Anda di halaman 1dari 71

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan daerah yang rawan akan terjadinya suatu

bencana karena wilayah negara Indonesia, merupakan suatu wilayah yang

berada pada tumbukan tiga lempeng besar yaitu dari arah Utara Eurasia

(Eropa-Asia), dari arah selatan Indo-Australia dan dari Timur lempeng

pasifik. Tumbukan ataupun pergeseran lempeng yang bisa terjadi sewaktu-

waktudapat menyebabkan terjadinya suatu Gempa Bumi (Puturuhu, 2015).

Dan menurut Disasterscharter (2006), menyatakan bahwa gempa bumi

merupakan bencana alam yang terbesar kedua di seluruh dunia setelah

bencana banjir, dan dalam kurun waktu 1980-2010 di Indonesia sudah

terdapat 76 kejadian bencana gempa bumi dan memiliki dampak yang

cukup besar.

Bencana itu sendiri merupakan suatu peristiwa yang dapat

mengganggu atau bahkan dapat mengancam kehidupan di dalam sebuah

masyarakat. Bencana gempa bumi juga bisa terjadi dimanapun tempatnya

dan kapanpun itu waktunya, tidak terkecuali pada saat jam belajar sekolah

berlangsung. Saat bencana itu terjadi pada waktu jam belajar, selain dapat

mengakibatkan kerusakan fisik, atau dampak psikologis juga dapat dialami

oleh komunitas di sekolah itu sendiri. Salah satu dari dampak yang

diakibatkan oleh terjadinya bencana ialah ada banyaknya korban jiwa dan
2

kecelakaan yang dapat menimpa pada anak-anak atau siswa-siswa yang

usianya dibawah umur 15 tahun. Jumlah angka kematian pada anak-anak

yang sangat tinggi dapat mengalami stress dan trauma (Septiadi, 2012). Dan

gempa bumi itu sendiri merupakan salah satu gejala alam yang sampai saat

masih sangat sulit untuk dapat diperkirakan kapan datangannya, sehingga

dapat disimpulkan bahwa gejala alam ini mempunyai sifat yang seolah olah

datangnya mendadak dan terjadinya tidak teratur (Suci Rinanda,2013).

Sebuah penelitian dari Maryani mengatakan (2009) bahwa “

Pengetahuan tentang kebencanaan dari siswa dan warga sekolah ternyata

pada umumnya tidak dipahami dengan baik, mencapai 70 % dari responden

yang menyatakan ada sedikit dan tidak ada yang paham tentang peristiwa

kebencanaan”. Hal ini begitu sangat mengenaskan jika dilihat padahal di

wilayah Indonesia ini sebagian besar wilayahnya adalah wilayah yang

rawan akan terjadinya bencana (Priyono,2014). Pemberian tentang

pengetahuan kepada seluruh siswa dan warga sekolah perlu diberikan

supaya mereka mampu untuk dapat menyiapkan diri dan dapat untuk lebih

waspada di dalam menghadapi suatu bencana. Pengetahuan dari

kebencanaan akan dapat membantu para guru dan siswa untuk dapat

mengupayakan pencegahan bila ada terjadinya trauma yang berkelanjutan

dari terjadinya gempa (Septiadi, 2012).

Selain pengetahuan tentang kebencanaan, semua komunitas yang ada

disekolah juga harus mengetahui tentang pendidikan kebencanaan yang

dapat digunakan sebagai bekal siswa ketika para siswa dihadapkan pada

suatu kondisi dimana kehidupan mereka terancan bencana. Metode


3

pembelajaran simulasi merupakan salah satu metode yang dapat dijadikan

bekal kepada siswa karena metode ini dimana siswa merasakan menghadapi

situasi yang sebenarnya. Selain itu, simulasi dapat diartikan penyajian

pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami

tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Pada dasarnya tujuan

dari simulasi yaitu agar siswa-siswi mengetahui tentang tindakan yang cepat

dan tepat yang harus dilakukan jika terjadi adanya suatu bencana yang

datang secara tiba-tiba (Nurjanah & Sunarhadi, 2015).

Memberikan pendidikan kesehatan tentang bencana sangat penting

dan mempunyai tujuan akhir mengubah sikap dan tindakan ke arah

kesadaran untuk melakukan kesiapsiagaan bencan. Pengetahuan tentang

kesiapsiagaan bencana bisa dapat menumbahkan dorongan dan pengertian

pada siswa mengenai kesiapsiagaan bencana.Tingkat pengetahuan siswa

tentang kesiapsiagan bencana gempa bumi masih kurang,hal ini disebabkan

karena dari pihak sekoalah belum menerapkan pendidikan tentang

kesiapsiagaan gempa bumi (Nuranda, dkk, 2014).

Di daerah Kabupaten Malang, merupakan daerah yang rawan akan

terjadinya bencana gempa dikarenakan Malang merupakan masuk dalam

jalur pertemuan dari lempeng Eurasia dan dengan lempeng Indo-Australia.

Pertemuan suatu lempeng itu berada di 200 km arah selatan, dengan

dilaluinya pertemuan dari dua lempeng tersebut, maka di wilayah Jawa

Timur bagian Selatan ada potensi terjadinya suatu bencana gempa bumi

tektonik, dan beberapa wilayah yang rawan akan terjadinya bencana di

kabupatan Malang meliputi beberapa kecamatan yaitu, Kecamatan


4

Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Dampit, Tirtoyudho, dan Ampilgading

(Desmonda dan Pamungkas, 2014), dan pada hari Senin, tanggal 8 Juli

tahun 2013 di Kabupaten Malang tepatnya di Kecamatan Sumbermanjing

Wetan tertimpa bencana Gempa Bumi yang mengakibatkan berbagai

kerusakan seperti 15 rumah rusak berat, 20 rumah rusak sedang, dan 76

rumah rusak ringan (BNPB, 2013). Kemudian yang terakhir juga pada

tanggal 16 November 2016 terjadi bencana gempa yang berpusat di

Kecamatan Malang Selatan dan mengakibatkan berbagai kerusakan, seperti

kerusakan rumah warga, kerusakan jalan dan lain sebagainya (BMKG,

2016).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan pada tanggal 14

November 2016 di SDN Argotirto 01 maka mendapatkan hasil bahwa dari 5

responden yaitu dari guru dan siswa belum pernah mendapatkan tentang

informasi pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan cara bagaimana

menghadapi bencana gempa bumi, dan dari beberapa siswa diberi

pertanyaan mereka menjawab tidak sesuai dengan jawaban. Maka hal ini

menunjukkan bahwa masih banyak siswa di SDN Argotirto 01 yang belum

mengetahui tentang bagaimana cara menghadapi bencana gempa bumi.

Maka dari fenomena di atas, peneliti ingin mengetahui apakah ada

hubungan dari pemberian pendidikan kesehatan tentang cara menghadapi

bencana gempa bumi.


5

1.2 Rumusan Masalah

“ Bagaimana pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode simulasi

terhadap tingkat pengetahuan siswa dalam menghadapi bencana gempa

bumi di SDN Argotirto 01“

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode simulasi

terhadap tingkat pengetahuan siswa dalam menghadapi bencana

gempa bumi di SDN Argotirto 01.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pada siswa di SDN Argotirto

01 sebelum dilaksanakan pendidikan kesehatan dengan metode

simulasi tentang tingkat pengetahuan siswa menghadapi bencana

gempa bumi.

2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pada siswa di SDN Argotirto

01setelah dilaksanakan pendidikan kesehatan dengan metode

simulasi tentang tingkat pengetahuan siswa menghadapi bencana

gempa bumi.

3. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan pada siswa di SDN

Argotirto 01dengan metode simulasi terhadap tingkat pengetahuan

siswa dalam menghadapi bencana gempa bumi.


6

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Responden

Sebagai bahan dari gambaran awal dan tingkat pengetahuan siswa

tentang cara dalam menghadapi bencana gempa bumi.

1.4.2 Bagi Lahan Penelitian

Dapat menjadi bahan refensi bagi pihak lahan dalam upaya

memberikan gambaran awal dan pengetahuan tentang cara dalam

menghadapi bencan gempa bumi.

1.4.3 Bagi Ilmu Keperawatan

Sebagai masukan untuk keperawatan terkait dengan Bencana Gempa

Bumi pada bidang keperawatan khususnya tentang pengetahuan

menghadapi bencana gempa bumi

1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat sebagai referensi tambahan untuk penelitian selanjutnya tentang

pasca terjadinya bencana gempa bumi.

1.5 Batasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap siswa di SDN Argotirto 01. Penelitian ini

menggunakan metode simulasi guna mengukur tingkat pengetahuan siswa

dalam menghadapi bencana gempa bumi sebelum dan sesudah dilakukan

pendidikan kesehatan dengan metode simulasi.


7

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pendidikan Kesehatan

2.1.1 Definisi Pendidikan Kesehatan

Pendidikan secara umum dapat diartikan sebagai segala upaya yang

dapat direncanakan untuk bisa mempengarui orang lain baik dari faktor

individu, kelompok, ataupun dari masyarakat sehingga mereka melakukan

apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Sedangkan pengertian dari

pendidikan kesehatan yaitu suatu aplikasi atau penerapan pendidikan di

dalam bidang kesehatan, dan secara operasional pendidikan kesehatan dapat

diartikan bahwa semua kegiatan dapat memberikan dan dapat meningkatkan

pengetahuan, sikap, dan praktek baik dari faktor individu, kelompok

ataupun masyarakat di dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan dari

diri mereka sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan

yaitu suatu bentuk rangkaian kegiatan dengan cara menyampaikan materi

tentang kesehatan yang bertujuan untuk dapat merubah perilaku dari sasaran

tersebut (Notoatmodjo, 2012).


8

2.1.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan

Menurut Undang-Undang Kesehatan No.23 Tahun 1992 dan WHO,

tujuan dari pendidkan kesehatan adalah upaya meningkatan kemampuan

masyarakat untuk dapat memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan,

baik dari segi fisik, mental dan sosialnya, dan tujuan utama dari pendidikan

sehatan adalah agar orang mampu menerapkan masalah dan mampu untuk

memutuskan dari rangkaian kegiatan yang tepat yang dapat berguna untuk

meningkatkan kualitas hidup sehat dan kesejahteraan dalam sebuah

masyarakat (Mubarak, 2009).

2.1.3 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dibagi menjadi 3 dimensi

(Fitriani, 2011), yaitu:

1. Dimensi Sasaran

a. Pendidikan kesehatan individu dengan sasarannya yaitu individu

b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasarannya yaitu

kelompok dengan masyarakat tertentu.

c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasarannya yaitu

masyarakat dengan wilayah luas.

2. Dimensi Tempat Pelaksana

a. Pendidikan kesehatan di sebuah rumah sakit dengan sasarannya

yaitu seorang pasien dan keluarga pasien.


9

b. Pendidikan kesehatan di sebuah sekolah dengan sasarannya yaitu

adalah seorang pelajar.

c. Pendidikan kesehatan di masyarakat atau di tempat kerja dengan

sasarannya yaitu adalah seorang masyarakat atau seorang pekerja.

