Anda di halaman 1dari 11

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN UNMET NEED KB

PASANGAN USIA SUBUR TERHADAP KEHAMILAN YANG TIDAK


DIINGINKAN

FACTOR ASSOCIATED WITH THE INCIDENCE OF UNMET NEED KB ON PUSSY


AGAINST UNWANTED PREGNANCES

Lisdiyanti Usman,1Masni,2 A. Arsunan Arsin3

¹ Konsentrasi Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Hasanuddin, ²Bagian Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin, ³ Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin, Makassar

Alamat Korespondensi :
Lisdiyanti Usman
Jl. Jeruk Perum Civika Blok B5
Kel Wumialo Kota Tengah
Gorontalo
Hp. 081390904810
Email :usmanlisdiyanti@yahoo.com
Abstrak
Unmet need KB merupakan kebutuhan PUS untuk ber KB tetapi kebutuhan tersebut (tidak ingin anak lagi
atau ingin menjarangkan kehamilan berikutnya) tidak terpenuhi dan tidak memakai alat kontrasepsi. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian unmet need KB dengan kehamilan yang tidak diinginkan.
Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan rancangan cross sectional. Besar sampel sebanyak 141
responden yaitu pasangan usia subur yangdipilih dengan carastratifield random samplingdengan menggunakan
data primer dan data sekunder dari BKKBN. Analisis data dilakukan dengan uji Chi square, Korelasi Pearson
dan metode Regresi Linear Berganda Logistik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur dengan nilai p value =
0,010 (p<0,05), pendapatan suami dengan nilai p value = 0,044 (p<0,05), kegagalan alat kontrasepsi memiliki
nilai p value = 0,001 (p<0,05), dan jumlah anak dengan nilai p value = 0,031 (p<0,05). Dan terdapat 1 variabel
yang tidak signifikan yaitu variabel pendidikan dengan nilai p value=0,847 (p>0,05). Setelah dilakukan analisis
multivariat didapatkan bahwa kagagalan alat kontrasepsi memiliki risiko kejadian unmet need KB yang paling
besarterhadap kehamilan yang tidak diinginkan dengan nilai p value 0,001. Disimpulkan bahwa unmet need KB
berhubungan dengan kehamilan yang tidak diinginkan.

Kata Kunci :PUS, Unmet Need KB, Kehamilan yang Tidak Diinginkan.

Abstract

Unmet need forfamily planning isthe needforairEFAKBbutthis need(not wantany more childrenorwant to
spacethe nextpregnancy) is not metanddo notuse any contraception. Research Thisaims to determine
theincidence ofunmetfamily planningrelationshipwithan unwanted pregnancy. This research
isanalyticsurveywithcross-sectionalresearch design. Largesample141respondentsthatEFAisnotusing
contraceptivesanddo notwant to get pregnant, stratifieldtakenbyrandom samplingandusingsecondary datafrom
theBKKBN. Data analysis was performedwithChi-square test, Pearsoncorrelationandmultiple linear
regressionmethodsLogistics. The results showed incidence of unmet need for family planning more in women
between the ages of 15 -49 years. Based on the educational aspects, education levels are more common in
educated EFA high school, for the husband's income, 47.5% EFA enough income. As for the failure of
contraceptive unmet need more events than those who fail to successfully use contraceptives, and the number of
children more found in thegroup thathas many children. Unmet need forfamily planningevent riskis very
influential onunwanted pregnancywith p valueof 0.001.Unmet need forfamily planningis concludedthat theeffect
onunintended pregnancy. ExpectedonEFAto want tousefamily planningto preventrapidpopulation growth.

