Anda di halaman 1dari 14

1

ANALISIS KINERJA PENERIMA TUNJANGAN PROFESI GURU


SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN KONAWE UTARA

Jurnal

OLEH:
SUYAMIN
G2C1 16 22

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
2

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Analisis Kinerja Penerima Tunjangan Profesi Guru Sekolah


Dasar di Kabupaten Konawe Utara.

Nama : Suyamin

NIM : G2C1 15 022

Program Studi : Administrasi Publik

Menyetujui:
Komisi Pembimbing,

Prof. Dr. Karsadi, M.Si Dr. Abdul Halim Momo, M.Si.


Ketua Anggota

Mengetahui;
Koordinator Program Studi Administrasi Publik,

Dr. Zulfiah Larisu, S.Sos., M.Si


NIP: 19690472 200003 2 001
3

ANALISIS KINERJA PENERIMA TUNJANGAN PROFESI GURU


SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN KONAWE UTARA

Oleh
Suyamin , Karsadi , & Abdul Halim Momo3
1 2
1
Alumnus Program Studi Administrasi Pembangunan Program Pascasarjana UHO
2
Guru besar dibidang Pendidikan FKIP UHO
3
Doktor dibidang Pendidikan FIKP UHO
ABSTRAK
Suyamin (2018), Analisis Kinerja Penerima Tunjangan Profesi Guru Sekolah Dasar di
Kabupaten Konawe Utara. Dibimbing oleh Karsadi, dan Abdul Halim Momo.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kinerja penerima
tunjangan profesi guru sekolah dasar di Kabupaten Konawe Utara, serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kinerja penerima tunjangan profesi guru sekolah dasar di Kabupaten
Konawe Utara.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan ini
informan sebanyak 16 orang meliputi Kepala Dinas P dan K Kabupaten Konawe Utara, 3
orang Kepala Sekolah, dan 12 Guru penerima tunjangan sertifikasi jenjang pendidikan dasar
di Kabupaten Konawe Utara. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan
dokumentasi, selanjutnya data gtersebut dianalisis menurut model Spradley, yaitu terdiri atas
Pengamatan deskriptif, Analisis domein, pengamatan terfokus, analisis taksonomi,
pengamatan terpilih, analisis komponensial dan analisis tema.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru penerima tunjangan sertifikasi
jenjang sekolah dasar negeri di Kabupaten Konawe Utara umumnya belum optimal. Hal ini
disebabkan karena dari tiga indikator kinerja guru yang diukur meliputi perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan evaluasi pembelajaran umumnya
belum sepenuhnya berjalan dengan baik sesuai KTSP yang berlaku. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja guru penerima tunjangan sertifikasi jenjang sekolah dasar negeri di
Kabupaten Konawe Utara terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
yang paling berpengaruh yaitu terkait kemampuan dan motivasi siswa, sedangkan faktor
ekternal yang paling berpengaruh adalah letak geografis wilayah dan prilaku kepemimpinan
kepala sekolah. Dengan demikian maka kedua faktor tersebut sangat mengambil andil
terhadap kondisi kinerja guru penerima tunjangan sertifikasi jenjang sekolah dasar negeri di
Kabupaten Konawe Utara tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk
meningkatkan kinerja guru maka perlu dilakukan upaya peningkatan kompetensi pada guru
melalui sistim pemberian tunjangan sertifikasi.

Kata Kunci : Kinerja, Guru, dan Sistim Pemberian Tunjangan Sertifikasi


4

ABSTRACT
Suyamin (2018), Analysis of Performance Of The Recipient's Allowance A Teacher
Certification Elementary Education Level in Konawe Utara Regency. Guided by Karsadi
and Abdul Halim Momo.
This research aims to know and analyze the performance of the recipient of the
allowance of the profession of elementary school teacher in the North, as well as Konawe
Kepulauan Regency factors that affect the performance of the recipient of the allowance of
the profession of elementary school teacher in the Konawe Kepulauan Regency.
This type of research is qualitative Research, these studies use this informant as many
as 16 people include the Head Office of P and K to the Konawe Kepulauan Regency, 3
persons the principal, Teachers and the 12 recipients of the allowances in the basic education
level, certification in Konawe Kepulauan Regency. The technique of collecting data through
observation, interview and documentation, then the data were analyzed according to the
gtersebut model Spradley, i.e. made up of descriptive Observations, analysis, observations
focused domains, analysis, observations, taxonomy analysis of komponensial and analysis of
themes.
The results showed that performance of the teacher certification allowance recipients
rank State primary school in the county generally Konawe Kepulauan Regency not optimal.
This is because of the three performance indicators teacher measured include the planning of
learning, implementation of learning and evaluation of learning activities are generally not
fully going well according to applicable KTSP. Factors that affect the performance of the
recipient's allowance a teacher certification in elementary school level Konawe Kepulauan
Regency consists of internal factors and external factors. The most influential internal factor
that is associated the ability and motivation of students, while the ekternal's most influential
factor is the geographical region and the behavior of the leadership of the headmaster. Thus
both these factors greatly contribute towards the performance conditions take the teacher
certification allowance recipients rank State primary school in the Northern Konawe
Kepulauan Regency. Thus it can be concluded that in order to improve the performance of
teachers then need to increase efforts in teacher competency through the system of granting
allowances certification.

