Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

BUDAYA MASYARAKAT PULAU BALI

DOSEN :

DIAN LAEILA SARI

DISUSUN OLEH:

Angga Sri Rahayu


Ovieta Restu Cahyani
Syifa Romdania
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Ilmu
Sosial Budaya Dasar.

Adapun makalah ISBD tentang Budaya Masyarakat Pulau Bali ini telah kami usahakan
semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak
terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun
tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi
penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan
terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik
kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga dari makalah ini kita dapat mengambil hikmah dan
manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta, Juni 2017

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Alasan Pemilihan Judul
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Penulisan
E. Sistematika Penulisan
BAB II : PEMBAHASAN
Tentang Bali
1. Letak Geografis
2. Wilayah
3. Pemerintah
4. Sejarah
Kebudayaan
1. Pakaian Adat Bali
2. Rumah Adat Bali
3. Tari Bali
4. Alat Musik Daerah
5. Adat Kebudayaan Bali
6. Kerajinan Khas Bali

Sistem Kepercayaan

1. Sistem Kasta
2. Sistem Kekerabatan
3. Kehidupan Sosial Masyarakat Bali

BAB III : PENUTUP

KESIMPULAN

SARAN
BAB I :PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara kepulauan (Negara yang terdiri dari banyak pulau). Salah satunya
adalah pulau Bali, setiap tahunnya ada wisatawan adiang maupan domestik yang dating mengunjungi
Bali. Mereka tidak hanya tertarik pada keinfahan alamnya saja, Tetapi mereka juga tertarik pada
kebudayaan masyarakat Bali yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik meskipun banyak
kebudayaan asing masuk ke Bali.

Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk menggambarkan kebudayaan masyarakat


Bali dan obyek wisata yang ada di Bali. Disamping itu penulis juga ingin mengetahui mengapi pulau
Bali sangat terkenal di dunia internasional dan apa yang membuat wisatawan lebih pertarik pada
pulau Bali, padahal banyak pulau-pulau lain di Indonesia.

B. Alasan Pemilihan Judul

Adapun alasan mengapa penulis memilih judul “Budaya Masyarakat Pulau Bali” adalah sebagai
berikut:

1. Penulis ingin mengetahui budaya apa saja yang ada di Pulau Bali
2. Penulis ingin menambah wawasan tentang Pulau Bali

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini sebagai berikut :

- Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar


- Untuk menambah wawasan tentang kebudayaan Bali

D. Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis adalah Metode Literatur, yaitu metode pengumpulan data
dengan cara membaca situs-situs internet yang mendukung dan menunjang dalam pembuatan karya
tulis ini.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembaca memahami karya tulis ini, maka penulis pada bagian ini akan
menjelaskan isi dari karya tulis ini. Pada bab pendahuluan diberi gambaran mengenai apa yang akan di
bahas penulis secara umum. Pada pembahasan selanjutnya, penulis menjelaskan tentang keadaan
pulau Bali, untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang letak geografis, wilayah, serta
sejarah Pulau Bali.

Pada pembahasan selanjutnya penulis membahas tentang Kebudayaan Bali, tentang pakaian adat,
alat musik, upacara adat.
BAB II : PEMBAHASAN
I. Tentang Bali
Bali adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Denpasar. Bali juga
merupakan salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara. Di awal kemerdekaan Indonesia, pulau ini
termasuk dalam Provinsi Sunda Kecil yang beribu kota di Singaraja, dan kini terbagi menjadi 3 provinsi:
Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.[3][4]
Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di
sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Serangan,
dan Pulau Menjangan.
Secara geografis, Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Mayoritas penduduk Bali
adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan
berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal
dengan julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

II. Letak Geografis


Provinsi Bali terletak 8o03’40”LS – 8o48”LS dan 144o25’53”BT – 115o42’400”BT, dengan luas
wilayah 5.88,8 km2. Bali beriklim tropis dengan curah hijan sedang, Sekitar 120 mm perbulan.
Musimhujan terjadi pada bulan Oktober-April dan musim kemarau terjadi pada bulan April-Oktober.

