Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN ANALISA PROGRAM

PEMANTAUAN WILAYAH SETEMPAT


KESEHATAN IBU DAN ANAK & KB
DI PUSKESMAS TEPUSEN
TAHUN 2018

Disusun oleh :

1. Dwi Purwaningsih (P1337424517068)


2. Retno Utami (P1337424517070)
3. Venitri Permata Yona (P1337424517082)
4. Hani Uswah Hasanah (P1337424517096)
5. Sulastri (P1337424517099)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG


SARJANA TERAPAN KEBIDANAN MAGELANG
2018
LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN ANALISA PROGRAM


PEMANTAUAN WILAYAH SETEMPAT KIA & KB
DI PUSKESMAS KANDANGAN
TAHUN 2018

Disahkan pada :
Hari :
Tanggal :

Oleh :

Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III

Tuti Sukini, S.SiT, M.Kes Sri Winarsih, S.Pd, S.SiT, M.Kes Ayuningtyas, S.SiT, M.Kes

NIP.196711181989122001 NIP.

NIP.19671209199010 2002
Mengetahui,
Ketua Program Studi D IV Kebidanan Magelang

Esti Handayani, M.Mid


NIP. 1974041998032002
LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN ANALISA PROGRAM


PEMANTAUAN WILAYAH SETEMPAT KIA & KB
DI PUSKESMAS TEPUSEN
TAHUN 2018

Disahkan pada :
Hari : Jum’at
Tanggal : 11 Mei 2018

Mengetahui,

Bidan Koordinator Tepusen Kepala Puskesmas Tepusen

Sudiyah, Am.Keb Drg. Siti Rohmi, MM.


NIP. 19720717 1992203 2 006 NIP. 19641230 199203 2 005
PUSKESMAS TEPUSEN

Puskesmas Tepusen – Kab Temanggung


Faskes Tingkat Pertama BPJS Kesehatan di Kab Temanggung

Alamat : Ds. Tepusen, Kec. Kaloran, Kab Temanggung, Jawa Tengah


No. Telepon : 0287 381572
Type Puskesmas : Non Rawat Inap
PROFIL PUSKESMAS KANDANGAN
KABUPATEN TEMANGGUNG

Kepala Puskesmas : 1 (dokter gigi)


Kepala Tata Usaha :1
Dokter Umum :1
Dokter Gigi :1
Bidan :7
Perawat :4
Perawat Gigi :1
Asisten Apoteker :1
Laborat :1
Gizi :1
Loket :4
Kesehatan Lingkungan :1
Penjaga :1
PROFIL POLI KIA DAN KB
PUSKESMAS TEPUSEN
KABUPATEN TEMANGGUNG

Penanggungjawab/Bidan Koordinator : Sudiyah, Am.Keb


Penanggungjawab KB : Yohana Partini, Am.Keb
Bidan Desa :
1. Novi Subekti, Am.Keb : Desa Tempuran
2. Sudiyah,Am.Keb : Desa Kemiri
3. Hardini,Am.Keb : Desa Tegowanuh
4. Ika Widdya Lestari,Am.Keb : Desa Keblukan
5. Lasning, SKM : Desa Tepusen
6. Suprihatin, Am.Keb : Desa Gandulan
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Analisa Program
KIA pada PWS KIA dan KB di Puskesmas Tepusan bulan Februari-Maret 2018.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan tugas ini tidak terlepas dari
bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak
terimakasih yang sedalam-dalamnya atas bimbingan, sasaran, bantuan, dan dukungan
moral/ spiriyual kepada :
1. Warijan, S.Pd, A.Kep, M.Kes, selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang
2. Sri Widatiningsih, M.Mid, selaku Ketua Perwakilan Jurusan Kebidanan
Magelang
3. Esti Handayani, M.Mid, selaku Ketua Program Studi D-IV Kebidanan Magelang
4. Drg. Siti Rohmi, MM, selaku Kepala Puskesmas Tepusen
5. Sudiyah, Am.Keb, selaku Bidan Koordinator Puskesmas Tepusen
6. Segenap jajaran Karyawan di Puskesmas Tepusan Kabupaten Temanggung
7. Tuti Sukini, S.SiT, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing dalam penyusunan
Laporan Analisis Program KIA ini yang telah meluangkan waktu untuk
membimbing serta memberi pengarahan
8. Sri Winarsih, S.Pd, S.SiT, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing dalam penyusunan
Laporan Analisis Program KIA ini yang telah meluangkan waktu untuk
membimbing serta memberi pengarahan
9. Ayuningtyas, S.SiT, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing dalam penyusunan
Laporan Analisis Program KIA ini yang telah meluangkan waktu untuk
membimbing serta memberi pengarahan
10. Rekan-rekan seangkatan yang telah banyak memberikan bantuan pada penulis
11. Semua pihak yang turut membantu penyelesaian laporan yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu
Penulis menyadari bahwa Laporan Analisa Program KIA ini masih banyak
kekurangan dan kelemahannya. Saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan guna perbaikan di masa yang akan datang. Akhirnya penulis
berharap semoga Laporan Analisa program KIA ini dapat memberikan manfaat.

Magelang, 8 Mei 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jumlah penduduk yang besar dan kurang serasi, selaras dan seimbang
dengan daya tampung lingkungan dapat mempengaruhi segala segi pembangunan
dan kehidupan masyarakat, sedangkan jumlah penduduk yang besar dan
berkualitas merupakan salah satu modal dasar dan faktor dominan bagi
pembangunan nasional. Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah
terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat
permanent. Untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita atau pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat atau cara
KB. Tingkat pencapaian pelayanan KB dapat dilihat dari cakupan peserta KB
yang sedang atau pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB,
dan jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas penduduk yaitu mengatasi
pertumbuhan penduduk, dengan menetapkan program Keluarga Berencana (KB)
pada Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk mencegah kehamilan.
Terutama kehamilan yang tidak diinginkan dan kehamilan risiko tinggi, karena
hal tersebut dapat menyebabkan atau menambah angka kesakitan dan angka
kematian ibu (BKKBN Jateng, 2012).
Berdasarkan data BKKBN Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 jumlah
PUS yang menjadi peserta KB aktif tercatat sebanyak 4.784.150 peserta dengan
rincian, KB dengan metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau disebut
juga IUD sebanyak 406.097 orang (8,49%), MOW sebanyak 262.761 orang
(5,49%), MOP sebanyak 52.679 orang (1,10%), kondom sebanyak 92.072 orang
(1,92%), implant sebanyak 463.786 orang (9,69%), suntik sebanyak 2.753.967
orang (57,56%), dan pil sebanyak 752.788 orang (15,74%). Banyak faktor yang
mempengaruhi seseorang dalam pemilihan metode kontrasepsi yang digunakan
yaitu efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian, efek samping serta kemauan
dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar
(Sulistyawati, 2011).
Pada umumnya masyarakat masih merasa takut untuk menggunakan
AKDR maupun implant karena metode pemasangannya yang menggunakan
berbagai macam alat-alat medis yang diperlukan. Sehingga menimbulkan rasa
takut pada sebagian dari masyarakat yang akan mengunakannya (Saifuddin,
2006).
Kita ketahui bahwa sampai saat ini belumlah tersedia satu metode
kontresepsi yang benar-benar 100% ideal/ sempurna. Setiap metode kontrasepsi
memiliki keunggulan dan kelemahan, pengalaman menunjukkan bahwa saat ini
pilihan metode kontrasepsi umumnya masih dalam bentuk cafetarian atau
supermarket, dimana calon akseptor memilih sendiri kontrasepsi yang
diinginkan, padahal dalam kontrasepsi tidak ada satupun metode yang sesuai
untuk semua pemakai, dan sebagian tertentu seyogyanya tidak digunakan oleh
sekelompok tertentukarena ada kontraindikasi (Hartanto, 2013).
Peran bidan sangat penting dalam memberikan asuhan kebidanan
keluarga berencana salah satu kewenangannya adalah melakukan konseling atau
KIE untuk memberikan gambaran tentang berbagai macam metode alat
kontrasepsi sehingga klien dipersilahkan untuk memilih metode kontrasepsi yang
diyakini (Manuaba, 2010).
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Terpantaunya cakupan dan kualitas pelayanan KB pada setiap fasilitas
pelayanan di wilayah kerja secara terus menerus.
2. Tujuan khusus
a. Memantau cakupan layanan KB secara teratur (bulanan) dan terus
menerus
b. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapakan dengan hasil
pencapaian.
c. Menetukan urutan wilayah prioritas yang akan di tangani secara intensif
berdasarkan besarnya kesenjangan antara target dengan hasil pencapaian
d. Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya yang
tersedia
e. Meningkatkan peran serta aparat setempat dalam penggerakkan sasaran
dan mobilisasi sumber daya.
3. Manfaat
a. Bagi Institusi Dinas Kesehatan (Puskesmas)
1) Mengetahui permasalahan dalam pelaksanaan program KB dalam
PWS KB di Puskesmas Tepusan
2) Memperoleh masukan tentang alternatif pemecahan masalah dalam
pelaksanaan program KB khususnya PWS KB di puskesmas
Tepusan
b. Bagi Akademik
1) Memberikan masukan gambaran dalam pelaksanaan program KB
khususnya PWS KB di Puskesmas Tepusan
2) Sebagai tambahan bahan bacaan tentang analisis pelaksanaan
Program KB di Puskesmas Tepusan
c. Bagi Peserta/Mahasiswa
1) Memahami gambaran umum analisis pelaksanaan program KB
khususnya PWS KB di Puskesmas Kandangan Kabupaten
Temanggung
2) Meningkatkan pengetahuan dalam melakukan analisis program KB
khususnya PWS KB di Puskesmas Kandangan Kabupaten
Temanggung.
BAB II
KEBIJAKAN PROGRAM KB
PEMANTAUAN WILAYAH SETEMPAT KELUARGA BERENCANA
(PWS KB)