Keywords: performance, teachers, and the system of granting Certification Benefits

1. PENDAHULUAN serta dalam menunjang pendidikan


Sekolah abad masa depan memiliki (Gerstner, 1995) dalam Aqib, 2003:23).
ciri-ciri antara lain (1) kepala sekolah yang Undang-Undang No. 20 Tahun
dinamis dan komunikatif dengan 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
kemerdekaan memimpin menuju visi bahwa pendidik dan tenaga kependidikan
keunggulan pendidikan, (2) memiliki visi, berkewajiban (1) menciptakan suasana
misi, dan strategi untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermakna, menyenangkan,
yang telah dirumuskan dengan jelas, (3) kreatif, dinamis, dan dialogis, (2)
guru-guru yang berkompeten dan berjiwa mempunyai komitmen secara profesional
kader yang senantiasa bergairah dalam untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
melaksanakan tugas profesionalnya secara (3) memberi teladan dan menjaga nama baik
inovatif, (4) siswa-siswa yang sibuk, lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai
bergairah, dan bekerja keras dalam dengan kepercayaan yang diberikan
mewujudkan perilaku pembelajaran, dan (5) kepadanya. Harapan dalam Undang-Undang
masyarakat dan orang tua yang berperan tersebut menunjukkan adanya perubahan
2

paradigma pola mengajar guru yang pada kinerja serta bagaimana mengelola kinerja
mulanya sebagai sumber informasi bagi dalam upaya mencapai tujuan organisasi
siswa dan selalu mendominasi kegiatan secara efektif dan efisien.
dalam kelas berubah menuju paradigma yang Guru dituntut memiliki kinerja yang
memposisikan guru sebagai fasilitator dalam mampu memberikan dan merealisasikan
proses pembelajaran dan selalu terjadi harapan dan keinginan semua pihak terutama
interaksi antara guru dengan siswa maupun masyarakat umum yang telah
siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan mempercayai sekolah dan guru dalam
ini mengharuskan guru untuk selalu membina anak didik. Dalam meraih mutu
meningkatkan kemampuannya terutama pendidikan yang baik sangat dipengaruhi
memberikan keteladanan, membangun oleh kinerja guru dalam melaksanakan
kemauan, dan mengembangkan kreativitas tugasnya sehingga kinerja guru menjadi
peserta didik dalam proses pembelajaran. tuntutan penting untuk mencapai
Dalam dunia pendidikan guru keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu
merupakan sebuah profesi yang pendidikan yang baik menjadi tolok ukur
membanggakan, maka dari itu guru harus bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan
mempunyai kompetensi dan guru.
keprofessionalan di dalam mengajar. Kinerja guru dapat diukur
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, sejauhmana hasil pelaksanaan pembelajaran
berpikir dan bertindak secara konsisten di sekolah. Daryanto (2013:203) menyatakan
sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap bahwa ada empat tugas gugusan kemampuan
dan keterampilan yang dimiliki peserta yang harus dikuasai oleh seorang guru.
didik”. Dengan kata lain kompetensi itu Kemampuan yang harus dikuasai oleh
merupakan kemampuan unjuk kerja (ability seorang guru, yaitu: (1) kualitas hasil kerja
to do) yang dilatarbelakangi oleh penguasaan (belajar mengajar); (2) inisiatif dalam
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hal ini pembelajaran; (3) komunikasi; dan (4)
mengandung arti bahwa kualitas unjuk kerja ketepatan waktu. Dengan peningkatan
itu ditentukan oleh kualitas penguasaan kinerja guru yang dilaksanakan dengan baik
pengetahuan, sikap dan keterampilan, maka dan benar akan memberikan dampak positif
dari itu guru harus memiliki kompetensi dan terhadap kualitas pendidikan.
professional yang baik guna melakukan Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu.
tugas mengajar dan menyelenggarakan Kinerja guru dapat dilihat dan diukur
pembelajaran di sekolah (Departemen berdasarkan spesifikasi atau kriteria
Pendidikan Nasional, 2006 : 2). Kompetensi kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap
yang baik yang dimiliki oleh guru tersebut guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud
sekiranya dapat memperbaiki kinerja guru perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru
tersebut khususnya sebagai tenaga pengajar. dalam proses pembelajaran. Berkenaan
Kinerja guru pada dasarnya dengan standar kinerja guru Sahertian (1997:
merupakan kinerja atau unjuk kerja yang 49) mengemukakan bahwa standar kinerja
dilakukan oleh guru dalam melaksanakan guru itu berhubungan dengan kualitas guru
tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja dalam menjalankan tugasnya seperti: (1)
guru akan sangat menentukan pada kualitas bekerja dengan siswa secara individual, (2)
hasil pendidikan, karena guru merupakan persiapan dan perencanaan pembelajaran, (3)
pihak yang paling banyak bersentuhan pendayagunaan media pembelajaran, (4)
langsung dengan siswa dalam proses melibatkan siswa dalam berbagai
pendidikan/ pembelajaran di lembaga pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan
pendidikan sekolah. Untuk memahami apa yang aktif dari guru”.
dan bagaimana kinerja guru itu, terlebih UU Republik Indonesia No. 20
dahulu akan dikemukakan tentang makna Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 39 ayat
3

