaya dapat diperoleh dari transaksi pihak
eksternal dengan entitas tersebut untuk perolehan bahan baku,
tenaga kerja dan biaya lain yang digunakan dalam proses
konstruksi.

4. Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola


meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya
tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan,
perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya
lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap
tersebut.

5. Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, biaya


perolehan aset tetap yang digunakan adalah nilai wajar pada saat
neraca awal tersebut disusun. Untuk periode selanjutnya setelah
tanggal neraca awal, atas perolehan aset tetap baru, suatu entitas
menggunakan biaya perolehan atau harga wajar bila biaya
perolehan tidak ada. Harga Wajar bisa didapat dengan mencari nilai
per satuan barang sejenis yang dibeli pada tahun perolehan
tersebut.

Komponen Biaya

1. Biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari harga belinya atau
konstruksinya, termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat
diatribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke
kondisi yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk
penggunaan yang dimaksudkan.

2. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:

a. biaya perencanaan jika Aset tetapnya siap untuk digunakan


atau memiliki nilai ekonomis yang dapat diukur dengan uang;
b. biaya lelang;
c. biaya persiapan tempat;
d. biaya pengiriman awal (initialdelivery) dan biaya simpan dan
bongkar muat (handlingcost);
e. biaya pemasangan (instalationcost);
f. honor panitia pengadaan dan pemeriksa barang;
g. biaya profesional seperti arsitek dan insinyur; dan
h. biaya konstruksi.

3. Tanah diakui pertama kali sebesar biaya perolehannya, jika nilai


perolehannya tidak diketahui, dapat disajikan sesuai NJOP tanah
disekitarnya pada saat diperoleh atau saat penyusunan neraca awal
Aset tetap.

4. Biaya perolehan mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan


tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya
pematangan, pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang
dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai. Nilai tanah juga
meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli
tersebut jika bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk
dimusnahkan.

5. Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah


pengeluaran yang telah dilakukan untuk memperoleh peralatan dan
mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi
harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya
langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai
peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.

6. Biaya perolehan gedung dan bangunan menggambarkan seluruh


biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan bangunan
sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian
atau biaya konstruksi, termasuk biaya pengurusan IMB, notaris, dan
pajak.

7. Biaya perolehan jalan, jaringan, dan instalasi menggambarkan


seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh jalan, jaringan,
dan instalasi sampai siap pakai. Biaya ini meliputi biaya perolehan
atau biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai
jalan, jaringan, dan instalasi tersebut siap pakai.

8. Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan seluruh biaya


yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut sampai siap
pakai.
9. Biaya administrasi dan umum lainnya bukan merupakan suatu
komponen biaya aset tetap sepanjang biaya tersebut tidak dapat
diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan aset tetap atau
membawa aset kekondisi kerjanya. Namun kalau biaya administrasi
dan umum tersebut dapat diatribusikan pada perolehannya maka
merupakan bagian dari perolehan aset tetap.

10. Atribusi biaya umum dan administrasi yang terkait langsung


pengadaan aset tetap konstruksi maupun non konstruksi yang
sejenis dalam hal pengadaan lebih dari satu aset dilakukan secara
proporsional dengan nilai aset, adapun jika ada nilai dibelakang koma
dari hasil perhitungan akan di bulatkan keatas untuk salah satu nilai
barang.

11. Biaya perolehan suatu aset yang dibangun dengan cara swakelola
ditentukan menggunakan prinsip yang sama seperti aset yang dibeli.

12. Setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian.

Penilaian Awal Aset Tetap

Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu


aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur
berdasarkan biaya perolehan.

Perolehan Secara Gabungan

Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara


gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut
berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang
bersangkutan.

Aset Tetap Digunakan Bersama

Aset yang digunakan bersama oleh beberapa Entitas Akuntansi,


pengakuan aset tetap bersangkutan dilakukan/dicatat oleh Entitas
Akuntansiyang melakukan pengelolaan (perawatan dan pemeliharaan)
terhadap aset tetap tersebut yang ditetapkan dengan surat keputusan
penggunaan oleh Walikota selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan
Barang Milik Daerah.
Aset Prasarana dan Sarana Umum (PSU)

1. Pengakuan aset tetap akibat dari perjanjian kerja sama dengan pihak
ketiga berupa fasilitas sosial dan fasilitas umum (prasarana dan
sarana umum), pengakuan aset tetap dilakukan setelah adanya
Berita Acara Serah Terima (BAST) atau diakui pada saat
penguasaannya berpindah.