A. PENGERTIAN ALAT KONTRASEPSI


Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan
jarak kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah mencanangkan
program atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati, 2013).
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan (Hanafi
Winkjosastro, 2007 : 905).
Menurut Dyah Noviawati, (2011) Keluarga berencana adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui :
1. Pendewasaan usia perkawinan (PUP).
2. Pengaturan kelahiran.
3. Pembinaan ketahanan keluarga.
4. Peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
B. MACAM-MACAM ALAT KONTRASEPSI
1. Metode sederhana
a. Tanpa alat
1) KB ilmiah
2) Coitus Interuptus
b. Dengan alat
1) Mekanis (barrier)
2) Kimiawi
2. Dengan alat
a. Kontrasepsi hormonal
1) Per oral
a) Pil oral kombinasi (POK)
b) Mini pil
c) Morning after pil
2) Injeksi atau suntikan
3) Sub-kutis implant
b. Intra Uterine Devices (IUD,AKDR)
c. Kontrasepsi mantap
1) Pada wanita
a) Penyinaran
b) Operatif, medis operatif wanita
c) Penyumbatan tuba falopii secara mekanis
d) Penyumbatan tuba falopii secara kimiawi
2) Pada pria
a) Operatif, medis operatif wanita
b) Penyumbatan vas deferens secara mekanis
c) Penyumbatan vas deferens secara kimiawi
C. PENGERTIAN PWS KB
Pemantauan wilayah setempat (PWS) adalah alat management suatu
program untuk memantau cakupan pelayanan program suatu wilayah kerja secara
terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat, khususnya
terhadap wilayah kerja yang cakupan programnya masih rendah.
Dalam kaitannya dengan program pelayanan KB, maka pengertian PWS
KB adalah alat manajemen program KB untuk memantau cakupan pelayanan KB
serta kejadian komplikasi dan kegagalan KB disuatu wilayah secara terus
menerus agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat, khususnya
terhadap wilayah yang cakupannya masih rendah serta kejadian komplikasi dan
kegagalan masih diatas angka toleransi.
Penyajian PWS KB juga dapat dipakai sebagai alat motivasi dan
komunikasi kepada lintas program dan sektor terkait, khususnya aparat setempat
yang berperan dalam pendataan, penggerakan sasaran dan pengalokasian dana
agar dapat memahami permasalahan yang dihadapi secara dini, dan berkontribusi
dalam pemecahan masalahnya. Dengan demikian diharapkan cakupan pelayanan
KB dapatmenjangkau seluruh sasaran di suatu wilayah kerja dan menjamin
tersedianya pelayanan KB yang berkualitas.
D. TUJUAN PWS KB
1. Tujuan umum
Terpantaunya cakupan dan kualitas pelayanan KB pada setiap fasilitas
pelayanan di wilayah kerja secara terus menerus.
2. Tujuan khusus
a. Memantu cakupan layanan KB secara teratur (bulanan) dan terus menerus
b. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapakan dengan hasil
pencapaian.
c. menetukan urutan wilayah prioritas yang akan di tangani secara intensif
berdasarkan besarnya kesenjangan antara target dengan hasil pencapaian
d. merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya yang
tersedia
e. meningkatkan peran serta aparat setempat dalam penggerakkan sasaran
dan mobilisasi sumber daya.
E. PROGRAM KB
1. Pelayanan KB yang diberikan meliputi :
a. Metode KB pil, suntik, kondom dapat diberikan di posyandu, PKD,
PUSTU.
b. Metode KB AKDR dan AKBK dapat diberikan di puskesmas dan BPS
Dari macam-macam alat kontrasepsi tersebut yang paling banyak
digunakan adalah suntik yaitu 45,40 % dari seluruh peserta KB dengan
memfokuskan sasaran pada kategori PUS dengan “4 terlalu” (terlalu
muda, tua, sering dan banyak).
Sebelum pelayanan KB diberikan, tenaga kesehatan memberikan
informed concent dan informed choice yang dibuktikan dengan adanya
concent padasetiap kartu KB Baru. Selain itu juga dilakukan anamnesa
dan pemeriksaan sebagai upaya penapisan awal akseptor KB.
Dalam pencatatan dan pelaporan kontrasepsi yaitu pada register KB
tidak dicantumkan jadwal kunjungan ulang. Penyuluhan KB diberikan
kepada semua PUS, terutama KB pada ibu postpartum. KB postpartum
didukng dengan adanya program JAMPERSAL.
2. Pelaksanaan PWS KB
Penerapan PWS KB dimulai dengan langkah-langkah sosialisasi,
fasilitasi dan evaluasi yang diikuti dengan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Pelaksanaan PWS KB di tingkat puskesmas dilakukan dengan melakukan
pertemua reorientasi bersama bidan di desa, koordinator, pengelola program
KB dan kepala puskesmas. Selain itu, juga melakukan pertemuan sosialisasi
dengan lintas sektor tingkat kecamatan dan desa, tujuannya untuk sosialisasi
tentang PWS KB, menyepakati peran lintas sektor dalam PWS KB dan
menyusun mekanisme pemantauan kegiatan.
3. Pemantauan dan Pelaporan
Pemantauan kegiatan PWS KB dapat dilakukan melalui laporan
kegiatan PW KB yang bulanan dengan melihat kelengkapan data PWS KB.
Data PWS KB yang dilaporkan dimasing-masing tingkatan adalah :
a. Ditingkat desa untuk dilaporkan ke puskesmas setiap bulan :
1) Register KB
2) Rekapitulasi kohort KB
b. Ditingkat puskesmas untuk dilaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota
setiap bulan adalah rekapitulasi kohort KB
c. Ditingkat kabupaten/provinsi untuk dilaporkan ke dinas kesehatan
provinsi/departemen kesehatan setiap 3 bulan.
F. CARA MEMBUAT GRAFIK PWS KB
1. Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam pembuatan pemantauan wilayah setempat KB
(PWS-KB) yaitu :
a. Data sasaran program KB
1) Jumlah PUS
2) Jumlah PUS dengan 4T
3) Jumlah PUS dengan penyakit kronis, anemia, KEK/LILA
4) Jumlah ibu bersalin
b. Data Cakupan program
1) Jumlah pesera KB baru
2) Jumlah peserta KB aktif
3) Jumlah kasus komplikasi
4) Jumlah kasus kegagalan
5) Jumlah kasus putus pemakaian/DO
6) Jumlah PUS 4T berKB
7) Jumlah PUS miskin berKB
8) Jumlah PUS dengan penyakit kronis, anemia, KEK/LILA < 23,5
atau IMS/ISR/HIV-AIDS/Hepatitis B berKB
9) Jumlah ibu pasca persalinan berKB
2. Perhitungan indicator
Indicator pemantauan program KB yang digunakan dalam PWS KB adalah
indicator output. Dengan demikian tiap bulan dapat dibuat 9 indikator, yang
dapat ditampilkan dalam bentuk grafik yaitu sebagai berikut :
a. Cakupan peserta KB aktif
b. Cakupan peserta KB baru
c. Proporsi kejadian komplikasi KB
d. Proporsi kegagalan KB
e. Proporsi drop out KB
f. Cakupan PUS miskin berKB
g. Cakupan PUS 4T berKB
h. Cakupan PUS dengan atau penderita penyakit kronis atau LILA < 23,5
cm
i. Cakupan ibu pasca bersalin berKB
3. Pengolahan data
Sebagai contoh untuk membuat grafik PWS cakupan KB aktif bulan Maret
2018 maka data yang diperlukan adalah :
a. Cakupan KB aktif komulatif sampai bulan lalu (Januari sampai Maret
2018)
b. Cakupan KB aktif bulan ini (absolut Maret 2018)
c. Sasaran PUS perdesa per tahun 2018 (proyeksi atau pendataan tahunan)

