Anda di halaman 1dari 22

Tugas Akhir Semester

Pelaporan Akuntansi Keuangan

Oleh :

HETTY SETIYANI F2313004

PROGRAM PROFESI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2013
PERBANDINGAN ANTARA IFRS DENGAN PSAK

1. Pendahuluan dan Kerangka Dasar (PSAK NO 1 DAN IAS 1)


Pendahuluan dan Kerangka Dasar
PSAK NO 1 DAN IAS 1
No Perbedaan IAS 1 PSAK NO 1
1 Cakupan Desain IFRS diperuntukkan untuk SAK diperuntukkan untuk
Pengaturan entitas yang bersifat profit-oriented Entitas yang bersifat profit-
dan SME (Small Medium oriented, Nirlaba, UKM
Enterprise). IFRS belum mengatur (Usaha kecil menengah) yang
standar akuntansi untuk perusahaan disebut SAK-ENTAP, dan
berbasis syariah. Perusahaan berbasis syariah.
2 Kerangka Memungkinkan penilaian aktiva Sama seperti IFRS, PSAK
Dasar tetap berwujud dan tidak berwujud memberikan alternatif
menggunakan nilai wajar. Laporan penggunaan nilai wajar untuk
keuangan harus disajikan dengan menilai kembali aktiva tetap
basis true and fair (IFRS Framework berwujud dan tidak berwujud.
par 46) Laporan keuangan disajikan
dengan basis “fairly stated”
(Kerangka dasar par 46)

3 Pernyataan Entitas harus membuat pernyataan Entitas tidak harus membuat


kepatuhan eksplisit tentang kepatuhan akan pernyataan kepatuhan akan
akan Standar standar IFRS SAK

4 Prinsip Tidak diatur secara khusus kapan Dianjurkan agar entitas


Ketepatan entitas menyajikan laporan menyajikan laporan keuangan
Waktu keuangan paling lama 4 bulan setelah
(Timeliness) tanggal neraca

5 Basis Standar Menganut standar akuntansi Menganut standar akuntansi


berbasis prinsip untuk berbasis aturan.
meningkatkan transparansi,
akuntabilitas, dan keterbandingan
laporan keuangan antar entitas
secara global.

6 Prinsip Tidak lagi mengakui prinsip Masih mengkui prinsip


Konservatif konservatif, namun diganti dengan konservatif
prinsip kehati-hatian (Prudence)

2. Pengungkapan dan Penyajian Laporan Keuangan (IAS 1 DAN PSAK NO 1)

Pengungkapan dan Penyajian Laporan Keuangan


IAS 1 DAN PSAK NO 1
No Perbedaan IAS 1 PSAK 1

1 Komponen Komponen laporan keuangan Komponen laporan keuangan


Laporan lengkap terdiri atas : lengkap terdiri atas :
Keuangan  Laporan posisi keuangan  Neraca
yang lengkap (neraca)  Laporan laba rugi
 Laporan laba rugi  Laporan perubahan ekuitas
komprehensif  Laporan arus kas
 Laporan perubahan ekuitas  Catatan atas laporan
 Laporan arus kas keuangan
 Catatan atas laporan keuangan
 Laporan posisi keuangan
komparatif awal periode dan
penyajian retrospektif terhadap
penerapan kebijakan akuntansi

2 Pengungkapan Berdasar ilustrasi IFRS : Berdasar PSAK:


dalam Laporan Aset : Aset :
posisi  Aset tidak lancar  Aset lancar
keuangan  Aset lancar  Aset tidak lancar
(neraca) Ekuitas : Liabilitas :
 Ekuitas yang dapat  Liabilitas jangka
diatribusikan ke pemilik pendek
entitas induk  Liabilitas jangka
 Hak non pengendalian panjang
Liabilitas : Ekuitas :
 Liabilitas jangka panjang  Hak non pengendalian
 Liabilitas jangka pendek  Ekuitas yang dapat
diatribusikan ke pemilik
entitas induk
3 Istilah Istilah minority interest (hak Menggunakan istilah hak
minority minoritas) diganti menjadi non minoritas
interest controlling interest (hak non
pengendali) dan disajikan dalam
Laporan perubahan ekuitas.
4 Pos luar biasa Tidak mengenal istilah pos luar Masih memakai istilah pos
(extraordinary biasa (extraordinary item) lbiasa (extraordinary item)
item)
5 Penyajian Liabilitas jangka panjang Tetap disajikan sebagai
laibilitas disajikan sebagai Laibilitas jangka Laibilitas jangka panjang
jangka panjang pendek jika akan jatuh tempo
yang akan dalam 12 bulan meskipun
dibiayai perjanjian pembiayaan kembali
kembali sudah selesai setelah periode
pelaporan dan sebelum penerbitan
laporan keuangan

3. LAPORAN ARUS KAS (IAS 7 dan PSAK 2)


LAPORAN ARUS KAS
IAS 7 dan PSAK 2
No Perbedaan IAS 7 PSAK2
1 Metode Dianjurkan Tidak ada pengaturan, kecuali untuk
Dianjurkan menggunakan Perusahaan Publik (Listed Company)
menggunakan metode langsung, namun harus menggunakan Metode Langsung
metode tidak langsung sesuai Peraturan Bapepam VIII G 7
tetap diperbolehkan yang telah diubah dengan
KEP06/PM/2000
2 Arus kas Item pos luar biasa tidak Masih diperkenankan menggunakan
terkait pos luar diperbolehkan dalam istilah pos luar biasa, dan
biasa IFRS diklasifikasikan sesuai dengan sifat
transaksinya, apakah sebagai aktivitas
operasi, investasi atau pendanaan

