Anda di halaman 1dari 27

COVER

LAPORAN PRAKTIKUM
MOTOR BAKAR

1
1 DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 3
2.1 Latar Belakang .............................................................................. 3

2.2 Tujuan ........................................................................................... 4

2.3 Manfaat ......................................................................................... 4

BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................ 5


3.1 Diesel Generator ........................................................................... 5

3.1.1 Indirect start ............................................................................ 5

3.1.2 Direct Start .............................................................................. 6

3.2 Parameter Unjuk Kerja Mesin Diesel ............................................ 9

3.2.1 Konsumsi Bahan Bakar (Fuel Consumption/FC) .................... 9

3.2.2 Konsumsi Bahan Bakar Spesifik (SFC) ................................ 10

3.2.3 Jumlah Input Energi Bahan Bakar ........................................ 10

3.2.4 Efisiensi Thermal (𝜼th) ........................................................... 10

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM..................................................... 12


4.1 Peralatan Praktikum.................................................................... 12

4.2 Tahapan Pengujian ..................................................................... 12

4.3 Grafik-Grafik Prestasi.................................................................. 13

4.3.1 Pengujian pada Putaran Berubah ......................................... 13

4.3.2 Pengujian pada Putaran Tetap ............................................. 13

4.4 Spesifikasi Engine ...................................................................... 14

BAB IV ANALISA DAN PENGHITUNGAN DATA .................................... 15


5.1 Data Hasil Percobaan ................................................................. 15

5.2 Perhitungan ................................................................................ 16

5.3 Grafik Hasil Tabel Perhitungan dan Percobaan .......................... 21

1
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 24
6.1 Kesimpulan ................................................................................. 24

6.2 Saran .......................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 25


LAMPIRAN............................................................................................... 26

2
2 BAB I
PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Motor diesel merupakan jenis motor pembakaran dalam (internal


combustion engine)yang umumnya digunakan sebagai alat penggerak
atau pembangkit. Pada motor diesel penyalaan bahan bakar dengan cara
menyemprotkan bahan bakar dengan pompa bertekanan ke dalam
silinder yang berisi udara terkompresi. Dengan tekanan dan temperature
udara di dalam silinder yang tinggi dimana melebihi temperature nyala
bahan bakar maka bahan bakar akan terbakar besrsamaan dengan udara
bertekanan kemudian akan menghasilkan suatu kerja.
Setiap engine pasti mempunyai performa. Hal ini bertujuan untuk
memberikan informasi kepada customer berkaitan dengan kinerja engine
tersebut. Engine manufacture biasanya melengakapi suatu engine dengan
project guide, yang didalamnya berisi segala informasi yang berkaitan
dengan engine tersebut.
Pada makalah ini akan dibahas tentang pengujian motor diesel
“Yanmar Diesel Engine” yang berada di WorkshopInternal Combustion
Engine Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS. Dimana dengan type In
line, single cylinder, 4 stroke, water cooled, direct injection, model
TF85MH, diameter silinder 85 mm, panjang langkah torak 87 mm dengan
daya 5,5 kW pada putaran 2200 Rpm dan volume displacement 0.493cc.

Dengan dilakukannya pengujujian terhadap motor diesel


“YanmarDiesel Engine”dapat diketahui performa dan karakteristik engine
tersebut, yang digambarkan pada grafik- garafik, SFOC vs Daya putaran
konstan, ηthermal vs Daya putaran konstan, Daya full load vs rpm, Torsi full
load vs rpm, BMEP vs daya putaran konstan, dan Diagram Engine an
Envelope.

3
2.2 Tujuan

Pengujian motor bakar bertujuan untuk melihat unjuk kerja dari


motor, dengan menggambar grafik-grafik karakteristik engine antara lain :
a. SFC vs Daya (Pada putaran konstan)
b. ηthermal vs Daya (Pada putaran konstan)
c. Daya full load vsrpm
d. Torsi full load vs rpm
e. BMEP vs rpm (Pada daya konstan)
f. Diagram Engine an Envelope

2.3 Manfaat

Penulisan laporan praktikum mata kuliah Marine Diesel ini


diharapkan membawa manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi bidang marine diesel khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya. Penulisan ini mampu dijadikan sebagai literatur dalam
mengoperasikan marine diesel dengan menggunakan engine yang
tersedia pada Workshop Internal Combustion Engine.