(2), menyatakan bahwa pendidik merupakan penilaian kemampuan guru, meliputi: (1)
tenaga profesional yang bertugas rencana pembelajaran (teaching plans and
merencanakan dan melaksanakan proses materials) atau disebut dengan RPP
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2)
melakukan pembimbingan dan pelatihan prosedur pembelajaran (classroom
serta melakukan penelitian dan pengabdian procedure); dan (3) hubungan antar pribadi
kepada masyarakat, terutama bagi pendidik (interpersonal skill).
pada perguruan tinggi. Proses belajar mengajar tidak
Keterangan lain menjelaskan dalam sesederhana seperti yang terlihat pada saat
UU No. 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 20 (a) guru menyampaikan materi pelajaran di
tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa kelas, tetapi dalam melaksanakan
standar prestasi kerja guru dalam pembelajaran yang baik seorang guru harus
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, mengadakan persiapan yang baik agar pada
guru berkewajiban merencanakan saat melaksanakan pembelajaran dapat
pembelajaran, melaksanakan proses terarah sesuai tujuan pembelajaran yang
pembelajaran yang bermutu serta menilai terdapat pada indikator keberhasilan
dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pembelajaran. Proses pembelajaran adalah
pokok guru tersebut yang diwujudkan dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
kegiatan belajar mengajar merupakan bentuk seorang guru mulai dari persiapan
kinerja guru. Pendapat lain diutarakan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran
Soedijarto (1993) menyatakan ada empat sampai pada tahap akhir pembelajaran yaitu
tugas gugusan kemampuan yang harus pelaksanaan evaluasi dan perbaikan untuk
dikuasai oleh seorang guru. Kemampuan siswa yang belum berhasil pada saat
yang harus dikuasai oleh seorang guru, yaitu: dilakukan evaluasi.
(1) merencanakan program belajar mengajar; Kinerja guru yang ditunjukkan
(2) melaksanakan dan memimpin proses dapat diamati dari kemampuan guru dalam
belajar mengajar; (3) menilai kemajuan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
proses belajar mengajar; (4) membina yang tentunya sudah dapat mencermikan
hubungan dengan peserta didik. Sedangkan suatu pola kerja yang dapat meningkatkan
berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun mutu pendidikan kearah yang lebih baik.
2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Mulyasa (2006:84) mengemukakan bahwa
Pendidikan Dasar dijabarkan beban kerja seseorang akan bekerja secara profesional
guru mencakup kegiatan pokok: (1) bilamana memiliki kemampuan kerja yang
merencanakan pembelajaran; (2) tinggi dan kesungguhan hati untuk
melaksanakan pembelajaran; (3) menilai mengerjakan dengan sebaik-baiknya.
hasil pembelajaran; (4) membimbing dan Sebaliknya, seseorang tidak akan bekerja
melatih peserta didik; (5) melaksanakan secara profesional bilamana hanya
tugas tambahan. memenuhi salah satu diantara dua
Kinerja guru dapat dilihat saat dia persyaratan di atas. Jadi betapapun tingginya
melaksanakan interaksi belajar mengajar di kemampuan seseorang, tidak akan bekerja
kelas termasuk persiapannya baik dalam secara profesional apabila tidak memiliki
bentuk program semester maupun persiapan kepribadian dan dedikasi dalam bekerja yang
mengajar. Berkenaan dengan kepentingan tinggi. Guru yang memiliki kinerja yang baik
penilaian terhadap kinerja guru. Georgia tentunya memiliki komitmen yang tinggi
Departemen of Education telah dalam pribadinya artinya tercermin suatu
mengembangkan teacher performance kepribadian dan dedikasi yang paripurna.
assessment instrument yang kemudian Tingkat komitmen guru terbentang dalam
dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat satu garis kontinum, bergerak dari yang
Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat paling rendah menuju paling tinggi.
4

Pernyataan di atas bermakna bahwa prestasi kerja, bukan senioritas. Selanjutnya


posisi guru pada era dalam reformasi Nur Imsak (2011:132) mengatakan bahwa
pendidikan merupakan posisi yang memiliki dengan adanya Insentif (Incentive) dapat
peran besar yang harus dijalankan guru merangsang bawahan untuk meningkatkan
dalam mewujudkan mutu pendidikan yang prestasi kerja agar mereka dapat memperoleh
lebih baik. Sehingga berbagai aspek yang hadiah/imbalan yang dijanjikan kepada
dapat mempengaruhi kinerja guru perlu mereka yang berprestasi. Hal ini mereka
dilakukan perbaikan seperti kualitas tunjukan dalam melakukan pekerjaan dengan
kesejahteraan, kualitas moral dan kualitas penuh tanggungjawab untuk mendapatkan
profesi dan lain-lain yang dimiliki guru imbalan (gaji) yang pantas dan wajar selalu
sebagai penentu keberhasilan pendidikan, berupaya untuk melaksanakan pekerjaan
maka tidak salah jika ada keinginan melebihi apa yang diinginkan organisasi
memperbaiki mutu pendidikan akan dengan diberikan tunjangan dan setelah
berkaitan dengan memperbaiki posisi guru. mencapai keinginan tersebut mereka harus
Saat ini, banyak upaya yang berupaya mengelola interaksi belajar
dilakukan oleh pemerintah untuk mengajar dengan baik maka akan dikatakan
meningkatkan kinerja guru tersebut prestasi kerjanya meningkat.
diantaranya yaitu melalui peningkatan Menurut UU No. 14 tahun 2005
kesejahteraan para guru melalui program tentang Guru dan Dosen dan PP No. 19
sertifikasi dengan memberikan tuanjangan tahun 2005 Guru Profesional harus memiliki
kepada para guru yang telah memenuhi kualifikasi akademik minimal S1/DIV,
kualitas sertifikasi tersebut. menguasai Kompetensi (Pedagogik,
Tunjangan profesi guru adalah Profesional, Sosial dan Kepribadian)
insentif yang diberikan kepada Guru yang memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani
telah memiliki sertifikat pendidik dan dan rohani serta memiliki kemampuan untuk
memenuhi persyaratan sesuai dengan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
ketentuan perundang-undangan yang diatur Dengan adanya sistim pemberian Tunjangan
dalam UU No. 14 tahun 2005 Tentang Guru Profesi, guru diharapkan untuk selalu
dan Dosen. Guru yang Profesional harus memiliki komitmen dalam meningkatkan
memiliki Kualifikasi Akademik, Kompetensi kompetensi dan pengembangan profesi
Guru, Sertifikat Pendidik dan Sehat jasmani sehingga secara langsung dapat
dan Rohani dengan Tunjangan Profesi, guru mempengaruhi Kinerja Guru.
diharapkan untuk selalu memiliki komitmen Guru sebagai pekerja profesional
dalam meningkatkan kompetensi dan khususnya guru SD apabila dilihat dari sisi
pengembangan profesi sehingga secara kompetensi harus menguasai empat
langsung akan mempengaruhi kinerja guru kompetensi guru, dimana kesemuanya itu
dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas. dapat dilihat dari bagaimana penguasaan
Lebih lanjut lagi Undang-Undang materi serta konsep pelajaran yang menjadi
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan bidangnya, menguasai standar kompetensi
Dosen bahwa tunjangan profesi guru jenjang dan kompetensi dasar setiap mata pelajaran
pendidikan Dasar adalah Insentif yang yang diampunya serta mampu
diberikan kepada guru jenjang pendidikan mengembangkan secara kreatif pembelajaran
Dasar yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diampun dan memanfaatkan
dan memenuhi persyaratan sesuai dengan perkembanagan tehnologi dan komunikasi
ketentuan perundang-undangan yang dalam pengembangan pembelajaran yang
berlaku. Menurut Sedarmayanti (2013:240) dilakukannya, disamping itu guru harus
mengatakan bahwa sistem insentif adalah merupakan pribadi yang berkembang
menghubungkan kompensasi dengan prestasi dan bersifat dinamis.
kerja dengan memberikan imbalan atas
5