Pulau Bali terletak duisebelah timur pulau Jawa, dengan batas-batas sebagai berikut:

Sebelah Utara : Laut Jawa


Sebelah Tmur : Selat Lombok
Sebelah Selatan : Samudra Indonesia
Sebelah Barat : Selat Bali

III. Wilayah
Pulau Bali termasuk dalam kepulauan Nusa Tenggara, Indonesia. Pulau yang luasnya 5.808,8
km2 ini di belah dua pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga daratan yang agak
sempit di sebeah utara dan daratan yang lebih luas di sebelah selatan. Pegunungan yang sebagian
besar masih tertutup oleh hutan rimba tersebut mempunyai hal penting dalam pandangan hidup dan
kepercayaan penduduk pulau Bali. Di wilayah pegunungan itu terdapat pura yang di anggap suci oleh
penduduk Bali, seperti :
 Pura Pulaki
 Pura Batukaru
 Pura Besakih

IV. Pemerintah
Provinsi bali terdiri dari 8 kabupaten yaitu:
 Jembaran dengan ibukota Jimbaran
 Tabanan dengan ibukota Tabanan
 Badung dengan ibukota Denpasar
 Gianyar dengan ibukota Gianyar
 Klungkung dengan ibukota Smrapura
 Bangli dengan ibukota Bangli
 Karangasem dengan ibukota Amtapura
 Buleleng dengan ibukota Singaraja

Di tambah satu kota madya yaitu Denpasar, 51 Kecamatan, 658 des, 3.568 Banjar dinas.
Provinsi bali dipimpin oleh seorang gubernr, sedangkan kabupaten di pimpin oleh Bupati, dan kota
madya dipimpin oleh seorang wali kota.

Berikut gubernur-gubernur yang pernah menjabat di bali:

 Anak Agung Bagus Satudja 1950-1958


 I Gusti Bagus Okta 1958-1959
 Anak Agung Bagus Satudja 1959-1965
 I Gusti Putu Marta 1965-1967
 Soekarmen 1967-1978
 Ida Bagus Marta 1978-1988
 I Bagus Okta 1988-1993
 I Bagus Okta 1993-1998
 Dewa made Beratha 1998-2003
 Dewa made Beratha 2003-2008

V. Sejarah
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi
dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di
bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan
tulisan Bahasa Sanskerta dari India pada 100 SM.
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya
semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai
prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan
menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman
padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada
masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa,
pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir
seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam
di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis
dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de
Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar
dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya
di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi
mereka di Bali tidaklah sekukuh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali,
semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan
mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda
melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah
Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu
karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai titk darah penghabisan
atau perang puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya.
Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah
memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah
hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap
agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I
Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di
Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk
menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang
oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa
Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin
tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda
yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya
sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian
dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan
bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian
juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan
Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya
dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah provinsi dari Republik Indonesia.
Letusan Gunung Agung yang terjadi pada tahun 1963, sempat mengguncangkan
perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah
lain di Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di
Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan
simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau
hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian pada masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan
saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.
Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di
kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya
cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran.
Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar
korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan
berat beberapa tahun terakhir ini.
BAB II : PEMBAHASAN
KEBUDAYAAN BALI
Kesenian dan kebudayaan yang ada di Bali menjadikan bali mempunya daya tarik yang kuat
bagi para wisatawan yang datang ke daerah tersebut. Beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada
di Bali.

I. Pakaian adat Bali


Bali memiliki banyak macan atau varian dari pakaian adatnya. Untuk perempuan yang masih
remaja menggunakan sanggul gonjer, sedangkan perempuan atau wanita dewasa menggunakan
sanggul tagel, kemudian menggunakan sesentang atau kemben songket, Kain wastra, Sabuk prada
(stagen) untuk membelit pinggul dan dada, Selendang songket bahu ke bawah, Kain tapih atau
sinjang, di sebelah dalam, Beragam ornamen perhiasan, Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup
dada, dan alas kaki sebagai pelengkap. Untuk pria menggunakan ikat kepala atau udeg lalu
menggunakan selendang pengikat atau umpal, kain kampuh, kain wastra, keris, sabuk, kemeja atau
jas, serta ornament yang digunakan untuk menghiasi penampilan sang pria

II. Rumah adat Bali


Rumah adat Bali harus sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali ajaran terdapat pada kitab suci
Weda yang mengatur soal tata letak sebuah bangunan yang hampir mirip dengan ilmu Feng Shui
dalam ajaran Budaya China. Rumah adat Bali harus memenuhi aspek pawongan (manusia / penghuni
rumah), pelemahan (lokasi / lingkungan) dan yang terahir parahyangan.
Pada umumnya rumah Bali di penuhi dengan pernak-pernik hiasan, ukiran serta warna yang alami
lalu patung-patung symbol ritual. Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah manjadi banyak
bangunan-bangunan kecil - kecil dalam satu area yang disatukan oleh pagar yang mengelilinginya.
Seiring perkembangan jaman mulai ada perubahan pada bangunan dimana bangunannya tidak lagi
terpisah-pisah.
III. Tari Bali
Bali memiliki berbagai macam jenis tarian daerah yang berasal dari daerah ini diantaranya :