3. Dimensi Tingkat Pelayanan Kesehata

Pendidikan kesehatan dapat dilakukan dengan berdasarkan 5 tingkat

pencegahan ( five levels of prevention ) (Leavel & Clark, 2009)

a. Peningkatan kesehatan ( Health Promotion )

Peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilakukan

melalui dengan beberapa contoh kegiatan seperti dengan

pendidikan kesehatan, penyuluhan kesehatan, pengadaan rumah

sakit, konsultasi perkawinan, pendidikan seks, pengendalian

lingkungan dan lain sebaginya.

b. Perlindungan Umun dan Khusus (General and Specific Protection)

Perlindungan umun dan khusus merupakan suatu usaha

kesehatan untuk dapat memberikan perlindungan dengan secara

khusus atau umum kepada seseorang ataupun untuk suatu

masyarakat. Bentuk perlindungan tersebut dapat digambarkan

seperti imunisasi dan higiene perseorangan, perlindungan diri dari

sebuah kecelakaan, kesehatan kerja, pengendalian sumber-sumber

dari pencemaran, dan lain sebagainya.


10

c. Diagnosis Dini dan Pengobatan Segera atau Adekuat(Early

diagnosis and Prompt Treatment)

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang rendah terhadap

kesehatan dapat mengakibatkan masyarakat mengalami suatu

kesulitan untuk dapat mendeteksi suatu penyakit bahkan enggan

untuk memeriksakan kesehatan dirinya dan mengobati

penyakitnya.

d. Pembatasan Kecacatan (Disability Limitation)

Kurangnya dari pengertian dan kesadaran dari masyarakat

tentang keshatan dan penyakit sering mengkibatkan masyarakat

tidak mau melanjutkan proses pengobatannya sampai dengan

selesai, yang akhirnya dapat menimbulkan sebuah kecacatan atau

ketidak mampuan. Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan juga perlu

berperan dalam tahap ini dalam bentuk penyempurnaan dan

intensifiakasi terapi lanjutan, pencegahan komplikasi, perbaikan

fasilitas kesehatan, penurunan beban sosial penderita, dan lain

sebagainya.

e. Rehabilitasi (Rehabilitation)

Didalam rehabilitasi diperlukan pelatian untuk dapat

memulihkan seseorang yang telah sembuh dari suatu penyakit atau

menjadi cacat, karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran

tentang pentingnya rehabilitasi, masyarakat tidak mau untuk dapat

melakukan latian-latian tersebut (Mubarak & Chayanti, 2009).


11

2.1.4 Metode Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2012) metode pendidikan kehatan dapat dibagi

menjadi 3 macam yaitu:

a. Model individual (Perorangan)

Model ini dibagi lagi menjadi 2 macam yaitu:

1. Bimbingan dan penyuluhan (Guidance & counceling)

2. Wawancara (interview)

b. Metode massa

Pada umumnya metode ini berbentuk pendekatan yang dilakukan

secara tidak langsung ataupun menggunakan medias massa.

c. Metode kelompok

Dalam sebuah metode kelompok ini harus dapat memperhatikan

apakah kelompok tersebut dalam jumlah yang besar atau dalam jumlah

yang kecil, karena metodenya akan lain. Keefektifitasan model

metodenyapun kan tergantung pada jumlah besar dan kecilnya sasaran

pendidikan yang akan dituju.

1. Kelompok besar

a. Ceramah

Metode ceramah merupakan metode yang cocok digunakan untuk

orang yang berpendidikan tinggi maupun rendah.

b. Seminar

Metode seminar ini cocok digunakan untuk sebuah kelompok dalam

jumlah besar dengan orang yang berpendidikan menengah ke atas. Dan


12

pengertian seminar sendiri itu merupakan sebuah presentasi dari seorang

ahli atau dari kumpulan bebearapa orang ahli dengan topik yang tertentu.

2. Kelompok kecil

a. Diskusi kelompok

Kelompok ini dibuat untuk saling berhadapan,ketua kelompo

menempatkan dirinya di antara tengah-tengah kelompok, dan setiap

kelompok mempunyai kebebasan untuk dapat mengutarakan

pendapatnya, dan biasanya pemimpin mengarahkan agar supaya tidak

ada dominasi antar sesama kelompok.

b. Curah pendapat

Curah pendapat merupakan sebuah hasil dari modifikasi kelompok, di

setiap kelompoknya memberikan pendapatnya, lalu pendapat tersebut di

tulis di papan tulis, dan ketika memberikan pendapat maka tidak boleh

ada yang mengomentari pendapat siapapun sebelum semunya sudah

mengemukakan pendapatnya masing-masing, lalu setiap anggota

diperbolehkan untuk berkomentar dan akan terjadi diskusi.

c. Bola salju (Snow balling)

Semua orang akan dibagi dengan berpasang-pasangan yang

beranggotakan 2 pasangan. Lalu diberikan satu pertanyaan dan diberi

waktu kurang lebih adalah 5 menit kemudian setiap pasangan bergabung

menjadi satu dan mendiskusikan pertanyaan tersebut, kemudian pasangan

yang beranggotakan 4 orang tadi bergabung lagi dengan kelompok yang

lain, demikian seterusnya sampai dapat membentuk kelompok dalam satu

kelas dan dapat timbul sebuah diskusi.


13

d. Kelompok-kelompok kecil (Buzz group)

Dalam kelompok ini dibagi menjadi kelompok yang kecilkemudian

dilontar satu pertanyaan dan kemudian masing-masing kelompok

mendiskusikan masalah tersebut dan kemudian kesimpulan dari beberapa

kelompok tersebut dicari kesimpulannya kembali.

e. Bermain peran (Role play)

Beberapa anggota kelompok ditunjuk guna untuk dapat memerankan

suatu peran yang misalnya menjadi seorang dokter, perawat atau bidan,

sedangkan anggota yang lain berperan sebagi pasiennya atau menjadi

masyarakat.

f. Permainan simulasi (Simulation game)

Simulasi yaitu suatu cara yang meniru suatu karakteristik- karakteristik

atau suatu perilaku tertentu dari dunia nyata, sehingga para peserta dapat

latihan berealisasi seperti pada keadaan yang sebenarnya. Dengan

demikian, jika peserta pelatian dapat kembali ke tempat kerjanya yang

telah bisa melakukan pekerjaan yang telah disimulasikan, dan metode ini

merupakan gambaran antara bermain peran dan diskusi kelompok

Metode simulasi ini menyangkup dari beberapa hal, yaitu :

1. Simulator alat-alat (misalnya, simulator alat-alat suntik bagi pendidikan

dokter atau perawat, dan simulator sumur pompa tangan bagi pendidikan

sanitas).

2. Studi kasus (case study). Para peserta latihan diberikan kasus, kemudian

dipelajari dan didiskusikan. Metode kasus ini sangat sesuaiuntuk

mengembangkanketrampilan dan memecahkan masalah.


14

3. Bermain peran (role playing).

4. Teknik didalam keranjang (in basket tekhnique). Metode ini dapat

dilakukan dengan cara pemberian dari bermacam-macam persoalan

kepada para peserta latihan.

1.2.5 Media Pendidikan Kesehatan

Menurut Nursalam (2008) media pendidikan kesehatan yaitu suatu

saluran komunikasi yang dapat dipakai untuk mengirimkan suatu pesan

kesehatan, dan media itu diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu: media

cetak, media elektronik, dan media papan (billboard).

a. Media cetak

1. Booklet: yaitu untuk menyampaikan pesan dalam bentuk pesan tulisan

maupun gambar, dan biasanya sasarannya yaitu masyarakat yang bisa

membaca.

2. Leaflet: yaitu suatu penyampaian pesan melalui selembaran kertas yang

dilipat dan biasanya berisi gambar atau tulisan atau bahkan biasanya

dalam bentuk dua-duanya.

3. Flyer (selebaran): yaitu berbentuk seperti leaflet tetapi tidak ada

lipatannya.

4. Flip chart (lembar balik): yaitu sebuah informasi tentang kesehatan yang

berbentuk lembar balik dan berbentuk buku. Biasanya berisi gambar

dibaliknya berisi pesan kalimat yang berisi tentang informasi yang

berkaitan dengan gambar tersebut.


15

5. Rubik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, mengenai suatu

hal yang berkaitan dengan hal kesehatan.

6. Poster: yaitu berbentuk media cetak yang berisi tentang pesan-pesan

kesehatan yang biasanya ditempel pada tembok-tembok pada tempat

umum dan kendaraan umum.

7. Foto: yaitu yang biasanya mengungkapkan tentang masalah informasi

kesehatan.

b. Media elektronik

1. Televisi: yaitu dalam bentuk ceramahdi dalam TV, sinetron, sandiwara,

dan vorum diskusi tanya jawab dan lain sebagainya.

2. Radio: yaitu bisa dalam bentuk ceramah di radio, sport radio, obrolan

tanya jawabdan lain sebagainya.

3. Vidio Compact Disc (VCD).

4. Slide: slide juga dapat digunakan untuk sebuah sarana informasi.

5. Film strip juga bisa digunakan untuk menyampaikan pesan tentang

kesehatan.

c. Media papan (bill board)

Yaitu sebuah papan yang dipasang pada tempat-tempat umum dan

dapat dipakai atau diisi tentang pesan-pesan kesehatan. Media papan

disini juga mencangkup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran yang

ditempel pada kendaraan umum.


16

2.2 Konsep Metode Simulasi

2.2.1 Pengertian Metode Simulasi

Simulasi yaitu sebuah tiruan atau suatu perbuatan yang hanya berpura-

pura saja, dan yang berasal dari kata simulate yang mempunyai arti pura-

pura atau berbuat seolah-olah dan simulation artinya tiruan atau perbuatan

yang hanya berpura-pura saja atau dapat diartikan bahwa metode simulasi

itu adalah suatu cara pembelajaran yang dimana didalam pengajarannya

dengan tingkah laku tiruan dan dalam proses pembelajarannya bisa lebih

menyenangkan dan lebih bisa memberikan peran aktif kepada siswa serta

dapat membantu siswa didalam proses belajar memecahkan suatu masalah

(Kusnianingsih,2015).

2.2.2 Prinsip-Prinsip Metode Simulasi

Prinsip dari metode simulasi yaitu:

1. Metode simulasi hendaknya dilakukan oleh sekelompok para siswa, dan

disetiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk bisa melaksanakan

simulasi yang sama ataupun juga bisa berbeda.

2. Di dalam proses pembelajaran dengan metode simulasi semua siswa

harus bisa terlibat langsung dengan peranan masing-masing.

3. Dalam penentuan suatu topik harus dapat disesuaikan dengan tingkatan

kemampuan kelas.
17

4. Sebelum melakukan simulasi, petunjuk permainan simulasi hendaknya

diberikan terlebih dahulu.

5. Di dalam pembelajaran dengan metode simulasi hendaknya dapat

digambarkan dengan situasi yang lengkap (Taniredja,2011).

Hal yang harus dipengan oleh guru/fasilitator dalam proses

berjalannya simulasi yaitu:

1. Penjelasan; untuk dapat melakukan metode simulasi pemain harus benar-

benar dapat memahami aturan mainnya, dan oleh sebab itu para

fasilitator hendaknya bisa memberikan suatu penjelasan dengan sejelas-

jelasnya tentang bagaimana aktivitas yang harus dilakukan serta dengan

konsequensinya.

2. Mengawasi (refereeing), yaitu metode simulasi yang dirancang dengan

tujuan tertentu dengan sebuah aturan dan prosedur main yang tertentu,

maka dengan untuk fasilitator harus bisa mengawasi proses berjalannya

simulasi sehingga dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.