2. Aset tetap yang diperoleh dari penyerahan prasarana dan sarana


umum dinilai berdasarkan nilai nominal yang tercantum Berita Acara
Serah Terima (BAST). Apabila tidak tercantum nilai nominal dalam
BAST, maka prasarana dan sarana umum dinilai berdasarkan nilai
wajar pada saat perolehan yang ditetapkan oleh tim penilai intern/tim
verifikasi atau berdasarkan nilai NJOP tanah sekitarnya untuk aset
tanah pada saat aset tetap prasarana dan sarana umum diperoleh.

Pertukaran Aset (Exchange of Asets)

1. Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran


sebagian aset tetap yang tidak serupa atau aset lainnya. Biaya dari
pos semacam itu diukur berdasarkan nilai wajar aset yang
diperoleh,yaitu nilai ekuivalen atas nilai tercatat aset yang dilepas
setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang
ditransfer/diserahkan.

2. Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atas suatu aset
yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa dan memiliki nilai
wajar yang serupa. Suatu aset tetap juga dapat dilepas dalam
pertukaran dengan kepemilikan aset yang serupa. Dalam keadaan
tersebut tidak ada keuntungan dan kerugian yang diakui dalam
transaksi ini. Biaya aset yang baru diperoleh dicatat sebesar nilai
tercatat (carrying amount) atas aset yang dilepas.

3. Nilai wajar atas aset yang diterima tersebut dapat memberikan bukti
adanya suatu pengurangan (impairment) nilai atas aset yang dilepas.
Dalam kondisi seperti ini, aset yang dilepas harus diturun-nilai-
bukukan (written down) dan nilai setelah diturun-nilai-bukukan
(written down) tersebut merupakan nilai aset yang diterima. Contoh
dari pertukaran atas aset yang serupa termasuk pertukaran
bangunan, mesin, peralatan khusus, dan kapal terbang. Apabila
terdapat aset lainnya dalam pertukaran, misalnya kas, maka hal ini
mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak mempunyai
nilai yang sama.

Aset Donasi
1. Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi) harus dicatat
sebesar nilai wajar pada saat perolehan yang ditetapkan oleh tim
penilai intern/tim verifikasi , berdasarkan nilai NJOP tanah
sekitarnya untuk aset tanah atau sesuai harga beli aset sejenis
(sesuai SP2D) pada saat aset tetap prasarana dan sarana umum
diperoleh.

2. Aset donasi didefinisikan sebagai transfer tanpa persyaratan suatu


aset tetap ke suatu entitas, misalnya perusahaan nonpemerintah
memberikan bangunan yang dimilikinya untuk digunakan oleh satu
unit pemerintah daerah. Tanpa persyaratan apapun. Penyerahan aset
tetap tersebut akan sangat andal bila didukung dengan bukti
perpindahan kepemilikannya secara hukum, seperti adanya akta
hibah.

3. Tidak termasuk aset donasi, apabila penyerahan aset tetap tersebut


dihubungkan dengan kewajiban entitas lain kepada pemerintah
daerah. Sebagai contoh, satu perusahaan swasta membangun aset
tetap untuk pemerintah daerah dengan persyaratan kewajibannya
kepada pemerintah daerah telah dianggap selesai. Perolehan aset
tetap tersebut harus diperlakukan seperti perolehan aset tetap
dengan pertukaran.

4. Apabila perolehan aset tetap memenuhi kriteria perolehan aset


donasi, maka perolehan tersebut diakui sebagai pendapatan
operasional.