Pencapaian cakupan kumulatif KB aktif per desa (Januari-Maret 2018) X 100%

Sasaran PUS perdesa selama satu tahun


Pengolahan data dibuat dalam bentuk tabel seperti tercantum dalam laporan
pelayanan KB di wilayah puskesmas.
4. Pembuatan grafik PWS-KB
Langkah-langkah dalam membuat grafik PWS-KB untuk indicator
cakupan KB aktif bulan Juli 2018 adalah sebagai berikut :
a. Menentukan target rata-rata perbulan untuk menggambarkan skala pada
garis vertikal (sumbu Y)
Misalnya : target cakupan KB aktif dalam satu tahun ditentukan 70%
dibagi 12 bulan = 5.83 % perbulan
Dengan demikian, maka target pencapaian kumulatif sampai dengan
bulan Juli (bulan ke-7) adalah (7*5.83%) = 40.8% (target bulan ini)
b. Hasl perhitungan pencapaian kumulatif KB aktif sampai bulan Juli 2018
dimasukkan ke dalam jalur kumulatif sesuai masing masing desa.
Perhitungan KB aktif yang dimaksudkan adalah yang berasal dari
seluruh jumlah akseptor yang tercatat pada register kohort bulan berjalan
dikurangi dengan DO dan kegagalan.
G. INDIKATOR PEMANTAUAN
1. Indikator Iayanan KB
Guna memenuhi ketersediaan data yang Iengkap dan akurat dalam
pelayanan program keluarga berencana maka diperlukan sistem pencatatan
dan pelaporan dari hasil pelayanan KB mulai dari unit pelayanan terbawah
polindes/poskesdes, puskesmas pembantu, puskesmas, klinik swasta, Bidan
Praktek Swasta, Dokter Praktek Swasta, Rumah Sakit pemerintah hingga
tingkat manajemen Dinas Kesehatan kabupaten kota, Dinas Kesehatan
propinsi, serta Kemkes pusat.
Berikut ini beberapa indikator pelayanan yang ditetapkan Kemkes
untuk digunakan dalam menggambarkan kinerja dan kualitas pelayanan KB.
Akan tetapi pemerintah daerah dapat melakukan penambahan indikator sesuai
kebutuhannya
Tabel 1. Indikator Pelayalan KB Tingkat Pusat
Indiator pelayanan KB
Tenaga Sarana dan prasarana Cakupan pelayanan
1. Ketersediaan alkon 1. Persentase Peserta
untuk keluarga KB Aktif (CPR)
Miskin (GAKIN) 2. Persentase
2. Ketersediaan alokon Komplikasi
untuk Non GAKIN 3. Persentase Kegagalan
4. Persentase Drop out
5. Persentase PUS
Miskin Ber-KB
6. Persentase PUS 4T
Ber-KB

Tabel 2. Indicator pelayanan KB tingkat prop/kab/kota


Indikator Pelayanan KB
Tenaga Sarana dan prasarana Cakupan pelayanan
1. Jumlah dokter SPOG 1. Ketersediaan 1. Presentase peserta kb
di RS peralatan pelayanan aktif (CPR)
2. Jumlah dokter umum KB (IUD Kit, 2. Presentase peserta KB
terlatih standardisasi Implant kit dll) baru
KB di fasilitas 2. Ketersediaan BHP 3. Presentase komplikasi
pelayanan KB 3. Ketersediaan 4. Presentase kegagalan
(RS,Puskesmas, DPS) Alkon untuk 5. Presentase drop out
3. Jumlah bidan terlatih keluarga Miskin 6. Presentase pus miskin
standardisasi KB 4. Ketersediaan alkon ber kb
difasilitas pelayanan untuk non gakin 7. Presentase pus 4T ber
KB (RS, Puskesmas, KB
BPS) 8. Presentase pus dengan
4. Jumlah Bidan di desa atau menderita
yang terlatih penyakit kronis ber-
standardisasi KB KB
(Polindes/Poskesdes) 9. Presentase ibu pasca
bersalin / keguguran
ber kb
Penjelasan masing-masing indikator berikut perhitungan dapat dilihat berikut ini:
2. Indikator Tenaga
a. Jumlah dokter SpOG yang terlatih KB di RS :jumlah seluruh dokter
spesialis obstetri dan gynekologi yang memberikan pelayanan KB di RS.
b. Jumlah dokter umum yang terlatih KB di fasilitas pelayanan KB:
jumlah dokter umum yang bertugas di RS, Puskesmas, dan Dokter
Praktek Swasta yang telah mendapatkan pelatihan standarisasi pelayanan
KB.
c. Jumlah Bidan yang terlatih KB di fasilitas pelayanan KB: jumlah
bidan yang bertugas di RS, Puskesmas, dan Bidan Praktek Swasta yang
telah mendapatkan pelatihan standarisasi KB.
d. Jumlah Bidan di desa yang terlatih KB: jumlah bidan desa yang
bertugas di Polindes/Poskesdes yang telah mendapatkan pelatihan
standarisasi KB.
3. Indikator Sarana dan Prasarana
a. Persentase ketersediaan alokon untuk Gakin: persentase jumlah pil,
obat suntik KB, IUD, Implant dan kondom untuk keluarga/PUS miskin
yang tersedia di fasilitas pelayanan KB terhadap kebutuhan alokon untuk
Gakin/PUS miskin.
Jumlah alkon yang tersedia untuk Gakin x 100%
Jumlah kebutuhan alokon untuk Gakin
b. Persentase ketersediaanalokon untuk Non Gakin: persentase jumlah
pil, obat suntik KB, IUD, Implant dan kondom untuk keluarga tidak
miskin yang tersedia di fasilitas pelayanan KB terhadap seluruh
kebutuhan alokon untuk non Gakin.
Jumlah alokon yang tersedia untuk Non Gakin x 100%
Jumlah kebutuhan alokon untuk Non Gakin
c. Ketersediaan Peralatan pelayanan KB:jumlah ketersediaan peralatan
untuk pelayanan KB menurut fasilitas pelayanan KB.
d. Ketersediaan BHP (Bahan Habis Pakai ):jumlah ketersediaan bahan
habis pakai di fasilitas pelayanan KB.
4. Indikator Cakupan Pelayanan
a. Cakupan serta KB Baru:
Definsi O rasional:
Peserta KB aru adalah PUS yang baru pertama kali menggunakan metode
kontrasepsi termasuk mereka yang pasca keguguran, sesudah melahirkan
atau pasca istirahat minimal 3 bulan.
Perhitungan:
Persentase peserta KB baru yang dilayani terhadap seluruhPUS di suatu
wilayah kerja tertentu.