4. Laporan Keuangan Interim (IAS 34 DAN PSAK 3)

Perbedaan PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim dengan IAS 34 Interim
Financial Reporting per 1 Januari 2009
PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim mengadopsi seluruh IAS 34 Interim
Financial Reporting per 1 Januari 2009, kecuali:
A. IAS 34 paragraf 1 yang menjadi PSAK 3 (revisi 2010) tentang ruang lingkup dengan
menghilangkan anjuran untuk entitas yang menjual efeknya ke publik untuk menyajikan
laporan keuangan interim. Hal ini sudah diatur oleh peraturan yang berlaku.
B. IAS 34 paragraf 14 tentang interaksi antara laporan keuangan interim dengan laporan
keuangan interim, tidak diadopsi. Hal ini disesuaikan dengan pengaturan laporan
keuangan konsolidasian dalam PSAK 4 (revisi 2009): Laporan Keuangan Konsolidasian
dan Laporan Keuangan Tersendiri..
C. IAS 34 paragraf 46 yang menjadi PSAK 3 (revisi 2010) tentang tanggal efektif dengan
menghilangkan penerapan dini. Pertimbangannya penerapan dini hanya dapat dilakukan
dengan tepat jika seluruh pengaturan dalam IFRSs diadopsi secara bersamaan menjadi
SAK. Adopsi IFRSs menjadi SAK di Indonesia dilakukan secara bertahap.
D. IAS 34 paragraf 47 dan 48 tentang tanggal efektif untuk dampak amandemen IFRSs,
tidak diadopsi. Hal ini tidak relevan karena IFRSs yang diamandemen belum diadopsi
sebelumnya.
E. IAS 34 appendix B paragraf B31-B33 yang menjadi PSAK 3 lampiran B paragraf B31-
B33 tentang pelaporan keuangan interim pada ekonomi hiperinflasi dengan
menghilangkan rujukan ke PSAK, karena ekonomi hiperinflasi belum diatur dalam
PSAK tersendiri.

5. Laporan Keuangan Konsolidasi dan Laporan Keuangan tersendiri (IAS 27 DAN


PSAK 4)
PSAK (revisi 2009): Laporan Keuangan Konsolidasi dan Laporan Keuangan
tersendiri mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 27 (2009): Consolidated and
Separate Financial Statements, kecuali untuk beberapa paragraf berikut:

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DAN LAPORAN KEUANGAN


TERSENDIRI IAS 27 DAN PSAK 4
No IAS 27 PSAK 4 Keterangan
1. Paragraph 03 tentang Paragraph 03 tentang Lihat penjelasan dinomor terkait.
ruang lingkup Berlaku ruang lingkup Berlaku
untuk entitas yang untuk entitas yang
memilih atau untuk menyajikan laporan
disyaratkan oleh keuangan tersendiri
regulasi menyajikan sebagai informasi
laporan keuangan tambahan.
tersendiri
2. Paragraf 04 mengenai Paragraf 04 mengenai Tidak ada relevansi bagi
penjelasan basis penjelasan basis investor dan venturer untuk
pencatatan dalam pencatatan dalam menyajikan laporan keuangan
laporan keuangan laporan keuangan trsendiri.
Regulasi hanya mensyaratkan
tersendiri oleh investor, tersendiri entitas induk.
penyajian laporan keuangan
venturer dan entitas
tersendiri atas entitas entitas
induk.
induk.
3. Paragraf 06 mengenai Paragraf 06 mengenai Disesuaikan dengan konteks di
laporan keuangan laporan keuangan indonesia.
tersendiri yang tidak tersendiri sebagai
perlu menjadi lampiran informasi tambahan
laporan keuangan dari laporan keuangan
konsolidasi. konsolidasi.
4. Paragraf 07 menegenai Dihilangkan Pengertian laporan keuangan,
penjelasan lebih lanjut laporan keuangan konsolidasi,
atas laporan keuangan dan laporan keuangan tersendiri
tersendiri. sudah jelas.
5. Paragraf 08 mengenai Dihilangkan Lihat penjelasan di nomor
penjelasan entitas induk terkait.
yang menyajikan
laporan keuangan
tersendiri sebagai
laporan keuangannya.
6. Paragraf 09 mengenai Paragraf 08 mengenai Lihat penjelasan di nomor
acuan bagi entitas induk acuan bagi entitas induk terkait.
yang menyajikan yang menyajikan
laporan keuangan laporan keuangan
konsolidasi. konsolidasi, dengan
menghilangkan entitas
induk untuk tidak
menyajikan laporan
keuangan konsolidasi.
7. Paragraf 10 mengenai Dihilangkan Pengecualian bagi entitas
pilihan bagi entitas induk untuk tidak menyajikan
induk untuk tidak laporan keuangan konsolidasi
menyajikan laporan merupakan pilihan IAS 27,
keuangan konsolidasi. bukan suatu keharusan.
Pengecualian tersebut tidak
relevan dengan konteks di
Indonesia.
Manfaat dari pengecualian
tersebut dianggap jauh lebih
kecil dibandingkan biayanya.
Tidak ada regulasi yang
mensyaratkan penyajian laporan
keuangan tersendiri (sebagai
satu-satunya laporan keuangan)
untuk tujuan umum.
8. Paragraf 11 mengenai Paragraf 09 mengenai Lihat penjelasan di nomor
penjelasan entitas induk tambahan penjelasana terkait.
yang menyajikan laporan keuanga
laporan keuangan tersendiri dengan
tersendiri. tambahan laporang
keuangan tersendiri
sebagai informasi
tambahan.
9. Paragraf 38 mengenai Paragraf 35 mengenai Lihat penjelasan di nomor
laporan keuangan laporan keuangan terkait.
tersendiri. tersendiri dengan
tambahan laporang
keuangan tersendiri
sebagai informasi
tambahan.
10. Paragraf 42 mengenai Dihilangkan Dampak dari perlakuan atas
pengungkapan laporan laporan keuangan tersendiri di
keuangan tersendiri PSAK 4 yang berbeda dengan
bagi entitas induk yang IAS 27, sebagaimana dijelaskan
tidak menyajikan di nomor lain.
laporan keuangan
konsolidasi.
11. Paragraf 43 mengenai Paragaf 39 mengenai Dampak dari dihilangkanya opsi
pengungkapan laporan pengungkapan laporan bagi entitas induk untuk tidak
keuangan tersendiri. keuangan tersendiri. menyajikan laoran keuangan
konsolidasi.
12. Paragraf 44 mengenai Paragraf 42 mengenai
tanggal efektif. tanggal efektif.
13. Paragraf 45 mengenai Paragraf 43 mengenai Tidak praktis untuk menerapkan
ketentuan transisi. ketentuan transisi. secara retrospektif mengenai
besaran saldo kepentingan
nonpengendali, transaksi ekuitas
(perubahan kepemilikan tetapi
tetap mengendalikan),
kehilangan pengendalian terkait
dengan aset yang dimiliki untuk
dijual, hak suara potensial dalam
menilai pengendalian, dan
entitas anak yang tidak
dikonsolidasikan sesuai PSAK 4
(1998) paragraf 06.
14. Paragraf 45 (A) Dihilangkan. Tidak relevan, karna IAS 27
mengenai ketentuan yang diamandemen belum
transisis dari diadopsi.
amandemen IAS 27
ditahun 2008.
15. Paragraf 45 (B) Dihilangkan. Tidak relevan, karena IAS 27
mengenai ketentuan yang diamandemen belum
transisi dari diadopsi.
Prinsip pengakuan deviden
amandemen IAS 27
sudah diatur dalam PSAK 23
ditahun 2008.
(accrual basis) yang sejalan
dengan paragraf 38 A, tetapi
pengakuan deviden untuk cost
method, dalam IAS 27 old
version, menggunakan cash
basis.
16. Paragraf 45 (C) Dihilangkan. Tidak relevan karena IAS 27
mengenai ketentuan yang diamandemen belum
transisi dari diadopsi.
amandemen IAS 27 di
tahun 2008.

6. Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa (IAS no 24 dan


PSAK no 7)
Perbedaan PSAK 7 (revisi 2009): Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai
Hubungan Istimewa dengan Ias 24 (2009): Related Party Disclosures
PSAK 7 (revisi 2009): Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa
mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 24 Related Party Disclosures per 4 November
2009, kecuali:
A. IAS 24 paragraf 03 yang menjadi PSAK 7 (revisi 2009) paragraf 03 mengenai ruang
lingkup dengan menghilangkan penerapan PSAK 7 (revisi 2009) atas laporan keuangan
tersendiri venturer dan investor. Hal ini untuk konsistensi pengaturan dengan PSAK 4
(revisi 2009): Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri.
B. IAS 24 paragraf 13 yang menjadi PSAK 7 (revisi 2009) paragraf 13 mengenai entitas
induk yang tidak menyajikan laporan keuangan konsolidasian. Hal ini untuk konsistensi
pengaturan dengan PSAK 4 (revisi 2009) yang mengharuskan semua entitas induk untuk
menyajikan laporan keuangan konsolidasian, dimana hal ini berbeda dengan IAS 27
Consolidated and Separate Financial Statements.
C. IAS 24 paragraf 16 mengenai entitas induk mana yang menyajikan laporan keuangan
konsolidasian dalam suatu kelompok usaha tidak diadopsi. Hal ini untuk konsistensi
pengaturan dengan PSAK 4 (revisi 2009) sebagaimana dijelaskan di angka 2.
D. IAS 24 paragraf 28 yang menjadi PSAK 7 paragraf 27 mengenai tanggal efektif dengan
tidak mengijinkan penerapan dini, karena penerapan dini tersebut hanya akan dapat
dilakukan dengan tepat jika seluruh pengaturan dalam IFRS diadopsi secara bersamaan
menjadi SAK. Adopsi IFRS menjadi SAK di Indonesia dilakukan secara bertahap.