Pengeluaran Setelah Perolehan (Sub sequent Expenditures)


1. Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap yang
memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar
memberi manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dalam bentuk
peningkatan kapasitas/volume, peningkatan efisiensi, peningkatan
mutu produksi, penambahan fungsi, atau peningkatan standar
kinerja yang nilainya sebesar nilai satuan minimum kapitalisasi aset
tetap atau lebih, harus ditambahkan pada nilai tercatat
(dikapitalisasi) aset yang bersangkutan.
2. Tidak termasuk dalam pengertian memperpanjang masa manfaat
atau memberi manfaat ekonomik dimasa datang dalam bentuk
peningkatan kapasitas/volume, peningkatan efisiensi, peningkatan
mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja adalah
pemeliharaan/perbaikan/penambahan yang merupakan
pemeliharaan rutin/berkala/terjadwal atau yang dimaksudkan hanya
untuk mempertahankan aset tetap tersebut agar berfungsi
baik/normal, atau hanya untuk sekedar memperindah atau
mempercantik suatu aset tetap.

3. Nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap untuk pengeluaran


setelah perolehan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a) Pemeliharaan konstruksi meliputi gedung dan bangunan, jalan,
irigasi, jaringan minimum kapitalisasinya per unit adalah
sebagai berikut :

Gedung dan Bangunan


Uraian Kebijakan Kapitalisasi Batasan Nilai
Aset Tetap Untuk
Dikapitalisasi
a. Pemeliharaan Merupakan Belanja Tidak ada
Barang dan Jasa
b. Rehabilitasi Merupakan Belanja Mulai dari nilai per
Modal dan Masuk unit diatas
dalam Aset Tetap Rp 50.000.000
c. Pembangunan Merupakan Belanja Semua Belanja
Modal dan Masuk Modal
dalam Aset Tetap
Jalan dan Sarana Lingkungan :
Uraian Kebijakan Kapitalisasi Batasan Nilai
Aset Tetap Untuk
Dikapitalisasi
a. Pemeliharaan Merupakan Belanja Tidak ada
Barang dan Jasa
b. Peningkatan Merupakan Belanja Mulai dari nilai
Modal dan Masuk Rp 100.000.000
dalam Aset Tetap
c. Pembangunan Merupakan Belanja Semua belanja
Modal dan Masuk modal
dalam Aset Tetap
Jembatan :
Uraian Kebijakan Kapitalisasi Batasan Nilai
Aset Tetap untuk
Dikapitalisasi
a. Pemeliharaan Merupakan Belanja Tidak ada
Barang dan Jasa
b. Perbaikan/ Merupakan Belanja Mulai dari nilai
Rehabilitasi Modal dan Masuk Rp.100.000.000
dalam Aset Tetap
c. Peningkatan Merupakan Belanja Mulai dari nilai
Modal dan Masuk Rp.100.000.000
dalam Aset Tetap
d. Pembangunan Merupakan Belanja Semua belanja
Modal dan Masuk modal
dalam Aset Tetap

Pengairan : Bangunan Irigasi & Drainase

Kebijakan Kapitalisasi Batasan Nilai


Aset Tetap Untuk
Dikapitalisasi
a. Pemeliharaan Merupakan Belanja Tidak ada
Barang dan Jasa
b. Perbaikan/ Merupakan Belanja Mulai dari nilai
Rehabilitasi Modal dan Masuk Rp 100.000.000
dalam Aset Tetap
c. Pembangunan Merupakan Belanja Semua belanja
Modal dan Masuk modal
dalam Aset Tetap

Catatan tambahan : Pemeliharaan atau perbaikan yang


diklasifikasikan sebagai aset tetap harus memenuhi kriteria
memperpanjang masa manfaat atau memberi manfaat ekonomi
di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu
produksi dan peningkatan standar kinerja.
b) Peralatan dan mesin, tidak dikapitalisasi atas pemeliharaan dan
perbaikan, semuanya sebagai Belanja Barang dan Jasa.