4
3 BAB II
LANDASAN TEORI

3.1 Diesel Generator

Sistem start pada suatu engine adalah suatu sistem


untukmenghidupkan engine tersebut. Sistem start ini ada bermacam-
macam mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yangrumit
(kompleks) sesuai dengan besarnya daya dari enginetersebut
(Davit&Kingsley, 1983). Untuk sistem yang sederhanabiasanya
instalasinya hanya simple, sebagai contohnya adalahsistem start yang
dikick dengan kaki. Untuk contoh sistem startyang rumit adalah sistem
start dengan menggunakanudarabertekanan yang membutuhkan instalasi
dan peralatan seperticompressor, botol angin serta peralatan pendukung
lainnya.

Secara garis besar sistem start pada suatu engine dapat


dibagimenjadi 2 jenis yaitu direct start danindirect start.

3.1.1 Indirect start

Indirect start yaitu suatu sistem start dimana perlakuanyang


dikenakan pada engine adalah di luar ruang bakar engine.Indirect start ini
biasanya ada pada engine dengan daya yangtidak begitu besar. Jenis dari
indirect start ini bermacam-macamyaitu ada yang ditarik dengan tali,
diengkol dengan tangan,didorong (pada sepeda motor/mobil) atau
memakai botol angin.Botol angin ini tidak digunakan untuk menekan
piston di ruangbakar, melainkan untuk menggerakkan flywheel. Cara lain
yaitudengan menggunakan motor elektrik maupun hidrolis yangbiasanya
tegangannya berkisar 6 sampai 12 volt. (Davit&Kingsley,1983).

Indirect start ini biasanya yang mendapat perlakuan padaengine

5
adalah bagian flywheel. Jika flywheel diputar maka secaraotomatis piston
juga akan ikut bergerak karena bagian flywhee terhubung dengan piston.
Dengan bergeraknya piston dan adanyainjeksi bahan bakar maka
pembakaran dapat terjadi karena adanyakompresi. Pada diesel engine
dapat terjadi pembakaran denganterpenuhinya segitiga api. Dengan
tersedianya tekananpembakaran yang cukup dengan adanya
penginjeksian bahanbakar.

3.1.2 Direct Start

Direct start adalah sistem start dimana perlakuan di engineada di


ruang bakar. Sistem ini diaplikasikan pada engine dengandaya yang
besar, biasanya untuk engine yang ada di kapal.Sebenarnya indirect start
juga bisa diaplikasikan pada enginedengan daya yang besar. Akan tetapi
sistem ini menjadi tidakefektif dan tidak efisien karena instalasi dan
dimensi dari sistemstart ini membutuhkan space yang besar. Jika
diaplilasikan dikapal, tentu saja hal ini tidak praktis. Sistem start di
kapaldiletakkan di engine room yang mempunyai space sangat terbatas.

Aplikasi dari direct start ini juga menggunakan botol anginuntuk


menginjeksikan udara yang bertekanan ke dalam ruangbakar. Pada
indirect start juga ada kasus yang sama yaitupenggunaan botol angin.
Akan tetapi dalam aplikasinya terdapatperbedaan yang sangat mendasar
antara kedua sistem ini. Jikapadaindirect start, botol angin ini digunakan
untukmenggerakkan flywheel dan secara otomatis piston juga
ikutbergerak karena terhubung dengan crankshaft. Sedangkan padadirect
start, udara bertekanan langsung digunakan untukmenggerakkan piston
dengan injeksi udara yang disimpan dibotolangin masuk ke engine melalui
starting valve.(Taylor,1996).

Penginjeksian udara ke dalam piston pada setiap enginejuga


berbeda-beda tergantung dari starting valve pada enginetersebut.

6
Jikastarting valve hanya ada satu, sedangkan jumlahpiston pada engine
tersebut lebih dari satu maka sebelum startposisi silinder yang ada harus
diatur.

Misalkan saja penyetelan flywheel sebelum start sepertipada


gambar seperti pada gambar 2.1. Suatu engine yang terdiridari 5 silinder
dan starting valve terdapat pada silinder nomor 1maka setiap engine akan
distart posisi piston nomor 1 harus padaposisi titik mati atas (TMA) pada
langkah kompresi. Pengaturanposisi TMA ini bisa dilakukan secara
manual yaitu denganmemutar flywheelnya, pada setiap engine pasti
sudah adatandanya yang menyatakan bahwa silinder yang ada
startingvalvenya sudah pada posisi TMA.