7. IAS 21 DAN PSAK 10, PSAK


Untuk PSAK 11 dan PSAK 52 dicabut diganti PSAK 10
MATA UANG ASING
IAS 21 Dan PSAK 10,
No Perbedaan IAS 21 PSAK 10
1 Pengaturan Pengaturan tentang mata uang Pengaturan mata uang
fungsional dan mata uang asing asing tersebar di PSAK
terdapat di IAS 21 tentang The 10 tentang Transaksi
Effects of Changes in Foregn dalam mata uang asing,
Exchange Rates PSAK 11 tentang
Penjabaran Laporan
keuangan dalam Mata
Uang Asing, dan PSAK
52 tentang Akuntansi
Mata Uang pelaporan
2 Penentuan IAS 21 mengharuskan penggunaan Menggunakan tiga
mata indicator primer dan sekunder. indicator, yaitu indicator
uang Indicator primer terdiri dari harga arus kas, harga jual dan
fungsional barang dan jasa, mata uang biaya, hubungan dan
pembayaran bahan baku, upah, dan transaksi antara anak dan
biaya lain. Indicator sekunder terdiri induk perusahaan.
dari mata uang dominan dalam
pendanaan, operasional, dan
hubungan antara anak perusahaan
dan induk.
3 Penjabaran Proses penjabaran laporan keuangan Proses pengukuran
laporakeuangan dilakukan jika mata uang pelaporan kembali dilakukan bila
yang digunakan berbeda dengan mata uang pelaporan
mata uang fungsional (mata uang bukan mata uang rupiah
dasar entitas bisnis dalam
menyajikan laporan keuangan)
4 Kejadian Hiper Jika mata uang fungsional laporan Tidak mengatur
Inflasi keuangan adalah akuntansi ketika keadaan
mata uang suatu ekonomi yang sedang
sedang mengalami inflasi tinggi, hiper inflasi
maka laporan keuangan harus
disajikan kembali sesuai IAS 29
tentang Financial Reporting in
Hyper Inflation Economies

8. Aset Tetap (IAS 16 DAN PSAK 16)


PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 16
Property, Plant, and Equipment per Januari 2009, kecuali untuk hal-hal sebagai berikut:
A. PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap paragraf 03 mengenai ruang lingkup dimana untuk
aset biologik terkait aktivitas agrikultur termasuk dalam ruang lingkup PSAK 16 (revisi
2011). Hal ini berbeda dengan pengaturan yang ada dalam IAS 16 Property, Plant and
Equipment paragraf 3 dimana aset biologik terkait aktivitas agrikultur dikecualikan dalam
ruang lingkup.
B. PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap memberikan tambahan pada paragraf 43 mengenai
perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi yang tidak ada
pengaturannya dalam IAS 16.
C. PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap tidak mengadopsi pengaturan dalam IAS 16 paragraf
80 mengenai ketentuan transisi karena tidak relevan.
D. PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap memberikan ketentuan transisi pada paragraf 82 yang
tidak ada dalam IAS 16.
E. PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap tidak mengadopsi pengaturan dalam IAS 16 paragraf
81, 81 A – F mengenai tanggal efektif karena tidak relevan.
F. IAS 16 Property, Plant and Equipment paragraf 68A mengenai penghentian pengakuan
menjadi paragraf 69 pada PSAK 16 (revisi 2011) dan nomor paragraf selanjutnya
disesuaikan.

9. Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi (IAS 37 DAN


PSAK 57)
Perbedaan PSAK 57 (revisi 2009): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan
Aset Kontinjensi dengan IAS 37 (2009): Provisions, Contingent Liabilities and
Contingent Assets.
PSAK 57 (revisi 2009): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aset
Kontinjensi mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 37 (2009): Provisions,
Contingent Liabilities and Contingent Assets, kecuali IAS 37 paragraf 95 yang menjadi
PSAK 57 paragraf 93 mengenai tanggal efektif.