Pengukuran Berikutnya (Subsequent Measurement) Terhadap


Pengakuan Awal

Aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut


dikurangi akumulasi penyusutan. Apabila terjadi kondisi yang
memungkinkan penilaian kembali, maka aset tetap akan disajikan dengan
penyesuaian pada masing-masing akun aset tetap dan akun akuitas.
Penyusutan
1. Metode penyusutan yang dipergunakan adalah Metode garis lurus
(straight line method).
2. Nilai penyusutan untuk masing-masing periode diakui sebagai
pengurang nilai aset tetap dalam neraca dan beban penyusutan
dalam laporan operasional.
3. Nilai penyusutan dihitung dengan pendekatan bulan perolehan jika
tidak didapat bulan perolehan dapat menggunakan bulan
penggunaan. Sehingga waktu penyusutan ditentukan berdasarkan
bulan saat aset tersebut di diperoleh dan/digunakan.
4. Pencatatan Beban Penyusutan dilakukan ketika akan menyusun
laporan keuangan.
5. Masa manfaat aset tetap yang dapat disusutkan harus ditinjau
secara periodik dan jika terdapat perbedaan besar dari estimasi
sebelumnya, penyusutan periode sekarang dan yang akan datang
harus dilakukan penyesuaian.
6. Perhitungan Beban Penyusutan jika berasal dari mutasi aset ke
SKPD lain yang diperoleh dari pembelian baru dihitung berdasarkan
bulan Berita Acara Serah Terima Barang (BAST) Mutasi.
7. Masa manfaat untuk menghitung tarif penyusutan untuk masing-
masing kelompok aset tetap adalah sebagai berikut:

Tabel Estimasi Masa Manfaat

Estimasi Estimasi
Nilai Masa
No Uraian
Sisa Manfaat
(Tahun)

A. Peralatan dan Mesin


1 Alat-Alat Besar Darat 0% 10
2 Alat-Alat Besar Apung 0% 8
3 Alat-alat Bantu 0% 7
4 Alat Angkutan Darat Bermotor 0% 10
5 Alat Angkutan Berat Tak Bermotor 0% 2
6 Alat Angkut Apung Bermotor 0% 10
7 Alat Angkut Apung Tak Bermotor 0% 3
8 Alat Angkut Bermotor Udara 0% 20
9 Alat Bengkel Bermesin 0% 10
10 Alat Bengkel Tak Bermesin 0% 5
11 Alat Ukur 0% 5
12 Alat Pengolahan Pertanian 0% 4
13 Alat Pemeliharaan Tanaman/Alat 0% 4
Penyimpan Pertanian
Estimasi Estimasi
Nilai Masa
No Uraian
Sisa Manfaat
(Tahun)
14 Alat Kantor 0% 5
15 Alat Rumah Tangga 0% 5
16 Peralatan Komputer 0% 4
17 Meja Dan Kursi Kerja/Rapat Pejabat 0% 5
18 Alat Studio 0% 5
19 Alat Komunikasi 0% 5
20 Peralatan Pemancar 0% 10
21 Alat Kedokteran 0% 5
22 Alat Kesehatan 0% 5
23 Unit-Unit Laboratorium 0% 8
24 Alat Peraga/Praktek Sekolah 0% 4
25 Unit Alat Laboratorium Kimia Nuklir 0% 15
26 Alat Laboratorium Fisika Nuklir / 0% 15
Elektronika
27 Alat Proteksi Radiasi / Proteksi 0% 10
Lingkungan
28 Radiation Aplication and Non 0% 10
Destructive Testing Laboratory
(BATAM)
29 Alat Laboratorium Lingkungan 0% 5
Hidup
30 Peralatan Laboratorium Hidro 0% 15
dinamika
31 Senjata Api 0% 10
32 Persenjataan Non Senjata Api 0% 3
33 Alat Keamanan dan Perlindungan 0% 5
B. Gedung dan Bangunan
1 Bangunan Gedung Tempat Kerja 0% 40
2 Bangunan Gedung Tempat Tinggal 0% 40
3 Bangunan Menara 0% 40
4 Bangunan Bersejarah 0% 40
5 Tugu Peringatan 0% 40
6 Candi 0% 40
7 Monumen/Bangunan Bersejarah 0% 40
8 Tugu Peringatan Lain 0% 40
9 Tugu Titik Kontrol/Pasti 0% 20
10 Rambu-Rambu Lalu Lintas Darat 0% 3
11 Rambu-Rambu Lalu Lintas Udara 0% 20
C. Jalan, Irigasi, dan Jaringan 0%
1 Jalan 0% 5
2 Jembatan 0% 20
3 Bangunan Air Irigasi 0% 5
4 Bangunan Air Pasang Surut 0% 20
5 Bangunan Air Rawa 0% 5
6 Bangunan Pengaman Sungai dan 0% 5
Penanggulangan Bencana Alam
7 Bangunan Pengembangan Sumber 0% 20
Air dan Air Tanah
Estimasi Estimasi
Nilai Masa
No Uraian
Sisa Manfaat
(Tahun)
8 Bangunan Air Bersih/Baku 0% 20
9 Bangunan Air Kotor 0% 20
10 Bangunan Air 0% 20
11 Instalasi Air Minum/Air Bersih 0% 5
12 Instalasi Air Kotor 0% 5
13 Instalasi Pengolahan Sampah 0% 10
14 Instalasi Pengolahan Bahan 0% 10
Bangunan
15 Instalasi Pembangkit Listrik 0% 20
16 Instalasi Gardu Listrik 0% 20
17 Instalasi Pertahanan 0% 20
18 Instalasi Gas 0% 20
19 Instalasi Pengaman 0% 20
20 Jaringan Air Minum 0% 10
21 Jaringan Listrik 0% 10
22 Jaringan Telepon 0% 10
23 Jaringan Gas 0% 10