Gambar 3.1Flywheel
Jika pada suatu engine yang mempunyai banyak silider danmasing-
masing silinder ada starting valvenya maka pada saat starttidak perlu
adanya pengaturan posisi silindernya. Ketika enginedalam keadaan mati
dan akan distart maka tinggal menekan tuasstartnya saja karena
penginjeksian udara sudah diatur secaraotomatis oleh starting valve.

Peralatan-peralatan yang ada untuk starting air systemterdiri dari


bermacam-macam yaitu seperti pada gambar 2.2.Penjelasan dari masing-
masing item peralatan adalah sebagaiberikut:

1. Distributor

Distributor biasanya terdiri dari kumpulan pilot valve yang

7
disusun secara seri. Biasanya pada masing-masing silinder ada
satu saluran pilot valve. Pergerakan dari pilot valve ini digerakkan
oleh camshaft.

Gambar 3.2Starting Air System


2. Botol angin

Botol angin (tabung penyimpan udara) yang harus


disediakan pada sistem start adalah 2 buah. Kapasitas yang
harusdisediakan untuk reversible diesel engine adalah 12 kaliuntuk
start tanpa pengisian ulang dari kompressor. Dalam botol angin ini
juga diletakkan safety valve untuk menghindari tekanan berlebih.

3. Kompressor

Kompressor yang ada untuk sistem start pada umumnya


berjumlah 2 buah. Kompressor ini harus mampu digunakan untuk
mengisi botol angin dari kondisi kosong sampai penuh dalam waktu
kurang dari 1 jam.

8
4. Automatic valve

Automatic valve ini berfungsi untuk menghindari ledakan


karena tekanan balik yang ada pada sistem. Valve ini
jugaterintegrasi dengan slow turn valve dan non return valve.

5. Starting valve

Lokasi dari starting valve ini berada silinder head.


Tekanandari botol angin akan dimasukkan ke engine melalui
starting valve ini.

3.2 Parameter Unjuk Kerja Mesin Diesel

Beberapa parameter yang dicatat selama pengujian unjuk kerja


mesin digunakan sebagai data mentah yang kemudian diolah menjadi
data hasil pengujian. Dari data hasil pengujian akan terlihat ada tidaknya
peningkatan atau penurunan performa mesin yang diuji dengan bahan
bakar solar.

Hasil pengujian tersebut ditunjukkan dengan parameter fuel


consumtion, specific fuel consumtion, daya, efisiensi thermal, dan
komposisi gas buang yang pada pengujian ini akan diukur kapasitasnya.

3.2.1 Konsumsi Bahan Bakar (Fuel Consumption/FC)

Jumlah massa bahan bakar yang dibutuhkan oleh suatu motor


dalam rentang waktu operasionalnya. FC/ Fuel Consumtion dapat
ditentukan melalui persamaan berikut :
𝟑𝟔𝟎𝟎𝒙𝑽𝒈
FC = [L/h] …………………………………………………………..(2.1)
𝒕

Dimana : Vg = volume bahan bakar yangdipergunakan [liter]

t = waktu yang dibutuhkan [detik]

9
3.2.2 Konsumsi Bahan Bakar Spesifik (SFC)

Jumlah massa bahan bakar yang dibutuhkan oleh suatu motor


untuk setiap satuan daya dan waktu pada beban dan putaran tertentu.
Untuk menghitung konsumsi bahan bakar spesifik adalah sebagai berikut:
𝒎𝒃𝒃
SFC =𝑵𝒆 .𝒕 [kg/kWh] ……………………………………………………..(2.2)

Dimana : SFC = Spesifik fuel oil consumtion (kg/kWh)

Ne = Daya (kW)

t = waktu (detik)

‘mbb = jumlah bahan bakar (kg) = Vg x ρ

3.2.3 Jumlah Input Energi Bahan Bakar

Jumlah kalor masuk (Qm) dirumuskan :

Qm = mbbx LHV ……………………………………………………………(2.3)

Dimana : Qm = jumlah kalor masuk (kkal)

LHV = nilai kalor bawah bahan bakar (kkal/kg)

mbb = jumlah bahan bakar (kg)