10. Imbalan Kerja (IAS 19 DAN PSAK 24)


Perbedaan PSAK 24 (revisi 2010): Imbalan Kerja dengan IAS 19 (2009): Employee
Benefits
PSAK 24 (revisi 2010): Imbalan Kerja mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 19
(2009): Employee Benefi t, kecuali:
A. Paragraf 7 PSAK 24 mengenai defi nisi menambahkan istilah kewajiban konstruktif
yang tidak ada dalam IAS 19 agar lebih jelas.
B. Paragraf 32A dan 32B IAS 19 mengenai program multipemberi kerja menjadi
paragraf 33 dan 34 pada PSAK 24 dan nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.
C. Paragraf 34A dan 34B IAS 19 mengenai program imbalan pasti yang membagi risiko
antar entitas dalam pengendalian bersama menjadi paragraf 37 dan 38 pada PSAK 24
dan nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.
D. Paragraf 58A dan 58B IAS 19 mengenai laporan posisi keuangan menjadi paragraf 62
dan 63 pada PSAK 24 dan nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.
E. Paragraf 68 mempunyai contoh ilustrasi nomor 2 dalam IAS 19 yang menjadi
paragraf 73 dalam PSAK 24 memberikan contoh ilustrasi nomor 2 yang berbeda
karena mengikuti keadaan pada umumnya yang terjadi di Indonesia.
F. Paragraf 93A, 93B, 93C, dan 93 D IAS 19 mengenai keuntungan dan kerugian
aktuarial menjadi paragraf 99, 100, 101 dan 102 pada PSAK 24 dan nomor paragraf
selanjutnya disesuaikan.
G. Paragraf 104A, 104B, 104C, dan 104D IAS 19 mengenai pengakuan dan pengukuran
penggantian aset program menjadi paragraf 114, 115, 116 dan 117 pada PSAK 24 dan
nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.
H. Paragraf 111A IAS 19 mengenai kurtailmen dan penyelesaian menjadi paragraf 125
pada PSAK 24 dan nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.
I. Paragraf 120 A IAS 19 mengenai pengungkapan menjadi paragraf 135 pada PSAK 24
dan nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.
J. PSAK 24 tidak mengadopsi paragraf 153, 154, 155 dan 156 IAS 19 mengenai
ketentuan transisi karena sudah diatur dalam PSAK 24 (revisi 2004). Ketentuan
transisi pada PSAK 24 dijelaskan pada paragraf 159.
K. Ketentuan transisi dalam IAS 19 untuk pengungkapan informasi mengenai program
imbalan pasti berlaku retrospektif kecuali untuk paragraf 120A (p) berlaku prospektif.
Sedangkan untuk PSAK 24 berlaku prospektif untuk pengungkapan program imbalan
pasti pada paragraf 135A (o), 135A (o) dan 135 (q).
L. Paragraf 157 IAS 19 mengenai tanggal efektif dan perlakuan penerapan dini berbeda
dengan paragraf 163 PSAK 24 dimana berlaku efektif pada atau setelah 1 Januari
2012. Penerapan dini tidak diperkenankan dalam PSAK 24 dengan alasan karena
penerapan dini tersebut hanya akan dapat dilakukan dengan tepat jika seluruh
pengaturan dalam IFRS secara bersamaan menjadi SAK. Adopsi IFRS menjadi SAK
di Indonesia dilakukan secara bertahap.
M. PSAK 24 tidak mengadopsi paragraf 159, 159 A-D, 160 dan 161 IAS 19 mengenai
tanggal efektif karena tidak relevan.

11. PENDAPATAN (IAS 18 DAN PSAK 23)


PERBEDAAN PSAK 23 (revisi 2009): Pendapatan tidak mengadopsi paragraf 38
IAS 18 tentang amandemen biaya investasi pada entitas anak,
pengendalian bersama entitas atau entitas asosiasi .
PSAK 23 (revisi 2009): Pendapatan tidak mengadopsi catatan kaki
paragraf 20(d) IAS 18 yang mengacu SIC 31: Revenue-Barter
Transactions Involving Advertising Services, karena SIC 31 belum
diadopsi.
Tanggal efektif PSAK 23 (revisi 2009): Pendapatan berbeda dengan
tanggal efektif IAS 18: Revenue.
PERSAMAAN Pendapatan diakui apabila besar kemungkinan bahwa manfaat
ekonomi masa depan akan mengalir ke entitas dan manfaat ini dapat
diukur secara andal
pendapatan meliputi total arus masuk manfaat ekonomi yang
diterima oleh badan pada rekening sendiri
Pendapatan diukur pada nilai wajar pertimbangan diterima

12. Kombinasi Bisnis (PSAK 22 DAN IFRS 3)


PSAK 22 (revisi 2010): Kombinasi Bisnis mengadopsi seluruh IFRS 3 Business
Combinations per 1 Januari 2009, kecuali:
A. IFRS 3 paragraf 64 yang menjadi PSAK 22 (revisi 2010) paragraf 64 tentang tanggal
efektif dengan meniadakan penerapan dini.
Pertimbangan: Penerapan dini tersebut hanya akan dapat dilakukan dengan tepat jika
seluruh pengaturan dalam IFRS diadopsi secara bersamaan menjadi SAK. Adopsi
IFRS menjadi SAK di Indonesia dilakukan secara bertahap.
B. IFRS 3 paragraf 66 dan B68-B69 tentang ketentuan transisi untuk kombinasi bisnis
yang melibatkan entitas bersama (mutual entity) tidak diadopsi.
Pertimbangan: Tidak relevan karena (a) PSAK 22: Penggabungan Usaha tidak
mengecualikan kombinasi bisnis entitas bersama; (b) Peraturan yang berlaku melarang
reksa dana mengakui reksa dana lain (reksa dana merupakan contoh entitas bersama).
C. IFRS 3 paragraf 67 tentang penerapan dini tidak diadopsi.
Pertimbangan: Sama dengan pertimbangan di angka (1).
PSAK 22 (revisi 2010): Kombinasi Bisnis menambah beberapa paragraf yang tidak
ada di IFRS 3 Business Combinations per 1 Januari 2009, yaitu:
D. PSAK 22 (revisi 2010) paragraf 66 tentang ketentuan transisi untuk goodwill yang
berasal dari kombinasi bisnis sebelum 1 Januari 2011 (tanggal efektif). Paragraf
tersebut mengadopsi IFRS 3 Business Combinations yang dikeluarkan pada 31 Maret
2004 (IFRS 3/2004) paragraf 79 dengan meniadakan ketentuan transisi untuk
goodwill yang berasal dari akuisisi pengendalian bersama entitas, karena jenis ventura
bersama tersebut tidak diatur sebelumnya dalam SAK, yaitu PSAK 12: Pelaporan
Keuangan mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi dan
Aset.
E. PSAK 22 (revisi 2010) paragraf 67 tentang ketentuan transisi untuk negative goodwill
yang berasal dari kombinasi bisnis sebelum 1 Januari 2011 (tanggal efektif). Paragraf
tersebut mengadopsi IFRS 3/2004 paragraf 81 dengan meniadakan ketentuan transisi
untuk negative goodwill yang berasal dari akuisis pengendalian bersama entitas,
dengan alasan yang sama dengan angka (4).
F. PSAK 22 (revisi 2010) paragraf 68 tentang ketentuan transisi untuk aset tidak
berwujud yang berasal dari kombinasi bisnis sebelum 1 Januari 2011 (tanggal efektif).
Paragraf tersebut mengadopsi IFRS 3/2004 paragraf 82 dengan meniadakan ketentuan
transisi untuk aset tidak berwujud yang berasal dari akuisisi pengendalian bersama
entitas, dengan alasan yang sama dengan angka (4).
G. PSAK 22 (revisi 2010) paragraf 69 tentang ketentuan transisi untuk investasi yang
dicatat dengan metode ekuitas. Paragraf tersebut mengadopsi IFRS 3/2004 paragraf
83-84.
Pertimbangan: Tambahan paragraf yang disebutkan di angka (4) sd (7) adalah relevan
karena IFRS 3/2004 mengatur tentang ketentuan transisi perubahan akuntansi kombinasi
bisnis dari IAS 22 Business Combinations (dikeluarkan pada 1993) yang menjadi rujukan
PSAK 22: Penggabungan Usaha (dikeluarkan pada 1994).