8. Masa manfaat aset tetap yang diperoleh dari hibah atau pembelian
dalam kondisi bekas, masa manfaatnya dihitung mulai saat
perolehan.

9. Aset tetap berikut tidak disusutkan, yaitu Tanah, konstruksi


dalam pengerjaan,buku-buku perpustakaan, hewan ternak, dan
tanaman.

10. Aset tetap yang seluruh nilainya telah disusutkan hingga nilai
bukunya menjadi Rp 0,-, mungkin secara teknis masih dapat
dimanfaatkan, aset tetap tersebut tetap disajikan dengan
menunjukan baik nilai perolehan maupun akumulasi
penyusutannya. Aset tersebut tetap dicatat dalam kelompok aset
tetap yang bersangkutan dan dijelaskan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.

11. Aset Tetap yang direklass ke Aset Lainnya nilainya dipindahkan


sejumlah harga perolehannya beserta nilai akumulasi
penyusutannya.

12. Aset Tetap yang telah habis masa manfaatnya dan direklass ke Aset
Lainnya nilainya dipindahkan sejumlah harga perolehannya beserta
nilai akumulasi penyusutannya
13. Penjualan Aset Tetap yang telah disusutkan seluruhnya hasil
penjualan tersebut dicatat sebagai surplus/defisit penjualan aset
tetap pada Laporan Operasional.

14. Tukar menukar aset tetap dapat dilakukan antar pemerintah sesuai
peraturan perundang-undangan. Pertukaran dapat dilakukan atas
aset tetap yang sejenis dan atas aset tetap yang tidak sejenis.

15. Pertukaran aset yang tidak sejenis dicatat sebesar nilai tercatat (nilai
buku) aset yang diserahkan setelah disesuaikan dengan jumlah kas
yang diserahkan (jika ada). Manfaat aset tetap yang diterima
ditentukan kembali agar dapat ditentukan perhitungan penyusutan
untuk tahun berikutnya.

16. Dalam pertukaran aset tetap yang sejenis tidak diakui adanya laba
rugi. Dalam keadaan demikian, nilai aset tetap yang diperoleh dicatat
sebesar nilai tercatat aset yang diserahkan. Akan tetap masih ada
penentuan masa manfaat agar dapat ditentukan penyusutan aset
yang diperoleh.

17. Perhitungan Penyusutan Aset Tetap yang dilepaskan ditengah


periode akuntansi, maka akumulasi penyusutan yang dikeluarkan
dari neraca adalah sebesar akumulasi penyusutan per bulan terakhir
sebelum tanggal pelepasan.

18. Aset Tetap yang direklasifikasikan sebagai Aset Lainnya dalam


neraca berupa Aset Kemitraan Dengan Pihak Ketiga dan Aset Idle
disusutkan sebagaimana layaknya Aset Tetap.

