Anda di halaman 1dari 2

Nama: Ruth Theresia

NPM: 010114706
Matakuliah: Filsafat Hukum
Dr. Dodo S.D.W, S.H., M.H.

ANALISIS FILSAFAT HUKUM TENTANG ABORSI


(Putusan Pengadilan Nomor 118/Pid.Sus/2014/PN.KNG)
Pengadilan Negeri Kuningan yang mengadili perkara pidana dengan acara pemeriksaan
biasa dalam tingkat pertama menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa:
1. Nama lengkap : Miranti Tri Dianingsih binti Suhendri;
2. Tempat lahir : Kuningan;
3. Umur/tanggal lahir : 18 Tahun/ 05 Mei 1996;
4. Jenis kelamin : Perempuan;
5. Kebangsaan : Indonesia;
6. Tempat tinggal : Desa Tajur Buntu Rt. 01 Rw. 02 Dusun Bumi wangi Kecamatan
Pancalang Kabupaten Kuningan;
7. Agama : Islam;
8. Pekerjaan : Ikut Orang Tua;
Terdakwa ditangkap pada tanggal 28 Mei 2014 berdasarkan Surat Perintah Penangkapan
tertanggal 28 Mei 2014 No. Sp.Kap/45/V/2014/Reskrim.
Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum
tanggal 22 Oktober 2014 yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Menyatakan Miranti Tri Dianningsih binti Suhendri terbukti secara sah dan
meyakinkan menurut hukum bersalah telah melakukan tindak pidana Dengan Sengaja
Melakukan Aborsi Tidak Sesuai Ketentuan sebagaimana diatur dan diancam pidana
dalam dakwaan Alternatif Pertama melanggar Pasal 194 UU NO. 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan; dan
2. Menjatuhkan pidana penjara terhadap Miranti Tri Dianningsih binti Suhendri selama 8
(delapan) bulan dengan dikurangkan sepenuhnya selama terdakwa ditahan, dengan
perintah agar terdakwa tetap ditahan dan Denda sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah) subsidair 1 (satu) bulan kurungan.
ANALISIS
Aborsi merupakan kehendak yang dengan sengaja menggugurkan bayi yang berada dalam
kandungan seorang perempuan karena alasan tertentu. Aborsi dalam pandangan filsafat hukum
alam yang mengagungkan nilai moralitas akan berbenturan dengan kehendak hidup seseorang
yang diberikan oleh Tuhan sebagai pengendali alam semesta. Mengapa muncul tindakan aborsi
yang dilakukan secara sengaja oleh seorang perempuan. Dalam pendekatan filsafat moral hukum
alam, maka alasan pengguguran haruslah berkait dengan sebuah kondisi yang dapat dibenarkan
secara etis untuk menghilangkan nyawa seseorang (bayi). Tindakan membunuh adalah tindakan
yang tidak etis secara moral, bersinggungan dengan tatanan nilai ketuhanan maupun budaya
(ideologis). Ketika tindakan menghilangkan nyawa dilakukan, maka terdapat alasan-alasan etis
yang dapat diajukan.
Dalam perspektif normatif maka KUHP melarang sebuah peristiwa aborsi. Berdasarkan
pasal 299, 346, 348, dan 349 KUHP negara melarang abortus, termasuk menstrual regulation dan
sanksi hukumannya lebih berat, bahkan hukumannya tidak hanya ditujukan kepada wanita yang
bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat kejahatan ini dapat dituntut, seperti dokter, dukun
bayi, tukang obat, dan sebagainya yang mengobati atau yang menyuruh atau yang membantu
atau yang melakukan sendiri. Secara filosofis, tentu pasal-pasal KUHP yang melarang aborsi
didalamnya sarat nilai seperti ajaran etika, moral, dan agama. Aborsi dilarang karena
menghilangkan nyawa janin, bahkan mengancam nyawa dan kesehatan ibu yang bersangkutan.
Secara etis tampak bahwa perbuatan untuk tidak membunuh bukanlah disebabkan adanya sanksi
hukum negara yang akan dijatuhkan, akan tetapi itu bertentangan dengan nilai-nilai moral yang
menurut Immanuel Kant juga dianggap sebagai kewajiban setiap individu. Immanuel Kant
menyatakan bahwa moral merupakan pokok yang utama dari beres dan tidak beresnya kehidupan
bersama manusia (Kant,2004).