3.2.4 Efisiensi Thermal (𝜼th)

Sumber energi untuk menggerakkan mesin adalah energi kimia


yang tersimpan didalam bahan bakar. Fakta yang terjadi adalah piston,
bagian mesin yang berfungsi untuk mengkonversikan energi kimia menjadi
tenaga, bekerja tidak terlalu efisien untuk mengubah seluruh energi kimia
menjadi tenaga (energi mekanik). Lebih kurang sepertiga dari energi
bahan bakar tersebut dikeluarkan melalui pipa pembuangan sebagai
panas yang hilang, sepertiga lagi hilang ke sistem pendinginan mesin
(radiator) dan hanya menyisakan lebih kurang sepertiga untuk digunakan

10
sebagai pembangkit tenaga mesin.

Efisiensi thermal, merupakan ukuran pemakaian bahan bakar oleh


mesin. Efisiensi ini menunjukkan seberapa banyak daya yang dihasilkan
oleh sejumlah laju panas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar.
Laju pelepasan panas sendiri merupakan hasil dari laju aliran bahan bakar
dan nilai pembakaran bahan bakar. Sehingga untuk meningkatkan
efisiensi thermal, daya output mesin dapat ditambah dengan cara
meningkatkan laju aliran bahan bakar atau dengan menggunakan bahan
bakar dengan nilai pembakaran yang tinggi.

Efisiensi thermal dapat ditentukan melalui persamaan :


𝑵𝒆
‘ηth= x 100% ……………………………………………………………(2.4)
𝑸𝒎

Dimana : ‘ηth= efisiensi thermal

Ne = Daya (kW)

Qm = jumlah kalor masuk (kKal)

11
4 BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

4.1 Peralatan Praktikum

1. Diesel Engine
Sebagai penggerak utama.
2. Tang Ampere
Untuk mengukur arus yang mengalir pada rangkaian.
3. Tachometer
Untuk mengukur putaran(rpm).
4. Voltmeter
Untuk mengukur tegangan listrik pada beban.
5. Panel lampu
Untuk mengatur besar kecil nilai beban.
6. Lampu Pijar
Sebagai beban listrik.
7. Stopwatch
Sebagai pengukur waktu berkurangnya bahan bakar
8. Gelas ukur
Sebagai ukuran jumlah berkurangnya bahan bakar

4.2 Tahapan Pengujian

1. Pengujian dilakukan pada lima variasi putaran engine yang


ditentukan (1700 rpm, 1800 rpm, 1900 rpm, 2000 rpmdan2100 rpm).
2. Pada setiap variasi putaran engine, tentukan besar beban
lampu yang digunakan pada pengujian (beban nol, beban lampu
pijar 1000W, beban lampu pijar 1500 W, beban lampu pijar 2000 W,
beban lampu pijar 2500W dan beban lampu pijar 3000W).
3. Terapkan pembebanan pada mesin dengan
mempertahankan putaran tetap.

12
4. Mencatat parameter – parameter yang diperlukan sesuai
tabel pengamatan yang disediakan (Tegangan, Arus, Jumlah Bahan
Bakar, Load Faktor, Waktu, Putaran Alternator).
5. Pembebanan ditambah bertahap, dengan tetap
mempertahankan putaran.
6. Point 1, 2, 3, 4 juga dilakukan pada putaran berbeda.

4.3 Grafik-Grafik Prestasi

4.3.1 Pengujian pada Putaran Berubah

Pengujian pada putaran berubah dilakukan dalam interval putaran,


dengan tahapan kenaikan putaran dalam interval tersebut pada masing-
masing posisi pembebanan. Tahap pengujian sebagai berikut :

1. Naikkan putaran mesin pada suatu putaran tertentu.


2. Tuntukan pembebanan yang dikehendaki (beban nol, beban
lampu pijar 1000; 1500; 2000; 2500 dan 3000, dengan
mempertahankan putaran tersebut.
3. Amati data-data percobaan yang diperlukan (tabel
pengamatan).
4. Pengamatan dilakukan sebanyak tiga kali.
5. Dengan pembebanan tetap, naikkan putaran mesin dalam
tahapan-tahapan yang dikehendaki, dalam interval putaran
ditentukan.
6. Pengamatan seperti pada point 3 dilakukan pada setiap
tahapan putaran dengan keadaan 2.

