Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan angka
kesakitan (morbiditas) dan angka kematian/ mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg
didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukan
fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukan fase darah
yang kembali ke jantung. Beberapa penyebab atau faktor resiko yang dapat menimbulkan
hipertensi antara lain, gaya hidup seperti konsumsi lemak dan garam tinggi, merokok,
minum-minuman beralkohol, serta stress emosional (Haryono, 2013)
Triyanto (2014) menyebutkan bahwa penyakit hipertensi di Amerika diperkirakan 30%
penduduknya (kurang lebih 50 juta jiwa) menderita tekanan darah tinggi (140/90 mmHg),
dengan presentase biaya kesehatan cukup besar setiap tahunnya. Menurut National Health
and Nutrition Examination Survey (NHNES), insiden hipertensi pada orang dewasa di
Amerika tahun 2010-2012 adalah sekitar 39-51%, yang berarti terdapat 58-68 juta orang
menderita hipertensi, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHNES III. Organisasi
kesehatan dunia (WHO) mencatat pada tahun 2012 sedikitnya sejumlah 839 juta kasus
hipertensi.
Di Indonesia, angka kejadian hipertensi berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas)
Departemen Kesehatan tahun 2013 mencapai sekitar 25,8%. Kementerian Kesehatan (2013)
juga menyatakan bahwa terjadi peningkatan prevalensi nyeri yang berjung ketidak nyamanan
pada orang dewasa berdasarkan beberapa penelitian besarnya 65-80%. Berdasarkan data
Profil Kesehatan Propinsi Jawa Timur Tahun 2010 menunjukan kasus hipertensi menempati
pertama untuk jenis penyakit tidak menular dan peringkat ketiga untuk keseluruhan penyakit
dengan prevelensi sebanyak 12,41%. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD Kepanjen
pada tanggal 4 Oktober 2016 melalui data rekapitulasi tahun 2015 didapatkan jumlah klien
dengan hipertensi yakni mencapai 2192 dengan proporsi 15,4%.
Salah satu masalah yang sering muncul pada penderita hipertensi adalah nyeri kepala
yaitu sensorik yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosioal yang muncul secara
aktual atau potensial, kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan. Dengan
melihat berbagai dampak yang muncul pada penderita hipertensi dengan nyeri kepala yaitu
ketidaknyamanan saat melakukan aktifitas yang ditimbulkan oleh naiknya tekanan darah itu
2

sendiri yang sulit di kontrol oleh penderita. Oleh karna itu, sebagai tenaga kesehatan dalam
mengenai kasus ini memerlukan penanganan yang tepat salah satunya kompres dingin.
(Rahmawati, R. 2015)
Sebagai perawat kita harus bisa mencegah dan mengatasi nyeri berujung
ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh tekanan darah itu sendiri. Kita juga bisa
memberikan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan oleh tekanan darah,
penanggulangan nyeri bisa dilakukan dengan cara non farmakologi dan juga bisa dilakukan
dengan teknik relaksasi, selain itu bisa juga mengontrolkan diri ketika terjadi
ketidaknyamanan pada nyeri. Relaksasi merupakan tindakan yang eksternal karna
mempengaruhi respon internal terhadap nyeri. (Darmawan, 2013)
Dari permasalahan di atas, maka penulis memilih judul “Asuhan Keperawatan pada
Klien yang mengalami hipertensi dengan Gangguan Rasa Nyaman di RSUD Kepanjen
Kabupaten Malang”.

