Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TEORI CLIENTELLE EFFECT

Disusun Oleh :

Kelompok 10:
RUDI HIDAYATULLAH 16514155
TONI EFFENDI H.
RULLY ARDITAMA
THAMRIN MKHTAR

Dosen Pengampu : FEBRIANTO

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERSADA BUNDA


PEKANBARU
2018

1
DAFTAR PUSTAKA

2
KATA PENGANTAR............................................................................................. 1
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 2
.............................................................................................................................
PENDAHULUAN................................................................................................. 3
Latar Belakang.......................................................................................... 3
PEMBAHASAN.................................................................................................... 6
Ruang Lingkup Dividen............................................................................ 6
Pengertian Dividen........................................................................ 6
Jenis-Jenis Dividen........................................................................ 6
Kebijakan Dividen.......................................................................... 7
Pentingnya Kebijakan Dividen............................................................... 8
Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen.................................... 8
Kebijakan Pemberian Dividen................................................................ 10
Teori Kebijakan Dividen......................................................................... 11
Teori Clientele Effect...................................................................... 11
KESIMPULAN...................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 14

PENDAHULUAN

3
LATAR BELAKANG

Kebijakan dividen menyangkut keputusan untuk membagikan laba sebagai


deviden atau menahannya guna diinvestasikan kembali di dalam perusahaan
(laba ditahan). Dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham
tergantung kepada kebijakan masing-masing perusahaan, sehingga
memerlukan pertimbangan yang lebih serius dari manajemen perusahaan.
Konsekuensinya,tugas manajer keuangan dituntut untuk bisa menentukan
kebijakan dividen yang optimal, yang menciptakan keseimbangan diantara
dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang. Oleh karena itu, dalam
menentukan kebijakan dividen perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai
faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat memaksimalkan nilai
perusahaan. Berdasarkan pada pemikiran di atas, penulis mencoba untuk
melakukan penelitian dalam skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-faktor
Kebijakan Dividen dan Pengaruhnya Terhadap Harga Saham”.
Investor mempunyai tujuan utama dalam menanamkan dananya kedalam
perusahaan yaitu untuk mencari pendapatan atau tingkat kembalian investasi
(return) baik berupa pendapatan dividen maupun pendapatan dari selisih harga
jual saham terhadap harga beli (capital gain). Pembagian dividen sebagian besar
dipengaruhi oleh perilaku investor yang lebih memilih dividen tinggi yang
mengakibatkan retained earning menjadi rendah. Investor beranggapan bahwa
dividen yang diterima saat ini lebih berharga dibandingkan capital gain yang
diperoleh kemudian hari (Yuniningsih, 2002). Investor yang memilih dividen
sebagai return, cenderung menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil,
karena akan mengurangi ketidakpastian investor yang telah menanamkan
dananya pada perusahaan.
Perusahaan dituntut membuat keputusan sumber pendanaan yang tepat
apakah menggunakan sumber dana internal (retained earning) atau eksternal
(utang atau ekuitas), atau kedua-duanya, harus memperhatikan biaya dan
manfaat yang ditimbulkan, karena setiap sumber dana mempunyai konsekuensi
dan karakteristik keuangan yang berbeda (Susana dan Fatchan,2006).
Perusahaan harus dapat memilih struktur modal, yaitu bauran antara modal