4.3.2 Pengujian pada Putaran Tetap

Tahapan pengujian putaran tetap sebagai berikut :

1. Putaran mesin ditentukan yaitu 1700; 1800; 1900; 2000 dan


2100 rpm.
2. Pembebanan dilakukan secara bertingkat.

13
3. Pada masing-masing pembebanan dilakukan pengamatan
data-data (seperti tabel pengamatan).
4. Tahapan pengujian pada poin1 dan 2 dilakukan pada
masing- masing putaran yang ditentukan (1700; 1800; 1900; 2000
dan 2100 rpm).

4.4 Spesifikasi Engine

1. Model : TF 85 MH
2. Motor Model : Motor Diesel 4 Langkah
3. Pembakaran : Injeksi langsung
4. Penghisapan udara : natural
5. Jumlah silinder :1
6. Diameter x panjang langkah (mm) : 85 x 87 mm
7. Volume Langkah (cc) : 493
8. Arah putaran : Counter Clockwise
9. Sistem Governor : ok
10. Sistem Pendinginan : Hopper
11. Sistem pelumasan : paksa dgpump trochoidal
12. Sistem penyalaan : Manual(engkol)
13. Jenis Bahan Bakar : Minyak Diesel
14. Jenis Bahan Bakar : 7.5/2200
15. Kapasitas tangki bahan bakar (L) : 10.5
16. Specific Fuel Consumption (gr/dkhr) : 171
17. Minyak pelumas (L) : 2.2
18. Kapasitas air pendingin (L) : 8.9
19. Dimensi : P x L x T(mm) : 672x330,5x496
20. Berat kosong (kg) : 93
21. Bahan bakar : Solar
22. Pelumas : SAE 40 CC/CD
23. Daya keluaran kontinyu [(PS)/rpm] : 7,5/2200
24. Daya maksimum [(PS)/rpm] : 8.5/2200
25. Kecepatan putaran maksimum tanpa beban : rpm 2200
26. Sistem pembersihan udara : Filt udara elemen kering
27. Balancer : Ada
28. Sistem balancer : sistem balancer ganda
29. Rasio kompresi : 18
30. Posisi katup : Over Head Valve
31. Sistem penyalaan ruang bakar : Udara bertekanan
32. Peredam saluran buang : ada

14
5 BAB IV
ANALISA DAN PENGHITUNGAN
DATA

5.1 Data Hasil Percobaan

Tabel 5.1 Hasil Percobaan


Alternator Jumlah
Putaran Putaran
Load Bahan Waktu
No Engine Generator Beban Tegangan Arus Factor Bakar (s)
(RPM) (RPM) (Volt) (Ampere) (ml)
1 1076 0 82 0 159
2 1066 1000 130 3.1 117
3 1069 1500 140 5.0 116
1700 0.85 20
4 1076 2000 145 6.9 98
5 1070 2500 150 8. 87
6 1069 3000 155 10.7 84
1 1133 0 130 0 147
2 1133 1000 150 3.3 117
3 1130 1500 155 5.2 104
1800 0.85 20
4 1137 2000 165 7.2 98
5 1131 2500 170 9.2 89
6 1134 3000 175 11.2 75
1 1202 0 150 0 142
2 1200 1000 160 3.5 104
3 1197 1500 165 5.4 95
1900 0.85 20
4 1199 2000 168 7.5 91
5 1197 2500 170 9.5 84
6 1195 3000 175 11.7 71
1 1261 0 162 0 127
2 1271 1000 176 3.6 95
3 1263 1500 178 5.7 90
2000 0.85 20
4 1259 2000 182 7.8 88
5 1259 2500 181 9.9 72
6 1195 3000 181 12 65
1 1326 0 181 0 94
2 1326 1000 186 3.8 85
3 1322 1500 189 5.9 78
2100 0.85 20
4 1322 2000 190 8.1 75
5 1325 2500 193 10.3 70
6 1320 3000 194 12.6 60

15
5.2 Perhitungan

Data-data sebagai berikut:


Putaran (n) = 1800 Rpm = 30 Rps
Jml. BB (mbb) = 20 cc = 0,00002 m3
Lengan (L) = 0.087 m
Diameter cylinder = 0.085 m
Waktu (t) = 79 detik
i = 1/2 (4 stroke)
Jumlah Cylinder (Z) =1
VL = 493 cc = 0.000493 m3
ρsolar = 830 Kg/m3
LHV = 41800 kJ/kg