1.2 Rumusan Masalah


”Bagaimana pemberian Asuhan keperawatan pada klien hipertensi dengan gangguan
rasa nyaman di ruang Airlangga RSUD Kepanjen”

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Memberikan komunikasi informasi dan edukasi dalam melaksanakan asuhan
keperawatan pada klien hipertensi dengan gangguan rasa nyaman di ruang Airlangga
RSUD Kepanjen, dengan menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan yang
meliputi: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan evaluasi dan dokumentasi.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien hipertensi dengan gangguan
rasa nyaman di RSUD Kepanjen Kabupaten Malang.
2. Melakukan diagnosis keperawatan keperawatan pada klien hipertensi dengan
gangguan rasa nyaman di RSUD Kepanjen Kabupaten Malang
3

3. Melakukan perencanaan keperawatan pada klien hipertensi dengan gangguan


rasa nyaman di RSUD Kepanjen Kabupaten Malang
4. Melakukan tindakan keperawatan pada klien hipertensi dengan gangguan rasa
nyaman di RSUD Kepanjen Kabupaten Malang
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien hipertensi dengan gangguan rasa
nyaman di RSUD Kepanjen Kabupaten Malang

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Keilmuan/ Teori
Menambah ilmu terutama dalam keperawatan yang berhubungan dengan
penyakit hipertensi dengan disertai gangguan rasa nyaman.
2. Bagi Mahasiswa
Bagi pendidikan ilmu keperawatan sebagai bahan bacaan dan menambah
wawasan bagi mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa ilmu keperawatan
dalam hal pemahaman asuhan
3. Bagi Institusi RSUD Kepanjen Kabupaten Malang
Membantu tenaga kesehatan di RSUD Kepanjen Kabupaten Malang khususnya
perawat untuk mengatasi masalah pada lansia tentang hipertensi dengan
gangguan rasa nyaman
4. Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat dapat memberikan gambaran tanda-tanda dan gejala serta
penyebab penyakit hipertensi di suatu masyarakat sehingga dapat melakukan
pencegahan.
5. Bagi Klien
Membantu mengatasi masalah-masalah pada klien Hipertensi dengan gangguan
rasa nyaman
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan teori


Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh
darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Sustrani,
2006).
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan
pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO (World
Health Organization) memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90
mmHg, dan tekanan darah sama atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai
hipertensi. Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin (Marliani,
2007).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada
populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg (Rohaendi, 2008).

1. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1) Hipertensi primer atau esensial yang tidak diketahui penyebabnya, disebut
juga hipertensiidiopatic. Terdapat sekitar 90% -95% kasus. Penderita
hipertensi ini banyak dipengaruhi oleh pola hidup, misalnya makanan yang
tidak sehat dan kurang gerak.
2) Hipertensi sekunder terdapat sekitar 5% - 10% kasus. Penyebab spesifiknya
diketahui, seperti penyakit ginjal, syndrome chusing, koarktasio aorta
(Mansjoer,2005).

Menurut Sutanto (2009), penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut


usia adalah terjadinya perubahan- perubahan pada :
1) Elastisitas dinding aorta menurun
5

2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku


3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5) Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

2. Klasifikasi
1) Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII)
klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (Chobanian, 2003).
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII

Kriteria Tekanan Sistolik Diastolik


Darah (mmHg) (mmHg)
Normal < 120 < 80
Prehipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi grade I 140 – 159 90 – 99
Hipertensi grade II ≥ 160 ≥ 100
Tabel 2.1 (Sumber: Chobanian, 2003)
6

2) Klasifikasi hipertensi menurut WHO (World Health Organization) di dalam


(Mansjoer, 2005).

Sistolik Darah Diastolik


Kategori
(mmHg) (mmHg)
Normal <130 <85
Normal tinggi 130–139 85–89
Stadium 1
140–159 90 – 99
(Hipertensi ringan)
Stadium 2
160–179 100–109
(Hipertensi sedang)
Stadium 3
180–209 110–119
(Hipertensi berat)
Stadium 4
≥ 210 ≥ 120
(Hipertensi maligna)
Tabel 2.2 klasifikasi hipertensi (Sumber : WHO di dalam Mansjoer, 2005)

3. Faktor Risiko Hipertensi


1) Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol
a) Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.
Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum
menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh
hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor
pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek
perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita
pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan
sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi
pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon
estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara
alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun. Dari
7

hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi


berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%. (Anggraini,et al., 2009).
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia
dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55
tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering
dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause (Marliani, 2007).

b) Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya,
jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi
dari orang yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus
ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan
hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar
tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus, hipertensi banyak terjadi pada usia
lanjut. Pada wanita, hipertensi sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal
ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause.
Wolff (2008),menyatakan bahwa hipertensi makin meningkat
dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah
di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung,pembuluh darah dan
hormon.Hipertensi dengan usia kurang dari 35 tahun akan
menaikkanpenyakit arteri koroner dan kematian prematur.
Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar
sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 %
dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan
elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat seiring dengan
bertambahnya usia. Peningkatan kasus hipertensi akan berkembang pada
umur 50-60 tahun. Dengan bertambahnya umur, dapat meningkatkan risiko
hipertensi (Marliani, 2007).

c) Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan
dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara
potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi
8

mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada
orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu
didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi
dalam keluarga (Anggraini,et al., 2009). Seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya
adalah penderita hipertensi (Marliani, 2007).
Menurut Rohaendi (2008),tekanan darah tinggi cenderung
diwariskan dalam keluarganya. Jika salah seorang dari orang tua ada yang
mengidap tekanan darah tinggi, makaberpeluang sebesar 25% untuk
mewarisinya selama hidup. Jika kedua orang tua mempunyai tekanan darah
tinggi maka peluanguntuk terkena penyakit ini akan meningkat menjadi
60%.

2) Faktor risiko yang dapat dikontrol


a) Obesitas
Pada usia pertengahan dan dewasa lanjut, asupan
kalorimengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya
aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat
memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia karena dapat memicu
timbulnya berbagaipenyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah,
hipertensi (Rohaendi, 2008).
Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak,
dapatdilakukan dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang
kemudian disebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT).
9

Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:

Berat Badan (kg)

IMT = -----------------------------------------------
Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)

IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan


darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5
kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya
normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki
berat badan lebih.
Obesitas berisiko terhadap munculnya berbagai penyakit jantung
dan pembuluh darah. Disebut obesitas apabila melebihi Body Mass Index
(BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). BMI untuk orang Indonesia adalah
25. BMI memberikan gambaran tentang risiko kesehatan yang
berhubungan dengan berat badan. Marliani juga mengemukakan bahwa
penderita hipertensi sebagian besar mempunyai berat badan berlebih, tetapi
tidak menutup kemungkinan orang yang berat badanya normal (tidak
obesitas) dapat menderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume
darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan
berat badannya normal(Marliani,2007).

b) Kurang olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak
menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan
melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus
melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu.
Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena
bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif
cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka
harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering
10

jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak


arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-60 menit setiap hari
sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan peredaran darah. Bagi
penderita tekanan darah tinggi, jantung atau masalah pada peredaran darah,
sebaiknya tidak menggunakan beban waktu jalan. Riset di Oregon Health
Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik
dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5%
kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) faktor penting penyebab
pergeseran arteri (Rohaendi, 2008).

c) Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat
dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan
risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.
Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari
Brigmans and Women’s Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek
yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok,
36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok
perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek
terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam
penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek
dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari (Rahyani, 2007).

d) Mengkonsumsi garam berlebih


Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO)
merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko
terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak
lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium) perhari. Konsumsi natrium
yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan
ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik
ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya
volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume
darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi (Wolff, 2008).
11

e) Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak
jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum
alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor risiko hipertensi (Marliani,
2007).

f) Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi di dapatkan dari satu cangkir kopi
mengandung 75 – 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut
berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.

g) Pil KB
Risiko meninggi dengan lamanya pemakaian (± 12 tahun berturut-
turut).

h) Stress
Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas
saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara
intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat
mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum
terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi
dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan
pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota
(Rohaendi, 2008). Menurut Anggraini,et al.,(2009),stress akan
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung
sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini
dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan
karakteristik personal.

