Anda di halaman 1dari 3

Nama : HUSNUL KHOTIMAH

Kelas : XII IPA 1

Proses terjadinya petir.


Pada saat terjadi petir, kita melihat ada kilatan cahaya. Kemudian disusul dengan suara gemuruhnya.
Mengapa suara petir lebih lambat dibandingkan dengan kilatnya? Karena kecepatan cahaya lebih cepat
daripada kecepatan rambat bunyi di udara. Oleh karena itu, saat kita melihat petir atau kilat setelahnya
kita baru mendengar gemuruhnya petir.

Pada proses terjadinya petir, awan di angkasa ada yang bermuatan negatif dan ada yang bermuatan
positif. Sedangkan pada permukaan bumi bermuatan netral. Karena ada perbedaan potensian antara bumi
dan awan maka akan terjadi petir. Karena awan bergerak terus dengan bantuan angin, awan yang
bermuatan positif akan mengumpul dengan awan muatan positif lainnya. Muatan positif di awan bisa
berada di bagian atas atau bagian bawah awan. Begitu sebaliknya jika muatan positf posisinya berada si
atas, maka muatan negatif berada di bagain bawah awan.

Pada saat terjadi beda potensial yang tinggi antara awan dengan bumi, maka awan akan melepaskan
muatan negatifnya agar terjadi kesetimbangan muatan. Electron atau muatan positif yang mengalir ke
kumi itulah yang sebut dengan petir. Proses loncatan elekron tersebut melalui media udara. Suara petir
berasal dari loncatan elekron yang menembus batas isolasi udara. Loncatan elektron yang berupa bunga
api tersebut sangat besar dan sangat panas. Pada saat bunga api itu melewati udara, udara tersebut akan
memuai. Pemuaian yang secara tiba-tiba atau dalam waktu yang singkat itulah yang menyebabkan suara
petir.

Penyebab proses terjadinya petir:


Pada saat ion bebas yang memiliki muatan negatif dan muatan positif berkumpul di awan. Awan yang
bergerak oleh tiupan angin akan bergesakan dengan awan yang lainnya dan terjadinya ionisasi karena
titik-titik air yang berubah menjadi gas karena mengalami penguapan atau bisa juga sebaliknya. Kita bisa
lihat awan yang bergerak ada kumpulan awan yang besar dan kumpulan awan yang kecil. Pada saat
mereka bergerak dan bertemu akan terjadi beda potensial yang tinggi. Pada saat terjadi beda potensial
yang sangat tinggi inilah electron akan terlepas ke permukaan bumi untuk menyeimbangkan muatan
sehingga terjadilah petir. Kesetimbangan jumlah muatan jika muatan negetif di awan dan muatan positf di
bumi sama.
Kesimpulan proses terjadinya petir adalah karena beda potensial yang tinggi pada awan yang memiliki
kelebihan muatan negatif pada lapisan bawah permukaan awan akan di buang ke bumi untuk
menyeimbangkan muatannya. Sedangkan di bumi terdapat muatan positif. Nah pada pembuangan
elektron itulah terjadinya petir.
Proses terjadinya pelangi
Proses terjadinya pelangi dapat kita telusuri melalui dua pendekatan ilmiah. Pertama yaitu tentang optik
(cahaya) dan kedua adalah gelombang. Dua pendekatan ini tidak boleh terlepas dalam membahas proses
terjadinya pelangi.
Adapun jika kita kerucutkan maka konsep fisika yang berhubungan dengan proses terjadinya pelangi
adalah refraksi (pembiasan), refleksi (pemantulan), dispersi (penghamburan) dan spektrum gelombang
elektromagnetik.

Secara fisika, pelangi merupakan satu-satunya gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat oleh kasat
mata. Berbeda halnya listrik yang tidak dapat dilihat oleh mata bentuk gelombang elektromagnetiknya.
Sehingga bisa juga dikatakan pelangi merupakan suatu gejala optik dan meteorologi (cuaca) yang terjadi
secara alamiah (tanpa rekayasa) dalam atmosfir bumi yang mana melibatkan cahaya matahari sebagai
sumber cahaya, pengamat (manusia) dan tetesan air hujan (medium). Ketika cahaya matahari muncul
disaat hujan telah berhenti, maka cahaya tersebut akan menembus tetesan air hujan (refraksi) yang di
udara. Tetesan air hujan dan udara memiliki indeks bias yang berbeda sehingga cahaya matahari akan
merambat melalui udara menuju tetesan air hujan yang akan mengalami pembiasan cahaya (penjelasan
dapat dilihat dibawah).