A. Tari Pendet

Tari Pendet ini ditarikan sebagai tari selamat datang untuk menyambut kedatangan para tamu
dan undangan dengan menaburkan bunga, dan ekspresi penarinya penuh dengan senyuman manis.
Pada awalnya tarian ini digunakan pada acara ibadah di pura sebagai bentuk penyambutan terhadap
dewa yang turun ke dunia.

B. Tari Panji Semirang

Tarian ini di mainkan oleh perempuan. Tari Panji Semirang adalah tarian yang menggambarkan
seorang putri raja bernama Galuh Candrakirana, yang menyamar menjadi seorang laki-laki setelah
kehilangan suaminya. Dalam pengembaraannya ia mengganti namanya menjadi Raden Panji.
C. Tari Condong

Tarian ini merupakan tarian yang cukup sulit untuk diragakan dan tarian ini memiliki durasi
panjang. Tarian ini adalah darian klasik Bali yang memiliki gerakan yang sangat kompleks dan
menggambarkan seorang abdi Raja

D. Tari Kecak

Tarian ini merupakan tarian yang sangat terkenal dari daerah Bali. Tarian ini dimainkan oleh
puluhan laki-laki yang duduk bari melingkar. Tarian ini menggambarkan kisah Ramayana saat barisan
kera membantu Rama melawan Rahwana. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang yaitu
tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan
Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
IV. Alat Musik Daerah
Bali memiliki alat musik tradisional yang khas dari daerah ini, alat musik ini merupakan alat
musik peninggalan turun menurun leluhur mereka, dan berikut beberapa alat musik tradisional Bali :

A. Gamelan Bali

Sama seperti daerah lain di Indonesia yang memiliki alat musik gmelan, Bali pun memiliki
alat musik gamelan. Namun gamelan Bali ini memiliki perbedaan dengan gamelan daerah lain salah
satunya yaitu ritme yang dimainkan pada gamelan Bali berjenis ritme yang cepat.

B. Rindik

Rindik merupakan alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu yang bernada selendro. Alat
musik ini dimainkan oleh 2 sampai 4 orang, 2 orang menabuh rindik sisanya meniup seruling. Alat
musik ini digunakan untuk pementasan tarian jogged bumbung dan untuk acara pernikahan.
V. Adat Kebudayaan Bali
Masyarakat Bali terdiri dari masyarakat yang beraga Hindu namun semua itu tidak
berpengaruh terhadap masyarakat lain yang tinggal di Bali namun tidak memeluk agama Hindu.
Berikut beberapa upacara yang biasa di lakukan oleh masyarakat bali :

A. Pernikahan

Untuk acara pernikahan ada beberapa upacara adat yang harus dilewati diantaranya :

 Upacara ngekeb

Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja
menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah
berupa keturunan yang baik

 Mungkah Lawang (Buka Pintu)

Adat ini adalah adat mengetuk pintu pengantin wanita sebanyak tiga kali, sebagai bentuk bahwa
pengantin pria telah datang untuk menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera
dibukakan pintu
 Madengen dengan

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi
negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian

 Mewidhi Widana

Acara ini merupakan acara penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan
pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara sebelumnya. Lalu keduanya menuju
merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa.

 Mejauman Ngabe Tipat Bantal

Setelah beberapa hari menikah, baru upacara ini dilaksanakan. Acara ini dilakukan untuk
memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada
para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar
suaminya

 Upacara Potong gigi

Upacara potong gigi ini wajib dilakukan oleh laki-laki dan wanita yang beranjak dewasa yang di
tandai datangnya menstruasi untuk wanita dan membesarnya suara untuk laki-laki. Potong gigi
bukan berarti gigi dipotong hingga habis, melainkan hanya merapikan atau mengikir enam gigi pada
rahang atas, yaitu empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan yang dipercaya untuk menghilangkan
enam sifat buruk yang melekat pada diri seseorang, yaitu kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha
(amarah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri hati atau dengki).