4. Patofisiologi
Peningkatan tekanan darah di dalam arteri terjadi melalui beberápa cara
yaitu :
12

1) Jantung memompa lebih kuat sehingga melahirkan lebih bayak cairan pada
setiap detiknya.
2) Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga tidak dapat
mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.
Karena itu darah dipaksa melalui pembuluh yang sempit dari pada biasanya
dan menyebabkan naiknya tekanan darah. Kondisi inilah yang terjadi pada
usia lanjut, dinding arterinya telah menebal dan kaku karena hormone
sclerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat
terjadi vasokontriksi arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengerut
karena rangsangan saraf atau hormon di dalam darah (hormon adrenalin)
3) Bertambahnya cairan dalam sirkulasi dapat menyebabkan meningkatnya
tekanan darah, hal ini terjadi jika dapat kelainan fungsi ginjal, sehingga tidak
mampu membuang sejumlah garam dan air di dalam tubuh. Akibatnya volume
darah juga meningkat.
(Anies, 2006).

5. Manifestasi Klinis
Penyakit ini sebagian besar diderita oleh seseorang tanpa merasakan
gejala-gejala hipertensi walaupun sudah dalam tahap serius. Dari beberapa
penelitian, ada beberapa gejala yang dirasakan oleh seseorang. Gejala-gejala
tersebut bervariasi antara lain :
1) Pusing
2) Rasa berat ditengkuk
3) Sukar tidur
4) Berdebar atau detak jantung terasa cepat
5) Cepat marah
6) Mata berkunang-kunang
7) Lemah dan lelah
8) Muka pucat
(Cahyono, 2008)
13

6. Komplikasi
Penderita hipertensi berisiko terserang penyakit lain yang timbul
kemudian. Beberapa penyakit yang timbul sebagai akibat hipertensi diantaranya
sebagai berikut:
1) Stroke
2) Gagal jantung
3) Gagal ginjal
4) Penyakit Arteri Koroner
(Rusdi, et al., 2009).

7. Penatalaksanaan
1) Pencegahan
Tujuan deteksi penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko
penyakit kardiovaskuler dan mortalitas yang terkait. Tujuan terapi adalah
mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan
tekanan diastolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor risiko. Hal ini
dicapai dengan modifikasi gaya hidup atau dengan obat anti
hipertensi.Modifikasi gaya hidup yang dianjurkan :
a) Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (Indeks Masa Tubuh >
27).
b) Meningkatkan aktivitas fisik (aerobic 30 – 45 menit / hari).
c) Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol
dalam makanan.
(Anies, 2006).

2) Pengobatan
a) Non Farmakologis
Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan
merokok, menurunkan beratbadan berlebih, konsumsi alkohol berlebih,
asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan
konsumsi buah dan sayur.
14

(1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih Peningkatan berat
badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan
darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting
dalam mengontrol hipertensi.
(2) Meningkatkan aktifitas fisik
Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi
30-50% dari pada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik
(misalnya senam aerobik dan jalan cepat) antara 30-45 menit
sebanyak 3-4 kali seminggu penting sebagai pencegahan primer dari
hipertensi.
(3) Mengurangi asupan natrium
Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu
pemberian obat anti hipertensi oleh dokter.
(4) Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol
Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga
mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara
konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan
risiko hipertensi(Rusdi, et al., 2009).
b) Farmakologis
Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa
obat :
1) Diuretic Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix
(Furosemide).Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses
pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi karena potasium
berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan
konsumsi potasium harus dilakukan.
2) Beta-blockers Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril).Merupakan
obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui
proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi)
pembuluh darah.
3) Calcium channel blockers Norvasc (amlopidine), Angiotensin
converting enzyme (ACE). Merupakan salah satu obat yang biasa
dipakai dalam pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui
15

proses rileksasi pembuluh darah yang juga memperlebar pembuluh


darah
(Rusdi,et al., 2009).

8. Pencegahan
Perubahan gaya hidup dapat membantu mengendalikan tekanan darah tinggi :
1. Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam
2. Tidak merokok
Upaya pencegahan hipertensi meliputi
1. Pencegahan Primodial, yaitu pencegahan munculnya faktor predisposisi
terhadap hipertensi terhadap suatu wilayah dimana belum tampak adanya
faktor yang menjadi resiko hipertensi.
2. Promosi kesehatan terkait dengan Hipertensi
3. Proteksi spesifiknya kini dengan kurangi mengkonsumsi garam sebagai
salah satu faktor resiko.