3. Melatih (coaching), di dalam proses bejalannya simulasi pemain pasti

akan mengalami kesalahan, oleh karena itu para fasilitataor harus dapat

memberikkan saran, petunjuk, atau arahan sehingga dapat

memungkinkan untuk mereka tidek melakukan kesalahan yang sama.

4. Diskusi, didalam refleksi itu menjadi peran yang sangat penting, oleh

sebab itu setelah melakukan proses simulasi para fasilitator hendaknya

bisa mendiskusikan untuk beberapa hal, seperti;

a. seberapa jauh proses pembelajaran dengan metode simulasi sudah sesuai

dengan situasi yang sebenarnya (real word)


18

b. kesulitan-kesulitan apa saja yang terjadi dalam proses pembelajaran

dengan menggunakan metode simulasi.

c. Hilkmah apa saja yang dapt diperpleh oleh para siswa dan fasilitator

setelah melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode

simulasi.

d. Bagaimana cara untuk dapat meningkatkan atau memperbaiki

kemampuan siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan

metode simulasi (Kusnianingsih,2015)

2.2.3 Tujuan Metode Simulasi

Tujuan dari bermain peran yang sesuai dengan jenis belajar yaitu:

1. Belajar dengan berbuat, untuk para siswa dapat melakukan peranan

tertentu yang sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya, yang

bertujuan untuk bisa mengembangkan ketrampilan interaktif atau

ketrampilan reaktif.

2. Belajar dengan melalui peniruan (imitasi), para siswa disuruh untuk

mengamatkan suatu drama dan menyamakan dirinya dengan pelaku

(aktor) dan tingkah lakunya.

3. Belajar melalui balika, yaitu para pengamat harus mengomentari atau

menanggapi perilaku para pemain atau pemenang peran yang telah

ditampilkan yang tujuannya untuk dapat mengembangkan prosedur-

prosedur kognitif dan prinsip-prinsip yang mendasari perilaku

ketrampilan yang telah didramatisasikan.


19

4. Belajar melalui dengan pengkajian, penilaian, dan pengulangan, dan para

peserta dapat memperbaiki ketrampilan mereka dengan mengulanginya

dalam penampilan yang selanjutnya.

5. Melatih untuk peserta didik untuk dapat memecahkan suatu masalah

dengan bisa memanfaatkan sumber-sumber yang bisa digunakan untuk

memecahkan suatu masalah.

6. Meningkatkan dalam keaktifan belajar dengan melibatkan peserta didik

dalam mempelajari situasi yang hampir mirip dengan kejadian yang

sebenarnya atau dapat mengembangkan sikap percaya diri pada jiwa

peserta

2.2.4 Kelebihan Betuk-bentuk Metode Simulasi

Kelebihan dari metode simulasi yaitu;

1. Dalam proses simulasi dapat menyenangkan sehingga peserta secara

wajar dapat terdorong untuk dapat berpartisipasi dalam proses tersebut.

2. Dapat memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa dengan

memerlukan lingkungan yang sebenarnya.

3. Tidak memerlukan ketrampilan dalam komunikasi yang pekik dalam

proses berlangsung.

4. Dapat membangun kemungkinan terjadinya interaksi antar peserta didik.

5. Dapat menimbulkan respon yang positif dari para siswa yang lamban,

kurang komunikasinya, dan kurang mendapatkan motivasi.

6. Dapat melatih berfikir kritis karena para peserta semua terlibat dalam

analisa proses kemajuan simulasi.


20

7. Menciptakan keinginan peserta didik untuk belajar di hadapan banyak

orang disekelilingnya.

8. Dapat menambah keberanian, kepercayaan diri, kematapan penampilan

untuk para peserta didik di depan orang banyak.

9. Peserta didik bisa memiliki kesempatan untuk bisa menyalurkan perasaan

yang terpendam sehingga dapat merasakan kepuasan, kesegaran, serta

kesehatan jiwanya.

10. Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal di kehidupan dalam

bermasyarakat (Taniredja,2011).

2.2.5 Langkah-Langkah dalam Metode Simulasi

Langkah-langkah dalam proses metode simulasi dibagi menjadi

tahapan, yaitu;

1. Tahap Persiapan Simulasi

a. Harus menetapkan suatu topik atau masalahnya, serta jelas pencapaian

tujuan yang hendak dicapai dari sebuah proses simulasi.

b. Para fasilitator harus bisa memberikan gambaran suatu masalah di dalam

situasi masalah yang akan disimulasikan.

c. Para fasilitator juga harus menetapkan para pemain yang akan terlibat di

dalam proses simulasi, pemeran yang harus diperankan oleh para

pemeran dan waktu yang akan berlangsus selama proses simulasi

berjalan.
21

d. Fasilitator juga harus memberikan kesempatan kepada para siswa untuk

bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan proses

simulasi.

2. Tahap Pelaksanaan Simulasi/Tindakan Simulasi

a. Simulasi harus dimainkan oleh sekelompok pemeran yang sudah dipilih

oleh para fasilitator dan diberikan penjelasan sebelumnya.

b. Untuk para siswa yang mengikuti simulasi hendaknya mereka mengikuti

proses simulasi dengan penuh perhatian dan keseriusan.

c. Untuk para fasilitator harus bisa memberi bantuan kepada siswa yang

dalam prosesnya bermain perannya mengalami kesulitan.

d. Terakhir proses simulasi hendaknya diperhentikan terlebih dahulu pada

saat puncak permainan, guna bermaksud untuk bisa mendorong siswa

untuk bisa berfikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang

disimulasikan.

3. Tahap Penutup/Tahap Evaluasi

a. setelah melakukan proses simulasi hendaknya semua bisa melakukan

diskusi terlebih dahulu, baik tentang bagaimana jalannya proses simulasi

ataupun waktu penyampaian materi cerita yang akan disimulasikan, dan

fasilitator harus bisa mendorong untuk siswa dapat mengkritik dan

memberikan tanggapan terhadap proses berjalannya simulasi.


22

b. Untuk para siswa hendaknya harus bisa menarik kesimpulan setelah

dilakukannya proses dilakukannya bermain peran atau dengan prose

simulasi (Masjid,2013).

2.2.6 Bentuk-bentuk Metode Simulasi

Metode simulasi terdiri dari beberapa jenis, antara lain yaitu;

a. Role Playing

Role playing atau biasa disebut dengan bermain peran yaitu suatu

metode pembelajaran sebagai dari simulasi yang telah diarahkan untuk

bisa mengkreasikan peristiwa sejarah, mengkreasikan peristiwa aktual,

atau kejadian-kejadian yang akan mungkin uncul pada masa yang akan

datang.

b. Psikodrama

Psikodrama yaitu suatu metode pembelajaran dengan bermain peran

yang berintik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis dan

psikodrama biasanya digunakan proses terapi, yang bertujuan agar siswa

dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik lagi tentang dirinya,

menemukan konsep diri, dan bisa menyatakan reaksi terhadap tekanan-

tekanan yang dialaminya.

c. Sosiodrama

Sosiodrama yaitu adalah suatu metode pembelajaran bermain peran

untuk bisa memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan fenomena

sosial, permasalahan yangbisa menyangkut hubungan antara manusia


23

seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, atau gambaran keluarga yang

otoriter. Sosiodrama juga bisa digunakan untuk bisa memberikan

pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta

mengembangkan kemampuan siswa untuk bisa memecahkan suatu

permasalahannya.

d. Permainan

Permainan (simulasi game) merupakan suatu proses bermain peran

untuk para siswa dapat berkompetisi untuk bisa mencapai tujuan yang

tertentu melaui dengan pemainan dan mematuhi peraturan yang telah

ditentukannya ( Masjid,2013).

2.3 Konsep Penegtahuan

2.3.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan yaitu merupakan sebuah hasil dari mengerti, dan ini

terjadi kepada orang yang sudah melakukan suatu pengindraan terhadap

sebuah objek yang tertentu. Pengindraan dapat terjadi melalui suatu panca

indra manusia, yaitu mulai dari indra penglihatan, indra pendengaran, indra

penciuman, indra rasa, dan indra raba. Sebagian dari pengetahuan yang di

dapatkan oleh manusia yaitu diperoleh melalui indra penglihatan dan indra

pendengaran (Notoatmodjo, 2011).


24

2.3.2 Tingakatan Pengetahuan

Tingkat pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai tingkatan

yang berbeda-beda dan secara garis besar tingktan itu dapat dibagi menjadi

6 yaitu, (Notoatmodjo, 20011).

1. Tahu (Know)

Tahu dapat diartikan hanya sebagai mengingat kembali (Recall)

tentang suatu materi yang telah di pelajari sebelimnya. Maka dari itu

tingkatan pengetahuan dari tahu ini merupakan tingkatan yang paling

rendah. Kata yang dapat digunakan untuk mengukur bahwa seseorang itu

tahu tentang apa yang telah dipelajarinya antara lain yaitu : dapat

menyebutkan, dapat menguraikan, dapat mendefinisikan, dapat

menyatakan, dan lain sebagainya (Notoatmodjo, 2011).

2. Memahami (Comprehension)

Memahami dapat diartikan dengan suatu kemampuan untuk dapat

menjelaskan secara benar bagaimana tentang suatu objek yang diketahui

dan mampu menginterprestasikan materi tersebut dengan secara benar,

dan kata yang dapat dijadikan ukuran bahwa seseorang itu sudah paham

atau belum yaitu : dengan dapat menjelaskan, dapat menyebutkan contoh,

menyimpulkan, dan lain sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari

(Notoatmodjo, 2011).

3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi yaitu dapat diartikan sebagai upaya kemampuan utuk dapat

menggukan suatu materi yang sebelumnya telah dipelajari pada suatu

kondisi ataupun situasi yang sebenarnya (Real). Atau aplikasi ini dapat
25

diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip,

dan lain sebaginya yang masih dalam konteks atau situasi yang berbeda

(Notoatmodjo, 2011).

4. Analisis (Analysis)

Analisi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan seseorang untuk

dapat menjabarkan, memisahkan, dan mencari hubungan antara

komponen-komponen yang terdapat di dalam sebuah masalah atau objek

yang telah diketahui. Indikasi yang dapat menyatakan bahwa

pengetahuan seseorang itu telah sampai pada tingkat analisa adalah yaitu

apabila seseorang itu telah dapat membedakan, atau dapat

mengelompokkan, atau mampu membuat suiatu diagram (bagan)

terhadap pengetahuan atas objek tersebut (Notoatmodjo, 2010).

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesi yaitu dapat diartikan begai menunjukkan kepada suatu

kemampuan untuk dapat meletakkan tau menghubungkan dalam bagian-

bagian di dalam suatu bentuk yang keseluruhannya masih baru. Atau

dapat dapat diartikan bahwa sintesis adalah merupakan suatu kemampuan

untuk dapat menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada, dan

cara mengukur sintesis yaitu dengan cara dapat menyusun, dapat

merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuikam, dan lain

sebagainya terhadap suatu teori atau suatu rumusan-rumusan yang sudah

ada (Notoatmodjo, 2011).