Maka kita ambil sampel, Perhitungan 1 (No. 3, 1800 Rpm) :


- Daya Engine (P)
𝑉𝑥𝐼
P =
𝐿𝑜𝑎𝑑 𝑓𝑎𝑐𝑡𝑜𝑟
155 𝑉 𝑥 5.2 𝐴
=
0.85
= 948,2 W

- Putaran Engine (n)


𝑛 (𝑅𝑝𝑚)
n =
60
1800 𝑅𝑝𝑚
=
60 𝑆
= 30 Rps

16
- Torsi ( )
𝑃
=
2𝑥𝜋𝑥𝑛
948,2 𝑊
=
2 𝑥 3,14 𝑥 30 𝑅𝑝𝑠
= 5,03W/Rps

- Hubungan Daya dengan Torsi (P)


P =2 x  x n x
= 2 x 3,14 x 30 Rpsx5,03 W/Rps
= 948,2 W

- Brake Mean Effective Pressure (BMEP)


𝑃
BMEP =
𝑖𝑥𝐿𝑥𝐴𝑥𝑍𝑥𝑛
948,2 𝑊
=
0.5 𝑥 0,087 𝑚 𝑥 [0,25 𝑥 3,14 𝑥 (0.085 𝑚)2 ] 𝑥 1 𝑥 30 𝑅𝑝𝑠

= 128,11 kPa

Tabel 5.2 Perhitungan 1


Daya Engine Putaran Engine Hub. Daya
No Torsi BMEP
kW (Rps) dengan Torsi
1 0 28.33333333 0 0 0
2 0.474117647 0.0026646 0.474061869 67.83327
3 0.823529412 0.0046283 0.823432526 117.8245
4 1.177058824 0.0066152 1.176920346 168.4049
5 1.411764706 0.0079342 1.411598616 201.9849
6 1.951176471 0.0109658 1.95094692 279.16
1 0 30 0 0 0
2 0.582352941 0.003091 0.582352941 78.68071
3 0.948235294 0.0050331 0.948235294 128.1144
4 1.397647059 0.0074185 1.397647059 188.8337
5 1.84 0.0097665 1.84 248.5992
6 2.305882353 0.0122393 2.305882353 311.5438

17
1 0 31.66666667 0 0 0
2 0.658823529 0.0033129 0.65868483 84.3454
3 1.048235294 0.005271 1.048014613 134.1996
4 1.482352941 0.007454 1.482040867 189.7772
5 1.9 0.0095541 1.8996 243.2461
6 2.408823529 0.0121128 2.408316409 308.3879
1 0 33.33333333 0 0 0
2 0.745411765 0.0035609 0.745337224 90.64924
3 1.193647059 0.0057021 1.193527694 145.159
4 1.670117647 0.0079783 1.669950635 203.1024
5 2.108117647 0.0100706 2.107906835 256.3674
6 2.555294118 0.0122068 2.555038588 310.7483
1 0 35 0 0 0
2 0.831529412 0.0037831 0.831529412 96.29701
3 1.311882353 0.0059685 1.311882353 151.9253
4 1.810588235 0.0082374 1.810588235 209.679
5 2.338705882 0.0106402 2.338705882 270.8387
6 2.875764706 0.0130836 2.875764706 333.034

- Jumlah bahan bakar (mBB)


mBB= VBB x ρ
= 20 x 10-6m3x 830 Kg/m3
= 1,66 x 10-2 Kg

- Konsumsi bahan bakar spesifik (SFC)


𝑚𝑏𝑏
SFC=
𝑃𝑥𝑡
1,66 𝑥 10−2 𝑘𝑔
=
948,2 𝑊 𝑥 104 𝑠
= 1,68 x 10-7Kg/Ws
= 1,68 x 10-4Kg/KWs

18
- Kecepatan aliran bahan bakar
ρ× VBB
Kec.bb =
𝑡
𝐾𝑔
830 3 × 20 𝑥 10−6 𝑚3
𝑚
=
104 𝑠
= 1,6 x 10-4 Kg/s
- Jumlah kalor masuk (Qm)
Qm =mBB . LHV
= 1.66 x 10-2 Kg x 41800 kJ/Kg
= 693,88 kJ
- Efisiensi thermal ( ηth )
𝑃𝑥𝑡
ηth = 𝑥 100%
𝑄𝑚