13. PSAK 50 DAN IAS 32


PSAK 50 (revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian mengadopsi seluruh
pengaturan dalam IAS 32 per Oktober 2009: Financial Instruments: Presentation,
kecuali:
A. IAS 32 paragraf 96-97F tentang tanggal efektif dan ketentuan transisi tidak diadopsi
karena tidak relevan.
B. IAS 32 paragraf 98-100 tentang penarikan tidak diadopsi karena tidak relevan.

14. PSAK 55 DAN IAS 39


PSAK 55 (revisi 2011): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran mengadopsi
seluruh ketentuan dalam IAS 39 Financial Instrumens: Recognation and Measurement
per 1 Januari 2009 kecuali terkait dengan tanggal efektif

ANALISA KASUS

KASUS :
PENYAJIAN TRANSAKSI DERIVATIF PADA PT. MOBILE 8

Pengantar :

Sejarah

PT Mobile-8 Telecom (Mobile-8).

PT Smartfren Telecom Tbk (smartfren) awalnya bernama PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8)
sebelum bulan April 2011. Didirikan pada tanggal 16 Desember 2002 yang menggunakan nama
merek Fren (Fast Reliable Menyenangkan Jaringan). Mobile-8 meluncurkan layanan prabayar
pada tanggal 8 Desember 2003 dan layanan pascabayar nya pada tanggal 8 April 2004. Mobile-8
menawarkan berbagai layanan nilai tambah dan program dengan menggunakan teknologi
CDMA 2000-1x yang menyediakan kejernihan suara yang lebih baik, dan lebih cepat mengakses
data. Perusahaan ini awalnya dimiliki oleh PT Global Mediacom Tbk. Namun akibat krisis
finansial dan penurunan penjualan produk], maka Perusahaan ini diakuisisi oleh Sinar Mas
Group pada bulan November 2011.

Profil perusahaan

Smartfren juga merupakan operator telekomunikasi yang menyediakan layanan CDMA


EV-DO Rev. B Phase 2 (setara dengan 3,5G dengan kecepatan unduh s.d. 14,7 Mbps) dan
operator CDMA pertama yang menyediakan layanan Blackberry.
Jasa dan layanan smartfren memiliki nilai-nilai (values) yaitu sebagai mitra yang terbaik
bagi pelanggan dengan menawarkan solusi yang cerdas dalam layanan-layanan telekomunikasi
untuk meningkatkan pengalaman hidup pelanggan dalam berkomunikasi.
Sebagai operator CDMA yang menyediakan jaringan internet kecepatan tinggi bergerak
(mobile broadband) yang terluas di Indonesia, Smartfren berkomitmen untuk menjadi penyedia
layanan telekomunikasi yang terjangkau bagi masyarakat dengan kualitas terbaik.