B. Upacara Kematian

Masyarakat Bali selalu mengadakan upacara kematian di saat ada seseorang atau kerabat yang
meninggal dunia. Upacara kematian ini dikenal dengan nama upacara ngaben. Upacara ini yaitu
upacara pembakaran bagi orang yang sudah meninggal. Pada intinya upacara ini untuk
mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda
mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu
dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa selaku Dewa yang dipercaya oleh masyarakat atau umat hindu
khususnya masyarakat hindu Bali
VI. Kerajinan Khas Bali
Bali memiliki kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat kerajinan tangan tersebut ada
mulai kerajinan tangan membuat tas anyaman, ukiran bali berupa pajangan ataupun untuk pintu,
kerajinan tangan yang terbuat dari perak maupun kaca, topeng kayu asal Bali, pernak pernik
accessories Bali dan masih banyak lagi.
Sistem kepercayaan
Mayoritas masyarakat bali adalah beragama Hindu. Dalam kehidupan beragama, masyarakat bali
yang beragama Hindu percaya adanya satu tuhan dalam bentuk Trimurti yang Esa yaitu Brahmana
(yang menciptakan), Wisnu (yang melindung dan memelihara), dan siwa (yang merusak). Selain itu
masyarakat bali juga percaya kepada berbagai Dewa yana lain yang kedudukannya yang lebih rendah
dari Trimurti, seperti dewa Wahyu (dewa angin), dan Dewa Indra (dewa perang). Agama Hindu di
Bali juga mempercayai adanya roh abadi (Otman), buah dari setiap perbuatan (Karmapala), kelahiran
kembali dari jiwa (Punarbawa) dan kebebasan jiwa (moksa), semua ajaran-ajaran itu berada di kitab
Wedha.

Tempat untuk melakukan persembahyangan (ibadah) agama Hindu di Bali dinamakan Pura atau
Sangeh. Tempat ibadah ini berupa sekelompok bangunan-bangunan suci yang sifatnya berbeda-
beda. Ada yang bersifat umum seperti Pura desa dan ada yang sifatnya khusus yaitu Pura keluarga.
Di bali terdapat beribu-ribu pura atau sangeh yang masing-masing pura tersebut mempunyai hari
upacara (hari perayaan) tertentu sesuai denga perayaan leluhur mereka yang telah ditentukan oleh
sistem tanggalanya sendiri-sendiri.

Upacara tradisional khas Bali yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan adalah upacara
Ngaben. Ngaben adalah upacara pembalkaran mayat di Bali. Dengan demikian, setiap orang yang
sudah meninggal tidak cikubur melainka dibakar. Upacara ini memerlukan biaya yang cukup besar,
dan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu saja. Sebalum dibakar terlebih dahulu orang
yang meninggal diletakan di sebuah tandu panjang (seperti keranda), kemudian dibawa ketempat
pembakaran. Tandu ini biasanya diangkat oleh empat sampai delapan orang yang merupakan
kerabat atau saudara dekat dari orang yang meninggal. Dalam perjalanan pengiring mengucapkan
puji-pujian dan nyanyian sebagai pemujaan yang dipimpin oleh pemangku setelah sampai di tempat
pembakaran, sebelum masuk pintu, tandu tersebut diputar-putar sebanyak tiga kali, sebagai tanda
penghormatan dan izin untuk memasuki tempat pembakaran. Setelah dibakar, kemudian abu
tersebut di buang kelaut, ada juga yang disimpan di tempat khusus.

Selain upacara Ngaben, ada juga upacara lain seperti upacara hariraya Nyepi, Ngebak Geni, Hari
Raya Kuningan, Hari raya Galungan, dll.

Keseluruhan upacara di bali dapart di kelompokan sebagai berikut :

 Manusia Nyadan, yaitu upacara siklus dari anak-anak sampai dewasa


 Putra Nyadan, yaitu upacara untuk roh-roh
 Dewa Nyadan, yaitu upacara pembesaran
 Buta Nyadan, yaitu upacara yang ditunjukan untuk roh-roh jahat

1. Sistem Kasta

Akibat kuat agama Hindu, di Bali berlaku sistem kasta, yaitu pemisahan masyarakat berdasarkan
kedudukan atau tingkat kehormatan. Berdasarkan hal tersebut, masyarakat Bali dibedakan menjadi
4 Kasta, yaitu :

a. Kasta Brahmana

Kasta ini ditempati olah para dewa kerajaan, seperti pendeta. Kasta ini merupakan kasta
tertinggi di bali, sehingga seseorang dapat menduduki kasta ini sangat dihormati oleh masyarakat
umum atau kasta dibawahnya.
b. Kasta Ksatria