0,948 𝑘𝑊 𝑥 104 𝑠
= 𝑥 100%
693,88 𝑘𝐽

= 14,21%
Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh data :

Tabel 5.3 Hasil Perhitungan 2


Vol.
Massa Waktu Jml. BB SFC Kec. Aliran Jml. Kalor Eff.
Bahan
No Bakar Jenis (s) (mBB) (Kg/kWs) Bahan Bakar LHV Masuk Thermal
3 3
(m ) (Kg/m ) (Kg) (Kg/s) (Qm) (%)
-4
1 830 159 0 1.044 X 10 0
2 830 117 2.993 X 10-4 1.419 X 10 -4
7.994431992
-4
3 830 116 1.738 X 10 1.431 X 10-4 13.76742546
0.00002 0.0166 41800 693.88
-4
4 830 98 1.439 X 10 1.694 X 10-4 16.62416624
-4
5 830 87 1.352 X 10 1.908 X 10-4 17.70097559
-4
6 830 84 1.013 X 10 1.976 X 10-4 23.62062944
0 -4
1 830 147 1.129 X 10 0
2 830 117 2.436 X 10-4 1.419 X 10 -4
9.819463613
-4 -4
3 830 104 1.683 X 10 1.596 X 10 14.21232354
0.00002 0.0166 -4 -4
41800 693.88
4 830 98 1.212 X 10 1.694 X 10 19.73963967
-4 -4
5 830 89 1.014 X 10 1.865 X 10 23.60062259
-5 -4
6 830 75 9.599 X 10 2.213 X 10 24.92378747

19
1 830 142 0 1.169 X 10-4 0
-4 -4
2 830 104 2.423 X 10 1.596 X 10 9.874567225
-4 -4
3 830 95 1.667 X 10 1.747 X 10 14.35152374
0.00002 0.0166 -4
41800 693.88
4 830 91 1.231 X 10 1.824 X 10 -4
19.44055422
-4 -4
5 830 84 1.040 X 10 1.976 X 10 23.00109529
-5 -4
6 830 71 9.706 X 10 2.338 X 10 24.64784553
0 -4
1 830 127 1.307 X 10 0
-4 -4
2 830 95 2.344 X 10 1.747 X 10 10.20552799
-4
3 830 90 1.545 X 10 1.844 X 10 -4
15.48224986
0.00002 0.0166 -4 -4
41800 693.88
4 830 88 1.129 X 10 1.886 X 10 21.1809467
-4 -4
5 830 72 1.094 X 10 2.306 X 10 21.87474356
-5 -4
6 830 65 9.994 X 10 2.554 X 10 23.93700894
1 830 94 0 1.766 X 10-4 0
-4
2 830 85 2.349 X 10 1.953 X 10-4 10.18619934
-4
3 830 78 1.622 X 10 2.128 X 10-4 14.74704899
0.00002 0.0166 41800 693.88
4 830 75 1.222 X 10-4 2.213 X 10 -4
19.57025965
5 830 70 1.014 X 10-4 2.371 X 10 -4
23.59333195
-5 -4
6 830 60 9.621 X 10 2.767 X 10 24.86681881

Dari tabel 4.3 diperoleh nilai jumlah bahan bakar (m bb), sfc,
kecepatan aliran bahan bakar, jumlah kalor masuk (Qm) dan efisiensi
thermal (th) untuk masing-masing putaran terkait. Berdasarkan tabel 4.3
di atas terlihat bahwa nilai Mbb = 1,66 x 10-2 Kg terjadi pada semua variasi
putaran engine dengan nilai jumlah massa bahan bakar yang dibutuhkan
oleh suatu motor untuk setiap satuan daya dan waktu pada beban dan
putaran tertentu (sfc) terbesar 2,993x 10-4kg/kWspada beban 0,47kW, nilai
kecepatan aliran bahan bakar terbesar yakni 2,767 x 10-4kg/s pada beban
2,8kW, jumlah kalor masuk (Qm) yakni 693,88 kJ dan efisiensi thermal
terbesar yaitu 24,92% pada beban 2,3 kW. Karena variasi putaran pada
percobaan hanya 1700 rpm, 1800 rpm, 1900 rpm, 2000 rpm dan 2100
rpm maka variasi putaran ini belum dapat menunjukkan daya maksimum
sesungguhnya yang dapat dihasilkan oleh engine. Berikut disertakan
grafik- grafik unjuk kerja engine SFC vs Daya putaran konstan, η thermal vs

20
Daya putaran konstan, Daya Full Load vs Rpm, Torsi Full Load vs Rpm,
BMEP vs Daya putaran konstan dan diagram Engine An Envelope.