Dalam prakteknya, kompetensi guru (SD). Hal ini dimaksudkan untuk menarik
penerima bantuan tunjangan profesi ini tidak minat atau mempertahankan para guru,
serta merta mampu memperbaiki kinerja terutama mereka yang berkualitas baik untuk
guru di sekolah. Fenomena yang terjadi meningkatkan kompetensi dan kualitasnya
sangat perlu diprioritaskan oleh Pemerintah dalam mengajar. Sehingga dengan adanya
dalam permasalahan penyelenggaraan bentuan insentif berupa sistim pemberian
pendidikan, khususnya di wilayah Kabupaten tunjangan profesi jenjang pendidikan dasar
Konawe Utara antara lain : persediaan tenaga ini, komitmen para guru akan selalu hadir di
pendidik, pemerataan pendistribusian tenaga sekolah dan berada di kelas untuk mengajar
pendidik tidak seimbang, insentif rendah, diharapkan akan meningkat.
kualifikasi dibawah standar, guru-guru yang Berdasarkan data Kemendikbud,
kurang kompeten, Sarana Prasarana yang penerima tunjangan profesi jenjang
kurang memadai, serta ketidaksesuaian pendidikan sekolah dasar di Kabupaten
antara kualifikasi pendidikan dengan bidang Konawe Utara selama 2 tahun terakhir ini
yang ditempuh, penerapan kurikulum di yaitu pada tahun 2015 sebanyak 67 orang
sekolah belum sesuai dengan mekanisme dan dengan jumlah total dana yang direalisasikan
proses yang distandarkan. Untuk itu perlu sebesar Rp 193.559.200 dan pada tahun 2016
perhatian serta pengelolaan secara sunguh- sebanyak 89 orang dengan jumlah total dana
sungguh baik dari Pemerintah Provinsi yang direalisasikan sebesar Rp 487.751.600
Sulawesi Tenggara maupun oleh Dinas (Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten
Pendidikan Provinsi dan Kabupaten sehingga Konawe Utara, 2016). Tunjangan profesi
pendidikan di Kabupaten Konawe Utara ini tidak serta-merta bisa dimiliki semua guru.
bisa sejajar dengan daerah di provinsi lain. meski sistim pemberian tunjangan profesi
Karena tujuan utama pendidikan yaitu tidak dihentikan dalam hal ini Kemendiknas
mengangkat martabat manusia yang lebih berencana tetap mengevaluasi secara ketat
layak, sehingga dapat ikut serta secara aktif program tersebut dimana tahun-tahun
dalam proses pembangunan. berikutnya Kemendiknas bakal
Berbagai upaya telah dilakukan oleh mengeluarkan standar operasional prosedur
Dinas Pendidikan Kabupaten Konawe Utara (SOP) yang digunakan untuk memantau
dalam meningkatkan kinerja seorang guru kinerja guru seiring dengan dilaksanakannya
melalui berbagai pelatihan kompetensi guru sertifikasi.
dengan melengkapi berbagai sarana dan Sejalan dengan hal ini jika dikaitkan
prasarana penunjang mulai dari training, dengan situasi dan kondisi faktual di
workshop seminar pendidikan hingga lingkungan Sekolah Dasar Negeri se
lokakarya, serta Kelompok Kerja Guru Kabupaten Konawe Utara, ternyata masih
(KKG). Asumsinya bahwa ketika guru telah ada guru yang tidak menguasai materi ajar
melaksanakan berbagai kegiatan ini yang diampunya, proses pembelajaran yang
diharapkan dapat meningkatkan kinerja monoton serta sistim pemberian evaluasi
dalam melaksanakan tugasnya sebagai yang tidak mengikuti prosedur yang jelas,
pendidik sehingga mempunyai kompetensi tidak mempunyai inisiatif dalam
yang memadai. mengembangkan dan pembelajaran di kelas
Terkait dengan masalah pemenuhan dengan memanfaatkan tekhnologi dan
tenaga pendidik, dalam hal ini pemerintah informasi, kurang dalam pengembangan
melalui Dinas Pendidikan sebenarnya secara materi ajar, tidak kreatif dalam proses
khusus telah berusaha melakukan pembelajaran atau dengan kata lain monoton
pemenuhan melalui sistim pemberian dalam proses pembelajaran akibatnya
Tunjangan Kesejahteraan berupa tunjangan berdampak pula pada kinerja kerja yang
profesi khususnya pada guru-guru yang kurang maksimal, sehingga berpengaruh
mengajar pada jenjang pendidikan dasar pada tingkat profesional guru tersebut. Selain
6