Jumlah peserta KB Baru x 100 %


Jumlah PUS
Interpretasi :
Indikator ini digunakan untuk menilai kinerja program KB dengan melihat
pe apaian per bulan/ per tahun dan membandingkannya dengan target
masing-masing wilayah. Bila angkayang diperoleh rendah atau menurun,
hal ini dapat menunjukkan kinerja program yang kurang, khususnya terkait
dengan pemberian konseling, yang saat ini dianjurkan menggunakan alat
bantu yang disebut ABPK (Alat Bantu Pengambil keputusan ber KB).
Indikator peserta KB baru dapat disajikan menurut metode kontrasepsi, per
bulan/per tahun maka dapat dilihat kecenderungan jenis kontrasepsi yang
banyak dipilih PUS. Jika peserta KB baru banyak memilih jenis
kontrasepsi bukan jangka panjang seperti pil, suntik, kondom, obat vaginal,
maka petugas harus meningkatkan pemberian konseling melalui ABPK
agar klien mampu memilih alat kontrasepsi yang betul- betul efektif dan
efisien bagi mereka dalam mencegah kehamilan yang tidak diinginkan,
seperti kontrasepsijangka panjang yaitu AKDR, implant, MOP dan MOW.
b. Cakupan Peserta KB Aktif (Contraceptive Prevalence Rate/CPR)
Definsi O rasional :
Peserta KB aktif (PA) adalah peserta KB baru dan lama yang masih aktif
memakai al kon terus-menerus hingga saat ini untuk menjarangkan
kehamilan atau yang mengakhiri kesuburan.
Perlu dipahami bahwa dalam konsep kohort, PA bukanlah
akseptorkunjungan ulang. Sehingga perhitungan seorang akseptor sebagai
PAhanya dilak kan satu kali dalam satu tahun kalender.
Perhitungan:
Persentase peserta KB aktif terhadap total PUS, di suatu wilayah
kerjatertentu.