Kasta ini ditempati oleh para bangsawan kerajaan seperti raja, pangeran dan berbagai pengawal
kerajaan seperti patih dan panglima perang, pejabat-[ejabat kerajaan yang diberi wewenang untuk
memimpin daerah tertentu dibawah daerah kekuasaan raja. Kasta Ksatria dianggap kasta yang
mempunyai gengsi dan martabat atau derajat yang tinggi bagi orang yang ada di dalamnya.

c. Kasta Waisya

Kasta ini di tempati oleh para petani dan pedagang. Petani di bali juga digolongkan menjadi
beberapa kelompok berdasarkan kekayaan material atas kepemilikana tanah, sawah dan tempat
tinggal.

d. Petani Kelas Atas

Petani karya atas adalah mereka yang mempunyai penghasilan atas sawah atau ladang lebih dari
cukup dan bisa di gunakan untuk mencukupi dan menghidupi seluruh keluarga dan saudaranya.
petani karya atas ini memiliki sawah lebih dari 5 hektar dan juga memiliki tanah pekarangan beserta
halman untuk rumah tempat tinggalnya. Bagi petani karya atas, penggarapan sawah tidak dilakukan
sendiri, tetapi dengan cara mempekerjakan buruh tani atau dari kasta sudra.

e. Petani Kaya Sedang

Petani golongan ini mempunyai sawah dengan luas 1-5 hektar atau mempunyai sawah cukup
luas, hingga hanya dapat mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri, tetepi untuk mencukupi
kebutuhan saudaranya ditangguhkan.

f. Petani Kaya Bawah

Yaitu petani yang hanya mempunyai sawah kurang dari 1 hektar. Petani ini mengolah sendiri
sawah mereka, hasilnya sebagai konsumsi pribadi beserta keluarganya.

g. Kasta Sudra

Kasta Sudra pada masyarakat bali yaitu mereka yang keberadaanya kurang dihormati. Golongan
kasta Sudra ini tidak memiliki hak kepemilikan atas tanah pekarangan atau rumah tempat tinggal.
Kasta ini merupakan kasta terendah dalam pembagian kasta di bali.

h. Sistem Kesenian

Sistem keseniandi bali antara lain tari-tarian Bali, rumah adat dan pakaian adat bali. Tari-tarian
Bali seperti tari Legong dan tari Kecak sanat disukai oleh wisatawan. Tari Legomg merupakan tari
yang menceritakan kisah cinta raja Lasem, sementara tari Kecak mengiahkan tentang Bola Tantra
Kera Hanoman dan Sugriwa.

Beberapa rumah adat di bali antara lain gapura candi Bentar yang merupakan pintu masuk
istana raja. Balai Bengong yaitu tempat peristirahatan raja beserta kori Babetelan yaitu pintu
masukuntuk upacara keluarga.
Pakaian adat bali pria adalah ilat kepala (destar) kain songket Saput dan sbilah Keris yang
diselipkan kepinggang bagian belakang. Sedangkan untuk wanita umumnya menggunakan dua helai
kain songket, stangen Songket dan selendang, serta memakai hiasan bunga emas da bunga kamboja.

2. Sistem Kekerabatan

Perkawinan merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan manusia, demikian juga
dengan masyarakat bali yang memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai warga
masyarakat, untuk melakukan perkawinan.

Menurut ajaran adat lama yang banyak dipemgaruhi oleh sistem klan-klan (dadra) dan sistem
kasta (wangsa), perkawinan dilakukan antara warga se-klan atau antara warga yang sianggap
sederajat dalam kasta. Sementara perkawinan yang dianggap pantangan adalah perkawinan
Bentukar (makadengan ngad) yaitu perkawinan antara perempuan suami dengan saudara laki-laki
istri, perkawinan ini dianggap pantangan karena menurut kepercayaan dapat mendatangkan
bencana. Selain itu, perkawinan pantangan lain yang merupakan dosa besar adalah perkawinan
antara seseorang dengan anaknya, seseorang dengan saudara kandungnya atau saudara tirinya dan
antara seseorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya.