itu banyak penyebab yang mengakibatkan melalui pengamatan langsung, dan


menurunnya kinerja guru, diantaranya wawancara mendalam tentang kinerja guru
budaya yang kurang baik atau kebiasaan penerima tunjangan sertifikasi jenjang
buruk guru seperti kerja kurang disiplin, pendidikan dasar di Kabupaten Konawe
kurang berdedikasi terhadap pekerjaan, Utara berdasarkan bidang tugas dan
kurang memberi tauladan yang baik, tanggung jawab yang diemban. Informan
melakukan pekerjaan tidak sesuka hati, yang dipilih adalah sesuai dengan ketentuan
pekerjaan dilakukan tidak sesuai prosedur dalam penelitian ini informan yang diambil
seperti tidak membuat rancangan adalah sebanyak 12 orang meliputi Kepala
pembelajaran pada saat mengajar, tidak bisa Dinas P dan K Kabupaten Konawe Utara, 1
mengembangkan bahan ajar yang ada, tidak orang Korwas, 5 orang Kepala Sekolah, dan
menguasai secara penuh dan mendalam 5 Guru penerima tunjangan profesi di
materi ajar yang ada, kurang mampu Kabupaten Konawe Utara. Teknik
memanfaatkan perkembangan tehnologi dan pengumpulan data yang digunakan dalam
informasi guna meningkatkan pembelajaran penelitian ini adalah observasi dan
di kelas. Hal ini teraplikasi di semua sekolah wawancara untuk memperoleh data dan
sehingga masih terlihat ketimpangan dalam informasi yang terkait dengan masalah
aktivitas proses pembelajaran di dalam kelas, pokok, yaitu kinerja guru penerima
juga rasa tanggung jawab sebagai guru masih tunjangan sertifikasi jenjang pendidikan
rendah sehingga berdampak pada rendahnya dasar di Kabupaten Konawe Utara. Tehnik
kinerja guru. pengumpulan data dalam penelitian ini
Menurut Mulyasa (2007: 227) dengan menggunakan tiga cara yakni :
sedikitnya terdapat sepuluh faktor yang dapat observasi partisipasi, wawancara mendalam
meningkatkan kinerja guru, baik faktor dan studi dokumen. Menurut Creswell
internal maupun eksternal. Kesepuluh faktor mengemukakan bahwa ada tiga titik utama
tersebut adalah: (1) dorongan untuk bekerja, cara pengumpulan data yakni, (1) partisipasi
(2) tanggung jawab terhadap tugas, (3) minat observer; (2) wawancara; (3) telaah dokumen
terhadap tugas, (4) penghargaan terhadap (Creswell,1997:122-123). Dalam penelitian
tugas, (5) peluang untuk berkembang, (6) ini menggunakan analisis data menurut
perhatian dari kepala sekolah, (7) hubungan model Spradley, dimana model analisis
interpersonal dengan sesama guru, (8) tersebut tidak terlepas dari keseluruhan
MGMP dan KKG, (9) kelompok diskusi proses penelitian, yaitu terdiri atas,
terbimbing serta (10) layanan perpustakaan”. Pengamatan deskriptif, Analisis domein,
Berdasarkan kenyataan tersebut pengamatan terfokus, analisis taksonomi,
maka peneliti tertarik untuk meneliti kinerja pengamatan terpilih, analisis komponensial
guru penerima tunjangan profesi jenjang dan analisis tema. Hal itu menunjukkan
pendidikan dasar dengan mengambil judul bahwa penyelenggaraan penelitian dilakukan
“Analisis Kinerja Penerima Tunjangan antara silih berganti antara pengumpulan
Profesi Guru Sekolah Dasar di Kabupaten data dengan analisis data sampai pada
Konawe Utara”. akhirnya keseluruhan masalah penelitian itu
terjawab. Dalam rangka proses pemeriksaan
2. Metode Penelitian keabsahan data dilakukan dengan mengacu
Penelitian ini dilaksanakan di pada empat hal tersebut yaitu, (1) credibility
Kabupaten Konawe Utara tepatnya pada atau derajat kepercayaan (kredibilitas) tehnik
Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Konawe ini menentukan kredibilitas dalam penelitian
Utara.Penelitian merupakan jenis penelitian dengan cara : (a) memperpanjang masa
kualitatif dengan tipe deskriptif untuk amatan; (b) amatan yang berkesinambungan;
menjelaskan secara komprehensif fakta (c) Trianggulasi; (d) mendiskusikan dengan
empirik mengenai data yang diperoleh berbagai pihak yang berkompoten; (e)
7