Penjelasan kasus :
JAKARTA. Masalah menerpa PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) tiada henti. Belum
juga sengketa penyelesaian obligasi rupiah dan dolar FREN tuntas, kini Badan Pengawas Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bakal menjatuhkan vonis untuk kasus yang lain.
Diam-diam, wasit pasar modal menelisik transaksi derivatif yang dilakukan operator telepon
pemilik merek dagang Fren itu. Bahkan, kasus ini sudah sampai Biro Penyelidikan dan
Pemeriksaan Bapepam-LK.
Kini, Bapepam-LK sudah menyelesaikan pemeriksaan transaksi derivatif FREN tersebut.
Selanjutnya, mereka akan membawa kasus ini ke Komite Penetapan Sanksi dan Keberatan
(KPSK) di Bapepam-LK. "Pekan ini akan kami serahkan ke komite sanksi," kata Kepala Biro
Penyelidikan dan Pemeriksaan Bapepam-LK Sarjito, akhir pekan lalu.
Lalu, apa hasil pemeriksaan dari Biro PP? Seperti biasa, Sarjito masih enggan
membaginya untuk publik. Ia juga belum bisa memastikan apakah FREN akan mendapatkan
sanksi atau tidak. "Biar nanti komite sanksi yang memutuskan," paparnya. Alasan Bapepam-LK
menyelidik kasus transaksi derivatif ini lantaran FREN tidak mencatatkan kerugian akibat
transaksi derivatif dalam laporan keuangan kuartal ketiga 2008 lalu.
FREN sampai kuartal ketiga 2008 lalu mencatat kerugian bersih Rp 275,29 miliar. Jika
kerugian dari transaksi derivatif masuk dalam laporan keuangan, bukan tak mungkin kerugian
FREN akan bertambah. Berapa persisnya kerugian transaksi derivatif FREN, Sarjito juga tak
mau menyebutkan. "Saya lupa angkanya," elaknya.

Tersangkut Lehman Brothers


Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengakui Bapepam-LK memang sedang
memeriksa FREN. Namun, pemeriksaan tersebut tidak berhubungan dengan kerugian ataupun
keuntungan transaksi derivatif yang dialami FREN. "Kalau mau detailnya, tanyakan saja ke
Bapepam-LK," ujarnya, kemarin (1/3).
Sebagai penyegar ingatan, transaksi derivatif perusahaan halo-halo ini melibatkan
perusahaan investasi ternama dunia, Lehman Brothers. Begini ceritanya.
Pada 8 Agustus 2007, FREN melakukan perjanjian swap dengan Lehman Brohthers Special
Financing (LBSF), anak usaha Lehman Brothers Holding. Perjanjian swap itu untuk mengelola
risiko pergerakan tingkat bunga dolar AS, dengan nilai notional sebesar US$ 100 juta.
Berdasarkan perjanjian tersebut, FREN membayar tingkat bunga tetap ke LSBF sebesar
10,45% per tahun. Pembayaran bunga itu berlangsung setiap enam bulanan. Pada saat bersamaan
FREN juga menerima tingkat bunga mengambang atau floating dari LSBF maksimum 11,25%.
Adapun tagihan penyelesaian transaksi swap untuk periode 3 Maret 2008 hingga 2 September
2008 sebesar US$ 2,05 juta atau Rp 18,89 miliar.
Namun dalam perjalanan, transaksi derivatif ini malah merugikan FREN. Dalam rincian
laporan keuangan kuartal ketiga 2008 FREN, sampai 30 September 2008 saja, posisi nilai pasar
atau mark to market (MTM) transaksi swap mereka dengan LSBF memberi potensi kerugian
sebesar US$ 10,26 juta. Angka itu setara setara dengan Rp 96,28 miliar.
Apesnya lagi, pada 15 September 2009, Lehman Brothers Holding Inc. yang merupakan
induk LBSF mengajukan permohonan pailit, sesaat setelah Lehman Brothers Amerika bangkrut.
Nasib transaksi swap FREN pun tak jelas. Lantaran tidak ada kepastian kelanjutan perjanjian
swap itu, FREN tidak mencatatkan kerugian maupun tagihan transaksi derivatif itu dalam
laporan keuangan kuartal ketiga 2008. Ini jadi salah satu fokus pemeriksaan Bapepam-LK.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengungkapkan
komite sanksi dan keberatan (KSK) bakal menggelar rapat membahas kasus laporan keuangan
PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menjatuhkan
denda senilai Rp 100 juta kepada PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN). Perseroan melanggar
ketentuan di bidang akuntansi terkait pencatatan transaksi derivative.
Ka.biro Perundang-Undangan Dan Bantuan Hukum Bapepam-LK Robinson Simbolon
menilai, perseroan telah melanggar Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 55 paragraf
17 tentang Akuntansi Transaksi Derivatif. Peraturan itu mewajibkan perseroan untuk mengakui
seluruh instrumen derivatif dalam laporan keuangan sebagai aktiva atau kewajiban.
Perseroan telah melanggar pasal 66 Undang Undang Pasar Modal tahun 1995 Jo 1 f
peraturan Bapepam-LK Nomor XK2 tentang Kewajiban Laporan Keuangan Berkala dan jo.1.8
peraturan Bapepam-LK Nomor VII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan.