Keywords :EFA, UnmetNeedKB, UnwantedPregnancy


PENDAHULUAN
unmet need menurut BKKBN adalah kebutuhan Pasangan usia subur untuk ber KB
tetapi kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Kebutuhan tersebut adalah tidak ingin anak lagi
atau ingin menjarangkan kehamilan berikutnya tetapi PUS tidak memakai alat
kontrasepsi (Emi Hedrina, 2011). Hasil penelitian di Ethiopia pada tahun 2000 sampai
2005 menjelaskan bahwa dari responden sebanyak 2.133 wanita yang sudah menikah
usia 15-49 tahun, yang mengalami unmet need KB meningkat dari 35,1% pada tahun
2000 menjadi 37,4% pada tahun 2005. Umur, usia kawin, jumlah anak hidup, tempat
tinggal, pendidikan, pengetahuan tentang keluarga berencana, status pekerjaan responden
sebagai faktor signifikan yang mempengaruhi tejadinya unmet needKB (Asefa dkk,
2000). Hasil penelitian di Nigeria menunjukkan bahwa dari356 responden, ada 98
responden mengalami kehamilanyangtidak diinginkan, dan 76% darikehamilan yang
tidak diinginkan disebabkan karena tidak menggunakan alat kontrasepsi(Bongaarts,2009).

Program KB di Indonesia telah diakui secara nasional dan internasional sebagai salah
satu program yang telah berhasil menurunkan angka fertilitas secara nyata. Hasil survey
SDKI 2003, Total Fertility Rate ( TFR ) sebesar 2,4 menurun menjadi 2,3 pada SDKI
2007. Namun bukan berarti masalah kependudukan di Indonesia selesai, akan tetapi
program tersebut diupayakan tetap dipertahankan. Salah satu masalah dalam pengelolaan
program KB yaitu masih tingginya angka unmet need KB di Indonesia. Jumlah PUS yang
ingin menunda kehamilan atau tidak menginginkan tambahan anak tetapi tidak ber KB
meningkat dari 8,6% SDKI 2003 menjadi 9,1 % SDKI 2007, dimana diharapkan pada
akhir tahun 2014 dapat diturunkan menjadi sebesar 5% (Sudarianto, 2010).

Di provinsi Gorontalo, terdapat jumlah pasangan usia subur sebanyak 211,607 %,


dimana PUS bukan peserta KB berjumlah 15,44 %, PUS bukan peserta KB yang hamil
16,06 %, PUS bukan peserta KB yang ingin anak segera 33,35 %, PUS bukan peserta KB
yang ingin menunda anak 25,75 %, PUS bukan peserta KB yang tidak ingin anak lagi
24,85 %. Untuk wilayah kota Gorontalo, jumlah pasangan usia subur 32.509 orang,
dimana pasangan usia subur peserta KB aktif berjumlah 29.541 orang, sedangkan PUS
yang bukan peserta KB 2968 orang, jumlah yang hamil 498 orang, yang ingin anak
segera 1015 orang ,yang ingin menunda anak 558 orang, dan yang tidak ingin anak lagi
897 orang. Jumlah PUS di kota Tengah 3956 orang, dimana jumlah peserta KB aktif
3429 orang, Pus yang bukan peserta KB aktif 527 orang, yang hamil 78 orang, tidak ingin
anak lagi 107 orang, yang ingin menunda anak 54 orang. Jumlah unmet need di
kecamatan kota Tengah 239 orang di masing- masing kelurahan sebagai berikut untuk
kelurahan wumialo jumlah unmet need57 orang, kelurahan Dulalowo 34 orang, kelurahan
Dulalowo Timur 47 orang, kelurahan Liluwo 35 orang, kelurahan Pulubala 41 orang, dan
kelurahan Paguyaman 25 orang.

Unmet need KB juga menyebabkan seseorang melakukan aborsi khususnya pada anak
remaja. Karena mereka beranggapan masih terlalu dini untuk menjadi seorang ibu. Dan
karena waktunya belum tepat maka janin tersebut digugurkan baik secara sengaja ataupun
spontan (anonimity, 2013). Dengan demikian, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui
hubungan unmet need KB pada PUS dengan kehamilan yang tidak diinginkan.