menganalisis kasus negatif; memakai menyesuaikan dengan analisa materi dan


referensi; (g) melakukan member check. (2). selalu menyusun program semester.
transferability atau daya keteralihan, konsep Berdasarkan hasil analisis peneliti
ini adalah pengganti konsep validitas bahwa tidak konsistennya RPP dengan
eksternal dalam penelitian kuantitatif (3) kegiatan pembelajaran di kelas disebabkan
dependency atau daya ketergantungan. karena tidak dilaksanakannya beberapa hal
seperti: analisis isi, analisis SKL, analisis
3. Hasil penelitian dan Pembahasan standar proses, analisis standar pengelolaan,
3.1.Kinerja Guru Penerima Tunjangan dan analisis SK-KD. Akibatnya guru akan
Profesi jenjang Pendidikan Dasar di kebingungan dalam memformulasikan
Kabupaten Konawe Utara rencana pembelajarannya, karena erat
Kinerja guru merupakan kemampuan kaitannya dengan kondisi riil sekolah,
seorang guru untuk melaksanakan tugas yang lingkungan dan kondisi riil peserta didik.
menghasilkan hasil yang memuaskan guna Kesenjangan ini mengakibatkan proses
tercapainya tujuan organisasi atau kelompok pembelajaran tidak kontekstual karena tidak
dalam suatu unit kerja. Kinerja guru dalam menjadikan pengalaman peserta didik
penelitian ini dapat diukur berdasarkan 3 sebagai instrumen dalam, pembelajaran. Hal
indikator yaitu kinerja guru dalam ini diperparah dengan ketergantungan pada
perencanaan pembelajaran, kinerja guru buku paket yang belum tentu relevan dengan
dalam melaksanakan pembelajaran, dan kehidupan nyata siswa.
kinerja guru dalam melakukan evaluasi
pembelajaran. b. Pelaksanaan Pembelajaran
a. Kinerja guru dalam perencanaan Pelaksanaan pembelajaran adalah
pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang
Kinerja guru dalam pembelajaran dilakukan oleh guru saat berada dalam
merupakan persepsi guru dalam proses kelas/mengajar meliputi tahap pra
perencanaan pembelajaran. Hasil penelitian intruksional, tahap intruksional, dan tahap
menunjukkan bahwa kinerja guru SD evaluasi dan tidak lanjut. Dari hasil
penerima tunjangan sertifikasi di Kabupaten penelitian ditemukan bahwa pelaksanaan
Konawe Utara dalam hal merencanakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru SD
pembelajaran berjalan kurang baik. penerima tunjangan sertifikasi di Kabupaten
Berdasarkan hasil penelitian dan Konawe Utara sedah berjalan dengan baik,
wawancara diatas menunjukkan bahwa hal ini dapat dilihat dari kesiapan dan
kinerja guru SD penerima tunjangan kelengkapan guru saat mengajar umumnya
sertifikasi di Kabupaten Konawe Utara berdasarkan silabus dan RPP sesuai dengan
dalam hal merencanakan pembelajaran mata pelajaran yang diajarkan.
dalam kondisi baik, hall ini disebabkan Berdasarkan hasil penelitian bahwa
karena sudah menjadi tuntutan dan secara umum kegiatan pelaksanaan
tanggungjawab guru penerima sertifikasi pembelajaran memuat kegiatan pendahuluan,
harus selalu menguasai perencanaan kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan
pembelajaran. Terlebih saat ujian sertifikasi tetapi, terdapat beberapa hal yang perlu
seluruh guru calon penerima sertifikasi pembenahan dalam proses pembelajaran
dituntut dan dianjurkan untuk selalu menyangkut langkah-langkah yang telah
melakukan dan membuat perencanaan ditentukan dalam RPP, seperti pemberian
sebelum mengajar. Artinya bahwa mayoritas apersepsi kurang tampak. Demikian juga
kinerja guru penerima tunjangan sertifikasi dalam melaksanakan kegiatan inti
jenjang pendidikan sekolah dasar di pembelajaran, guru tidak melaksanakan
Kabupaten Konawe Utara ditinjau dari model pembelajaran sebagaimana yang
perencanaan pembelajaran selalu tercantum dalam RPP. Proses pembelajaran
8

masih didominasi oleh guru sehingga motivasi dan minat, bakat, watak, sifat, usia,
kreativitas siswa dan daya analisis siswa jenis kelamin, pendidikan, dan pengalaman.
kurang tampak. Hasil refleksi dengan guru Ketidakmampuan guru dalam
mata pelajaran dan kepala sekolah terungkap mengimplementasikan kegiatan perencanaan
bahwa salah satu faktor mendasar mengenai kurikulum disebabkan oleh berbagai faktor.
hal tersebut adalah kurangnya pengetahuan Dari hasil wawancara terungkap bahwa guru
prasyarat siswa, minimnya sumber belajar di belum mengikuti bimbingan teknis
sekolah, dan masih rendahnya motivasi penyusunan kurikulum yang diselenggarakan
belajar siswa. oleh pihak Dinas Pendidikan atau LPMP.
Selain itu, program pengimbasan yang
c. Evaluasi Pembelajaran dilakukan oleh pengembang kurikulum
Evalusi pembelajaran adalah tingkat sekolah belum memadai sehingga
merupakan tahap akhir yang dilakukan oleh guru memiliki kekurangan informasi yang
guru dari seluruh rangkaian kegiatan belajar berkaitan dengan penyusunan dokuman
mengajar dikelas. Kemampuan kurikulum.
mengevaluasi, meliputi: evaluasi normative, .
evaluasi formatif, laporan hasil evaluasi, dan Sebagaimana ditegaskan diatas
pelakanaan program perbaikan dan bahwa faktor internal mencakup beberapa
pengayaan. aspek. Salah satu faktor internal yang
Dari hasil penelitian diperoleh dominan mempengaruhi kinerja pekerja
keterangan bahwa guru SD penerima termasuk guru adalah motivasi. Motivasi
tunjangan sertifikasi di Kabupaten Konawe disini dipahami secara luas termasuk minat
Utara selalu melakukan evaluasi terhadap guru walaupun jelas kedua konsep ini
hasil belajar siswa setiap akhir pembelajaran. memiliki arti tersendiri. Menurut Gomes
Artinya bahwa kegiatan evaluasi hasil belajar dalam Wibowo (2007:177) menyatakan
yang dilakukan guru sudah baik. Idealnya bahwa “performansi kerja akan berkaitan
setiap guru penerima tunjangan sertifikasi dengan dua faktor utama, yaitu kesediaan
harus melakukan kegiatan evaluasi terhadap atau motivasi dari pegawai untuk bekerja,
hasil belajar setelah kegiatan pembelajaran yang menimbulkan usaha pegawai, dan
selesai. kemampuan pegawai untuk
melaksanakannya”. Dengan demikian, tidak
3.2.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dapat disangkal bahwa motivasi merupakan
Kinerja Guru salah satu faktor yang mempengaruhi
Dalam ;penelitian ini mengukur kinerja. Menurut Siagian (2002: 138)
fakktor-faktor yang empengaruhi kinerja motivasi adalah daya pendorong yang
guru mengacu pada teori yang dikemukakan mengakibatkan seorang anggota organisasi
oleh Imron (2003: 52) membagi faktor-faktor mau dan rela untuk mengerahkan
yang mempengaruhi kinerja kedalam dua kemampuan dalam bentuk keahlian atau
kategori yakni: Faktor internal dan faktor keterampilan, tenaga dan waktunya untuk
eksternal. Untuk menjelaskan secara detail, menyelenggarakan berbagai kegiatan yang
maka perlu diuaraikan secara terpisah menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan
berdasarkan teori dari para ahli, sebagai kewajibannya dalam rangka pencapaian
berikut:. tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang
a) Faktor Internal telah ditentukan sebelumnya. Demikian pula
Faktor internal yaitu faktor yang Hasibuan (2012: 250) menyatakan bahwa
berasal dari dalam diri seseorang yang dapat motivasi kerja dapat diartikan sebagai
mempengaruhi kinerja seseorang dalam keinginan atau kebutuhan yang
menjalankan pekerjaannya, antara lain; melatarbelakangi seseorang sehingga ia
9