26

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini yang dapat berkaitan dengan kemampuan untuk dapat

menjustifimasi atau penilain terhadap suatu materi atau sebuah objek dari

penilain-penilain itu yang didasarkan pada suatu kriteria yang yang telah

ditentukan sendiri, atau dapat menggunakan kriteria-kriteria yang sudah

ada, dan cara pengukuranya yaitu dengan cara dapat membandingkan,

dapat menanggapi, dapat menafsirkan sebab-sebab, dan lain sebaginya

(Notoatmodjo, 2010).

2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Menurut (Dewi & Wawan , 2010) faktor-faktor yang dapat

mempengarui pengetahuan yaitu adalah :

1. Pendidikan

Sampai disaat ini pendidikan mempunyai peran yang begitu

pentingpada disetiap perubahan perilaku untuk mencapai sebuah tujuan

yang dapat diharapkan. Dengan tingginya pendidikan yang sudah

ditempuh maka akan diharapkan pada tingkat pengetahuannya seseorang

dapat bertambah banyak sehingga memudahkan dalam menerima atau

mengadopsi suatu perilaku yang baru.

2. Usia

Usia juga dapat berpengaruh pada tingkat pengetahuan seseorang

karena dengan bertambanya usia, biasanya seseorang bisa kan lebih

dewasa juga dengan intelektualnya.


27

3. Pekerjaan

Seseorang yang bekerja maka pengetahuannya akan lebih luas

dibandingkan dengan seseorang yang tidak bekerja, karena dengan

bekerja seseorang akan lebih banyak untuk mempunyai informasi dan

pengalaman.

4. Pengalaman

Pengalaman juga merupakan suatu sumber pengetahuan atau suatu

cara untuk dapat memperoleh kebenaran dari pengetahuan. Hal ini

dilakukan dengan cara memecahkan suatu permasalahan yang dapat

dihadapi diwaktu masa lalu.

5. Pendidikan Kesehatan

Meningkatakan kwalitas pengetahuan dalam sebuah masyarakat juga

dapat melalui dengan cara metode simulasi, dengan bertambahnya

pengetahuan maka diharapkan seseorang akan dapat mengubah

perilakunya.

6. Media Massa

Dengan majunya teknologi yang sudah tersedia dengan berbagai aneka

macam, maka media massa dapat juga mempengarui pada perilaku

masyarakat tentang inovasi tertentu.

7. Sosial Budaya

Suatu kebiasan dan kondisi yang biasanya dilakukan oleh orang-orang

tanpa adanya penalaran, maka apa yang mereka lakukan tersebut

berdampak baik atau buruk. Dengan demikian seseorang yang akan

bertambah pengetahuannya walaupun itu tidak pernah melakukannya.


28

2.3.4 Cara Mempengoleh Pengetahuan

Menurut (Notoatmodjo,2010) cara memperoleh pengetahuan dapat

dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Dengan cara tradisional atau dengan cara non ilmiah yaitu tanpa dengan

melakukan penelitian yang ilmiah, dan tcara ini terbagi menjadi :

a. Cara Coba Salah (Trial and Error)

Yaitu dilakukan dengan cara menggunakan beberapa kemungkinan

dalam memecahkan masalah, kemudian apabila kemungkinan tersebut

tidak berhasil, maka dicoba kemungkinan yang lain samapi dengan

masalah tersebut dapat terpecahkan.

b. Secara Keseluruhan

Penemuan kebenaran ini dengan secara kebetulan terjadi karena tidak

disengaja oleh orang yang bersangkutan.

c. Cara Kekuasaan atau Otoritas

Pengetahuan ini diperoleh berdasarkan oleh pemegang otoritas, yakni

orang yang memiliki wibawa atau kekuasaan, baik dari segi tradisi,

otoritas, pemerintah, otoritas pemimpin agama, ataupun para ahli

pengetahuan bahakan ilmuan.

d. Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Yakni dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang

telah diperoleh dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi di

waktu masa lalu.


29

e. Cara Akal Sehat (Common Sense)

Akal sehat ataupun common sense kadang-kadang dapat menemukan

sebuah teori atau kebenaran. Pemberian hadiah atau hukuman merupakan

suatu cara yang masih dianut oleh banyak orang untu dapat

mendisiplinkan anak di dalam konteks segi pendidikan.

f. Kebenaran Melalui Wahyu

Ajaran atau dogma adalah suatu kebenaran yang didapatkan melalui

diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Dan kebenaran ini harus

diterima dan diyakini oleh para pengikutnya. Tidak terlepas dari apakah

ini kebenaran adalah rasional ataupun tidak.

g. Kebenaran Secara Intuitif

Kebenaran yang diperoleh manusia dengan secara cepat sekali melalui

proses di luar kesadaran, tapi tanpa melalui proses penalaran atau berfikir

dan berdasarkan intuisi atau bisikan hari saja.

h. Melalui Jalan Fikiran

Dalam memperoleh nilai kebenaran pengetahuan manusia telah

menggunakan jalan fikirannya, dengan melalui pernyataan-pernyataan

yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat

satu kesimpulan.

i. Induksi

Induksi merupakan suatu proses penarikan kesimpulan yang dapat

dimualai dengan pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan yang

bersifat umum. Lalu proses berfikir dengan cara induksi itu beranjak dari

sebuah hasil pengamatan panca indra ataupun hal-hal yang bersifat nyata.
30

j. Deduksi

Deduksi merupakan suatu pembuatan kesimpulan dari sebuah

pernyataan-pernyataan umum ke yang khusus. Proses berpikir deduksi ini

berlaku bahwa sesuatu yang sudah dianggap benar baik secara umum

pada kelas tertentu, berlaku pula kebenarannya pada semua peristiwa

yang terjadi pada setiap yang termasuk di dalam kelas itu.

2. Cara modern atau dengan cara yang ilmiah yaitu dengan melalui sebuah

proses penelitian. Cara ini disebut dengan juga metode penelitian yang

ilmiah ( scientific research method ) ataupun lebih populer disebut

dengan metodelogi penelitian.

2.3.5 Pengukuran Pengetahuan

Dalam pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara

wawancara ataupun dengan cara angket yang menanyakan tentang isi

sebuah materi yang dapat diukur dari sebuah subjek penelitian ataupun dari

responden,dan kedalaman dari sebuah pengetahuan yang kita ketahui atau

yang kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan tersebut.

Kemudian cara mengukur pengetahuan dari seseorang ini dapat

menggunakan dengan alat bantu kuisioner kemudian cara menilainya

dengancara dikategorikan baik, cukup dan kurang. Pengetahuan dapat

dinyatakan baik apabila 76%-100% perntanyaan dapat dijawab dengan

benar, kemudian pengetahuan dapat diketakan baik apabila 56%-75%

pertanyaan itu dapat dijawab dengan benar, lalu pengetahuan dapat


31

dikatagorikan kurang apabila <56% pertanyaan dijawab dengan benar

(Arikunto dalam Wawan dan Dewi, 2010).

2.4 Konsep Anak Usia Sekolah

2.4.1 Definisi Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah menurut WHO (World Healt Organization) yaitu

anak yang berusia 7 samapai dengan 15 tahun, sedangkan di negara

Indonesia umumnya anak yang berusia 7 sampai dengan 12 tahun

(Wooldridge 2005 dalam Indriya, 2011) mentakan bahwa anak yang masih

usia sekolah dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok

middle childhoold dan kelompok preadolescence. Kelompok middle

childhoold yaitu kelompok anak yang masih berusia 5 sampai dengan 10

tahun sedangkan yang disebut dengan kelompok preadolescence yaitu anak

yang berusia anata 9 samapi dengan 11 tahun untuk anak yang berjenis

kelamin peremupan dan anak yang berjenis lali-laki yaitu usia 10 sampai

dengan 12 tahun.

(Notoatmodjo, 1983 dalam Ditta, 2012) menyatakan bahwa anak usia

sekolah dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu masa kelas rendah, masa

kelas tiga dan masa pureal. Pada masa kelas yang rendah di sekolah dasar

pada umumnya memiliki sifat yang kecenderungan untuk memuji diri

sendir, dan membandingkan dirinya dengan temannya, patuh kepada

peraturan dan tidak dapat menyelesaikan suatu masalah, maka hal tersebut

akan dapat dianggap menjadi tidak penting, dan ciri-ciri anak yang pada
32

masa kelas 3 sekolah dasr yaitu ditandai dengan mulai menyulkai mata

pelajaran tertentu, ralistis, rasa ingin tahu yang tinggi, dan mulai gemar

membentuk kelompok bermain dengan kelompok sebayanya. Sedangkan

yang disebut dengan masa pureal, anak mulai memiliki sifat yang menonjol,

seperti sifat ingin berkuasa, mereka juga mulai mengakui otoritas orang tua

dan guru sebagai sesuatu yang wajar.

Anak pada masa sekolah adalah merupakan kelompok yang sangat

peka dalam menerima perubahan karena pada masa ini seorang anak sedang

dalam masa pertembuhan dan perkembangan (Notoatmodjo, 2005).

Almaitzer, Soetardjo, dan Soekarti (2010), menyatakan bahwa anak pada

masa usia sekolah akan dapat mengalami pertumbuhan, perkembangan,

peningkatan, kemandirian, dan pematangan ketrampilan motorik kasar dan

halus, perkembangan kognitif, emosional dan sosial pada periode ini sangat

berkembang pesat dibandingkan dengan perkembangan fisik yang relatif

stabil.

Anak usia sekolah juga dapat mengalami perubahan dan

perkembangan dari tahap “preoperationa” ke “concrete operasional

period” yang ditandai dengan adanya kemampuan anak untuk lebih fokus

terhadap sesuatu hal, penurunan sifat yang berkuasa, serta kemampuan

memberikan alasan yang lebih rasional (Brown, 2005 dalam Citra,

2008).Leliana (2008), juga menjelaskan bahwa dalam suatu perubahan

perkembanganndari tahap preoperational ke tahap concrete operation, anak

memiliki kemampuan untuk dapat lebih fokus terhadap suatu hal, kempuan

untuk dapat memberikan alasan yang lebih rasional pada suatu masalah,
33

kemampuan untuk dapat mengelompokkan dan megenerasiakn suatu hal

dan meningkatkan kemandirian dalam berperan baik di dalam keluarga

maupun di dalam sekolah ataupun di dalam sebuah masyarakat.

Perkembangan kognitif pada anak usia sekolah terlihat dari

kemampuan anak-anak dalam mengolah sebuah angka-angka dan bilangan,

mengobservasi pengetahuan tertentu dan dapat mengoprasikan kaidah-

kaidah logika walaupun masih terikat dengan objek yang bersifat konkreat.

Perkembangan mental pada anak dapat dilihat dari segi keterbukaan dan

keinginan anak dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan di sekolah,

contohnya seperti dalam cara membaca, menulis, dan menggambar. Anak

cenderung lebih suka untuk bertanya kepada orang lain dala mengeksplorasi

apa yang telah mereka lihat dan rasakan (Questian, 2011).