BAHAN DAN METODE


Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo provinsi
Gorontalo Pada tanggal 27 Desember 2012 hingga 27 Januari 2013.
Desain dan Variabel Penelitian
Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan rancangan penelitian cross
sectional. Besar sampel sebanyak 141 responden, diambil dengan cara stratifield random
samplingdenganmenggunakan data primer dan sekunder dari BKKBN. Peneliti
melakukan pengukuran pada variabel independen dan dependen.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh pasangan usia subur berdasarkan data BKKBN pada tahun
2012 dan diperoleh sampel sebanyak 141 respondendengan menggunakan tekhnik
pengambilan sampel secara stratifield random sampling.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dengan melakukan wawancara secara langsung pada
responden, sedangkan data sekunder dengan cara mengumpulkan data dariBKKBN kota
dan BKKBN provinsi tahun 2012. Data yang ada dicatat dalam lembar observasi sesuai
variabel yang dibutuhkan.

Analisis Data
Analisis data menggunakan program SPSS 18.00 for Windows. Untuk mengetahui
hubungan antara umur, pendidikan, pendapatan, kegagalan alat kontrasepsi, dan jumlah
anak dengan kejadian unmet need KB digunakan analisis chi square. Selanjutnya untuk
menilai hubungan kejadian unmet need KB pada pasangan usia subur dengan kehamilan
yang tidak diinginkan digunakan analisis multivariat “regresi logistic ganda”.

HASIL PENELITIAN
Karakteristik Sampel
Tabel 1, menunjukkan hasil analisis univariat dimana jenis pekerjaan suami
tertinggi adalah PNS dengan persentase 37,6%, dan terendah buruh dengan persentase
29,8%. Sedangkan untuk pekerjaan istri tertinggi adalah PNS dengan persentase 67,4%,
sedangkan yang terendah adalah swasta dengan persentase 7%. Untuk distribusi PUS
berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan bahwa jenis pendidikan suami tertinggi adalah
tamat SLTP dengan persentase 34,0 % dan terendah adalah tamat SMU dengan
persentase 11,3 %. Sedangkan pendidikan istri yang tertinggi adalah tamat SLTP dengan
persentase 36,9%, dan terendah adalah tamat SMU dengan persentase 22%.
Hasil Analisis Bivariat
Untuk mengetahui peranan masing-masing variabel independen dan variabel
dependen, dilakukan analisis bivariat melalui tabulasi silang.Pada analisis ini didapat
nilaichi square Interval masing-masing variabel seperti pada tabel 2.Hasil uji statistik
antara umur denganunmet need KB didapat nilai p = 0,010 dan nilai Phi sebesar0,218.
Hasil ini menunjukkan bahwa umur berhubungan dengan kejadian unmet need KB. Dari
nilai Phi didapatkan bahwa umur muda (15-49 tahun)berisiko 21.8 kali lebih besar
mengalami kejadian unmet need KB dibandingkan dengan umur yang lebih dari 49 tahun.
Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan kejadian unmet need KB, dilakukan
analisis chi square . Hasil uji statistik didapatkan besarnya hubungan antara pendidikan