terdorong untuk bekerja. Motivasi mencakup Faktor eksternal yaitu faktor yang
upaya, pantang mundur, dan sasaran. datang dari luar diri seseorang yang dapat
Motivasi melibatkan keinginan mempengaruhi kinerjanya, antara lain;
seseorang untuk menunjukkan kinerja. Selain lingkungan fisik, sarana dan prasarana,
motivasi sebagai faktor determinan internal imbalan, suasana, kebijakan dan sistem
yang mempengaruhi kinerja, faktor administrasi
kepribadian dan emosional juga Sebagaimana dikemukakan
mempengaruhi kinerja karena faktor ini erat sebelumnya bahwa ada beberapa faktor
kaitannya dengan ketenangan dan kegairahan eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja.
dalam bekerja. Hal ini ditegaskan oleh Terlebih dahulu dijelaskan faktor lingkungan
Hasibuan (2012: 17) bahwa masalah fisik. Lingkungan fisik disini berarti
ketenangan dan kegairahan bagi seorang lingkungan kerja. Lingkungan kerja adalah
karyawan juga merupakan faktor yang akan keadaan bahan, peralatan, proses produksi,
meningkatkan produktivitas kerja seorang cara dan sifat pekerjaan serta keadaan
karyawan. Syarat pertama untuk lainnya di sekitar tempat kerja yang dapat
mendapatkan ketenangan dan kegairahan mempengaruhi keselamatan dan kesehatan
kerja bagi karyawan adalah bahwa tugas dan kerja.
jabatan yang dipegangnya itu sesuai dengan Menurut Nawawi (2006: 37)
kemampuan dan minatnya. menyatakan bahwa lingkungan kerja yang
Berdasarkan pendapat tersebut, kondusif adalah (a) Lingkungan kerja fisik
terungkap pula aspek internal lain yang dapat seperti ruangan kerja yang luas dan bersih,
mempengaruhi kinerja yakni kemampuan peralatan kerja yang memadai, ventilasi dan
dan minat. Kemampuan yang dimiliki penerangan yang memenuhi persyaratan, dan
seseorang berbeda-beda. Kemampuan itu tersedia transportasi untuk melaksanakan
sendiri tergantung pula aspek-aspek lain. tugas luar, (b) Lingkungan kerja nonfisik
Seorang guru tentu saja kemampuan antara lain berupa hubungan kerja yang
melaksanakan pembelajaran dipengaruhi menyenangkan, harmonis, dan saling
oleh kapasitas keilmuan yang dimiliki menghargai sesuai posisi masing-masing,
misalnya jenjang pendidikan atau kualifikasi baik antara bawahan dengan atasan, maupun
pendidikannya, pengalaman mengajarnya, sebaliknya, termasuk juga antar
dan materi yang diajarkan apakah sesuai latar manager/pimpinan unit kerja.
belakang ilmu yang dimiliki atau tidak. Hasibuan (2012: 58) menyatakan
Selain itu faktor minat juga lingkungan kerja yang baik akan
mempengaruhi kinerja sebagaimana dikutip mempengaruhi kinerja yang baik pula pada
diatas. Minat merupakan dorongan dari segala pihak, baik pada para pekerja,
dalam diri yang menyebabkan seseorang pimpinan, atau pada hasil pekerjaannya.
melakukan sesuatu aktivitas. Minat ini bukan Lingkungan merupakan salah satu faktor
merupakan bawaan atau tidak dibawa sejak yang sangat penting dalam peningkatan
lahir. Semakin berminat guru pada mata kinerja, karena dengan lingkungan yang
pelajaran atau profesinya, maka semakin mendukung, baik suasana maupun sarana
besar peluang untuk meningkatkan dan prasarana akan menjadikan guru lebih
kinerjanya dan sebaliknya semakin kurang giat untuk bekerja. Menurut Thoha (2003:
berminat, maka kinerjanya kemungkinan 33), perilaku seseorang adalah suatu fungsi
semakin rendah. Jadi, minat ini sangat besar dari interaksi antara seorang individu dengan
pengaruhnya terhadap kinerja bahkan lingkungannya. Hal ini berarti bahwa
prestasi guru dalam melaksanakan tugasnya seseorang individu dengan lingkungannya
sebagai pendidik dipengaruhi oleh minat. menentukan perilaku keduanya secara
b) Faktor Eksternal langsung. Individu dengan organisasi
mempunyai sifat-sifat khusus atau
10