Jumlah peserta KB Aktif X 100%


Jumlah PUS
Interpretasi
Indikator ini menunjukkan berapa besar pasangan usia subur yang
berpotensi hamil yang terlindungi dari kejadian kehamilan. Indikator ini
digunakan untuk menilai kinerja program KB dengan melihat pencapaian
per bulan/ per tahun dan membandingkannya dengan target masing-masing
wilayah.
Bila angka ini rendah atau di bawah target MDGs 2015 65%, ini
menunjukkan banyaknya PUS yang tidak menggunakan kontrasepsi
padahal mereka berpotensi untuk hamil. Hal ini berakibat meningkatnya
jumlah kehamilan yang tidak diinginkan/direncanakan, meningkatnya
risiko kehamilan/persalinan, selanjutnya meningkatnya risiko
kesakitan/kematian ibujika kehamilan terjadi pada kelompok PUS dengan
"4 Terlalu" atau PUS dari keluarga miskin atau PUS dengan penyakit
kronis.
c. Presentase komplikasi
Definisi Operasional:
Komplikasi adalah Peserta KB baru atau lama yang mengalami gangguan
kesehatan mengarah pada keadaan patologis, sebagai akibat dari proses
tindakan /pemberian/ pemasangan alat kontrasepsi yang digunakan seperti:
perdarahan, infeksi/abses, fluor albus bersifat patologis, perforasi,
translokasi, hematoma, tekanan darah meningkat, perubahan HB, expulsi
(Depkes, 2005:16).
Komplikasi yang terjadi dalam periode satu tahun kalender dihitungsatu
kali. Diihitung per metode IUD, Implant, suntik, Pil, MOP, danMOW
Perhitungan:
Persentase peserta KB yang mengalami komplikasi (per metode
kontrasepsi) terhadap seluruh peserta KB aktif (per metode kontrasepsi) di
wilayah kerja tertentu.
Jumlah peserta kb yang komplikasi X100 %
Jumlah peserta KB aktif
Interpretasi
Target dari indikator ini digunakan adalah agar semua kasus komplikasi
dapat diid ntifikasi dan dapat tertangani. Indikator ini digunakan untuk
menilai kualitas pelayanan KB dengan melihat kasus per bulan atau per
tahun dan membandingkannya dengan angka toleransi yang telah
ditetapkan oleh para ahli di masing-masing wilayah.
Bila angka tinggi atau diatas angka toleransi (3,5%'), ini menunjukkan
bahwa kualitas pelayanan KB perlu ditingkatkan terutama terkait den an
ketrampilan petugas. Untuk perbaikan kualitas pelayanan aka perlu
dianalisis kontrasepsi apa Baja yang paling banyak terjadi. Kemudian
dipikirkan rencana tindak lanjut untuk mengelmi itu masalah tersebut.
Misalnya mungkin diperlukan pelatihan CTU sebagai refreshing bagi
bidan-bidan dan dokter pemberi pelayanan KB.
d. Presentas Kegagalan Kontrasepsi
Definisi O erasional:
Kegagalan ontrasepsi adalah kasus terjadinya kehamilan pada akseptor KB
aktif yang pada saat tersebut menggunakan metode kontrasepsi (Depkes,
2005:15).
Perhitungan:
Persentase peserta KB yang mengalami kegagalan kontrasepsi terhadap
seluruh pes rta aktif di wilayah kerja tertentu.
Jumlah peserta KB yang mengalami kegagalan X100 %
Jumlah peserta KB aktif
Interpretasi:
Indikator kegagalan kontrasepsi salah satu indikator untuk menilai kualitas
pel yanan KB dengan melihat kasus per bulan/ per tahun dan membandi
gkannya dengan angka toleransi di masing-masing wilayah.
Apabila angka ini tinggi atau diatas angka toleransi (0,2%), hal ini
menunjukk n kualitas pelayanan KB perlu ditingkatkan terutama terkait
den n pemberian konseling. Kegagalan kontrasepsi dapat terjadi kare a
memang setiap metode kontrasepsi angka efektifitasnya tidak 100%, berarti
ada kemungkinan terjadinya kegagalan walaupun sangat kecil sekali.
Dilain pihak, kegagalan ini dapat pula disebabkan oleh ketidaktahuan pada
aturan pakai atau cara pakai yang keliru sehingga menyebabkan efektifitas
mencegah kehamilannya rendah. Dalam kejadian ini petugas diharapkan
meningkatkan kualitas konselingnya dan memberikan pelayanan dalam
mengatasi kegagalan tersebut.
Agar perbaikan kualitas dapat dilaksanakan maka setiap kegagalan perlu
dianalisis menurutjenis kontrasepsi sehingga dapat diketahui jenis
kontrasepsi yang paling banyak mengalami kegagalan. Kemudian
rencanakan tindak lanjut untuk mengeliminir masalah tersebut. Sebagai
contoh kurangnya kemampuan konseling para bidan pemberi pelayanan,
maka direncanakan pelatihan ABPK.
e. Cakupan PUS Miskin Ber-KB:
Definisi Operasional:
PUS Miskin adalah PUS yang memenuhi kriteria sebagai keluarga
miskin (gakin) menurut BPS.
Perhitungan:
Persentase PUS miskin yang menjadi peserta KB terhadap jumlah PUS
miskin di wilayah kerja tertentu.
Jumlah PUS gakin ber-KB X 100 %
Jumlah PUS Gakin
Interpretasi:
Indikator ini digunakan untuk menilai akses keluarga miskin untuk ber-
KB. Untuk menilai akses tersebut maka indikator ini dianalisis dan
disajikan per bulan/ per tahun dan membandingkannya dengan target
masing-masing wilayah.
Bila angka yang diperoleh rendah atau menurun, hal ini dapat
menunjukkan akses keluarga miskin untuk ber-KB rendah. Rendahnya
akses ini dapat disebabkan rendahnya promosi KB, tindak lanjutnya perlu
ditingkatkan upaya promosi terutama untuk kelompok gakin.
f. Cakupan PUS dengan "4T" ber-KB
Definisi Operasional:PUS dengan "4T" (4 Terlalu) adalah PUS dimana
istrinya memiliki salah satu kriteria "4T" yaitu : 1) berusia kurang dari 20
tahun; 2) berusia lebih 35 tahun; 3) telah memiliki anak hidup lebih dari 3
orang; atau 4) jarak kelahiran antara satu anak dengan lainnya kurang dari
2 tahun.
Penghitungan
Presentase PUS dengan “4T” yang menjadi peserta KB terhadap seluruh
PUS dengan “4T” di wilayah kerja tertentu.
Jumlah PUS “4T” ber-KB X 100 %
Jumlah PUS dengan “4T”
Interpretasi
Kehamilan atau Kelahiran pada kondisi "4T" memiliki resiko terjadinya
kesakitan bahkan kematian ibu. Oleh karena itu, hamil/bersalin pada PUS
yang memiliki potensi untuk hamil/melahirkan pada kondisi "4T" harus
dicegah dengan menggunakan kontrasepsi.
Indikator ini ianalisis dan disajikan perbulan/pertahun dan membandin
kanya dengan target masing-masing wilayah. Bila angka ini rendah a u
menurun maka program pemberian konseling perlu ditingkatkan terutama
pada kelompok PUS memiliki potensi '4T.
g. Presentase rop Out
Definisi Op rasional:
Peserta drop out adalah peserta ,yang tidak melanjutkan penggunaan
Kontrasepsi(d rop-out) dalam satu tahun kalender dibandingkanjumlah
peserta aktif di wilayah kerja tertentu. Kasus DO tidak termasuk mereka
yang ganti cara.
Perhitungan :
Jumlah Peserta KB yang Drop Out x100%
Jumlah Peserta Kb Aktif
Interpretasi
Menurut SD I 2002-2003, angka DO cukup tinggi yakni 20,7% dimana
sebagianbesar penyebabnya adalah karena ingin hamil lagi, mengalami
efek samping , ingin metode yang Iebih efektif, dan kurangnya akses.
Berdasarkan lasan-alasan tersebut diatas, maka petugas kesehatan dapat
menin katkan kualitas konselingnya agar klien yang DO karena ingin amil
lagi dapat melakukannya apabila jarak kelahirannya sudah 2 tahu ,
kemudian apabila konseling yang diberikan berkualitas maka seharu nya
tidak terjadi DO bagi klien yang mengalami efek samping kar na semua
obat kontrasepsi pasti ada efek samping yang tidak memb hayakan
kesehatan klien.
Indikator ini ianalisis dan disajikan perbulan/pertahun dan membandin
kanya dengan target masing-masing wilayah. Bila angka ini meningkat,
maka hal ini menunjukkan bahwa mutu pelayanan KB perlu ditingkatkan,
seperti pemberian konseling yang berkualitas.
h. Cakupan KB pasca persalinan
Definisi Operasional:
KB pasca persalinan adalah pasangan usia subur yang mulai menggunakan
alat kontrasepsi langsung sesudah melahirkan (sampai dengan 42 hari
sesudah melahirkan).
Perhitungan:
Persentase pasangan usia subur yang mengikuti KB pasca persalinan
terhadapjumlah sasaran ibu persalinan dalam 1 tahun.
Pasangan Usia subur yang mengikuti KB pasca persalinan x100%
Jumlah Sasaran Ibu Bersalin
Jumlah sasaran ibu bersalin diperkirakan dengan menggunakan cara
perhitungan berikut :
Jumlah sasaran ibu hamil = CBR x 1,05 x jumlah di wilayah tersebut.
penduduk
CBR (Crude Pirth Rate) = angka kelahiran kasar, angka ini bisa
didapatkan ari kantor BPS setempat (Propinsi atau Kabupaten/Kota).
Interpretasi
Kembalinya kesuburan sesudah sesudah bersalin sulit diperkirakan.
Sehingga kehamilan dapat terjadi tanpa disadari yang menyebabkan
terjadinya kehamilan yang tidak dinginkan/direncanakan.
Maka penggunaan kontrasepsi sesudah bersalin harus sesegera mungkin.
Oleh karena itu indikator ini menjadi salah satu indikator yang menilai
kinerja pela nan KB. Indikator ini dianalisis dan disajikan perbulan/
pertahun da membandingkannya dengan target masing-masing wilayah.
Bila angka ini rendah (tidak mencapai 100%) maka program pemberian
P/K pasca persalinan perlu ditingkatkan.
H. PENCATATAN & PELAPORAN KB
1. Formulir Pencatatan
Adapun formulir pencatatan hasil pelayanan KB di unit pelayanan KB baik
pemerintah maupun swasta terdiri dari:
Formulir Kode Formulir Frekuensi
Pendataan PUS FP.PUS/08 Tahunan
Register Kohort KB K/KB/08 Harian

Penjelasan untuk masing-masing formulir dapat dilihat berikut ini:


a. Pendataan PUS (FP.PUS/08)
Formulir ini digunakan untuk mendata PUS yang terkait dengan
perhitungan sasaran program KB dan kesehatan reproduksi. Adapun
Informasinya mencakup usia PUS (suami dan isteri), status kehamilan saat
pendataan identifikasi PUS 4 T (jumlah dan jarak kelahiran, serta umur),
identifikasi PUS dengan penyakit kronis (seperti anemia, LILA<23,5 cm,
dan penyakit kronis Iainnya).
Pendataan dilakukan setahun sekali, dibuat bersamaan dengan
pendataan keluarga oleh Dinas KB. Untuk melakukan pendataan ini dapat
dikerjakan bersama-sama antara Dinas Kesehatan dengan Dinas
KB/sejenis, atau Dinas Kesehatan melakukan pendataan secara
independen/mandiri.
Data hasil pendataan merupakan data dasar untuk perhitungan sasaran
PUS, PUS Miskin, PUS 4T, dan PUS dengan penyakit kronis. Dimana data
tersebut akan menjadi penyebut/denominator dalam perhitungan kebutuhan
pelayanan KB dan perhitungan cakupan hasil pelayanan KB selama satu
tahun berikutnya.
Pendataan PUS, dibuat per Rukun Tetangga (RT), kemudian direkap
per RW atau Dukuh dan direkap lagi per Desa. Pendataan per desa akan
menjadi dasar perhitungan kebutuhan dan cakupan hasil pelayanan KB
oleh Bidan Desa.
b. Register Kohort KB (K/KB/08)
Register ini igunakan untuk mencatat hasil pelayanan kontrasepsi ada
peserta KB lama dan baru setiap hari pelayanan. Register ini digunakan
ntuk kurun waktu minimal satu tahun kalender. Informasi dalam regis er ini
berisikan data hasil pelayanan, keluhan komplikasi, efek sampir g,
kegagalan KB, dan ganti cara. Hasil pencatatan pada register kohort
menjadi sumber data dalam membuat PWS KB di puskesmas.
2. Formulir Pelaporan
Seluruh hasil kegiatan pelayanan KB dibuat Iaporannya oleh
Puskesmas.selanjutnya dilaporkan ke dinkes kab/kota. Jenis formulir pelaporan
di tingkat puskes as dapat dilihat pada tabel berikut.
Data pelayanan KB, selain untuk dilaporkan ke tingkat kab/kotajuga
dapat dimanfaatkan puskesmas untuk membuat Pemantauan Wilayah Setempat
(PWS) bidang Pelayanan KB.
Formulir Kode Formulir Frekuensi Sumber Data
Rekapitulasi pendataan PUS REK P.PUS/08 Tahunan FP.PUS/08
tingkat puskesmas
Laporan Pelayanan KB TK, REG.KOHORT Bulanan K/KB/08
Puskesmas KB/08
Rekapitulasi Pendataan tenaga REK.TS/08 Tahunan Mengacu pada sumber data yang
dan sarana fasilitas pelayanan telah tersedia seperti : K/0/KB/4
KB tingkat puskesmas atau Form LT SP3, dsb
Laporan bulanan alkon dan BHP LB.ALOKON/08 Bulanan Mengacu pada sumber data yang
Tingkat Puskesmas telah tersedia seperti:R//KB/04

Pelaporan hasil kegiatan pelayanan KB dari masing-masing Puskesmas


direkap oleh Kab/Kota. Di Kab/Kota, data ini dapat dimanfaatkan untuk
perencanaan, monitoring, dan evaluasi program KB di wilayahnya.
I. MEKANISME PENCATATAN DAN PELAPORAN KB
1. Mekanisme Pelaporan
Sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan KB ini dikembangkan
berdasarkan konsep wilayah. Ini berarti laporan yang dihasilkan
mencerminkan gambaran proses dan pencapaian hasil kegiatan dalam suatu
wilayah puskesmas sehingga akan tercakup hasil pelayanan yang diberikan
oleh bidan desa, dokter praktek swasta dan rumah sakit. Oleh katena itu semua
FPK (fasilitas pelayanan KB) bidan desa, dokter praktek swasta dan rumah
sakit di wilayah kerja puskesmas harus tercakup datanya dalam sistem
informasi KB Puskesmas.
Untuk itu puskesmas menunjuk stafnya yang berfungsi sebagai penghubung
antara puskesmas dengan semua pelayanan KB di wilayahnya untuk
mengumpulkan data hasil pelayanan KB.
Data KB dari puskesmas secara rutin dilaporkan ke dinas kesehatan kabupaten
atau kota. Periode laporan tergantung pada jenis indikator, untuk indikator
cakupan pelayanan KB seperti presentasi KB aktif, kejadian komplikasi,
presentase PUS berKB, presentasi ibu sakit kronis ber KB dilaporkan selama
bulanan. Sedangkan indikator ketenagaan, peralatan pelayanan KB dan bahan
habis pakai dilaporkan secara tahunan.
dinas kesehatan kabupaten selanjutnya melaporkan data KB ke dinas
kesehatan provinsi dan selanjutnya dilaporkan ke dinas pusat. selanjutnya
laporan dari depkes akan dianalisis dan kemudian akan memberikan umpan
balik kepada profesi Kabupaten atau Kota.
2. Alur pencatatan dan pelaporan
Secara garis besar pencatatan dan pelaporan dapat dilihat pada bagan berikut
ini :