dengan kejadian unmet need KB (nilai Phi = -0,016, hubungan korelasi moderat). Oleh
karena nilai p =0,847 dan nilai phi negatif, maka terdapat hubungan negatif antara
pendidikan dengan kejadian unmet need KB, berarti semakin rendah pendidikanPUS maka
semakin banyak yang mengalami kejadianunmet need KB.
Hasil uji statistik antara pendapatan suami dengan kejadian unmet need KB didapat
nilai p = 0,044 dan nilai phi sebesar 0,211 dengan hasil ini menunjukkan bahwa suami
yang berpendapatan cukup memberi kontribusi 21.1 kali lebih besar terhadap kejadian
unmet need dibandingkan yang berpendapatan kurang. Hasil uji statistik antara kegagalan
alat kontrasepsi dengan unmet need KB didapat nilai p = 0,001 dan nilai Phi sebesar 27,9
%. Hasil ini menunjukkan terjadi hubungan yang sangat signifikan antara kegagalan alat
kontrasepsi dengan kejadian unmet need KB. Begitu juga antarajumlah anak dengan
kejadian unmet need KB dimana nilai p = 0,031 dan nilai phi sebesar 0,182 atau 18,2 %.
Hasil uji statistik antara unmet need KB dengan kehamilan yang tidak diinginkan di
dapat nilai p = 0,002 dan nilai phi sebesar 25,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa kejadian
unmet need KBberisiko 25,7 kali lebih besar terhadap kehamilan yang tidak diinginkan.
Analisis Multivariat
Untuk menganalisis faktor mana yang paling berhubungan setelah dianalisis dengan
variabel lain yang secara statistik bermakna pada analisis bivariat. Tabel 3 menunjukkan
bahwa pada kelompok umur antara 15-49 tahun ,didapatkan nilai p=0,010 (p< 0,05),
berarti terdapat hubungan signifikan antara umur dengan kejadian unmet need KB. pada
kelompok pendapatan suami yang cukup, didapatkan nilai p=0,044 (p<0,05), berarti
terdapat hubungan signifikan antara pendapatan suami dengan kejadian unmet need KB.
pada kelompok kegagalan alat kontrasepsi dengan yang pernah mengalami kegagalan
sebelumnya dengan nilai p=0,001 (p<0.05), berarti kegagalan sebelumnya memiliki
hubungan signifikan dengan kejadian unmet need KB. Risiko kejadian unmet need KB
pada yang mengalami kegagalan sebelumnya lebih besar pada yang pernah gagal
dibandingkan yang berhasil.pada jumlah anak yang banyak dengan nilai p= 0,031
(p<0,05), berarti jumlah anak banyak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian
unmet need KB. Jumlah anak banyak memberi kontribusi 18,2% terjadinya kejadian
unmet need KB.Untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadianunmet need KB dengan
memasukkan secara bersamaan variabel yang bermakna dan dilakukan melalui analisis
multivariat yaitu analisis regresi logistik ganda.
Tabel 3 menunjukkan bahwa ke empat variabel ini memiliki hubungan bermakna
secara statistik (p<0,05), tetapi risiko kegagalan alat kontrasepsi mengalami kejadian
unmet need KB 2,75 kali lebih besar dibandingkan variabel umur, pendapatan, dan jumlah
anak ( Phi = 0,279, dengan nilai wald = 10,772).

PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini terlihat bahwa ada beberapa faktor yang secara signifikan
mempengaruhi kejadian unmet need KB yaitu umur, pendapatan, kegagalan alat
kontrasepsi sebelumnya dan jumlah anak. Unmet need KB dapat menyebabkan
pertambahan jumlah penduduk dengan pesat. Peningkatan kualitas layanan merupakan
salah satu cara yang efektif untuk menurunkan prevalensi unmet need KB. Dalam
memenuhi kebutuhannya, PUS sering mengalami hambatan dalam pemanfaatan layanan
KB sehingga akses mereka terbatas, bahkan tertutup sama sekali. Hal ini mengakibatkan
mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi, padahal sebenarnya mereka
membutuhkan.Hal ini sejalan dengan penelitian Stephenson dan Hendrik (2004), yang
menyatakan bahwa secara umum terdapat 5 faktor yang memegang peranan penting yaitu
pertama faktor administratif, faktor kognitif, faktor ekonomi, faktor psikososial, dan
faktor karakteristik KB. Pada penelitian yang dilakukan di Ethiopia dimana hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa umur berhubungan dengan kejadian unmet needKB
dimana ditemukan nilai p= 0,001 dan yang unmet need pada kelompok umur < 25 tahun
yaitu 26,3% (Almaz, dkk, 1993).
Pendapatan suami banyak mempengaruhi pola kegiatan dan pola pikir termasuk
kesempatan untuk memanfaatkan potensi dan fasilitas yang tersedia guna memenuhi
kebutuhan hidupnya.Data pengeluaran konsumsi dipakai sebagai suatu pendekatan untuk
mengukur distribusi pendapatan masyarakat, walaupun diakui banyak kelemahan karena
dapat memberikan informasi tentang pendapatan yang under estimate (Sirojudin, 2002),
Alasannya pengeluaran konsumsi rumah tangga tidak harus selalu sama dengan jumlah
pendapatan yang diterima. Pendapatan yang cukup membuat seseorang mampu untuk
memenuhi kebutuhan lainnya.kemampuan ekonomi sangat mempengaruhi akses
seseorang dalam memanfaatkan layanan kesehatan.Mereka yang berasal dari rumah
tangga dengan pendapatan tinggi dan menengah, memiliki skor pendapatan lebih sedikit
dibanding dengan pendapatan kurang. Terdapat sekitar 2,7 % wanita yang menyatakan
tidak menggunakan alat kontrasepsi karena biaya layanan tidak terjangkau oleh
pendapatan pasangan usia subur tersebut (Gusti A, 2006).
Hasil penelitian pada Demografi Iran dan Survei Kesehatan yang dilakukan pada
tahun 2000, menunjukkan bahwa kebutuhan yang tidak terpenuhi untuk keluarga
berencana bervariasi dari 3,6% di kota Teheran dan 31,3% di daerah pedesaan di Sistan
dan Balouchestan (selatan timur Iran). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Berhane dkk
(1999), dimana terdapat pengaruh yang secara tidak langsung (indirect eject) variabel
ekonomi terhadap unmet need melalui variabel akses pelayanan, untuk pedesaan sekitar -
0,35. Dengan demikian di pedesaan, total pengaruh variabel ekonomi terhadap unmet need
sebesar -0,89. Di perkotaan besar indirect eject adalah -0,13 (WHO, 2005).
Hasil analisis multivariat pada variabel kegagalan sebelumnya menunjukkan bahwa
kegagalan alat kontrasepsi sebelumnya sangat berpengaruh terhadap terjadinya unmet
need KB. Hal ini sejalan dengan penelitian Gusti A, (2006), yang menemukan bahwa
pada tahun 2004, lebih dari 75 % responden menyatakan pernah menggunakan salah satu
metode kontrasepsi dan dari persentase tersebut, 34 % melaporkan pernah memakai lebih
dari satu jenis alat kontrasepsi dengan penggunaan paling lama 63 bulan atau 5 tahun.
Disamping itu, ada beberapa yang pernah menggunakan empat jenis alat kontrasepsi.Dari
kondisi tersebut, mereka yang sudah pernah menggunakan alat kontrasepsi dan merasakan
gangguan atau kegagalan, maka mereka tidak bersedia lagi menggunakannya. Penelitian
lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh tim pakar Universitas
Washington yang membandingkan metode kontrasepsi jangka panjang dan jangka pendek.
Metode kontrasepsi LARC yang mencakup IUD dan susuk KB yang mengeluarkan
hormon. Penelitian yang melibatkan perempuan berusia antara 14-45 tahun yang aktif
berhubungan seks tetapi tidak ingin hamil menunjukkan dari 334 sampel, yang hamil
karena disebabkan kegagalan sebelumnya ada 156 sampel (Copas, 1998).
Jumlah anak juga berhubungan dengankejadian unmet need KB dimana diperoleh
hasil nilai p = 0,031 (p<0,05). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ismail (2010), dimana diperoleh nilai sebesar 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan antara
jumlah anak dengan kriteria banyak yang unmet need KB sebesar 34,2% dan terdapat
hubungan antara jumlah anak hidup dengan unmet need KB.
Berdasarkan analisis regresi, dapat kita lihat bahwa unmet need KB dengan variabel
umur, pendapatan, kegagalan alat kontrasepsi sebelumnya dan jumlah anak secara
bersama-sama berpengaruh terhadap unmet need KB yang dapat menyebabkan kejadian
kehamilan yang tidak diinginkan.Hal ini menunjukkan bahwa faktor kejadian unmet need
KB sebagai faktor independen tidak dapat berdiri sendiri dalam mempengaruhi kejadian
kehamilan yang tidak diinginkan. Ibu yang mengalami kejadian unmet need KB dapat
mempengaruhi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, sehingga ibu yang unmet
need KB bisa saja mendapatkan anak yang tidak diinginkan sehingga besar kemungkinan
dia akan melakukan aborsi (WB, 2001)