karakteristik tersendiri dan jika kedua kebijakan dan system administrasi. Faktor
karakteristik berinteraksi akan menimbulkan kebijakan Kepala Sekolah, misalnya terkait
perilaku individu dalam organisasi. dengan pembagian jam mengajar, pembagian
Dengan demikian dapat ditegaskan tugas tambahan (Pembina OSIS, koordinator
bahwa suatu kondisi lingkungan kerja perpustakaan, koordinator laboratorium,
dikatakan baik atau sesuai apabila manusia koordinator MGMP atau ketua rumpun mata
dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, pelajaran, Pembina pramuka, dan
sehat, aman dan nyaman. Kesesuaian sebagainya), termasuk kebijakan penggunaan
lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya daba komite sekolah antara lain
dalam jangka waktu yang lama. Lebih jauh diperuntukkan bagi kesejahteraan guru dan
lagi lingkungan-lingkungan kerja yang pegawai sebesar 75% (untuk membayar
kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan honor guru dan pegawai honorer dan
waktu yang lebih banyak dan tidak kelebihan jam mengajar), termasuk pula
mendukung diperoleh rancangan system kebijakan dalam pengusulan kenaikan
kerja yang efisien. pangkat dan berkala dapat mempengaruhi
Faktor eksternal lain yang dapat kinerja.
mempengaruhi kinerja adalah ketersediaan
saran dan prasarana. Semakin lengkap d. KESIMPULAN DAN SARAN
sarana, maka semakin besar kemungkinan 4.1.Kesimpulan
terjadi penigkatan produktivitas kerja. Guru Berdasarkan hasil penelitian dan
yang ditunjang dengan sarana pembelajaran pembahasan, peneliti dapat mengambil
yang memadai, berpotensi meningkatkan kesimpulan sebagai berikut ;
kinerjanya. Bahkan sarana yang tidak a. Kinerja guru penerima tunjangan
berhubungan langsung dengan pembelajaran sertifikasi jenjang sekolah dasar negeri di
dapat mempengaruhi kinerja guru, misalnya Kabupaten Konawe Utara umumnya
di suatu sekolah yang tidak memiliki belum optimal. Hal ini disebabkan
kelengkapan WC yang memadai, dapat karena dari tiga indikator kinerja guru
menyebabkan guru terlambat memulai yang diukur meliputi perencanaan
pembelajaran artinya kinerja guru terganggu. pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran
Demikian pula imbalan atau gaji yang dan kegiatan evaluasi pembelajaran
terkait dengan kesejahteraan guru dapat umumnya belum sepenuhnya berjalan
mempengaruhi kinerja. Abdullah (2014: 19) dengan baik sesuai KTSP yang berlaku..
menyatakan bahwa “ faktor selanjutnya b. Faktor-faktor yang mempengaruhi
adalah kompensasi, gaji, atau imbalan. kinerja guru penerima tunjangan
Faktor ini walaupun pada umumnya tidak sertifikasi jenjang sekolah dasar negeri di
menempati urutan paling atas, tetapi masih Kabupaten Konawe Utara terdiri dari
merupakan faktor yang mudah faktor internal dan faktor eksternal.
mempengaruhi ketenangan dan kegairahan Faktor internal yang paling berpengaruh
kerja guru”. Dengan demikian dapat yaitu terkait kemampuan dan motivasi
ditegaskan bahwa kesejahteraan guru siswa, sedangkan faktor ekternal yang
berpengaruh terhadap kinerja. Hal ini tentu paling berpengaruh adalah letak
semakin terasa bagi guru yang belum geografis wilayah dan prilaku
berstatus PNS karena guru non PNS juga kepemimpinan kepala sekolah. Dengan
memiliki imbalan atau penghasilan yang demikian maka kedua faktor tersebut
terbatas dibandingkan dengan guru yang sangat mengambil andil terhadap kondisi
sudah PNS apalagi guru yang sudah kinerja guru penerima tunjangan
berstatus tersertifikasi. sertifikasi jenjang sekolah dasar negeri di
Dua faktor eksternal lain yang dapat Kabupaten Konawe Utara tersebut.
mempengaruhi kinerja guru yakni faktor
11

4.2.Saran Arikunto, 2008, Manajemen Penelitian Edisi


Setelah menyelesaikan penelitian ini, Keenam, Jakarta: P.T. Rineka Cipta.
ada beberapa saran yang perlu penulis Aqib, Zainal, 2003, Standar Kualifikasi,
sampaikan, antara lain Kompetensi, Sertifikasi Guru, Kepala
a. Untuk instansi terkait, terutama Sekolah, Pengawas, Bandung: Yrama
pemerintah dalam hal ini organisasi Widya:.
Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi .............., 2007, Standar Kualifikasi,
Tenggara dan Dinas Pendidikan Kompetensi, Sertifikasi Guru, Kepala
Kabupaten Konawe Utara agar secara Sekolah, Pengawas, Bandung: Yrama
bersinergi senantiasa memperhatikan Widya:.
peningkatan kompetensi dan atau Barnawi, dan Arifin, 2012, Kinerja Guru
kemampuan guru berupa pemberian Profesional, Yogyakarta: Ar-ruzz
pelatihan-pelatihan terkait perencanaan Media.
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran Barizi, Ahmad, 2009 Menjadi Guru Unggul,
dan cara pelaksanan evaluasi belajar Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
siswa, sehingga akan lebih memberikan Burhanuddin, 2005. Analisis Administrasi
implikasi pada perbaikan kinerja guru Manajemen dan Kepemimpinan
penerima tunjangan sertifikasi tersebut. Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
b. Para pimpinan sekolah dalam hal ini Creswell, J. W. 1997. Qualitative
pihak kepala sekolah, perlu kiranya Inquiry and Research Design:
memberikan motivasi dan dapat Choosing Among Five
membangun minat guru dalam Traditions. Thousand Oaks,
melaksanakan tugas sebagai tenaga CA: Sage.
pendidik, hal ini akan mendorong Danim, Sudarwan, 2010, Profesionalisasi
kinerja guru menjadi lebih baik. dan Etika Profesi Guru. Bandung:
c. Bagi peneliti selanjutnya yang meneliti Alfabeta
tentang kinerja guru khususnya dalam
pengumpulan data diharapkan agar
meneliti semua guru yang mendapat
Tunjangan Profesi ataupun Tunjangan
Daerah Khusus dari berbagai jenjang
TK, SD, SMP, SMA/SMK sehingga
hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai
bahan perbandingan dalam mengetahui
Kinerja Guru secara umum.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M., 2014. Manajemen dan


Evaluasi Kinerja Karyawan.
Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Anwar, 2086, Profil Baru Guru dan Dosen
Indonesia, Jakarta: Pustaka
Indonesia.
Arikunto, Suharsimi, 2002, Manajemen
Penelitian Edisi Keempat, Jakarta:
P.T. Rineka Cipta.