Pada umumnya pemuda di bali dapat memperoleh seorang istri dengan dua cara yaitu cara
memina kepada keluarga si gadis atau dengan melarikan si gadis.kedua cara tersebut merupakan
adat-adat perkawinan di bali. Kedua cara tersebut dilakukan dengan melakukan kunjungan resmi
dari keluarga si pemuda kepada si gadis, guna meminang si gadis atau dengan memberitahukan
kepada keluarga si gadis bahwa si gadis telah di bawa lari untuk di kawinkan. Kemudian diadakan
upacara perkawinan dan kunjunga resmi dari keluarga si pemuda kerumah orang tua si gadis untuk
meminta diri kepada roh nenek moyang si gadis.

Setelah menikah, biasanya pasangan suami istri baru menetap di kompleks perumahan dari
orang tua si suami. Tetepi tidak sedikit suami istri baru menetap di rumah baru. Sebalikanya ada pula
suatu adat perkawinan dimana pasangan suami istri baru menetap di kompleks perumahan keluarga
si istri.

3. Kehidupan Sosial Masyarakat Bali

a. Banjar

Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan wilayah social yang didasarkan pada kesatuan wilayah.
Kesatuan sosial tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara, upacara keagamaan yang
keramat. Di daerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya terbatas pada yang lahir di wilayah
banjar tersebut. Sedangkan di daerah datar, sifat keanggotaanya tidak tertutup dan terbataspada
orang-orang asli yang lahir di Banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah lain dan
kebatulan menetap di Banjar bersangkutan di pisahkan untuk menjadi anggota (karma Banjar) jika
yang bersangkutan menghendaki. Pusat banjar adalah Bale Banjar, di mana warga Banjar bertemu
pada hari-hari yang tetap. Banjar di kepalai oleh seorang kepala yang disebut kelai Banjar. Tugasnya
tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan dari Banjar sebagai suatu
komunitas, tetapi juga lapangan kehidupan beragama. Selain itu, ia juga harus memecahkan masalah
yang menyangkut adat. Kadang kalian Banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan
administrasi pemerintahan.
b. Subak

Subak di bali seolah-olah lepas dari Banjar, dan mempunyai kepala sendiri. Orang yang menjadi
warga Subak tidak semuanya sama dengan orang yang menjadi anggota Banjar. Warga Subak adalah
oemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari bendungn-bendungan yang di urus oles
suatu subjek.

c. Seka

Dalam kehidupan masyarakat bali, ada organisasi-organisasiyang bergerak dalam lapangan


kehidupan yang khusus yaitu Seka. Orgsnisasi ini bersifat turun-temurun, tetepi adapula yang
bersifat sementara. Ada seka yang fungsinya menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang
berkenaan dengan desa, misalnya Seka Baris (perkumpulan tari baris), Seka teruna-teruni, Seka
tersebut sifatnya permanen. Dan yang bersifat sementara seperti Seka yang didirikan berdasarkan
suatu kebutuhan tertentu, misalnya Seka Memula (perkumpulan menuai), Seka Gong (perkumpulan
gamelan), Seka-seka tersebut biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi Banjar
maupun desa.

d. Gotong Royong (Ngupoin)

Meliputi aktifitas disawah (seperti menanam,menyiangi, memanen, dll) dalam sekitar rumah
tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, memperbaiki sumur, dll), dalam perayaan-
perayaan atau upacara-upacara yangdi adakan oleh suatu keluarga atau dalam peristiw kecelakaan
dan kematian, Mgupoin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahw bantuan tenaga
yang diberikan wajib di balas dengan tenaga juga.
BAB III : PENUTUP

KESIMPULAN

Setelah menyusun karya tulis ini, penulis menyimpulkan :

 Pulau Bali sangat terkenal di dunia internasional karena memiliki keindahan alam dan seni
budaya yang sangat menarik, serta masyarakat Pulau Bali dapat bersatu dengan alam
Pulau Bali.
 Meskipun Bali banyak dimasuki oleh orang asing, tetapi masyarakat Pulau Bali dapat terus
menjaga kebudayaan asli mereka.
 Obyek-obyek wisata Pulau Bali sangat menarik dan ramai pengunjung, wisatawan tidak
hanya dari dalam negeri tetapi juga dari mancanegara.
 Pulau Bali merupakan obyek wisata alam yang sangat menawan, tidak ketinggalan pula
wisata belanjanya yang menjajakan hasil seni kerajinan dari daerahnya.
 Pulau Bali merupakan aset daerah yang dapat menambah devisa negara, karena Bali tidak
pernah sepi pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.

SARAN