4
sendiri dan utang, yang dapat memaksimumkan harga saham perusahaan.
Investasi perusahaan yang sebagian besar didanai dari internal equity akan
mempengaruhi besarnya dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham
biasa (Yuniningsih, 2002).
Kebijakan deviden suatu perusahaan akan melibatkan dua pihak yang
berkepentingan dan saling bertentangan (agency problem), yaitu kepentingan
para pemegang saham dengan dividennya, kepentingan perusahaan dengan
laba ditahannya, dan juga kepentingan bondholder yang dapat mempengaruhi
besarnya dividen kas yang dibayarkan. Dividen yang dibayarkan kepada para
pemegang saham tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan,
sehingga memerlukan pertimbangan yang lebih serius dari manajemen
perusahaan. Kebijakan dividen atau keputusan dividen pada hakikatnya adalah
menentukan porsi keuntungan yang akan dibagikan kepada para pemegang
saham, dan yang akan ditahan sebagian dari laba ditahan (Susana dan Fathan,
2006).
Mengingat akan arti penting laba, baik bagi perusahaan maupun bagi pihak
investor, perusahaan berkepentingan untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Perusahaan berkepentingan untuk mendonasi ekspansi dan meningkatkan
pertumbuhan perusahaan, sementara bagi investor mereka berkehendak atas
pembagian laba yang diperoleh (dividen). Perusahaan harus bisa mengambil
kebijakan yang memenuhi keinginan perusahaan memenuhi kebutuhan dana,
sedangkan bagi investor memperoleh apa yang diinginkan. Brigham dan
Houston (2004:95) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dividen
adalah bond indentures, preferred stock restriction, impairement of capital rule,
availability of cash, penalty tax on improperly accumulated earnings. Kita telah
menguraikan teori-teori utama tentang preferensi investor dan beberapa
masalah yang berhubungan dengan dampak kebijakan deviden terhadap nilai
sebuah perusahaan. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan kedalam empat
kategori besar: (1) batasan pembayaraneviden, (2)peluang investasi,
(3)ketersediaan dan biaya sumber-sumber modal alternative,dan (4)pengaruh
kebijakan deviden (Brigham dan Houston, 2004 : 94).

5
Investor mengharapkan return tidak berdasarkan pada kebijakan
manajemen perusahaan tetapi didasarkan pada kinerja yang telah dicapai
perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan yang dipublikasikan.

6
PEMBAHASAN
KEBIJAKAN DIVIDEN

RUANG LINGKUP DIVIDEN

Pengertian Dividen
Dividen adalah proporsi laba atau keuntungan yang dibagikan kepada para
pemegang saham dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah lembar
saham yang dimilikinya (Baridwan, 2000:434). Semua keuntungan ataupun
kerugian yang diperoleh perusahaan selama berusaha dalam satu periode
tersebut dilaporkan oleh direksi kepada para pemegang saham dalam suatu
rapat pemegang saham.

Jenis-jenis Dividen

Cash Dividen ialah dividen yang diberikan oleh perusahaan kepada para
pemegang sahamnya dalam bentuk uang tunai (cash). Pada waktu rapat
pemegang saham, perusahaan memutuskan bahwa sejumlah tertentu dari
laba perusahaan akan dibagi dalam bentuk cash dividen (M. Munandar, 1983:
312). Perusahaan hanya berkewajiban membayar dividen setelah
perusahaan tersebut mengumumkan akan membayar dividen. Dividen
dibayarkan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar
pemegang saham. Pembayaran dividen dapat dilakukan oleh perusahaan
sendiri atau melalui pihak lain, umpamanya bank. Cara yang kedua biasanya
yang dipilih perusahaan karena bank mempunyai banyak cabang, sehingga
memudahkan pemegang saham yang mungkin sekali tersebar luas di seluruh
Indonesia (Arief Suaidi, 1994: 230). Yang perlu diperhatikan oleh pimpinan
perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya dividen kas adalah
apakah jumlah kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen tersebut.
Script Dividen adalah suatu surat tanda kesediaan membayar sejumlah uang
tertentu yang diberikan perusahaan kepada para pemegang saham sebagai
dividen. Surat ini berbunga sampai dengan dibayarkannya uang tersebut
kepada yang berhak. Script dividen seperti ini biasanya dibuat apabila pada