Pada anak usia 9 sampai dengan 12 tahun mempunyai ciri rasa ingin

tahu yang lebih tinggi, ingin belajar dan realistis, timbul minat kepada

pelajaran-pelajaran yang khusu, maka dari itu pada anak usia tersebut anak

akan lebih mudah untuk dapat menangkap informasi melalui dengan

aplikasi ataupun dengan praktik. Oleh karena itu anak pada usia tersebut

akan lebih mudah diberikan informasi dengan cara metode simulasi (Izzaty,

2008).
34

2.5 Konsep Bencana

2.5.1 Pengertian Bencana

Bencana yaitu suatu peristiwa yang dapat disebabkan kareana alam

atau karena ulah tangan manusia, dan dapat terjadi dengan cara tiba-tiba

atau perlahan-lahan dan dapat menyebabkan jiwa manusia hilang, kerusakan

harta benda dan lingkungan, serta dapat melampaui kemampuan dan sumber

daya masyarakat untuk dapat menanggulanginya (Masyarakat

Penanggulangan Bencana Indonesia, 2006).

Dan bencana alam yaitu merupakan suatu peristiwa alam yang dapat

menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia, atau konsequensi dari

suatu aktifitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti gempa bumi, letusan

gunung berapi, tanah longsor, dll) dan aktifitas manusia. Karena ketidak

berdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat,

seingga dapat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan serta

struktural, bahkan sampai dengan kematian, dan kerugian yang dihasilkan

tergantung dengan kemampuan untuk bisa mencegah atau dapat

menghindari bencana tersebut (Soemarno,2011).


35

2.5.2 Jenis-jenis bencana

2.5.2.1 Bencana Alam

1. Gempa Bumi

Gempa bumi yaitu suatu guncangan bumi yang disebabkan oleh

tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau

batu runtuhan. Kekuatan gempa bumi akibat ivitas gunung berapi dan

runtuhan bantuan yang relatif kecil. Kekuatan gempa yang besar berasal

dari tumbukan antar lempeng bumi dan patahan yang aktif, dan gempa

bumi dapat diartikan sebuah peristiwa pelepasan energi yang

menyebabkan pergeseran pada bagian di dalam bumi yang secara tiba-

tiba (Puturuhu, 2009).

2. Gelombang Tsunami

Gelombang tsunami yaitu gelombang laut yang dasyat/gelombang

pasang yang terjadi karena adanya gempa bumi atau letusan gunung

berapi dari dasar laut., dan gelombang tsunami menjalar dari sumbernya

ke semua arah, misalnya dari lokasi sebuah gempa. Gelombang tersebut

sangat panjang dan dapat merambat ke seluruh lautan hanya dengan

sedikit energi yang hilang (Puturuhu,2009).

3. Banjir

Banjir yaitu suatu peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Kejadian

banjir timbul jika air menggunangi daratan yang biasanya kering dan
36

banjir pada umumnya ditimbulkan oleh luapan air sungai yang meluap ke

lingkungan sekitar (Tarmin, 2012).

4. Tanah Longsor

Tanah longsor yaitu anjloknya masa tanah dan batuan menuruni lereng

bukit atau gunung. Tanah longsor biasanya terjadi ketika air hujan

meresap ke lahan bukit atau gunung. Aliran air kemudian menyusup ke

rekahan-rekahan batuan dan akhirnya aliran itu bertemu dengan material

yang licin, seperti serpihan batu atau lempeng. Posisi material ini miring

menghadap ke lembah dan semakin lama airnya semakin menggenang,

sehingga semakin berat dan penompang lereng tidak mampu lagi

menahan beban dan masa tanah dan batu pun ikut juga tergelincir di

sepanjang lereng (Widodo & Mulyani,2008).

5. Letusan Gunung Api

Letusan gunung api merupakan suatu bagian dari aktifitas vulkanik

yang biasa dikenal dengan istilah “erupsi” dan bahaya letusan gunung api

dapat berupa dengan awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu

lebat, gas racun, tsunami, dan banjir lahar (Ulum,20016).

6. Kekeringan

Kebakaran adalah situasi dimana bangunan disuatu tempat seperti

rumah penduduk, pasar, pabrik, gedung dan lain sebagainya dilanda api

yang dapt menimbulkan korban atau kerugian (Ulum, 20016).


37

7. Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan adalah suatu peristiwa dimana hutan dan lahan

dilanda oleh api, sehingga dapat menimbulkan kerusakan hutan dan lahan

yang menimbulkan kerugian ekonomis dan lingkungan (Ulum, 2016).

8. Angin Puting Beliung

Angin puting beliung yaitu merupakan angin yang begitu kencang

yang datang dengan secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak

melingkar dan menyerupai spiral dengan kecepatan 40 sampai 50 km/jam

sehingga dapat menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam

waktu yang singkat (3-5 menit) (Ulum, 20016).

9. Abrasi

Abrasi yaitu suatu proses pengikisan dari pantai oleh tenanga

gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya

disebut juga dengan erosi pantai dan kerusakan garis pantai akibat abrasi

ini dapat dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai dan

walaupun abrasi itu bisa disebabkan oleh alam daerah pantai, namun

manusia sering menyebut sebagai penyebab utama dari abrasi.


38

2.5.2.2 Bencana Non Alam

1. Kecelakaan industri

Kecelakaan industri merupakan suatu peristiwa kecelakaan yang

disebabkan oleh 2 faktor, yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe

humm act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis

kecelakaan yang dapat terjadi sangat tergantung macam-macam

industrinya, misalkan bahan dan peralatan kerja yang dipakai, proses

kerja, kondisi ditempat kerja atau bahkan yang terlibat didalamnya

(Ulum,2016).

2. Kejadian Luar Biasa (KLB)

Kejadian luar biasa yaitu timbulnya atau meningkatnya angka kejadian

kesakitan atau bahkan kemantian yang bermakna secara epidermilogis

pada suatu daerah di dalam kurun waktu yang tertentu dan status kejadian

luar biasa diatur oleh peraturan Mentri Kesehatan RI

No.949/MENKES/SK/VII/2004 (Ulum,2016).

3. Konflik Sosial

Konflik sosial yaitu suatu gerakan massal yang bersifat dapat merusak

tatanan atau tata tertib sosial yang telah ada, yang dapat dipicu oleh

kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas jadi

satu sebagai pertentangan diantara suku, agama dan ras (SARA)

(Ulum,2016).
39

2.6 Konsep Menghadapi Bencana Gempa Bumi

2.6.1 Proses terjadinya gempa bumi

Proses terjadinya gempa bumi sebenarnya terjadi tidak secara tiba-

tiba, namun melalui proses atau tahapan-tahapan tertentu, dan sebenarnya

gempa bumi terjadi setiap hari, namun kebanyakan tidak dirasakan oleh

manusia dan hanya alat seismograph saja yang dapat mencatatnya dan tidak

semuanya dapat menyebabkan kerusakan, kemudian proses terjadinya

gempa bumi dapat dilihat dari penyebab utama terjadinya, antara lain yaitu:

(Rezeki,2012).

1. Gempa Tektonik

Gempa tektonik yaitu suatu peristiwa peristiwa pelepasan suatu energi

yang berada di dalam bumi yang dapat disebabkan oleh perubahan letak

bumi yang menyebabkan pergeseran pada bagian didalam bumi dengan

secara tiba-tiba.

2. Gempa Vulkanik

Gempa vulkanik yaitu merupakan gempa yang disebabkan oleh

tekanan magma di dalam gunung berapi atau biasa disebut dengan gempa

gunung berapi.

3. Gempa Runtuhan

Gempa runtuhan merupakan gempa bumi yang terjadi karena adanya

runtuhan tanah atau batuan dan lereng gunung atau pantai yang curam

memiliki energi potensial yang besar dan mengakibatkan runtuhan

disertai dengan getaran, selain itu juga terjadi dikawasan tambang akibat
40

runtuhnya dinding atau terowongan pada tambang-tambang dibawah

tanah walaupun dampaknya tidask begitu membahayakan kecuali akibat

dari timbunan batuan atau tanah longsor.

4. Gempa Jatuhan

Gempa jatuhan adalah suatu gempa yang terjadi akibat dari meteor

yang telah jatuh ke permukaan bumi dan gempa jatuhan ini jarang sekali

terjadi.

5. Gempa Buatan

Gempa buatan dapat terjadi karena adanya unsur dari kesengajaan dari

sebuah rangkaian aktivitas manusia. Salah satu contohnya adalah pada

percobaan nuklir atau dinamit dibawah tanah atau laut yang dapat

menimbulkan sebuah getaran bumi yang tercatat oleh seismograph dan

getaran ini sangat tergantung dari besar kecilnya kekuatan ledakan, dan

biasanya juga efek yang ditimbulkannya bersifat lokal.

2.6.2 Dampak Gempa Bumi

Gempa bumi dapat menyebabkan berbagai kerusakan sarana seperti

bangunan, jembatan dan jalan-jalan besar dan luas. Gempa bumi biasanya

sering diikuti dengan gempa susulan dalam beberapa menit, jam, hari atau

bahkan minggu setelah gempa pertama, walaupun sering tidak sekuat yang

pertama. Ancaman gempa susulan adalah adanya runtuhan bangunan yang

telah goyah dan rusak akibat gempa yang pertama (Idep,2007).


41

Berdasarkan analisa ancaman gempa, maka kemungkinan dampak

bahaya gempa bumi yang akan melanda diantaranya yaitu;

(Sofiyaningrum,2009).

1. Ground Motion, yaitu suatu goncangan yang menyebabkan struktur

bangunan rusak akibat dari terjadinya proses bencana gempa bumi.

2. Liquefaction, yaitu sebuah perubahan stabilitas tanah menjadi massa

yang lebih gembur akibat dari proses terjadinya bencana gempa bumi

yang sudah terjadi.

3. Landslides, yaitu suatu bencana gempa bumi yang dapat memicu

terjadinya suatu gerakan tanah atau biasa disebut dengan tanag longsor.

4. Kebakaran yang terjadi akibat rusaknya sistem listrik dan gas pada area

sekitar yang telah terjadi bencana gempa bumi.

5. Tsunami yaitu suatu gelombang impulsive yang ditimbulkan oleh adanya

perubahan formasi batuan sesaat setelah akibat dari gempa di dasar laut.

2.6.3 Tidakan Menghadapi Gempa Bumi

Merencanakan menghadapi suatu bencana gempa tidak hanya

mencangkup dari perencanaan fisik bangunan belaka, tapi setiap orang di

dalam rumah sebaiknya tahu apa yang harus mereka lakukan dan kemana

harus mereka pergi bila dalam situasi darurat sedang terjadi, dan menurut

pedoman mengadapi gempa bumi, terbagi menjadi 3 kesiapan dalam

menghadapi gempa, yaitu; (Idep,2007).


42

1. Pra Gempa: Rencana Siaga

Hal pertama dari proses menghadapi gempa yaitu edukasi mengenai

dengan alam, baik dari sisi keunggulannya maupun dari segi

tantangannya. Hal yang ke dua adalah membangun rumah dan

infrastruktur lainnya yang sesuai dengan pontensi ancaman bencana

gempa dan yang ketiga adalah edukasi mengenai tentang potensi

ancaman, serta persiapan dan latian menyelamatkan diri di dalam

keadaan darurat (Idep,2007).

Edukasi pada tahap ini meliputi sebagai berikut: (Widyawati &

Muttaqin, 2010).

1. Identitas ancaman di dalam rumah atau gedung

Jika ada dinding yang retak maka harus memperbaiki adanya suatu

retakan pada dinding tembokmaupun di lantai dan jangan pernah

menganggap sepele dengan adanya retakan kecil yang ada pada dinding

dan di lantai.