19. Penyusutan tidak dilakukan terhadap Aset Tetap yang


direklasifikasikan sebagai Aset Lainnya berupa :

a. Aset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen


sumber yang sah dan telah diusulkan kepada Pengelola Barang
untuk dilakukan penghapusannya; dan
b. Aset Tetap dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang
telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan
penghapusan.

Penilaian Kembali Aset Tetap (Revaluation)

1. Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap tidak diperkenankan


karena kebijakan akuntansi pemerintah daerah menganut penilaian
aset berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran.
Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan
ketentuan pemerintah yang berlaku secara nasional.

2. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai


penyimpangan dari konsep biaya perolehan didalam penyajian aset
tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut terhadap gambaran
keuangan suatu entitas. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai
tercatat aset tetap dibukukan dalam ekuitas dana.

Penghentian dan Pelepasan Aset Tetap

Suatu aset tetap dan akumulasi penyusutannya dieliminasi dari neraca


dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan ketika
dilepaskan atau bila aset secara permanen dihentikan penggunaannya
dan dianggap tidak memiliki manfaat ekonomi/sosial signifikan dimasa
yang akan datang setelah ada Keputusan dari Kepala Daerah dan/atau
dengan persetujuan DPRD.

Pengungkapan Aset Tetap

1. Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing


jenis aset tetap sebagai berikut:
a. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai
tercatat (carrying amount);
b. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang
menunjukkan :
1) penambahan;
2) pelepasan;
3) akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
4) mutasi aset tetap lainnya.

c. Informasi penyusutan, meliputi:


1) Nilai penyusutan;
2) Metode penyusutan yang digunakan;
3) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal
dan akhir periode.

2. Laporan keuangan juga harus mengungkapkan:


a. Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap;
b. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan
aset tetap;
c. Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi; dan
d. Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

3. Jika aset tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali, hal-hal
berikut harus diungkapkan:
a. Dasar peraturan untuk menilai kembali aset tetap;
b. Tanggal efektif penilaian kembali;
c. Jika ada, nama penilai independen;
d. Hakikat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan
biaya pengganti; dan
e. Nilai tercatat setiap jenis aset tetap.

4. Aset bersejarah tidak disajikan dalam neraca, namun diungkapkan


secara rinci dalam Catatan atas Laporan Keuangan antara lain nama,
jenis, kondisi dan lokasi aset dimaksud.

Perbaikan aset tetap dapat menambah masa manfaat, kualitas atau


kapasitas aset tetap yang bersangkutan.
Perbaikan tersebut meliputi :
a. renovasi, merupakan kegiatan penambahan, perbaikan dan/atau
penggantian bagian aset tetap dengan maksud meningkatkan masa
manfaat, kualitas dan/atau kapasitas

b. restorasi, kegiatan perbaikan aset tetap yang rusak dengan tetap


mempertahankan arsitekturnya
Perubahan masa manfaat karena perbaikan sebagaimana disajikan di
atas berpedoman pada Tabel Penambahan Masa Manfaat Aset Tetap, dan
penambahan masa manfaat maksimal tidak melebihi masa manfaat
sesuai umur yang normal.
Tabel Penambahan Masa Manfaat

PRESENTASE
PENAMBAHAN
RENOVASI/RESTORAS
MASA
URAIAN JENIS I/ DARI NILAI BUKU
MANFAAT
ASET TETAP (DILUAR
(TAHUN)
PENYUSUTAN)
1 2 3 4
ASET TETAP

GEDUNG DAN BANGUNAN


01 Bangunan Gedung Tempat Kerja Renovasi > 0 % s/d 30 % 5
> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 75 % 15
> 75 % s/d 100 % 40