5.3 Grafik Hasil Tabel Perhitungan dan Percobaan

a. Grafik SFC VS Daya (pada putaran konstan)


2.5

2
Daya (kW)

1.5 1700 RPM


1800 RPM
1 1900 RPM
2000 RPM
0.5 2100 RPM

0
0.000E+00 1.000E-04 2.000E-04 3.000E-04 4.000E-04
SFC (Kg/kWh)

b. Grafik ηthermal vs Daya (pada putaran konstan)


3.5

2.5
Daya (kW)

1700 RPM
2
1800 RPM
1.5
1900 RPM
1
2000 RPM
0.5 2100 RPM

0
0 5 10 15 20 25 30
η thermal (%)

21
c. Grafik Daya Full Load vs Rpm
2200

2100

2000
RPM

1900

1800

1700

1600
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Daya Full Load (kW)

d. Grafik Torsi Full Load vs Rpm


2200

2100

2000
RPM

1900

1800

1700

1600
0.0105 0.011 0.0115 0.012 0.0125 0.013 0.0135
Torsi Full Load

22
e. Grafik BMEP vs Daya
3.5

Daya (kW) 2.5


1700 RPM
2
1800 RPM
1.5
1900 RPM
1 200 RPM
0.5 2100 RPM

0
0 100 200 300 400
BMEP (kPa)

f. Grafik Engine An Envelope


3
2.8
2.6
2.4
Daya (kW)

2.2
2
Beban 67 %
1.8
1.6 Beban 100 %
1.4
1.2
1
1600 1700 1800 1900 2000 2100 2200
RPM

23
6 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

a. Karakteristik dari Yanmar Diesel Engine tergambarkan dari grafik-


grafik unjuk kerja engine tersebut.
b. Hasil data yang diperoleh setelah praktikum yaitu tegangan, arus
listrik, putaran alternative dan waktu yang dibutuhkan untuk 20 ml
per satu kali variasi putaran pada tiap-tiap variasi beban.
c. Telah diperoleh nilai jumlah bahan bakar (m bb), sfc, kecepatan
aliran bahan bakar, jumlah kalor masuk (Qm) dan efisiensi thermal
(th) untuk masing- masing putaran terkait. Berdasarkan tabel 4.3 di
atas terlihat bahwa nilai Mbb = 1,66 x 10-2 Kg terjadi pada semua
variasi putaran engine dengan nilai jumlah massa bahan bakar
yang dibutuhkan oleh suatu motor untuk setiap satuan daya dan
waktu pada beban dan putaran tertentu (sfc) terbesar 2,993x 10-
4kg/kWspada beban 0,47kW, nilai kecepatan aliran bahan bakar
terbesar yakni 2,767 x 10-4kg/s pada beban 2,8kW, jumlah kalor
masuk (Qm) yakni 693,88 kJ dan efisiensi thermal terbesar yaitu
24,92 % pada beban 2,3 kW.
d. Dengan variasi putaran pada percobaan hanya 1700 rpm, 1800
rpm, 1900 rpm, 2000 rpm dan 2100 rpm maka variasi putaran ini
belum dapat menunjukkan daya maksimum sesungguhnya yang
dapat dihasilkan oleh engine.

6.2 Saran

Perlu variasi putaran yang lebih banyak agar performa maksimal


engine dapat diketahui lebih maksimal.

24
DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, K. (1993). Motor Diesel Putaran Tinggi. Jakarta: Pradyna


Paramitha.

Cahyasasmita, N. (t.thn.). Unjuk KerjaDiesel Engine Type Direct Injection


Dengan Metode Simulasi dan Eksperimen. Surabaya.

Jamlean, F. (2010). Sistem Propulsi dan Penggerak Kapal. Surabaya:


PPNS.

Karyanto, E. (1980). Panduan Reparasi Kapal Mesin Diesel.

25
LAMPIRAN

A. Dokumentasi Kegiatan

B. Alat yang digunakan

C.
D.

26