Bila ada benda seperti lukisan yang menempel di dinding harus di

jauh dari tempat tidur, tempat orang biasanya duduk, atau tempat

dimanapun orang yang biasanya menjalankan aktifitas.

Jika masih mempunyai banyi jangan menidurkan bayi di dekat

barang-barang yang mudah sekali untuk runtuh atau terjatuh.

Periksalah kabel-kabel listrik dan selang gas, atau perbaiki atau ganti

bagian yang rusak dan kerusakan pada alat-alat ini bisa merupakan

potensi terjadinya kebakaran.


43

Pastikan rak-rak berdiri secara aman, dan bila memungkinkan maka

tempelkanlah ke dinding dengan kuat (dengan paku) agar tidak mudah

terjatuh.

Barang-barang yang besar dan berat, jangan disimpan di atas rak dan

bila mau dimasukkan rak, maka simpanlah dibagian bawah, demikian

juga halnya barang pecah belah.

Obat pemusnah serangga, pastisida, dan obyek yang mudah terbakar

harus tertutup dengan erat, lalu simpanlah ditempat yang aman.

Pada gedung yang bertingkat, tangga, dan lift serta terluar dari tembok

merupakan area yang paling berbahaya pada saat terjadi gempa, tangga

memiliki konstruksi yang paling rapuh dan dapat rubuh dengan cara

cepat.

2. Identifikasi Tempat Aman

Saat terjadi gempa pada umumnya orang hanya memilih keluar dari

ruangan, tetapi hal tersebut belum tentu merupakan suatu pilihan yang

bijak sana, karena gempa dapat berlangsung sangat cepat (rata-rata

kurang dari satu menit), sehingga di setiap langkah kaki sangat berharga ,

karena sebab itu penting untuk selalu memperlihatkan sejenak situasi

dimanapun berada, dan membuat rencana untuk menyelamatkan diri ke

tempat yang paling aman.

a. Di Dalam Ruangan

Sarana yang dapat dijadikan tempat berlindung yaitu pada pojok-pojok

di dekat pondasi juga dapat bermanfaat untuk menjadi tempat


44

menyelamatkan diri. Perabotan berat, meubuel dari jati dan ranjang yang

kuat dapat digunakan sebagai tempat untuk berlindung. Tempat

berlindung harus jauh dari jendea kaca, perapian, dan kompor gas, dan

lemari yang berisi barang berat.

b. Gedung Bertingkat

Jika tidak ada waktu berlari ke ruangan, tetap diruangan, dan usahakan

dapat merapat ke dinding/pondasi bagian dalam. Kontruksi terkuat

gedung bertingkat adalah pondasi dekat lift, dan dapat berlindung disana,

tetapi jangan sampai berada di dalam lift atau di area tangga.

c. Ruang Terbuka

Apakah kondisi dalam di luar ruangan lebih aman dan tidak ada

bahaya yang lebih besar? Bila akan melarikan diri keluar ruangan,

apakah memungkinkan, baik dilihat dari segi waktu dan keamana? Tiang

listrik, tiang telepon, papan reklame, pohon besar, serta reruntuhan

bangunan, dapat menjadi sebuah ancaman.

2. Saat Gempa: Langkah Penyelamatan Diri

Saat terjadi gempa, biasanya kita dalam kondisi yang panik dan

terpana, serta kaget dengan adanya kejadian yang baru saja menimpa

kita. Hal ini biasanya menjadikan kita untuk tidak bisa berbuat apa-apa,

namun untuk meminimalisir adanya korban, maka kita melakukan

tanggap darurat, dan adapun tindakan penyelamatan diri saat terjadi

gempa, yaitu:
45

1. Didalam Ruangan

Jika berada di dalam sebuah ruangan, maka lindungilah pada bagian

kepala dan badan dari reruntuhan dengan tas, papan, atau bantal

ataupunbisa bersembunyi dibawah meja ataupun tempat lainnya yang

dikira bisa aman.

Jika masih berada didalam sebuah ruangan saat terjadi gempa maka

jangan menggunakan lift atau tangga berjalan untuk jalur evakuasi.

Hindari benda-benda yang mudah terjatuh, misalnya pada sebuah

almari, lampu gantung, kaca ruangan, atap rumah dan lain sebagainya

yang dapat membahayakan utuk kita.

Jika terjadi gempa dan masih didalam sebuah ruangan maka

menunduk kebawah meja atau dalam sudut ruangan yang dikiranya bisa

melindungi diri kita.

Bila masih terjebak di dalam sebuah ruangan dan terjadi gempa maka

berdirilah menempel pada dinding di bagian dalam dan berdiri dibawah

kusen pintu untuk melindungi diri kita adanya reruntuhan.

Lalu berlari keluar apabila masih bisa dilakukan untuk dapat

mengurangi adanya luka atau korban saat terjadi suatu gempa.

Kemudian waspadalah terhadap adanya bahaya longsor yang mungkin

terjadi bila rumah berada pada daerah tebing atau lembah disuatu bukit.

Kemudian yang terakhir bila rumah berada di tepi pantai, maka harus

menyiapkan rute untuk melarikan diri ke daerah yang lebih tinggi untuk

menghindari diri dari biaya tsunami.


46

2. Diluar Ruangan

Jika berada di luar ruangan dan terjadi gempa maka, carilah tanah

lapang, hindari gedung-gedung yang tinngi, pohon yang tinggi, kabel dan

tiang listrik, papan reklame, dan terowongan serta jembatan, agar tidak

terkena reruntuhan.

Lalu Jauhi retakan tanah akibat dari proses bencana gempa bumi, agar

tidak membahayakan untuk semuanya, dan tanah retak itu bisa berpotensi

adanya bencana susulan.

Kemudian jika berada diluar ruangan maka jauhilah pada tempat-

tempat yang memungkin akan terjadi lonsor atau terkena longsoran

seperti tebing curam, tepi gunung, dan lain sebagainya.

3. Di Perjalanan (Mengendarai kendaraan)

Jika berada di dalam perjalanan maka usahakan untuk bisa Jauh dari

persimpangan, jembatan dan bangunan lainnya yang bisa berpotensi

buruk untuk kita.

Lalu jauhi dari gedung-gedung yang tinggi, pohon tinggi, jembatan,

terowongan, kabel listrik, papan reklame, tiang-tiang listrik yang

berpotensi adanya runtuhan akibat dari terjadinya gempa.

Jika gempa berlangsung maka hentikan mobil dan keluarlah turun

kemudian jauhilah mobil kemudian hindari jika mobil terjadi pergeseran

atau kebakaran pada saat gempa berlangsung.

Jika terperangkap didalam mobil yang dikarenakan reruntuhan atau

sebab lain, jangan menyalakan mesin dan juag api. Upayakan untuk bisa

segera keluar, atau menyalakan klakson untuk meminta bantuan.


47

3. Pasca Gempa: Pemulihan dan Waspada

Setelah terjadi bencana, maka harus dilakukan upaya untuk dapat

menormalkan kembali kehidupan yang telah mengalami kerusakan.

Adapun hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadinya bencan gempa

bumi, yaitu:

1. Rehabilitasi

Rehabilitasi merupakan langkah upaya yang dilakukan setelah

kejadian bencana untuk dapat membantu masyarakat memperbaiki

rumahnya, fasilitas umum, fasilitas sosial penting, dan menghidupkan

kembali roda perekonomian.

2. Rekontruksi

Merupakan suatu progam dalam jangka panjang guna perbaiki fisik,

sosial, dan ekonomi untuk mengembalikan masyarakat pada kondisi yang

sama atau lebih baik dari sebelumnya, kegiatan rekontruksi yang efektif

dan efesien memerlukan lima hal, yaitu:

a. Adanya pengakuan dari perintah terhadap kerugian dari proses

pembangunan nasional yang diakibatkan oleh bencana gempa bunmi

tersebut.

b. Adanya seorang yang bertanggung jawab, atas alokasi dana, dan

koordinasi instansi yang terkait dalam melaksanakan berbagai kegiatan

rekontruksi yang diperlukan.

c. Dalam membangunan sarana dan prasarana yang lebih aman sehingga

ketahanan atau kekuatan terhadap bencana gempa bumi dimasa depan

lebih meningkat dengan lebih baik lagi.


48

d. Dan lakukanlah pembangunan sarana dan prasarana dimasa yang akan

datang, untuk dapat menggantikan kerusakan yang lalu akibat dari

terjadinya bencana gempa bumi.

3. Pemulihan

Pemulihan adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang

terkena bencana, dengan memfungsikan kembali sarana dan prasarana

pada keadaan semula dengan melakukan upaya memperbaiki prasarana

dan pelayanan dasar (jalan, listrik,air bersih, pasar, puskesmas, dan lain

sebagainya).

4. Bantuan Darurat

Merupakan suatu upaya untuk memberikan bantuan yang berkaitan

dengan pemenuhan kebutuhan dasar yang berupa pangan, sandang,

tempat tinggal semetara, perlindungan, kesehatan, sanitasi dan air bersih.

5. Tindakan Penyelamatan Diri

Tindakan untuk menyelamatkan diri setelah terjadi gempa bumi

adalah:

Keluarlah dengan tertib dan hati-hati menuju lokasi yang aman untuk

penyelamatan diri dari proses terjadinya bencana gempa bumi

berlangsung agar korban bisa berkurang.

Hindarilah pada benda-benda yang potensi berbahaya misalnya,

(runtuhan, pecahan, saluran listrik, gas, dan lain-lain)untuk mengurangi

adanya adanya korban.


49

Periksalah diri sendiri atau orang disekitarmu jika terkena luka

reruntuhan dan memerlukan bantuan pengobatan dengan menggunakan

kotak P3K.

Periksalah pada lingkungan di sekitar, dan waspadalah terhadap

adanya bahaya bencana kebakaran, dan retakan tanah akibat yang terjadi

dari gempa bumi lalu dengarkan instruksi dan instansi terkait dari (via

radio).

Waspadalah terhadp adanya gempa susulan, isu-isu yang menyesatkan,

dan lingkungan sekitar yang dapat berptensi meimbulkan bahaya.

3.6.4 Cara Mengatisipasi Ancaman Gempa Bumi

Untuk dapat mengatisipasi bencana gempa bumi ada beberapa langkah

yang harus diketahui dan dilakukan masyarakat, yaitu:

1. Membuat rumah atau bangunan yang sesuai dengan standar dan

bangunan itu harus dibuat bisa tahan lama terhadap getaran atau tahan

terhadap gempa.

2. Mengikuti penyuluhan tentang bencana alam yang diadakan oleh

pemerintah atau lembaga yang terkait. Hal ini penting untuk

meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.

3. Mempersiapkan anggota keluarga untuk menghadapi keadaan yang

darurat, dan caranya dengan mencoba beberapa cara penyelamatan, lalu

siapkan perbekalan pengungsian, kenali tanda-tanda peristiwa, dan patui


50

setiap ketentuan saat terjadi gempa, dan pastikan keberadaan anggota

keluarga.

4. Membentuk kelompok-kelompok siaga di dalam masyarakat antar

kelompok harus selalu terjalin komunikasi (Julianto,2008).