Berikut adalah kutipan dalam laporan keuangan Mobile 8 (Quartal ke 3) terkait dengan transaksi
derivatif :

Instrumen Keuangan Derivatif


Instrumen keuangan derivatif dinilai berdasarkan nilai wajar pada saat tanggal kontrak
dibuat dan selanjutnya dinilai kembali berdasarkan nilai wajar pada tanggal laporan keuangan.
Instrumen keuangan derivatif ini digunakan untuk mengelola resiko yang berkaitan erat dengan
mutasi tingkat bunga. Namun demikian, akuntansi lindung nilai tidak diperlakukan karena
identifikasi lindung nilai dan dokumentasi yang diperlukan sesuai dengan standar akuntansi
belum dipenuhi. Oleh karena itu, keuntungan atau kerugian dari instrument derivatif tersebut
diakui pada laporan laba rugi. Perusahaan dan anak perusahaan tidak menggunakan instrumen
keuangan derivatif ini untuk tujuan spekulasi.
Derivatif yang melekat pada instrumen keuangan lainnya atau kontrak lainnya atau
kontrak utama non-finansial lainnya diperlakukan sebagai derivatif terpisah bila resiko dan
karakteristiknya tidak secara jelas dan erat berhubungan dengan resiko dan karakteristik kontrak
utama dan kontrak utama tersebut tidak dinyatakan dengan nilai wajar, dengan keuntungan atau
kerugian yang belum direalisasi diakui pada laporan laba rugi konsolidasi.
Pada tanggal 8 Agustus 2007, Perusahaan mengadakan perjanjian swap dengan Lehman
Brothers Special Financing (LBSF) yang berlaku efektif tanggal 15 Agustus 2007 sampai dengan
1 Maret 2013 untuk mengelola risiko pergerakan tingkat bunga dengan nilai notional sebesar
USD100 juta.
Berdasarkan perjanjian tersebut Perusahaan membayar tingkat bunga tetap sebesar
10,45% per tahun secara enam bulanan dan menerima tingkat bunga floating maksimum 11,25%
dikalikan dengan Range Accrual per tahun sebagaimana didefinisikan dalam perjanjian swap.
Berdasarkan kutipan dari penilaian dengan menggunakan data pasar Bloomberg yangdigunakan
sebagai acuan oleh Perusahaan, pada tanggal 30 September 2008, posisi mark to market
(”MTM”) menunjukkan kerugian bagi Perusahaan sebesar USD10.267.202 atau setara dengan
Rp96.285.820.356 . Pada tanggal 26 Agustus 2008, Perusahaan menerima tagihan penyelesaian
transaksi swap dari LBSF untuk periode perhitungan sejak tanggal 3 Maret 2008 sampai dengan
2 September 2008 sebesar USD2.047.576,03. Pada tanggal 15 September 2008, Lehman
Brothers Holding Inc, yang merupakan holding dari LBSF mengajukan pemohonan kepailitan di
Amerika Serikat

Sehubungan dengan kondisi tersebut, Manajemen Perusahaan beranggapan bahwa


terdapat ketidakpastian akan kelanjutan perjanjian swap ini dan jumlah yang harus
diselesaikan akibat transaksi tersebut.

Analisis kasus :
1. Pengakuan
Berdasarkan PSAK 55 disebutkan bahwa : “Entitas mengakui seluruh hak
kontraktual dan kewajiban kontraktual yang timbul dari derivatif sebagai aset dan
liabilitas dalam posisi laporan keuangannya, kecuali untuk derivatif yang menghalangi
tranfer aset keuangan untuk dicatat sebagai penjualan (lihat paragraf PA64).
Jadi walaupun dalam kasus pada quartal ketiga terjadi kepailitan dari Lehman
Brother, namun hal tersebut seharusnya bukan menjadi pengecualian untuk mencatatkan
dalam posisi keuangan.
Dalam hal pengakuan, Mobile 8 telah lalai dalam mencatat transaksi ini.
2. Pengungkapan
Menurut PSAK 55, disebutkan pengungkapan untuk derivatif SWAP adalah :
Untuk derivatif yang ditujukan untuk dan memenuhi persyaratan sebagai lindung nilai
arus kas dan untuk masing-masing transaksi yang dilindungi nilainya:
1. Laba/rugi bersih yang diakui pada periode pelaporan yang mencerminkan:
a. ketidakefektifan suatu lindung nilai
b. komponen laba atau rugi instrumen derivatif, jika ada, yang dikecualikan dari
penilaian efektivitas suatu lindung nilai dan penjelasan mengenai dimana laba
atau rugi bersih dilaporkan, dalam laporan laba/rugi atau dalam laporan kinerja
keuangan yang lain.
2. Penjelasan mengenai transaksi atau kejadian lain yang mengakibatkan reklasifikasi
laba atau rugi yang dilaporkan dalam akumulasi pendapatan komprehensif lain
yang semula dilaporkan terpisah dalam bagian ekuitas menjadi laba/rugi, dan
perkiraan jumlah bersih atas laba atau rugi yang tersisa pada tanggal pelaporan
yang diperkirakan akan direklasifikasi menjadi laba/rugi dalam periode 12 bulan
mendatang.
3. Jangka waktu maksimum lindung nilai atas risiko fluktuasi arus kas pada masa
yang akan datang untuk transaksi yang diperkirakan akan terjadi kecuali perkiraan
transaksi yang berhubungan dengan pembayaran beban bunga mengambang atas
instrumen keuangan yang ada.
Jumlah laba atau rugi yang direklasifikasi sebagai laba/ rugi akibat dari
dihentikannya lindung nilai arus kas, karena terdapat kemungkinan bahwa transaksi
yang diperkirakan, tidak akan terjadi.

Dalam laporan keuangan Mobile 8, hanya diungkapkan poin 1 yang terkait dengan
Laba/rugi bersih yang diakui pada periode pelaporan.