2.2 Landasan Teori Gangguan Rasa Nyaman


1. Definisi
Secara umum dalam aplikasinya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman
adalah kebutuhan rasa nyaman bebas dari rasa nyeri, dan
hipo/hipertermia. Hal ini disebabkan karena kondisi nyeri dan
hipo/hipertermia merupakan kondisi yang mempengaruhi perasaan tidak
nyaman pasien yang ditunjukan dengan timbulnya gejala dan tanda pada
pasien.
a. Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan psikologis
atau bisa juga keadaan aman dan tentram yang merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Lingkungan pelayanan
kesehatan dan komunitas yang aman merupakan hal yang penting untuk
kelangsungan hidup klien. (Potter&Perry edisi 4 volume 2, 2006)
b. Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar
dari ancaman bahaya/kecelakaan. Pemenuhan kebutuhan keamanan dan
keselamatan dilakukan untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan baik
pada pasien, perawat, atau petugas lainnya yang bekerja untuk
pemenuhan kebutuhan tersebut. (Potter & Perry, 2006).
16

2. Etiologi
Penyebab nyeri dapat diklasifikasikan kedalam 2 golongan yaitu
1. penyebab yang berhubungan dengan fisik dan berhubungan dengan
psikis.
Secara fisik misalnya penyebab adalah trauma ( mekanik, thermal,
kimiawi, maupun elektrik )
a. Trauma mekanik menimbulkan nyeri karena ujung – ujung saraf bebas
mengalami kerusakan akibat benturan, gesekan, ataupun luka.
b. Trauma thermal menimbulkan nyeri karena ujung saraf reseptor
mendapat rangsangan akibat panas atau dingin
c. Trauma kimiawi terjadi karena tersentuh zat asam atau basa yang kuat
d. Trauma elektrik dapat menimbulkan nyeri karena pengaruh aliran
listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri.
2. Neoplasma menyebabkan nyeri karena terjadinya tekanan atau
keerusakan jaringan yang mengandung reseptor nyeri dan juga terikan,
jepitan atau metaphase.
a. Peradangan adalah nyeri yang diakibatkan karena adanya kerusakan
ujung-ujung saraf reseptor akibatpembengkakan.
b. Gangguan sirkulasi dan kelainan pembuluh darah, biasanya pada pasien
infark miokard dengan tanda nyeri pada dada yang khas.

3. Manifestasi klinis
1. Vakolasi
a. Mengaduh
b. Menangis
c. Sesak nafas
d. Mendengkur
2. Ekspresi Wajah
a. Meringis
b. Mengelutuk gigi
c. Mengenyit dahi
d. Menutup mata, mulut dengan rapat
e. Menggigit bibir
17

3. Gerakan Tubuh
a. Gelisah
b. Immobilisasi
c. Ketegangan otot
d. Peningkatan gerakan jari dan tangan
e. Gerakan ritmik atau gerakanmenggosok
f. Gerakan melindungi bagian tubuh
4. Interaksi Sosial
a. Menghindari percakapan
b. Focus hanya pada aktivitas untuk menghilangkan nyeri
c. Menghindari kontak sosial
d. Penurunan rentang perhatian

D. Patofisiologi
Ada empat proses yang terjadi pada perjalanan nyeri, yaitu transduksi,
transmisi, modulasi dan persepsi.
1. Tranduksi
Rangsangan (stimulus) yang membahayakan memicu pelepasan mediator
biokimia (misalnya histamin, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P).
Mediator ini kemudian mensensitisasi nosiseptor.
2. Transmisi
proses penyaluran impuls listrik yang dihasilkan oleh proses transduksi
sepanjang jalur nyeri, dimana molekul-molekul dicelah sinaptik
mentrasmisi informasi dari satu neuron ke neuron berikutnya.
3. Persepsi
Individu mulai menyadari adanya nyeri dan tampaknya persepsi nyeri
tersebut terjadi di struktur korteks sehingga memungkinkan timbulnya
berbagai strategi perilaku kognitif untuk mengurangi komponen sensorik
dan afektif nyeri.
4. Modulasi atau sistem desenden
Neuron dibatang otak mengirimkan sinyal-sinyal kembali ke tanduk
dorsal medula spinalis yang terkonduksi dengan nosiseptor impuls
supresif.
18