7
waktu para pemegang saham mengambil keputusan tentang pembagian
laba, dimana perusahaan belum (tidak) mempunyai persediaan uang cash
yang cukup untuk membayar dividen cash (Arief Suaidi, 1994: 231).
Property Dividen adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang
saham dalam bentuk barang-barang (tidak berupa uang tunai ataupun
(modal) saham perusahaan). Contoh dividen barang adalah dividen berupa
persediaan atau saham yang merupakan investasi perusahaan pada
perusahaan lain. Pembagian dividen berupa barang sudah barang tentu lebih
sulit dibanding pembagian dividen uang. Perusahaan melakukannya karena
uang tunai perusahaan tertanam dalam investasi saham perusahaan lain
atau persediaan dan penjualan investasi atau persediaan terutama bila
jumlahnya cukup banyak akan menyebabkan harga jual investasi ataupun
persediaan turun, sehingga merugikan perusahaan dan pemegang saham
sendiri (Arief Suaidi, 1994 : 233).
Liquidating Dividen adalah dividen yang dibayarkan kepada para pemegang
saham, dimana sebagian dari jumlah tersebut dimaksudkan sebagai
pembayaran bagian laba (Cash Dividen), sedangkan sebagian lagi
dimaksudkan sebagai pengembalian modal yang ditanamkan (diinvestasikan)
oleh para pemegang saham ke dalam perusahaan tersebut (M. Munandar,
1983: 314).
Stock Dividen adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang saham
dalam bentuk saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan itu sendiri (M.
Munandar, 1983: 314). Di Indonesia saham yang dibagikan sebagai dividen
tersebut disebut saham bonus. Dengan demikian para pemegang saham
mempunyai jumlah lembar saham yang lebih banyak setelah menerima Stock
Dividen. Dividen saham dapat berupa saham yang jenisnya sama maupun
yang jenisnya berbeda.

Kebijakan Deviden ( Deviden Policy )


Kebijakan deviden adalah keputusan manajeman keuangan untuk
menentukan besarnya prosentase laba yang dibagikan kepada para
pemegang saham dalam bentuk cash deviden,stabilitas deviden yang

8
dibagikan,deviden saham (stock deviden), pemecahan saham ( stock split ),
dan penarikan kembali saham yang beredar yang semuanya ditunjukan untuk
meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.

PENTINGNYA KEBIJAKAN DIVIDEN

Salah satu kebijakan yang harus di ambil oleh manajemen adalah


memutuskan apakah laba yang diperoleh perusahaan selama satu periode akan
dibagi semua atau akan dibagi sebagian untuk dividen dan sebagian lagi akan
disimpan sebagai laba yang ditahan. Apabila perusahaan memutuskan akan
membagi laba perusahaan sebagai dividen, maka akan mengurangi kesempatan
perusahaan dalam mendapatkan modal intern.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN DIVIDEN

Semakin tinggi dividen yang dibagikan kepada pemegang saham akan


mengurangi kesempatan perusahaan dalam mendapatkan sumber dan intern
dalam rangka mengadakan reinvestasi, sehingga dalam jangka panjang akan
mengurangi nilai perusahaan.

1. Posisi Solvabilitas Perusahaan

Apabila perusahaan dalam kondisi solvabilitasnya kurang


menguntungkan, biasanya perusahaan tidak membagikan laba. Hal ini
disebabkan karena laba yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki
struktur modal perusahaan .

2. Posisi Likuiditas Perusahaan

Perusahaan membayarkan dividen berarti harus bisa menyediakan uang


kas yang cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat likuiditas
perusaha. Bagi perusahaan yang likuiditas perusahaan-nya kurang baik,
biasanya dividen payout rationya kecil, sebab sebagian laba yang
digunakan untuk menambah likuiditas.

3. Kebutuhan Untuk Melunasi Hutang

9
Hutang-hutang harus dibayar pppada saat jatuh tempo, dan untuk
membayar hutang-hutang tersebut disediakan dana. Semakin banyak
hutang yang harus dibayar, maka semakin besar dana yang harus
disediakan sehingga akan mengurangi jumlah dividen yang harus
dibayarkan kepada pemegang saham.