3. Ringkasan mekanisme pencatatan dan pelaporan


a. Setiap tahun, puskesmas melakukan pendataan PUS dengan menggunakan
formulir pendataan PUS. Pendataan dapat dilakukan dengan kerjasama
antara dinas kesehatan engan dinas KB atau dinas kesehatan melakukan
pendataan secarra independen/mandiri. data hasil pendataan merupakan
data dasar untuk perhitungan jumlah PUS, PUS miskin, PUS 4T dan PUS
dengan penyakit kronis(termasuk anemia, KEK, LILA<23,5 CM). Data
tersebut akan menjadi denominator dalam perhitungan kebutuhan
pelayanan KB dan perhitungan cakupan hasil pelayanan KB selama satu
tahun berikutnya. Pendataan PUS berisi list rumah tangga dan keterangan
tentang PUS, akan dibuat per RT , kemudian di rekap per RW atau dukuh
dan direkap lagi perdesa. Rekapan per desa akan menjadi dasar
perhitungan kebutuhan dan cakupan pelayanan oleh bidan desa. Rekapan
per kecamatan akan menjadi dasar perhitungan kebutuhan dan cakupan
pelayanan oleh puskesmas.
b. Setiap tahun, puskesmas juga membuat laporan rekapitulasi tenaga dan
sarana. data ini didapat dari sumber data yang selama ini telah berjalan
seperti kartu pendaftaran fasilitas pelayanan KB (K/0), dari BKKBN.
c. Selanjutnya setiap tahun, puskesmas melaporkan hasil pendataan PUS dan
sarana pelayanan KB ke tingkat kabupaten atau kota.
d. Setiap fasilitas pelayanan KB mencatat semua hasil pelayanan KB, di
dalam formulir register kohort KB. Formulir ini berisi data tentang peserta
KB, yang diikuti terus sampai peserta drop out, berhenti atau gagal atau
mengalami kehamilan, pindah keluar wilayah. Data yang tersedia dalam
buku kohort KB atau menghitung angka penggunaan kontrasepsi
(Contraceptive Prevalence Rate), kejadian komplikasi, kejadian efek
samping, drop out, dan kegagalan menurut metode kontrasepsi yang
dipakai. informasi lain yang tersedia dalam kohort KB trsebut adalah
peserta KB baru, peserta KB aktif menurut metode KB dan menurut 4T.
Menurut satus gakin, menurut status sakit kronis atau LILA <23,5 cm
(termasuk anemia dan KEK).
e. Setiap bulan puskesmas mendapatkan data pelayanan KB dari seluruh
fasilitas pelayanan KB diwilayah kerjanya. dari fasilitas pelyanaan KB
(dokter,bidan,rumah sakit) harus tercatat dan terlaporkan dengan lengkap.
agar catatan hasil pelayanan KB bisa didapatkan, maka pihak puskesmas
atau dinkes perlu membuat jaringan kerjasama.
f. Pertemuan bulanan untuk verifikasi data. agar didapatkan data kohort KB
yang benar, maka setiap bulan perlu diadakan pertemuan di puskesmas
yang dikoordinir oleh bidan koordinator untuk melakukan verifikasi data.
g. Bidan di desa harus bertanggungjawab untuk membuat kohort KB. Dari
dokter, bidan dan rumah sakit harus dipindahkan oleh bidan desa ke dalam
buku kohort KB nya masing-masing.
h. Selanjutnya setiap bulan, puskesmas melaporkan hasil kegiatan pelayanan
KB ke dinas kesehatan dengan formulir rekapitulasi pelayanan KB dan
juga melaporkan rekapitulasi alkon dan BHP ke kabupaten/kota.
J. ANALISIS DAN TINDAK LANJUT PWS KB
Grafik PWS KB perlu dianalisis dan diinterpretasikan agar dapat diketahui desa
mana yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut yang perlu segera dilakukan.
1. Analisis grafik PWS KB
Interpretasi dari grafik PWS KB didasarkan atas dua hal yaitu
a. Cakupan kumulatif terhadap target
b. Cakupan bulan ini terhadap bulan lalu
Contoh Cakupan Cakupan bulan ini terhadap Status
Desa kumulatif bulan lalu desa
terhadap target
Di atas Di Naik tetap turun
bawah
Desa A Ya Ya Baik
Desa B Ya Ya Baik
Desa C Ya Ya Cukup
Desa D Ya Ya Cukup
Desa E Ya Ya Kurang
Desa F Ya Ya Kurang
Dari matriks tersebut, dapat disimpulkan adanya 3 macam status desa, yaitu :
a. Desa status baik : adalah desa dengan cakupan di atas target yang
ditetapkan untuk bulan Maret 2010 dan mempunyai kecenderungan
cakupan bulan yang naik atau tetap dibandingkan bulan lalu. Contoh desa
dalam kategori ini adalah desa A dan desa B. Jika kondisi tersebut
berlanjut maka desa-desa tersebut akan mencapai target tahunan.
b. Desa status cukup : adalah desa dengan cakupan diatas target yang
ditetapkan untuk bulan Maret 2010 dan mempunyai cakupan bulanan yang
menurun dibandingkan bulan lalu. Atau desa yang mempunyai
kecenderungan cakupan bulanan yang naik dibandingkan dengan bulan
lalu namun masih dibawah target bulan Maret 2010. Contoh desa dalam
kategori ini adalah desa C dan desa D.
c. Desa status kurang : adalah desa dengan cakupan dibawah target yang
ditetapkan untuk bulan Maret 2018 dan mempunyai kecenderungan
cakupan bulanan yang tetap atau menurun dibandingkan bulan lalu.
Contoh desa dalam kategori ini adalah desa C dan desa D.
2. Rencana tindak lanjut PWS KB
Salah satu tujuan PWS KB adalah merencanakan tindak lanjut dengan
menggunakan sumber daya yang tersedia dan yang dapat digali. Rencana
tersebut harus dijabarkan dalam bentuk rencana operasional jangka
pendek untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi sesuai dengan
spesifikasi masalah didesa tersebut, misalnya kurangnya keterampilan
petugas, terbatasnya ketersediaan alkon, kurangnya sarana dan prasarana
pelayanan KB, kurangnya ketersediaan bidan di desa, rendahnya
partisipasi masyarakat dan lain-lain sebagainya.
Yang perlu dilakukan dalam menindaklanjuti hasil dari PWS KB adalah :
a. Sarana dan SDM bidang KB
b. Logistik (alkon dan BHP serta formulir)
c. Kompetensi petugas KB
d. Standar Operasional Prosedur Pelayanan KB
e. Kebijakan KB
f. Pembiayaan KB
J. PELEMBAGAAN PWS KB
1. Langkah-langkah pelembagaan PWS KB
Dalam upaya pelembagaan PWS KB dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut :
a. Penetapan petugas pengolahan data tiap tingkatan, untuk menjaga
kelancaran pengumpulan pengolahan dan analisa data. (disesuaikan
kondisi wilayah dengan memperhitungkan konsekuensinya)
1) Data hasil pelayanan KB direkap oleh puskesmas perdesa.
2) Di puskesmas, dibuat PWS KB tingkat puskesmas
3) Di dinas kesehatan kabupaten/kota dibuat PWS KB tingkat
kabupaten/kota.
b. Penyajian PWS KB dalam pertemuan lintas program
Penyajian PWS KB pada pertemuan teknis bulanan ditingkat
puskesmas (mini lokakarya) dan kabupaten/kota (pertemuan bulanan
dinas kesehatan kabupaten/kota), untuk menginformasikan hasil yang
telah dicapai, identifikasi masalah, merencanakan perbaikan, serta
menyusun rencana operasional periode berikutnya. Pada pertemuan
tersebut wilayah yang berhasil diminta untuk mempresentasikan
upayanya.
c. Pemantauan PWS KB untuk meyakinkan
PWS disajikan serta didiskusikan pada pertemuan lintas sektor di
tingkat kecamatan dan kabupaten/kota, untuk mendapatkan dukungan
dalam pemecahan masalah dan agar masalah operasional yang
dihadapi dapat diselesaikan bersama, terutama yang berkaitan dengan
motivasi dan penggerakan masyarakat sasaran.
2. Pembinaan PWS KB
Pembinaan yang efektif bagi pelembagaan PWS KB adalah melalui
sepervise fasilitatif pelayanan KB secara terarah dan berkelanjutan.
Karena di dalam pelaksanaan supervise fasilitatif dipergunakan checklist
untuk melihat sistem pelayanan KB. Di dalam sistem pelayana KB kita
ada tiga komponen yang menyangkut sistem pelayana KB yaitu yang
menyangkut komponen input, proses dan output pelayanan KB. Dalam hal
ini cakupan hasil pelayanan adalah termasuk dalam komponen output.
Supervise fasilitatif lebih ditekankan kepada pengelola program KB
kabupaten/kota untuk melakukan supervisi ke tingkat puskesmas.
Sedangkan penanggungjawab KB ditingkat Puskesmas ditekankan untuk
melakukan supervise fasilitatif ke semua insitusi pelayanan KB sesuai
kewenangannya (polindes, BPM, DBS, RS, RSB yang berada di
wilayahnya).
BAB III
IMPLEMENTASI PROGRAM PWS KB
PUSKESMAS TEPUSEN TAHUN 2018

A. INDIKATOR PROGRAM KB
Data sasaran PUS pada puskesmas Tepusen tahun 2018 :

SASARAN
DESA
PUS

TEMPURAN 699
KEMIRI 556
TEGUWANUH 512
KEBLUKAN 272
TEPUSEN 546
GANDULAN 510

Data target Pencapaian PWS KB pada puskesmas Tepusenn pada peserta KB


adalah 80 % per bulan.
Data cakupan peserta KB Implant Puskesmas Tepusen tahun 2018 :
Prosentase Kumulatif
Bulan Februari Bulan
DESA (Februari -Maret Target
2018 Maret 2018
2018)
Tempuran 17.28 17.38 17.33 20
Kemiri 19.38 19.77 19.575 20
Teguwanuh 13.75 13.75 13.75 20
Keblukan 7.06 7.44 7.25 20
Tepusen 19.1 19.29 19.195 20
Gandulan 14.42 14.42 14.42 20

B. ANALISIS PWS KB
1. Analisis Sederhana
Dari implementasi program PWS KB yang telah dilakukan Puskesmas
Tepusen maka dapat diketahui status masing-masing desa, antara lain:
25

20

15
Bulan Februari 2018
10

5 Bulan Maret 2018

0
Tegu Prosentase Kumulatif
Temp Kemi Keblu Tepu Gand
wanu (Februari -Maret 2018)
uran ri kan sen ulan
h
Target
Bulan Februari 2018 17.28 19.38 13.75 7.06 19.1 14.42
Bulan Maret 2018 17.38 19.77 13.75 7.44 19.29 14.42
Prosentase Kumulatif
17.33 19.575 13.75 7.25 19.195 14.42
(Februari -Maret 2018)
Target 20 20 20 20 20 20