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik sangat penting dilakukan agar dapatmengetahui
apakah ada perubahan bentuk atau fungsi dari bagian tubuh pasien yang
dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri seperti :
1. Melakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologi
2. Menggunakan skala nyeri
a. Ringan = Skala nyeri 1-3 : Secara objektif pasien masih
dapat berkomunikasi dengan baik
b. Sedang = Skala nyeri 4-6 : Secara objektif pasien dapat
menunjukkan lokasi nyeri, masih merespon dan dapat
mengikuti instruksi yang diberikan
c. Berat = Skala nyeri 7-9 : Secara objektif pasien masih
bisa merespon, namun terkadang klien tidak mengikuti
instruksi yang diberikan.Nyeri sangat berat = Skala 10 : Secara
objektif pasien tidak mampu berkomunikasi dan klien
merespon dengan cara memukul.
G. Komplikasi
1. Hipovolemik
2. Hipertermi
3. Masalah Mobilisasi
4. Hipertensi
5. Edema Pulmonal
6. Kejang

H. Penatalaksanaan
1. Relaksasi
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan
stress. Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi
rasa tidak nyaman atau nyeri stress fisik dan emosi pada nyeri. Dalam
imajinasi terbimbing klien menciptakan kesan dalam pikiran,
berkonsentrasi pada kesan tersebut sehingga secara bertahap klien dapat
mengurangi rasa nyerinya.
19

2. Teknik imajinasi Biofeedback merupakan terapi perilaku yang


dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon
fisiologis misalnya tekanan darah.Hipnosis diri dapat membantu
mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif dan dapat
mengurangi ditraksi. Mengurangi persepsi nyeri adalah suatu cara
sederhana untuk meningkatkan rasa nyaman dengan membuang atau
mencegah stimulus nyeri.
3. Teknik Distraksi
Teknik distraksi adalah pengalihan dari focus perhatian terhadap nyeri
ke stimulus yang lain. Ada beberapa jenis distraksi yaitu ditraksi visual
(melihat pertandingan, menonton televise,dll), distraksi pendengaran
(mendengarkan music, suara gemericik air), distraksi pernafasan (
bernafas ritmik), distraksi intelektual (bermain kartu).
4. Terapi dengan pemberian analgesic
Pemberian obat analgesic sangat membantu dalam manajemen nyeri
seperti pemberian obat analgesik non opioid (aspirin, ibuprofen) yang
bekerja pada saraf perifer di daerah luka dan menurunkan tingkatan
inflamasi, dan analgesic opioid (morfin, kodein) yang dapat
meningkatkan mood dan perasaan pasien menjadi lebih nyaman
walaupun terdapat nyeri.
5. Immobilisasi
Biasanya korban tidur di splint yang biasanya diterapkan pada saat
kontraktur atau terjadi ketidakseimbangan otot dan mencegah
terjadinya penyakit baru seperti decubitus.

2.3 Konsep asuhan keperawatan Hipertensi


2.3.1 Pengkajian
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik
maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui
hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat
pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang
masalahnya/penyakitnya.
20