3.7 Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Simulasi terhadap

Pengetahuan Cara Menghadapi Bencana Gempa Bumi

Pendidkan kesehatan bisa diartikan dengan sebagai suatu bentuk kegiatan

terencana yang bertujuan untuk bisa mengubah perilaku seseorang ataupun

kelompok sehingga bisa meningkatkan pengetahuan dan serta pemahaman

individu maupun kelompok di dalam bidang kesehatan (Mubarak dkk,

2007)

Dengan adanya pendidikan kesehatan maka diharapkan bisa merubah

suatu budaya keselamatandan ketahanan khususnya untu anak-anak dan

untuk generasi muda dan pendidikan siaga bencana perlu lebih lanjut

dikembangkan di tingkat pendidikan dasar. Belajar dari segi pengalaman

tentang kejadian bencana alam yang besar dan berbagai bahaya yang ada di

wilayah Indonesia, maka perlu untuk mengajarkan kepada anak-anak

tentang Siaga Bencana Sekolah (Pribadi, 2008).

Di dalam pendidikan kesehatan maka diperlukan suatu metode dalam

memberikan pendidikan, dan salah satunya dengan metode simulasi.

Metode simulasi yaitu suatu metode dengan cara peniruan karakteristik-

karakteristik atau perilaku-perilaku tertentu didalam dunia nyata sehingga

para peserta latihan dapat berealisasi seperti pada keadaanyang sebenarnya,


51

dan dengan demikian, metode ini akan lebih efektif untuk diterapkan pada

anak usia sekolah, karena metode ini menggunakan role playing atau

bermain peran, maka anak usia sekolah akan lebih mudah untuk memahami

materi pendidikan kesehatan yang telah diberikan (Mulana,2009)

Sehingga dapat diharapkan dengan memberikan pendidikan kesehatan

dengan metode simulasi ini diharapkan anak usia sekolah dapat lebih mudah

untuk memahami materi yang diberikan dan mampu meningkatkan

pengetahuan tentang cara menghadapi gempa bumi pada anak usia sekolah

dasar.
52

Faktor-faktor yang mempengaruh


pengetahuan:

1. Pendidikan Kesehatan

2. Pekerjaan

3. Usia

4. Pendidikan Kesehatan

5. Lingkungan

Siswa kelas IV di Pendidikan Tingkat pengetahuan siswa dalam


SDN Argotirto 01 Kesehatan menghadapi bencana Gempa Bumi

Metode Penkes

1. Simulasi
Tingkat Pengetahuan

2. Ceramah 1. Baik (76-100%)


2. Cukup (75-56%)
3. Seminar 3. Kurang (<56%)
4. Bermain Peran

Keterangan:

: Diteliti Tidak Diteliti

2.1: Kerangka Konsep

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Simulasi Terhadap


Tingkat Pengetahuan Siswa Menghadapi Bencana Gempa Bumi (Studi Di
SDN Argotirto 01)
53

Penjelasan Kerangka Konsep

Pada anak usia 9 sampai 12 tahun yang mempunyai ciri rasa yang ingin begitu

tinggi, ingin belajar dan begitu realistis dan timbul pada pelajaran-pelajaran yang

khusus. Pada anak yang mengalami pertumbuhan fisik, perkembangan dan

psikologi dimasa ini. Semua peristiwa ingin diselidiki dengan tekun dan penuh

dengan minat. Banyak ketrampilan yang mulai ingin dikuasai dan kebiasaan

tertentu dan mulai dikembangkan, dan sekolah dapat memberikan pengaruh yang

sistematis maka sebab itu perlu diberikan pendidikan kesehatan pada anak usia

sekolah supaya mereka tahu dan bisa memahami tentang suatu pengalaman.

Kemudian didalam penelitian kali ini, peneliti akan memberikan pendidikan

kesehatan tentang cara menghadapi bencana gempa bumi dengan memakai

metode simulasi. Lalu metode simulasi itu sendiri yaitu adalah suatu cara meniru

karakteristik-karakteristik atau perilaku-perilaku tertentu dari dunia nyata

sehingga para peserta latihan dapat berealisasi seperti pada keadaan yang

sebenarnya, sehingga dapat diharapkan pada anak akan mengerti tentang cara

menghadapi bencana gempa bumi, lalu didalam proses pendidikan kesehatan

nantinya akan dapat diukur tingkat kemampuan anak tersebut, apakah baik,

cukup, atau kurang.


54

2.8 Hipotesis

Hipotesis yaitu suatu penelitian yang berarti jawaban sementara dari seorang

penelitian dan patokan dugaan atau hasil sementara yang kebenarannya masih akn

dibuktikan didalam sebuah penelitian (Notoatmodjo, 2010).

H0: Apakah ada pengaruh tentang pendidikan kesehatan dengan menggunakan

metode simulasi terhadap pengetahuan tentang cara menghadapi bencana gempa

bumi.

H1: Apakah tidak ada pengaruh tentang pendidikan kesehatan denggan

menggunakan metode simulasi terhadap pengetahuan tentang cara menghadapi

bencana gempa bumi.


55

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah menggunakan penelitian pretest-posttesyang

merupakan rancanganyang dilakukan dengan cara randominasi yaitu dengan cara

pengelompokkan anggota-anggota kelompok eksperimen yang dilakukan

berdasarkan dengan acak dan random, dan lalu dilakukan prestes (01) pada kedua

kelompok tersebut, dan kemudian diikuti intervensi perlakuan (X) pada kelompok

eksperimen. Kemudian setelah selang beberapa waktu kemudian dilakukan

posttest (02) pada kelompok tersebut (Notoatmodjo,2008).

Pada penelitian ini menganalisis adanya pengaruh pendidikan kesehatan

dengan menggunakan metode simulasi terhadap pengetahuan tentang menghadapi

bencana gempa bumi di SDN Argotirto 01, dan pada kegiatan penelitian simulasi

ini dibantu oleh para ahlinya dari seorang pihak (BPBD).

01 X 02
R (Kel. Eksperimen)
01

Ket:

01: Yaitu pretest sebelum dilakukan pendidikan kesehatan.

X: Yaitu ketika dilakukan pendidikan kesehatan.

02: Yaitu postest setelah dilakukannya pendidikan kesehatan.


56

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian ini akan dilakukan selama 2 hari, dan pada tanggal 14dan 15

Februari 2016, jam 08.00 sampai dengan selesai yangakan dilakukan penelitian

untuk responden di SDN Argotirto 01, dan untuk permohonan ijin ke SDN

Argotirto 01 tentang akan dilakukannya untuk penelitian dilakukan pada tanggal

14 Februari 2017 kemudian untuk tanggal 15 Februari 2017 waktu dilakukannya

untuk melakukan penelitian di SDN Argotirto 01.

3.3 Kerangka Kerja

Kerangka kerja pengaruh pendidikan kesehatan dengan menggunakan

metode simulasi terhadap tingkat pengetahuan tentang menghadapi bencana

gempa bumi di SDN Argotirto 01.


57

Pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode simulasi terhadap tingkat

pengetahuan tentang menghadapi Bencana Gempa Bumi

PERIJINAN

Surat penghantar permohonan ijin penelitian dari STIKes Kepanjen, Kepanjen-Malang. KESBANG (Kesatuan
Bangsa dan Politik) Kabupaten Malang

POPULASI

Memakai populasi target, yaitu semua siswa pada kelas IV dan V, di SDN Argotirto 01 yang berjumlah 34
orang

SAMPLE

Semua siswa putra-putri di kelas IV dan V SDN Argotirto 01 yang berjumlah 34 orang

DESAIN PENELITIAN

Pretest-posttes

PRETEST

Sample Penelitian

PENDIDIKAN KESEHATAN

PROSTEST

Sample Penelitian

TINGKAT PENGETAHUAN

1. Baik (76%-100%)

2. Cukup (56%-75%)

3. Kurang (<56%)

ANALISA DATA

Editing, Coding, dan Tabulating Uji Statistik menggunakan Wilcoxon dengan bantuan SPSS 16 windows 7

KESIMPULAN

A). Jika P>0,05 maka HOditerima yang artinya tidak ada pengaruh

B). Jika P<0,05 maka H1 ditolak yang artinya ada pengaruh


58

3.4 Desain Sampling

3.4.1 Populasi

Populasi adalah subyek yang akan diteliti dan memenuhi kriteria yang

telah ditetapkan (Nursalam,2013), dan yang dimaksud populasi didalam

penelitian ini yaitu adalah seluruh siswa kelas IV dan V di SDN Argotirto

01 yang berjumlah 34 orang.

3.4.2 Sampel

Sampel ini terdiri atas dari bagian populasi terjangkau yang dapat

digunakan sebagai subjek penelitian melalui teknik sampling. Sedangkan

sampling yaitu adalah proses menyeleksi potdi dari populasi yang dapat

mewakili populasi yang telah ada (Nursalam,2013), dan dalam penelitian

kali ini, peneliti akan mewakili populasi target sebagai sampel jumlah siswa

kelas IV dan V yang berjumlah 34 orang.

3.4.3 Tenik Sampling

Teknik sampling yaitu suatu cara yang dapat digunakan agar sample

dapat menggambarkan keadaan populasi dengan keadaan yang yang

sebenarnya (Arikunto, 2002), dan teknik penggunaan sampel ini

penggunakan teknik Purposive Sampling, yaitu teknik pengambilan

subyekberdasarkan tujuan tertentu untuk dapat meningkatkan pengetahuan

siswa dalam menghadapi bencana gempa bumi, dan sampel yang digunakan

adalah siswa kelas IV dan V di SDN Argotirto 01 yang berjumplah 34

siswa. Kemudian di dalam penelitian ini menggunakan beberapa kriteria


59

yaitu kriteria inklusi dan eksklusi pada populasi yang menjadi responden,

yaitu ;

1. Kriteria Inklusi

a. Responden kelas IV dan IV di SDN Argotirto 01.

b. Sehat jasmani dan rohani.

c. Yang bersedia menjadi responden dalam penelitian.

d. Yang mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

2. Kriteria Eksklusi

a. Menolak sebagai responden.

b. Responden yang sedang sakit.

c. Tidak hadir pada waktu pelaksanaan kegiatan.

3.5 Identifikasi Variabel

Variabel yang mengandung suatu pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki

oleh anggota-anggota di dalam suatu kelompok yang berbeda dengan yang

dimiliki oleh kelompok yang lain (Notoatmodjo, 2012).

3.5.1 Variabel Independen (Bebas)

Variabel independen yaitu variabel yang dapat mempengaruhi

variabel dependen (Notoatmodjo,2012), dan variabel dalam penelitian ini

yaitu adalah pendidikan kesehatan.