Kenapa muncul beraneka warna pada pelangi? Ini karena cahaya matahari merupakan sinar
polikromatik (cahaya putih) yang ketika melewati tetesan air hujan akan terurai menjadi sinar
monokromatik (warna-warni) dan setiap warna memiliki spektrum dan panjang gelombang yang berbeda.

Pelangi secara utuh hanya dapat dilihat jika sedang berada diatas udara atau berada di pesawat. Seorang
ilmuawa bernama Sir Isac Newton menyelediki cahaya putih yang ada pada pelangi. Dan ia
menyimpulkan bahwa cahaya putih itu dapat menghasilkan spektrum warna pelangi.

Cahaya matahari yang telah terurai akan mengalami pemantulan saat mengenai dinding tetesan air hujan
dan sebagiannya akan menembus ke luar tetesan air hujan. Dari sinilah yang nantinya sinar
monokromatik akan mengalami pembiasan cahaya saat keluar dari tetesan air hujan dan arah
pembiasaanya akan berbeda-beda.
Pembiasan pelangi
Pembiasan ini terjadi karena cahaya mengalami perubahan indeks bias dari udara ke air. Proses
pembiasan inilah yang disebut refraksi cahaya. Aneka warna yang dibiaskan memiliki panjang
gelombang yang berbeda. Rentang panjang gelombangnya dimulai dari 400 nm – 700 nm. Panjang
gelombang yang dapat dijangkau oleh penglihatan manusia yaitu warna ungu dan merah. Gradasi warna
ungu dan merah memiliki rentang panjang gelombang tertinggi dan terendah. Yang kemudian kita
asumsikan panjang gelombang yang tertinggi menuju rendah antara lain ungu, nila, biru, hijau, kuning,
jingga dan merah. Susunan ini yang kemudian kita sebut dengan pelangi.

Perlu dipahami bahwa ada 4 tahapan dalam proses terjadinya pelangi yakni:
1. Pembiasan Sinar Matahari: Pelangi bisa disebabkan adanya pembiasan sinar matahari dalam
hal ini cahaya yang kemudian dibelokkan sehingga berpindah ke arah lain yaitu dari medium
pertama ke medium selanjutnya oleh tetesan air hujan yang berasal dari atmosfer.

2. Cahaya Matahari Dilewati Tetesan Air: Sewaktu sinar matahari melewati tetesan air hujan
maka sinar tersebut akan dibengkokkan sehingga membentuk berbagai macam warna dengan
sudut yang berbeda.
3. Pembelokan Cahaya: Warna pelangi yang berbeda tersebut dihasilkan dari sudut deviasi yang
berbeda.
4. Terbentuk Warna Pelangi: Warna yang pertama kali dibelokkan adalah ungu. Ungu merupakan
warna dengan panjang gelombang yang tinggi. Sedangkan warna yang terakhir adalah merah.
Urutan yang benar warna pelangi yaitu ungu, nila, kuning, hijua, biru, nila dan merah. Dari warna
tersebut maka mata dapat melihat pelangi secara utuh yang disebabkan oleh geometri optis dalam
proses penguraian warna.

Proses Terbentuknya Warna Pelangi

Untuk mengawali proses terjadinya warna pelangi maka terlebih dahulu mengenal jenis-jenis sinar. Sinar
terbagi dua yaitu polikromatik dan monokromatik. Dalam hal ini cahaya matahari termasuk polikromatik.
Polikromatik adalah cahaya yang terdiri dari berbagai jenis warna. Sedangkan monokromatik adalah
cahaya yang hanya terdiri satu warna. Setelah mengalami proses pembiasan dan pembelokan maka akan
terbentuk 7 warna yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu yang akan muncul di langit.
Ketujuh warna ini dalam ilmu fisika disebut cahaya tampak. Artinya cahaya terbentuk karena gelombang
elektromagnetik yang diakibatkan oleh medan magnet dan medan listrik. Cahaya tampak adalah cahaya
yang bisa dilihat oleh manusia dengan panjang gelombang tertentu. Yakni dimulia dengan panjang
gelombang 4000 A sampai 7000 A dengan frekuensi 4,3 x 1014 Hz.