02 Bangunan Gedung Tempat Tinggal Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

03 Bangunan Menara Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

04 Bangunan Bersejarah Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15
> 75 % s/d 100 % 40

05 Tugu Peringatan Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 40

06 Candi Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15
> 75 % s/d 100 % 40

07 Monumen/ Bangunan Bersejarah Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15
> 75 % s/d 100 % 40

08 Tugu Peringatan Lain Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

09 Tugu Titik Kontrol Pasti Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

11 Rambu-rambu lalu lintas udara Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN


01 Jalan Renovasi > 0 % s/d 30 % 1
> 30 % s/d 60 % 3
> 60 % s/d 100 % 5

02 Jembatan Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

03 Bangunan Air Irigasi Renovasi > 0 % s/d 5 % 1


> 5 % s/d 10 % 2
> 10 % s/d 20 % 3

04 Bangunan Pengairan Pasang Surut Renovasi > 0 % s/d 5 % 2


> 5 % s/d 10 % 4
> 10 % s/d 20 % 6

05 Bangunan Air Pengembang Rawa Renovasi > 0 % s/d 5 % 1


> 5 % s/d 10 % 2
> 10 % s/d 20 % 3

06 Bangunan Pengamanan Renovasi > 0 % s/d 5 % 1


Sungai/Pantai dan Penangulangan
Bencana > 5 % s/d 10 % 2
> 10 % s/d 20 % 3

Bangunan Pengembangan Sumber


2
07 Air Renovasi > 0 % s/d 5 %
> 5 % s/d 10 % 4
> 10 % s/d 20 % 6

08 Bangunan Air Bersih / Air Baku Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

09 Bangunan Air Kotor Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30% s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

10 Bangunan Air Renovasi > 0 % s/d 30 % 5


> 30 % s/d 45 % 10
> 45 % s/d 65 % 15

11 Instalasi Air Minum/Air Bersih Renovasi > 0 % s/d 30 % 1


> 30 % s/d 45 % 2
> 45 % s/d 65 % 3

12 Instalasi Air Kotor Renovasi > 0 % s/d 30 % 1


> 30 % s/d 45 % 2
> 45 % s/d 65 % 3

13 Instalasi Pengolahan Sampah Renovasi > 0 % s/d 30 % 1


> 30 % s/d 45 % 3
> 45 % s/d 65 % 6

Instalasi Pengolahan Bahan


1
14 Bangunan Renovasi > 0 % s/d 30 %
> 30 % s/d 45 % 3
> 45 % s/d 65 % 6

15 Instalasi Pembangkit Listrik Renovasi > 0 % s/d 30 % 2


> 30 % s/d 45 % 7
> 45 % s/d 65 % 10

16 Instalasi Gardu Listrik Renovasi > 0 % s/d 30 % 2


> 30 % s/d 45 % 7
> 45 % s/d 65 % 10

17 Instalasi Pertahanan Renovasi > 0% s/d 30% 2


> 30% s/d 45 % 7
> 45 % s/d 65 % 10

18 Instalasi Gas Renovasi > 0% s/d 30% 2


> 30% s/d 45 % 7
> 45 % s/d 65 % 10

19 Instalasi Pengaman Renovasi > 0% s/d 30% 2


> 30% s/d 45 % 7
> 45 % s/d 65 % 10

20 Jaringan Air Minum Renovasi > 0% s/d 30% 1


> 30% s/d 45 % 3
> 45 % s/d 65 % 6

21 Jaringan Listrik Renovasi > 0% s/d 30% 1


> 30% s/d 45 % 3
> 45 % s/d 65 % 6

22 Jaringan Telepon Renovasi > 0% s/d 30% 1


> 30% s/d 45 % 3
> 45 % s/d 65 % 6

23 Jaringan Gas Renovasi > 0% s/d 30% 1


> 30% s/d 45 % 3
> 45 % s/d 65 % 6

D. PENGUNGKAPAN

Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing jenis


aset tetap sebagai berikut:
a) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat
(carrying amount);
b) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang
menunjukan:
1. Penambahan (Mutasi tambah);
2. Pelepasan (Mutasi kurang);
3. Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai,jika ada;
4. Mutasi aset tetap lainnya.
c) Informasi penyusutan, meliputi:
1. Nilai penyusutan;
2. Metode penyusutan yang digunakan;
3. Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4. Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan
akhir periode.
Jika aset tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali, hal-hal berikut
harus diungkapkan :
a. Dasar peraturan untuk penilaian kembali;
b. Tanggal effektif penilaian kembali;
c. Jika ada, nama penilai independen;
d. Hakikat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya
pengganti;
e. Nilai tercatat setiap jenis aset tetap.

WALIKOTA BEKASI,

RAHMAT EFFENDI