60

3.5.2 Variabel Dependen (Terikat)

Variabel dependen yaitu adalah variabel yang dapat dipengaruhi oleh

variabel indepedent (Notoatmodjo,2012), dan dialam penelitian ini, variabel

dependennya yaitu adalah pengetahuan tentang menghadapi bencana gempa

bumi.
61

3.6 Definisi Operasional

Identifikasi Definisi Operasional Indikator Alat Pengukur Skala Ukur Skoring


Variabel
Variabel Materi pendidikan
bebas: Suatu penyampaian kesehatan yang benar = 1
yang berusaha untuk diberikan yaitu: salah = 0
Pendidikan dapat berusaha membuat 1. Pengertian gempa
responden dengan
kesehatan bumi.
kondisi yang hampir
dengan 2. Penyebab terjadinya
mirip dengan kondisi
menggunakan saat terjadi gempa bumi. bencana gempa bumi.
metode 3. Cara menghadapi
simulasi bencana gempa bumi.
62

Identifikasi Definisi Indikator Alat Mengukur Skala Ukur Skoring


Variabel Operasional

Variabel terikat: Hasil tahu dan ini Kuesioner ini Kuesioner Ordinal
terjadi setelah menjawab Kriteria:
Pengetahuan orang melakukan pertanyaan tentang 1. Baik 76-100%
menghadapi pengindraan menghadapi 2. Cukup 56-75%
bencana gempa terhadap suatu bencana gempa 3. Kurang <56%
bumi objek dan bumi: (Arikunto,2006)
sebagian besar 1. Pengertian gempa
pengetahuan dari bumi
seorang manusia 2. Penyebab
diperoleh dengan terjadinya bencana
cara melalui gempa bumi.
pengindraan. 3.Cara menghadapi
bencana gempa
bumi.
63

3.7 Pengumpulan Data dan Analisa Data

3.7.1 Pengumpulan data

1. Proses Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data penelitian ini yang pertama kita

meminta surat permohonan ijin untuk meminta bantuan kepada pihak

BPBD yang khususnya kepada Bpk Yohan untuk bisa membantu dalam

proses melakukan sebuah penelitian dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Kepannjen, untuk keBNPB. Kemudia kita juga meminta surat

permohonan ijin lagi untuk melakukan penelitian dari Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan Kepanjen untuk ke SDN Argotirto 01, dimana jumlah

siswa kelas IV dan V di SDN Argotirto 01 yang berjumlah 34 siswa.

Kemudian sesudah surat disetujui oleh pihak dari BNPB dan SDN

Argotirto 01, maka di tanggal 14 Februari 2017 kita berkordinasi dengan

ke dua pihak tentang bagaimana besuk cara proses melakukan metode

simulasi ini. Kemudian pada tanggal 15 Februari 2017 di lakukan

penelitian dengan menggunakan metode simulasi di SDN Argotirto 01

dan sebelum dilakukannya proses simulasi, untuk para siswa kelas IV

dan V dikumpulkan menjadi satu ruangan di dalam kelas , kemudian

dilakukan breefing terlebih dahulu atau diberi pengarahan terlebih dahulu

tentang bagaimana cara kita menghadapi kalau semisal ada gempa tiba-

tiba oleh Bpk Yohan selaku yang lebih ahli dalam bidang kebencanaan,

penelitian ini berlangsung kurang lebih selama 60 menit. Dan sebelum


64

dilakukannya pemberian pendidikan kesehatan terlebih dahulu maka

akan diukur pengetahuan siswa dengan diberikan kuisioner terlebih

dahulu dengan soal sebanyak 10 (pretest). Kemudian diberikan lagi

pendidikan kesehatan dengan menggunakan menggunakan metode

simulasi, setelah itu dilakukannya proses simulasi cara menghadapi

bencana gempa bumi dengan secara bersama-sama dengan ketentuan

waktu selama kurang lebih 90 menit yang di pandu oleh Bpk Yohan dan

yang dibantu oleh 2 orang dari Mahasiswi Stikes Kepanjen, yang bertujas

1 sebagai moderator dan yang 1 menjadi observasi, dan setelah itu selesai

dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan siswa tentang cara

menghadapi bencana gempa bumi dengan memberikannya kuisioner

sebanyak kurang lebih 10 soal (postest).

2. Instrument Pengumpulan Data

Instrument penelitian ini yaitu adalah alat yang akan digunakan untuk

proses pengumpulan data dan untuk melakukan proses pengumpulan data

para peneliti akan menggunakan alat pengumpulan data yaitu kuesioner,

kemudian di dalam lembar kuesioner ini yang berisi pertanyaan-

pertanyaantentang menghadapi bencana gempa

bumi(Notoatmodjo,2005). Kuisioner yang digunakan berupa multipel

choise dan berjumlah 10 soal.


65

3. Uji Validitas dan Reabilitas

A. Validitas

Validitas merupakan suatu indeks yang akan menunjukkan sebuah alat

ukur itu benar-benar mengukur apa yang telah diukur. Demikian pula

dengan kuesioner sebagai alat ukur yang harus mengukur apa yang telah

diukur, dan itu perlu di uji dengan menggunakan uji korelasi antara skor

(nilai) pada setiap item (pertanyaan) dengan menggunakan skor total

kuesioner tersebut, kemudian apabila setelah memiliki validitas berarti

semua item (pertanyaan) yang ada di dalam kuesionar itu mengukur

konsep yang akan kita ukur (Notoatmodjo,2012), dan didalam uji

validitas kuesioner, peneliti akan menggunakan rumus korelasi product

moment.

Kemudian di dalam sebuah uji validitas ini peneliti akan menggunakan

analisa dengan menggunakan bantuan komputer Windows 7 dengan

progam SPSS 16.0 (Sugiyono,2006), dan tarif signifikan yang dapat

dipakai didalam uji validitas ini yaitu adalah sebesar 5% (0,05)

B. Reabilitas

Setelah melakukan pengukuran uji validitas, maka perlu melakukan

juga pengukuran reabilitas data, dan apakah alat ukur dapat digunakan

atau tidak.

Kemudian di dalam uji validity dan reliability menggunakan SPSS

16.0 (Statistical Product and Service Solutions) dan tidak menggunakan


66

rumus yang menghitung dengan secara manual, lalu menurut Jemari

(2003) jika kuesioner bisa dikatakan reliable bila mempunyai nilai alpha

minimal 0,7.

3.8 Teknik Analisa Data

3.8.1 Editing

Keseluruhan data yang sudah dianggap dapat memenuhi syarat dapat

dipakai sebagai data di dalam sebuah penelitian dan akan siap untuk di olah,

kemudian dikatakan data sudah memenuhi syarat apabila semua lembar

identitas diisi dengan sesuai petunjuk pengisian.

3.8.2 Coding

Coding yaitu merupakan pemberian kode yakni dengan mengubah

data yang berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan

(Notoatmodjo,2012).

a. Kode penilaian kuesioner

Kode 0: salah

Kode 1: benar

b. Kode jenis kelamin

Kode 1: laki-laki

Kode 2: perempuan
67

c. Kode umur

Kode 1: 9 tahun

Kode 2: 10 tahun

Kode 3: 11 tahun

3.8.3.Tabulating

Tabulasi data, baik itu tabulasi data yang masih mentah atau maupun

tabel kerja yang untuk menghitung data tertentu dengan secara statistik,

kemudian untuk ini para peneliti harus bisa melakukan tabulasi data sesuai

menurut kriteria tertentu agar pengujian hipotesis mudah untuk dilakukan

(Notoatmodjo,2005)

a. Klasifikasi

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan yang dapat diketahui dan

diinterpretasikan dengan menggunakan skala yang bersifat kualitatif,

yaitu:

1. Baik: hasil prosentase 76-100%

2. Cukup: hasil prosentase 56-75%

3. Kurang: hasil prosentase <56%


68

3.9 Analisa Data

1. Analisa Univariant

Analisa deskriptif (univariat) yaitu digunakan untuk dapat

menjelaskan atau digunakan untuk mendeskripsikan variabel-variabel

yan akan diteliti, kemudian dalam hal ini akan digunakan untuk dapat

mendeskripsikan variabel tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah

diberikan pendidikan kesehatan dengan menggunakan metode simulasi.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dapat digunakan untuk dapat menganalisis hubungan

antara dua variabel, kemudian didalam penelitian ini para penelitin ingin

menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode simulasi

terhadap pengetahuan menghadapi bencana gempa bumi. Analisis yang

akan digunakan untuk dapat melihat untuk dua variabel tersebut yaitu

adalah kolerasi Wilcoxon matc pair test yang digunakan untuk dapat

menguji hipotesis komparatif dua sample yang berkolerasi apabila

datanya berbentuk ordinal.

3. Uji Normalitas

Untuk dapat menentukan apakah statistik di dalam penelitian ini benar-

benar statistic parametic atau tidak maka akan diperlukan suatu uji

normalitas, dan apabila data berdistribusi normal maka statistik penelitian

merupakan statistik parametris. Uji normalitas di dalam penelitian ini

menggunakan uji kolmogrov smirnov tes dengan menggunakan taraf


69

yang signifikan 0,05, dan apabila signifikan >0,05 maka data

berdistribusi normal.

4. Uji Homogenitas

Untuk dapat menentukan rumus wilcoxon, maka yang akan dipilih

untuk melakukan sebuah uji hipotesis maka akan dilakukan uji varians

diantara kedua sampel, apakag kedua sampel itu homogeny atau tidak.

Pengujian homogenitas varians akan dilakukan dengan cara

menggunakan uji varians (Lavene’s test), dan jika uji varians bisa

menghasilkan nilai p>0,05, maka varians data yang akan diuji yaitu

adalah sama.

3.10 Penarikan Kesimpulan

a. Jika P < 0,05 maka H0 ditolak yang mempunyai arti bahwa mempunyai

pengaruh pengetahuan menghadapi bencana gempa bumi sebelum dan

sesudah diberikannya pendidikan kesehatan.

b. Jika P > 0,05 maka H1 diterima yang mempunyai arti bahwa tidak ada

pengaruh pengetahuan menghadapi bencana gempa bumi sebelum dan

sesudah diberikannya pendidikan kesehatan.


70

3.11 Etika Penelitian

3.11.1 Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Setelah mendapatkan ijin untuk bisa melakukan penelitian di SDN

Argotirto 01 dan 02, kemudian peneliti akan melakukan sebuah survei

ruangan dan pendekatan kepada semua siswa dan lembar persetujian

responden diberikan kepada calon responden dengan tujuan supaya subyek

yang dapat mengerti dan bisa memahami tentang bagaimana tujuan seta

dampak dari proses pengumpulan data. Kemudian jika subyek bersedia untuk

menjadi responden maka subyek diharuskan menandatangani lembar

persetujuan sebagi seorang responden, jika responden tidak bersedia maka

para peneliti harus bisa menghormati hak dari seorang klien.

3.11.2 Tanpa Nama

Nama dari seorang subyek harus dicantumkan pada lembar pengumpulan

data, tetapi tidak harus dicantumkan pada hasil penelitian dan untuk dapat

mengetahui keikutsertaan subyek, peneliti menuliskan kode pada masing-

masing lembar pengumpulan data.

3.11.3 Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang sudah didapatkan dari sebuah subyek yang

dijamin oleh para peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang akan

disajikan pada sebuah hasil penelitian dengan dapat menjaga responden dan

nilai-nilai keyakinan dari seorang responden.


71

3.11.4 Justice an inklusivitas (keadilan dan keterbukaan)

Prinsip dari sebuah keterbukaan dan adil itu perlu dijaga oleh para

peneliti dengan kejujuan, keterbukaan dan kehati-hatian, dan untuk itu di

dalam lingkungan penelitian perlu dikondisikan sehingga dapat memenuhi

prinsip keterbukaan, yakni dengan dapat menjelaskan prosedur dari

penelitian, lalu prinsi[ keadilan ini menjamin bahwa semua objek penelitian

dapat memperoleh perlakuan dan keuntungan yang sama tanpa harus

membeedakan gander, agama, etnis, dan lain sebagainya. Pada penelitian kali

ini peneliti akan memberikan pendidikan kesehatan pada kelompok kontrol,

dan hal ini dilakukan setelah penelitian ini selesai dilakukan

(Notoatmodjo,2010).