4. Rencana Perluasan

Perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya


pertumbuhan perusahan, dan hal ini bisa dilihat dari perluasan yang
dilakukan perusahaan. Konsekuensinya, semakin besar dana yagn
dibutuhkan untuk itu.

5. Kesempatan Investasi

Semakin terbuka kesempatan investasi , maka semakin kecil dividen yang


akan dibayarkan sebab dananya digunakan untuk memperoleh
kesempatan investasi. Namun bila kesempatan investasi kurang baik,
maka dananya akan digunakan untuk membayar dividen.

6. Stabilitas Pendapatan

Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyediakan kas


yagn banyak untuk berjaga-jaga, sedangkan perusahaan yagn
pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang yang besar untuk
berjaga-jaga.

7. Pengawasan Terhadap Perusahaan

Perusahaan memncari sumber dana dari modal sendiri, kemungkinan


akan masuk investor baru dan ini tentunya akan mengurangi kekuasaan
pemilik lama dalam mmmengendalikan perusahaan. Jika dibelanjai dari
hutang, resikonya cukup besar. Oleh karena itu perusahaan cenderung
tidak membagi dividennya agar pengendalian tetap bisa dijalankan.

10
KEBIJAKAN PEMBERIAN DIVIDEN

Bentuk kebijakan dividen yaitu :

1. Kebijakan pemberian dividen stabil

Artinya dividen akan diberikan secara tetap perlembarnya untuk jangka


waktu tertentu walau laba perusahaan berfluktuasi.

Rupiah Laba perusahaan

Dividen

2. Kebijakan pemberian dividen yang meningkat

Dengan kebijakan ini perusahaan akan membayarkan dividen dengan


jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil. Misalnya
perusahaan akan memberikan dividen sebesar Rp. 600,- per lembar
dengan pertumbuhan 5%, sehingga tahun depan pembayaran dividen
sebesar 5% adalah Rp. 630,- per lembar.

3. Kebijakan dividen dengan ratio yang konstan

Pemberian dividen dengan kebijakan ini mengikuti besarnya laba yang


diperoleh perusahaan. Dasar yang digunakan sering disebut dividen
payout ratio.

4. Kebijakan pemberian dividen regular yang rendah ditambah ekstra

Melalui kebijakan ini, pemberian dividen dilakukan dengan menentukan


pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil. Kemudian
ditambahkan dengan ekstra dividen bila perusahaan mencapai jumlah
tertentu.

11
TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

1. Beberapa Teori Kebijakan Dividen :


Manajemen mempunyai 2 alternatif perlakuan terhadap penghasilan
bersih sesudah pajak ( EAT ) perusahaan yaitu :
1. Dibagi kepada para pemegang saham perusahaan dalam bentuk
dividen
2. Diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan
( retaired earning ).
Pada umumnya sebagian EAT ( Earning After Tax ) dibagi dalam bentuk
dividen dan sebagian lagi diinvestasikan kembali, artinya manajemen
harus membuat keputusan tentang besarnya EAT yang dibagikan
sebagai dividen. Pembuat keputusan tentang dividen ini disebut
kebijakan dividen ( dividen policy ).

Persentase dividen yang dibagi dari EAT disebut “ Dividend Payout


Ratio “ ( DPR ).

Dividen yang dibagi


DPR =
EAT
Presentasi laba ditahan dari EAT adalah 1 – DPR

Ada berbagai pendapat atau teori tentang kebijakan dividen a.l :


a. Teori “ Dividen Tidak Relevan “ dari Modigliani dan Miller,
b. Teori “ The Bird in the Hand “ ,
c. Teori Perbedaan Pajak ,
d. Teori “ Signaling Hypothesis “ ,
e. Teori “ Clientele Effect “.

a. Teori “ Clientele Effect “.

Teori ini menyatakan bahwa kelompok ( clientele ) pemegang saham


yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap
kebijakan dividen perusahaan.

12
Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada
saat ini lebih menyukai suatu Dividend payout Ratio yang tinggi.
Sebaliknya kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan
uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian
besar laba bersih perusahaan.