Interpretasi grafik cakupan KB Bulan Maret 2018


CAKUPAN KUMULATIF CAKUPAN BULAN INI
STATUS
DESA TERHADAP TARGET TERHADAP BULAN LALU
DESA
DIATAS DIBAWAH NAIK TETAP TURUN
TEMPURAN YA YA CUKUP
KEMIRI YA YA CUKUP
TEGUWANUH YA YA KURANG
KEBLUKAN YA YA CUKUP
TEPUSEN YA YA CUKUP
GANDULAN YA YA KURANG

KETERANGAN
a. Naik : Jumlah bulan ini lebih besar daripada bulan lalu
b. Turun : jumlah bulan ini lebih kecil dari bulan lalu
c. Tetap : jumlah bulan ini sama dengan bulan lalu
d. Desa status baik : adalah desa dengan cakupan di atas target yang ditetapkan
untuk bulan Maret 2018 dan mempunyai kecenderungan cakupan bulan yang naik
atau tetap dibandingkan bulan lalu. Contoh desa dalam kategori ini tidak ada desa
yang memenuhi target.
e. Desa status cukup : adalah desa dengan cakupan diatas target yang ditetapkan
untuk bulan Maret 2018 dan mempunyai cakupan bulanan yang menurun
dibandingkan bulan lalu. Atau desa yang mempunyai kecenderungan cakupan
bulanan yang naik dibandingkan dengan bulan lalu namun masih dibawah target
bulan Maret 2018. Contoh desa dalam kategori ini adalah desa Tempuran, Kemiri,
Keblukan dan Tepusen.
f. Desa status kurang : adalah desa dengan cakupan dibawah target yang ditetapkan
untuk bulan Maret 2018 dan mempunyai kecenderungan cakupan bulanan yang
tetap atau menurun dibandingkan bulan lalu. Contoh desa dalam kategori ini
adalah desa Teguwanuh dan Gandulan.
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari data yang telah di peroleh maka dapat dianalisis penyebab status tersebut :
a. Strength
1. Memiliki 1 Puskesmas yang mempunyai fasilitas pelayanan lengkap dan
memiliki ambulance.
2. Memiliki bidan dengan masing-masing desa terdapat 1 bidan dan dengan
pendidikan terakhir minimal adalah D III dan terdapat bidan yang
memiliki pendidikan terakhir DIV.
b. Weakness
1. Masih ada ibu yang tidak boleh ber-KB karena alasan agama
2. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kontrasepsi
c. Opportunity
1. Banyak warga yang memanfaatkan adanya JAMKESMAS, BPJS KIS,
ASKES dalam ber-KB.
2. Terdapat kader KB yang menunjang kinerja bidan desa dalam pendataan
PUS untuk menentukan sasaran PUS ber-KB.
3. Menjalankan kerja sama lintas sektoral dengan bekerja sama dengan
PLKB.
d. Treath
1. Sebagian masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke
atas ber-KB di BPS.
2. Terdapat beberapa masyarakat yang ber-KB di luar wilayah kecamatan
Tepusen
RENCANA TINDAKAN
O T
S 1. Mempertahankan keaktifan kader 1. Mempertahankan koordinasi
KB dengan BPS dalam hal
2. Mengoptimalkan bantuan pencatatan dan pelaporan jika
kesehatan pemerintah ada warga yang ber-KB di BPS
(JAMKESMAS, BPJS, KIS, atau di luar wilayah.
ASKES), agar dapat
mempertahankan cakupan KB.
3. Setiap hari kamis pelayanan
Implant dan IUD gratis di
puskesmas
W 1. Memotivasi dan meyakinkan ibu 1. Mempertahankan koordinasi
supaya mau menggunakan KB dengan BPS dalam hal
2. Meningkatkan kerja sama dengan pencatatan dan pelaporan jika
kader untuk pencatatan dan ada warga yang ber-KB di BPS
penelusuran antar PUS (yang ber atau di luar wilayah.
KB aktif), yang ber-KB dan yang 2. Melakukan pendekatan dengan
tidak ber-KB. tokoh masyarakat, PKK dan
tokoh agama mengenai
pentingnya ber-KB bagi PUS.
3. Melaksanakan program
kerjasama lintas sektoral
dengan PLKB

Urutan prioritas :
1. Mempertahankan koordinasi dengan BPS dalam hal pencatatan dan pelaporan
jika ada warga yang ber-KB di BPS atau di luar wilayah.
2. Mengoptimalkan bantuan kesehatan pemerintah (JAMKESMAS, BPJS, KIS,
ASKES), agar dapat mempertahankan cakupan KB.
3. Setiap hari kamis pelayanan Implant dan IUD gratis di puskesmas
4. Meningkatkan kerja sama dengan kader KB untuk pencatatan danpenelusuran
antar PUS yang ber-KB dan yang tidak ber-KB.
Rencana tindak lanjut :
Bagi kepentingan program, analisis PWS KB ditujukan untuk menghasilkan suatu
keputusan tindak lanjut teknis dan non teknis bagi puskesmas. Keputusan tersebut
harus dijabarkan dalam bentuk rencana operasional jangka pendek untuk dapat
menyelesaikan masalah yang dihadapi sesuai dengan spesifikasi daerah.
a. Rencana tidak lanjut tingkat bidan di desa
Setelah menganalisa data yang didapatkan di wilayah kerjanya, setiap bulan
rata-rata bidan di desa membuat rencana berdasarkan hasil analisanya
masing-masing yang akan didiskusikan pada acara rapat koordinasi tiap bulan
bersama kader masing- masing desa.
b. Kepala Puskesmas dan bidan Koordinator harus mampu melihat masalah dan
membuat perencanaan tindak lanjut berdasarkan masalah yang ada.
Rencana operasional tersebut perlu dibicarakan dengan semua pihak yang
terkait :
a. Bagi desa atau kelurahan yang berstatus cukup pola penyelenggaraan
pelayanan KB perlu dilanjutkkanatau di tingkatkan dengan penyesuaian
tertentu sesuai kebutuhan antara lain perbaikan mutu pelayanan
b. Intervensi yang bersifat teknis harus dibicarakan dalam pertemuan rapat
koordinasi puskesmas dan / atau rapat Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.
c. Intervensi yang bersifat nonteknis (untuk motivasi, penggerakan sasaran
dan mobilisasi sumber daya masyarakat) harus dibicarakan pada rapat
koordinasi kecamatan / atau rapat Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari data yang diperoleh, didapatkan status desa Tempuran, Kemiri,
Teguwanuh, Keblukan, Tepusen, dan gandulan memiliki status desa dengan
kriteria cukup. Dari hasil analisis PWS KB dari bulan Februari sampai dengan
Maret 2018 semua desa memiliki status cukup. Rata-rata status cukup terjadi
karena sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan yang kurang mengenai
manfaat kontrasepsi, selain itu ada sebagian masyarakat yang ber-KB di luar
wilayah desa tersebut serta masih adanya masyarakat di daerah tersebut yang
masih percaya dengan adanya larangan untuk ber-KB pada agama yang
dianutnya.

B. SARAN
1. Mempertahankan kerjasama dengan kader yang sudah terjalin baik
2. Mempertahankan kualitas pelayanan di Puskesmas Tepusen
3. Mempertahankan koordinasi dengan bidan BPS mengenai pencatatan dan
pelaporan kunjungan KB yang ber-KB di BPS agar dapat melengkapi data di
Puskesmas.
JADWAL PELAYANAN KELUARGA BERENCANA
PUSKESMAS KANDANGAN
KABUPATEN TEMANGGUNG

Hari Jam Jenis Pelayanan


Senin s/d Sabtu 07.30 – 12.00 KB Suntik
Kamis 07.30 – 12.30 KB IUD dan KB Implant