KESIMPULAN DAN SARAN


Kejadian unmet need KB berhubungan dengankehamilan yang tidak diinginkan.
Selain itu variabel umur, pendapatan, kegagalan alat kontrasepsi sebelumnya, jumlah
anak merupakan variabel yang dapat meningkatkan terjadinya kejadian unmet need KB
yang dapat berisiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, perlu
adanya KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukatif) oleh petugas kesehatan kepada semua
pasangan usia subur untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Almaz Terefe and C.O. Larsen.(1993), ‘Modern contraception use in Ethiopia; does
Involving husbands make a difference? ‘ America journal of public health, vol. 83,
No. 11, pp.15-67, Washington Dc.
Asefa, M., Drewett, R. and Tessema, F.(2000). ’ a birth cohort study in southwest
Ethiopia to identify factors associated with infant mortality that is a menable for
interventions. Ethiopian journal of health development 14 (2), 161-168
Anonim.(2013), Population report, why family planning matters, vol. XXVII,number 2,
series J. number 49, July 1999, diakses http: www.Aol.com/astanar/smith.html.13
January 2013.
Berhane, Y., Mekonnen E., Zerihun, M., and G. Assefa(1999), perception of fertility
regulation in remote community, Southern Ethiopia. Ethiopian journal of health
development, 13 (3), 217-222.
Bongaarts J and S.W. Sinding.(2009), ‘A respon to critics of family planning programs’
international perspectives on sexual and reproductive health vol 35,No 1.
Copas,J.B(1998),’ Binnary Regression Models for Contaminated Data’ journal of Royal
statistical association, B 50 (2), 220-265.
Gusti A. (2006). faktor-faktor eksternal yang berpengaruh terhadap prevalensi unmet
need di Provinsi Bali,vol 11 no 2.
Hedrina Emi. (2011). Factor determinan unmet need suatu studi di kelurahan kayau
kubu kecamatan Guguk panjang kota Bukit Tinggi, http://pasca.unand.ac.id,
diakses 17 Desember 2012.
Sirodjudin H. (2002).faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need KB.
http://www.digilib.ui.ac.id, diakses 10 November 2012.
Stephenson, R., and M. Hennick.(2004),barrier to family planning service use among the
urban poor in Pakistan” Asia pacific population journal 19 (2).
Sudarianto, (2010), kepedulian terhadap unmet need KB di provinsi Sulawesi Selatan,
http://www.dinkes-sulsel.go.id.Diakses 20 Desember 2012.
WHO, Maternal mortality in (2005), estimates developed by WHO, UNICEF, UNFPA
and the world bank Geneva.
World Bank (WB) (2001), womens Empowering women the Ethiopian womens
development initiatives project, Geneva
Tabel 1 Karakteristik umum responden.

Jenis Variabel Kasus Kontrol Jumlah

n % n % n %

Pekerjaan

PNS 53 37,6 95 67,4 148 105

Pegawai Swasta 0 0 1 7 1 7

petani 46 32,6 17 12,1 63 44,7

U RT 0 0 28 19,9 28 19,9

Buruh 42 29,8 0 0 42 29,8

Total 141 100 141 100 282 206,4

Pendidikan
Tamat PT 39 27,7 35 24,8 74 52,5

Tamat SMU 16 11,3 22 15,6 38 26,9

Tamat SLTP 48 34,0 52 36,9 100 70,9

Tamat SD 38 27,0 32 22,7 70 49,7

Total 141 100 141 100 282 100

Sumber : Data Primer


Tabel 2 Analisis bivariat variabel independen dan variabel dependen
Faktor X² p Phi

Umur dengan unmet need 6,694 0,010 0,218


- 15-49
- >49
Pendidikan dengan unmet need 0,037 0,847 -0,016
- cukup
- kurang
Pendapatan dengan unmet need 6,268 0,044 0,211
- cukup
- kurang
Kegagalan Kontrasepsi 10,981 0,001 0,279
- gagal
- berhasil
Jumlah Anak 4,668 0,031 0,182
- banyak
- sedikit
Sumber : Data Primer

Tabel 3 Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda

Faktor X² p phi

Umur dengan unmet need 6,694 0,010 0,218


- 15-49
- >49
Pendapatan dengan unmet need 6,268 0,044 0,211
- cukup
- kurang
Kegagalan Kontrasepsi 10,981 0,001 0,279
- gagal
- berhasil
Jumlah Anak 4,668 0,031 0,182
- banyak
- sedikit

Sumber : Data Primer


 Berpengaruh Secara Signifikan