Jika ada perbedaan pajak bagi individu ( misalnya orang lanut usia
dikenai pajak lebih ringan ) maka pemegang saham yang dikenai
pajak tinggi lebih menyukai capital gains karena dapat menunda
pembayaran pajak. Kelompok ini lebih senang jika perusahaan
membagi dividen yang kecil. Sebaliknya kelompok pemegang saham
yang dikenai pajak relatif rendah cenderung menyukai dividen yang
besar.

Bukti empiris menunjukkan bahwa efek dari “ Clientele “ ini ada. Tapi
menurut MM hal ini tidak menunjukkan bahwa lebih baik dari
dividen kecil, demikian s ebaliknya. Efek “ Clientele “ ini hanya
mengatakan bahwa bagi sekelompok pemegang saham, kebijakan
dividen tertentu lebih menguntungkan mereka .

13
KESIMPULAN

Kebijakan deviden merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan


keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi, kebijakan deviden adalah
keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi
kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan ditahan untuk
menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.

Pendapat tentang ketidak-relevanan deviden (irrelevant theory). Pendapat


ini dikemukakan oleh Modigliani dan Miller, yang memberikan argumentasi
bahwa pembagian laba dalam bentuk deviden tidak relevan dengan peningkatan
kemakmuran atau kekayaan pemegang saham. Karena deviden pay out ratio
hanya merupakan bagian kecil dari keputusan pendanaan perusahaan, nilai
perusahaan ditentukan tersendiri oleh kemampuan aktiva perusahaan untuk
menghasilkan laba atau kebijakan investasi. Deviden adalah relevan untuk
kondisi yang tidak pasti, investor dapat dipengaruhi oleh kebijakan deviden.

Deviden Saham (Stock Deviden) dan Pemecahan Saham (Stock Split)


seringkali digunakan untuk tujuan berbeda. Dalam pengertian ekonomi hanya
terdapat perbedaan kecil diantara keduanya. Namun dalam pengertian
akuntansi, kedua istilah di atas memiliki perbedaan besar. Prinsip-prinsip
akuntansi memperlakukan distribusi saham yang lebih dari 25% saham yang
beredar sebagai pemecahan saham, sedangkan distribusi yang lebih kecil dari
jumlah itu dapat digolongkan sebagai stock deviden.

Jika perusahaan memiliki kelebihan dana tetapi mempunyai sedikit


kesempatan investasi, maka kelebihan dana tersebut dapat didistribusikan
dengan membeli kembali saham perusahaan atau meningkatkan pembayaran
deviden. Dengan pembelian kembali saham, maka saham yang beredar menjadi
lebih sedikit sehingga EPS (earning per share) dan dividen per lembar saham
segera meningkat. Sebagai hasilnya harga pasar perlembar saham akan naik
juga.

14
DAFTAR PUSTAKA

Baker, H.K. dan G.E. Powell. 1999, How Corporate Managers View
Dividend Policy, QJBE 38, 17-35.

Baskin, J. 1989, Dividend Policy and The Volatility of Common Stocks, The
Journal of Portfolio Management,(Spring 1989),19-25.

Caton, G.L., J. Goh, dan N. Koher. 2003, Dividend Ommissions and


Intraindustry Transfer, Journal of Financial Research 26, 51– 64.

Impson, M. 1997, Market Reaction to Dividend-Decrease


Announcements: Public Utilities vs Unregulated Industrial Firms, Journal
of Financial Research, 20, 407-422.

Jose, M.L. dan J.L. Stevens. 1989, Capital Market Valuation of Dividend
Policy, Journal of Business Finance & Accounting, 16, 651-662.

Neter J, W. Wasserman, G.A. Whitmore. 1993, Applied Statictics.


Fourth Edition. Needham Heights: A Division of Simon & Schuster, Inc.

Wolk, H.I., M.G. Tearney, dan J.L. Dodd. 2001, Accounting Theory.
Fifth Edition. Cincinnati: South-Western Publishing Co.

15