2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST) Keluhan utama


adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat
perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama
seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality,
Regio, Skala, dan Time)
3. Riwayat kesehatan
- Keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang
mengalami masalah / penyakit yang sama.
- Masalalu
Dalam hal ini yang perlu dikaji adalah apakah dahulu pasien pernah
mengalami masalah/penyakit yang sama atau penyakit lain yang dapat
memicu timbulnya masalah lain.
- Saat ini
Dalam hal ini yang dikaji adalah tentang bagaimana kondisi kesehatan
pasien pada waktu ini.
4. Riwayat psikososial
Riwayat sosiaol yang perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan
keluarganya, misalnya : pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan,
faktor-faktor alergen dll.
Sedangkan psikologinya disini perawat perlu mengetahui tentang :
1. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
meliputi:
- Faktor – faktor yang berhubungan dengan sistem sensori
komunikasi klien seperti adanya perubahan perilaku klien
karena perubahan sensori komunikasi : halusinasi, gangguan
proses pikir, kelesuan, ilusi, kebosanan dan tidak bergairah,
perasaan terasing, kurangnya konsentrasi, kurangnya
koordinasi dan keseimbangan.
- Faktor risiko yang berhubungan dengan keadaan klien :
kesadaran menurun, kelemahan fisik, immobilisasi,
penggunaan alat bantu.
2. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
3. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
21

4. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit


5. Riwayat spiritual
6. Pemeriksaan fisik

2.3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan rasa nyaman (nyeri kepala akut) berhubungan dengan


peningkatan tekanan vaskuler otak

2.3.3 Intervensi
DIAGNOSA
NOC NIC
KEPERAWATAN
Mampu mengontrol
Perubahan rasa nyamam Lakukan pengkajian
nyeri (tahu
(nyeri kepala akut) nyeri secara
penyebab nyeri,
berhubungan dengan komprehensif
mampu
peningkatan tekanan termasuk lokasi,
menggunakan teknik
vaskuler otak. karakteristik, durasi,
non farmakologi
frekuensi, kualitas dan
untuk mengurangi
faktor presipitasi.
nyeri.
Melaporkan bahwa
Observasi reaksi non
nyeri berkurang
verbal dari
denan menggunakan
ketidaknyamanan
manajemen nyeri.
Mampu mengenali
Kontrol lingkungan
nyeri (skala,
yang fapat
intensitas, frekuensi,
mempengaruhi nyeri
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
Evaluasi keefektifan
nyaman setelah
kontrol nyeri
nyeri berkurang

Tabel 2.3 Intervensi keperawatan Hipertensi


22

2.3.4 Implementasi
Merupakan pelaksanaan rencana intervensi keperawatan
• Terdiri semua aktivitas yang dilakukan oleh perawat dan klien untuk
merubah efek dari masalah dilakukan oleh :
a. Perawat
b. Perawat dan klien
c. Perawat dan keluarga
d. Perawat, klien dan keluarga
e. Tenaga non keperawatan lain
• Dan kegiatan yang dilakukan :
1. Melanjutkan pengumpulan data dan pengkajian. Pada saat
melakukan kegiatan perawat tetap menjalankan pengkajian dan
pengumpulan data
2. Melaksanakan intervensi keperawatan
3. Mendokumentasikan asuhan keperawatan
4. Memberikan laporan keperawatan secara verbal
5. Mempertahankan rencana asuhan
• Tujuan Dokumentasi Pelaksanaan
1. Mengevaluasi kondisi kesehatan pasien dalam periode yang singkat
(evaluasi formatif) setelah tindakan dilakukan.
2. Mengetahui jumlah tenaga/jenis tenaga kesehatan yang terlihat
langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.
3. Mengetahui jenis tindakan keperawatan yang telah diberikan.
4. Mengetahui pendidikan kesehatan yang telah diberikan.
5. Dokumentasi legal intervensi keperawatan yang telah diberikan
kepada klien dan keluarganya
• Hal-hal yang perlu didokumentasikan pada tahap implementasi :
1. Mencatat waktu dan tanggal pelaksanaan.
2. Mencatat diagnosa keperawatan nomor berapa yang dilakukan
intervensi tersebut
3. Mencatat semua jenis intervensi keperawatan termasuk hasilnya
23

4. Berikan tanda tangan dan nama jelas perawat satu tim kesehatan
yang telah melakukan intervensi.

2.3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi merupakan
sekumpulan informasi yang sistematik berkenaan dengan program kerja dan
efektifitas dari serangkaian program yang digunakan terkait program kegiatan,
karakteristik dari hasil yang telah dicapai.